Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 40 Disini

Novel Arus Balik bab 40 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Arus Balik menceritakan tentang kisah Kedatangan Portugis di Bumi Nusantara dengan latar awal Abad XVI, yaitu ketika surutnya pengaruh Majapahit dan naiknya pamor Kesultanan Demak.

Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Arus Balikk Bab 40 Bahasa Indonesia Sekarang ini. 

40. Dan Portugis pun Memasuki Tuban

Kehidupan di Tuban agak pulih. Kala Cuwil telah

memerintahkan para pagardesa untuk pulang ke tempatnya

ma-sing-masing dan kembali melakukan pekerjaan seharihari.

Bandar Tuban Kota mulai berisi lagi dengan manusia.

Selama pertempuran di barat kota Nyi Gede Kati tetap

mengirimkan makanan ke krangkeng, sekali dalam sehari.

Dan sampai sebegitu jauh suaminya tak pernah bertanya

bagaimana ia mendapatkan makannya.

Dan terjadilah hari itu. Nyi Gede Kati datang pada

waktu sore dengan membawa bungkusan dan lodong air.

Dan bungkusan itu bukan lagi daun pisang, tapi kain batik

yang telah usang. Ia menyorongkannya dari sela-sela jeruji

besi, berkata: “Kain buruk itu, Tuan, barangkali berguna

untuk selimut di waktu malam dan berteduh di waktu

siang.”

Tepat pada waktu Tholib Sungkar menerimanya canang

pelabuhan bertalu-talu.

“Ada kapal asing datang!” gumam Syahbandar sambil

meninjau ke menara pelabuhan. “Dan Syahbandar masih di

sini,” gumamnya lagi, sekarang meninjau ke ufuk.

“Kau lihat kapalnya, Kati?”

“Lihat, Tuan.” 

“Demi Allah, aku bebas, Kati, karena hanya akulah

Syahbandar. Kapal manakah gerangan? Aku tak lihat.”

“Nampaknya kapal Peranggi, Tuan.”

“Peranggi? Masyaallah,” matanya bersinar-sinar penuh

harapan.

“Lihat baik-baik, Kati.”

“Peranggi, Tuan, tiga kapal.”

“Tiga kapal! Dia datang bukan untuk berdagang, Kati,”

Ia mencoba melihat, tapi tak dapat. Kelemahan badan

selama ini membikin matanya menjadi rabun. Dan mata itu

berhenti pada tonggak-tonggak yang selama ini ditakutinya.

Di sana Yakub dan teman-temannya telah menjalani

hukuman mati, seorang demi seorang, diperas darahnya,

tetes demi tetes. Ia tak berani melihat lebih lama. Kuping

batinnya masih dapat mendengar raungan mereka dan

hatinya menggeletar ciut oleh seribu satu macam gambaran

dan perasaan. Sekarang: Portugis! Portugis datang! Mereka

takkan lebih berbahaya dari Kala Cuwil si pongah Tuban

itu!

“Alhamdulillah,” sebutnya berkali-kali.

“Peranggiiiiiii!” Pekik penjaga menara.

Baik Nyi Gede Kati maupun Tholib melihat penjaga

menara itu lari menuruni tangga. Lari lagi ke

kesyahbandaran.

Beberapa bentar kemudian tiga orang penunggang kuda

berpacu hilang di tikungan. Canang alun-alun sekarang

bertahi tiada henti-hentinya, titir tanda bahaya. Canangcanang desa kemudian pun bertalu-talu, memberitakan

akan datangnya bahaya dari laut. 

Dan balatentara Tuban masih mesanggrah di perbatasan

barat. Canang kemudian berubah irama, memberikan

isyarat agar semua perempuan dan anak-anak

meninggalkan kota dan pergi ke pedalaman.

“Mereka datang!” bisik Syahbandar, “tak salah lagi.”

Nyi Gede Kati memandangi suaminya, mencibirkan

bibir. Tangan suaminya yang memegangi lengannya ia

lepaskan. “Aku akan selamat. Tumpaslah kau Kala Cuwil!”

Dari kejauhan mulai terdengar ledakan meriam melepaskan

peluru. Tak lama kemudian pelurunya beterbangan di atas

krangkeng. Riuh-rendah atap dan rumah yang bongkarbangkir kena terjang.

Sebutir peluru meriam yang jatuh di jalanan pasir

membikin segitiga debu yang menyemprot ke atas, melebar.

Ditiup angin debu itu pun mengembang dan buyar bersama

dengan angin sore.

Nyi Gede Kati meludah. Kemudian lari melintasi daerah

tembak meriam ke sebelah timur.

Tholib Sungkar Az-Zubaid mendekam sambil berdoa

tiada berkepu-tusan. ia tahu peluru-peluru itu tidak

mengenal Syahbandar Tuban. Ia hanya mengenal sasaran.

Dan ia tahu, ia tidak semestinya jadi sasaran. Ia adalah

Tholib Sungkar Az-Zubaid, tidak lebih dan tidak kurang.

Dan Portugis belum lagi membayar penuh untuk segala

jasanya. Kalau ada peluru mengenai dirinya ia akan rugi,

dan Portugis tak perlu melunasi hutangnya. Tak patut ia

tewas meninggalkan piutang. Tapi peluru-peluru itu buta,

tak mengenal hutang ataupun piutang. Orang lari

berserabutan dari bandar. Merekalah yang lebih berhak

mendapat peluru, bukan Syahbandar Tuban. Perempuan

yang menggendong anak sambil menarik anak yang lebih

besar. Lelaki yang memanggul bungkusan. Kakek atau 

nenek bertongkat, berjalan lambat-lambat. Seorang nenek

bongkok berjalan tak menentu dengan dua kaki dan dua

tangannya. Anjing-anjing yang berputar-putar sekitar

majikannya yang sedang mengungsi. Dari kejauhan

terdengar cetbang dan meriam Tuban memberikan

tembakan balasan. Nampaknya kapal-kapal Tuban sedang

dalam perjalanan kembali ke pangkalan.

Tholib Sungkar mengintip dari sela-sela jari untuk

menyaksikan pertempuran laut itu. Ia tak melihat kapalkapal Tuban, hanya silang-siur dari peluru di udara, dan

hanya tiga kapal Portugis itu juga yang semakin mendekat

ke bandar.

Riuh-rendah peluru menerjang bangunan.

Membenarmkan suara manusia dan hewan. Nampaknya

kapal-kapal Tuban dianggap tidak penting oleh Peranggi.

Peluru makin mendesak ke arah Kota. Dan tak ada seorang

pun dapat menangkis. Gedung kesyahbandaran telah roboh

atapnya. Dalam hanya seperempat jam telah banyak

bangunan kota berubah bentuk, berlutut, berjongkok, sujud,

atau atapnya compang-camping. Kebakaran mulai muncul

di sana-sini. Dan asap hitam mengepul ke langit senja yang

biru itu.

Bandar telah mulai kosong.

Sisa armada Francisco de Sa setelah lari dari Sunda

Kelapa terus berlayar ke timur. Di luar perintah Malaka ia

bermaksud melaksanakan rencana kedua, menduduki

bandar Tuban. Sunda Kelapa lepas, Tuban harus kena. Ia

harus tinggalkan Sunda Kelapa karena tak mengetahui

benar perobahan yang telah terjadi. Dan kini, di luar

pengetahuan Malaka sisa armadanya telah siap untuk

berlabuh. 

Tetapi gangguan kepal-kapal Tuban, di antaranya ada

yang melepaskan tembakan meriam telah menyendatkan

rencananya dengan beberapa puluh bentar. Cetbangcetbang itu memang tidak digubrisnya, tetapi meriamnya

harus mendapat pelayanan yang layak. Dengan salvo

meriam selama lima bentar, empat buah kapal Tuban telah

menyerosok ke dasar laut. Awak kapal yang berapungan

menjadi isarat salvonya harus di arahkan ke sasaran semula.

Ia perintahkan berlabuh dan membuang sauh di luar jarak

tembak cetbang. Dan sekod-sckoci mulai diturunkan

Menyusul kemudian serdadu-serdadunya bersenjata

lengkap. Meriam terus memuntahkan peluru untuk

melindungi pendaratan.

Dendamnya akan dilampiaskannya pada Tuban. Ia tak

dapat memaafkan diri dengan kegagalannya di Sunda

Kelapa. Dari nelayan dan kapal-kapal yang dibajaknya baru

ia mengetahui, Sunda Kelapa telah jatuh ke tangan Demak.

Ia takkan kembali ke sana. Dari tangkapan-tangkapan di

laut itu pula ia mengetahui, Tuban sedang kosong dari

balatentara yang sedang berperang melawan Demak.

Dengan jatuhnya Tuban ke tangannya Demak akan putus

hubungannya dengan Maluku. Pucuk dicinta ulam tiba.

Dengan menduduki bandar Tuban ia harus dapat

selamatkan muka dan namanya.

Adalah memalukan bagi seorang pembesar Portugis

dikalahkan oleh Pribumi, karena kalahnya juga kekalahan

ras, kekalahan agama, kekalahan keyakinan. Dan itu tidak

boleh terjadi atas diri Francisco de Sa.

Ia lihat dari geladaknya sekod-sekoci sudah harus

mendarat. Dayung ke arah bandar. Tak ada sebuah pun

tertinggal. Dalam lima belas bentar prajurit-prajuritnya

sudah harus mendarat. Dan dari teropongnya ia melihat 

regu pertama telah mulai naik ke dermaga tanpa

perlawanan.

Ia perintahkan menurunkan sekoci pimpinan, dan ia

sendiri tunin bersama dengan ajudan dan beberapa orang

pengawal.

Pagar desa Tuban telah dikerahkan dengan kilat.

Bersenjatakan tombak, panah dan perisai mereka menyerbu

ke bandar. Hanya ada beberapa orang prajurit beserta

mereka untuk memimpin perlawanan.

Seperti semut mereka menyerbu ke bandar, bersebaran di

setiap tempat dan bersorak-sorak untuk memberanikan diri

sendiri. Meriam dari kapal telah berhenti menembak.

Mereka diterima oleh semprotan peluru musket, mundur.

Pertempuran tidak sempat terjadi. Sorak-sorai padam

dengan sendirinya. Tombak peluru musket itu tak dapat

ditembus, sebaliknya membinasakan, menyusupi daging

dan menumpahkan darah. Pasukan pagardesa mundur dan

mundur terus.

Didermaga Portugis tak henti-hentinya mendaratkan

balatentara.

Pagar desa segera berlarian meninggalkan bandar dan

menarik diri ke kota yang juga telah kacau-balau dengan

rumah-rumah yang binasa dan terbakar. Musket Portugis

terus mengusir dan membinasakan siapa saja yang ada di

depannya, manusia dan hewan.

