Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 38 Disini
Novel Arus Balik bab 38 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Arus Balik menceritakan tentang kisah Kedatangan Portugis di Bumi Nusantara dengan latar awal Abad XVI, yaitu ketika surutnya pengaruh Majapahit dan naiknya pamor Kesultanan Demak.
Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Arus Balikk Bab 38 Bahasa Indonesia Sekarang ini.
38. Yang Lola di Semenanjung
Hari itu Hang Wira berkunjung ke kampung-kampung
penduduk. Kemudian juga memasuki kampung-kampung
para prajurit Tuban dan Bugis, yang kini telah menjadi
petani atau nelayan sepenuhnya. Mereka telah belajar
melupakan negeri kelahiran masing-masing.
Dan dengan menjadi petani atau nelayan sepenuhnya,
dengan wanita setempat yang kini jadi istrinya, pergulatan
untuk memenuhi kehidupan sehari-hari telah menggantikan
perjuangan bersenjata. Perdagangan dan pertukaran barang
telah mendesak jiwa prajunt dan kebiasaan prajurit.
Bila setiap hari seorang suami-istri berhasil dapat
menanam lima belas pohon pisang, setelah membabat
semak dan menebang hutan, berarti mereka telah
menyimpan lima belas hari bahan makanan untuk tahun
yang akan datang. Dan bila mereka berhasil menanam
jagung selebar dua puluh depa persegi setiap hari, mereka
telah menyimpan sepuluh hari makanan sehari untuk empat
bulan mendatang, justru pada waktu pengantin baru mereka
harus bekerja keras. Tahun depan seorang bayi akan lahir
atas nama mereka, dan tenaga bakal tinggal sang suami
saja.
Wiranggaleng tahu, ia tak mampu mengatasi
kemerosotan prajurit-prajurit. Dan dalam bicara dengan
mereka ia berusaha baik-baik menutupi kekecewaannya,
apalagi bila menghadapi istri-istri mereka.
Dan di mana-mana suara mereka sama saja: “Apakah
yang bisa diharapkan lagi di Jawa? Kami dapat mati sia-sia
untuk mengabdi tidak menentu. Ampuni kami,
Senapatiku.”
Ya, mereka lebih berhak atas diri masing-masing, lebih
berhak daripada Trenggono ataupun Sang Adipati. Setelah
Sultan Demak meneruskan usahanya untuk menguasai
Jawa, kepercayaan orang padanya jatuh, dan pembebasan
Malaka bukan saja tinggal jadi impian di langit biru, malah
telah jadi lelucon yang mengibakan.
Wiranggaleng menghargai perasaan mereka. Ia tak
mempunyai kekuatan atau hak apa pun untuk mencegah
kemerosotan.
Kegiatan ketentaraan tinggal hanya kesibukan
pertahanan. Menyerang mereka sudah tidak lagi. Lagi pula
Portugis tidak lagi meronda keluar perbatasan kota Malaka.
Suatu gencatan senjata berjalan dengan diam-diam tanpa
persetujuan tanpa perjanjian.
Dan semua itu membikin hati Wiranggaleng menjadi
lengang, la tak melihat adanya hari depan yang lebih baik
daripada masakini, baik untuk negerinya sendiri mau pun
untuk diri sendiri. Tak ada tanda-tanda kebesaran dan
kejayaan yang bisa dipanggil dari guagarba haridepan.
Haridepan itu sendiri tidak ada. Yang ada hanya
kekosongan yang menganga, bolong dan melompong.
Dalam salah satu pertemuan malah ia pernah dengar
kata-kata ini: “Senapatiku, apa sesungguhnya yang kita
kehendaki? Toh bukan kematian yang percuma?”
Demikianlah ia berjalan dari gubuk ke gubuk, dari
kampung ke kampung. Di mana-mana pisang dalam
pertumbuhan, dan pohon-pohon buah, dan pohon-pohon
turi sepanjang jalan baru, kecil sempit dan belum lurus.
Luas daerah pertanian itu kini menjadi berlipat ganda,
dan setiap bekas prajurit memiliki jauh lebih luas daripada
penduduk asli. Beberapa orang malah mulai membuka
kebun kelapa, cengkeh dan barus.
Kelengangan di dalam hati itu mencopoti kekuatannya
untuk berprakarsa. Jiwanya lunglai menggapai-gapai. Setiap
kali ia mencoba mendapatkan pegangan baru, setiap kali
pula luput. Gapaian tinggal gapaian, dan pikirannya
membuncah murka bila teringat pada pengkhianatan dari
segala penjuru yang nampaknya dicurahkan pada dirinya
seorang. Dan kemerosotan anak buahnya meluncur terus ke
bawah.
Dengan seorang istri orang sudah bertekad menetap di
Semenanjung ini, pikirnya. Mereka telah mendapatkan
segala-galanya dalam hidupnya: Istri, rumah, ladang, anak,
kedamaian, penghidupan, tanpa gangguan seorang raja atau
sultan. Tanah di sini lebih subur daripada Tuban, Demak
ataupun Jepara. Air mencukupi. Dan raja-raja di Jawa sana
hanya sibuk cari kebesaran dan kekayaan dan melepas
nafsu sendiri. Ya, mereka berhak berpihak pada hidup dan
dirinya sendiri.
Ia berjalan terus ke daerah yang jalan-jalannya belum
lagi teratur, memasuki kampung-kampung yang lebih baru.
