Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 35 Disini

Novel Arus Balik bab 35 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Arus Balik menceritakan tentang kisah Kedatangan Portugis di Bumi Nusantara dengan latar awal Abad XVI, yaitu ketika surutnya pengaruh Majapahit dan naiknya pamor Kesultanan Demak.

Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Arus Balikk Bab 35 Bahasa Indonesia Sekarang ini. 

35. Lao Sam – Pajajaran -Sunda Kelapa

Perang di Tuban bolak-balik ke timur-barat. Usaha Pada

untuk menghadap Patih Tuban Kala Cuwil Sang Wirabumi

gagal. Ia lepaskan usahanya. Dengan menghindari daerahdaerah pertempuran ia memasuki Lao Sam dari sebelah

selatan.

Belum lagi memasuki daerah perkampungan Lao Sam ia

telah mengalami sesuatu yang tidak beres. Ia telah terkena 

dilaso. Seutas tali telah menjerat kaki, membantingnya ke

tanah dan mengangkatnya ke udara. Dan tergeonggeonglah ia dengan kepala ke bawah. Bungkusan

bawaannya terlempar entah di mana.

Kelelahan dari perjalanan menyebabkan ia tak mampu

mengangkat badan untuk membebaskan kaki dengan

tangannya. Darah dari kakinya ia rasai menyerbu ke bawah

dan menyesak dalam kepalanya. Nafasnya terengah-engah.

Dalam rembang malam itu dilihatnya tiga orang

Tionghoa bersenjata trisula besi dengan bagian tengah lebih

tinggi. Mereka datang menghampiri. Pada tahu ia telah

jatuh ke dalam tangan Nan Lung, Naga Selatan.

Dengan bahasa Jawa yang kaku dan aneh seorang

bertanya: “Tuban apa Demak?”

Dalam keadaan tergeong-geong begitu ia menjawab

tabah: “Dua-duanya tidak.”

“Bukankah kau Pribumi?”

“Betul,” Pada telah merasai kesakitan pada bagianbagian badan yang tersekat oleh tali.

“Bukankah kau tahu, Pribumi tak boleh memasuki Lao

Sam di waktu perang?” orang itu bertanya lagi.

“Tahu, tahu betul.”

“Mengapa berani-berani masuk kemari?”

“Turunkan aku, biar kuterangkan pada kalian.”

Mereka menurunkannya, dan Pada merasai darah di

kepalanya turun, membikin kakinya jadi semutan. Mereka

mengancamnya dengan senjatanya,

“Kau dalam bahaya. Jangan beri keterangan bohong.”

“Aku datang untuk mencari Babah Liem Mo Han.” 

“Ha! Siapa kau ini?”

Pada mulai berdiri, menjawab: “Siapa? Apa kalian tidak

kenal aku? Aku anak angkat Babah Liem.”

“Tidak kenal.”

“Kalau begitu kalian orang baru di Lao Sam ini.”

Dan benar, mereka memang pendatang baru. Setelah

Demak menyerbu Tuban, ratusan orang Tionghoa

didatangkan ke Lao Sam dari bandar-bandar lain, terutama

dari Semarang, untuk melindungi perjanjian SemarangDemak dan Ceng He-Majapahit Dua macam perjanjian

yang tersimpan dalam khasanah kelenting Semarang itu

mereka rasai sedang terancam setelah Demak berada dalam

kekuasaan Trenggono.

Mereka tidak mengenal Pada.

Tetapi mendengar korbannya ingin menemui Liem Mo

Han mereka melepaskannya dari ikatan dan menggiringnya

di bawah ancaman tiga trisula menuju ke tengah-tengah

kota Lao Sam.

Ia dibawa masuk ke sebuah rumah besar yang sudah

dikenalnya -rumah Babah Cia Mie An. Ia disuruh duduk di

atas kursi bambu dalam keadaan tetap terjaga. Salah

seorang di antaranya menyorongkan bungkusannya pada

pangkuannya. Dan ia mengucapkan terimakasih dalam

bahasa Tionghoa.

Beberapa orang wanita memasuki ruangan besar itu

membawa lampu tambahan. Pada mengocok matanya.

Tidak salah. Ia mengenal dua orang wanita itu. Dan mereka

nampak terkejut melihatnya. Mereka bersiap-siap hendak

menegurnya, tapi Coa Mie An kebetulan sedang masuk,

dan mereka pergi menghindar. 

