Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 37 Disini

Novel Arus Balik bab 37 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Arus Balik menceritakan tentang kisah Kedatangan Portugis di Bumi Nusantara dengan latar awal Abad XVI, yaitu ketika surutnya pengaruh Majapahit dan naiknya pamor Kesultanan Demak.

Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Arus Balikk Bab 37 Bahasa Indonesia Sekarang ini. 

37. Panjang – Jayakarta

Bulan Juli 1527

Pengantin baru itu sengaja hendak menikmati pelayaran

melalui kepulauan Seribu, gugusan pulau yang tersebar

antara Jawa dan Sumatra. Layar mereka gulung dan

keduanya mendayung dari pulau ke pulau. Tak ada bajak di

daerah perairan sini. Semua lari menghindarkan diri dari

armada Jepara-Demak.

Di hadapan mereka nampak gunung-gemunung pulau

Sumatra, di belakang mereka gunung-gemunung pulau

Jawa, berlapis-lapis tertimpa sinar surya dari sebelah barat.

Kebetulan laut pun sedang tenang. Air nampak biru

dengan ombak kecil-kecil yang riang bermain pada

permukaan. Kail yang dipasang pada buritan antara

sebentar menghasilkan ikan ekor kuning, sedang yang 

dipasangi dengan baling-baling bulu ayam putih

menghasilkan layur.

Bila mereka lapar, singgahlah mereka di salah sebuah

pulau, bertanak nasi, berkasih dan bercumbu, tanpa seorang

pun mengganggu. Untuk itu sengaja mereka pilih pulau

kecil tanpa penduduk. Dunia berisikan kesukaan semata.

Dan sampai sejauh itu Sabarini tak juga pernah bertanya

hendak ke mana. la pun tak pernah mabuk laut Ia bicara

hanya bila ditanyai. Bila naik lagi ke atas perahu, tanpa

diminta segera ambil dayung dan mulai mengayuh.

Dengan demikian pulau demi pulau disinggahi atau

dilewati. “Mengapa kau tak pernah bercerita?”

Sabarini berhenti mendayung, menciduk air laut dengan

tangan, memandanginya sambil tersenyum dan membuang

muka. Ia mulai mendayung lagi. Wajahnya kemerahmerahan seperti buah tomat menjelang matang.

“Tentu karena ingat pada rumah,” desak Pada. “Mereka

sekarang tak ada di rumah lagi, Gusti,” jawabnya dengan

suara dan lagu menyanyi bening itu. “Mereka semua telah

melarikan diri masuk ke hutan-hutan.”

“Ya, Gusti, karena kita lari. Mereka akan menerima

hukuman dari Sri Baginda. Karena patik lari. Mereka akan

dihukum oleh Sang Patih Narogol.”

“Mereka akan dapat menangkap kasut kami.”

Sabarini mendengus tertawa.

“Betapa besar dosaku pada mereka.”

Sabarini mengayuh cepat-cepat.

“Bagaimana harus kutebus dosa kita?” Pada bertanya. 

“Tidak perlu. Gusti. Bapak sahaya sendiri yang bersalah.

Jangan jadi fikiran, Gusti. Mereka akan lari ke hutan-hutan,

berkumpul di sana dan mencari tempat baru untuk hidup –

tempat yang sekiranya takkan diketahui oleh Sri Baginda.

Kalau mereka tak suka membuka hutan, barangkali mereka

akan turun ke Sunda Kelapa.”

“Nampaknya kau tak berprihatin.”

“Bukankah sudah cukup lama patik berprihatin?”

“Cukup lama. Coba ceritakan, istriku.”

“Ya Gusti,” Sabarini mulai suka bicara. “Di desa kami

gadis-gadis dikawinkan pada umur yang masih sangat

muda. Kadang-kadang baru tiga tahun. Orangtuanya takut

kalau-kalau anak-gadisnya dirampas para ningrat dan

dibawa ke Pakuan. Patik sendiri tumbuh jadi gadis tua

karena ketentuan putra Sang Narogol. Perjaka-perjaka tak

berani melamar patik. Orang memandang patik dengan

belas-kasihan semata. Semua orang tahu nasib buruk

seorang selir.”

Pada mendengarkan suara bening istrinya yang

bernyanyi. Itulah untuk pertama kali Sabarini bicara

sebanyak itu. Ia mengangguk-angguk memberanikan.

Suaranya bernyanyi lagi. Terdengar olehnya jauh lebih

indah daripada kebenaran yang terkandung di dalamnya:

“Mereka akan ikut berbahagia dengan kebahagiaan kita,

Gusti. Janganlah Gusti menjadi risau. Semua akan

bersyukur bila ada seorang calon selir berani lari dengan

seseorang yang dicintainya. Semua akan bersedia

membantu dan melindungi dan berkorban – tahu mereka

bakal mati di ujung tombak. Gusti sama sekali tak berdosa

pada mereka.”

“Sabarini, istriku, sekiranya kau benar, mengapa kau tak

suka bicara seperti orang-orang lain?” 

Mata gadis itu bersinar dan bibirnya tersenyum.

Kemudian menunduk malu.

“Apa yang menjadikan kau malu pada suami sendiri, di

tengah laut tanpa saksi begini?”

“Ah, Gusti, Gusti tidak tahu bagaimana perasaan patik.

Bagaimanakah patik harus lewatkan kebahagiaan ini

dengan hanya bicara?”

“Stt. Mulai sekarang, jangan panggil aku Gusti.”

Sabarini memandanginya bersungguh-sungguh. “Sekarang

ceritakan tentang kebahagiaanmu.”

Dan berceritalah gadis itu tentang asal-muasal

kelahirannya, dan tentang kepala desa serta seluruh

penduduk desa yang tak berani mempersembahkan dudukperkara kelahirannya pada Patih Narogol. Betapa ia

menderita sebagai calon selir saudaranya sendiri. Maka ia

bertekad melatih ilmu berkelahi. Bila toh takkan ada orang

yang berani membela dan melindunginya, ia akan membela

dan melindungi dirinya sendiri.

“Apabila patik berhasil dalam usaha patik,” Sabarini

meneruskan, “patik akan mengembara jauh, jauh entah ke

mana, asal keluar dari negeri Pajajaran. Patik lulus,

kemudian datang seorang pangeran dari Jepara, yang

sekarang memperistri patik. Pangeran itu harus lari dari

kejaran tentara Pajajaran. Patik pun akan jadi orang

kejaran. Mengapalah patik takkan lari dengannya?”

Pada tertawa senang dan berbahagia mendengar cerita di

mana keputusan cepat dalam keadaan berbahaya harus

diambil. Dan keputusan itu juga diambil secara tepat Dan

tidak lain dari Sabarini yang berjasa.

“Begitulah Allah mempertemukan kita. Segala pujipujian untukNya semata, Sabarini. Aku merasa berbahagia 

bila kau berbahagia, janganlah sebut dirimu Patik.

Terganggu perasaanku mendengar itu. “Aku sama sekali

bukan seorang pangeran”.

Pada memperhatikan perubahan pada airmuka istrinya.

Dan perubahan itu ternyata tak ada. Ia terheran-heran,

dianggapnya perempuan itu tak begitu mendengarkan.

“Aku sama sekali bukan seorang pangeran,” ia

mengulangi.

“Apakah bedanya suamiku seorang pangeran atau tidak?

Seorang pangeran takkan mengindahkan istrinya

sebagaimana suamiku mengindahkan diriku’

Pada agak kecewa melihat Sabarini tidak terkejut

“Sabarini lebih suka kalau suaminya seorang petani

biasa, karena seorang petani hanya sederhana, tidak

ditingkah oleh seribu nafsu. Aku, dan kami semua tahu

tingkah kaum ningrat. Maka aku tahu suamiku tidak

bertingkah, tidak berbahasa seperti mereka. Sejak semula

kulihat, tamu agung itu, itu sudah aku lihat ia seorang

orang biasa dalam pakaian kebesaran.”

“Sabarini!” gumam Pada setelah mendengar begitu

banyak kata tercurah. “lihat, bandar Panjang sudah mulai

nampak. Sebentar lagi kita akan menginjakkan kaki di bumi

Sumatra.”

Matari mulai tenggelam. Awan hitam bergumpal-gumpal

muncul dari balik-balik gunung di daratan Sumatra. Angin

kencang mulai bertiup seperti dihembuskan oleh mulut

raksasa gaib. Alam yang tenang tiba-tiba berubah

mengancam. Guruh mengaum dari kejauhan dan kilat sambar-menyambar di cakrawala. 

Beberapa noktah dengan puncak-puncak keputihan

terpancari sisa sinar matari nampak di kejauhan, di tentang

kaki langit.

“Armada Peranggi,” gumam Pada. “Ayoh, dayung

cepat.”

Mereka mendayung cepat-cepat memasuki pelabuhan

Panjang. Dan bersamaan dengan itu badai taufan mulai

mengamuk sejadinya. Hujan jatuh mendadak bercampur

angin seperti langsung dilemparkan dari langit.

Setelah mencancang perahu pengantin baru itu dengan

membawa barang-barangnya yang sedikit lari masuk ke

dalam sebuah bedeng yang telah penuh dengan tumpukan

kranjang lada.

Seorang penjaga memberi tempat berteduh pada mereka

di antara dua tumpukan kranjang sehingga terlindung dari

angin dan air.

Pada terheran-heran melihat tumpukan kranjang lada

sebanyak itu. Dan bedengnya bukan hanya sebuah. Tak

kurang dari sepuluh, terbuat dari kayu seluruhnya, dan

nampak belum lagi lama didirikan.

Dari cerita penjaga ia mengetahui, kapal-kapal Peranggi

akan datang mengambilnya. Lada itu tidak seluruhnya di

panen dari pedalaman. Lebih separoh dari Pajajaran dan

Banten setelah lolos dari blokade armada Jepara-Demak.

Lada tetap datang seperti dicurahkan. Panjang mendadak

jadi bandar ramai. Saudagar dari Sunda Kelapa, Banten dan

Cimanuk berlomba-lomba memindahkan kegiatannya di

sini dan mendirikan bedeng-bedeng gudang sendiri dan

rumah tinggal yang bagus di daerah pelabuhan. Dalam

kurang dari setahun Panjang akan telah sangat berubah.

Kemakmuran telah menarik orang-orang dari pedalaman

untuk bekerja di bandar sehingga pedalaman kekurangan 

tenaga untuk mengurusi pertanian dan panen lada. Beras

pun terpaksa dimasukkan dari tempat-tempat lain, dan

minyak, dan kacang-kacangan, dan tenunan, dengan harga

yang tinggi.

Pada tak habis-habis pikir mendengarkan betapa

kemakmuran bisa berpindah-pindah dari bandar yang satu

ke yang lain. Dan bila armada Jepara-Demak terus-menerus

menindas bandar-bandar lain dan membikinnya jadi bandar

tak bebas, Panjang bisa menggantikan Malaka atau Pasai.

Setelah berunding dengan istrinya mereka bersepakat

menunda pelayaran ke Malaka untuk melihat-lihat Panjang

lebih lama.

0o-dw-o0

Armada Portugis itu tak mau berkisar dari tujuan

semula, menolak berlindung di bandar Panjang.

Francisco de Sa, pemimpin armada, adalah seorang

muda berumur tiga puluhan, berwatak keras, giat dan

bernafsu untuk menjabat kedudukan tinggi. Ia meningkat

dengan cepat dari kelasi menjadi kepala setting, jurumudi,

wakil kapten, kapten, dan terakhir sekarang ini: pemimpin

armada.