Begitu serdadu Portugis mendarat, mereka terus lari

maju dan menduduki tempat di depan pasukan sebelumnya.

Dan demikian terus menerus.

Suara ledakan riuh-rendah seperti sedang berpesta.

Yang terakhir mendarat adalah Francisco de Sa. 

Tholib Sungkar tidur menelungkup di atas ruji-ruji

krangkengnya. Waktu tembakan meriam telah berhenti dan

tembakan musket makin lama makin meninggalkan bandar

memasuki kota, ia angkat kepalanya dan berhenti berdoa.

Ia lihat sudah tak ada pendaratan baru. Sekoci-sekoci

telah berangkat lagi ke kapal dan mengangkuti peralatan. Di

dermaga ia lihat beberapa orang Portugis. Dan ia dapat

melihat mereka adalah para pembesar.

Ia mengucapkan syukur untuk keselamatannya,

dilupakan oleh peluru meriam dan musket.

Pembesar-pembesar itu masih juga berdiri di dermaga

menunggu pengangkutan peralatan. Sekarang peti-peti dan

meriam dan rodanya

“Bekas Syahbandar Malaka?”

“Tepat. Alias Sayid Habibullah Al-Masawa.”

“Cukup!”

Bertiga mereka lari menggabungkan diri dengan

rombongan Francisco de Sa yang sudah hampir

meninggalkan wilayah bandar.

Francisco berhenti, menengok ke arah krangkeng,

kemudian berjalan menghampiri, dan mengawasi Tholib

yang berdiri seperti burung kutilang di dalam sangkar.

Syahbandar itu membungkuk dan melambaikan tangan,

menghormat: “Selamat datang. Tuan, Tholib Sungkar AzZubaid, Tuan.”

Francisco de Sa tidak menanggapi. Matanya tajam

mengawasinya.

Sekaligus Tholib melihat pada mata itu perasaan dendam

atas terbunuhnya Esteban dan Rodriguez. Mata itu

mengancam dan jijik melihatnya. Buru-buru keluar dari 

mulutnya: ‘Telah lama kutunggu kedatangan armada

Portugis yang jaya. Betapa berbahagia sekarang tiba.”

“Di mana kau, waktu aku mendarat di sini beberapa

tahun yang lalu dan orang-orang Tuban menghina aku?”

“Syahbandar Tuban sedang mereka injak-injak. Di

tempat ini juga. Tak bisa berbuat apa-apa. Tuan.”

“Di mana orang-orang itu sekarang?”

“Lari semua. Tuan. Jangan kuatir, akulah yang akan

menunjukkan di mana mereka bersembunyi.”

Francisco de Sa mendeham. la perhatikan konstruksi

krangkeng besi itu.

“Pembesar siapakah yang dihadapi oleh Syahbandar

Tuban sekarang ini?” tanyanya dengan kata Syahbandar

ditekankan.

Francisco de Sa tak menjawab. Kemudian ia berpaling

dan berjalan menuju ke gedung kesyahbandaran dalam

pengawalan.

“Ya Allah, ya Allah!” sebut Tholib “Akhirnya tanganmu

juga yang terulur.”

Ia menangis tersedu-sedu dalam ucapan bersyukur.

Dicakupnya pasir dari bawah jeruji besi dan ditaburkannya

pada tarbusnya. Belum juga puas, dilepasnya topi itu dan

dituangkan pasir pada rambutnya dan dikacaunya.

Ingusnya meleleh dan ditiupnya dengan sumbatan sebelah

jari. Ia tahu, pembebasan telah tiba. Mungkin hanya untuk

beberapa bulan saja ia bakal dibebaskan. Itupun tiada

mengapa. Dalam sementara itu kemungkinan baru akan

terpampang lagi di depan mata. Tinggal memilih yang

terbaik di antaranya.

“Allah Maha Besar. Allah Maha Besar.” 

Francisco de Sa berjalan terus dan masuk ke

kesyahbandaran yang atapnya telah kempes. Dan matari

sudah tenggelam.

Seorang pengiring nampak lari ke dermaga, kemudian

datang bersama temannya ke krangkeng membawa martil

besi besar dan linggis. Tanpa bicara mereka mengayunkan

palunya pada lidah-lidah pasak sampai bengkok, melipatlipatnya dengan pukulan, kemudian patah. Linggis tak

terpakai Pintu besi itu pun terbuka.

Tholib Sungkar Az-Zubaid keluar dari krangkeng,

menghirup udara sepenuh paru-parunya menjatuhkan diri

di pasiran dan bersujud. Ia teruskan tangisnya.

Pasukan pagardesa berhamburan melarikan diri dari

bandar. Di Tuban Kota pun mereka tidak aman. Di antara

kebakaran yang menjadi-jadi mereka tetap diburu oleh

serdadu-serdadu Portugis yang terus maju. Mereka

menginsafi tak dapat menahan tembok semprotan peluru

musuhnya, memasuki kampung-kampung pinggiran kota,

terlepas dari ikatan apa pun kecuali dengan hidup masingmasing.

Para pengungsi memenuhi jalanan, grobak dan pemikul,

penggendong dan penuntun.

Dan peristiwa penyerbuan Portugis segera disusul oleh

berita tentang terjadinya perselisihan di antara kepalakepala pasukan.

Kala Cuwil menyalahkan Banteng Waieng yang sebagai

Senapati atas seluruh pasukan Tuban telah membiarkan

bandar tidak terjaga. Banteng Wareng menyalahkan Kala

Cuwil karena sebagai Patih kurang betul dalam

memberikan keterangan tentang keadaan bandar.

Perselisihan semakin hari semakin meruncing. Kepalakepala pasukan yang lain ikut mencampuri bukan tanpa 

pemihakan. Balatentara Tuban terancam bubar karena

pertikaian dari atas.

Serangan pembalasan terhadap Peranggi di Tuban Kota

tak juga dilancarkan. Pengungsi yang menumpangkan

hidup dan keselamatan di luar kota ternyata tak dapat hidup

dengan tenteram. Para petani yang telah bosan pada perang

dan selalu menjadi korban tak menanggapi kegentingan

negerinya. Mereka sudah masa bodoh. Siapa pun yang

menang nasib mereka akan tinggal jadi pembayar upeti dan

jasa semata. Mereka tak suka lagi membantu seperti dulu.

Toh kalau paceklik menyerang mereka pun tak bakal

mendapat bantuan dari siapa pun.

Di Tuban Kota keadaan lebih tidak tertahankan bagi

mereka yang tidak mengungsi. Syahbandar Tuban dengan

giatnya menjadi petunjuk jalan serdadu-serdadu Portugis

mengepungi kampung-kampung dan menakut-nakuti

dengan tembakan. Semua lelaki ditangkap dan digiring

masuk ke bandar, diperintahkan mendirikan bedeng-bedeng

baru.

Pasukan-pasukan kecil pagardesa yang mencoba

menyusup dan melawan selalu terhalau kembali oleh

musket.

Lama kelamaan patroli Portugis juga berani memasuki

daerah luar kota dan menangkapi lelaki siapa saja yang

dapat ditangkapnya.

Bedeng-bedeng di bandar dalam waktu cepat telah

bangun kembali, biarpun tidak sebaik dan sekuat dahulu.

Dan semua tangkapan yang dipekerjakan kemudian di

sekap di dalamnya. Penjagaan yang ketat tidak

memungkinkan mereka menjenguk ke luar. Beberapa orang

yang mencoba melarikan din telah rebah mencium tanah,

baik karena peluru ataupun karena pisau tongkat Tholib. Ia 

sendiri menjadi begitu terkenal di dalam dan di luar kota

dengan tongkatnya yang beracun dan mendapatkan

kenikmatan dalam merampas jiwa orang.

Berita tentang perselisihan antar kepala pasukan sama

hebatnya dengan tongkat samber nyawa Syahbandar

Ulasawa.

Orang berani mengancam kepala-kapala pasukan yang

pada naik pitam. Tetapi Syahbandar dengan tongkatnya

mendapat banyak julukan karena setiap hari paling tidak ia

mencabut satu nyawa. Dan apa pun julukan yang diberikan

kepadanya, Moro yang seorang ini adalah sumber bencana

yang tak lagi bisa diampuni. Ia tak segan-segan

menikamkan senjatanya pada kanak-kanak ataupun kakekkakek, perempuan ataupun bayi. Ia juga memasuki

kampung-kampung merampasi segala apa yang berupa mas

dan perak. Untuk itu ia selalu membawa serdadu.

Dalam menikamkan senjatanya ia selalu tersenyum

sambil memekik senang: “Kafir!”

Ia pun menjadi petunjuk ke arah pemerkosaan, di mana

ia sendiri tak jarang juga ikut melakukannya sendiri.

Kampung nelayan telah menjadi senyap tanpa

penduduk. Dengan perahu dan keluarganya mereka

beramai-ramai pindah ke tempat lain di malam hari.

Semuanya menuju ke sebelah timur. Pasar Tuban tiada

didatangi orang lagi. Jalan-jalan lengang. Yang mondarmandir hanya serdadu Portugis. Mereka tak bertekad tidak

mengungsi terjepit antara berbagai macam ancaman maut.

Yang mati sakit atau tua tertinggal menggeletak tanpa

perawat. Dan bila Portugis mengetahui ini segera mereka

membakar rumahnya sekaligus.

Setelah seminggu menduduki Tuban dan balatentara

Pribumi tak juga melakukan serangan pembalasan, Portugis 

mulai memberikan perintah pada Tholib Sungkar AzZubaid untuk membikin benteng bawah tanah di sebelah

kiri kesyahbandaran.

Orang-orang yang dikurung dalam bedeng-bedeng

bandar dikerahkan di bawah pengawasan dan perintahnya

langsung. Mulailah mereka yang lesu kelaparan dan

ketakutan itu bekerja keras sejak matari terbit sampai

tenggelam. Harga manusia Tuban dalam pendudukan

sudah tak ada, merosot jadi serumpunan hewan yang tak

boleh punya kemauan sendiri atau bersama, tak boleh

punya harga diri dan kehormatan, sebagai pribadi ataupun

sebagai manusia. Kegentaran dan ketakutan setiap hari

ditanamkan pada hati mereka melalui ancaman dan

pengaiayaan untuk membikin mereka jadi kecil di hadapan

Tholib Sungkar dan Portugis.

Seperti penduduk Sunda Kelapa mereka harus bekerja

menggotongi balok-balok dari luar kota. Mereka menggali

tanah dan menimbunnya tinggi berdepa-depa di atas

permukaan. Mereka menimbun, menukang, mencangkul,

memadatkan tanah. Alat-alat pertukangan baru mulai

mereka kenal, alat-alat Eropa mulai mereka pegang: gergaji

lempang, serut dan paku.

