Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 36 Disini
Novel Arus Balik bab 36 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Arus Balik menceritakan tentang kisah Kedatangan Portugis di Bumi Nusantara dengan latar awal Abad XVI, yaitu ketika surutnya pengaruh Majapahit dan naiknya pamor Kesultanan Demak.
Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Arus Balikk Bab 36 Bahasa Indonesia Sekarang ini.
36. Blambangan
Bandar Banten dan Sunda Kelapa tetap sunyi. Bandar
Panjang di ujung selatan Sumatra menjadi meriah.
Mengetahui akan kekeliruannya Fathillah bermaksud
membuka kembali Sunda Kelapa jadi pelabuhan bebas.
Pada hari ketentuan itu dikeluarkan, Pada dengan
terburu-buru membeli sebuah perahu layar kecil dengan
dinar pemberian Ratu Aisah. Dipunggahnya perbekalan
dalam perahu itu bersama dengan Sabarini. Keesokan
harinya pengantin baru itu berlayar menuju Panjang.
Armada Jepara-Demak yang melakukan penjagaan itu
tidak terlalu jauh dari pantai. Perahu layar kecil itu hanya
sekali ditahan kemudian diperkenankan meneruskan
pelayaran.
Dan mereka berlayar tenang meninggalkan pulau Jawa
yang sedang kacau-balau. Meninggalkan Sunda Kelapa bagi
Pada berarti juga meninggalkan keadaan yang penuh
kekacauan pertama-tama yang pernah ada dalam sepanjang
sejarah Jawa.
la gembira. Dan Sabarini tak kurang gembiranya,
berlayar dengan seorang suami yang adalah untuk dirinya
sendiri. Namun ia tetap membisu bila tak ditanyai….
Begitu mendengar balatentara Demak telah sampai di
selatan Lao Sam, Tholib Sungkar Az-Zubaid dengan
bantuan para pekerja bandar mengangkuti harta-bendanya
ke atas sebuah kapal Bali yang kebetulan sedang mencari
dagangan lada. Munculnya kapal itu sungguh-sungguh
suatu kebetulan Bila tidak ia akan terpaksa menyewa
perahu layar.
Tak ia tinggalkan sesuatu pun pada Nyi Gede Kati
kecuali kata-kata ini: “Nyi Gede Kati, maafkan aku selama
ini kita sudah tidak saling menegur. Sang Adipati sudah
tidak dapat menyatakan sesuatu. Pendengarannya sudah
begitu merosotnya, maka semua kata yang dipersembahkan
sia-sia saja… Sekarang ini aku harus pergi untuk sementara
dari Tuban. Tinggallah kau di sini dalam lindungan Allah
Yang Maha Pengasih.”
“Ke manakah Tuan, biar sahaya tahu di mana tempat
Tuan.”
Ia tak memberi jawaban, turun ke perahu dan belayar ke
jurusan timur. Tujuan: Pasuruan, bandar Blambangan
Hindu untuk perdagangannya dengan Maluku.
Nakhoda menasihatinya agar ia langsung saja ke
Panarukan, karena bandar itu tidak terlalu sunyi, karena
perdagangannya dengan Nusa Tenggara tetap berjalan baik.
Pelabuhan Pasuruan sendiri hampir saja nasibnya dengan
Gresik atau Tuban. Memang Panarukan lebih kecil
daripada Pasuruan, tetapi adanya perdagangan yang
terpelihara menyebabkan kehidupan jauh lebih baik.
“Barangkali ada baiknya aku ikuti nasihat Tuan,”
jawabnya.
Dan demikian ia tidak mendarat di Pasuruan Sejak
mancai dari Tuban sebenarnya ia bermaksud ke Panarukan
Ia hanya hendak menyesatkan nakhoda.
Syahbandar Panarukan ternyata bukan Arab, juga bukan
Benggala, bukan Koja dan bukan Keling, tetapi Pribumi
sendiri, yang berbahasa Jawa, Bali, Melayu dan sedikit
Arab. Ia tetap beragama Hindu, la disambut dengan bahasa
Arab. Aturan bandar lebih longgar daripada Tuban;
Syahbandar mempunyai wewenang memberikan ijin tinggal
di dalam ataupun luar wilayah bandar tanpa menghadap
bupati atau raja.
Setelah mendapat ijin tinggal dan membayar bea untuk
barang-barangnya, ia kawal gerobak pengangkut hartabendanya menuju ke kantor dagang Portugis yang sedang
dalam pembangunan. Untuk menghadapi pertemuan itu ia
berpakaian Portugis dengan tetap bertarbus dan bertongkat.
Tubuhnya sudah lebih bongkok daripada tahun-tahun
sebelumnya. Kepalanya tak henti-hentinya menengok ke
kiri dan kanan, memperhatikan pagar-pagar dari susunan
batu karang, dan arca-arca kayu di pojokan perempatan
jalan, berdiri megah di dalam bangunan persegi, seakanakan barang-barang dengan mata besar itu sedang
mengawasi perempatan. Gapura-gapura juga menarik
perhatiannya, terbuat daripada batu merah, dan kadang
dihiasi dengan relief. Pada pagar batu itu kadang-kadang
terdapat ceruk berisi arca pula. Dan kadang ia menindas
tawanya sendiri melihat bentuk matanya yang seperti mata
peda.
Berbeda dengan di Tuban atau Malaka, pagar di sini
menyebabkan rumah-rumah hanya kelihatan sirap atau
ijuknya. Dan tajuk nyiur selamanya menaungi pelataran
depan dan belakang setiap rumah.
Gedung kantor dagang itu belum lagi selesai
sepenuhnya. Pagarnya terbuat daripada tembok batu tinggi,
tetapi gedung itu terbuat dari kayu dengan nampak batu.
Hampir semua tukang adalah Portugis. Di tempat mana
pun mereka bekerja, penduduk dewasa, pria atau wanita,
berkerumun memperhatikan.
Seorang Portugis yang berperawakan tinggi besar
mengawasinya sejak grobaknya memasuki pelataran. Dan
Tholib dapat melihat orang itu menunjukkan tak
senanghatinya akan kedatangan dan kermunculannya.
“Oh, Tuan Tholib Sungkar Az-Zubaid,” tegurnya dalam
Portugis, “tahu-tahu Tuan sudah ada di sini. Mengapa tak
kabar lebih dahulu?”
“Rupa-rupanya Tuan kurang senang mendapat
kunjungan ini.”
“Suatu kehormatan,” jawabnya dengan muka masam.