Menurut perintah yang diterima ia harus memulai

pembangunan kantor dagang sekaligus benteng di Sunda

Kelapa selama setengah tahun dengan menurunkan serdadu

dan tukang. Kapal-kapalnya harus segera balik kembali ke

Malaka membawa lada dari Panjang.

Tetapi ia juga punya rencana pribadi. Ia akan selesaikan

pekerjaannya dalam tiga bulan di Sunda Kelapa. Yang tiga

bulan lagi akan dipergunakannya untuk membangun

kebesaran baru di Jawa, untuk diri sendiri dan untuk 

Portugis. Tanpa jalan demikian dirasainya sulit untuk bisa

jadi pemimpin Portugis di Asia yang berkedudukan di

Malaka.

Ia tak mengindahkan kekuatiran anak buahnya

sedangkan hujan angin kian mengganas dan gelombang pun

semakin menggunung. Satu mata taufan telah menerjang

armada dan menyeret beberapa kapal langsung ke jurusan

tenggara. Beberapa tiang kapal telah patah dengan layar

compang-camping. Laut yang ditekan taufan itu

menjompak naik jadi gunung-gumunung yang gulungbergulung. Beberapa kapal telah patah kemudi, dan tanpa

daya diseret terus dalam cengkeraman gelombang.

Taufan itu mendesak sampai separoh dalam laut,

menimbulkan alun yang semakin tinggi juga. Pulau-pulau

dari gugusan Seribu sebentar hilang sebentar timbul dari

balik puncak ombak. Dengan tenggelamnya surya alam pun

menjadi kelabu hitam. Curah hujan menyebabkan orang tak

bisa lagi melihat ke depan.

Semua layar telah digulung, tetapi deras angin

menghalau mereka ke selatan.

Hanya lentera-lentera kapal sayup-sayup menandakan

adanya manusia yang hidup di tengah laut itu. Dan lenteralentera itu nampak menyampaikan perintah-perintah dari

Francisco de Sa pada kapal-kapalnya yang tak

terkendalikan lagi. Ia berteriak-teriak, menghantamhantamkan kaki pada geladak, memaki dan menyumpah.

Tanpa guna. Taufan tak juga berhenti. Hujan semakin tebal

curahnya dan kilat sabung-menyabung merajai alam.

Bagi Francisco de Sa hanya peristiwa yang sekali ini saja

ia harus bisa atasi. Ada satu tahyul di dalam hatinya: bila

sekali ini ia gagal, semua cita-citanya selanjutnya akan

runtuh. Sekali bencana ini dapat dikalahkan, suatu 

kegemilangan tanpa batas sedang menunggu-nunggunya di

waktu dekat mendatang.

Tiga bulan! Hanya tiga bulan kerja di Sunda Kelapa!

Tiga bulan selebihnya adalah untuk kegiatan pribadi tapi

atas nama Portugis: pembalasan dendam atas Tuban yang

telah berani menghina beberapa tahun yang lalu.

Dalam pancaran kilat ia lihat armadanya cerai-berai, dan

dilihatnya juga kapal yang dikapteni oleh Duarte Coelho

telah menyelonong paling depan, kadang berputar dalam

mata taufan, kadang mendorong permukaan laut, kemudian

meluncur ke tenggara dengan buritan jadi haluan. Jelas

kemudinya telah patah dan tak ada satu tiang pun utuh.

Sebuah kapal lainnya berdiri dengan haluan di atas,

kemudian dalam kerjapan kilat nampak cepat menyelam ke

dasar laut dan tak muncul lagi. Beberapa puluh anak kapal

berapungan timbul-tenggelam di puncak-puncak ombak.

Petir menyambar. Sebuah kapal pecah, miring,

kemudian tenggelam.

“Jesus Maria!” sebutnya. “Pantang mundur! Maju terus!

Badai taufan bukanlah tanggungjawabku.”

Isyarat-isyaratnya memerintahkan: Maju terus!

0o-dw-o0

Kapal yang dikapteni oleh Duarte Coelho tak dapat

keluar dari cengkaman mata taufan. Seperti dalam cakar

kucing kapal itu kemudian terangkat ke udara dan terbang

dengan cepatnya. Waktu cengkaman agak kendor ia

menurun, menerjang kegelapan, menepis air dan terlempar

ke daratan, melindas pohon-pohon nyiur pantai, kemudian

jatuh di atas rawa-rawa dengan menumbangkan 

pepohonan. Air rawa itu menyembur ke atas dan lunas

kapal menancap pada dasarnya.

Kapal itu tak bergerak lagi dengan dinding pecah

berentakan, Manusia di dalamnya kehabisan daya, adalah

laksana jamblang kocok. Hanya seorang dua tak mengalami

cedera, itu pun hanya karena kebetulan.

Duarte Coelho sendiri tergeletak di geladak dengan

lengan patah. Namun ia masih mampu memberikan

perintah. Dan perintahnya yang terakhir terdengar adalah:

“Periksa kapal! Periksa di mana kita berada!”

Dua orang yang masih jaya terlongok-longok heran

melihat kapal tak lagi berada di atas laut. Di sekitarnya

hanya semak-semak rawa.

“Terdampar jauh di darat!” seorang di antaranya berseru.

“Sayang kapal sebagus ini.”

Dan mata taufan itu bergerak terus meninggalkan

mereka di tengah-tengah daerah rawa, tak sudi

mengembalikan ke laut lagi, terus menerjang daratan ke

jurusan tenggara.

“Terdampar jauh di darat!” pekik kelasi itu.

Tak ada yang menanggapi. Ia turun ke tanah. Matari

baru saja terbit. Ia punguti dan periksa pecahan dinding dan

melemparkannya ke tanah. Kemudian ia berdiri di atas

batang pohon kelapa rebah dengan akar-akarnya jadi

pengganjal kapal bersama dengan batang-batang pohon

lain.

‘Terdampar di tengah-tengah rawa!” serunya ke atas.

Juga tak ada sambutan.

Mereka naik lagi ke atas, langsung mendapatkan Duarte

Coelho yang pingsan tak sadarkan diri. 

0o-dw-o0

Prajurit-prajurit Demak yang bertugas menjaga

perbentengan mendengar seorang berteriak-teriak di

belakangnya, di daerah rawa-rawa. Ia berhenti dan

mendengarkan. Teriakan itu juga berhenti.

Daerah itu tak pernah dimasuki orang selama ini. Orang

gentar pada demam rawa yang membunuh. Maka ia lari

mendapatkan teman-temannya. Dan semua ragu-ragu.

Daerah itu juga menjadi sarang buaya besar. Dalam rawarawa dangkal demikian buaya sama saja berbahayanya baik

di air ataupun di darat. Monyet dari atas pohon yang tak

berbilang banyaknya mungkin juga akan menyulitkan bila

yang memasuki hanya beberapa orang saja. Seratus orang

kemudian masuk berbareng dengan tombak di tangan dan

pedang di pinggang. Dan mereka mendapatkan kapal

Portugis yang telah compang-camping tanpa tiang tanpa

layar. Mereka terdiam. Tak pernah melihat sebuah kapal

sebesar itu dapat mendarat begitu jauh dari laut. Hanya

seorang Portugis ia lihat bergerak di dalam kapal itu.

Kemudian seorang lagi.

Monyet pada memekik-mekik dan burung-burung

bernyanyi seperti lima ratus tahun yang lalu. Tak ada buaya

nampak di sekitar.

Mula-mula para prajurit berunding berbisik-bisik,

kemudian mendengar-dengar kan lagi. Tapi di atas kapal itu

sunyi saja. Seorang prajurit mengambil batu dan

melembarkan pada kapal Seorang Portugis muncul dan

menjenguk ke bawah, kemudian pergi lagi.

Peratus memerintahkan menyerbu. Mereka turun ke air,

langsung menuju ke kapal. Dan mereka tak dapat naik,

semua mendongakkan kepala ke atas. 

Barisan prajurit di belakang datang membawa batangbatang pohon yang habis ditebangnya. Orang mulai naik.

Dua orang Portugis dengan pedang di tangan menghantam

setiap orang yang paling atas naik pada batang kayu itu.

Dan melihat semakin banyak orang datang membawa

batang, mereka pun menggunakan musket dan menembaki.

Dari darat dilemparkan beberapa tombak, dan dua orang

Peranggi itu jatuh ke geladak. Seorang di antaranya

menukik dari atas dan kepalanya menancap pada lumpur

dasar rawa. Tinggal kakinya melengkung di atas air.

Seseorang menghantamkan pedangnya, dan tubuh itu

kemudian rebah.

Penyerbuan tiada yang menghalangi. Mereka mulai naik

ke geladak, menerobosi bingkahan dinding ke dalam paikah

dengan tombak dan pedang terhunus. Yang mereka

dapatkan hanya tubuh-tubuh Peranggi yang

bergelimpangan tanpa daya.

Tombak dan pedang menghabisi mereka tanpa

perlawanan. Dalam biliknya orang menemukan Duarte

Coelho dengan tangannya yang sehat mencoba memberikan

perlawanan. Pertarungan dengan pedang sebentar berlaku.

Baja beradu baja berdentingan sebentar kemudian padam

sama sekali. Sebilah tombak telah melumpuhkan Duarte

Coelho dari lambung. Ia jatuh terkapar.

Prajurit Demak bersorak-sorak di antara bangkai-bangkai

bergelimpangan.

Sebelum menghembuskan nafas penghabisan Duarte

Coelho masih sempat bicara dalam Melayu: “Kami datang

untuk bersahabat.”

Ia sudah tak mendengar lagi waktu prajurit Demak

menjawabinya. 

Tak antara lama seratus prajurit lagi datang. Seluruh

kapal compang-camping itu diperiksa. Semua benda

dikumpulkan di geladak termasuk sembilan pucuk meriam,

peluru dan mesiu, alat makan dan dapur, musket, perkakas

tukang, buku, persediaan bahan makanan, obat-obatan, alat

kebaktian, patung dan salib milik pribadi awak kapal.

Peratus itu memerintahkan menurunkan semua dan

mempersembahkan pada Fathillah. Demikian mereka

mengangkuti sambil bersorak-sorai melalui jalan setapak

yang baru diretas.

Sebagian dari para prajurit mendapat perintah membikin

jembatan untuk menurunkan meriam dan barang-barang

berat lain. Sebagian mendapat perintah membikin tali. Tapi

sebagian besar melakukan pengangkutan.

Daerah rawa yang biasanya tiada bermanusia itu kini

riuh-rendah. Monyet dan margasatwa pun beterbangan

melarikan diri. Asap mulai mengepul untuk menjerangkan

air minum dan makan siang.

Tengah hari Fathillah sendiri memerlukan datang dan

melakukan pemeriksaan ke seluruh kapal, sampai-sampai

pada kamar mandi dan kamar kecil. Ia tenggelam dalam

renungan, dan tiada seorang pun tahu apa sedang bergerak

dalam hatinya. Ia turun dari kapal dalam keadaan

tenggelam dalam pikirannya dan kembali ke bandar.

Orang menduga ia sedang melihat sendiri akibat dari

penanggulan pesisir bandar yang menghalangi pasang-surut

air di rawa-rawa. Sebagian terbesar tak punya dugaan

sesuatu, mabok mendapat jarahan.

Tak berapa lama ia pergi datang seratus orang prajurit

tambahan untuk melakukan kerja pengangkutan dan

melebarkan jalan setapak untuk dapat dilalui oleh barangbarang besar. 

Markas Fathillah berdiri di atas tanah yang tinggi

menghadapi tanah lapang.

Barang-barang jarahan ditumpuk di depan rumah ini.