Hanya dalam dua minggu dan benteng bawah-tanah

berdiri. Lantai terlapisi batu karang. Pada dinding bagian

atas tanah bagian luar dilapisi batu dan kembali ditutup

dengan tanah. Di situ juga dibikin lubang-lubang angin dan

sekaligus lubang penembak. Di atas benteng berdiri sebuah

menara kayu, diperlengkapi dengan lonceng kuningan.

Seorang peninjau selalu nampak menyandang musket

Meriam-meriam dipasang di bandar dan di sekitar benteng.

Semua menghadap ke pedalaman.

Gedung kadipaten telah dijadikan tangsi pula setelah

bongkar-bangkir dan ditemukan jalan dan rongga semasa 

bawah tanah serta simpanan barang-barang berharga

semasa Majapahit.

Pecinan, tak terlindungi oleh hukum Pribumi, kosong

menjadi rayahan Portugis. Penduduknya mengungsi lewat

laut dan darat ke Lao Sam.

Kehidupan Pribumi di laut ataupun darat serasa telah

berhenti.

Setelah benteng jadi orang-orang yang ditahan dan

melakukan kerja-paksa diusir, dilarang memasuki wilayah

pelabuhan. Sebaliknya perempuan gelandangan mulai

berkampung lagi dalam gubuk-gubuk daun kelapa dan

menampung penyakit baru yang mulai dikenal waktu itu

rajasinga.

Di daerah bandar sendiri orang pun mulai berkenalan

dengan binatang baru: tikus.

Setelah meninggalkan suaminya dengan membawa

kemuakan terhadap lelaki yang diurusnya dalam kesulitan

selama ini, ia lari ke gubuknya. Tak tahu lagi ia apa harus

diperbuatnya. Di gubuk itu pun ia merasa tidak senang.

Peluru itu bisa jatuh mengenainya. Ia lari terus ke timur

memasuki semak-semak yang dipayungi barisan nyiur

pantai.

Tembakan-tembakan cetbang menyebabkan ia

menerobos semak-se-mak untuk meninjau pantai. Di sana

ia melihat bagaimana empat buah kapal Tuban tenggelam

dihajar oleh meriam Portugis. Ia jatuh berlutut, mencium

tanah, tahu bahwa bangsanya tak mampu melawan – di

darat kalah, dilaut pun kalah.

Bakal jadi apakah semua ini nantinya? Dan badan

seorang diri di dunia ini? Sang Adipati mengusir. Suami

dikrangkeng karena perbuatannya yang hina dan 

memuakkan. Sekarang Peranggi datang dan mengalahkan

semua-muanya. Apakah harus hidup dalam semak-semak

begini dan menjadi hewan liar?

Tiga hari ia berputar-putar tak menentu di daerah semaksemak di timur bandar itu. Ia tak betah lagi dan kembali ia

ke pondoknya. Seorang perempuan lain telah

menempatinya, dan dengan kekerasan ia mengusirnya.

Dengan ketangkasan berkelahi ia usir orang lain lagi yang

hendak memasuki.

Dan makin lama makin banyak perempuan berkampung.

Gubuk-gubuk penuh, dan sepanjang malam ramai dengan

tawa kikik dan kekak. Perempuan dan hanya perempuan.

Di depan gubuknya itu juga pada suatu pagi ia bertemu

dengan suaminya yang diiringkan oleh beberapa orang

serdadu Portugis. Ia lihat suaminya bicara dengan serdaduserdadu itu yang kemudian menyebar memasuki gubukgubuk yang lain.

Tholib Sungkar Az-Zubaid masuk ke dalam: “Begini

tempatmu sekarang, Kati. Tidak patut untuk sembarang

perempuan semulia kau. Bawalah semua barangmu. Aku

telah mendapat tempat di bekas warung Yakub.”

“Terimakasih, Tuan, tempat sahaya ada di sini.”

Mereka duduk di ambin bambu dan lelaki itu membujuk

dan membujuk. Akhirnya: ‘Tahukah kau, Kati, aku telah

bersumpah hendak memeliharamu baik-baik, menempatkan

kau di tempat yang mulia….”

“Itulah sumpah Tuan sendiri, bukan sahaya.”

“Jangan celakakan aku. Kati, beri aku kesempatan

memenuhi sumpahku.” 

“Sahaya tak perlu dipelihara. Tuan, dapat memelihara

diri sahaya sendiri.”

‘Tapi sini begini hina, Kati. Ada tempat yang lebih

mulia, lebih patut untukmu.”

‘Terimakasih, Tuan terimakasih atas kebaikan Tuan.

Sahaya akan tinggal di sini.”

‘Tapi kau istriku. Kati.”

“Kalau Tuan memerlukan sahaya, datanglah Tuan ke

sini. Sahaya akan tinggal di sini.”

“Kau tak ada sanak-keluarga, Kati?”

“Tidak, Tuan. Mengapalah Tuan baru tanyakan

sekarang?”

“Maafkan aku. Kati. Bukankah kau kelahiran Tuban?”

‘Tidak, Tuan, Gresik. Waktu perawan sahaya diculik

oleh seorang perompak dan dijual ke Tuban pada seorang

Tionghoa.”

“Apakah kau tak ingin pulang lagi ke Gresik?”

“Begini sudah baik, Tuan, sahaya telah mati untuk

keluarga sahaya. Pada hari tua sahaya begini, sahaya ingin

seorang diri, melupakan semua dan dilupakan oleh semua.”

“Juga olehku. Kati?”

“Kesudian Tuan datang ke mari sudah kebaikan untuk

sahaya, begini sudah baik. Tuan.”

“Makanmu bagaimana. Kati?”

“Mengapalah Tuan tanyakan itu? Burung-burung pun

bisa mencan makannya sendiri, masakan sahaya tiada

bisa?” 

Serdadu-serdadu itu menjemput Syahbandar, dan

mereka pun pergi meninggalkan daerah pondok daun nyiur.

Tak lama kemudian datang gelombang demi gelombang

orang-orang Portugis. Bila memasuki pondok Nyi Gede

Kati mereka segera pergi lagi, karena perempuan yang

seorang ini sudah cukup tua untuk dihindari. Dan waktu

matari tenggelam, gelombang yang pergi dan datang tak

kunjung berhenti.

Sekali terjadi seorang Portugis setengah mabok

memasuki gubuknya dan tiga hari kemudian ia rasai saluran

seninya hangat dan tegang. Ia tahu, seperti beberapa orang

wanita lainnya ia telah terkena penyakit Peranggi...

Berita tentang masuknya Portugis di Tuban telah tersiar

luas di pedalaman, melewati perbatasan, sampai ke tempat

pengungsian Idayu sekeluarga di daerah Bojonegara. Berita

tentang mengganasnya Syahbandar Ulasawa menerbitkan

sesalan orang pada mendiang Adipati Tuban, yang terlalu

mempercayainya. Juga di tempat-tempat yang jauh orang

menjadi gemas karena kelakuannya.

Waktu itu tengah malam di pondok pengungsian Idayu.

Gelar baru saja pulang dari desa tetangga dan mendengar

berita itu. Setelah memasukkan kuda ke kandang ia sorong

pintu gubuk. Dalam rembang sinar pelita ia lihat ibu dan

adiknya, Kumbang, telah tidur. Ia raba kaki ibunya, dan

Idayu terperanjat bangun.

“Ada apa Gelar?”

Dan Gelar memandanginya seperti orang bingung. “Tak

pernah kau bangunkan aku seperti ini,” Idayu duduk dan ia

lihat sinar kegelisahan pada mata anaknya. “Adakah kau

habis berkelahi?” 

Gelar menggeleng lemah-lemah, dan dengan kasihnya ia

pimpin ibunya menjauh dari Kumbang yang tidur nyenyak.

“Ada apa kau ini? Kau begini aneh?”

Dan Gelar bercerita tentang masuknya Peranggi di

Tuban dan mendirikan benteng, dan membunuhi banyak

orang, dan membakari rumah, dan memang punya banyak

meriam. Kemudian matanya meredup waktu sampai pada

titik ia harus bercerita tentang tingkah-laku Syahbandar

Tuban. Keberaniannya hilang.

Semua ejekan, sindiran, cemooh terhadap dirinya

memberinya dugaan, bahwa maksud mereka hanya hendak

memberitahukan dengan cara dan jalannya sendiri, ia

memang bukan anak Wiranggaleng, tapi Syahbandar celaka

itu. Ia sendiri sudah lama berpikir: ’kesamaan rupa antara

dirinya dengan orang terbenci itu bukanlah suatu kebetulan.

Dan kekecewaan bukan anak Senapati malahan hanya anak

orang terkutuk itu makin lama makin jadi bisul dalam

jiwanya. Kalau benar Syahbandar Tuban bapakku, seorang

bapak yang tak kukenal dan tak mengenal aku, sia-siakah

sembah dan sujud dan ketakzimanku pada Senapati? Dan

betapa tak ada harganya diri ini jadinya. Tidakkah aku jadi

semacam kotoran bagi Senapatiku?

Berita itu juga yang datang, orang yang disindirkan

sebagai bapaknya, tampil sebagai orang hina, kejam

terhadap orang-orang tak berdaya, menjadi buah mulut

yang mengganggu pendengaran dan mengotori hati.

Jangan, ya dewa, jangan bikin diriku jadi anaknya. Dewa!

Bahkan sampai-sampai tongkatnya pun diberitakan orang,

dan tarbusnya, dan bongkoknya, dan hidung bengkungnya

yang seperti hidungku, dan gerak bibirnya bila ia sedang

menanamkan mata pisau-tongkatnya pada tubuh seseorang.

Kalau benar Syahbandar itu bapakku, mengapa emak tak

pernah sampaikan padaku? Malukah emakku pada 

perbuatannya sendiri? Pada ketidaksetiaannya pada

Senapatiku? Dan adakah aku hanya anak yang tidak

diharapkan?’

Jantungnya meriut kecil. Tapi justru sekaranglah waktu

itu datang untuk menanyakan. Ia menjadi ragu-ragu

melihat pancaran mata ibunya yang menduga dan merabaraba hatinya. Dan rangsang ingin-tahu-nya sudah

memuncak sampai pada titik letus. Ia masih juga tak berani

bertanya. Haruskah emak melengos dan menyembunyikan

muka seperti beberapa kali pernah terjadi? Ah, emak,

emakku, betapa kau menderita, hanya karena pertanyaan.

Pertanyaan belaka, mak!

“Ya, Nak, aku sudah dengar Peranggi memasuki Tuban.

Kalau hanya itu, bukankah bisa kau cerita besok? Mengapa

pula pandang matamu begitu aneh dan menakutkan?

Sakitkah kau?”