“Ah, sahabat Pada Mohammad Firman,” tegur tuan

rumah sambil tertawa senang. Ia lambaikan tangan

menyuruh wanita-wanita itu menyingkir lebih jauh.

“Sahabat mau menemui Babah Liem, aku dengar.”

Pada menggangguk. Pikirannya masih tetap terpaut pada

perempuan-perempuan itu. Malah matanya masih

terpancang pada pintu ke mana mereka tadi menghilang.

“Nampaknya sahabat punya perhatian pada mereka.

Atau suka barangkali?”

Pada dipaksa untuk menyimak tuan rumah, la

menggeleng.

“Baru beberapa hari ini aku beli mereka itu, yang lainlain sudah aku bagikan. Yang dua ini aku maksudkan untuk

diriku sendiri. Maaf, sahabat , aku pun ingin punya anak.

Tapi kalau sahabat menghendaki. ..”

Pada tahu dua orang itu tak lain dari Nyi Ayu Sekar

Pinjung dan Nyi Ayu Campa.

“Tidak, Babah, terimakasih. Dari siapa Babah membeli

mereka?”

“Dari seorang perwira, sahabat, jarahan perang.”

“Perwira mana? Demak atau Tuban?”

“Tuban.”

“Masyaallah,” sebut Pada. “Bukankah Babah tahu

mereka selir-selir Sang Adipati? Bukankah yang seorang itu

Nyi Ayu Sekar Pinjung dan yang lain Nyi Ayu Campa?”

“Tidak salah, sahabat. Dan perwira Sang Adipati sendiri

yang menjualnya. Nampaknya sahabat begitu terkejut”

Dunia apakah semua ini, pikir Pada. Dan yang keluar

dari mulutnya: “Aku datang dari Malaka…’ 

“Ya, aku tahu, sahabat.” “Untuk bertemu dengan Babah

Liem.”

“Ya, aku tahu. Begini, sahabat, sudahkah ada pasukan

Tionghoa bergabung? Dan pasukan Semenanjung sendiri?

Dan pasukan Demak?”

“Seorang pun tak ada,” Pada menggeleng.

“Sudah aku duga. Dalam catatan disebutkan, Pasukan

Tionghoa itu sedikit sekali kemungkinan bisa datang.

Mereka juga dibutuhkan di perairan Manado dan

Kalimantan. Maaf, kami tak bisa berbuat sesuatu.”

“Biar aku mencari Babah Liem’

“Koh… Gouw Eng Cu sudah berkali-kali

memberitahukan pada Liem Mo Han agar jangan

menyampaikan janji pada siapa pun. Rupanya dia telah

sampaikan pada sahabat. Ada kau bertemu dengan Gouw

Eng Cu sebelum berangkat ke Malaka?”

‘Tidak.”

“Mestinya sahabat menemui dia lebih dahulu. Sayang

dia telah meninggal, pada hari pertama Demak masuk.

Memang suatu bencana, kecelakaan yang tidak bisa

dihindari. Perang, sahabat.”

“Dibunuh?”

“Ya.”

Mereka terdiam. Kemudian Coa Mie An meneruskan:

“Karena Babah Liem toh sudah menyampaikan pada

sahabat, aku merasa perlu untuk meminta maaf pada

Senapati melalui sahabat, juga pada sahabat sendiri.”

Pada tak menanggapi, dan ia meneruskan: “Melihat

penyerbuan Demak kemari boleh jadi dengan sengaja ia tak

mengirimkan seorang pun ke Malaka.” 

“Biar aku temui Babah Liem sendiri.”

“Nanti dulu. Nampaknya sahabat sangat lelah. Perlukah

dilayani wanita-wanita tadi?”

‘Tidak, aku sungguh terburu-buru.”

“Lebih baik sampaikan saja padaku, karena akulah

sekarang penggantinya.”

‘Tidak, Babah Liem sendiri yang aku perlukan.”

“Ah, sahabat. Kalau begitu, biar kuceritai apa

sesungguhnya telah terjadi: ayah angkat sahabat sudah

tiada.”

“Mati?”

“Ya. Dua bulan yang lalu. Ditangkap oleh pasukan

Demak dan diseret dengan kuda di atas jalanan sampai

ajalnya.”

Pada menyebut.

“Itu belum semua. Sewaktu membunuhnya, mereka

bersorak-sorak hendak juga menumpas Wiranggaleng dan

seluruh keturunannya. Juga namamu disebut-sebut. Kalian

dianggap bersekongkol melawan Demak.”

