Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 8 Disini

Novel Arus Balik bab 8 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Arus Balik menceritakan tentang kisah Kedatangan Portugis di Bumi Nusantara dengan latar awal Abad XVI, yaitu ketika surutnya pengaruh Majapahit dan naiknya pamor Kesultanan Demak.

Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Arus Balikk Bab 8 Bahasa Indonesia Sekarang ini. 

8. Wiranggaleng Pergi ke Barat

Idayu mengantarkannya ke pelabuhan dan ikut masuk ke

dalam kapal dagang berbendera Tuban.

Suami-istri itu was-was menghadapi perpisahan mereka.

Bahkan juga pada merasa tak senang dengan kepergiannya.

Dermaga disesaki oleh orang-orang yang hendak melihat

Idayu mengantarkan suaminya. Mereka berdiri diam-diam

menunggu penari ulung kekasih Tuban dan para desa itu

keluar lagi dari kapal untuk dapat melambaikan pandang

padanya.

“Kalau diperkenankan, Kang, aku bersedia ikut, ke mana

pun, Kang.”

“Kapal akan segera berangkat, Dayu.”

“Aku kuatir, Kang.” 

“Kau sendiri harus belajar dapat lindungi keselamatan

sendiri. Tentu kau akan selalu ingat pada Rama Cluring”

Idayu menggandeng tangan suaminya dan turun kembali

ke dermaga.

“Apa pun yang terjadi, Idayu, hadapi semua dengan

tabah.”

“Aku kuatir, Kang,” bisiknya. “Aku pulang ke desa

saja.”

“Bukankah kau harus menari di pendopo kadipaten?

Dan perintah itu sewaktu-waktu bisa datang dari Gusti

Adipati sendiri?”

“Kang, aku kuatir,” Idayu berbisik dan memandangi

suaminya dengan mata sayu. “Aku takut, Kang. Di desa

aku tak pernah takut seperti ini.”

“Kalau diperkenankan, kami sedia ikut menjaga, Wira,”

seseorang di antara para perubung mengusulkan.

“Betapa mulia hati kalian, terimakasih. Sayang, kalian

sendiri tahu, tak dibenarkan memasuki pelataran

kesyahbandaran.”

Nahkoda datang mewartakan pada Wiranggaleng layar

akan segera dipasang dan kapal akan berangkat.

Wiranggaleng mengusap-usap rambut istrinya.

“Allah bersama denganmu, Wiranggaleng!” seru Tholib

Sungkar Az-Zubaid.

“Sejahtera, sejahtera untukmu, Galeng, dan istrimu,”

kerumunan orang itu meninggalkan dermaga, makin kecil

dan makin….

Layar turun dan segera menggelembung. Kapal mandal,

makin lama makin jauh meninggalkan dermaga, makin 

kecil dan makin kecil. Dan kerumunan orang itu

mengantarkan Idayu sampai ke kesyahbandaran….

Wiranggaleng dan Pada memandangi semua yang

bergerak di dermaga sampai iring-iringan itu hilang dari

pemandangan. Akhirnya semua pun lenyap ditelan

keleluasaan alam.

Terdengar Pada mengeluh. Wiranggaleng sambil

berpegangan pada seutas tali layar, bersandaran pada

dinding lembung, mengawasinya: “Apa yang kau

keluhkan?”

“Jangankan manusia seperti aku ini, Kang, kuda pun

kadang-kadang mengeluh juga.”

“Apa yang dikeluhkan kuda?”.

“Kita akan ke mana, Kang?”

“Apa yang dikeluhkan kuda? Kau belum lagi menjawab.

Kalau kau sendiri, Pada. Aku tahu apa yang kau keluhkan.”

“Kita ke Banten, Kang? Betapa jauh dan lama.”

“Itukah yang kau keluhkan? Jauh dari kadipaten? Jauh

dari keputrian? Dari para selir?”

“Kang!” Pada terpekik terkejut.

Wiranggaleng pura-pura tak mengerti dan menjatuhkan

pandang pada permukaan laut, pada pantai pulau Jawa

yang putih berjabatan dengan kegelapan hitam dan

perbukitan dan gunung-gemunung. Juga hatinya sendiri

penuh was-was, kekuatiran dan kecurigaan.

Ia tahu benar Tholib Sungkar Az-Zubaid adalah kucing

hitam di waktu malam dan burung merak di siang hari.

Dalam hati-kecilnya bayangan Sang Adipati, yang jelas

memberanikan istrinya, antara sebentar mengawang dan 

mengancam hendak merobek-robek hatinya. dan sekarang

aku harus pergi dari Tuban. Apakah yang bakal terjadi?

Untuk ke sekian kalinya ia hibur dan tenteramkan

hatinya dengan menyerahkan segala-galanya pada Idayu

sendiri.

Ia telah tinggalkan pada istrinya sebilah cundrik dan

pesan, “Belalah dirimu kalau ada niatmu untuk membela

diri!” Dan pada Nyi Gede Kati ia mengharap agar dia sudi

ikut menjaga keselamatan Idayu.

Setelah berada di atas kapal ia menyesal telah berpesan

pada seorang bekas pengurus harem. Bekas pengurus

harem! Tahukah orang seperti itu tentang cinta, kasih dan

kesetiaan? Bekas pengurus harem! Harem!

“Kang!” Pada mengulangi tegurannya.

“Mengapa kau terkejut, Pada?”

“Ampun: Kang, janganlah hubung-hubungkan aku

dengan keputrian dan para selir. Aku tak tahu apa-apa

tentang mereka,” Pada membela diri, menghiba-hiba.

”Takut benar kau nampaknya, Pada.”

Dan kapal terus berlayar.

“Bagaimana aku tak takut, Kang Nyi Gede Kati telah

diusir dari keputrian. Nyi Ayu Sekar Pinjung ke…”

“Dari mana kau tahu mereka kena hukuman? Dan siapa

mereka itu?”

“Semua orang membicarakan, Nyi Gede pengurus. Nyi

Ayu selir. Siapa pula dalam kadipaten tidak tahu?”

“Jadi sudah berapa kali kau panjat pagar kayu keputrian

dan masuk ke dalamnya, Pada?”

“Kang!” Pada terpekik lagi untuk kesekian kalinya. 

“Terkejut lagi kau nampaknya, Pada.”

“Ah, Kang Galeng, Kang Galeng,” bisiknya menghibahiba. “Untuk apa aku pergi ke sana? Dan bagaimana bisa

aku ke sana?”

Wiranggaleng menatap Pada sambil menggeleng.

“Paling tidak,” Syahbandar-muda itu menepuk bahunya

beberapa kali, “dua kali dalam seminggu kau pasti masuk

ke sana ”

“Kang Galeng, kakangku sendiri… tega kau berkata

begitu.” karanya gugup dan megap-megap.