”Kebetulan sekali ada kamar yang baru saja siap. Tuan bisa
segera masuk.”
“Apakah aku perlu memperlihatkan suratku?” sambut
Tholib menantang.
“Tidak, Tuan, bukan maksudku hendak menguji surat
dari Malaka itu. Siapa tidak mengenal Tuan?” katanya lagi
mencoba agak ramah. “Mari aku antarkan.”
Kamar itu baru saja selesai dibersihkan. Lantainya masih
kotor. Seorang pria Pribumi yang masih muda datang
membawa sapu lidi dan membersihkannya, kemudian
memasukkan barang-barangnya dan menumpuknya di
sebuah pojokan. Tholib Sungkar sendiri memberi petunjuk
bagaimana harus berbenah.
Sebuah peti berukir dipisahkan dari yang lain-lain dan
selalu berada di dekat bantal.
Syahbandar Tuban itu sama sekali tak heran melihat
Martinique sengaja memperlihatkan tak senanghatinya. Ia
sudah terbiasa melihat pembesar Portugis yang
mencemburui kedudukannya, – suatu kedudukan tanpa
pengawasan, selalu mendapatkan nafkah pokok dari
Portugis dan mendapat tambahan pula dari sangkutpautnya. Lagi pula di dalam kawasan Portugis ia harus
diperlakukan dengan baik, sekalipun di luar itu ia berada di
bawah setiap orang Portugis. Sekarang ia menggunakan
haknya untuk dilayani sebaik-baiknya. Tidak mau bisa
mendatangkan kesulitan.
Dari dalam kamarnya yang masih berbau kapur itu ia
sudah dapat melihat roda kesibukan mulai berputar. Dan
semua disebabkan karena kedatangannya. Ia sengaja
berlama-lama di kamar untuk memberikan kesempatan
pada Martinique menyiapkan ruang-tamu yang patut. Dari
jendela ia dapat melihat kesibukan di dapur. Dan taman
yang belum lagi siap itu sekarang dikerjakan dengan tenaga
Pribumi tambahan.
Ia tersenyum-senyum puas.
Ia lepas sepatu dan mulai bertiduran, kemudian
merancang-rancang apa yang harus ia kerjakan. Tetaplah
sudah niatnya hendak kembali ke Malaka dan mengakui
kegagalan Portugis di Tuban: bukan karena kesalahannya
pribadi tapi karena kelengahan Portugis sendiri, tak juga
datang pada waktu terbaik sebagaimana ia pernah sarankan.
Sekarang jatuhnya Tuban ke tangan Demak telah
melenyapkan arti bandar itu untuk mengukuhkan
kekuasaan jalan laut di bagian selatan Nusantara. Tak ada
yang dapat menyalahkan bila ia tinggalkan Tuban. Dengan
berkuasanya Demak di sana tempat itu kehilangan artinya
bagi Portugis. Pada pihak lain gerakan penguasaan atas
seluruh Jawa oleh Trenggono telah membantu Portugis
dalam menguasai jalan laut di sebelah utara Jawa:
hubungan antar Jawa dengan Maluku akan putus sama
sekali dan rempah-rempah Maluku akan lebih sedikit
datang ke Jawa.
Bukan salah dirinya kalau tak berhasil. Perkembangan
telah bergerak ke jurusan yang lebih menguntungkan bagi
Portugis tanpa bantuannya. Pada akhirnya ia akan bisa
pulang ke Ispanya dan menghabiskan hari-tuanya di
Andalusia sebagai orang berada tanpa kekurangan suatu
apa, kecuali, bila antara Portugis dan Ispanya terjadi
pertikaian berdarah lagi. Dan di Andalusia, sebagai seorang
Moro, ia takkan dan tak pernah mengalami kesulitan
selama ia mengikuti segala yang berlaku di lingkungan
hidupnya. Memang ia harus membayar pajak lebih tinggi,
memang banyak, terlalu banyak yang menghinakannya
hanya karena ia seorang Moro, tapi apa salahnya kalau ia
bisa bertenang-tenang pada hari tuanya?
Sebagai orang muda ia telah tinggalkan semenanjung
lberia. Ia telah tinggalkan anak dan istrinya. Dan ia akan
kembali sebagai orang tua yang telah menyelesaikan tugas
membantu kebesaran yang sedang berkembang dan
membantu menenggelamkan kekerdilan yang sedang
menghilang. Itulah yang dinamainya tindakan peneracaan
sejarah pada masanya.
Waktu pelayan orang Portugis datang ke kamarnya
dengan muka memberengut, memberitakan tuan
Martinique sudah menunggu di ruang duduk, ia pun
kenakan pakaian Portugis terbaik. Terompah ia ganti
dengan sepatu. Celananya putih dan bajunya pun putih,
dengan kemeja berenda-renda kecil pada lehernya, namun
ia tetap bertarbus dan bertongkat.
Ia pandangi tubuhnya sendiri pada cermin sambil
memberengut juga, memprotes ketuaannya, menegakkan
bongkok, kemudian tersenyum senang, bahwa tanpa
bongkok ia kelihatan lebih muda. dan berjanji takkan
membiarkan dirinya membengkok lagi Ah, berapa tahun
sudah diri tak bertemu cermin! Maka dengan badan tegak ia
kunci kamar dari luar dan berjalan menuju ke ruang duduk
Martinique telah menunggunya sambil menghisap
segelintir kecil tembakau yang segera dimasukkan ke dalam
kantong lagi.
“Nampaknya Tuan ada keperluan penting,” Martinique
memulai, dan memperlihatkan wajah cerah.
“Bukan hanya penting, bahkan tak dapat ditangguhkan.”
‘Tentu saja. Barangkali ada yang dapat kuperbantukan ?”
“Pasti Tuan akan dapat membantu aku dengan sebuah
tempat yang sebaik-baiknya, di kapal yang pertama-tama
menuju ke Malaka.”
Tentu itu suatu hal yang mudah, asal Tuan sudi
mengatakan dengan kapal Portugis atau bukan.” ia
kelihatan lega mendengar itu, “Hanya soal tempat di kapal
itu saja, Tuan?”
“Untuk sementara.”
“Kalau begitu Tuan punya tugas lain.”
Syahbandar Tuban itu tertawa mengancam.
“Kalau begitu bersenang-senanglah Tuan di Panarukan
ini. Dalam beberapa hari ini mungkin akan tiba kapal dari
Timor untuk terus ke Malaka,” ia menajamkan
kewaspadaan. Bertanya lagi, “Kata orang Demak terus
mendesak ke timur. Benarkah itu. Tuan?”