Dan setiap keluarga me nyambutnya dengan ramah. Itulah
satu-satunya penghibur dirinya. Dari seorang Senapati dan
Panglima pasukan gabungan ia berubah jadi seorang tetua
bagi mereka. Dan apa lagi yang ia bisa perbuat kalau sudah
ada tambahan bayi sebagai tambahan warganya? Bayi
kelahiran Semenanjung? Tak mengenal Tuban dan Jawa?
Memang tak ada yang diperbuatnya. Kemerosotan
keprajuritan me luncur terus menuju ke titik terdalam.
Pada suatu sore ia memasuki kampung penduduk asli.
Seorang wanita berlutut di hadapannya, menyembah dan
menangis: “Hang Wira, ampunilah sahaya, tolonglah
sahaya.”
Kemudian datang juga suaminya, berdiri angkuh
memegangi hulu parang dan menatapnya dengan
pandangan mengancam. Tak lama kemudian seluruh
penduduk kampung dari beberapa rumah itu datang
merubung.
“Apa aku bisa tolongkan. Perempuan?”
“Anak sahaya, Hang Wira, seorang Tuban telah
menculiknya, anak perawan sahaya. Kembalikan dia pada
sahaya.”
“Kalian datang ke mari memang hanya mau bikin
rusuh!” terdengar suara parau suaminya yang masih juga
memegangi hulu parang. “Kembalikan anakku!”
“Anakmu akan dikawini dengan baik-baik, perempuan.
Bukankah semua pernah dengar sudah tiga orang prajurit
Tuban dijatuhi hukuman mati karena perkosaan?”
“Kembalikan anakku!” suara parau suaminya semakin
mengancam. “Tak bisa kami diperlakukan begini lebih
lama.”
“Hai, Perempuan, anak itu anakmu ataukah anak lelaki
ini?”
“Anak sahaya sendiri.”
“Maksudmu orang ini bapak-tirinya?”
“Betul, Hang Wira.”
“Baik. Anakmu akan dikawini baik-baik. Kau akan
mendapatkan menantu yang baik. Apakah lamarannya
pernah kau tolak?”
“Suami sahaya yang menolaknya, Hang wira.”
“Anak itu kubesarkan sejak kecil,” gumam sang suami
sambil menghampiri Wiranggaleng, “patutkah menerima
pinangan seorang petualang? Kembalikan dia, atau kami
akan perangi semua petualang Tuban di sini.”
Rubungan orang itu bubar melihat perkelahian akan
terjadi.
“Jangan, Bang, jangan,” tegah perempuan itu pada
suaminya sambil memegangi tangannya. Tetapi lelaki itu
mengenaskannya sehingga ia jatuh terpelanting dan masih
tetap menegah: “Jangan, jangan!” melihat suaminya mulai
menarik parang.
Wiranggaleng melangkah ke samping dan menegah:
“Jangan. Lagi pula anak itu bukan anakmu. Mengapa kau
yang marah; sedang berhak tidak?”
Dan lelaki itu menjawab dengan ayunan parang,
memekik: “Rasakan parang Semenanjung!”
Wiranggaleng melompat dan melompat. Dan lelaki itu
menyerang dan menyerang. Para perubung bubar. Pada
suatu kesempatan Senapati dapat menyambar potongan
bambu untuk penangkis. Dan bunyi parang beradu dengan
bambu itu mendebarkan orang yang menyaksikan.
“Jangan, Bang, jangaaaan,” teriak istrinya.
“Sudah, sudah cukup!” tegah Hang Wira.
Lelaki itu sudah menjadi kalap. Sinar keputihan telah
memancar dan pandangannya, sehingga bola-bola matanya
nampak seperti terbalik
Melihat itu Wiranggaleng mulai memekik menyerang
dengan bambunya. Pada suatu kesempatan ia serampang
kaki lawannya sehingga terpekik dan terpincang-pincang
mengendorkan serangan. Namun ia masih juga menyerang.
Dengan hantaman luarbiasa keras Hang Wira
menyerampang kakinya yang lain. Sekali lagi orang itu
terpekik dan jatuh terduduk kemudian mengerang-ngerang.
Matanya melotot gusar.
“Bukan maksudku hendak menganiaya,” kata Hang
Wira. Ia tinggal berdiri menunggui lelaki itu kalau-kalau
masih hendak menyerang juga.
Lelaki itu telah kehilangan gairah. Dan ia tetap juga
duduk meraba-raba tulang-keringnya. Mulurnya berkomatkamit dan meringis. Tiba-tiba dengan gerak cepat ia
lemparkan parang pada Wiranggaleng, menyerempet pada
betis, jatuh menancap ke tanah.
Hang Wira melihat pada betisnya. Serempetan itu tidak
melukai, karena bukan mata parang yang telah mengenai.
Kembali orang datang merubung. Istrinya mencabut
parang itu dari tanah dan menyerahkan pada orang lain.
Kemudian ia menolong suaminya berdiri dan memapahnya
masuk ke rumah.
Juga Wiranggaleng ikut masuk. Ia duduk diam-diam.
“Tidak. Kaki itu tidak aku patahkan. Perempuan, biarlah
aku pergi mencari menantumu itu. Dan kalian, penduduk
kampung, janganlah mencari-cari sengketa. Kami tak
pernah bikin percederaan dengan kalian. Kalau ada
anakbuahku yang tidak senonoh, dan di antara kalian pun
ada yang demikian, janganlah dijadikan sengketa. Biar kita
urus bersama semua dengan baik. Anak-buahku bukan
hanya sekedar teman dan tetangga; mereka telah mulai jadi
saudara dan kerabat kalian sendiri. Assalamu….”