“Mak,” Gelar terhenti lagi. “Lama sudah aku ingin

tahu.” dan ia terhenti.

Dan betul saja sebagaimana ia duga, Idayu sudah mulai

melengos membuang muka.

“Mak, apakah Emak berkeberatan punya Gelar ini

sebagai anakmu, Mak?”

Cepat-cepat Idayu menarik muka dan menatapnya.

“Menyesalkah Emak punya anak aku?”

“Gelar!” Ia cengkam bahu anaknya. “Kurang baikkah

aku mengurus kau, mengasihi, mengasuh dan

membesarkan?”

“Hyang Widhi lebih tahu, Mak, engkaulah ibu yang

terbaik yang pernah aku temui di antara semua

perempuan.” 

“Mengapa kau sampai hati menganiaya aku dengan

pertanyaan semacam itu?”

“Ampunilah aku, Mak ampuni aku.”

Di luar dugaan Gelar emaknya tiba-tiba merangkulnya,

suaranya mendesis seperti angin menerobosi lobang

dinding: “Apa saja kata orang tentang emakmu. Nak,

sampai kau mentala bicara semacam itu? Apakah kau tidak

suka punya emak semacam ini?”

Gelar merasai airmata emaknya jatuh ke lengannya. Ia

beranikan diri: “Jangan menangis begini, Mak,” ia terhenti,

“lama sudah aku ingin tahu sebenarnya dari Emak sendiri,”

ia diam untuk mendapat keberanian. “Kau selalu tak mau

menjawab. Entah sudah berapa kali.”

Idayu melepaskan rangkulan dan melengos

memunggungi anaknya: “Ya, Nak. Aku mengerti

maksudmu. Karena itu aku ulangi lagi pertanyaan lama itu:

apakah seorang lelaki yang bernama Galeng itu kurang baik

sebagai bapakmu?”

“Demi para dewa, Mak, tak ada yang lebih baik, apalagi

lebih berharga.”

Ia pandangi anaknya dan bertanya: “Apakah itu tidak

cukup, anakku?”

“Tidak cukup, Mak, ampuni aku,” ia berbisik pelan dan

hati-hati. “Benarkah sindiran dan ejekan dan cemooh tak

tertanggungkan itu, Mak, aku bukan anak Wiranggaleng?”

dan tiba-tiba keberaniannya menjadi utuh.

Idayu mendekatkan bibir pada kupingnya suaranya

sendat-sendat: “Kau sedang menggugat aku, Gelar.”

“Emak!” ia memerosotkan diri dari duduknya dan

menyembah dan mencium pangkuan ibunya. “Para dewa 

mengutuki anakmu ini bila berani menggugatmu, Mak.

Ampuni aku. Tak ada yang lebih baik dari Emak dan

Senapatiku.”

“Mengapa kau ulangi juga pertanyaan semacam itu?”

Gelar berdiri, kemudian duduk di samping Idayu, tak

berani menatap wajah ibunya. Dalam hatinya ia

mengetahui emaknya sudah basah karena airmata

kesedihan.

“Kau sudah dewasa. Nak. Kau sudah jadi tulangpunggungku selama ini. Kau sudah jadi anak yang baik

untuk emakmu, bapakmu dan abang yang sangat baik

untuk adikmu. Apa lagikah yang masih kurang?”

“Mak, pada suatu kali bukankah aku juga akan turun ke

medan perang? Dan kalau aku tewas, Mak, tegakah kau

melihat aku mati tanpa mengetahui sesungguhnya siapa

bapakku? Siapa akan aku cari di alam sana nanti?”

“Kau masih merasa kurang, anakku.”

“Benar, Mak, masih ada yang kurang. Kebenaran itu,

Mak, beri aku kebenaran itu.”

“Apa gunanya kebenaran itu kalau semua sudah cukup

padamu?”

“Hanya kebenaran itu yang kurang, Mak. Apalah arti

harga diri dan kehormatan yang selalu Emak ajarkan dan

tunjukkan contoh-contohnya kalau kebenaran itu kurang

mencukupi?”

“Aku mengerti kau. Perlu benarkah diungkap kebenaran

itu kalau dia akan melenyapkan semua kebahagiaanmu,

dan apalah gunanya bila demikian?” ia menghela nafas

dalam, kemudian menghembuskan ke luar seperti puputan.

“Jadi benar bapak bukan bapakku,” Gelar mendahului. 

Idayu melengos lagi. Ia hendak bicara tapi tak jadi.

“Kalau begitu siapa sesungguhnya dia, bapakku itu,

Mak?” melihat ibunya tak juga menjawab ia mendesak

lembut, “orang bilang, emak sendiri yang harus menjawab,

bukan orang lain, dan tak ada orang lain yang akan

menjawabkan untukku.”

Setelah untuk ke sekian kali menghembuskan nafas besar

Idayu berkata sepatah-sepatah, hati-hati, dan pelahan:

“Benar, Gelar. Kau sudah dewasa. Aku tahu, pada suatu

kali aku harus juga sampaikan. Memang aku takut

menyampaikan. Bukan karena takut pada kebenaran. Aku

takut pandanganmu terhadap emakmu akan berubah.

Keantaanmu pada bapakmu akan menjadi rusak, tak utuh

lag? seperti sediakala. Apalah gunanya kalau semua itu

yang terjadi? Kau memang berhak, dan kau menuntut

hakmu. Aku takkan ingkari hakmu. Besoklah, Nak, bila

matari telah terbit, jangan dalam malam suram semacam

ini. Tidurlah kau.”

“Mak!”

“Tidurlah. Tidaklah semudah kau duga untuk dapat

memberikan hakmu dengan sebaik-baiknya. Aku masih

membutuhkan keberanian untuk mengatakan. Kalau keliru

bisa rusak semua-muanya. Soalnya memang tidak

sederhana. Tidurlah. Besok masih ada hari lagi.”

Tanpa memandang anaknya Idayu kembali ke ambin

dan membetulkan letak selimut Kumbang, kemudian ia,

tidur miring menghadap ke dinding.

Gelar masih tetap berdiri mengawasi adik dan ibunya. Ia

sedang mengatasi perasaan iba. Ibunya nampak begitu

menderita dan bersusah-payah. Hanya untuk dapat

memberikan kebenaran yang jadi haknya. 

Keruyuk pertama ayam jantan sudah mulai terdengar.

Baru ia bangkit dan duduknya. Ia tak ingin tidur dan tidak

dapat tidur. Pikiran, bahwa ia anak Syahbandar Tuban,

membikin semua yang dipandangnya berobah nilai dan isi,

dan semua serba tidak menyenangkan, menggelisahkan.

Seluruh pengabdian, kasih-sayang dan kebanggaan pada

orangtuanya tergoncang keagungannya – hanya oleh yang

seorang itu, satu nama yang membusukkan segalanya.

Keruyuk ke dua telah berhenti. Ia keluar dari gubuk,

menghisap udara pagi segar, kemudian pergi ke dapur. Ia

bawa pelita, dan mulai ia menyalakan api. Inilah untuk

pertama kali ia melakukannya. Biasanya Idayu sendiri yang

mengerjakan sekalipun sedang dalam keadaan sakit atau tak

enak badan.

Ia tunggui air sampai mendidih. Emaknya belum juga

turun. Jagung muda yang ditebusnya telah masak. Idayu

belum juga muncul.

Ia pergi ke anak sungai dan mandi. Matari sudah

memancarkan lembayung merah di ufuk timur. Waktu

hendak masuk ke gubuk ditemuinya ibunya di pintu. Ia

lihat mata wanita tercinta itu bengkak.

Gelar menggeletar. Hatinya terasa disayat-sayat. Betapa

tersayat-sayat dada ibu yang sebaik itu olehnya. Tapi hanya

hati yang kuat saja akan dapatkan kebenaran. Maka ia

singkirkan perasaannya.

“Mak!” ia menegur lebih dahulu.

“Ya, Gelar, mari pergi ke ladang.”

Dan di ladanglah Idayu mulai bercerita tentang impianimpiannya setiap habis menari di kadipaten waktu

Wiranggaleng tak ada di Tuban. Siapakah dapat

mengatakan impian mengandung kebenaran? 

“Dan kau membutuhkan kebenaran itu, dan kebenaran

itu belum pasti. Hanya bukti-bukti yang tertinggal menjadi

petunjuk arah ke kebenaran itu, anakku.”

Idayu menerangkan pada Gelar tentang kehidupan

seksuil. Kemudian: “Dan bukti yang paling menentukan

adalah kau sendiri. Sejak kau kulahirkan, sejak itu pula aku

tahu kau bukan anak Wiranggaleng. Telah aku serahkan

diriku pada bapakmu, Nak, aku serahkan diriku dengan

sebilah cundrik, tapi bapakmu tidak menancapkan senjata

itu pada tubuhku. Ia biarkan aku hidup, la mengampuni

emakmu ini.”

“Ah, Emakku, betapa kau menderita karena

kelahiranku.”

“Hanya Hyang Widhi juga mengetahui, Nak, betapa

perasaanku waktu itu. Nyi Gede Kati telah siap melihat aku

bermandi darah. Bapakmu tak juga membunuh aku. Betapa

menderita dia, barangkali dia pun telah lama jadi olokolokan orang sebagai lelaki Tuban yang tak ada harganya

sebagai lelaki….”

“Cukuplah itu, Mak, jadi siapa dia, bapakku itu, Mak?

“Setelah kau lahir, dia masih mencoba lagi. Tidak dalam

impian, dalam kenyataan. Hanya cundrik yang dapat

membela diriku. Bila suamiku bukan Wiranggaleng, sudah

lama emakmu ini tumpas dibunuhnya, juga kau, juga orang

itu. Dan justru karena percobaannya dalam keadaan aku

sadar dan dapat membela diri, Gelar, aku dapat

memastikan, apa yang dahulu itu hanya impian belaka

bagiku, ternyata sesungguh-sungguh kejadian. Kemudian

orang ramai membicarakan dia suka membius orang untuk

mencapai maksudnya, antaranya istrinya sendiri: Nyi Gede

Kati.” 

“Mak, jadi benar Syahbandar Tuban Sayid Ulasawa!”

pekik Gelar.

“Kemudian dibiusnya juga penjaga-penjaga menara

pelabuhan. Kabarnya kemudian juga dua orang pelarian

Peranggi. Jadi aku tidak bermimpi. Kau bukan anak

impian, anakku, aku telah kena bius. Obat biuslah

senjatanya untuk melaksanakan kejahatan. Aku tak tahu

bagaimana caranya aku terkena biusnya.”

“Cukup, Mak cukup, terimakasih, Mak.”