Pada minta diri.

“Nanti dulu, masih banyak yang harus dipercakapkan.

Seperti sahabat ketahui. Babah Liem tidak punya sanakkeluarga. Ia meninggalkan rumah dan semuanya. Barang

tentu semua itu jatuh ke tangan sahabat sebagai warisan….”

Pada minta diri untuk kedua kalinya dan mengucapkan

terimakasih atas segala yang telah diketahuinya. Malam itu

juga ia tinggalkan Lao Sam kembali ke jurusan tenggara. Ia

terpaksa balik ke Awis Krambil untuk membawakan berita

ancaman itu. 

Dalam keadaan kehabisan tenaga ia sampai di Awis

Krambil. Ia terpaksa menemui lagi Idayu dan menceritakan

segalanya. Keesokan harinya ia ungsikan keluarga itu lebih

ke dalam lagi memasuki daerah kabupaten Bojonegara. Di

sana ia tinggal selama tiga bulan, membantu menyiapkan

ladang dan huma. Dengan menyandarkan kepercayaan

pada kebesaran Tuhannya ia tak merasa merana lagi karena

cintanya. Sebaliknya Gelarlah yang memberinya kesulitan.

Ia selalu mengajak berdebat dan Idayu mendengarkan

dengan diam-diam. Ia tahu Idayu takkan berpihak padanya.

Dari perdebatan-perdebatan itu Pada menarik satu

kesimpulan. Gelar membenci apa saja yang berbau raja.

Bagi anak muda itu, di mana ada raja di situ ada kelaliman.

Ia sendiri berpendapat lain: bagaimanakah kehidupan dapat

diatur tanpa ada seorang raja?

Perdebatan yang tak habis-habisnya dan tidak

memuaskan kedua belah pihak, sampai rumah selesai

dibangun dan ladang habis ditanami dan ia harus pergi

untuk melakukan tugasnya.

Sekali lagi Gelar mengantarkan sampai ke perbatasan

Tuban. Sebelum perpisahan ia memerlukan bertanya: “Apa

jawaban emakmu?”

“Tentang apa, paman?”

“Anak Senapatiku kau ini atau bukan?”

Ternyata Gelar belum juga mendapat jawaban. Dan

mereka berpisahan.

Ia mengambil jalan darat. Jalanan negeri dilaluinya

hanya di malam hari. Bungkusannya sekarang dipikulnya

pada dua bilah tombak lempar. Pada pinggangnya sekarang

tergantung sebilah pedang. 

Walau pun ia tak pernah mengalami masa keprajuritan,

dengan senjata-senjata itu ia merasa lebih aman.

Perjalanan melalui daerah tandus yang merupakan

sayannah dengan selang-seling rawa besar dan kecil itu

sangat berat. Lebih-lebih lagi karena ia tahu balatentara

Demak yang menghendaki jiwanya. Maka ia pilih jalan di

luar kekuasaan Demak.

Setelah sampai waktu harus membelok ke utara, ia

berjalan hanya di malam hari melintasi daerah kekuasaan

bekas rajanya. Dengan demikian ia selamat sampai di

Jepara.

Ia sudah tak punya daya lagi untuk meneruskan

perjalanan. Ia telah biarkan kumis dan jenggotnya dan

cambangnya melebat pada mukanya.

Dan ternyata tidak semudah itu ia bisa menghadap Ratu

Aisah. Sama sulitnya dengan menghadap Kala Cuwil.

Seminggu sudah ia berjemur din di depan pendopo

rumah Ratu Aisah, dan tak seorang pun datang

menegurnya. Maka ia pun memutuskan, bila pada hari

yang ke tujuh ini tak juga mendapat tegur sapa, ia akan

meneruskan perjalanan ke Malaka.

Matari sudah mulai condong dan badannya sudah

sesiang tadi mandi keringat.

Seorang gadis cilik, cucu Ratu, datang menghampin,

berkata: “Sudah dihitung harinya. Seminggu sudah kau

bersimpuh hendak menghadap Nenenda. Tidak bisa,

Paman, Nenenda tak hendak menemui siapa pun. Siapa

kau ini. Paman?”

“Sahaya utusan dari Malaka, Raden, utusan Senapati

Wiranggaleng, datang untuk menghadap Gusti Ratu.” 