“… Kau lemparkan tali berjangkar ke atas pagar kayu

tmggi itu, dan kau memanjat masuk.”

“Kang, aduh, Kang. Itu berarti kau membunuh aku,

Kang.”

“Husy. Kau pura-pura tak mengetahui sesuatu apa

tentang dirimu sendiri.”

“Kang!” Pada terpekik lagi.

“Husy. Goba selir yang mana saja sudah kau hubungi?”

“Kau menyiksa aku, Kang menganiaya.”

“Ayoh, katakan pada kakang mu ini. Bukankah aku

kakangmu?”

“Kang tega, kau, Kang” suara Pada telah menghampiri

sebuah tangs dari seorang bocah yang tak berdaya.

“Ayoh, ceritai aku, Pada. Sekali saja. Dengan selir mana

saja kau telah lewatkan malam-malam yang sunyi di dalam

keputrian?”

Pada telah sampai pada puncak kekecutan, tak mampu

bicara. 

Sewaktu Wiranggaleng melecuti anak itu dengan

pertanyaan. terbayang olehnya istrinya, Idayu. Sekiranya

Idayu dulu terpaksa jadi penghuni harem, menjadi selir

sebagai yang lain-lain, mungkinkah anak ini juga yang akan

datang padanya, di malam sepi, dan meletakkan tangan

pada tubuh kekasihnya? Darahnya tersirap dan dengan

sendirinya tangannya melayang mencekam pergelangan

Pada.

Anak itu meraung kesakitan. Syahbandar muda terpaksa

metepaskan kembali.

Dengan pandang bertanya Pada menatap juara gulat Itu,

kemudian memeriksa pergelangannya. Dibimya cemberut.

“Di asrama dulu kau mengenakan gelang, kalung dan

cincin mas, Pada. Seperti pembesar. Mana barang-barang

itu sekarang?”

“Kau siksa aku begini macarn, Kang.”

“Kau tidak menjawab. Dan kau tak mau menjawab. Selir

mana yang telah beri kau semua itu?”

“Kang, tega kau…”

“Di mana barang-barang itu sekarang, Pada?”

Pada terdiam. Pandangnya dilemparkannya ke

permukaan laut.

“Bocah berumur lima belas!” Wiranggaleng meludah ke

geladak.

“Kata orang, gandarwa berumur dua ratus tahun baru

mulai dewasa. Kau, Pada… empat belas, lima belas!

Keparat! Empat belas, lima belas sudah jadi buaya.”

“Jangan ucapkan itu, Kang.” Pada memohon. 

Dua orang itu kini terdiam. Lama. Seakan-akan telah

terjadi permusuhan bat in antara mereka.

Wiranggaleng melepaskan pandang ke sebelah selatan,

pada pantai pulau Jawa yang nampak samar-samar di

kejauhan. Dan Pada mulai agak mengerti mengapa ia

berada di atas kapal dagang ini.

Juara gulat itu membanding-bandingkan dirinya dengan

Pada. Waktu berumur empat atau lima belas ia masih tak

mengerti sesuatu kecuali bekerjn di sawah atau ladang atau

mengurus ternak: babi, sapi, ayam dan anjing.

“Semua tak ada yang kau jawab, Pada. Sekarang yang

lain. Barangkali kau mau menjawab: sudah berapa kali kau

menulis surat untuk Sayid Habibullah Almasawa

Syahbandar Tuban?”

“Menulis surat?” bocah itu berseru terheran-heran.

“Buaya! Kau memang pandai berpura-pura. Pada, aku

tahu surat-surat itu tulisanmu. Apa kau kira dunia ini bisa

kau bodohi begitu gampang?” ia buang pandangnya ke

tempat lain dan meneruskan, pelan-pelan. “Orang tak

mungkin bisa berbohong terus-menerus. Pada suatu kali

orang harus mengakui kebenaran.”

Pada terdiam tak membuka mulut. Ia hindari pandang

juara gulat yang mengancam itu.

“Sekali ini kau harus menjawab, Pada.” Syahbandar

muda itu memaksa. “Berapa kali kau tuliskan surat untuk

Syahbandar?”

“Kang Galeng, bukankah tak lain dari Kakang sendiri

yang tahu, semua! Kewajibanku telah kulakukan dengan

baik? Apakah yang Pada tak lakukan buat kepentinganmu

dan Mbok Ayu Idayu? Sekalipun harus melanggar aturan

yang ada?” 

Wiranggaleng membatalkan niatnya untuk menyakiti

bocah itu. Ingat akan jasa Pada menyebabkan ia merasa

segan melakukan.

“Sang Adipati juga memuji kecakapanmu. Kalau kau

anak tertib mungkin bisa kau jadi penggawa di kemudian

hari. Aku dan Idayu takkan melupakan jasa-jasamu. Yang

aku ingin tahu dari kau sekarang, Pada, apakah yang telah

kau lakukan di luar kewajibanmu yang merugikan Sang

Adipati?”

Ia lihat Pada menjadi pucat dan bibirnya gemetar. Anak

itu mulai mengerti benar mengapa ia dibawa ke kapal ini:

untuk menjalani pemeriksaan dan hukuman. Dan

Wiranggaleng yang ia hadapi kini bukanlah seorang kakang

yang lunak, lemah-lembut dan pelindung. Ia adalah

pemeriksa dan penghukumnya sekaligus. Ia menekur tak

berani mengangkat muka.

“Kau tak menjawab, Pada,” ia lemparkan pandang jauhjauh. “Jawablah. Aku tak perlu melihat mukamu. Aku

hanya inginkan jawabanmu. Dijauhkan Kakang hendaknya

daripada perbuatan salah terhadapmu, Pada. Jawablah.” Ia

menunggu dan menunggu. Jawaban itu tak kunjung datang.

“Bukankah masih kau akui aku kakangmu?”

“Ya, Kang.”

“Jawablah. Terserah bagaimana menjawabnya.”

Pada tak juga mau menjawab.

Tanpa mengubah kedudukan pandangnya tangan

Wiranggaleng mencekam rambut Pada yang jatuh terurai

dari bawah destamya. la tahu cengkaman itu lunak tak

menyakiti.

“Baik, kau tak mau menjawab. Sekarang Pada,” katanya

tanpa melihat kepadanya, “mengapa kau suka memasuki 

keputrian?” Juga tak berjawab. “Mengapa kau menulis

surat di atas kertas untuk Nyi Gede Kati dan Sayid

Habibullah Almasawa?” Tak berjawab. “Baiklah kau tak

mau menjawab lagi. Tahukah kau, jiwamu ada di tanganku

sekarang ini, dan hidup-matimu akulah yang menentukan?”