“Itulah ceritanya. Gelar. Aku takkan menuntut padamu

untuk percaya. Terserahlah bagaimana kau menimbang dan

menilai, emakmu pembohong atau bukan, emakmu tak

punya arti atau tidak. Setidak-tidaknya kau sudah dengar

dari emakmu sendiri, bukan dari orang lain. Kalau kau

anggap emakmu tidak setia pada Wiranggaleng, sudahlah

jadi nasibku, terserah padamu. Kalau kau menjadi murka

padaku, terserahlah pula padamu….”

“Terimakasih, Mak, anakmu yang bernama Gelar ini

lebih percaya pada emaknya daripada siapa pun. Sekarang,

Mak apakah orang itu, yang suka membius itu—”

“Apalah gunanya kau tanyakan lagi? Aku tak sudi kau

menyebutkan namanya.”

“Baiklah, Mak, kau tak sudi mendengar namanya,” dan

ia lihat duka-cita telah membenam wajah ibunya. Buruburu ia bersujud dan kata-ka-tanya keluar dengan gugup,

“hanya kaulah, Mak, yang aku percaya.”

Kemudian ia berdiri. Keningnya berkerut dan matanya

menyala-nyala pada satu titik. Ia berjalan cepat-cepat

menuju ke suatu tempat, meninggalkan ibunya seorang diri. 

“Gelar!” pekik ibunya. “Gelar! Gelaaaar!” ia lari

memburunya. Di dekatnya ia berkata menghiba-hiba, “Aku

telah kecewakan kau. Maafkan aku. Gelar.”

Gelar berjalan menuju ke kandang kuda, membuka

palang-palang dan menuntun Sultan keluar.

“Kau mau ke mana, anakku? pagi-pagi begini?” tanya

ibunya kuatir.

“Mari ke gubuk dulu, Mak.”

Mereka berjalan bertiga, ibu, anak dan seekor kuda,

menuju ke gubuk. Gelar masuk ke dalam dan memanggil

adiknya.

“Kau, Kumbang, tinggal di rumah bersama emak.

Jangan pergi meninggalkan gubuk ini sebelum aku pulang.

Gantikanlah pekerjaanku selama aku tak ada.”

“Kau mau ke mana. Gelar?” Idayu bertanya.

“Mak, ambilkan pedangku.”

Tanpa membantah Idayu pergi mengambilkan apa yang

dipinta oleh anaknya. Dan waktu ia datang Gelar segera

berkata: ‘Tanganmu, Mak, pasangkan itu dengan tanganmu

sendiri.”

“Kau mau ke mana. Gelar? Aku tak mau kehilangan

kau. Bapakmu tak ada. Adikmu masih kecil,” pohonnya

selama memasangkan ikat pinggang pedang pada tubuh

Gelar.

“Kumbang, ambilkan tombak dan cambuk-perang.”

“Apa kataku kalau bapakmu datang?”

“Mak, pasangkan destarku.” 

Idayu pergi lagi dan datang membawa destar terbaik.

Gelar berlutut di hadapan ibunya untuk dibenahi

rambutnya sebelum didestari.

“Aneh benar tingkahmu. Nak?”

“Keris bapak, Mak.”

“Kau seperti hendak berangkat perang,” kata ibunya

sambil menyelitkan keris yang telah membunuh Sang Patih

Tuban.

Gelar berdiri tegak di depan ibunya, tersenyum,

bertanya: “Lihatlah anakmu sebelum berangkat, Mak,

gagahkah dia?”

“Tak ada yang lebih gagah.”

“Gagah manakah dengan orang itu sewaktu muda,

Mak?”

“Jangan sakiti hati emakmu. Gelar.”

“Ampun, Mak, ampun. Pandangi anakmu baik-baik,

Mak. Bila dia tak mampu pulang dengan kaki sendiri, biar

kau bisa kenangkan dia dengan baik.”

“Gelar! Mau ke mana kau?” untuk ke sekian kalinya

Idayu memohon. “Kau takkan tinggalkan kami berdua,

bukan?”

Sekarang Gelar berlutut lagi dan menyembah ibunya.

“Restui aku, Mak, anakmu akan berangkat,” dan Idayu

terpaksa merestuinya. Kemudian ia berjalan keluar dan

memanggil kudanya: “Sultan! Sultan!” Kuda itu datang

menghampiri. Ia melompat ke atasnya.

“Kumbang! Mana tombak dan cambuk-perang?” Ia

selitkan cambuk-perang yang selama ini dipergunakannya

berlatih pada pinggang dan ia tancapkan gagang-gagang

tombak pada jangang kulit sehingga berdiri tegak di 

belakangnya. Ia berdiri di atas sanggurdi dan meninjau

langit. Kuda itu bergerak, berpacu.

Ia lambaikan tangan pada yang ditinggalkan, kemudian

hilang di dalam hutan….

0odwo0

41. Setitik Busa di Samudera Kehidupan

Kuda itu berpacu keluar dari hutan, memasuki padang

alang-alang, memasuki hutan lagi, berpacu dan berpacu.

Pada suatu padang rumput barulah berhenti. Gelar turun

dan membiarkan Sultan merumput Ia sendiri duduk di

tepian padang, makan rebus jagung muda.

Selama enam belas tahun benih jagung yang dibawa

Syahbandar Tuban ke Jawa telah menyebar ke seluruh

pulau Jawa tanpa diceritakan lagi siapa pembawanya. Juga

Gelar tidak tahu. Tak ada yang pernah bercerita.

Setelah kuda dianggapnya cukup kenyang ia berangkat

pelahan-la-han mencari sungai yang biasa dilewatinya.

Dibiarkan kuda itu minum secukupnya. Kemudian ia

melanjutkan perjalanan kembali.

“Puh, puh, puh! lari, cepat Sultan, cepat. Lebih cepat!

Awas, jangan kau lemparkan aku dari punggungmu.”

Padang rumput itu telah terlalui dan kini ia memasuki

jalanan desa.

“Stt. Kau lari ini hendak ke mana? Tahu kau ke mana

kau harus bawa aku?”

Sawah dan beberapa rumah mulai dilewati dan

dipapasinya wanita-wanita yang sedang pergi mengirimkan

makan suaminya di sawah atau ladang. Ia pelankan

kudanya. Anak-anak kecil bersorak melihatnya sambil 

melambai-lambaikan cambuk. Anak-anak babi pada

berlarian seakan jiwanya sendiri yang terpenting di dunia

ini.

“Ah-ah, kau memang cerdik, Sultan, tahu ke mana aku

hendak pergi.”

Kuda telah meninggalkan desa dan kembali memasuki

persawahan.

“Awas, jangan sampai kau pergokkan aku pada

Peranggi,” ia memperingatkan. “Sekiranya, Sultan,

sekiranya aku tak bisa kembali, kau harus bisa pulang

sendiri. Cari Emak, dan, katakan padanya, aku tak bisa

kembali. Mengerti? Apa? Kau sudah lelah lagi? Matari pun

belum lagi bergeser sejengkal. Jangan manja.”

Kuda itu berlari tenang tidak terburu-buru melalui

jalanan desa dengan hutan muda di kiri-kanannya. Derap

kuda dan desau angin pada kuping menyebabkan ia tak

banyak mendengar sesuatu di seling-kungannya. Hanya

matanya tajam melihat ke segala jurusan di depan. Dan ia

pun tak mendengar seseorang berseru-seru dari atas pohon

tinggi, menyuruhnya berhenti.

Sayup-sayup mulai terdengar olehnya suara kentongan

bambu dari atas pohon. Ia anggap itu suara burung.

Sampai di tikungan kudanya berhenti, meringkik. Gelar

menebarkan pandang ke keliling. Macan: Kuda itu tetap

menolak maju dan terus juga meringkik.

“Turun!” terdengar suara dari balik semak hutan.

Gelar menolak turun dan kuda menolak jalan. Ia

mencabut tombak.

“Orang siapa? Demak?”

“Bukan.” . 

“Peranggi?”

‘Tidak.”

“Tuban?”

“Tiga-tiganya tidak!”

“Turun! Kalau tidak, kau akan berbulu anak panah.

Siapa kau?”

“Keluar kau dari semak, lelaki, inilah Gelar.”

Tiba-tiba terdengar orang tertawa-tawa dan beberapa

belas orang keluar melingkarinya. Gelar sendiri duduk di

atas kuda menyiap tombak dan meruncingkan

kewaspadaan.

“Kau, Gelar!” mereka berseru senang.

“Ayoh, turun.” Gelar curiga. Tapi suara tawa mereka

ramah. Pandangnya berpendaran pada wajah-wajah yang

melingkarinya, dan ada salah seorang ia kenal: seorang

prajurit pengawal Tuban.

“Ayoh, Gelar, turun! Tak ada orang punya gaya berkuda

seperti kau.”

“Siapa kalian,” Gelar bertanya curiga. “Demak atau

Tuban?” ia bertanya kembali.

“Tuban. Sudah butakah matamu? Ayoh, minum tuak

dulu! Semua ini teman-temanmu sendiri sepasukan. Tidak,

tak ada yang bakal tangkap kau. Turun! Kau toh akan

menggabung dengan kami dengan perlengkapan perang

seperti itu?”

Gelar mengembalikan tombak pada tempatnya, tertawa

waspada dan turun.

“Awas kalau kalian coba-coba bikin pertengkaran…’ ia

awasi prajurit-prajurit pengawal itu. 

“Pertengkaran apa? Terlalu banyak musuh untuk boleh

bertengkar Demak, Peranggi. Kau toh akan bergabung

dengan kami?”

Dengan tetap memegangi hulu pedang ia hamp iri bekas

tetangga tidurnya dan berkata bersungguh-sungguh: “Aku

mau bergabung hanya kalau ditugaskan masuk ke Tuban.

Dengar?”

“Beres. Bergabung dulu. Minum, ambil tuak itu.

Tuaaaak.” Mereka masuk ke dalam hutan, merubung

ladang tuak.dan minum dari cangkir bambu. Dan sebentar

kemudian mereka telah riuh-rendah dalam kegembiraan.

“Kau sudah perjaka gagah berani. Gelar!” seorang

memulai. ‘Tahukah, kau. Gelar,” seseorang menyambung,

“Syahbandar itu ternyata terlepas dari tangan Sang Patih?”

Gelar tak jadi meneguk tuaknya. Matanya tajam

menembusi mata si penanya, kemudian meletakkan cangkir

di tanah.

“Jangan kau gusar,” segera orang meredakan. “Peranggi

telah membebaskannya. Sekarang dia jadi biangkeladi

segala macam kecelakaan.”

Gelar menahan diri. Ia mencoba memahami adakah

ucapan itu dimaksudkan untuk mengejek dan menghina

ataukah sekedar memberitahukan, Belum lagi ia dapat

memutuskan terdengar derap kuda datang mendekati.

“Siapa itu?” Gelar bertanya curiga.