“Wiranggaleng,” gadis cilik itu berseru riang. “Aku kenal

nama itu!” Dengan kekanak-kanakan dan keramahan

Iuarbiasa ia meneruskan, “Kalau begitu akan aku

sampaikan. Duduk saja di situ, Paman, biar kubisikkan

pada Nenenda Ratu.”

Ia lari ke samping rumah dan menghilang. Pada

menghela nafas lega.

Dan matan sudah mulai tenggelam. Ia masih menunggu.

Gadis cilik itu keluar lagi membawa sebuah bungkusan dan

pundi-pundi.

“Nenenda Ratu tak berkenan dihadap oleh siapa pun,”

katanya dan menyerahkan pundi-pundi itu. “Ini untuk

Paman, dinar-dinar mas untuk perjalananmu, dan ini,” ia

menyerahkan bungkusan, “untuk siapa saja yang mampu

mengenakannya, kata Nenenda. Sekarang Paman buruburu saja tinggalkan Jepara. Berlayar sampai Semarang,

kemudian jalan darat sampai Banten baru kemudian

menyeberang. Begitu pesan nenenda.”

Anak itu tak mengulangi kata-katanya dan menyuruhnya

pergi dengan lambaian tangan, seakan ia hanya seekor lalat

tanpa harga

Dengan prihatin ia berangkat ke pelabuhan. Sepanjang

jalan ia berpikir: dunia apakah semua ini? Dia pikul

bungkusan sendiri dan pemberian itu pada tombak dan

pedang yang telah dibungkuanya dengan daun pisang.

Dengan sebuah perahu layar kecil ia menuju ke

Semarang kemudian berjalan darat memasuki pedalaman.

Ia menduga, pesan Ratu Aisah mempunyai hubungan

dengan gerakan armada Jepara-Demak. Maka ia harus

mematuhinya. Dijauhinya daerah pesisir. Dan dengan

demikian ia menempuh jarak jauh menuju ke Pajajaran. 

la tahu tak mungkin ia turun ke bandar Banten setelah

tempat itu diduduki oleh Demak, la harus turun ke bandar

Sunda Kelapa. Ia pun sudah mendengar armada JeparaDemak melakukan garis pengepungan terhadap Selat

Sunda. Ia tak pasti dapat menerobosi kepungan itu atau

tidak.

Setiap hari ia berjalan seorang diri atau dalam

rombongan dengan orang-orang lain. Sepanjang jalan ia

berusaha belajar bahasa Sunda. Dan hatinya harap-harap

cemas untuk melihat kerajaan Hindu itu. Pasti segalanya

akan lebih buruk daripada Demak yang Islam atau Tuban

yang setengah Islam. Segala yang kafir pasti buruk.

Dan teman-teman seperjalanannya dengan senanghati

mengajarinya bahasa Sunda. Ia sendiri dapat belajar cepat.

Di perbatasan Pajajaran ia menginap seminggu. Sudah

lama ia ingin mengetahui apa isi bungkusan dari Ratu

Aisah.

Dengan ragu-ragu ia membukanya, mengetahui bukan

haknya ia melakukannya, maka ia mengangkat sembah.

Tetapi ia tetap ragu-ragu. Dan bagaimana nanti kalau ada

punggawa memeriksanya dan ia tak tahu apa isinya? Pada

Tuhannya juga ia serahkan putusannya.

Sinar matari yang menerobosi dedaunan itu jatuh di atas

bungkusan dan berdansa-dansa dalam bercak-bercak

keputihan. Bungkus itu sendiri adalah kain tenunan putih

yang sudah agak tua. Di dalamnya ada pembungkus lagi

dari kain putih yang ditenun dengan benang sutra kuning,

malang dan bujur. Dan pembungkus itu berputar-putar

beberapa kali, lebih dari dua depa panjang.

Benda pertama yang keluar adalah selembar kain batik

bergambar kupu-tarung. 

“Lambang Jepara Adipati Unus almarhum!” pikirnya.

Kain itu dibukanya dan di dalamnya terdapat destar

dengan gambar peminggir kupu-tarung pula. Kalau begitu,

katanya dalam hati, mungkin pembungkus kedua adalah

tilam almarhum.