“Kira-kira berita itu ada benarnya.”
“Mungkin Tuban akan jatuh?”
”Terlalu sulit untuk bisa menjatuhkan Tuban. Kalau
Tuban mau. Demak bisa dipukul dalam beberapa minggu.”
“Oh.”
“Jadi Tuan menduga aku datang ke mari karena
melarikan diri? Suatu dugaan yang jahat.”
“Tak ada aku punya dugaan seperti itu.”
Mata tua Tholib menembusi mata bening tuan rumah
dan mencoba menyusupi otaknya.
“Seperti matari yang tenggelam sekarang ini, demikian
juga Demak akan tenggelam di sebelah barat sana. Tuan
Martinique. Boleh jadi Tuban dalam pertempuran akan bisa
terdesak sementara belum dapat menemukan bentuk
pertahanan yang tepat, tapi sesudah itu kekuatannya akan
jadi berlipat ganda dan tak dapat dibendung lagi.”
“Sekiranya yang sebaliknya yang terjadi?”
“Maksud Tuan kalau ramalanku meleset?”
“Bukan meleset, Tuan Tholib. Tentu ramalan Tuan pasti
tepat. Tapi sekiranya, kataku, sekiranya kejadian justru
tidak mengindahkan ramalan Tuan? Kalau Tuban yang
jatuh?”
“Lihat, Tuan. Itu bisa saja terjadi. Jatuhnya Tuban
berani jatuhnya seluruh bagian tempur Jawa ini. Dan
kantor Tuan yang bagus bergeladak tebal ini, belum juga
selesai, akan segera kena landa juga. Laut dan darat Jawa
akan tertutup bagi Portugis,” Tholib tertawa menggigit.
“Lagi pula. Tuan Martinique, siapa sebenarnya punya
pikiran membuka kantor di sini?”
‘Tentu ada,” jawab tuanrumah gelisah, “aku hanya
menjalankan perintah.”
“Kira-kira tidak begitu, Tuan. Aku pun punya tenaga di
kerajaan Blambangan ini. Berdasarkan keterangan dia telah
aku sarankan ke Malaka, agar pekerjaan di sini tidak
diteruskan. Panarukan hanya baik untuk menguasai jalan
laut Nusa Tenggara, sedang untuk itu cukup di Timor.
Tuan sebagai bekas nakhoda bukankah dapat membenkan
saran pada Malaka?”
“Apakah artinya aku ini?”
“Jawablah Tuan, itu menunjukkan Tuan ada
kepentingan pribadi dengan Panarukan.”
“Itu tidak benar.”
“Boleh jadi, tetapi aku akan bikin penyelidikan yang
teliti. Tuan Martinique. Siapa pun melihat betapa bagusnya
istana Tuan ini, rasa-rasanya Tuan sendiri yang
mengusulkan, agar Tuan dapat hidup bersenang dan
bertenang di sini di luar segala pengawasan.”
“Dan Tuan tidak memperhatikan kerajaan-kerajaan Bali
di sebelah sini.”
“Bali tidak akan menyerang Jawa. Dia kasa menyerang
hanya ke seabelah lebih timur, dengan penduduk lebih
sedikit. Maka itu untuk ke sekian kalinya Timor juga yang
lebih penting dari Panarukan. Jadi bagaimana Tuan
usulkan pada Malaka?”
”Tiada sesuatu.”
“Mungkin Tuan lupa, aku bukan hanya menuju ke
Malaka, juga ke Luboa!”
“Itu terserahlah pada Tuan Tholib sendiri.”
“Jangan Tuan marah.”
“Pastilah setiap orang Portugis akan marah bila merasa
disinggung kebesaran negerinya.”
“Apalah gunanya marah karena merasa kebesaran
negerinya tersinggung, sementara itu membiarkan din
dungu dalam mengurus kebesaran itu? Untuk apa marah
kalau hanya hendak mencari jalan membalas dendam?”
“Apalah gunanya kita bertengkaran begini? Aku akan
berusaha keras menghindari usaha-usaha Tuan mencari
dalih untuk bertengkar. Biar pun, ya, biar pun Tuan hanya
seorang Moro.”
Dan Martinique tahu benar, sebagaimana halnya dengan
pejabat-pe-jabat Portugis di perairan selatan, bahwa Moro
yang seorang ini adalah pelapor ulung yang jarang
bandingan. Banyak di antara laporannya mencelakakan
pejabat, tak ada yang menguntungkan. Sedang Malaka juga
membutuhkan dia untuk menjaga agar pejabat-pejabatnya
di darat tidak lengah karena kemakmuran dan kesenangan
karena dimanjakan oleh raja-raja Pribumi.
“Justru hanya seorang Moro, Tuan Martinique, dia lebih
mengetahui kebutuhan Portugis. Dia dapat melihat dan
mengerti lebih baik. Lihat, apakah perlunya membikin
kantor di sudut dunia tanpa lalulintas besar ini? Tentu Tuan
pernah mengusulkan, Tuan sendiri, dari Panarukan Jawa
bisa dikendalikan dan timur, dari Sunda Kelapa dari Barat!”
“Jangan Tuan berlarut-larut menyinggung perasaanku.
Tuan tidak punya wewenang untuk memeriksa pribadiku.
Ada kekuasaan lain. Setidak-tidaknya bukan seorang Moro.
Terlalu banyak orang Portugis yang pandai, seratus kali
daripada Tuan.”
“Tentu saja. Tapi apa yang Tuan katakan padaku juga
penting untuk Malaka.”
“Kapal Tuan akan datang dan katakan semua itu di
Malaka sana nanti apa yang jadi kemasgulan Tuan. Aku tak
suka Tuan campuri dalam soal Panarukan ini.”
”Tuan jangan salah mengerti, Tuan Martinique, bagiku
tak ada guna mencari kesulitan dengan Tuan. Aku bicara
hanya tentang kepentingan Portugis. Sebagai orang Portugis
tentunya Tuan berterimakasih ada orang bukan Portugis,
malah orang Moro begini, punya pikiran dan usaha untuk
kebaikan Portugis.”
Martinique tak dapat lagi menenggang kata-kata yang
penuh hukuman terhadap dirinya itu. Dan ia memang tak
dapat berbuat sesuatu apa terhadap Moro kepercayaan
Malaka ini. Justru karena dia bukan Portugis, kata-katanya
didengarkan oleh Malaka, keselamatannya dijaga dan
permintaannya dikabulkan, biar pun hanya berupa lima
atau sepuluh ons kopi.