“Orang sendiri. Jangan kuatir. Hei, Gelar, kau mau ke

mana dengan kelengkapan perang selengkap ini?”

Gelar tak bermaksud menjawab. Orang lain telah bicara:

“Ingin kami lihat tampangmu kalau sudah berhadapan 

dengan Peranggi. Terhadap teman-temanmu sendiri kami

sudah cukup tahu. Gelar ”

“Ya-ya, betul. Kami ingin lihat bangaimana kau

mendengar musket dan meriam. Pucat, kau. Gelar,

mungkin pingsan sewindu”.

Dari jalanan terdengar penunggang kuda itu berseru-seru

dan derap kudanya padam: “Kembali kalian! Semua!

Senapatiku telah datang, Senapatiku yang lama. Ayoh

kembali!”

Orang pun berlarian keluar dari balik semak-semak ke

jalanan. Seorang pengawal yang masih duduk di atas kuda

menyampaikan perintah: ‘Tanpa kecuali, semua kembali.

Senapatiku telah datang.”

“Banteng Wareng?”

“Bodoh. Wiranggaleng! Bersoraklah untuk Senapatiku.”

Orang pun bersorak-sorai. Gelar menyembunyikan muka

pada bulu suri kudanya. Ia menangis. Ia tahu orang itu

bukan bapaknya lagi. Semua orang berbangga pada Sang

Senapati Tuban. Ia merasa seumur hidupnya telah jadi duri

dalam dagingnya. Apakah lagi arti dirinya bagi Sang

Senapati?

“Sultan!” sebutnya pada kudanya meminta simpati.

Kuda itu menengok padanya. Sorak-sorai itu telah berhenti.

“Kau tidak ikut bersorak. Gelar!” seseorang menegur.

“Seumur hidupku aku telah bersorak untuknya,”

jawabnya cepat-cepat dan menyekakan muka pada

punggung Sultan.

“Ayoh, semua berangkat sekarang juga.” 

Orang pun mengemasi bawaannya masing-masing dan

naik ke atas kuda. Juga Gelar bergabung dengan sendirinya

dan ikut berangkat

Ia berkendara pelan-pelan dibuntut barisan. Ujung depan

telah hilang di balik tabir debu. la membutuhkan waktu

untuk memantapkan kembali hatinya. Senapatiku!

Senapatiku, masihkah diri ini anakmu? Akan kau terima

diri ini bila ikut datang menjemputmu? Mengabdi padamu?

Aku bangga berbapak kau. Ah, Senapatiku. Ia pacu

kudanya. Semoga kau tak merasa hina beranakkan aku.

Bapak! Bapak, aku, Gelar datang.

Gelar diterima kembali oleh pasukannya.

Dan Senapati Tuban, Wiranggaleng, ternyata tak pernah

dapat ditemuinya. Belum ada orang yang dapat bercerita

bertemu, apalagi bicara dengannya. Namun demikian

kewibawaannya dapat dirasakan oleh setiap prajurit.

Perselisihan antara pemimpin-pemimpin pasukan lenyap

seperti dihembus angin. Setiap saat orang menunggu

dengan taat akan datangnya perintahnya. Dan dalam waktu

pendek ketidak-acuhan para petani di pedalaman dapat

dilawannya.

Prajurit-prajurit yang selama ini dibiayai oleh praja

Tuban, dan praja dari upeti, dan upeti dari keringat petani,

telah menjadi pengetahuan umum setiap orang. Tanpa praja

prajurit yang sepangkat-pangkatnya hanya akan hidup dari

perampokan langsung atas petani. Senapati telah tindas

kecenderungan jahat ini, dan memerintahkan setiap prajurit

menjadi petani dan setiap petani menjadi prajurit. Dan

ternyata setiap prajurit bisa menjadi petani dan setiap petani

bisa menjadi prajurit.

Dan Senapati Tuban masih juga tidak dilihat oleh orang. 

Gelar harus tahan kerinduannya untuk bertemu, untuk

mendapat restu, untuk mendapat ijin istimewa memasuki

Tuban, menemui Syahbandar Sayid Habibullah AlMasawa.

Idayu telah mengatakan melalui jalan kelok, Syahbandar

itulah bapaknya yang sebenarnya, la harus menemuinya

dan menyembahnya sebagai seorang ayah. Biar semua

orang membenci dan mengejeknya, dia adalah bapaknya,

orang yang suka membius itu. Ia ingin tahu dengan mata

dan kuping sendin bagaimana macamnya.

Dan keinginan itu tak juga terpenuhi.

Kembali menjadi anggota pasukan pengawal ia menjadi

pendiam lagi seperti dahulu. Setiap hari ia berlatih

memainkan senjata. Dan betapa ia berlatih diri begitu

fanatik. Ia akan melewatkan masa perang ini dengan

selamat. Dan semua berita tentang bapaknya yang sejati ia

dengarkan dengan hati-hati, tanpa perasaan pribadi. Dan

betapa ia mulai mengerti dengan sikap semua orang yang

membenci orang Moro itu. Mereka berhak membencinya

dan ia merasa ia pun berhak menjadi pemenang dalam

perang terakhir nanti.

Kadang ia berpikir, mengapakah kelakuan satu orang

saja bisa membikin diri dan emak dan Senapati menelan

kegetiran begitu panjang. Mengapa tidak Syahbandar itu

sendiri yang harus menanggungkannya? Tidak adil! ia

meraung sunyi.

Dan bukanlah suatu kebetulan, waktu diadakan

pengiriman seorang telik untuk memasuki kota, ialah yang

terpilih. Ia telah mendapat nilai sebagai pemuda yang

berani dan cakap. Ia terima tugas itu dengan perasaan

syukur pada Hyang Widhi. Dengan menyandang semua

senjatanya ia naik ke atas punggung Sultan dan berpacu ke

utara. 

Sampai di sebuah kampung nelayan ia berhenti. Ia

nikmati pemandangan laut yang nampak tanpa batas,

bersambung langsung dengan langit, sama-sama biru. Tak

ada kapal, besar ataupun kecil kelihatan. Perahu nelayan

pun tidak. Semua yang biasanya dicancang di pantai, kini

diangkat naik ke darat, di bawah lindungan pohon bakaubakau.

Rumah-rumah itu nampak sangat miskin, suram, tak ada

kegembiraan, beda daripada pondoknya dalam

pengungsian. Semua atap terbuat dari ilalang yang telah

lusuh dan hancur-hancur lekang dan dipatahkan oleh angin.

Ia masuki sebuah rumah, telah doyong, dan dua orang

anak kecil sedang bermain-main di dalam. Ternyata

orangtuanya pergi ke daerah selatan, mencari tanah

pertanian. Juga di rumah-rumah lain, yang ada hanya

bocah-bocah. Semua nelayan telah meninggalkan laut

untuk bertani.

Di malam hari waktu mereka pulang ia mendapat cerita,

penangkapan ikan tidak lagi menghidupi. Tak ada lagi

orang datang untuk bertukar dengan beras dari pedalaman.

Mereka pun telah berhenti membikin ikan asin dan trasi.

Hanya garam masih terus dibikin bila hari tidak hujan.

Tetapi Gelar melihat, sawah-sawah garam mereka sudah

tidak terpelihara. Mereka dalam kesulitan penghidupan

yang amat sangat.

Walau begitu ia tak ragu-ragu memerintahkan seorang

laki-laki dewasa agar tinggal di kampung untuk memelihara

kuda dan barang-barang titipannya.

Dengan berlindung kegelapan malam ia mendayung ke

jurusan timur – pengalaman pertama dalam hidupnya

sebagai orang pedalaman. 

Ia telah mendapat tugas untuk menemukan pemusatanpemusatan kekuatan Peranggi, mencatat adat-kebiasaannya

di siang atau malam hari, dan sampai di mana saja daerah

geraknya.

Dalam mendayung di kegelapan ia mengandalkan diri

pada ketajaman matanya. Dan ia bangga hidup di tubir

maut begini – suatu kehormatan untuknya. Ia akan

tunjukkan pada emaknya, pada Senapati, pada semua yang

mengenal dan tidak mengenalnya, ia mampu lakukan tugas

berbahaya tanpa teman, bahwa ia layak jadi anak Senapati

Tuban. Dan Senapati akan bangga punya anak seperti

dirinya. Ia takkan memalukan orangtuanya.

Dengan modal kebanggaan dan hati besar ia tak

menemukan sesuatu kesulitan. Ia dapat mendarat dengan

selamat di barat bandar kota, dan bandar itupun terbentang

di hadapannya seperti sebuah cobek tua yang tinggal

pecahnya. Dengan melumuri badan yang hampir-hampir

telanjang itu dengan kotoran, rambut kacau dirubung lalat,

berjalan dengan kaki X, berpura-pura gila, ia menyanyi dan

tertawa tiada berkeputusan, bicara seorang diri, dengan

mata menatap hanya pada satu titik. Rambut kacaunya

jatuh pada mukanya dan menutup sebagian dari wajahnya,

terutama hidung-bengkungnya.

Tanpa ragu-ragu ia mendekati prajurit-prajurit Portugis

dan mengajak bicara. Dan mereka menghalaunya dengan

cacian, dengan lemparan batu. Ia merasa puas dengan

permunculannya. la tak takut pada kesialan. Sudah sejak

kecil diajarkan padanya, tak ada kesialan dalam hidup

manusia, yang ada hanya akibat kekeliruan dan kesalahan.

Kepalanya terlindungi oleh sisa destar yang merupakan

tali sempit. Dengan demikian ia dapat kukuhkan letak

rambut yang harus dapat menutup hidungnya. Kesulitan

satu-satunya adalah pangan, tapi justru itu yang 

menyebabkan ia mengurus dan nampak pucat. Dan itu

lebih baik baginya.

Untuk mendapatkan pemusatan-pemusatan kekuatan

baginya tak merupakan kesulitan. Meriam-meriam ia dapat

mengetahui ditujukan ke arah selatan sedang yang di sekitar

benteng terarah ke barat. Semua berdiri di atas roda kayu.

Benteng dan kadipaten merupakan pusat kehidupan

Peranggi. Sedang bandar sendiri nampaknya tak begitu

terjaga. Menara pelabuhan dan menara benteng memang

merupakan bahaya awal bagi belatentara Tuban, tetapi di

malam gulita menara-menara itu tidak akan berdaya. Juga

mata tentara Peranggi itu tidur di malam hari.

Ia lihat serdadu-serdadu berkeliaran di kampungkampung dan menggauli wanita yang tak mampu

meninggalkan kota. Tapi lebih banyak lagi adalah yang

berkeliaran di gubuk-gubuk bandar. Dan di sini pula ia

sekali melihat Syahbandar Tuban keluar dari sebuah gubuk,

tua, berjalan terbongkok-bongkok, bertongkat dan bertarbus

tua. Kemudian ia lihat juga gubuk itu ditinggali oleh Nyi

Gede Kati, yang juga sudah tua, dan badannya tak

terpelihara lagi seperti dulu.