Tak terduga oleh Wiranggaleng si bocah Pada menjawab

tertahan: “Sekarang aku tahu mengapa aku mendapat

perintah untuk mengikuti kau. Kang. Kang Galeng,

ketahuilah, aku takkan jawab semua pertanyaanmu. Aku

tak mampu, Kang. Ampunilah, aku. Hanya, Kang, kalau

aku kau bunuh juga sekarang ini, sampaikan sembahku

pada Mbokayu Idayu, Kang. Tak ada sebuah dapat

kusampaikan pada siapa pun, karena tak ada orangtua dan

sanak padaku.”

“Mengapa pada Idayu?”

“Karena seluruh Tuban memujanya, juga aku, Kang.

Maukah kau?”

“Katakan sesuatu padaku, Pada.”

“Tak ada sesuatu yang dapat aku katakan, Kang.

Menjawab atau tidak, perintahmu adalah membunuh aku.

Semua sudah kukatakan dan jawab.”

“Ayoh, katakan, katakan sesuatu.”

Anak itu justru membisu.

Suatu pergolakan telah terjadi di dalam hati juara gulat

itu. Batinnya menuduh kau mencemburui bocah kecil ini,

Galeng. Kau sendiri ada keinginan untuk melenyapkannya

dari muka bumi karena perintah cemburu hatimu sendiri.

Kau punya kepentingan pribadi dalam urusan ini! Tapi di

hadapanmu ada Gusti Adipati. Dan kau takkan mampu

melawannya. Di samping itu ada juga tuan Syahbandar

Tuban, kucing di waktu malam dan merak di siang hari itu. 

Kau pun boleh jadi tak dapat berbuat apa-apa terhadapnya.

Hanya terhadap Pada, si bocah tanpa daya ini, kau berani

berbuat, hanya karena cemburu yang tidak terbukti. Bagaimana kau ini, Galeng? Pengikut rama Cluring? Kau

bingung! Kau tak tahu di mana tempatmu.

Syahbandar muda itu malu punya perasaan cemburu

terhadap si bocah itu. Idayu sendiri lebih tidak berdaya!

Kini hatinya jadi sendu. Apa yang dia bisa perbuat

menghadapi orang-orang berkuasa seperti Sang Adipati dan

Syahbandar Tuban? Dia yang tertinggal di daerah larangan,

di kesyahbandaran itu, dalam satu sarang dengan Nyi Gede

Kati, bekas pengurus harem, yang sudah selayaknya akan

membantu suaminya menundukkan Idayu. Mengapa bocah

ini harus jadi sasaran kekacauanku?

Juara gulat dan Pada berdiam diri dengan pikiran

masing-masing. Beberapa kali orang berjalan mondarmandir melewati mereka. Dan mereka tetap tak bicara

sesuatu.

Matari makin lama makin condong. Angin laut yang

bertiup dari belakang menyebabkan rambut mereka tergerai

di bawah destar, sedang puputan pada layar menyebabkan

antara sebentar terdengar gelepar.

“Kalau kau tega juga membunuh aku, Kang” tiba-tiba

Pada berkata seperti pada diri sendiri.

“Mengapa kau punya pikiran aku akan membunuhmu?”

“Siapakah yang tidak dibunuh oleh Sang Adipati, bila

orang dianggap merugikannya?”

“Siapakah aku ini maka harus membunuh kau?”

“Aku sudah banyak tahu, Kang. Kaulah yang akan

membunuh aku atas perintah Gusti Adipati.” 

“Kalau saja kau mau ceritai aku tentang keputrian dan

diri Sayid…”

“Kalau aku harus dibunuh karena surat dan keputrian;

sama saja, Kang, aku pun harus dibunuh karena yang itu

juga, hanya surat itu untuk Kang Galeng dan Mbokayu

Idayu.”

“Bukankah telah kukatakan kami berdua

berterimakasih?” Dan semakin heran ia mengapa si bocah

itu begitu tabah menghadapi bahaya maut yang sudah dekat

pada lehernya. Pasti ia punya perhitungan: melompat ke

laut dan berenang. Pasti! Bertanya ia lembut dan sopan:

“Tiadakah kau takut pada hiu, Pada?”

Ia lihat Pada tersenyum seakan mengerti maksudnya.

“Kata orang,” Pada mulai seperti hendak mendongeng,

“barangsiapa takut pada hiu, dia takkan menyintuh laut.

Barangsiapa menentang laut, dia takkan dapatkan hiu.”

Kembali mereka berdiam diri.

Waktu seseorang memberitakan, makan sudah siap, baik

Wiranggaleng mau pun Pada mulai juga tidak beranjak dari

tempat. Dan matari dengan lambatnya ma km mendekati

ufuk barat. Semburat merah mulai membakar kaki langit.

“Kau diam saja, Kang. Hari mendekati malam.”

Terdengar seseorang menyerukan azan di bawah geladak

dan ia memperhatikan. Lagunya begitu asing dan katakatanya ia tak kenal. Setelah seruan selesai ia merangkul

Pada dengan mesra.

“Jadi segala yang orang ketahui tentang kau temyata

benar. Pada. Kau tak mau bicara, baiklah. Dan kalau kau

melompat ke laut. aku takkan menghalangi. Kalau kau 

melompat dan berenang ke sana, cukupkah kiranya

nafasmu, Pada?”

“Jangan pikirkan nafasku, Kang Aku mengerti kau harus

bunuh aku. Aku akan berenang dan takkan kembali ke

Tuban Demi Batara Kala. Percayalah.”

“Pada, adikku, maafkan aku. Sembahmu pada

mbokayumu nanti aku sampaikan. Kalau kau melompat,

aku akan menengok ke sana, ke laut lepas. Melompatlah.

Cepat, melompat!”

Tetapi Pada tiada bercepat melompat. la bersimpuh di

atas geladak itu, menyembah Wiranggaleng mencium

kakinya, berdiri lagi dan dengan lambat naik ke atas dinding

lambung.

“Aku pergi, Kang.”

Kemudian menyusul bunyi benda jatuh ke laut.

“Mati!” teriak Wiranggaleng sekuat-kuatnya. “Mau kau,

Pada! Mati!”

Orang berlarian naik ke geladak dan bertanya-tanya.

Juara gulat itu bertolak pinggang menghadapi mereka

dan dengan nada resmi mengumumkan: “Telah kubunuh

atas titah Gusti Adipati Tuban Arya Teja Tumenggimg

Wilwatikta, seorang pendurhaka bemama Pada. Kubunuh

dan kulemparkan dia ke laut.”