Orang bisa melakukan sesuatu kekerasan terhadapnya.
Mudah untuk melakukannya. Tetapi orang bisa takkan
melihat tanah-air kembali dan salah-salah bisa tak melihat
pepohonan lagi. Ia tak dapat melakukan sesuatu kekasaran.
Kedatangannya berarti ancaman terhadap kedudukannya di
Panarukan.
Martinique sendiri memang punya banyak kelemahan di
hadapan Tholib Sungkar Az-Zubaid. Di pojok pulau Jawa
yang tenang dan damai ini ia tak perlu menghadapi perang
laut ataupun darat. Ia lebih suka bersahabat dengan raja
Blambangan Giri Dahanapura. Bahkan dengan Patih Udara
ia mempunyai hubungan baik. Di sini, dapat sedikit
menyenangkan raja, ia akan memperoleh yang ia inginkan.
Tak ada orang Portugis lain yang lebih tinggi
kedudukannya. Dari Sri Baginda Girindra Wardhana yang
telah tua itu, ia mendapat bantuan dua ratus orang untuk
pekerjaan membakar kapur dan batu bata dan membantu
pembangunan kantornya. Dan semua dapat ia perhitungkan
dalam nilai uang, dan Malaka harus membayarnya.
Keluarganya di negeri Portugis sana terjamin. Dan benar
sekali kata Tholib Sungkar tak ada pengawasan terhadap
dirinya di sini. Dan justru karena semua itu ia tersinggung.
Tholib ini pasti akan bersuara di Malaka sana. Ia pasti
akan ditarik dan Panarukan dan kembali memasuki dinas
lama. Mungkin seorang baru akan datang
menggantikannya. Mungkin kantor ini akan dibatalkan
sama sekali dan ditinggalkan. Dalam hati ia membenarkan
cerita banyak teman-temannya: orang akan jadi jengkel,
gelisah, marah dan ingin membunuh si hidung bengkung
ini, tapi tak berani. Sebaliknya si Moro yang seorang itu
terus juga bawel, cerewet, sikapnya tenang-tenang dan tak
malu-malu memperlihatkan diri sebagai seorang penjual
jasa terbaik bagi Peranggi. Dan Malaka dan Goa memang
mengakui jasa-jasanya dalam membangunkan kekuasaan
atas jalan laut dan dalam membangunkan monopoli
perdagangan rempah-rempah, baik dengan jalan kekerasan,
persahabatan, perang, melihat ataupun diplomasi, la
termasuk salah seorang perancangnya.
Martinique telah mempersiapkan jalan untuk melakukan
pembalasan dendam atas nama sejawat-sejawatnya, dan ia
akan kaget! tamunya ini dengan dendamnya. Tholib takkan
mungkin akan bisa membalas.
Maka dalam beberapa hari itu ia jamu tamunya dengan
baik. Menghalangi si Moro irri berlayar ke Malaka adalah
suatu perbuatan yang tidak mungkin. Dia mengetahui
lalulintas kapal-kapal Portugis, dan Tholib pun terkenal
punya kebiasaan menempuh banyak jalan untuk
menghubungi Malaka, surat-surat, utusan atau kunjungan
pribadi. Dan bila ia ke Malaka bukan tidak berarti jalanjalan lain tidak ditempuh. Orang harus berpikir beberapa
kali bila toh hendak membinasakannya di laut, karena
suaranya toh akan datang juga ke Malaka.
‘Tidakkah Tuan ada keinginan untuk mengunjungi
Saudara Cortez?” pada suatu hari Martinique membuka
perangkapnya. “Ia telah berhasil membuka rumah
perawatan di peluaran Panarukan, suatu jarak yang patut
ditempuh untuk berjalan-jalan.”
Syahbandar Tuban itu sama sekali tidak mempunyai
kepentingan dengan segala macam rumah perawatan di atas
dunia ini. Perhatian pun ia tak punya, la tak menanggapi.
“Barangkali ada juga baiknya,” Martinique menyarani.
“Tuan mengenal baik Rodriguez, bukan?”
Mata Tholib Sungkar Az-Zubaid yang besar itu
memancarkan pandang curiga pada tuanrumah.
“Tentu ada baiknya,” Martinique menemukan, “bukan
saja karena Rodriguez, rumah perawatan itu patut juga
dilihat, lagi pula Saudara Cortez adalah paman Rodriguez.”
“Rodriguez yang mana?”
“Siapa lagi kalau bukan si pelarian itu? Tuan justru yang
lebih mengenalnya.”
‘Tidak, aku tak kenal.”
“Aa, nampaknya Tuan sudah agak lupa. Bukankah Tuan
sendiri yang menyuruh Yakub membawanya ke kapal
dalam keadaan terbius dan terikat?” Ia pura-pura tak
melihat tamunya nampak agak gugup dan membetulkan
letak tarbusnya. “Mungkin Tuan bisa memberinya sedikit
keterangan tentang Rodriguez. Ia dipesan oleh adiknya, ibu
si pelarian itu.”
Tamu yang terbend itu tidak mengerti mengapa ia
menuruti saran tuanrumah, dan pada suatu pagi ia
tinggalkan kantor pergi ke luar kota. Martinique
mengantarkannya sampai ke pintu gerbang. Melihat
tamunya agak ragu-ragu, ia memberanikan: “Tak ada yang
perlu dikuatirkan di sini. Tuan. Seluruh Blambangan ini
sama aman, mungkin lebih aman daripada Lisboa atau
Madrid. Tidak seperti di daerah-daerah Islam sana.
Malahan di sini tak pernah ada pasukan peronda, tak ada
hermandad yang nyinyir dan lancang tangan. Tuan bisa
berjalan senang dan aman sampai ke luar kota sana ”
Syahbandar Tuban itu berjalan, tertindih oleh
bongkoknya sendiri, bertelekan pada tongkat. Sepanjang
jalan, pagar dari susunan batu karang itu juga yang
kelihatan, rapi menarik dilepa dengan tanah liat.
Arca-arca yang mengawasi perempatan jalan itu ia tetap
tak tahu namanya. Martinique pun tidak tahu. Sekali ia
memerlukan memperhatikan. Arca itu berdiri di bawah atap
ijuk dan semua bangunan di bawahnya merupakan umpak
tempatnya berdiri, setinggi barang lima meter. Sesajian
bunga-bungaan dan beras berserakan pada ke empat pojok
umpak.