Ia keluar dari rumah, berjalan murung pulang ke markas,
la sangat menyesal. Bukan jadi keinginannya untuk
berkelahi dengan penduduk. Ia datang untuk mengusir
Peranggi. Yang diusir tetap berdiri di tempatnya. Dan
permusuhan dari penduduk adalah satu kutukan. Ia harus
dapat mengelakkan. Kalau sekali mereka bersekutu dengan
Peranggi…
Dan ia mengakui, persoalan wanita memang jadi
masalah gawat sekalipun wajar. Beberapa orang
anakbuahnya ada yang telah membikin perahu dan hanya
untuk membajak wanita di kampung-kampung nelayan
untuk diperistri dan untuk bisa menetap di Semenanjung.
Lebih enam ratus lelaki! Dan lelaki memang dilahirkan oleh
wanita. Ia pun diperuntukkan wanita! Tak perlu ia
menduga akan menghadapi masalah ini la datang untuk
berperang. Dan kini semua telah berkisar menjurus ke arah
yang sama sekali berlainan.
Ia berhenti waktu mendengar jerit seorang bayi.
“Kelahiran baru,” ia membelok ke sebuah pondok,
menjenguk ke dalam.
“Lelaki!” seseorang terdengar berseru girang.
Wiranggaleng berjalan terus. Kelahiran baru. Anak itu
tidak tahu negeri nenek-moyangnya. Bila sudah besar,
mungkin Portugis bukan musuh dan bukan persoalannya.
Bukankah orangtuanya sendiri sudah memunggungi
persoalan itu karena kekecewaan pada raja-rajanya sendiri?
Ia menarik nafas panjang, memenuhi paru-parunya
dengan udara malam yang segar.
Ya, aku telah dibebaskan dari tugasku. Keadaan yang
telah membebaskan aku….
Sesampainya di markas ia dapatkan Pada sedang duduk
bersama seorang wanita muda cantik, bermata bulat dengan
bulu mata panjang. Dua-duanya sudah nampak lelah dan
mengantuk, tetapi bertekad menunggu sampai ia datang.
Waktu ia mendekat mereka tak menyedari sedang
tertarik ke alam mimpi, la mendeham dan mereka
membuka mata.
“Kau datang, Pada,” tegur Hang Wira.
Pada melompat berdiri dan merangkulnya. Ia menangis
gembira, ter-hisak-hisak seperti anak kecil. Sabarini
mengangkat sembah dari tempatnya dan memperhatikan
dua orang lelaki yang berangkulan seperti bocah itu.
“Ampuni aku bila terlalu lama.”
“Sudah tak ada bedanya lama atau tidak. Pada. Kau baik
dan selamat. Itu sudah cukup.”
“Banyak yang hendak kusampaikan. Kang. Antaranya
seorang ipar untukmu. Sini, Sabarini, inilah Kang Galeng,
abangku.”
Hang Wira tertawa senang melihat Sabarini yang
menunduk dan mengangkat sembah: “Anak dari mana kau,
Upik?” tanyanya dalam jawa.
“Bukan jawa, Kang.”
“Aceh? Jambi, Minang?”
“Sunda,” jawab Sabarini dengan suaranya yang
menyanyi.
Wiranggaleng mengangkat tangan memberikan restu.
Pada dan Sabarini berlutut. Panglima dari pasukan
gabungan lola itu meletakkan tangan sabelah pada tiap
kepala: “Syukur pada Hyang Widhi, restu untuk kalian,
semoga kekallah perkawinan ini dan dikaruniai
kebahagiaan lumintu dan anak-anak yang sehat, dilimpahi
hendaknya dengan kehidupan yang terang dan gilanggemilang. Berdirilah kalian.”
Mereka berdua berdiri dan masih menyembah dada dan
menunduk.
“Pada, bawalah istrimu beristirahat.”
Mereka berdua bergerak meninggalkannya. Dari sinar
lampu Senapati itu melihat kilau airmata bahagia mereka
berdua.
“Ya, berbahagialah kalian.”
la segera tenggelam dalam kenangan pada
perkawinannya yang gilang-gemilang dulu. Ia tersenyum
sunyi. Tak ada duanya perkawinan besar semacam itu,
penuh keagungan dan kejayaan. Seluruh kota ikut
merayakan. Ia dianggap sebagai Kamajaya dan Idayu
sebagai Kamaratih. Kemudian tandunya jatuh. Sebagai
pengantin ia dan istrinya terjerembab di tanah.
Terjerembab! Mungkin perlambang kejatuhannya selama
irii. Tahyul! pekiknya menolak gagasan tentang perlambang
itu. Tahyul! Kegagalan hanya buah usaha yang memang
gagal. Barangsiapa tak pernah berusaha dia pun takkan
pernah gagal.
Kegagalan yang berisikan penyesalan – banyak
penyesalan. Sang Patih Tuban telah tewas karena tangan
dan kerisnya. Orang sebaik itu, sebijaksana ini! seorang
majikan dan seorang guru sekaligus! Dan kiai di Gresik itu
– banyak namanya pun ia tak tahu. Dan Danu – santri
terpandai itu. Tiga orang yang telah tewas karena
tangannya – dan tidak karena perang!
Ia tinggalkan markas dan memasuki malam.
Selama pelayarannya dari Panjang ke Semenanjung
memantai pesisir timur Sumatra Pada telah berpikir keras
untuk dapat memahami perkembangan di Jawa. Dan
ternyata tak semudah itu ia dapat mengikuti kejadiankejadian yang simpang siur seperti benang kacau itu.