Dalam waktu pendek orang datang berduyun-duyun untuk

melihat-lihat barang aneh, sebagian tak jelas apa gunanya.

Fathillah berjalan mondar-mandir dalam markasnya

menunggu datangnya meriam-meriam rampasan. Tetapi

barang-barang berat itu hanya dengan susah-payah saja bisa

melintasi daerah rawa bertanah lunak bercampur hancuran

luruhan dedaunan.

Waktu musket-musket datang ia keluar dari markas dan

memerintahkan membongkarnya dari ikatan.

Diperintahkannya datang pasukan pengawalnya dan

membagi-bagikannya pada mereka, kemudian sendiri

memberikan petunjuk bagaimana menggunakannya. Dua

ratus pucuk telah dirampas pada hari itu.

Seorang prajurit mempersembahkan padanya sebuah

bola dunia dan ia menerima persembahan itu dengan kaki

dan menendangnya. Dunia menggelinding dan berhenti

pada kaki seorang prajurit, tanpa jagang.

Prajurit, yang menduga bola itu barang sihir, melompat

kecut. Ketakutan menyebabkan wajahnya nampak jadi

ungu.

‘Tendang!” perintah Fathillah.

Bola itu ditendang oleh prajurit lain lagi, menggelinding

dan menggelinding, ditendang dan ditendang. Waktu jatuh

ke laut benda itu telah penyek.

Sebuah teropong yang dihadapkan segera diambil oleh

Fathillah. Ia memeriksanya sebentar kemudian

menggunakannya untuk meneropong laut lepas. Benda itu

ia panjang-pendekkan. la lepas. Dikocoknya matanya. 

Menggeleng dan meneropong lagi. Kembali benda itu

diperiksanya, kemudian dipendek-panjangkan. Meneropong

lagi ke laut lepas. Kemudian melihat dengan mata telanjang

pada ke jauhan dan meneropong lagi.

Ia berpikir sebentar. Kemudian bertanya pada pengiring

yang berdiri di belakangnya; dalam Melayu: “Coba lihat

sana, benarkah yang aku lihat dengan teropong terkutuk

ini?”

“Ada patik lihat, Gusti, tapi tidak jelas,” jawab pengiring

itu, juga dalam Melayu.

“Apa yang kau lihat?”

“Beberapa titik putih. Gusti.”

“Coba dengan ini.”

Pengiring itu mengenakan teropong, melepas dan

mengenakannya kembali, melepas dan memeriksa kacakaca teropong, kemudian meninjau dengan mata telanjang

dan mengenakannya lagi.

“Apa kau lihat?”

“Tiga kapal asing, Gusti, dengan teropong ini.”

Fathillah mengambil teropong itu dan mengenakannya.

Kemudian dipanggilnya seorang lagi dan disuruhnya

melihat ke kejauhan, setelah itu disuruhnya dengan

teropong.

“Dengan barang ini muncul tiga kapal asing, Gusti,

sedang menuju ke Sunda Kelapa.”

“Pengangkutan meriam supaya lebih cepat!” perintahnya

pada yang lain.

Dan meriam yang sudah ada ia perintahkan dipasang di

belakang bentengan kayu bakau-bakau. 

“Dan peluru dan mesiunya. Cepat! Tambah tiga ratus

prajurit lagi untuk mengangkut!” perintahnya pada seorang

peratus Demak.

Orang itu lari untuk menjalankan perintah.

Lima pucuk meriam telah terpasang di balik bentengan.

Fathillah sendiri memberi petunjuk cara menggunakan

sebagaimana pernah didengar-dengamya dari Arabia dan

Mesir. Peluru dan mesiu di bagi-bagikan dari tangan ke

tangan.

Fathillah melarang siapa pun melakukan serangan tanpa

perintah, la menghendaki pertempuran di darat untuk dapat

merampas semua kapal Portugis yang datang dan

merencanakan penyergapan tapal kuda jarak beberapa ratus

depa.

“Hentikan pengangkutan!” seorang peratus meneruskan

perintah Fathillah. “Siapkan pedang dan tombak.”

Moncong-moncong meriam rampasan telah ditujukan

pada sisa armada Francisco de Sa yang mendatangi. Semua

terlindung oleh semak-semak asli dan buatan. Dan semua

orang berbesar hati dengan adanya meriam.

Dengan teropong di tangan Fathillah melakukan

pemeriksaan di seluruh medan dengan berjalan kaki.

Sebentar lagi, ya sebentar lagi, hari ini juga, kapal-kapal

itu akan terampas dengan seluruh isinya, dan anakbuahnya

tumpas.

Panglima-Laksamana-Gubernur meneropong dan

meneropong. Betapa lama rasanya. Dan kapal-kapal itu

semakin lama semakin membesar. Juga nyamuk semakin

giat menyerang mereka yang bersiaga dalam keadaan diam.

Betapa lama. Dan memang lama. 

Kapal-kapal itu ternyata tidak memasuki muara

Ciliwung. Tiga-tiganya membuang sauh jauh dari darat.

Lama, lama sekali rasanya, baru kemudian mereka

menurun-nurunkan sekoci. Mereka yang melayani meriam

tanpa pernah berlatih telah gatal tangan untuk segera

menembak. Mereka yang mendapat pembagian musket juga

tanpa pernah berlatih telah gelisah. Setidak-tidaknya

balatentara Jepara-Demak sedang dalam semangat tinggi.

Kapal-kapal mulai menuangkan prajuritnya ke semua

sekoci, dan beriringan seperti itik menuju ke muara

Ciliwung. Setiap orang menyandang musket panjang.

Duduk pada dasar sekoci musket mereka menggermang ke

atas, lebih tinggi dari kepala mereka. Dari tempatnya yang

terlindung Fathillah meneropong. “Mereka turun ke sekoci

dengan tangga tali’ ia memperingatkan. “Hati-hati. Mereka

kelihatan lelah. Biarpun begitu, awas. Peranggi tetap

Peranggi. Tak seorang pun bakal menyerah tanpa berkelahi.

Mereka lebih suka tewas daripada bertekuk lutut. Jangan

gegabah. Kita akan sergap tepat pada waktunya’

Serdadu-serdadu Portugis itu diturunkan di tepian muara

Ciliwung. Sekoci-sekoci kembali lagi ke kapal untuk

meneruskan pendaratan.

“Awasi setiap gerak-geraknya,” Fathillah menekan

kekecewaan karena yang turun mendarat seluruhnya hanya

berjumlah delapan puluh orang. Kapal-kapal di sana itu

tetap terjaga dari dalam.

Dari teropongnya ia melihat meriam-meriam kapal

ditujukan ke darat. Mereka mengambil jarak di luar daya

tembak cetbang.

“Mereka yang mendarat harus ditumpas. Kapal-kapalnya

kemudian ditembaki, tenggelam atau lan tersapu.” 

Dari teropong itu juga nampak olehnya seorang tidak

bersenapan serba putih. Berbeda dari yang lain, topinya

dihias dengan jumbai-jumbai kuning dan pada dadanya

terhias selempang merah Itulah Francisco de Sa.

Serdadu-serdadu yang telah turun mulai dibariskan.

Francisco de Sa berjalan dalam iringan tiga orang.

Kemudian seluruh bansan itu mengiringinya. Mereka

menuju ke lapangan bandar. Dan bansan itu berhenti.

Francisco de Sa berhenti, meninjau ke segala penjuru.

Nampaknya ia heran tak melihat seorang pun. Tak ada

orang bekerja, tak ada yang jalan-jalan. la pun tak tahu

sama sekali Sunda Kelapa sudah jatuh dan tangan Pajajaran

pada Demak, la berjalan beberapa belas depa ke depan, ke

samping, kemudian kembali ke barisan.

Dengan iringan tiga orang ia kembali ke tepi Ciliwung,

ke muara. Ia mulai perhatikan perahu-perahu yang

tertambat, semua tanpa manusia. Dan sekoci-sekocinya

tercancang rapi seperti susunan ikan. Semua tanpa manusia.

la kembali lagi pada barisan.

Seorang pengiring memberikan pikiran padanya,

mungkin penduduk Sunda Kelapa masih ketakutan pada

taufan dan melarikan diri ke pegunungan. De Sa

membantah, karena bukan adat pelaut lari dari angin.

Mungkin sedang merayakan pesta di pedalaman.

Seorang pengiring lain menyarankan untuk membawa

naik pasukan ke Pajajaran. Ia menggeleng. Ia tak mau

kehilangan terlalu banyak waktu. Ia hanya bisa memberikan

jatah tiga bulan. Maka ia menghendaki segera bertemu

dengan Pangeran Sunda Kelapa, Gubernur bandar, untuk

segera bisa memulai pekerjaan. Dan bila pertemuan tak

mungkin, pekerjaan akan dimulai tanpa sepengetahuan

Sang Gubernur. 

Dan di mana pula Syahbandar?

Dari pengalaman di Tuban ia mengerti, bila seorang

Syahbandar tak datang menyambut sewaktu Portugis

datang, pasti ada sesuatu yang tidak beres.

Di mana Syahbandar?

Bahkan jalan-jalan sampai yang sekecil-kecilnya pun

tinggal lengang tak bermanusia.

Tak tahan terkepung oleh kesenyapan Francisco de Sa

menjadi penasaran. Ia berjalan cepat menuju ke kantor

Syahbandar dan berteriak kencang; tangan dicorongkan

pada mulut: “Syahbandar! Syahbandar!”

Hanya deburan laut jua yang menjawab.

Ia memberikan perintah agar pasukannya bergerak maju.

Dan majulah pasukan kecil itu. Semua berbaris menuju ke

tempat kantor Syahbandar, kemudian membelok ke kanan

menuju ke tempat tugu perjanjian Portugis-Pajajaran.

Francisco de Sa menjadi murka melihat tugu itu telah

hancur dan tinggal puntungnya di atas landasan batu segi

empat. Ia selidiki luka pada Ipatahan batu itu dan

mengetahui belum lama berselang suatu perusakan dengan

senjata telah dilakukan oleh orang: suatu kekuatan telah

menantang perjanjian itu. Ia perintahkan pasukannya siap

tempur.

Semua yang terjadi diikuti oleh Fathillah dari teropong

rampasan.

Pasukan kecil Portugis itu bersiap-siap untuk balik ke

laut sambil siaga berbaris mundur menghadap ke daratan

menuju ke tempat sekoci.

Francisco de Sa menarik pandang tinggi, memekik. 

Dari balik semak-semak pasukan Demak bersorak-sorak

sambil melemparkan tombak. Musket Demak tak ada

sepucuk pun meledak. Contoh penggunaan yang diberikan

oleh Fathillah ternyata tidak kena.

Prajurit-prajurit Portugis memencar barisan.

Tembakannya mulai terdengar. Mula-mula satu-satu,

kemudian bergelombang-gelombang. Semburan pelurunya

beterbangan dan berjatuhan menjadi hujan logam.

Meriam rampasan mulai berdentaman dari balik semaksemak dan tanggul. Pelurunya beterbangan ke arah kapalkapal Portugis. Tangan-tangan tak terlatih itu

menghamburkan peluru tanpa mengenai sasaran.

Prajurit-prajurit Demak sudah mulai bergelimpangan.

Fathillah segera mengerti, pertempuran jarak jauh akan

menguntungkan Portugis. Dengan jarak dekat mereka

takkan segera dapat menyiapkan senjatanya. Ia perintahkan

pelemparan tombak terus-menerus sambil menerjang maju.

Dengan pedang di tangan ia pimpin sendiri penyergapan.