Tanpa menggubris tanggapan dan pertanyaan ia berjalan

menuruni tangga geladak untuk mendapatkan makannya.

Dari mereka yang tak suka pada Demak, sindiran datang

tanpa henti. Di antaranya yang tajam menusuk:

“Mendirikan kerajaan memang mudah. Carilah tempat

yang sepi di pedalaman. Kalau musuh datang dari laut

jangan dirikan di tepi pantai. Kalau takut musuh menyerbu 

dari gunung, jangan dirikan di tepi pantai. Kalau kuatir

musuh datang dari lembah, jangan dirikan di tepi pantai.

Kalau was-was musuh datang dari langit, jangan dirikan di

tepi pantai!”

Lama kelamaan sindiran mencapai puncaknya dalam

bentuk yang semakin jelas: Di pedalaman saja, sahabat, di

pedalaman, karena Peranggi bakal datang!

Sindiran itu dinyanyikan orang di mana-mana, juga di

tengah-tengah Demak sendiri.

Putra mahkota Demak, Adipati Kudus Pangeran

Sabrang Lor, tak dapat menenggang semua itu. Pada setiap

kesempatan ia memerlukan menangkis: “Mereka bilang,

Peranggi lelananging jagad, menguasai segala yang

dilihatnya. Mereka, Peranggi, belum lagi melihat Demak.

Suruh dia melihat Demak, dan dia akan melihat

kuburannya sendiri.”

Putra mahkota juga yang pada suatu kali menghadap

ayahandanya. Sultan Syah Sri Alam Akbar Al-Fattah,

memohon satu kesatuan balatentara pilihan. Dengan modal

itu ia menyerbu Jepara menduduki dan menguasainya. Kini

Demak punya bandar sendiri. Putra mahkota diangkat jadi

Adipati Demak dengan gelar Adipati Unus. Dan Unus

dimasyhurkan sebagai nama seorang nabi penguasa laut. Ia

pun diangkat oleh ayahandanya jadi menteri urusan manca

negara. Itulah jawaban Demak terhadap sindiran takut pada

Peranggi.

Tetapi orang masih tetap tidak percaya pada sesumbar

putra mahkota. Sindiran terus juga datang.

Portugis menduduki Malaka.

Sekarang sindiran lain lagi bunyinya: “Lihat, Peranggi

sudah menduduki Malaka. Demak menduduki Jepara. 

Mereka hanya akan berpandang-pandangan dari bandar

masing-masing, sampai kedua-duanya bosan dan tak

berpandang-pandangan lagi.”

Adipati Unus Jepara pada suatu kesempatan di hadapan

para punggawa, yang ditugaskan membangun galangangalangan besar, berkata: “Ketahuilah, bila kelak Peranggi

tidak datang ke Jepara untuk menantang Demak, maka dari

Jepara akan datang Demak ke Malaka menentang

Peranggi.”

Sindiran-sindiran padam setelah jelas Adipati Unus

Jepara tidak tinggal bersumbar-sumbar. Galangan-galangan

kapal diperbanyak dan diperbesar. Kapal perang dan niaga

dibangunkan. Didatangkannya pengecor-pengecor dari

Blambangan. Dan ia tidak peduli pandai-pandai itu

beragama Hindu. Ditempatkan mereka di desa Bareng

untuk membikin cetbang yang direncanakannya sendiri,

khusus untuk menghadapi Peranggi.

Perintah-perintahnya sangat keras. Semua pekerjaan

harus selesai pada waktunya.. Permunculannya

menerbitkan kegentaran pada para pekerja. Kayu keras

didatangkan dari Kalimantan untuk lunasdan Hang kapal.

Dan waktu pandai-pandai di Bareng dianggapnya kurang

cepat bekerja, mereka dipindahkan bersama bengkelnya ke

pinggiran bandar jepara.

Dengan demikian Jepara dihadapkannya ke Malaka.

Galeng mendarat di bandar Yuana – bandar milik Tuban

yang terletak di wilayah paling barat, setelah Jepara jatuh ke

tangan Demak

Bandar Jepara sedang giat-giatnya bekerja waktu ia

datang. Ia berjalan lambat-lambat, melihat-lihat

pemandangan di kiri, kanan dan depannya Sengaja ia 

perlihatkan diri sebagai orang baru yang tidak tahu sesuatu

apa. Tak ada seorang pun dikenalnya.

Duduklah ia di bawah sebatang pohon kenari. Semua

orang nampak sibuk. Tak ada orang berlenggang-kangkung

dengan tangan kosong. Di sana orang sedang menggotong

atau memikul balok dan papan. Di sini orang sedang

menumpuk kayu. Dari mana-mana datang bunyi orang

membelah, memohon atau berseru-seru memberi perintah,

Dalam bedeng-bedeng tanpa dinding orang sedang

melengkungkan papan yang dipatok-patok dengan kayu

pada tanah dan memanggang lengkungan dengan api. Dan

kapal-kapal besar yang sedang digalang adalah laksana

kerangka ikan raksasa yang sedang dirubung semut.

Gerobak-gerobak beroda kayu untuk mondar-mandir

mengangkuti pasir, batu dan kayu. Di tempat yang paling

jauh orang sedang membadari batu karang untuk dibikin

kapur.

Semua serba berbeda dengan di bandar Tuban, juga

dengan di bandar galangan Glendong.

Mereka akan segera mengenali aku sebagai pendatang

baru, pikir juara gulat itu. Ia bangkit berdiri waktu

seseorang memanggilnya sambil melambaikan tangan.

Pakaiannya sama juga dengan orang Tuban.

“Hai, kau! Tidak bekerja?”

Sekaligus ia dapat menangkap, akhir suku kata yang di

tempatnya disebutkan jadi a miring, di sini jadi o miring.

Belum lagi ia sempat menjawab orang itu sudah

meneruskan: “Ha, pendatang baru. Kebetulan. Apa bisa

kau kerjakan? Menukang? Besar betul badanmu.”

“Hanya memikul,” jawab juara gulat itu menirukan lidah

Jepara. 

“Baik,… Man ikuti aku. Kami kekurangan pemikul”

Dengan demikian mulailah Wiranggaleng bekerja

sebagai pemikul balok, mondar-mandir dari penumpukan

ke galangan. Menjelang matari tenggelam orang

membawanya ke bedeng tidur di daerah pelabuhan itu juga.

Setelah makan malam orang pun merebahkan diri berjajarjajar seperti di asrama di Tuban dulu, hanya ambin di sini

tidak dari kayu, seluruhnya dari bambu dan pelupuh. Dan

kepinding menyerang dari segala penjuru.