Ratu Aisah – mengapa wanita tua itu berkunci diri di
dalam rumah? Mengapa ia menyerahkan bingkisan bekas
Adipati Unus? Liem Mo Han mengapa pula dibunuh oleh
tentara Demak? Dan mengapa pula keluarga Wiranggaleng
terancam kebinasaan? Mengapa Senapati dituduh
bersengkongkol menentang Demak? Dan mengapa pula
dirinya sendiri disangkut-pautkan dengan semua itu?
Ia tak dapat menjawab.
Gerakan Trenggono ke jurusan timur dan barat Demak,
penaklukan atas kabupaten tetangga, penaklukan atas
Banten, Sunda Kelapa dan Cimanuk – semua pelabuhan
penting. Sekarang Cirebon diancam pula. Apakah
Trenggono sudah bertekad menguasai semua bandar di
Jawa sebagai kerajaan yang pada mulanya tak punya
bandar? Adakah hanya Tuban mendapatkan bandar Jepara
maka Trenggono bernafsu menggagahi banyak bandar lain?
Dan mengapa lawan-lawan Sultan Demak tak ada yang
mampu menahan gelombang balatentaranya? Mengapa
pula Tuban yang beratus tahun jadi andal-andal Majapahit
dapat ditangannya, bahkan telah terjamah ibukotanya? Lagi
pula apa sebabnya balatentara Tuban mencoba terus
menghalau musuhnya sekalipun Sang Adipati telah
mangkat. Dan mengapa pula Peranggi langsung masuk ke
Tuban setelah kegagalannya di Sunda Kelapa? Seakan-akan
semua itu berputar untuk keuntungan Peranggi?
Dan di Jayakarta dan Banten untuk kedua kalinya
Fathillah menyatakan dua bandar itu jadi bandar bebas.
Dan mengapa armada Jepara-Demak mengakhiri
blokadenya? Dan mengapa balatentara armada itu tak
meneruskan penusukannya lebih jauh ke pedalaman? Dan
mengapa bukan Banten dan Jayakarta sebagai bandar bebas
dengan sekali pukul telah mematikan bandar Panjang?
Benang yang kacau itu semakin kacau.
Yang paling memusingkannya adalah: Mengapa
Trenggono menyia-nyiakan kekhalifahan ayahandanya
almarhum. Sudah selesaikah riwayat kerajaan Islam
pertama-tama di Jawa, dan terjatuh jadi kerajaan kafir
sebagai semula?
Mengapa justru Wiranggaleng yang harus
mengusahakan pembebasan Malaka dengan sekutu-sekutu
yang ditarik kembali dan yang tidak ada? Mengapa ia
mendapatkan armada yang bukan kapal negeri, hanya jung?
Mengapa tidak boleh diperlengkapi dengan meriam
Peranggi? Bahkan tak boleh dengan cetbang? Dan bukankah
Wiranggaleng itu sendiri yang telah merampas senjata
ampuh itu. Dan mengapa Senapati yang paling berjasa pada
Tuban itu justru diusir dari Tuban? Dan mengapa ia
sekarang harus menduduki jabatan sebagai panglima pula?
Dalam pelayaran kembali ke Malaka ia menjadi kurus
dan nampak lebih jangkung daripada sesungguhnya.
Ia tak mampu keluar dari teka-teki pulau Jawa. Lebih
memusingkan baginya adalah masalah Tuban. Untuk siapa
balatentara Tuban berkelahi mati-matian melawan Demak?
Dan mengapa Tuban begitu mudah dimasuki Portugis?
Benar-benar ia tak mampu menyusun sangkut-paut
peristiwa yang susul-menyusul begitu cepat. Ia merasa diri
semakin jadi bodoh. Mungkin, pikirnya memaafkan diri
sendiri, karena sedang dalam suasana pengantin baru maka
diri menjadi bebal.
Waktu memasuki Pati ternyata tak ada gangguan dari
pihak Portugis. Mereka memang nampak kasar dan tidak
tahu adat, tetapi tak selembar pun barang-barangnya
mereka rampas, apalagi perahu layarnya.
Juga perahu-perahu lain tiada mengalami sesuatu
kesulitan. Beberapa keranjang lada yang dibongkarnya
segera dibeli oleh Peranggi dengan uang perak. Dan ia tak
melihat adanya permusuhan tertuju padanya.
Ia pun dapat meninggalkan bandar tanpa dicurigai.
Semua itu menambahi masalah dalam pikirannya.
Mengapa Peranggi-Peranggi itu nampak begitu damai? Dan
jarang di antara mereka membawa senjata? Dan mengapa
di Tuban justru sebaliknya?
Waktu berjalan memikul beban menuju ke markas
Wiranggaleng sedang istrinya menggendong pada
punggung, sampailah ia pada puncak kegugupannya. Ia
takan mampu menyusun laporan untuk panglimanya. Dan
ia merasa akan menderita aib sekiranya Wiranggaleng
menuduhnya hanya mengurusi soal bini semata dan tidak
melakukan tugasnya. Maka sambutan Hang Wira yang
ramah dan tidak menuding, bahkan merestui
perkawinannya, melenyapkan seluruh kerisauannya.
Galeng yang lama itu tampil lagi dalam hatinya sebagai
seorang abang yang pemurah dan bijaksana.
Keesokan harinya ia telah berniat hendak
menyampaikan berita-berita sebagaimana adanya. Ternyata
ia tidak mampu menyusunnya.