Jubah putih dan ujung-ujung destar putihnya berkibar-kibar

dalam puputan angin seperti melambai-lambai pada

barisannya.

Pasukan Portugis menyelamatkan Francisco de Sa di

tengah-tengahnya sambil terus mundur ke jurusan

Ciliwung. Mereka sama sekali tidak bersorak-sorak. Hanya

terdengar aba-aba dari seorang saja, dan suaranya nyaring,

keras, dan dengan pedang dilambai-lambaikan ke udara.

Mereka yang roboh terkena tombak ditinggalkan dalam

gerakan mundur. Tak seorang pun korban mereka bawa.

Dari seberang Ciliwung tentara Demak mulai bersoraksorak menuju ke sasaran. Melihat sedang di tapalkuda

pasukan Portugis melepaskan tembakan sekali lagi dan

buyar berebut dulu turun ke sekoci masing-masing. Yang 

tak mendapat tempat melompat dalam sampan dan perahu

penduduk.

Dari seberang tentara Demak mulai menaiki biduk juga

dan mengejar, dan melemparkan tombak dan melepaskan

anak panah. Portugis membalas dengan tembakantembakan sehingga para pengejar dipaksa berhenti dan

tinggal hanya bersorak-sorak seperti menghalau babi hutan.

Tak sebuah pun sekoci Portugis tertinggal. Mereka

mendayung berpencaran melalui peluru meriam Demak

yang berjatuhan di laut. Satu-dua di antara peluru-peluru itu

telah mengenai salah satu di antaranya, oleng, dan

penumpangnya berlompatan ke laut.

Dari teropongnya Fathillah melihat Francisco de Sa tetap

berdiri di atas biduk, bertelekun pada hulu pedang dan

matanya terpaku pada Sunda Kelapa. Wajahnya merah

padam karena murka. Dan nampaknya ia tak tahu apa

harus diperbuatnya.

Meriam-meriam kapal tak dapat leluasa menembak,

takut mengenai teman-temannya sendiri.

Francisco de Sa mengetahui usahanya gagal, la tak

berani mendaratkan pasukannya.

22 Juni 1527

Dengan masih meneropong Fathillah mengatakan,

seakan sudah seia dengan Wiranggaleng: “Mereka takkan

datangi lagi tempat di mana mereka pernah dikalahkan.”

Biduk-biduk itu telah sampai di kapal masing-masing.

Mereka bemaikan dari tangga tali. Dan sesuatu yang

mengherankan telah terjadi: Portugis tak melepaskan satu

peluru pun dari meriam-meriamnya. 

Sauh-sauh diangkat. Layar dipasang, dan berlayarlah sisa

armada yang habis diterjang taufan dan dihalau Fathillah

itu menuju ke timur, menjauhi pesisir pulau Jawa.

Tentara Jepara-Demak bersorak-sorai dalam

kegembiraannya. Walau banyak korban jatuh, mereka pun

telah pernah menghadapi Peranggi le-lananging jagad

dalam suatu pertempuran sesungguhnya. Perasaan rendah

takut pada Peranggi yang dahsyat itu tiba-tiba menjadi

pudar Peranggi ternyata memang hanya manusia biasa yang

dapat juga dihalau.

Di tengah-tengah pasukannya sendiri Fathillah

mengumumkan: “Dengan nama Allah yang Maha Pemurah

dan Maha Pengasih, pada hari ini dengan kekuatan yang

dilimpahkan-Nya pada kita, kita telah halau Peranggi ke

laut. Insya Allah mereka takkan menginjakkan kaki lagi di

bumi kita ini. Sebagai peringatan atas peristiwa ini, aku

nyatakan bandar ini berganti nama, dan menjadilah

Jayakarta. Jaya pada awal dan kemudiannya, karta untuk

selama-lamanya.”

Berita penghalauan Portugis dari Sunda Kelapa dan

terdamparnya kapalnya di rawa-rawa, segera terdengar di

Panjang. Di mana-mana terbentuk gerombolan orang yang

membicarakannya dengan bersemangat.

Tetapi saudagar-saudagar lada berkabung: lada mereka

tetap tertumpuk di bedeng-bedeng.

Untuk dapat memberitakan pada Wiranggaleng dengan

lebih jelas Pada memutuskan untuk sekali lagi menunda

keberangkatannya ke Malaka. Dan istrinya menyambut

putusannya tanpa bicara. Maka dengan istrinya setiap hari

ia bergelandangan di bandar kecil yang mendadak

kehilangan kegembiraannya itu.

Berita Portugis akan mengambil lada tak terdengar lagi. 

Berita lain datang menyusul: sisa armada Portugis itu

berlayar terus ke timur dengan menghindari setiap

pertemuan dengan armada Jepara-Demak.

Maka waktu berita itu sampai ke Teluk Bayur, kapalkapal Parsi, Arab, Benggala, yang masih ragu-ragu hendak

meneruskan pelayarannya ke selatan mengangkat sauh,

berebut cepat mendapatkan lada di Panjang.

Saudagar-saudagar lada di Panjang melepas barangnya

sedapat ia jual.

Pada dan Sabarini bekerja memunggah lada untuk

penghidupannya. Maka ia tahu harganya tidak setinggi

biasanya. Mungkin juga Peranggi berjanji hendak

mengambilnya dengan harga lebih mahal.

Waktu kapal-kapal berangkat lagi, ternyata masih terlalu

banyak tumpukan lada yang belum terjual. Bandar kembali

jadi senyap. Perahu-perahu layar Pribumi mulai membeli

sisa itu dan mengangkutnya ke Pasai atau Malaka. Dengan

lada bandar-bandar dalam kekuasaan Portugis selalu

terbuka.

Dengan habisnya lada dan kosongnya bedeng-bedeng,

kembali Pada dan Sabarini tak mempunyai suatu pekerjaan

tertentu. Berdua mereka tinggal di bandar dengan kegiatan

hanya mendengar-dengarkan berita. Pada suatu hari dalam

kehidupannya seperti ini datang sebuah perahu layar dari

Madura, membawa berita, bahwa bandar Banten dan

Jayakarta untuk ke dua kalinya telah dinyatakan sebagai

bandar bebas oleh Fathillah. Memang perahu-perahu mulai

berdatangan, tetapi tidak untuk berdagang, hanya untuk

mendapatkan air dan beras dan sayuran.

Dan waktu orang bertanya bagaimana keadaan bandar

Cimanuk sekarang, nakhoda perahu Madura itu sambil

melompat ke darat berkata dengan suara lantang: ‘Tetap, 

belum dinyatakan bebas. Tak ada perdagangan di sana.

Jangan kalian coba-coba ke sana. Bisa dirayah oleh

serdadu-serdadu itu.”

Orang-orang merubungnya. Dan Pada bertanya: “Tidak

bertemu dengan armada Peranggi?”

“Alhamdulillah, kami selamat Yang lain-lain tak dapat

menghindarkan diri. Mereka seperti kerbau gila, bedebah

terkutuk itu. Tidak puas hanya membajak. Semua orang

dari Tuban dan Demak dan Jepara dibunuh,” Nakhoda

Madura itu menjawab sambil memilin kumisnya yang tebal.

“Di mana bertemu dengan mereka?”

“Di atas Juana.”

“Jadi mereka tak mendarat di Jepara?”

“Tidak. Setelah Juana mereka mulai mendekati pantai.

Tapi mereka terus ke jurusan timur.”

“Ke Blambangan barangkali?”

“Boleh jadi. Setidak-tidaknya memasuki wilayah Demak

mereka tidak berani.” Berita itu tidak lengkap dan belum

tentu benar. Pada belum lagi puas. Ia masih harus

menunggu.

Kapal-kapal dari Atas Angin berdatangan lagi melalui

barat Sumatra. Dan Portugis tak kunjung tiba. Lada yang

didatangkan oleh para penyelundup dari luar bandar-bandar

dalam kekuasaan Demak memang terus berdatangan, tetapi

jumlahnya tidak mencukupi untuk memenuhi permintaan.

Harga menjadi sangat tinggi. Memang penjualan berjalan

sangat cepat, persediaan habis, tetapi keadaan tidak

menguntungkan Panjang. Kapal-kapal itu meneruskan

perjalanan ke tenggara, ke Jayakar-ta dan Banten sendiri. 

Nampaknya Fathillah kini berhasil dengan pembebasan

bandar-bandarnya. Kapal-kapal Atas Angin mulai tersedot

ke sana. Akibatnya bandar Panjang surut menjadi sepi

seperti semula. Akibat selanjurnya: pekerja-pekerja bandar

tak punya pekerjaan lagi. Mereka kembali naik ke

pedalaman untuk mengurus lada. Pada dan Sabarini ikut

saja dengan arus, memasuki pedalaman dan mencari

penghidupan seperti yang lain-lain.

Sebuah berita hebat telah pecah, mengabarkan Portugis

akan datang mengambil lada yang telah dijanjikan. Orang

pun berbondong-bondong turun ke bandar Panjang.

Pedagang-pedagang lada sedang sibuk mengangkuti barangbarangnya untuk melarikan diri dari bandar. Tiadanya

persediaan lada akan menyebabkan Portugis bakal

melakukan pembalasan dendam terhadap seluruh bandar.

Penduduk lainnya juga sedang siap-siap untuk mengungsi.

Waktu Pada dan Sabarini sampai, yang mereka dapatkan

adalah sebuah perahu layar Bali. Awak perahu segera

dirubung orang untuk mendapatkan beritanya.

“Kami takkan dapatkan lada di Tuban,” katanya. “Ke

Jayakarta dan Banten kami takut. Kami bukan Islam. Maka

kami cari lada ke mari. Lagi pula, kata orang, harga lada di

sana terlalu tinggi, maka kami terus ke mari.”

Mendengar Tuban disebut-sebut Pada mendesak ke

depan dan bertanya: “Apakah Peranggi tidak mendarat di

Tuban?”

“Takkan didapatkan sesuatu di Tuban. Mereka mendarat

dan mengamuk di sana.”

“Siapa mereka? Maksudmu Peranggi?”

“Siapa lagi kalau bukan Peranggi?”

“Bukankah Tuban sudah jadi daerah Demak?” 

‘Tidak. Hanya sehari Demak memasuki Tuban. Mereka

diusir keluar lagi oleh pasukan kuda dan gajah, jatuh lagi ke

tangan balatentara Tuban. Pada waktu itulah Peranggi

masuk.”

“Jelas Peranggi sudah menguasai Tuban?”

“Setidak-tidaknya begitulah yang kami dengar.”

“Jadi bagaimana halnya dengan balatentara Tuban dan

Demak?”

“Tuban mengundurkan diri ke luar kota. Demak tidak

meneruskan serangannya ke Tuban.”

“Jadi Tuban kena keroyok?”

“Boleh jadi begitu jadinya.”

Pada menarik tangan istrinya dan diajaknya pergi.

Mereka memasuki bedeng kosong dan berdiri diam-diam

mengawasi laut, memperhatikan perahu mereka yang sudah

lama tiada mereka pergunakan.

“Sabarini, selesailah sudah urusan kita di Panjang ini.

Kita akan teruskan pelayaran.”

“Karena berita-berita itu?”

“Karena berita-berita itu, Sabarini.”

“Bukankah belum tentu semua itu benar?”

“Seorang nakhoda selamanya bicara benar. Kalau tidak

dia akan jadi tertawaan di setiap bandar, penghidupannya

akan mati.”


..................................


Novel Arus Balikk Bab 1 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.

Bagaiman Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 1 Disini


Novel Arus Balik bab 1 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Arus Balik menceritakan tentang kisah Kedatangan Portugis di Bumi Nusantara dengan latar awal Abad XVI, yaitu ketika surutnya pengaruh Majapahit dan naiknya pamor Kesultanan Demak.


Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Arus Balikk Bab 1 Bahasa Indonesia Sekarang ini. 



..................................


37. Panjang – Jayakarta

Bulan Juli 1527

Pengantin baru itu sengaja hendak menikmati pelayaran

melalui kepulauan Seribu, gugusan pulau yang tersebar

antara Jawa dan Sumatra. Layar mereka gulung dan

keduanya mendayung dari pulau ke pulau. Tak ada bajak di

daerah perairan sini. Semua lari menghindarkan diri dari

armada Jepara-Demak.

Di hadapan mereka nampak gunung-gemunung pulau

Sumatra, di belakang mereka gunung-gemunung pulau

Jawa, berlapis-lapis tertimpa sinar surya dari sebelah barat.

Kebetulan laut pun sedang tenang. Air nampak biru

dengan ombak kecil-kecil yang riang bermain pada

permukaan. Kail yang dipasang pada buritan antara

sebentar menghasilkan ikan ekor kuning, sedang yang 

dipasangi dengan baling-baling bulu ayam putih

menghasilkan layur.

Bila mereka lapar, singgahlah mereka di salah sebuah

pulau, bertanak nasi, berkasih dan bercumbu, tanpa seorang

pun mengganggu. Untuk itu sengaja mereka pilih pulau

kecil tanpa penduduk. Dunia berisikan kesukaan semata.

Dan sampai sejauh itu Sabarini tak juga pernah bertanya

hendak ke mana. la pun tak pernah mabuk laut Ia bicara

hanya bila ditanyai. Bila naik lagi ke atas perahu, tanpa

diminta segera ambil dayung dan mulai mengayuh.

Dengan demikian pulau demi pulau disinggahi atau

dilewati. “Mengapa kau tak pernah bercerita?”

Sabarini berhenti mendayung, menciduk air laut dengan

tangan, memandanginya sambil tersenyum dan membuang

muka. Ia mulai mendayung lagi. Wajahnya kemerahmerahan seperti buah tomat menjelang matang.

“Tentu karena ingat pada rumah,” desak Pada. “Mereka

sekarang tak ada di rumah lagi, Gusti,” jawabnya dengan

suara dan lagu menyanyi bening itu. “Mereka semua telah

melarikan diri masuk ke hutan-hutan.”

“Ya, Gusti, karena kita lari. Mereka akan menerima

hukuman dari Sri Baginda. Karena patik lari. Mereka akan

dihukum oleh Sang Patih Narogol.”

“Mereka akan dapat menangkap kasut kami.”

Sabarini mendengus tertawa.

“Betapa besar dosaku pada mereka.”

Sabarini mengayuh cepat-cepat.

“Bagaimana harus kutebus dosa kita?” Pada bertanya. 

“Tidak perlu. Gusti. Bapak sahaya sendiri yang bersalah.

Jangan jadi fikiran, Gusti. Mereka akan lari ke hutan-hutan,

berkumpul di sana dan mencari tempat baru untuk hidup –

tempat yang sekiranya takkan diketahui oleh Sri Baginda.

Kalau mereka tak suka membuka hutan, barangkali mereka

akan turun ke Sunda Kelapa.”

“Nampaknya kau tak berprihatin.”

“Bukankah sudah cukup lama patik berprihatin?”

“Cukup lama. Coba ceritakan, istriku.”

“Ya Gusti,” Sabarini mulai suka bicara. “Di desa kami

gadis-gadis dikawinkan pada umur yang masih sangat

muda. Kadang-kadang baru tiga tahun. Orangtuanya takut

kalau-kalau anak-gadisnya dirampas para ningrat dan

dibawa ke Pakuan. Patik sendiri tumbuh jadi gadis tua

karena ketentuan putra Sang Narogol. Perjaka-perjaka tak

berani melamar patik. Orang memandang patik dengan

belas-kasihan semata. Semua orang tahu nasib buruk

seorang selir.”

Pada mendengarkan suara bening istrinya yang

bernyanyi. Itulah untuk pertama kali Sabarini bicara

sebanyak itu. Ia mengangguk-angguk memberanikan.

Suaranya bernyanyi lagi. Terdengar olehnya jauh lebih

indah daripada kebenaran yang terkandung di dalamnya:

“Mereka akan ikut berbahagia dengan kebahagiaan kita,

Gusti. Janganlah Gusti menjadi risau. Semua akan

bersyukur bila ada seorang calon selir berani lari dengan

seseorang yang dicintainya. Semua akan bersedia

membantu dan melindungi dan berkorban – tahu mereka

bakal mati di ujung tombak. Gusti sama sekali tak berdosa

pada mereka.”

“Sabarini, istriku, sekiranya kau benar, mengapa kau tak

suka bicara seperti orang-orang lain?” 

Mata gadis itu bersinar dan bibirnya tersenyum.

Kemudian menunduk malu.

“Apa yang menjadikan kau malu pada suami sendiri, di

tengah laut tanpa saksi begini?”

“Ah, Gusti, Gusti tidak tahu bagaimana perasaan patik.

Bagaimanakah patik harus lewatkan kebahagiaan ini

dengan hanya bicara?”

“Stt. Mulai sekarang, jangan panggil aku Gusti.”

Sabarini memandanginya bersungguh-sungguh. “Sekarang

ceritakan tentang kebahagiaanmu.”

Dan berceritalah gadis itu tentang asal-muasal

kelahirannya, dan tentang kepala desa serta seluruh

penduduk desa yang tak berani mempersembahkan dudukperkara kelahirannya pada Patih Narogol. Betapa ia

menderita sebagai calon selir saudaranya sendiri. Maka ia

bertekad melatih ilmu berkelahi. Bila toh takkan ada orang

yang berani membela dan melindunginya, ia akan membela

dan melindungi dirinya sendiri.

“Apabila patik berhasil dalam usaha patik,” Sabarini

meneruskan, “patik akan mengembara jauh, jauh entah ke

mana, asal keluar dari negeri Pajajaran. Patik lulus,

kemudian datang seorang pangeran dari Jepara, yang

sekarang memperistri patik. Pangeran itu harus lari dari

kejaran tentara Pajajaran. Patik pun akan jadi orang

kejaran. Mengapalah patik takkan lari dengannya?”

Pada tertawa senang dan berbahagia mendengar cerita di

mana keputusan cepat dalam keadaan berbahaya harus

diambil. Dan keputusan itu juga diambil secara tepat Dan

tidak lain dari Sabarini yang berjasa.

“Begitulah Allah mempertemukan kita. Segala pujipujian untukNya semata, Sabarini. Aku merasa berbahagia 

bila kau berbahagia, janganlah sebut dirimu Patik.

Terganggu perasaanku mendengar itu. “Aku sama sekali

bukan seorang pangeran”.

Pada memperhatikan perubahan pada airmuka istrinya.

Dan perubahan itu ternyata tak ada. Ia terheran-heran,

dianggapnya perempuan itu tak begitu mendengarkan.

“Aku sama sekali bukan seorang pangeran,” ia

mengulangi.

“Apakah bedanya suamiku seorang pangeran atau tidak?

Seorang pangeran takkan mengindahkan istrinya

sebagaimana suamiku mengindahkan diriku’

Pada agak kecewa melihat Sabarini tidak terkejut

“Sabarini lebih suka kalau suaminya seorang petani

biasa, karena seorang petani hanya sederhana, tidak

ditingkah oleh seribu nafsu. Aku, dan kami semua tahu

tingkah kaum ningrat. Maka aku tahu suamiku tidak

bertingkah, tidak berbahasa seperti mereka. Sejak semula

kulihat, tamu agung itu, itu sudah aku lihat ia seorang

orang biasa dalam pakaian kebesaran.”

“Sabarini!” gumam Pada setelah mendengar begitu

banyak kata tercurah. “lihat, bandar Panjang sudah mulai

nampak. Sebentar lagi kita akan menginjakkan kaki di bumi

Sumatra.”

Matari mulai tenggelam. Awan hitam bergumpal-gumpal

muncul dari balik-balik gunung di daratan Sumatra. Angin

kencang mulai bertiup seperti dihembuskan oleh mulut

raksasa gaib. Alam yang tenang tiba-tiba berubah

mengancam. Guruh mengaum dari kejauhan dan kilat sambar-menyambar di cakrawala. 

Beberapa noktah dengan puncak-puncak keputihan

terpancari sisa sinar matari nampak di kejauhan, di tentang

kaki langit.

“Armada Peranggi,” gumam Pada. “Ayoh, dayung

cepat.”

Mereka mendayung cepat-cepat memasuki pelabuhan

Panjang. Dan bersamaan dengan itu badai taufan mulai

mengamuk sejadinya. Hujan jatuh mendadak bercampur

angin seperti langsung dilemparkan dari langit.

Setelah mencancang perahu pengantin baru itu dengan

membawa barang-barangnya yang sedikit lari masuk ke

dalam sebuah bedeng yang telah penuh dengan tumpukan

kranjang lada.

Seorang penjaga memberi tempat berteduh pada mereka

di antara dua tumpukan kranjang sehingga terlindung dari

angin dan air.

Pada terheran-heran melihat tumpukan kranjang lada

sebanyak itu. Dan bedengnya bukan hanya sebuah. Tak

kurang dari sepuluh, terbuat dari kayu seluruhnya, dan

nampak belum lagi lama didirikan.

Dari cerita penjaga ia mengetahui, kapal-kapal Peranggi

akan datang mengambilnya. Lada itu tidak seluruhnya di

panen dari pedalaman. Lebih separoh dari Pajajaran dan

Banten setelah lolos dari blokade armada Jepara-Demak.

Lada tetap datang seperti dicurahkan. Panjang mendadak

jadi bandar ramai. Saudagar dari Sunda Kelapa, Banten dan

Cimanuk berlomba-lomba memindahkan kegiatannya di

sini dan mendirikan bedeng-bedeng gudang sendiri dan

rumah tinggal yang bagus di daerah pelabuhan. Dalam

kurang dari setahun Panjang akan telah sangat berubah.

Kemakmuran telah menarik orang-orang dari pedalaman

untuk bekerja di bandar sehingga pedalaman kekurangan 

tenaga untuk mengurusi pertanian dan panen lada. Beras

pun terpaksa dimasukkan dari tempat-tempat lain, dan

minyak, dan kacang-kacangan, dan tenunan, dengan harga

yang tinggi.

Pada tak habis-habis pikir mendengarkan betapa

kemakmuran bisa berpindah-pindah dari bandar yang satu

ke yang lain. Dan bila armada Jepara-Demak terus-menerus

menindas bandar-bandar lain dan membikinnya jadi bandar

tak bebas, Panjang bisa menggantikan Malaka atau Pasai.

Setelah berunding dengan istrinya mereka bersepakat

menunda pelayaran ke Malaka untuk melihat-lihat Panjang

lebih lama.

0o-dw-o0

Armada Portugis itu tak mau berkisar dari tujuan

semula, menolak berlindung di bandar Panjang.

Francisco de Sa, pemimpin armada, adalah seorang

muda berumur tiga puluhan, berwatak keras, giat dan

bernafsu untuk menjabat kedudukan tinggi. Ia meningkat

dengan cepat dari kelasi menjadi kepala setting, jurumudi,

wakil kapten, kapten, dan terakhir sekarang ini: pemimpin

armada.

Menurut perintah yang diterima ia harus memulai

pembangunan kantor dagang sekaligus benteng di Sunda

Kelapa selama setengah tahun dengan menurunkan serdadu

dan tukang. Kapal-kapalnya harus segera balik kembali ke

Malaka membawa lada dari Panjang.