Beberapa hari lamanya ia memata-matai Syahbandar, la

selalu melihat orang itu berada dalam kawalan serdadu dan

setiap sore berkunjung ke gubuk Nyi Gede Kati, seorang

diri, dan pulang di waktu malam. Bila ta memasuki gubuk

itu pengawal-pengawalnya kemudian pergi dan masuk ke

tempat-tempat lain.

Sekali waktu ia tidur bergolak-golak di pasiran pinggir

jalan ia lihat Syahbandar lewat dalam pengawalan. Ia

berhenti, mengawasinya sejenak kemudian bicara sesuatu

dalam bahasa yang ia tak mengerti. Sebelum berangkat

Syahbandar itu memerlukan untuk meludahinya, dan Gelar

tertawa berbahagia mendapat ludah itu dan menyekanya 

dengan rambutnya. Ia ikuti orang terbongkok-bongkok itu

dengan pandangnya.

Itulah bapakmu yang sesungguhnya. Gelar, buruk

sebagaimana hatinya, busuk sebagaimana hatinya dan jahat

sebagaimana hatinya. Mengapalah kau berbapakkan dia?

Orang yang tak pernah terdengar berbuat sesuatu kebajikan?

Tak pernah terdengar sesuatu yang mulia tentangnya? Tapi

itulah bapakmu. Semua orang tahu. Emakmu sendiri

mengatakan dengan jalan dan cara lain.

Betapa emakku menderita karena kau, menanggung

malu seumur hidup. Sekali waktu kau akan jatuh ke

tanganku iblis tua! Inilah Gelar, anakmu, dia akan datang

padamu. Hati-hatilah. Dua puluh hari kemudian, pada

suatu sore ia melihat Nyi Gede Kati menggendong bakul

entah dari mana pulang ke gubuknya di daerah pelacuran,

la nampak kurus. Matanya cekung dan jalannya telah

goyah, tiada mantap seperti biasanya.

Ia kumpulkan ketabahannya melihat wanita itu

memasuki gubuk dan sebentar kemudian juga Syahbandar

dalam iringan tiga orang pengawal, la perhatikan pengawalpengawal itu menjauh dan memasuki gubuk lain.

Ia dekati gubuk itu dengan tongkat kayu di tangan dan

debaran deras di dalam jantung. Langkah masih menyeret

dengan kaki X. Ia makin mendekat sampai terdengar suara

tawa Syahbandar dan Nyi Gede.

“Kau semakin kelihatan kurus, Kati.”

“Tidak, Tuan, sahaya hanya lelah.”

Seorang pelacur yang lewat telah mengganggunya

dengan ludah dan mentertawakannya. Ia pun ikut tertawa,

mendekatinya, dan orang itu lari. Pelacur-pelacur lain

muncul, dan ia dekati mereka, dan mereka pun lari 

bercekikikan. Ia belok kanan jalan memburu mereka,

kemudian kembali ke gubuk Nyi Gede.

Pintu daun kelapa itu terbuka. Ia melompat masuk

sambil tertawa bahak seperti gandarwa di atas panggung.

Tongkatnya tergenggam, matanya melotot dan mulurnya

ternganga.

Sekilas ia dapat melihat dua orang itu terperanjat. Nyi

Gede berdiri di samping tungku, bersiaga terhadap setiap

serangan. Tholib Sungkar Az-Zubaid naik ke atas ambin

kedudukannya, bersiaga dengan tongkatnya.

Perempuan itu segera mengenalnya dan berseru dari

tempatnya: “Gelar!”

“Nyi Gede!” tiba-tiba saja Gelar lupa pada kegilaannya.

“Gelar! anakku, mengapa kau jadi begini?” ia melangkah

mendekat.

Dan Gelar merasa agak berkecilhati karena wanita itu

segera mengenalnya. Ia melengos memandangi

Syahbandar.

“Beginilah nasib anakmu, Nyi Gede.”

“Gelar?” Syahbandar bengong dan turun dari ambin.

“Ya, inilah Gelar.”

“Sudah kucari Nyi Gede ke mana-mana. Beri aku

makan,” perintah Gelar. Kasar.

“Gelar? Kau sudah bisa sekasar itu? Ya, tunggulah aku

masakkan. Nampaknya kau sudah lapar.”

“Makan?” Gelar tertawa sinting. “Siapa yang cukup

makan sekarang? Siapa cukup pakaian?” ia melotot pada

Tholib. 

“Compang-camping begitu,” gumam Syahbandar,

“mungkin memang sudah gila.” Ia mengendurkan

kesiagaannya. “Kulihat memang Gelar seperti celeng keluar

dari jaring ikan. Hampir telanjang bulat. Tunggu di luar,

biar Nyi Gede selesaikan masaknya.”

“Di mana emakmu?” tanya Nyi Gede.

“Lari. Tak tahu aku ke mana.”

“Seperti gila, tapi bisa menjawab,” Syahbandar

meneruskan bicara pada diri sendiri. “Busuk benar baunya,

dan lalat mengikuti begitu rupa.” Dan sekarang ditujukan

pada Gelar, “Baumu busuk, tak pernah mandi. Kau kan

prajurit Tuban?”

“Minum, Nyi Gede!” Gelar meminta kasar, membelalak.

Dan wanita itu mengeluarkan gendi, berkata meminta

maaf dan menghampiri: ‘Tuak aku tak punya, Gelar.”

“Air tawar?” gumam Gelar, kemudian meneguk dan

meletakkan gendi di atas lantai tanah. “Aku kotor, lapar,

tapi masih tetap Gelar, Nyi Gede,” ia tersenyum di buatbuat. Tiba-tiba dengan suara meledek menuding pada

Syahbandar, “Siapa orang ini, Nyi Gede?”

Perempuan itu mengambil gendi dari tanah dan

menaruhnya kembali di dalam gantungan: “Masa kau lupa

siapa dia?”

“Apa guna kau mengenal aku?” Syahbandar menolak

untuk disebut namanya. Ia bergerak hendak keluar dari

pintu.

Gelar mencegahnya melangkah lebih jauh.

“Siapa!” tanyanya pendek dengan suara menggeram. 

“Tingkahmu menakut-nakuti orang Gelar. Dulu kau

tidak begitu, tertib dan sopan. Jangan dekati dia, Gelar.

Kau begitu kotor dan busuk.”

Dan kembali Syahbandar bersiaga dan mundur menjauh

beberapa langkah.

“Jangan mundur!” tegah Gelar. “Biar kuingat-ingat siapa

kau;” ia raba-raba hidungnya sendiri. “Hidungku seperti

hidungmu.” gumamnya. “Aku lupa seakan pernah kulihat

kau dalam hidupku.”

“Kau pura-pura tak tahu siapa dia. Jangan dekat-dekat,”

tegah Nyi Gede sambil meneruskan masak.

“Bukankah itu Tuan Syahbandar Tuban?”

“Dia sudah begini tua sekarang, kau. Tuan Syahbandar,”

Gelar meneruskan gumamnya. “Kalau aku sudah menjadi

tua, semestinya akan seperti dia juga. Siapa kau?”

Tholib Sungkar berusaha hendak keluar dan gubuk, dan

kembali gelar menghalangi.

“Kupukul kau kalau merintangi jalanku,” ancam

Syahbandar.

“Syahbandar, Tuan Syahbandar,” bisik Gelar. “Tuan

Syahbandar Tuban. Tapi siapakah namanya? Sudah lama

kurindukan waktu untuk bertemu dengannya. Tapi

siapakah namanya?”

“Gelar! Kau mengganggu aku memasak. Jangan ganggu

pula Tuan Sayid Habibullah Al-Masawa itu.”

“Benar, Sayid Habibullah Al-Masawa!” Gelar

mendengus. “Benar, ingat aku sekarang.”

“Mengapa kau nampak begitu menakutkan?” tegur Nyi

Gede yang kembali mendekatinya. “Hormati dia

sebagaimana kau menghormati orangtua.” 

Gelar mencibir. Dan Syahbandar tetap siaga dengan

tongkatnya.

“Gelar! Kau atau aku yang pergi dan situ!” bentak

Syahbandar. “Kau ini orang Demak atau Tuban, atau

hanya main pura-pura gila?”

“Kau menghadapi Tuan Syahbandar sebagai

menghadapi…,” Nyi Gede memperingatkan.

“Nyi Gede, ingatkah Nyi Gede semasa aku masih kecil?”

tiba-tiba Gelar bertanya kekanak-kanakan. “Ini dia Tuan

Syahbandar Sayid Habibullah Al-Masawa. Kata orang. Nyi

Gede, dia bapakku.”

“Penipu! Tak ada aku beranakkan kau!” bentak Tholib

Sungkar Az-Zubaid, tak jadi pergi.

“Benarkah itu, Nyi Gede?”

Wanita itu meneliti wajah Gelar, memarahi: “Kau

datang seperti petir di siang cerah, membawa pertanyaan

tidak pada waktunya.”

Gelar tertawa pendek. Tongkat dikepitnya pada ketiak:

“Mengapa begitu pucat. Tuan Syahbandar? Jangan, jangan

pergi. Anakmu ingin bicara,”

“Tak ada aku punya anak seperti kau.”

“Jadi kau bukan bapakku? Kaukah yang menipu ataukah

emakku Idayu?”

“Jelas Idayu penipu!” Syahbandar memutuskan.

Nyi Gede memegangi bahu anak muda itu, bertanya

lunak: “Pernahkah Idayu bilang begitu?”

“Tak pernah Idayu mengasuh anaknya jadi penipu, Nyi

Gede, kau yang pernah membidani emak waktu aku lahir.

Apa katamu?” 

Nyi Gede menarik Gelar agar duduk di ambin, tapi ia

menolak. Ia sendiri sekarang yang duduk, mentelantarkan

masakannya.

“Jangan menakut-nakuti begitu, kau, Gelar,” ia

memperingatkan, “kalau kulihat kau berdiri di depan Tuan

Syahbandar, nampaknya memang seperti dua orang

kembar. Hanya kau tegak, muda belia, tinggi semampai.

Tuan Syahbandar….”

“Apa saja semua ini…,” protes Syahbandar.

“… Jangkung, tapi tua dan bongkok. Memang

sepantasnya anak dan bapak. Kulitnya, hidung, mata,

rambut….”

“Diam, kau, Kati,” bentak Tholib Sungkar. “Gila kalian

berdua ini. Aku pergi.”

Dan Gelar menghadang.