Di dalam destar terdapat sebuah pundi-pundi coklat dari

kulit kepompong berisikan cincin mas dengan gambar itu

pula, terukir pada bagian depan. Dalam pundi-pundi coklat

lainnya yang berselang-seling dengan wama jambu, juga

dari kulit kepompong, hanya lebih besar, terdapat seutas

kalung dengan pemberat selembar mas berukir dengan

tengah-tengahnya terdapat lambang itu juga. Gambar kupukupu itu seperti ditempel di atas lembaran mas itu, kaki dan

belalai-nya dari perak dan matanya dari intan. Selanjutnya

terdapat dalam bungkusan lain sebuah ikat pinggang dari

lembaran perak dan mas berselang-seling, berukir indah dan

pada bagian kepalanya pun terdapat gambar yang sama.

Dalam sebuah kasut dari kulit terdapat sebuah bungkusan

kulit kepompong kuning berisikan sebuah gelas emas

berukir gambar yang sama. Terakhir adalah keris yang

terbungkus kain biru nila. Sarung dan tangkainya terbuat

dan mas bertatahkan mutu manikam.

Ia perhatikan barang-barang itu sebuah demi sebuah,

mengagumi indahnya ukiran.

Tiba-tiba ia berseri-seri Suatu pikiran datang padanya: ia

akan memasuki Pajajaran sebagai seorang pangeran.

“Aku akan kenakan barang-barang kerajaan ini.

Mengapa tidak? Memang bukan hakku, hak orang yang

dapat meneruskan cita-cita Gusti Adipati Unus. Aku hanya

akan meminjam agar barang-barang bisa lebih cepat sampai

pada yang berhak.” 

Ia kemasi semua dan dengan girang meneruskan

perjalanan, terus seorang diri.

Di pinggiran desa Baleugbak di tepi Ctbwung, ia mulai

mengubah din-nya jadi seorang pangeran. Mula-mula ia

mandi bersih-bersih. Ia gosok badannya dengan pasir kali,

mengeringkan badan, dan mengenakan semua pakaian

kerajaan itu. Memang agak pendek dan longgar, tapi apa

salahnya. Seorang pangeran takkan dilihat dengan sebelah

mata karena pakaiannya kependekan dan kelonggaran Dan

ia harus berjalan hati-hati, kasut itu tidak cocok untuk

kakinya yang tak pernah beralas, kekecilan.

Dari kejauhan dilihatnya orang-orang desa sedang

mengangkuti panen.

“Bismillah,” bisiknya, dan dalam pakaian Adipati Unus

ia mengangkat sedikit kainnya dengan tangan kiri sambil

menjinjing bungkusan, dan dengan tangan kanan

berlenggang bergaya raja. Bungkusan itu ia sembunyikan

dalam sebuah rumpun semak di pinggir kali.

Ia tahu betul gaya ningrat bila berjalan. Baginya tak ada

sesuatu kesulitan. Dengan tabah, menyerahkan segalanya

pada Allah ia berjalan melenggang dengan tangan kanan,

meninjau ke sana-sini seakan sedang memeriksa sawah

sendiri.

Orang pertama yang dipapasinya adalah seorang gadis

yang mencari kejauhan untuk buang air. Anak itu cepatcepat menyingkir, meletakkan bakulnya di tanah, berlutut

dan menyembah. Dan Pada mengetahui benar anak itu

sudah tak dapat menahan desakan perutnya. la lambaikan

tangan dan meneruskan jalannya, berlenggang bangsawan

dan bergaya, lambat-lambat berwibawa.

Tanpa melihat ke belakang ia pun tahu gadis cilik itu

telah lari dari pandangan orang. Ia berhenti di bawah pohon 

sambil tersenyum-senyum mengagumi keindahan dirinya

sendiri yang bukan dirinya sendiri lagi.

Beginilah rasanya jadi pangeran. Belum-belum sudah

dapat satu sembah.

Tetapi gadis itu terlalu lama belum juga muncul, ia mulai

memanggil-manggilnya. Anak itu muncul juga dengan kain

basah. Ia merunduk-runduk mendekat dan menyembah

lagi.

Dua sembah, senyum Pada alias Mohammad Firman.

“Hai, Upik!” perintahnya, “pergi kau mendapatkan

kepala desamu. Sampaikan Sang Pangeran Adipati Pada

agar dijemput.”

Ia tak yakin gadis itu dapat menangkap kata-kata

Sundanya, namun ia segera menyembah dan lari

meninggalkan keranjangnya. Dan Pada menunggu di

tengah jalan dengan satu tangan bertolak pinggang dan

tangan lain memegangi ujung kainnya.