Tetapi ia juga punya rencana pribadi. Ia akan selesaikan

pekerjaannya dalam tiga bulan di Sunda Kelapa. Yang tiga

bulan lagi akan dipergunakannya untuk membangun

kebesaran baru di Jawa, untuk diri sendiri dan untuk 

Portugis. Tanpa jalan demikian dirasainya sulit untuk bisa

jadi pemimpin Portugis di Asia yang berkedudukan di

Malaka.

Ia tak mengindahkan kekuatiran anak buahnya

sedangkan hujan angin kian mengganas dan gelombang pun

semakin menggunung. Satu mata taufan telah menerjang

armada dan menyeret beberapa kapal langsung ke jurusan

tenggara. Beberapa tiang kapal telah patah dengan layar

compang-camping. Laut yang ditekan taufan itu

menjompak naik jadi gunung-gumunung yang gulungbergulung. Beberapa kapal telah patah kemudi, dan tanpa

daya diseret terus dalam cengkeraman gelombang.

Taufan itu mendesak sampai separoh dalam laut,

menimbulkan alun yang semakin tinggi juga. Pulau-pulau

dari gugusan Seribu sebentar hilang sebentar timbul dari

balik puncak ombak. Dengan tenggelamnya surya alam pun

menjadi kelabu hitam. Curah hujan menyebabkan orang tak

bisa lagi melihat ke depan.

Semua layar telah digulung, tetapi deras angin

menghalau mereka ke selatan.

Hanya lentera-lentera kapal sayup-sayup menandakan

adanya manusia yang hidup di tengah laut itu. Dan lenteralentera itu nampak menyampaikan perintah-perintah dari

Francisco de Sa pada kapal-kapalnya yang tak

terkendalikan lagi. Ia berteriak-teriak, menghantamhantamkan kaki pada geladak, memaki dan menyumpah.

Tanpa guna. Taufan tak juga berhenti. Hujan semakin tebal

curahnya dan kilat sabung-menyabung merajai alam.

Bagi Francisco de Sa hanya peristiwa yang sekali ini saja

ia harus bisa atasi. Ada satu tahyul di dalam hatinya: bila

sekali ini ia gagal, semua cita-citanya selanjutnya akan

runtuh. Sekali bencana ini dapat dikalahkan, suatu 

kegemilangan tanpa batas sedang menunggu-nunggunya di

waktu dekat mendatang.

Tiga bulan! Hanya tiga bulan kerja di Sunda Kelapa!

Tiga bulan selebihnya adalah untuk kegiatan pribadi tapi

atas nama Portugis: pembalasan dendam atas Tuban yang

telah berani menghina beberapa tahun yang lalu.

Dalam pancaran kilat ia lihat armadanya cerai-berai, dan

dilihatnya juga kapal yang dikapteni oleh Duarte Coelho

telah menyelonong paling depan, kadang berputar dalam

mata taufan, kadang mendorong permukaan laut, kemudian

meluncur ke tenggara dengan buritan jadi haluan. Jelas

kemudinya telah patah dan tak ada satu tiang pun utuh.

Sebuah kapal lainnya berdiri dengan haluan di atas,

kemudian dalam kerjapan kilat nampak cepat menyelam ke

dasar laut dan tak muncul lagi. Beberapa puluh anak kapal

berapungan timbul-tenggelam di puncak-puncak ombak.

Petir menyambar. Sebuah kapal pecah, miring,

kemudian tenggelam.

“Jesus Maria!” sebutnya. “Pantang mundur! Maju terus!

Badai taufan bukanlah tanggungjawabku.”

Isyarat-isyaratnya memerintahkan: Maju terus!

0o-dw-o0

Kapal yang dikapteni oleh Duarte Coelho tak dapat

keluar dari cengkaman mata taufan. Seperti dalam cakar

kucing kapal itu kemudian terangkat ke udara dan terbang

dengan cepatnya. Waktu cengkaman agak kendor ia

menurun, menerjang kegelapan, menepis air dan terlempar

ke daratan, melindas pohon-pohon nyiur pantai, kemudian

jatuh di atas rawa-rawa dengan menumbangkan 

pepohonan. Air rawa itu menyembur ke atas dan lunas

kapal menancap pada dasarnya.

Kapal itu tak bergerak lagi dengan dinding pecah

berentakan, Manusia di dalamnya kehabisan daya, adalah

laksana jamblang kocok. Hanya seorang dua tak mengalami

cedera, itu pun hanya karena kebetulan.

Duarte Coelho sendiri tergeletak di geladak dengan

lengan patah. Namun ia masih mampu memberikan

perintah. Dan perintahnya yang terakhir terdengar adalah:

“Periksa kapal! Periksa di mana kita berada!”

Dua orang yang masih jaya terlongok-longok heran

melihat kapal tak lagi berada di atas laut. Di sekitarnya

hanya semak-semak rawa.

“Terdampar jauh di darat!” seorang di antaranya berseru.

“Sayang kapal sebagus ini.”

Dan mata taufan itu bergerak terus meninggalkan

mereka di tengah-tengah daerah rawa, tak sudi

mengembalikan ke laut lagi, terus menerjang daratan ke

jurusan tenggara.

“Terdampar jauh di darat!” pekik kelasi itu.

Tak ada yang menanggapi. Ia turun ke tanah. Matari

baru saja terbit. Ia punguti dan periksa pecahan dinding dan

melemparkannya ke tanah. Kemudian ia berdiri di atas

batang pohon kelapa rebah dengan akar-akarnya jadi

pengganjal kapal bersama dengan batang-batang pohon

lain.

‘Terdampar di tengah-tengah rawa!” serunya ke atas.

Juga tak ada sambutan.

Mereka naik lagi ke atas, langsung mendapatkan Duarte

Coelho yang pingsan tak sadarkan diri. 

0o-dw-o0

Prajurit-prajurit Demak yang bertugas menjaga

perbentengan mendengar seorang berteriak-teriak di

belakangnya, di daerah rawa-rawa. Ia berhenti dan

mendengarkan. Teriakan itu juga berhenti.

Daerah itu tak pernah dimasuki orang selama ini. Orang

gentar pada demam rawa yang membunuh. Maka ia lari

mendapatkan teman-temannya. Dan semua ragu-ragu.

Daerah itu juga menjadi sarang buaya besar. Dalam rawarawa dangkal demikian buaya sama saja berbahayanya baik

di air ataupun di darat. Monyet dari atas pohon yang tak

berbilang banyaknya mungkin juga akan menyulitkan bila

yang memasuki hanya beberapa orang saja. Seratus orang

kemudian masuk berbareng dengan tombak di tangan dan

pedang di pinggang. Dan mereka mendapatkan kapal

Portugis yang telah compang-camping tanpa tiang tanpa

layar. Mereka terdiam. Tak pernah melihat sebuah kapal

sebesar itu dapat mendarat begitu jauh dari laut. Hanya

seorang Portugis ia lihat bergerak di dalam kapal itu.

Kemudian seorang lagi.

Monyet pada memekik-mekik dan burung-burung

bernyanyi seperti lima ratus tahun yang lalu. Tak ada buaya

nampak di sekitar.

Mula-mula para prajurit berunding berbisik-bisik,

kemudian mendengar-dengar kan lagi. Tapi di atas kapal itu

sunyi saja. Seorang prajurit mengambil batu dan

melembarkan pada kapal Seorang Portugis muncul dan

menjenguk ke bawah, kemudian pergi lagi.

Peratus memerintahkan menyerbu. Mereka turun ke air,

langsung menuju ke kapal. Dan mereka tak dapat naik,

semua mendongakkan kepala ke atas. 

Barisan prajurit di belakang datang membawa batangbatang pohon yang habis ditebangnya. Orang mulai naik.

Dua orang Portugis dengan pedang di tangan menghantam

setiap orang yang paling atas naik pada batang kayu itu.

Dan melihat semakin banyak orang datang membawa

batang, mereka pun menggunakan musket dan menembaki.

Dari darat dilemparkan beberapa tombak, dan dua orang

Peranggi itu jatuh ke geladak. Seorang di antaranya

menukik dari atas dan kepalanya menancap pada lumpur

dasar rawa. Tinggal kakinya melengkung di atas air.

Seseorang menghantamkan pedangnya, dan tubuh itu

kemudian rebah.

Penyerbuan tiada yang menghalangi. Mereka mulai naik

ke geladak, menerobosi bingkahan dinding ke dalam paikah

dengan tombak dan pedang terhunus. Yang mereka

dapatkan hanya tubuh-tubuh Peranggi yang

bergelimpangan tanpa daya.

Tombak dan pedang menghabisi mereka tanpa

perlawanan. Dalam biliknya orang menemukan Duarte

Coelho dengan tangannya yang sehat mencoba memberikan

perlawanan. Pertarungan dengan pedang sebentar berlaku.

Baja beradu baja berdentingan sebentar kemudian padam

sama sekali. Sebilah tombak telah melumpuhkan Duarte

Coelho dari lambung. Ia jatuh terkapar.

Prajurit Demak bersorak-sorak di antara bangkai-bangkai

bergelimpangan.

Sebelum menghembuskan nafas penghabisan Duarte

Coelho masih sempat bicara dalam Melayu: “Kami datang

untuk bersahabat.”

Ia sudah tak mendengar lagi waktu prajurit Demak

menjawabinya. 

Tak antara lama seratus prajurit lagi datang. Seluruh

kapal compang-camping itu diperiksa. Semua benda

dikumpulkan di geladak termasuk sembilan pucuk meriam,

peluru dan mesiu, alat makan dan dapur, musket, perkakas

tukang, buku, persediaan bahan makanan, obat-obatan, alat

kebaktian, patung dan salib milik pribadi awak kapal.

Peratus itu memerintahkan menurunkan semua dan

mempersembahkan pada Fathillah. Demikian mereka

mengangkuti sambil bersorak-sorai melalui jalan setapak

yang baru diretas.

Sebagian dari para prajurit mendapat perintah membikin

jembatan untuk menurunkan meriam dan barang-barang

berat lain. Sebagian mendapat perintah membikin tali. Tapi

sebagian besar melakukan pengangkutan.

Daerah rawa yang biasanya tiada bermanusia itu kini

riuh-rendah. Monyet dan margasatwa pun beterbangan

melarikan diri. Asap mulai mengepul untuk menjerangkan

air minum dan makan siang.

Tengah hari Fathillah sendiri memerlukan datang dan

melakukan pemeriksaan ke seluruh kapal, sampai-sampai

pada kamar mandi dan kamar kecil. Ia tenggelam dalam

renungan, dan tiada seorang pun tahu apa sedang bergerak

dalam hatinya. Ia turun dari kapal dalam keadaan

tenggelam dalam pikirannya dan kembali ke bandar.

Orang menduga ia sedang melihat sendiri akibat dari

penanggulan pesisir bandar yang menghalangi pasang-surut

air di rawa-rawa. Sebagian terbesar tak punya dugaan

sesuatu, mabok mendapat jarahan.

Tak berapa lama ia pergi datang seratus orang prajurit

tambahan untuk melakukan kerja pengangkutan dan

melebarkan jalan setapak untuk dapat dilalui oleh barangbarang besar. 

Markas Fathillah berdiri di atas tanah yang tinggi

menghadapi tanah lapang.

Barang-barang jarahan ditumpuk di depan rumah ini.

Dalam waktu pendek orang datang berduyun-duyun untuk

melihat-lihat barang aneh, sebagian tak jelas apa gunanya.