Para gadis berjalan bebas bertelanjang dada seperti di
pedalaman Tuban sana. Anak-anak kecil berlarian di jalanjalan telanjang bulat seperti monyet. Dan hampir semua
lelaki bertelanjang dada dengan keris tersandang pada
pinggang.
Nampaknya semua lalulalang mengagumi tarbusnya
yang berjumbai lentur ke bawah, hidungnya yang
bengkung, bongkoknya yang tidak indah dan terompahnya
yang berat.
Apa saja yang pernah dilihat orang Blambangan ini
dalam hidupnya, pikirnya.
Beberapa kali ia melihat wanita tua ditandu atau seorang
pemuda bangsawan memperagakan diri di atas kudanya.
Dan ia tertawa dalam hatinya melihat kuda mereka yang
kecil lagi kurus dan tidak jarang berpenyakit kulit.
Dengan pandang sekilas ia dapat membedakan mana
ningrat mana bukan sekalipun sama-sama bertelanjang
dada. Antara satria dengan petani terdapat perbedaan sikap
dan tingkah-laku terlalu besar. Dan sering ia mengherani
betapa perbedaan bisa terjadi hanya karena kelainan tempat
dilahirkan dan dikandungkan. Perbedaan yang
menggelikan.
Sangat sedikit orang bisa Melayu di sini dibandingkan
dengan di Tuban. Dan pada umumnya orang tertawa
mendengarkan ia berbahasa Jawa Tuban. Tetapi ia tidak
peduli dan meneruskan jalannya.
Rumah perawatan yang dimaksudkan telah nampak dari
jauh. Pelataran depannya terbuka tanpa pagar. Pada pintu
depan dipasangi dengan salib besar dari kuningan,
mengkilat dengan paku-paku kuningan pula dengan
kepalanya yang setengah bulat. Dan pintu itu nampaknya
selalu tertutup. Orang luar tak dapat melihat ke dalamnya.
Ia berpaling ke belakang waktu mendengar langkah
orang yang sedang lari. Tak jauh di belakangnya dilihatnya
seorang wanita lari sambil menggendong anak yang kotor
dan telanjang. Kainnya diangkatnya naik sampai ke paha.
Wajahnya kemerah-merahan oleh kelelahan. Ia mundur
beberapa langkah. Dan wanita itu tak mempedulikannya,
lari terus dengan kencang. Di belakangnya lagi
serombongan kecil orang memburunya sambil berseru-seru
dalam bahasa Jawa setempat “Pogoh! Balik! Pulang1
Serahkan dirimu pada para dewa. Pogoh! Jangan ke situ!”
Ia dengar nafas wanita itu terengah-engah dan
melewatinya. Rambutnya terurai jatuh dari sanggul. Para
pengejarnya semakin dekat juga. Dan nampaknya mereka
sudah lari menempuh jarak yang tidak pendek. Beberapa
orang di antaranya sudah mulai tak mampu lari lagi. Semua
lebih tua daripada perempuan menggendong yang dipanggil
Pogoh, laki dan perempuan.
la lihat Pogoh masuk ke pelataran rumah perawatan,
langsung menuju ke pintu bersalib kuningan, berteriakteriak dan menggedor-gedor dengan kedua tangannya.
Pada salah seorang pengejar Syahbandar itu bertanya
dalam Jawa: “Ada apa ini?”
Seorang lelaki menghampiri dan meludahi mukanya:
“Kalian orang Peranggi busuk, di mana-mana mengganggu
kami!” tuduhnya.
la berhenti menghadapi Tholib. Dan Tholib menyeka
mukanya dengan selembar setangan putih.
“Jangan keliru!” raung Tholib, dan mengangkat tongkat.
“Aku pendatang baru.”
“Baru atau lama semua Peranggi sama saja!” ia meludah
lagi dan lari meneruskan pengejaran, menggabungkan diri
pada yang lain-lain.
“Keparat!” Syahbandar memekik, mengamangkan
tongkat dan menyeka mukanya.
Di sana pintu bersalib itu terbuka. Seorang lelaki
Portugis berpakaian pelaut memunculkan kepala dari
kiraian pintu, melihat pada Pogoh, kemudian melihat pada
para pengejarnya. Ia keluar dari pintu, mengembangkan
kedua belah tangan seakan sedang menghalangi serbuan
para pengejar. Dan Pogoh berlindung di balik punggung
orang Portugis.
Para pengejar tak berani menangkap perempuan itu.
Tholib Sungkar mempercepat jalan, dan tak lama
kemudian juga sampai di depan pintu bersalib itu.
“Jangan sentuh dia, Pogoh,” pinta para pengejar itu di
hadapan orang Portugis itu.
“Jangan masuki rumahnya. Jangan. Jangaaaaan!” pekik
seorang wanita setengah baya.
Syahbandar berdiri di belakang para pengejar itu,
terengah-engah.
“Lindungi sahaya, Bapa,” pinta Pogoh dari belakang
punggung Portugis berpakaian pelaut itu.
“Masuk cepat ke dalam,” perintah Portugis itu sambil
sedikit menengok padanya.
Tetapi Pogoh tak berani masuk. Portugis itu
mendorongnya dengan kakinya dan hilang di balik pintu.
”Ugh”
“Kembalikan Pogoh kami. Bapa,” wanita setengah baya
itu meratap.
Tak ada di antara para pengejar berani memasuki pintu
bersalib itu. Bahkan melalui Portugis yang seorang itu pun
tak berani.
“Sahaya bapaknya, Bapa, sahaya berwenang
menyelamatkan dia,” lelaki yang meludahi Tholib itu
membela haknya.
“Kau takkan selamatkan dia,” bantah Portugis itu dalam
Jawa setempat. “Kau dan kalian hanya akan aniaya dan
bunuh dia. Sudah kuterima Pogoh dalam perlindunganku.
Pergi kalian dengan damai. Jangan lewati pintu tanpa ijin
dan tanpa wewenang seperti diajarkan oleh leluhur kalian
sendiri. Jangan ganggu ini rumah orang lain, yang
bernyawa atau tidak, seperti ajaran leluhur kalian sendiri
juga. Pulang! Pulanglah dengan damai.”
“Pogoh, Bapa,” wanita itu mengulangi ratapannya.
“Pada suatu kali Pogoh akan kembali pada kalian, dalam
keadaan lebih baik dan lebih berbahagia.”
“Anak sahaya. Bapa,” wanita itu merengek, “juga cucu
sahaya. Bapa.”