Ia temui Hang Wira sedang duduk bertopang dagu di
sebuah bangku kebun di belakang markas. Nampaknya
Panglima sedang berpikir keras. Matanya suram.
Pelahan-pelahan ia duduk di dekatnya. Dan di luar
dugaannya ternyata ia ditegur lebih dahulu dengan suara
lunak: “Coba ceritakan bagaimana kau mendapatkan
istrimu,” ia tersenyum.
Ketegangan Pada hilang sama sekali
Mereka berdua tertawa-tawa dan berseri dan menyebutnyebut dan bertepuk-tepuk kegirangan seperti dua orang
bocah yang belum mengenal dunia di sebuah dusun
terpencil, aman dan damai.
“Jadi kau sudah tahu rasanya jadi pangeran.”
“Mungkin begitu juga rasanya anak-anak dewa di atas
dunia ini, Kang.”
“Di mana kau peroleh peralatan badut itu. Dan Pada tak
menduga dengan begitu mudah ia mendapatkan jalan untuk
menyampaikan segala yang telah dilihat dan didengarnya
sendiri di Tuban, Lao Sam, Jepara, Pajajaran, Sunda
Kelapa dan Panjang, malah juga di Pasai. Pengalamannya
dengan Coa Mie An dan cucu Ratu Aisah. Dan: “Seminggu
tepat aku duduk di depan pendopo dalam terik matan
dengan kekuatiran amat sangat kalau-kalau tentara Demak
menyergap aku. Satu minggu penuh, Kang. Hanya seorang
gadis kecil menyampaikan sebuah bungkusan. Aku tahu
bungkusan itu untuk Kang Galeng. Ampunilah aku karena
telah kukenakan untuk mendapatkan sedikit kesenangan
sebagai pangeran. Nanti sore akan kuserahkan bungkusan
itu. Hanya saja kasut n ya tertinggal di rumah kepala desa
Baleugbag, desa Sabarini, istriku.”
“Semua ketakutan dan kelelahanmu telah ditebus. Kau
telah mendapatkan seorang istri yang tiada duanya. Belum
pernah aku dengar suara yang begitu bening dan indah dan
menarik seakan hanya keluar dari mulut bidadari, bukan
manusia.”
“Kau melebih-lebihkan, Kang.”
“Tidak melebih-lebihkan. Kau saja yang pura-pura
dungu. Ayoh, teruskan ceritamu.”
Pada meneruskan ceritanya tentang jatuhnya Banten dan
Sunda Kelapa ke tangan Demak. Bahwa Sunda Kelapa
telah diubah jadi Jayakarta. Bahwa Cimanuk kemudian
juga diseibu oleh armada Jepara-Demak. Dan setelah itu
armada bergerak dengan bantuan tenaga setempat
menduduki Cirebon.
Wiranggaleng diam termenung mendengar bagaimana
Fathillah menghalau Portugis dan kapal-kapalnya. Dan
armada itu meninggalkan Sunda Kelapa tanpa melepaskan
sebutir pun peluru meriam. “Apakah kau tidak keliru.
Pada?”
‘Tidak. Portugis tidak menembak. Mereka terus berlayar
ke timur, terus ke timur.”
“Dan memasuki Tuban.”
“Ya, dan memasuki Tuban.”
“Mungkin mereka hendak selamatkan pelurunya untuk
Tuban.” Hang Wira menerangkan. “Mungkin karena itu
mereka dapat menusuk Tuban dengan mudah. Jadi kau tak
dapat menemui Kala Cuwil?”
‘Tidak, Kang. Semua usaha gagal. Satu yang belum aku
ceritakan: Sang Adipati mangkat waktu Demak masuk.”
Wiranggaleng seperti tersengat kalajengking.
Dipandanginya tajam-tajam akan Pada tanpa bertanya.
Melihat airmuka Pada tidak berubah, ia berbalik dan
berjalan tanpa menoleh.
Pada yang masih juga duduk menunggu akhirnya berdiri
juga dan mencarinya. Didapatinya Senapati sedang berdiri
merenungi saluran yang berair bening. Tangan kanannya
bertahan pada sebatang kayu. “Kau telah terbebas dari
sumpah. Kang.”
“Apakah hanya itu saja yang penting?”
“Memang tidak. Ada yang lebih penting: balatentara
Tuban berperang tanpa raja. Untuk siapa mereka
berperang?”
“Itulah, Pada… itulah satu masa di mana raja lama mati,
raja baru tidak ada. Dan tak ada anak desa tampil marak
menobatkan dirinya sendiri. Ada suatu jaman di mana
seorang anak desa dapat tampil demikian. Tiga ratus tahun
yang lalu. Pada.”
“Kau sudah terlalu sering menceritakannya: Ken Arok
Rajasanagara.”
“Betul, Pada. Dan jaman itu takkan berulang. Tuban
tidak melahirkan Ken Arok. Kala Cuwil sesungguhnya bisa
marak, atau Banteng Wareng. Mereka takkan bakal ada
keberanian untuk itu Mereka memang lain dari Ken Arok.
Dia muncul berlandaskan perjuangan untuk keadilan.
Kepala-kepala pasukan Tuban tidak. Mereka berlandaskan
gengsi ketentaraan semata.”
Mereka berdua terdiam, masing-masing sedang
mengerahkan otak untuk membuat penilaian. Dan memang
mereka yakin Kala Cuwil dan Banteng Wareng tak ada
keberanian untuk itu. Sekiranya ada boleh jadi wajah tanah
Jawa akan berubah.