“Apa salahnya Tuan dengarkan sedikit kata dari kami?

Nyi Gede, ceritakan penderitaan emakku setelah

melahirkan.”

“Betul. Dia sangat menderita. Dia merasa pasti akan

dituduh oleh suaminya, Wiranggaleng. Si periang itu, jadi

pendiam untuk selama-lamanya setelah itu, jadi pemenung.

Dia tak tahan terhadap perasaannya dan duga-dugaan

sendiri. Dia telah serahkan diri pada suaminya untuk

dicundrik mati.”

“Kau dengar itu, Tuan Sayid, bapakku?”

“Jangan berani pergi sebelum kau dengar penderitaan

emakku karena tingkahmu. Kau! Teruskan, Nyi Gede.”

“Wiranggaleng tidak mencundrik emakmu. Dia tetap

mencintainya. Betapa agung cinta lelaki itu. Tetapi wanita 

itu, perasaannya telah rusak binasa sejak itu, takkan dapat

pulih kembali.”

“Dan semua dimulai dengan obat bius,” Gelar

menambahi.

“Kemudian, baru kemudian itu diketahui,” Nyi Gede

Kati membetulkan.

“Tak perlu aku membius seorang pun!” bantah

Syahbandar.

“Aku pun pernah kau bius, Tuan,” Nyi Gede menuduh.

“Kau, Kati, kau juga menuduh aku?”

“Dan penjaga-penjaga menara, dan dua orang Peranggi

pelarian,” Gelar meneruskan, “korban obat bius.”

“Apalah artinya korban-korban itu dibandingkan dengan

penderitaan Idayu?”

Syahbandar seperti kehilangan kepribadiannya. Ia

menoleh-noleh pada setiap pembicara, la tak dapat

memutuskan sesuatu untuk diperbuatnya. Ia ingat pada

sumpahnya untuk mengakui Gelar sebagai anaknya. Dan

anak itu kini begitu menjijikkan, setengah gila dan tak tahu

aturan.

“Setiap dia melihat kau. Gelar,” Kati meneruskan, dia

akan ingat pada kelahiranmu, pada gangguan perasaan

yang mengguncangkan itu, karena dia sangat, sangat

mencintai bapakmu. Dia rela mati untuk bapakmu, rela apa

saja. Karena besarnya cintanya itu sebelumnya dia telah

hadapi maut, menolak jadi selir Sang Adipati, menolak

segala bujukan. Tiba-tiba Tuan, Tuan Syahbandar

membiusnya. Tangan Tuan yang kotor dan berlumuran

dosa telah meraba tubuhnya, dan kau, Gelar, kau pun 

lahirlah. Kau anak Tuan Syahbandar ini. Tak salah lagi.

Jangan pergi. Tuan, dengarkan juga istrimu ini bicara.”

Tholib Sungkar berdiri tersiksa tak dapat meninggalkan

tempatnya. Ia meringis-ringis berusaha tak mendengarkan,

tapi justru mendengarkan.

“Marilah duduk sini di sampingku. Tuan,” tapi

Syahbandar tak menggubris seolah tak dengar. “Gelar!

Akulah yang pertama-tama menyambut kedatanganmu di

dunia ini. Aku juga yang pertama-tama melihat: kau tak

lain dari anak Tuan Sayid ini Akulah juga orang yang

pertama-tama kaget. Setelah kau kumandikan dan

kutidurkan di samping emakmu, emakmu dengan diamdiam menangis. Ia tak bicara apa-apa. Nah, Tuan Sayid,

Tuanlah sekarang yang bicara.”

“Dia tak pernah mengatakan aku anaknya,” Gelar

menuduh.

“Mengapa diam saja, Tuan. Malukah Tuan punya anak

dia?”

‘Tak ada guna dengarkan cericau dua orang gila.”

Gelar makin menghadang dengan tongkat pada ketiak.

Syahbandar berusaha mencabut pisau-tongkatnya dengan

suatu gerakan semu. Gelar meliriki tangannya, tertawa,

kemudian: “Sia-sia Tuan keluarkan pisau-tongkat itu. Kalau

aku mau, sudah sejak tadi kuremukkan kepalamu. Uh,

siapa belum pernah dengar tentang tongkat ajaib itu?

Orang-orang tak berdaya telah kau bunuhi, seakan hanya

babi hutan. Sekali pisau itu nampak terhunus di hadapanku,

tangan yang menghunusnya akan kuremukkan. Kalau tidak

percaya, ayoh coba.”

Tholib Sungkar tak meneruskan usahanya. 

“Telah kau aniaya perasaan emakku sejak kelahiranku.

Telah kau hinakan Senapatiku. Diam! Jangan bicara. Telah

kau aniaya dan kau khianati penduduk Tuban. Dengarkan

kalau Gelar bicara. Jangan gerakkan bibirmu itu. Telah kau

bikin aku jadi ejekan dan tertawaan di mana-mana dan

kapan saja. Tebus semua airmata dan kesakitan emakku!

Tebus semua kesakitanku. Bicara kau sekarang!”

Untuk sekian kali Tholib Sungkar berusaha menguasai

diri. Tapi syarafnya sudah tak bisa dikendalikannya.

Kefasihan dan kecerdasannya pun sudah tak sanggup

membantunya melawan anak kemarin yang tak

berpengetahuan ini. Terdengar “Kau sudah bikin bahaya

untuk dirimu sendiri.”

“Urusanku. Aku tahu kau sangat berkuasa.”

‘Tak relakah Tuan mengakuinya sebagai anak?”

“Setiap saat serdadu Peranggi bisa datang dan bunuh

kau, anak gila.”

“Biarlah bapak dan anak mati bersama. Apalah

bedanya?”

“Tidakkah pernah kau dengar? Sedikit saja tanganku

melambai, dan serdadu Peranggi akan tergopoh

berdatangan?”

‘Tangan itu akan remuk sebelum melambai.”

“Bila jariku menuding, tewaslah dia yang tertuding,

dengan atau tanpa nama.”

“Jari itu akan patah sebelum menuding.”

“Itu benar, Gelar,” Nyi Gede menggarami.

“Aku telah datang padamu untuk dijawab. Sekali lagi:

adakah kau bapakku?” 

‘Tak pernah aku punya anak seperti kau.”

“Bagus. Maha Buddha takkan mengutuk aku. Lebih

mudah rasanya berhadapan denganmu sebagai bukan

bapak,” ia menuding. “Kau sumber sengsara. Kau bukan

bapakku, aku bukan anakmu.”

“Kau memang terlalu. Tuan, Gelar sudah marah begitu.”

“Dia kira mudah membunuh Sayid Habbibullah AlMasawa,” ejek Syahbandar. ”Kau hadapi seribu Peranggi.

Kau takkan lepas!”

“Apakah hinanya mengakui anak itu sebagai anak

sendiri? Dia darah dan daging Tuan sendiri!”

“Diam!” bentak Syahbandar pada istrinya. Dan pada

Gelar, “Setan mana yang membawa kau padaku?”

Syahbandar tak dapat mengendalikan diri lagi. Cepat

tongkatnya naik di tentang dada, pisaunya yang panjang

hitam telah terhunus dan dengan cepat maju-mundur

membikin gerak penikaman yang mematikan.

Gelar berkelit ke samping dan memutar tongkat kayunya

sambil mendesis cepat: “Nyi Gede, jangan sesali aku kalau

kuperlakukan suamimu seperti ini.”

Nyi Gede menghindarkan diri dari dua lelaki, ayah dan

anak, yang sedang bertarung. Ia berteriak mencoba melerai:

“Tuan, jangan bunuh anak itu, anakmu sendiri. Terkutuk

kau!” tapi suara yang berseru-seru itu tak keluar dari mulut.

Tongkat Gelar berputar-putar. Dan tusukan-tusukan

pisau panjang itu bertubi-tubi cepat seperti serangan seribu

kobra. Baru pada waktu itu orang menyaksikan Syahbandar

dengan pisau-tongkatnya adalah laksana seekor ular

berbisa. Ia dapat menyerang cepat dan mengelak dan 

berkelit, maju dan mundur dalam kesatuan dengan

senjatanya.

Ruangan yang sempit itu terasa sesak dengan dua

manusia.

Nyi Gede melompat ke atas ambin. Sekarang suaranya

dapat keluar nyaring.

‘Tuan, jangan bunuh anakmu sendiri!”

“Kau membela dan memberanikan dia!” jawab

Syahbandar sambil terus menyerang.

‘Terkutuk si pembunuh anak!”

Pisau-tongkat Syahbandar terlontar dari tangan, melesit

ke atas, menemui atap daun kelapa, tersangsang dan tak

turun lagi.

“Menjijikkan,” dengus Nyi Gede melihat Syahbandar

berdiri tanpa bongkok di hadapan Gelar tanpa bergerak,

“mencoba membunuh anak sendiri. Memang patut

mendapat ganjaran setimpal. Orang tua tak tahu diri.”

“Kau tidak membela aku. Kati.”

Gelar berdiri diam-diam dengan tongkat di tangan di

hadapan Syahbandar. Nyi Gede Kati turun dari ambin dan

mendekati suaminya, menudingnya: “Dalam penderitaan

kau kubela. Dalam kebinatangan kau kulawan, terkutuk

kau!”

Gelar membiarkan dua-duanya sebagai suami-istri.

“Sebagai istri kau tak patut memusuhi aku.”

“Tutup mulutmu. Makin banyak bicara kau makin

menjijikkan. Panggil semua serdadumu. Tak ada seorang

pun di antara mereka bisa dan mau menolongnya.”

“Kau pun akan binasa, Kati.” 

“Aku tahu, tapi tidak tanpa kehormatan seperti kau,”

bentak Gelar dan melayangkan tongkatnya pada kepala

Syahbandar.

Nyi Gede menutup mata dengan tangan, memekik:

‘Terkutuk, kau Gelar, pembunuh ayah sendiri!”

Kepala Syahbandar tua itu pecah, tongkat itu patah, dan

tubuh tua itu terguling jatuh. Dari mata dan hidungnya dan

mulutnya dan kupingnya keluar darah.

Gelar menarik tangan Nyi Gede ke arah pintu.

“Jangan sentuh aku, terkutuk, pembunuh ayah sendiri!”

“Peranggi akan aniaya kau!”

“Binatang! Pergi!”

Gelar keluar dari gubuk, dan matahari telah tenggelam.

Ia lari entah ke mana.

Nyi Gede Kati mendekati pintu, menengok ke kiri dan ke

kanan, kemudian pun lari entah ke mana…. 

Novel Arus Balikk Bab 40 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.

Bagaimana alur cerita dari novel Arus Balik Bab 40 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua. 

Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.

Untuk membaca Novel Arus Balik bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 8 Disini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 28 Disini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 26 Disini