“Pulang! Semua pulang! Jangan-jangan Sri Baginda
mengetahui ini dan menghukum kalian,” ancam Portugis
itu.
Dengan ragu-ragu para pengejar meninggalkan
pelataran, menyumpah-nyumpah. Melihat Tholib berdiri di
situ orang lelaki setengah baya itu meludahi lagi ditambah
dengan sumpahan.
Syahbandar mengayunkan tongkat dan si peludah tidak
menggubrisnya, malahan meludahinya lagi. Sekali ini ke
tanah. Dan sekali lagi Tholib terpaksa mengeluarkan
setangan dan menyeka muka.
Portugis berpakaian pelaut itu masih berdiri di depan
pintu di bawah salib kuningan waktu Syahbandar itu datang
padanya dan mengulurkan tangan.
“Selamat pagi, saudara Cortez,” katanya dalam Portugis.
Cortez mengawasi Portugis kehitaman itu sejenak,
mengamatinya dari kaki sampai ke tarbus, tersenyum
terpaksa berkata: “Selamat pagi. Siapakah yang aku
hadapi?”
“Syahbandar Tuban, Saudara Cortez.”
“O-ya, Tuan Syahbandar Tuban. Sudah beberapa hari ini
aku ingin menemui Tuan sebelum berangkat ke Malaka.
Mari masuk.”
Mereka masuk. Cortez menutup pintu dan terhenti
berdiri. Kakinya dipeluk oleh Pogoh yang bertelut di lantai,
sedang anaknya sedang merangkak-rangkak.
“Lindungi sahaya, Bapa.”
“Apakah semua ini, Saudara?” tanya Syahbandar dalam
Portugis.
“Hanya kejadian sehari-hari,” kemudian dalam Jawa
pada Pogoh: “Kau sudah dalam keadaan dilindungi di sini.
Pogoh namamu, bukan?”
Syahbandar menebarkan pandang selintas. Ruangan
besar itu dapat dikatakan kosong dari perkakas. Beberapa
orang wanita sedang bekerja membersihkan lantai dan
dinding, semua dari kayu. Melalui pintu dalam ia lihat
wanita dan hanya wanita atau bayi.
“Semua perempuan,” katanya kemudian.
“Bangunlah kau, Pogoh,” kata Cortez dalam Portugis.
Pogoh yang menengadahkan muka itu nampak bermandi
airmata.
“Bangun, kau!” Tholib Sungkar Az-Zubaid menjawakan.
“Makhluk celaka di negerimu sendiri ini,” kata Cortez
dalam Jawa pada Tholib Sungkar. “Seperti Pogoh ini,” Ia
menuding pada wanita itu. “Lari dari bangsanya sendiri.
Yesus Maria! Celaka bertubi celaka, suami meninggal dan
sebagai janda ia harus dibakar untuk mengikuti roh suami.”
“Bukan sahaya menolak mengikuti suami sahaya,”
Pogoh memprotes.
“Bangsa kafir, jahil celaka,” kata Syahbandar dalam
Portugis.
“Ada yang lari ke mari dalam keadaan bunting tua,” kata
Cortez dalam Jawa. “Allah Bapa, melindungi.”
“Sahaya tidak bunting, Bapa,” protes Pogoh.
“Bangkit kau berdiri.” perintah Cortez pada Pogoh
dalam Portugis.
Bayi yang merangkak-rangkak itu kembali pada ibunya
dan menangis minta dada.
Dan Pogoh mengambil anaknya dan menyusuinya. Ia
berdiri membungkuk, mengawasi lantai dan memprotes
dengan suara sangat lemah sehingga baik Cortez maupun
Syahbandar mencangkung untuk dapat menangkap:
“Bukan sahaya kurang atau tidak berbakti pada suami.
Bukannya suami kurang kasih dan sayang pada sahaya.
Cuma sahaya tak ada keberanian melompat ke dalam api,
meliuk-liuk dan menyeringai, kemudian jadi arang dan
debu kelabu tiada bentuk. Sahaya selalu ingat pada anak
sahaya yang seorang ini Siapa nanti akan menyusui dan
merawatnya.”
‘Takkan ada orang akan mengambil kau dari sini tanpa
semaumu sendiri,” Cortez meyakinkan. Kau berada di
tengah-tengah saudara-saudarimu sendiri. Hidup dan
bekerja dengan mereka.”
“Anak sahaya, Bapa.”
“Anakmu juga selamat di sini.”
“Sahaya lari dari api karena anak ini.”
“Beristirahat kau barang dua-tiga hari. Tenangtenangkan hatimu.”
“Kau masih akan punya anak lagi,” kata Syahbandar.
Cortez memandangi Syahbandar untuk mencegahnya
ikut campur. Yang dipandangi merasa diberanikan, dan
meneruskan: “Dan seorang lagi, dan seorang lagi….”
“Sahaya orang baik-baik. Bapa. Bukan untuk beranak
dan beranak sahaya larikan diri dari suami-dewa sahaya.”
“Diamlah Tuan,” kata Cortez dalam Jawa pada
Syahbandar.
“Diamlah kau,” kata Tholib dalam Jawa pada Pogoh.
Cortez nampak tak bersenang hati melihat campurtangan tamu tak diundang itu dan menyorong Pogoh
menyuruhnya masuk ke dalam. Kemudian pintu dalam itu
ia tutup.
“Banyak yang dapat dituai di negeri jahiliah begini,”
Syahbandar memulai.
“Bukan, Tuan Syahbandar, kami baru membuka ladang.
Menyebar benih pun belum.”
“Bagaimana rencana Tuan dengan mereka?”
“Ummat Nasrani makin lama makin banyak datang dari
segala pojok dunia untuk menjenguk Panarukan. Kapalkapal Portugis mengarungi semua samudra. Pada suatu kali
barangkali mereka akan kunjungi juga tempat ini dan
berangkat dengan mereka sebagai domba Kristus. Anakanak yang dibesarkan di sini akan mengembarai bumi
tumpah darahnya membawa terang pada bangsanya….”
Tak ada sebuah kursi pun di dalam ruangan itu. Dan
wanita-wanita pekerja itu telah masuk semua ke dalam.
Syahbandar membelokkan percakapan pada maksud
kedatangannya.
“Adapun tentang Rodriguez, kemenakan Saudara
Cortez, tentara Tuban telah membunuhnya. Mayatnya
dihancurkan dan dibuang ke laut. Itulah yang dapat aku
beritakan dengan dukacita kepada Saudara.”