“Kang,” tiba-tiba Pada mengganggu, “kau sendiri
sebenarnya bisa, Kang’
“Husy. Kau masih juga tidak mengerti Galeng ini”
“Kau sudah begitu berpengalaman, semua orang
mengenal dan mengasihi kau, Kang. Kau bisa, Kang.”
“Kau keliru.”
“Aku tidak keliru, Kang. Kau begitu senang bercerita
tentang memanggil kejayaan dan kebesaran pada guagarba
haridepan….”
“Bukan untukku, Pada. Bodohnya kau jadi petani tanpa
tidak lebih dari Idayu, hanya menginginkan jadi petani
tanpa gangguan siapa pun. Tanpa gangguan siapa pun…
itulah yang justru membikin aku menyasar-nyasar begini,
melalui jadi Syahbandar-muda sampai Senapati dan
Panglima gabungan yang kapiran sekarang ini” Sabarini
muncul dan menyilakan Hang Wira makan.
“Aah, adikku Sabarini,” tegur Senapati dalam bahasa
Melayu. “Aku senang mendapatkan seorang saudari seperti
engkau. Jangan kau menyesal datang ke tempat ini: hutan
semata, tanpa sawah, tanpa ladang yang bagus dan tanpa
kebun yang indah seperti di negerimu.”
“Sahaya akan tetap senang selama tidak ditinggalkan
oleh suami sahaya,” jawab Sabarini dengan suaranya yang
menyanyi.
“Nah, kau dengar sendiri itu, Pada.”
“Ya, Kang Galeng. Selama aku tak mengabdi pada
seorang raja takkan dia bakal kutinggalkan.”
“Kau benar, Pada. Kau benar. Lihat Sabarini, suamimu
ini. Dia sudah jenuh jadi abdi raja, apalagi raja itu begitu
besar kuasanya sehingga tak perlu berpikir lagi, dungu
seperti kerbau dan bebal seperti bebek. Hanya celaka sajalah
yang menimpa diri. Kau dengar sendiri, Sabarini, selama
dia tak mengabdi pada seorang raja, kau akan selalu dapat
mengikutinya, dan dia takkan meninggalkan kau,
barangkali juga dialah yang mengikuti kau.”
Sabarini malu kemerah-merahan dan mencibirkan bibir.
Wiranggaleng tersenyum senang melihatnya dan berseru:
“Lihat Pada, istrimu itu. Pantas kau tergila-gila padanya.
Aku tak salahkan kau.”
‘Tidak bisa, Kang,” bantah Pada, “dialah yang tergilagila padaku.”
“Benar, Sabarini?”
Dan Sabarini lari tersipu meninggalkan mereka.
“Jangan kau sia-siakan dia, Pada, kau! Kau bekas kutu
harem! Anak itu sangat baik untukmu. Dia adalah laksana
bunga yang kembang pada waktunya. Selama kau rukun
dengan dia, kau akan tetap berbahagia. Begitu kau
bertingkah dan balik jadi kutu seperti dulu, selesailah
riwayatmu.”‘
“Mengapa begitu, Kang?”
“Ah, yang kau ketahui tentang selir saja. Itulah salahmu.
Perhatikan dia baik-baik, resapkan dan nilai setepatnya
tingkah-lakunya dan kecantikannya. Dengan mata tertutup
aku akan dapat mengetahui dari suaranya saja, dia seorang
wanita pilihan, khusus disediakan untukmu.”
“Kang.”
“Apalagi kau bertaubat.”
“Sudah lama aku bertaubat.”
“Mari makan.”
Dalam berjalan kembali Wiranggaleng tenggelam dalam
pikirannya. Baginya pun Tuban merupakan teka-teki. Atau
barangkali datangnya waktu inilah yang dimaksudkan oleh
Rama Cluring? Datangnya memanggil kejayaan dan
kebesaran itu?
Rama Cluring keliru. Dua-duanya tak dapat dipanggil
datang ke Tuban. Kuncinya tetap: Semenanjung. Apalah
arti Tuban tanpa Malaka? Tuban adalah negeri
kelahirannya yang tertinggalkan oleh jalan laut dan
perdagangan rempah-rempah. Rama Cluring keliru. Untuk
menguasai kembali jalan laut dan perdagangan Malaka
harus dibebaskan. Dan Malaka tak dapat dibebaskan karena
kurangnya persatuan antara raja-raja bandar. Atau harus
timbul Majapahit kedua yang sama sekali menguasai
Malaka. Dan itu tidak mungkin. Untuk menguasai seluruh
Jawa pun sampai seumur hidupnya orang takkan berhasil.
Harus ada senjata baru yang lebih ampuh dari cetbang, baru
orang berhasil. Dan cetbang pun sekarang telah dikalahkan
oleh meriam. Senjata itu harus lebih ampuh dari meriam.
“Bagaimana, Kang?”
”Ayoh makan.”
Dan malam itu Senapati Tuban berjalan ke ladang untuk
bicara-bicara dengan para penjaga babi hutan. Ia mulai
menyalakan api unggun, tetapi para penjaga belum juga
datang. Yang datang justru Pada membawa bungkusan.
“Mengapa kau tinggalkan istrimu?”
“Sudah tidur. Kang. Bukankah aku boleh
meninggalkannya?”
“Kau meninggalkan seorang pengantin seorang diri. Itu
tidak patut Apa kau bawa itu?”
“Sengaja aku tahan para penjaga babi di sana, biar dapat
kusampaikan padamu bingkisan ini: dari Gusti Ratu
Aisah.”