Kelelahan menyebabkan orang segera tertidur. Namun

tidak semua menyerahkan diri pada mimpi. Tak kurang

orang sengaja menunda kantuk sesuai dengan pesan orang

tua-tua untuk belajar sesuatu dari orang Iain,

mendengarkan wejangan, berita, untuk meningkatkan

pengetahuan.

Pada malam pertama juara gulat itu menggolekkan

tubuhnya yang besar di samping-menyamping orang-orang

yang belum dikenalnya. Ia tahankan bau yang keluar dari

pakaian mereka. Dan ia tak mencoba membuka mulut. Ia

berusaha mendengarkan segala apa yang dapat

didengamya.

Dari kegelapan beberapa depa dari tempatnya ia dengar

seorang pekerja berkata pada teman-temannya.

“Kerajaan itu, Islam atau tidak Islam, dikuasai oleh raja

yang menentukan aturan praja. Aturan itu tak banyak

bedanya pada semua kerajaan, ada hukuman dan ada

karunia. Kalian hanya harus mematuhi dan menjalankan,

dan semua akan berjalan beres. Kalian pasti selamat tak

kurang suatu apa.”

“Apakah kau pernah hidup di dalam istana?”

“Tidak.” 

“Tahukah kau, banyak juga orang yang sudah

menjalankan dan mematuhi aturan dengan sepatutnya

namun dibunuh juga oleh raja?”

“Mesti ada sebabnya, ada kesalahannya. Misalnya

karena cemburu kalau-kalau orang itu akan

menggulingkannya.”

“Betul, itu memang ada,” orang lain membenarkan.

“Boleh jadi raja itu menghendaki istri atau anaknya yang

cantik.”

Jantung Wiranggaleng berdebar-debar. Idayu muncul

dalam penglihatan batinnya. Tapi segera kemudian lenyap

oleh kata-kata orang tersebut.

“Itu namanya raja lalim. Dalam kerajaan Islam tak ada

raja lalim, semua adil.”

“Baiklah tak ada raja Islam yang lalim. Sekiranya raja

Islam itu lalim, siapa yang menghukumnya? Ataukah tidak

akan dihukum seperti halnya dengan raja-raja Syiwa atau

Buddha atau Wisynu?”

Juara gulat itu tak mampu lagi mengikuti perdebatan.

Pikirannya sibuk mengurus kekuatirannya sendiri.

0o-dw-o0

Beberapa minggu kemudian tahulah ia, pekerja yang

suka memberikan ceramah itu tak lain dari seorang musafir

Demak, seorang di antara para pemasyhur Demak dan

Sultan Sri Alam Akbar Al-Fattah. Ia menamakan diri

Hayatullah. Orang yang sudah mengenalnya sejak kecil

memanggilnya Anggoro, bukan Anggara, karena dilahirkan

pada hari Anggara. Pada suatu malam Hayatullah

menerangkan pada teman-temannya, ada banyak putra 

Adipati Tuban yang telah mengikat kesetiannya pada

Demak, dan tak lama lagi Tuban pasti menjadi daerah

Demak.

“Betapa hebatnya kerajaan Islam pertama-tama ini,” ia

meneruskan dalam kegelapan bangsal tidur. “Belum

seberapa umumya, tapi lebih baik daripada semua kerajaan

yang pernah ada. Dahulu seorang raja dapat berselir tanpa

batas, dan selir-selir celaka itu tak punya hak sesuatu….”

Dari ujung ambin seseorang membentak “Tutup

mulutmu. Kalau kau tak tahu tentang istana, jangan

membual.”

Dalam kegelapan itu Wiranggaleng membayangkan

Hayatullah terduduk dari rndan mencari-cari

penyangkalnya, karena tak lama kemudian terdengar

musafir Demak itu menanya.

“Siapa itu? Adakah kau sendiri isi istana? Kalau isi istana

mengapa tinggal dalam bangsal gelap ini? Atau kira-kira

kau seorang pangeran tersasar?”

“Tidur kau!” bentak suara orang tak dikenal itu. “Sudah

malam, dan besok pagi masih harus bekerja. Kalau tak tahu

tentang istana, sebaiknya kau bertanya padaku. Semua selir

raja punya hak, pertama gelar untuk anak-anaknya, hak

keprajaan, kedua tanah yang harus digarap oleh orang desa,

ketiga pengakuan atas anak-anaknya sebagai anak syah raja.

Itu sekedarnya saja tentang selir. Sudah, jangan berisik.”

Ternyata Hayatullah tak mau diam. Dengan berapi-api ia

ganti menyangkal: “Itu katamu. Siapa yang menjamin hakhak itu dilaksanakan?”

“Goblok kau! Menteri-dalam mengurus semua itu.”

“Siapa menjamin Menteri-dalam melakukan

kewajibannya?” 

“Yang menjamin Hayatullah alias Anggoro tentu,”

penyangkal itu berseru jengkel, kemudian sengaja

memperdengarkan kuapnya.

“Jangan mempermain-mainkan aturan, kau,” Hayatullah

memperingatkan. “Kalau jaminan aturan mesti berlaku

tidak ada, tak usah orang bicara tentang aturan. Beda dalam

kerajaan Islam. Jangan pura-pura tidur, kau. Dengarkan

biar kau tahu sedikit tentang Demak, karena bagaimana

pun kalian sekarang ini tak lain dari kawula Demak.”

Pertentangan itu menyebabkan orang-orang diam

mendengarkan.

“Raja Islam hanya boleh beristri empat, dan semua

mereka punya hak yang diatur di dalam Alkitab. Dahulu

aturan-aturan ditulis dalam seratus lembar lontar yang

bemama Nitisastra.”

Seseorang terdengar tertawa berbahak mengejek.

“Hayatullah! Tahu apa kau tentang Nitisastra?

Memasuki mandala pun kau tak pernah. Membaca Jawa

pun kau tak tahu….”

“Ada ratusan kali seratus lembar lontar aturan yang

harus dipatuhi oleh raja Islam dan kawulanya,” Hayatullah

meneruskan tanpa menggubris penyangkalnya.

“Aturan bukan hanya ada dalam Nitisastra,” seorang

lain menyangkal dalam kegelapan yang sama. “Ada banyak

aturan dalam lontar yang kau tak tahu. Perlukah aku

sebutkan satu-per-satu?”

“Biar pun lontar-lontar itu dua puluh kali seratus kali dua

ratus… berapa saja kau sebutkan, sama saja,” Hayatullah

meneruskan, “tak dapat dibandingkan dengan Alqur’an

atau Alkitab atau Alfurkon, karena kitab ini berasal dari 

Allah melalui rasulnya. Lontar itu hanya berasal dari para

raja dan para empu, para pujangga.”