“Yesus Maria!” sebut Cortez dan membuat salib dengan
jarinya. “Benarkah Tuan ini?”
‘Tidak ada yang lebih benar daripada itu, Saudara.”
“Tuan mengetahui betul?”
‘Telah aku bikin penyelidikan yang teliti.”
‘Tentu Tuan mengetahui betul. Manakah yang benar.
Tuan. Di Pasai sana orang mengabarkan bukan tentara
Tuban yang membunuhnya, walau pun dia dan temannya
memang dijatuhi hukuman mati. Jelas tentara Tuban
memang akan membunuhnya,” ia pandangi Syahbandar itu
seakan baru saja dilihatnya. “Tuan Syahbandar Tuban,
bukan?”
“Tidak keliru, Saudara.”
“Sayid Habibullah Al-Masawa, bukan?”
“Benar, Saudara Cortez, Sayid Habibullah Al-Masawa.”
“Alias Sayid Mahmud Al-Badaiwi, bukan?”
Syahbandar Tuban ragu-ragu. Matanya mengerjapngerjap dan pegangannya pada hulu tongkatnya
diperkukuh. Ia tak menjawab. Pertanyaan itu dirasainya
mengandung maksud buruk.
“Alias Tholib Sungkar Az-Zubaid, bukan?” Cortez
meneruskan. “Ya, itulah kata orang di Pasai sana, orangorang Portugis, maksudku. Mengapa Tuan diam saja?”
Melihat tamunya menjadi curiga dan waspada dan bersiapsiap hendak melakukan sesuatu, ia meramahkan wajah dan
tersenyum ikhlas meneruskan: “Melalui nakhoda kapal
Lisboa – tentu Tuan masih ingat kapal itu, bukan? – melalui
nakhodanya, Malaka telah menebus pada Tuan untuk harga
kemenakanku dan temannya bernama Esteban. Benar
begitu, bukan?”
Nafas Tholib Sungkar terengah-engah seperti habis
mendaki gunung, sedang bongkoknya naik-turun kembangkempis seperti insang ikan di darat.
“Mengapa Tuan diam saja? Yesus Maria! Beginilah
macamnya seorang pembunuh? Keluar! Mengotori tempat
ini dengan kehadiranmu? Penjahat paling hina yang pernah
ada di atas bumi. Orang tak kenal azas!”
Dan Syahbandar itu masih kehilangan kepribadiannya.
Matanya kelap-kelip memandangi penuduhnya yang
kehabisan kata-kata, menge-bas-ngebaskan jari-jarinya dan
masuk ke dalam melalui pintu dalam.
“Astagafirullah!” sebut Tholib kemudian. Dengan
perasaan kacau-balau ia keluar dari rumah pemeliharaan
dan langsung pulang ke kantor dagang Portugis.
Sampai di dalam bilik hatinya masih juga penasaran.
Perkara itu nampaknya telah diketahui oleh orang-orang
Peranggi di Pasai, dan barang tentu di Malaka juga, di Goa
dan Malabar, di Madrid dan Lisboa juga, menjalar juga
kira-kira di Maluku: Tholib Sungkar Az-Zubaid telah
menerima uang tebusan buat dua orang Portugis pelarian,
kemudian ia sendiri yang membunuhnya. Memang benar
ada saksi yang menyerahkan pelarian-pelarian itu, ada saksi
juga yang melihat ia menerima uang tebusan. Itu saja
mungkin belum begitu. Tapi berita ia telah membunuh
mereka? Membunuh orang Portugis – Moro membunuh
orang Portugis? sekaligus dua?
Dan sekarang ia merasa menyesal tidak membantah
Saudara Cortez berdepan-depan.
Kalau begitu Martinique barangkali juga mengetahui.
Tidak, Martinique berada dalam kekuasaanku karena
sekandal Panarukan ini. Sekali kubuat laporan dia akan
jatuh merangkak-rangkak seperti kepiting laut di debuan
bekas kebakaran.
Ia dengar-dengar suara ramai di depan kamarnya. Tak
salah: suara Martinique. Dan ia merasa kecut untuk keluar.
Kalau semua orang Portugis tahu siapa pembunuh mereka,
negeri Portugis dan Ispanya takkan mungkin lagi dapat
diinjaknya. Dengan senang hati baik pedang Peranggi
maupun Ispanya akan berjatuhan pada tubuh seorang Moro
terbenci.
Akan runtuhlah sisa hidup di hari tua?
Ia merasa Martinique memang sengaja mondar-mandir
di depan kamarnya. Maka ia sambar tongkat dan pergi ke
luar. Ia akan bertahan, Bertahan!
“Aa, Tuan Tholib Sungkar!” seru Martinique dengan
suara bernada kemenangan. “Mari duduk-duduk. Hari ini
ada borongan, Tuan, lain dari yang lain. Satu partai kulit
macan dari raja Klungkung di Bali sana,” ia menuding ke
arah pulau Bali. “Aku ada rencana untuk Malaka, Tuan.
Biar mereka persembahkan kulit-kulit ini sebagai permadani
bawah peraduan, persembahan ke bawah duli Sri Baginda
dan Sri Ratu. Tak bakal ada raja di seluruh Eropa
berpermadani kulit macan. Bayangkan, Tuan.”
“Rupa-rupanya Tuan tak pernah dengar tentang istana
Ispanya. Sudah sejak jaman khalifah kulit singa Afrika
dengan kepala utuh sudah dipergunakan untuk lapik
bercengkerama, berdeklamasi, berbicara tentang obatobatan baru…”
“Setidak-tidaknya bisa dijual ke Paris atau Wina.”
Tholib Sungkar tertawa meremehkan. Martinique
menutupi kekalahannya dengan menetakkan persoalan
baru: ‘Tentu Tuan disambut dengan gembira oleh Saudara
Cortez. Orang menganggap, bahwa Tuanlah yang tahu
betul tentang nasib Rodriguez dan temannya itu. Siapa pula
namanya? O, ya, Esteban. Aneh, orang-orang Portugis
dengan nama Spanyol. Ah-ya, mungkin saja.”
“Aku tak tahu tentang itu.”
“Mengapa Tuan terburu-buru ke rumah Saudara Cortez
seperti mendapat panggilan dari seorang kekasih? Dan
mengapa Tuan begitu buru-buru pulang seperti diburu
macan?”
Syahbandar Tuban megap-megap sebentar. Ia raba
dadanya. Rupanya aku sudah tua, pikirnya. Syarafku mulai
begini lemahnya.