Fathillah berjalan mondar-mandir dalam markasnya

menunggu datangnya meriam-meriam rampasan. Tetapi

barang-barang berat itu hanya dengan susah-payah saja bisa

melintasi daerah rawa bertanah lunak bercampur hancuran

luruhan dedaunan.

Waktu musket-musket datang ia keluar dari markas dan

memerintahkan membongkarnya dari ikatan.

Diperintahkannya datang pasukan pengawalnya dan

membagi-bagikannya pada mereka, kemudian sendiri

memberikan petunjuk bagaimana menggunakannya. Dua

ratus pucuk telah dirampas pada hari itu.

Seorang prajurit mempersembahkan padanya sebuah

bola dunia dan ia menerima persembahan itu dengan kaki

dan menendangnya. Dunia menggelinding dan berhenti

pada kaki seorang prajurit, tanpa jagang.

Prajurit, yang menduga bola itu barang sihir, melompat

kecut. Ketakutan menyebabkan wajahnya nampak jadi

ungu.

‘Tendang!” perintah Fathillah.

Bola itu ditendang oleh prajurit lain lagi, menggelinding

dan menggelinding, ditendang dan ditendang. Waktu jatuh

ke laut benda itu telah penyek.

Sebuah teropong yang dihadapkan segera diambil oleh

Fathillah. Ia memeriksanya sebentar kemudian

menggunakannya untuk meneropong laut lepas. Benda itu

ia panjang-pendekkan. la lepas. Dikocoknya matanya. 

Menggeleng dan meneropong lagi. Kembali benda itu

diperiksanya, kemudian dipendek-panjangkan. Meneropong

lagi ke laut lepas. Kemudian melihat dengan mata telanjang

pada ke jauhan dan meneropong lagi.

Ia berpikir sebentar. Kemudian bertanya pada pengiring

yang berdiri di belakangnya; dalam Melayu: “Coba lihat

sana, benarkah yang aku lihat dengan teropong terkutuk

ini?”

“Ada patik lihat, Gusti, tapi tidak jelas,” jawab pengiring

itu, juga dalam Melayu.

“Apa yang kau lihat?”

“Beberapa titik putih. Gusti.”

“Coba dengan ini.”

Pengiring itu mengenakan teropong, melepas dan

mengenakannya kembali, melepas dan memeriksa kacakaca teropong, kemudian meninjau dengan mata telanjang

dan mengenakannya lagi.

“Apa kau lihat?”

“Tiga kapal asing, Gusti, dengan teropong ini.”

Fathillah mengambil teropong itu dan mengenakannya.

Kemudian dipanggilnya seorang lagi dan disuruhnya

melihat ke kejauhan, setelah itu disuruhnya dengan

teropong.

“Dengan barang ini muncul tiga kapal asing, Gusti,

sedang menuju ke Sunda Kelapa.”

“Pengangkutan meriam supaya lebih cepat!” perintahnya

pada yang lain.

Dan meriam yang sudah ada ia perintahkan dipasang di

belakang bentengan kayu bakau-bakau. 

“Dan peluru dan mesiunya. Cepat! Tambah tiga ratus

prajurit lagi untuk mengangkut!” perintahnya pada seorang

peratus Demak.

Orang itu lari untuk menjalankan perintah.

Lima pucuk meriam telah terpasang di balik bentengan.

Fathillah sendiri memberi petunjuk cara menggunakan

sebagaimana pernah didengar-dengamya dari Arabia dan

Mesir. Peluru dan mesiu di bagi-bagikan dari tangan ke

tangan.

Fathillah melarang siapa pun melakukan serangan tanpa

perintah, la menghendaki pertempuran di darat untuk dapat

merampas semua kapal Portugis yang datang dan

merencanakan penyergapan tapal kuda jarak beberapa ratus

depa.

“Hentikan pengangkutan!” seorang peratus meneruskan

perintah Fathillah. “Siapkan pedang dan tombak.”

Moncong-moncong meriam rampasan telah ditujukan

pada sisa armada Francisco de Sa yang mendatangi. Semua

terlindung oleh semak-semak asli dan buatan. Dan semua

orang berbesar hati dengan adanya meriam.

Dengan teropong di tangan Fathillah melakukan

pemeriksaan di seluruh medan dengan berjalan kaki.

Sebentar lagi, ya sebentar lagi, hari ini juga, kapal-kapal

itu akan terampas dengan seluruh isinya, dan anakbuahnya

tumpas.

Panglima-Laksamana-Gubernur meneropong dan

meneropong. Betapa lama rasanya. Dan kapal-kapal itu

semakin lama semakin membesar. Juga nyamuk semakin

giat menyerang mereka yang bersiaga dalam keadaan diam.

Betapa lama. Dan memang lama. 

Kapal-kapal itu ternyata tidak memasuki muara

Ciliwung. Tiga-tiganya membuang sauh jauh dari darat.

Lama, lama sekali rasanya, baru kemudian mereka

menurun-nurunkan sekoci. Mereka yang melayani meriam

tanpa pernah berlatih telah gatal tangan untuk segera

menembak. Mereka yang mendapat pembagian musket juga

tanpa pernah berlatih telah gelisah. Setidak-tidaknya

balatentara Jepara-Demak sedang dalam semangat tinggi.

Kapal-kapal mulai menuangkan prajuritnya ke semua

sekoci, dan beriringan seperti itik menuju ke muara

Ciliwung. Setiap orang menyandang musket panjang.

Duduk pada dasar sekoci musket mereka menggermang ke

atas, lebih tinggi dari kepala mereka. Dari tempatnya yang

terlindung Fathillah meneropong. “Mereka turun ke sekoci

dengan tangga tali’ ia memperingatkan. “Hati-hati. Mereka

kelihatan lelah. Biarpun begitu, awas. Peranggi tetap

Peranggi. Tak seorang pun bakal menyerah tanpa berkelahi.

Mereka lebih suka tewas daripada bertekuk lutut. Jangan

gegabah. Kita akan sergap tepat pada waktunya’

Serdadu-serdadu Portugis itu diturunkan di tepian muara

Ciliwung. Sekoci-sekoci kembali lagi ke kapal untuk

meneruskan pendaratan.

“Awasi setiap gerak-geraknya,” Fathillah menekan

kekecewaan karena yang turun mendarat seluruhnya hanya

berjumlah delapan puluh orang. Kapal-kapal di sana itu

tetap terjaga dari dalam.

Dari teropongnya ia melihat meriam-meriam kapal

ditujukan ke darat. Mereka mengambil jarak di luar daya

tembak cetbang.

“Mereka yang mendarat harus ditumpas. Kapal-kapalnya

kemudian ditembaki, tenggelam atau lan tersapu.” 

Dari teropong itu juga nampak olehnya seorang tidak

bersenapan serba putih. Berbeda dari yang lain, topinya

dihias dengan jumbai-jumbai kuning dan pada dadanya

terhias selempang merah Itulah Francisco de Sa.

Serdadu-serdadu yang telah turun mulai dibariskan.

Francisco de Sa berjalan dalam iringan tiga orang.

Kemudian seluruh bansan itu mengiringinya. Mereka

menuju ke lapangan bandar. Dan bansan itu berhenti.

Francisco de Sa berhenti, meninjau ke segala penjuru.

Nampaknya ia heran tak melihat seorang pun. Tak ada

orang bekerja, tak ada yang jalan-jalan. la pun tak tahu

sama sekali Sunda Kelapa sudah jatuh dan tangan Pajajaran

pada Demak, la berjalan beberapa belas depa ke depan, ke

samping, kemudian kembali ke barisan.

Dengan iringan tiga orang ia kembali ke tepi Ciliwung,

ke muara. Ia mulai perhatikan perahu-perahu yang

tertambat, semua tanpa manusia. Dan sekoci-sekocinya

tercancang rapi seperti susunan ikan. Semua tanpa manusia.

la kembali lagi pada barisan.

Seorang pengiring memberikan pikiran padanya,

mungkin penduduk Sunda Kelapa masih ketakutan pada

taufan dan melarikan diri ke pegunungan. De Sa

membantah, karena bukan adat pelaut lari dari angin.

Mungkin sedang merayakan pesta di pedalaman.

Seorang pengiring lain menyarankan untuk membawa

naik pasukan ke Pajajaran. Ia menggeleng. Ia tak mau

kehilangan terlalu banyak waktu. Ia hanya bisa memberikan

jatah tiga bulan. Maka ia menghendaki segera bertemu

dengan Pangeran Sunda Kelapa, Gubernur bandar, untuk

segera bisa memulai pekerjaan. Dan bila pertemuan tak

mungkin, pekerjaan akan dimulai tanpa sepengetahuan

Sang Gubernur. 

Dan di mana pula Syahbandar?

Dari pengalaman di Tuban ia mengerti, bila seorang

Syahbandar tak datang menyambut sewaktu Portugis

datang, pasti ada sesuatu yang tidak beres.

Di mana Syahbandar?

Bahkan jalan-jalan sampai yang sekecil-kecilnya pun

tinggal lengang tak bermanusia.

Tak tahan terkepung oleh kesenyapan Francisco de Sa

menjadi penasaran. Ia berjalan cepat menuju ke kantor

Syahbandar dan berteriak kencang; tangan dicorongkan

pada mulut: “Syahbandar! Syahbandar!”

Hanya deburan laut jua yang menjawab.

Ia memberikan perintah agar pasukannya bergerak maju.

Dan majulah pasukan kecil itu. Semua berbaris menuju ke

tempat kantor Syahbandar, kemudian membelok ke kanan

menuju ke tempat tugu perjanjian Portugis-Pajajaran.

Francisco de Sa menjadi murka melihat tugu itu telah

hancur dan tinggal puntungnya di atas landasan batu segi

empat. Ia selidiki luka pada Ipatahan batu itu dan

mengetahui belum lama berselang suatu perusakan dengan

senjata telah dilakukan oleh orang: suatu kekuatan telah

menantang perjanjian itu. Ia perintahkan pasukannya siap

tempur.

Semua yang terjadi diikuti oleh Fathillah dari teropong

rampasan.

Pasukan kecil Portugis itu bersiap-siap untuk balik ke

laut sambil siaga berbaris mundur menghadap ke daratan

menuju ke tempat sekoci.

Francisco de Sa menarik pandang tinggi, memekik. 

Dari balik semak-semak pasukan Demak bersorak-sorak

sambil melemparkan tombak. Musket Demak tak ada

sepucuk pun meledak. Contoh penggunaan yang diberikan

oleh Fathillah ternyata tidak kena.

Prajurit-prajurit Portugis memencar barisan.

Tembakannya mulai terdengar. Mula-mula satu-satu,

kemudian bergelombang-gelombang. Semburan pelurunya

beterbangan dan berjatuhan menjadi hujan logam.

Meriam rampasan mulai berdentaman dari balik semaksemak dan tanggul. Pelurunya beterbangan ke arah kapalkapal Portugis. Tangan-tangan tak terlatih itu

menghamburkan peluru tanpa mengenai sasaran.

Prajurit-prajurit Demak sudah mulai bergelimpangan.

Fathillah segera mengerti, pertempuran jarak jauh akan

menguntungkan Portugis. Dengan jarak dekat mereka

takkan segera dapat menyiapkan senjatanya. Ia perintahkan

pelemparan tombak terus-menerus sambil menerjang maju.

Dengan pedang di tangan ia pimpin sendiri penyergapan.

Jubah putih dan ujung-ujung destar putihnya berkibar-kibar

dalam puputan angin seperti melambai-lambai pada

barisannya.