Untuk ke sekian kalinya Wiranggaleng telah tertidur

sebelum ceramah selesai.

0o-dw-o0

Di siang hari sewaktu bekerja ia mencoba

memperhatikan Hayatullah. Tubuhnya kecil rapuh, ototototnya pendak dan tipis, tetapi ia bekerja tanpa henti-henti.

Seakan sedang mengerjakan sawah dan ladang sendiri.

Matanya tidak tenang, pikirannya seperti selalu melayang

ke manamana. Pada waktu istirahat siang selalu ia pergi

menyendiri membawa lodong bambu berisi air tawar,

membasuh tangan, muka, dahi rambut dan kaki, menggelar

tikar di bawah sebatang pohon, kemudian bersembahyang.

Di malam hari ia muncul di bangsal tidur bila orang sudah

pada bergolek di tikar masing-masing dan ia langsung

bercerita atau membuka persoalan seperti dilakukan oleh

para guru-pembicara di desa-desa. Bedanya, para gurupembicara di desa-desa bicara pada mereka yang

mempunyai perhatian, musafir Demak ini bicara terus tak

peduli ada yang dengar atau tidak.

“Siapakah putra-putra Tuban di Demak?” Galeng

memberanikan diri bertanya.

“Lidahmu seperti lidah Tuban,” tegur Hayatullah.

‘Tidak.”

“Dari Lao Sam barangkali?”

“Dua-duanya tidak,” jawab juara gulat itu.

“Memang tidak ada urusanku dengan asalmu. Putraputra Tuban yang terkemuka di Demak ialah Raden 

Kusnan, Punggawa-dalam. Yang lain Raden Said, anggota

Majlis Kerajaan. Orang memanggilnya juga Ki Aji,

Kalijaga, dan lebih suka dipanggil demikian. Dibuangnya

Raden leluhur sendiri dari Majapahit dulu, digantinya

dengan Ki Aji, gelar pemberian orang yang mencintainya.”

“Mengapa dibuang gelar dari leluhumya?”

“Gelar kafir itu tak mengandung sesuatu arti di

dalamnya. Dalam Islam, hanya perbuatan orang yang

dinilai oleh sesama dan oleh Allah. Perbuatan atau amal Ki

Aji Kalijaga luar biasa agungnya. Dengarkan ceritanya,

karena barangkali di Tuban sendiri tak pernah kau dengar.”

Di Tuban sendiri memang tak pernah terdengar.

“Beliau telah tinggalkan Tuban dan mengembara ke

mana-mana untuk memasyhurkan Islam. Beliau keluarmasuk desa-desa. Beliau tidak bicara di balai-balai desa

seperti para guru-pembkara yang tak tahu apaapa tentang

wahyu Allah itu. Beliau lebih suka memilih tempt di bawahbawah pohon rindang, mengajak anak-anak bermain-main

dan berceritalah beliau tentang kisah para nabi dan

mukjijatnya. Lama-kelamaan ibu-ibu mereka ikut

mendengarkan. Kemudian juga para bapak.”

“Apa kisah para nabi itu? Apakah sama dengan kisah

para dewa?”

“Cet, cet, jangan samakan nabi dengan dewa, karena

nabi memang bukan dewa. Nabi sungguh-sungguh pernah

ada, pernah hidup di atas bumi dan di antara manusia,

menerima wahyu langsung atau tidak langsung dari Allah.

Dewa-dewa tak pernah hidup di atas bumi dan selalu

ngawur.”

“Siapa bilang para dewa tidak ada?” 

“Kalau pernah ada, mana keturunannya? Hadapkan

padaku seorang saja di antara.” Mereka yang tidak setuju

dan jengkel mulai bersorak-sorak mengejek. Wiranggaleng

diam memperhatikan sebagaimana biasa pada waktu ia di

balai-desa mendengarkan seorang guru-pembicara. Waktu

ejekan telah reda, terdengar lagi suara Hayatullah yang tak

mengacuhkan gangguan.

“Begitulah pada suatu kali Raden Said sampai ke sebuah

desa. Mereka adalah orang-orang kafir penyembah Sang

Kali”

“Apa kafir itu?”

“Mereka yang tidak percaya dan tidak tahu ajaran para

nabi. Ingat-ingat, kafir namanya. Jadi setiap penyembah

berhala, yang nampak atau tidak, termasuk Sang Kali, kafir

namanya.”

“Ngawur, kau, Hayatullah, tak ada orang menyembah

Sang Kali Orang hanya menyembah Sang Maha Buddha”

Galeng membantah karena tersinggung. “Kalau kau bilang

Sang Maha Buddha tak pernah ada, lebih baik pecahkan

saja kepalamu sendiri.”

Tetapi Hayatullah tak peduli dan meneruskan. “Anakanak itu pada datang, ibu-ibunya, bapak-bapaknya.

Kemudian juga tetua desa. Pertentangan pendapat terjadi,

perdebatan, sehari, seminggu, dua bulan. Tak ada di antara

tetua desa dapat mengalahkan beliau. Begitulah akhimya

mereka dapat ditaubatkan.”

“Apa artinya ditaubatkan?”

“Diyakinkan akan kebenaran Islam, dan membawa

mereka masuk Islam. Mereka meninggalkan Sang Kali.

Mereka menyembah Allah dan mendengarkan perintah dan

meninggalkan larangan-Nya.” Ia diam sebentar. “Kau 

sudah tidur?” dan waktu ia masih mendengar jawaban, ia

meneruskan, “sejak itu beliau dipanggil Ki Aji Kalijaga, Ki

Aji, yang menjaga agar Sang Kali takkan kembali untuk

seiama-lamanya. Dan sekarang Ki Aji duduk dalam majlis

kerajaan Demak. Tidak sembarang orang bisa. Raja

Majapahit pun takkan bakal mampu lakukan pekerjaan itu,

karena pekerjaannya adalah menurunkan ajaran nabi di

dalam keprajaan. Memang hanya empat kali dalam sebulan

sidangnya, tetapi menentukan. Enam hari dalam seminggu

Ki Aji Kalijaga meneruskan pekerjaannya yang dalam,

memasyhurkan Islam dan Demak di desa-desa.”

Wiranggaleng telah tertidur.

Dalam pekerjaan sehari-hari ia mengetahui, pembikinan

kapal-kapal perang dan niaga itu berjalan sangat cepat,

tidak seperti di Glondong. Sebuah kapal terbesar, yang akan

dipergunakan jadi kapal bendera akan dapat mengangkut

lima ratus prajurit laut dengan empat belas cetbang besar

pada haluan dan lambung. Badan kapal itu akan dilepa

dengan tujuh lapis adonan kapur dengan minyak kelapa.