“Baiklah kalau Tuan tak suka membicarakan soal
pembunuhan itu. Tentang menerima tebusan itu mungkin
mau. Rupa-rupanya Tuan kurang periksa, tidak lain dari
aku yang mengurus pelarian-pelarian itu waktu diserahkan
oleh Yakub ke kapal.” Tiba-tiba ia mengalihkan
pembicaraan. “Kapal Tuan akan datang lusa, dan akan
berangkat pada hari itu juga. Malaka akan bersorak-sorai
menyambut Tuan. Bukan sebagai penerima tebusan yang
hina itu, lebih dari itu, sebagai pembunuh dua orang
Portugis!”
“Seorang pengabdi Portugis takkan membunuh
Portugis,” bantah Tholib.
“Sia-sia, Tuan. Tuan kira waktu itu Tuan seorang diri di
dermaga Tuban? Ada seorang saksi ketika kilat memancar
dan Tuan tikamkan isi tongkat Tuan itu,” ia menuding pada
hulu gading tongkat tamunya, “pada salah seorang di dalam
krangkeng besi itu. Perlukah saksi itu dipanggil?”
‘Tidak, tidak ada saksi seorang pun. Dermaga sunyi!”
bantah Tholib.
Martinique tertawa terbahak. Dan Tholib menjadi pucat
setelah ucap-annya sendiri yang terakhir. Ia ketahui
tangannya gemetar dan dalam hati ia mengutuki syarafnya
yang telah jadi begitu lemah.
“jadi betul Tuan ada di dermaga waktu itu. Dan Tuan
mengira tak ada saksi. Mengapa Tuan jadi pucat? Karena
Malaka telah menunggu Tuan? Dengan tiang gantungan?”
“Coba Tuan terangkan’ Syahbandar itu berlunak-lunak,
“bagaimana Tuan sampai pada pikiran aku membunuh
mereka?”
“Begini saja, Tuan, mintalah keterangan itu di Malaka
sana. Pasti Tuan akan merasa puas.”
“Baik!” jawabnya untuk memutuskan persoalan yang tak
menyenangkan itu. “Bersama dengan kulit macan dari Bali
itu.”
Tetapi Martinique belum lagi puas dalam membalaskan
dendamnya. Ia masih harus melepaskan anak panahnya:
“Ingatkah Tuan pada seorang pewarung di bandar Tuban
yang bernama… ah, siapa pula namanya itu, oh, ya,
Yakub,… bukanlah dia juga yang mengantarkan pelarianpelarian itu di kapalku dulu? Ya-ya, Yakub namanya.
Dengarkan Tuan, pada suatu kali dia ingin juga kembali
melihat warungnya. Dia berdayung memantai dari timur,
sampai di dermaga naik, kilat menyambar, dan melihat
Tuan, tidak lain dari Tuan Syahbandar Tuban bermain
pisau tongkat…. Itulah dia si Yakub pelarian. Dan tongkat
di tangan Tuan itulah yang Tuan mainkan. Berani bertaruh,
dalam tongkat Tuan itu ada pisaunya,”
“Semua orang tahu, pewarung arak selalu menipu.”
“Dan Tuan selalu bersedia membayar tipuannya, bukan?
Aku juga membeli dari dia seperti Tuan.”
“Baiklah, kita sama-sama korban penipu yang seorang
itu, ia berdiri dari tempat duduk pura-pura tidak menderita
cedera pada pedalaman dirinya. “Siapkan kulit-kulit macan
Tuan, biar aku kawal ke Malaka.”
Ia melangkah ke arah biliknya kembali.
Betapa hebat orang itu menakut-nakuti! Perintah
penangkapan tak pernah dia keluarkan. Uh, mudah benar
aku ditakut-takuti. Kalau dia merasa benar, dia tak perlu
menakut-nakuti, dia akan biarkan aku berlayar ke Malaka.”
Dan sesungguhnya ia takut juga.
0o-dw-o0
Pada hari yang telah ditentukan Martinique
mengantarkan tamunya ke pelabuhan. Kulit-kulit macan
telah dimasukkan ke dalam kapal. Barang-barang Tholib
Sungkar masih menumpuk di dermaga.
Syahbandar itu nampak kurus dan gelisah. Pipinya
cekung tergantung dan matanya suram. Jalannya lambatlambat seakan bongkoknya, menjadi dua puluh kali lebih
berat.
Keributan kecil tiba-tiba terjadi di dermaga. Lambatlambat ia berjalan mendekati bersama Martinique.
Dalam sebuah lingkaran berdiri seorang pelaut Pribumi
yang bicara lantang pada para pendengarnya: “Pada hari ke
dua, teman-teman. Banteng Wareng dari pasukan kuda
Tuban menghalau Demak dari Tuban. Ia tidak rela
pasukannya jadi tertawaan umum. Bukan main Banteng
Wareng. Demak mundur dan maju lagi lusa harinya, seperti
air banjir membongkar tanggul Banteng Wareng terdesak ke
timur. Tetapi sebelum sampai ke kota. Kala Cuwil Patih
Tuban Sang Wirabumi dengan pasukan gajahnya
memotong dari selatan. Air banjir Demak patah di tengah
seperti saluran kejatuhan sekaten. Pasukan pengawal Tuban
menceburkan diri di dalam kancah. Kemudian pasukan
kaki Tuban memukul dari luar Tuban. Hampir-hampir
Trenggono tertangkap hidup-hidup oleh pasukan kaki.
Dengan kakinya sendiri ia lari tunggang-langgang
menerjang-nerjang, hilang di dalam semak-semak. Hebat
benar Tuban! Banteng Wareng! Kala Cuwil! Rangkum! dan
Braja! Tanpa raja! Kami akan balik ke Tuban hari ini. Hari
ini juga. Siapa ikut boleh turut!”
“Aku ikut!” seru Syahbandar Tuban. “Pindahkan
barang-barang ke dalam perahumu!” perintahnya.
‘Tuan tidak jadi ke Malaka?” tanya Martinique.
Tholib Sungkar Az-Zubaid tak menjawab, dan orang
mulai memindahkan barang-barangnya ke sebuah perahu
layar Tuban.
“Bedebah!” maki Martinique.
Syahbandar Tuban buru-buru turun ke perahu Tuban.
Novel Arus Balikk Bab 36 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.
Bagaimana alur cerita dari novel Arus Balik Bab 36 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua.
Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.
Untuk membaca Novel Arus Balik bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.
Komentar
Posting Komentar