Pasukan Portugis menyelamatkan Francisco de Sa di

tengah-tengahnya sambil terus mundur ke jurusan

Ciliwung. Mereka sama sekali tidak bersorak-sorak. Hanya

terdengar aba-aba dari seorang saja, dan suaranya nyaring,

keras, dan dengan pedang dilambai-lambaikan ke udara.

Mereka yang roboh terkena tombak ditinggalkan dalam

gerakan mundur. Tak seorang pun korban mereka bawa.

Dari seberang Ciliwung tentara Demak mulai bersoraksorak menuju ke sasaran. Melihat sedang di tapalkuda

pasukan Portugis melepaskan tembakan sekali lagi dan

buyar berebut dulu turun ke sekoci masing-masing. Yang 

tak mendapat tempat melompat dalam sampan dan perahu

penduduk.

Dari seberang tentara Demak mulai menaiki biduk juga

dan mengejar, dan melemparkan tombak dan melepaskan

anak panah. Portugis membalas dengan tembakantembakan sehingga para pengejar dipaksa berhenti dan

tinggal hanya bersorak-sorak seperti menghalau babi hutan.

Tak sebuah pun sekoci Portugis tertinggal. Mereka

mendayung berpencaran melalui peluru meriam Demak

yang berjatuhan di laut. Satu-dua di antara peluru-peluru itu

telah mengenai salah satu di antaranya, oleng, dan

penumpangnya berlompatan ke laut.

Dari teropongnya Fathillah melihat Francisco de Sa tetap

berdiri di atas biduk, bertelekun pada hulu pedang dan

matanya terpaku pada Sunda Kelapa. Wajahnya merah

padam karena murka. Dan nampaknya ia tak tahu apa

harus diperbuatnya.

Meriam-meriam kapal tak dapat leluasa menembak,

takut mengenai teman-temannya sendiri.

Francisco de Sa mengetahui usahanya gagal, la tak

berani mendaratkan pasukannya.

22 Juni 1527

Dengan masih meneropong Fathillah mengatakan,

seakan sudah seia dengan Wiranggaleng: “Mereka takkan

datangi lagi tempat di mana mereka pernah dikalahkan.”

Biduk-biduk itu telah sampai di kapal masing-masing.

Mereka bemaikan dari tangga tali. Dan sesuatu yang

mengherankan telah terjadi: Portugis tak melepaskan satu

peluru pun dari meriam-meriamnya. 

Sauh-sauh diangkat. Layar dipasang, dan berlayarlah sisa

armada yang habis diterjang taufan dan dihalau Fathillah

itu menuju ke timur, menjauhi pesisir pulau Jawa.

Tentara Jepara-Demak bersorak-sorai dalam

kegembiraannya. Walau banyak korban jatuh, mereka pun

telah pernah menghadapi Peranggi le-lananging jagad

dalam suatu pertempuran sesungguhnya. Perasaan rendah

takut pada Peranggi yang dahsyat itu tiba-tiba menjadi

pudar Peranggi ternyata memang hanya manusia biasa yang

dapat juga dihalau.

Di tengah-tengah pasukannya sendiri Fathillah

mengumumkan: “Dengan nama Allah yang Maha Pemurah

dan Maha Pengasih, pada hari ini dengan kekuatan yang

dilimpahkan-Nya pada kita, kita telah halau Peranggi ke

laut. Insya Allah mereka takkan menginjakkan kaki lagi di

bumi kita ini. Sebagai peringatan atas peristiwa ini, aku

nyatakan bandar ini berganti nama, dan menjadilah

Jayakarta. Jaya pada awal dan kemudiannya, karta untuk

selama-lamanya.”

Berita penghalauan Portugis dari Sunda Kelapa dan

terdamparnya kapalnya di rawa-rawa, segera terdengar di

Panjang. Di mana-mana terbentuk gerombolan orang yang

membicarakannya dengan bersemangat.

Tetapi saudagar-saudagar lada berkabung: lada mereka

tetap tertumpuk di bedeng-bedeng.

Untuk dapat memberitakan pada Wiranggaleng dengan

lebih jelas Pada memutuskan untuk sekali lagi menunda

keberangkatannya ke Malaka. Dan istrinya menyambut

putusannya tanpa bicara. Maka dengan istrinya setiap hari

ia bergelandangan di bandar kecil yang mendadak

kehilangan kegembiraannya itu.

Berita Portugis akan mengambil lada tak terdengar lagi. 

Berita lain datang menyusul: sisa armada Portugis itu

berlayar terus ke timur dengan menghindari setiap

pertemuan dengan armada Jepara-Demak.

Maka waktu berita itu sampai ke Teluk Bayur, kapalkapal Parsi, Arab, Benggala, yang masih ragu-ragu hendak

meneruskan pelayarannya ke selatan mengangkat sauh,

berebut cepat mendapatkan lada di Panjang.

Saudagar-saudagar lada di Panjang melepas barangnya

sedapat ia jual.

Pada dan Sabarini bekerja memunggah lada untuk

penghidupannya. Maka ia tahu harganya tidak setinggi

biasanya. Mungkin juga Peranggi berjanji hendak

mengambilnya dengan harga lebih mahal.

Waktu kapal-kapal berangkat lagi, ternyata masih terlalu

banyak tumpukan lada yang belum terjual. Bandar kembali

jadi senyap. Perahu-perahu layar Pribumi mulai membeli

sisa itu dan mengangkutnya ke Pasai atau Malaka. Dengan

lada bandar-bandar dalam kekuasaan Portugis selalu

terbuka.

Dengan habisnya lada dan kosongnya bedeng-bedeng,

kembali Pada dan Sabarini tak mempunyai suatu pekerjaan

tertentu. Berdua mereka tinggal di bandar dengan kegiatan

hanya mendengar-dengarkan berita. Pada suatu hari dalam

kehidupannya seperti ini datang sebuah perahu layar dari

Madura, membawa berita, bahwa bandar Banten dan

Jayakarta untuk ke dua kalinya telah dinyatakan sebagai

bandar bebas oleh Fathillah. Memang perahu-perahu mulai

berdatangan, tetapi tidak untuk berdagang, hanya untuk

mendapatkan air dan beras dan sayuran.

Dan waktu orang bertanya bagaimana keadaan bandar

Cimanuk sekarang, nakhoda perahu Madura itu sambil

melompat ke darat berkata dengan suara lantang: ‘Tetap, 

belum dinyatakan bebas. Tak ada perdagangan di sana.

Jangan kalian coba-coba ke sana. Bisa dirayah oleh

serdadu-serdadu itu.”

Orang-orang merubungnya. Dan Pada bertanya: “Tidak

bertemu dengan armada Peranggi?”

“Alhamdulillah, kami selamat Yang lain-lain tak dapat

menghindarkan diri. Mereka seperti kerbau gila, bedebah

terkutuk itu. Tidak puas hanya membajak. Semua orang

dari Tuban dan Demak dan Jepara dibunuh,” Nakhoda

Madura itu menjawab sambil memilin kumisnya yang tebal.

“Di mana bertemu dengan mereka?”

“Di atas Juana.”

“Jadi mereka tak mendarat di Jepara?”

“Tidak. Setelah Juana mereka mulai mendekati pantai.

Tapi mereka terus ke jurusan timur.”

“Ke Blambangan barangkali?”

“Boleh jadi. Setidak-tidaknya memasuki wilayah Demak

mereka tidak berani.” Berita itu tidak lengkap dan belum

tentu benar. Pada belum lagi puas. Ia masih harus

menunggu.

Kapal-kapal dari Atas Angin berdatangan lagi melalui

barat Sumatra. Dan Portugis tak kunjung tiba. Lada yang

didatangkan oleh para penyelundup dari luar bandar-bandar

dalam kekuasaan Demak memang terus berdatangan, tetapi

jumlahnya tidak mencukupi untuk memenuhi permintaan.

Harga menjadi sangat tinggi. Memang penjualan berjalan

sangat cepat, persediaan habis, tetapi keadaan tidak

menguntungkan Panjang. Kapal-kapal itu meneruskan

perjalanan ke tenggara, ke Jayakar-ta dan Banten sendiri. 

Nampaknya Fathillah kini berhasil dengan pembebasan

bandar-bandarnya. Kapal-kapal Atas Angin mulai tersedot

ke sana. Akibatnya bandar Panjang surut menjadi sepi

seperti semula. Akibat selanjurnya: pekerja-pekerja bandar

tak punya pekerjaan lagi. Mereka kembali naik ke

pedalaman untuk mengurus lada. Pada dan Sabarini ikut

saja dengan arus, memasuki pedalaman dan mencari

penghidupan seperti yang lain-lain.

Sebuah berita hebat telah pecah, mengabarkan Portugis

akan datang mengambil lada yang telah dijanjikan. Orang

pun berbondong-bondong turun ke bandar Panjang.

Pedagang-pedagang lada sedang sibuk mengangkuti barangbarangnya untuk melarikan diri dari bandar. Tiadanya

persediaan lada akan menyebabkan Portugis bakal

melakukan pembalasan dendam terhadap seluruh bandar.

Penduduk lainnya juga sedang siap-siap untuk mengungsi.

Waktu Pada dan Sabarini sampai, yang mereka dapatkan

adalah sebuah perahu layar Bali. Awak perahu segera

dirubung orang untuk mendapatkan beritanya.

“Kami takkan dapatkan lada di Tuban,” katanya. “Ke

Jayakarta dan Banten kami takut. Kami bukan Islam. Maka

kami cari lada ke mari. Lagi pula, kata orang, harga lada di

sana terlalu tinggi, maka kami terus ke mari.”

Mendengar Tuban disebut-sebut Pada mendesak ke

depan dan bertanya: “Apakah Peranggi tidak mendarat di

Tuban?”

“Takkan didapatkan sesuatu di Tuban. Mereka mendarat

dan mengamuk di sana.”

“Siapa mereka? Maksudmu Peranggi?”

“Siapa lagi kalau bukan Peranggi?”

“Bukankah Tuban sudah jadi daerah Demak?” 

‘Tidak. Hanya sehari Demak memasuki Tuban. Mereka

diusir keluar lagi oleh pasukan kuda dan gajah, jatuh lagi ke

tangan balatentara Tuban. Pada waktu itulah Peranggi

masuk.”

“Jelas Peranggi sudah menguasai Tuban?”

“Setidak-tidaknya begitulah yang kami dengar.”

“Jadi bagaimana halnya dengan balatentara Tuban dan

Demak?”

“Tuban mengundurkan diri ke luar kota. Demak tidak

meneruskan serangannya ke Tuban.”

“Jadi Tuban kena keroyok?”

“Boleh jadi begitu jadinya.”

Pada menarik tangan istrinya dan diajaknya pergi.

Mereka memasuki bedeng kosong dan berdiri diam-diam

mengawasi laut, memperhatikan perahu mereka yang sudah

lama tiada mereka pergunakan.

“Sabarini, selesailah sudah urusan kita di Panjang ini.

Kita akan teruskan pelayaran.”

“Karena berita-berita itu?”

“Karena berita-berita itu, Sabarini.”

“Bukankah belum tentu semua itu benar?”

“Seorang nakhoda selamanya bicara benar. Kalau tidak

dia akan jadi tertawaan di setiap bandar, penghidupannya

akan mati.”

Novel Arus Balikk Bab 37 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.

Bagaimana alur cerita dari novel Arus Balik Bab 37 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua. 

Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.

Untuk membaca Novel Arus Balik bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.a alur cerita dari novel Arus Balik Bab 1 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua. 

Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.

Untuk membaca Novel Arus Balik bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 8 Disini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 28 Disini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 26 Disini