”Hmm. Pakaian pangeran itukah, yang menyebabkan
kau mendapatkan Sabarini?”
“Benar. Hanya saja kasutnya hilang sebagaimana pernah
aku ceritakan,” ia mulai membongkarnya.
Yang pertama keluar adalah kain batik bergambar kuputarung. Seperti kena kejang Wiranggaleng mencengkam
kain itu kemudian meletakkan pada dadanya: “Aku pernah
melihat bendera dengan lambang ini. Adipati Unus Jepara.
Pulang membawa luka dan kekalahan dan Malaka. Seorang
aulia!” Ia tutupkan kain itu pada wajahnya. Ia tenang untuk
menguasai perasaannya sendiri, kemudian, “Dahulu aku
mencurigainya, tidak mempercayainya. Hampir lima belas
tahun yang lalu. Waktu itu aku masih terlalu muda, sangat
mengagungkan Gusti Adipati Tuban. Aku pernah
menjalankan tugas untuk memata-matainya. Aku pernah
laporkan semua yang aku ketahui pada Gusti Adipati
Tuban. Aku pernah ikut mengkhianatinya waktu
menyerang Malaka. Dan ternyata hanya Gusti Kanjeng
Adipati Unus yang benar. Betapa aku menyesal telah
pernah mencurigai, memata-matai dan mengkhianatinya.”
“Semua itu sudah lewat sekarang, kang.”
“Lewat saja tiada mengapa, Pada, tetapi lewat dengan
segala ketidakberesan begini.”
“Kang Galeng, Raden Ajeng cilik yang menyerahkan
bingkisan padaku itu menyampaikan pesan Gusti Ratu
Aisah, bingkisan ini untuk siapa saja yang mampu
mengenakannya, Kang. Kaulah itu yang mampu. Tak ada
orang lain. Kala Cuwil tidak, Banteng Wareng pun tidak.
Hanya kau. Kaulah Ken Arok kedua. Kang.”
Wiranggaleng masih tenggelam dalam emosinya, pada
masa lalu dan pada cita-cita Adipati Unus.
“Bungkus kembali!” katanya pelahan dan parau.
la berjalan dan hilang di dalam kegelapan. Mohammad
Firman mencoba mengikutinya dari belakang dan
menemukannya sedang berdiri di bawah sebatang pohon
dengan dua belah tangan dan kening pada batang itu.
“Aku tahu kau sedang berdukacita, Kang.”
‘Temani istrimu. Pada.”
“Bagaimanakah aku dapat meringankan dukaritamu.
Kang.”
“Pergilah kau, jangan ganggu aku.”
“Aku akan tetap di belakang. Kang.”
“Pergilah kau. Pada,” ia diam sebentar. “Aku katakan
sudah untuk kedua katinya.”
“Untuk kedua kalinya aku bilang, aku tetap di
belakangmu, Kang. Katakan semua padaku. Aku tahu kau
kalah untuk kedua katinya untuk merebut Malaka. Semua
orang tahu. Katakanlah, curahkan semua dukacitamu,
Kang.”
Lama Wiranggaleng tak bicara. Kemudian mulai ia
bicara, lambat; berat, sepatah-sepatah: “Hampir-hampir aku
tak dapat menahan perasaanku, Pada. Aku hanya si anak
desa yang tersasar ke tempat Yang bukan tujuannya.
Hampir lima belas tahun yang lalu semestinya Peranggi
telah terusir dari sini. Sekarang mereka lebih kuat. Kita
lebih lemah, Pada. Tak ada nama yang begitu terbenci
dalam hidupku kecuali yang satu itu: Trenggono, Sultan
Demak. Ia telah jerumuskan Jawa dalam peperangan
melawan yang bukan musuh, dan membiarkan musuh
semakin kuat begini. Ia telah perhamba orang-orang
serumah sendiri sedang di luarnya orang telah merampas
dan menguasai sumber kehidupan.”
“Ya, Kang, kemenangan di Sunda Kelapa memang
tanpa makna, kecuali untuk Fathillah pribadi.”
“Semua kemenangan atas Peranggi tanpa mereka terusir
dari Malaka hanya omong kosong, Pada.”
“Betul, Kang, hanya omong kosong.”
“Dan bagiku Jayakartanya Fathillah adalah nama untuk
jaman kemerosotan ini.”
“Ya, Kang untuk jaman kemerosotan ini.”
“Rasanya tidaklah akan begitu sakit sekiranya pasukan
gabungan kita tidak menjadi lola. Lola pun tidak seberapa
kalau Demak tak memukul semangat kita. Ditariknya
pasukan Aceh mungkin juga tidak seberapa. Tapi
Trenggono, betapa beda kau dari abangmu.”
“Ya, Kang, keadaan sudah jadi begini.”
“Pasukan gabungan ini tak bisa digerakkan lagi untuk
menyerang. Dan menyerang apa? Untuk apa? Mengabdi
pada apa aku ini? Pada diriku sendiri pun tidak. Padahal tak
banyak yang kupinta dalam hidup ini. Barangkali sama
dengan kau: pengabdian pada haridepan barangkali.
Haridepan tidak terbina, yang didapat musuh, musuh di
mana-mana. Kehidupan macam apa ini?”
“Ya, Kang, manusia hanya bisa mengusahakan. Allah
juga yang menentukan. Terserahlah semua kepadaNya.”
“Hiburan semacam itu aku tak butuhkan. Pada. Muridmuridmu mungkin memerlukan lebih dari dirimu sendiri.