Peluru Peranggi diperkirakan takkan dapat menembusinya.

Orang tak banyak membicarakan kapal yang mereka

sedang bikin sendiri. Di dalam bangsal tidur apalagi. Justru

soal-soal lain yang orang percakapkan.

Pada malam-malam selanjutnya Hayatullah tak muncul.

Beberapa orang, menganggap itu suatu keberuntungan,

karena si pengganggu tidur membiarkan mereka

melepaskan lelah dengan damai. Sebaliknya beberapa orang

yang sudah terbiasa mendengarkan para pembicara di desadesa menyatakan, tak ada buruknya orang mengetahui halhal baru yang terjadi di atas dunia manusia ini.

Lama-kelamaan ketahuan juga Hayatullah tak seorang

diri menghilang di malam hari. Beberapa orang ternyata 

mengikutinya. Di siang hari sekarang ia nampak tidak

seorang diri bersembahyang. Ia telah mempunyai pengikut,

dari dua jadi enam, dari enam jadi delapan. Terheran-heran

orang waktu kemudian mengetahui, tak lain dari Sang

Adipati Unus Jepara sendiri yang memerintahkan

pembangunan rumah sembahyang di tempat Hayatullah

biasa bersembahyang.

Dan sejak itu mereka tak lagi bersembahyang di tempat

terbuka, terlindung dari hujan dan angin dan panas.

Pada suatu tengah malam Hayatullah muncul lagi.

Tetapi ia bukan pembicara cerewet yang dulu. Ia sudah jadi

orang lain. Tak seorang pun berani mengejek atau

menyorakinya walaupun tidak setuju. Kata-katanya mulai

didengarkan oleh semua orang dengan sungguh-sungguh –

suka atau tidak suka.

“Bukankah pembikinan rumah sembahyang itu, tempat

orang menyembah Hyang baru itu, mengurangi kelajuan

pembikinan kapal?” sekali waktu seseorang bertanya dalam

kegelapan.

“Mengapa tidak tidur saja di rumah sembahyang?”

seorang lain lagi bertanya.

“Bagaimana kau dapat mengatakan pembikinan rumah

itu menyendatkan pembikinan kapal? Kapal dan Islam akan

belayar bersama-sama, tidak tunggu-menunggu. Apakah

arti kerajaan Islam kalau Islam tak berkembang di antara

kawulanya? Tidak seperti Hindu dan Buddha, orang-orang

desa harus bangunkan sendiri asrama, mandala dan

perguruan sendiri. Sedang kapal-kapal itu gunanya untuk

menumpas Peranggi yang jelas-jelas, memusuhi Islam.

Peranggi tak boleh memasuki Nusantara, apalagi Jawa,

karena cepat atau lambat semua penduduknya akan masuk

Islam.” 

“Mana mungkin. Apakah semua kami harus masuk

Islam?”

“Tak ada yang memaksa kalian masuk Islam. Adakah

aku memaksa kalian masuk Islam dan bertaubat? Adakah

pembicara di desa-desa memaksa kalian mempercayai dan

mengikutinya?Tetapi karena aturan Islam adalah yang

terbaik, dia akan mengalahkan yang kurang baik dan yang

tidak baik. Ada pun aku tidak tinggal di rumah

sembahyang, walau sudah berdinding dan berpintu,

tunggulah, lain waktu kalian akan tahu lebih baik.”

Hayatullah meneruskan kata-katanya tentang agamanya.

Wiranggaleng tak mendengarkan lagi walaupun belum

tidur. Ia telah temukan yang dicarinya: Adipati Unus Jepara

mempersiapkan armada untuk menyerang Malaka, untuk

melindungi Islam, bukan untuk memanggil kejayaan dan

kebesaran masa silam pada guagarba hari depan. Unus akan

membangunkan kejayaan dan kebesaran tersendiri, bukan

kebesaran dan kejayaan Majapahit. Ia tak dapat bayangkan

kebesaran dan kejayaan macam apa itu, dan ia merasa tak

ikut jadi bagian dari padanya.

Pada keesokan harinya ia tinggalkan pekerjaannya dan

pindah ke bengkel pandai. Cetbang-cetbang buatan pandai

Bareng itu temyata lebih besar daripada buatan Tuban.

Empat orang takkan kuat memikulnya, sedang bilikledaknya menggelembung sebesar buah kelapa. Ia tak dapat

bayangkan seberapa besar peluru yang akan dilemparkan

dari bilik ledak sebesar itu. Ia sendiri belum pernah melihat

peluru cetbang.

Dua bulan kemudian ia tinggalkan juga pekerjaan

barunya.

0o-dw-o0 

Seorang diri ia berjalan kaki memasuki Demak. Tetapi

tak ada sesuatu yang penting didapatkannya. Ia saksikan

penyempumaan pembangunan mesjid raya, pembangunan

jaian-jalan raya yang melintasi desa-desa dan tanah-tanah

perawan menuju ke Semarang. Ia pernah melihat Raden

Kusnan dari kejauhan. Ia pernah melihat Ki Aji Kalijaga

sedang memasuki mesjid. Orang yang tersohor itu

berpakaian seperti bagawan, berkain baik tanpa wiru,

berdestar batik dan berkerobong kain batik untuk penutup

badan-atasnya. Kakinya tak beralas sedang destar nampak

begitu longgar di kepalanya dengan ikatan bergaya khusus.

Ujung-ujung destar itu jatuh lunglai panjang-panjang pada

bahunya. Dan di bawah destar tak nampak ada rambut.

Berbeda dengan di Jepara, di Demak di mana-mana

orang bicara tentang armada yang sedang dipersiapkan dan

tentang sekutu Demak yang akan bergabung dalam armada

kesatuan, semua kerajaan Islam termasuk Tuban.

Keterangan itu baginya telah berisi segala-galanya,

walaupun ia belum mengerti betul duduk-perkaranya.

Kalau Demak satu-satunya kerajaan Islam di Jawa,

mengapa Tuban dan Banten juga dianggap sebagai kerajaan

Islam? Ia anggap itu bukan masalahnya. Yang jelas: Demak

punya sekutu, armada gabungan akan dibentuk, semua

akan menyerang Malaka.

Setelah lebih enam bulan meninggalkan Tuban ia merasa

telah cukup menjalankan tugasnya untuk mengetahui segala

sesuatu tentang persiapan Adipati Unus Jepara. Ia

bermaksud pulang. Di tinggalkannya Demak dan berangkat

kembali ke Jepara.

Sesampainya di bandar Jepara ia melihat serombongan

orang mengejar-ngejar dua orang berkulit putih berpakaian 

aneh. Yang seorang berambut pirang, yang lain berambut

hitam. Kedua-duanya lari dengan gesit menyelamatkan diri

dari mata pedang dan mata tombak. Orang bersorak-sorak

mengejamya.