Bagiku lain. Bagimu aku seorang kafir, dan aku senang
dalam kekafiranku. Aku tak membutuhkan kata-kata
hiburan,” suaranya menjadi bersungguh-sungguh disarati
oleh pergulatan batin, “biarlah hati ini patah karena sarat
dengan beban, dan biarlah dia meledak karena ketegangan.
Pada akhirnya perbuatan manusia menentukan, yang
mengawali dan mengakhiri. Bagiku kata-kata hiburan
hanya sekedar membasuh kaki, sebagaimana Sabarini
membasuh kakimu. Memang menyegarkan, tapi tiada arti.
Jangan kau marah, Pada. Ambillah kata-kata hiburan
untukmu sendiri. Aku tidak memerlukan. Barangkali pada
titik inilah kita berpisah.”
Ia berjalan lagi memasuki kegelapan dan hilang.
Pada sangat kecewa dengan jawaban yang tak didugaduganya Ia tahu sahabatnya dihembalang oleh kekecewaan
dan dukacita. Ia menginginkan sesuatu yang berada di luar
kekuasaannya, di luar kekuatannya. Dan itulah kekecewaan
dan dukacita itu sendiri.
Tak ada yang dapat diperbuat Pada kecuali berdoa pada
Tuhannya, memohonkan ampun dan taufik-hidayat untuk
si kafir sahabatnya yang keras kepala itu. Kemudian ia
pulang ke markas membawa bungkusan.
0o-dw-o0
Panglima itu sedang menemui pemimpin kesatuan BugisMakasar di pondoknya.
Pembicaraan adalah sekitar kemerosotan semangat yang
terus-menerus dan tiada terkendalikan. juga pemimpin itu
merasa tak dapat berbuat sesuatu. Semua dikembalikannya
pada Wiranggaleng.
Berdasarkan kenyataan itu mereka berdua memutuskan
untuk membuat pertemuan bersama: pada minggu
mendatang.
Pada siang hari ia pulang ke markas dalam keadaan
tenang seperti dahulu. Tapi Pada dapat melihat bagaimana
hatinya menggeletar, karena si kafir itu enggan
menyerahkan kesulitannya pada Yang Maha Kuasa. Dan ia
telah jarang berkhotbah di hadapannya.
“Kau suka tinggal di Semananjung sini, Sabarini?” tibatiba ia bertanya.
“Kalau Kang Pada suka, sahaya pun demikian.”
“Jangan dengan sahay a-sahayaan,” ia melirik pada
Pada, “nampaknya suamimu suka tinggal di sini. Itu baik,
baik, selama orang sudah mulai berdamai dengan tempat
tinggalnya yang baru,” ia tak bicara lagi dan pergi.
Dalam pertemuan seminggu kemudian ia menyatakan,
pasukan gabungan Tuban-Bugis-Makasar dalam keadaan
lola tanpa batas-Barang-siapa akan pulang kembali ke
negerinya masing-masing kesempatan diberikan.
Barangsiapa lebih suka tinggal, juga diperkenankan. Di
depan pertemuan itu juga ia menyatakan telah melepaskan
kepanglimaannya, bukan lagi atasan mereka, hanya
sebagian dari mereka. Ia jelaskan tentang pengkhianatan
Sultan Trenggono yang menyebabkan semua terdampar
sebagai prajurit di sini, tetapi untuk sebahagian toh
mendapatkan kebahagiaannya sebagai petani dan nelayan,
terutama sebagai suami di tengah-tengah alam yang indah
dan subur.
”Negeriku, Tuban, sekarang diduduki oleh Peranggi.
Jadilah Itu bagiku panggilan untuk kembali menghadapi
mereka di sana, karena Tuban negeriku. Aku tak memaksa
kalian ikut. Hanya mereka yang ikut serta kembali
denganku untuk mengusir Peranggi akan kuterima dengan
segala senang bati.”
Hanya dua puluh lima orang yang menyatakan hendak
kembali. “Aku meninggalkan Tuban membawa lima ratus
orang dan akan kembali dengan hanya dua puluh lima.
Adipati Unus telah gagal. Beberapa belas tahun kemudian
juga Wiranggaleng gagal. Karena kegagalan ini disebabkan
oleh Trenggono, kalau kalian menyetujui, sebelum
keberangkatanku, namailah daerah tinggal kalian ini
dengan nama itu pula: Trenggono.”
Pada hari yang telah ditentukan, Wiranggaleng bersama
dengan dua puluh lima orang pengikutnya diiringkan
beramai-ramai ke pantai.
“Janganlah gusar kalau aku memilih tinggal di sini. Kang
Galeng.”
“Kau berhak, Pada.”
“Bagiku Jawa hanya tumpukan kekacauan yang tiada
habis-habisnya.”
“Selama Malaka, Selat ini, berada di tangan mereka.
Pada, selama itu Jawa akan tetap kacau.”
“Nampaknya mereka akan tetap menguasainya, Kang ”
“Kita tidak tahu apa bakal jadinya. Jangan kau
kecewakan Sabarini Dan kau, Sabarini, aku masih ingin
melihat anakmu lagalah kesehatanmu. Kirimkan anakmu
kelak ke Jawa. Bagaimanapun dia masih punya leluhur.”
Novel Arus Balikk Bab 38 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.
Bagaimana alur cerita dari novel Arus Balik Bab 38 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua.
Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.
Untuk membaca Novel Arus Balik bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.
Komentar
Posting Komentar