Mereka berdua melompat ke dalam perahu besar,

mendayung cepat ke tengah laut. Sebentar kemudian

layamya berkembang dan dengan lajunya meluncur ke arah

timur laksana burung camar.

Para pemburu pun berlompatan ke dalam perahu dan

mengejar. Yang dikejar makin lama makin jauh tiada

tercapai, lebih unggul dari perahu-perahu para pengejar.

Maka pengejaran tak diteruskan.

Di bandar orang-orang pada duduk menyembah

seseorang yang berdiri bertolak-pinggang dikawal oleh

beberapa belas orang prajurit berpedang. Orang itu

kemudian menuding-nuding ke arah larinya dua orang kulit

putih tersebut dan meraung dalam bahasa Jawa langgam

setempat: “Bodoh! Bagaimana bisa mereka dibiarkan

berkeliaran disini? Jawab, kau, Syahbandar.”

“Ampun, Gusti, adapun pelabuhan Jepara ini tiada

aturan menolak orang dari mana pun juga datangnya.”

“Apa katamu?”

“Selama orang tidak mengajukan permohonan untuk

menetap atau untuk tinggal sementara di sini, Syahbandar

saja yang berwenang mengijinkan atau menolak,”

Syahbandar Jepara menerangkan. “Atau orang tidak

melewati daerah bandar. Boleh saja.”

“Benar, mengapa kau biarkan mereka? Mengapa kau

ijinkan mereka?”

“Mengapa, Gusti? Karena Jepara bandar bebas.” 

“Apa kau kira ini bandar nenek-moyangmu sendiri? Ini

pelabuhan Demak, bukan pelabuhan siapa saja.”

“Ini pelabuhan bebas, Gusti,” Syahbandar

membangkang. “Ketentuan itu belum pernah dirobah oleh

Gusti Kanjeng Sultan ataupun oleh Gusti Kanjeng

Adipati.”

Orang yang berdiri bertolak pinggang itu terdiam

sejenak. Tiba-tiba ia meledak lagi: “Baik. Kau berwenang

terhadap pelabuhan ini. Tetapi mengapa mereka kau

biarkan bergelandangan memasuki galangan-galangan dan

bengkel?”

“Belum pernah ada larangan.”

“Tidakkah kau bisa berpikir. Itu tak boieh untuk mereka,

pendatang-pendatang? berkulit putih itu?”

“Jepara pelabuhan bebas, Gusti.”

“Kau memang sudah tua. Tidakkah kau ada kecurigaan

terhadap Peranggi? Mata-mata dari Malaka, atau

diturunkan dari kapal Peranggi?”

“Memang mereka Peranggi, Gusti, dan Jepara masih

tetap pelabuhan bebas.”

“Kami akan persembahkan pada Gusti Jepara. Apa

kebangsaanmu, Syahbandar?”

“Koja, Gusti. Islam agama sahaya.”

Wiranggaleng duduk di bawah sebatang pohon kenari

dan mengawasi kejadian itu dengan diam-diam. Peranggi

temyata sudah memasuki Jepara, pikimya, Jepara belum

lagi menjenguk Malaka. Sungguh berani orang-orang kulit

putih itu hanya berdua memasuki negeri orang yang

memusuhinya. 

“Selamat untukmu, Syahbandar bukan Pribumi. Apa

saja mereka perbuat di sini?” Syahbandar tak dapat

menjawab. Orang lain yang menjawabkan: “Hanya

melihat-lihat sambil tertawa-tawa, Gusti.”

“Mentertawakan siapa?”

“Ampun, Gusti,” orang itu meneruskan, “tak ada yang

mengerti bahasanya.”

Wiranggaleng menangguhkan kepulangannya.

Kedatangan dua orang kulit putih itu tentu saja sesuatu

kejadian besar. Ia harus mengetahui kelanjutannya.

Kelanjutannya adalah: Syahbandar Jepara diturunkan

dari jabatannya. Anak-lelakinya yang menggantikan.

Mendengar itu juara gulat itu tertawa pada dirinya

sendiri. Sama saja, dari Koja yang satu pada Koja yang lain.

Mau tak mau ia teringat pada Moro Sayid Habibullah

Almasawa. Satu demi satu perbuatannya yang ia pernah

ketahui berbaris di hadapan mata ingatannya. Apakah

Syahbandar Jepara berbeda dari Syahbandar Tuban?

Apakah mereka lebih baik dari Rangga Iskak, peranakan

Benggala itu? Di Tuban orang tidak suka pada Rangga

Iskak ataupun Sayid Habibullah Alamasawa. Syahbandar

Jepara, lama atau baru, barangkali sama saja. Ia pun

mengherani mengapa Adipati Tuban dan Jepara masih juga

menggunakan orang asing.

Sebelum berangkat ke Tuban ia memerlukan minta diri

pada orang-orang yang pernah dikenalnya. Ia pun datang ke

galangan dan bengkel. Hayatullah tak dijumpainya. Ia

temukan orang itu pada senja hari di rumah sembahyang.

Beberapa orang murid memenuhi ruangan dalam. Orang itu

nampak sedang mengajar dengan sebuah kitab terbuka di

hadapannya. Beberapa orang murid mengikuti segala kata

yang diucapkannya, kata-kata aneh yang ia tak tahu artinya. 

Lama ia duduk di luar mendengarkan. Ia mencoba-coba

menirukan, tetapi tak bisa. Ia dengarkan Hayatullah

membacakan tafsimya dalam bahasa Melayu, kemudian

terjemahannya dalam bahasa Melayu, kemudian

terjemahannya dalam bahasa Jawa: “Dengan nama Allah

yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Katakan:

Berlindung aku pada…,” kata-kata selanjumya

Wiranggaleng tak mengerti, “dari bahasa makhluk yang

diciptakan-Nya. Dan dari bahaya kegelapan malam bila

telah datang. Dan dari bahaya…. Dan dari bahaya orang

dengki, bila ia marasa dengki….”

Kalimat-kalimat itu tak punya kesamaan dengan acuan

sastra Jawa. Ia tak dapat mengikuti. Ia tetap tak mengerti.

Dan Hayatullah alias Anggoro masih juga terus mengajar.

Ia tak jadi minta diri. Ditinggalkannya tempat duduknya,

berjalan pelan menuju ke laut…. 

Novel Arus Balikk Bab 8 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.

Bagaimana alur cerita dari novel Arus Balik Bab 8 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua. 

Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.

Untuk membaca Novel Arus Balik bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 28 Disini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 26 Disini