Sawah-sawah di kiri-kanan jalan hampir seluruhnya

telah terpaneni, jalan itu sendiri diapit oleh saluran air yang

mengalirkan air jernih tanpa putus-putusnya. Selama hidup

di daerah utara Jawa Tengah dan Umur ia tak pernah

melihat tanah sesubur itu, kaya akan air yang terkendali.

Jelas daerah ini jauh lebih baik daripada Tuban, Jepara atau

Demak. Udaranya sejuk dan nyaman.

Dari kejauhan terdengar olehnya kentongan ditabuh

bertalu-talu, dan tampak olehnya orang berlarian gugup.

Sebentar ia ragu-ragu adakah itu kentongan bahaya yang

mencurigai dirinya, ataukah kentong suka untuk

menyambut kedatangan Pangeran Adipati Pada. 

Ia tersenyum bahagia melihat orang berbondongbondong datang tanpa membawa senjata. Dan ia mengucap

syukur.

Orang-orang berpakaian lebih baik daripada umumnya

penduduk negerinya sendiri. Kulit mereka langsat. Cara

mengenakan destar pun berlainan, lebih ke bawah dan tak

ada nampak sudut-sudut datar yang dikakukan dengan

kanji, semua jatuh layu di bawah tengkuk.

Lelaki dan perempuan datang bersama-sama seperti

biasa terjadi di desa-desa pedalaman. Dan wajah mereka

berseri-seri, mungkin karena panen yang berhasil, mungkin

pula karena kedatangannya.

Tidak, bantahnya setelah teringat pada kata-kata Gelar,

tak ada orang desa berseri-seri ikhlas karena kedatangan

seorang pangeran. Jangan bohongi dirimu.

Seorang lelaki setengah tua berpakaian lebih baik, satusatunya yang menyelitkan kens pada punggungnya,

menyembahnya sekali, kemudian menyila kannya berjalan

lebih dulu.

Dan Pangeran Adipati Pada pun berjalan dengan satu

tangan berlenggang besar, tangan lain mengangkat kain.

Seseorang membawakan barang-barangnya. Dan semua

orang mengiringkan di belakangnya.

Pelataran kepala desa hampir-hampir penuh dengan

tumpukan padi sebagaimana halnya di pelataran lain.

Wanita-wanita berlutut di antara tumpukan-tumpukan itu

dan menyambutnya dengan sembah.

Melalui tumpukan padi pula ia diiringkan memasuki

rumah. 

Juga di tangga rumah anggota-anggota keluarga kepala

desa berlutut menyembah. Bocah-bocah bersimpuh di

tanah, juga menyembah.

Selamat, pikir Pada, semua takluk di bawah kekuasaan

Sang Pangeran, insya Allah.

la naiki tangga dan masuki pendopo yang digeladaki

dengan pecahan kayu sadang yang mengkilat hitam. Sebuah

meja rendah disiapkan untuk kedudukan Sang Pangeran.

Tak ada bangku di seluruh desa itu. Dan semua orang, baik

di geladak ataupun tanah, menghadap padanya seakan

mereka punggawa pada hari penghadapan.

“Betapa sukacita sekalian kawula di sini mendapat

kunjungan Gusti Pangeran..”

“Pangeran Adipati Pada!” Pada membantunya sambil

mengangkat lengan memamerkan gelang masnya.

“Dari manakah gerangan Gusti Pangeran Adipati maka

datang ke desa Baleugbak tanpa pengiring?”

Pada mengumpulkan kata-kata Sunda yang

dibutuhkannya, tapi ia tak mengerti betul apakah tepat

untuk keperluan resmi semacam ini. Ia menjawab sejadijadinya: “Kami datang dari jauh, dari timur sana. Dari

Jepara.”

“Jepara!” seru beberapa mulut.

Orang tak memperhatikan keanehan kata dan

kalimatnya. Orang tersentak karena Jepara.

“Bagaimana mungkin, Gusti Pangeran, sedang armada

Gusti sedang menerjang bandar Sunda Kelapa….”

Pada menggeragap. la menyesal telah menggunakan kata

Jepara. Mengapa ia tak menggunakan tempat lain?

Mengapa mesti Jepara? Nama yang sedang dibenci di 

mana-mana. Ia tabah dadanya untuk mendapatkan

ketabahannya kembali. Ia tak boleh lebih lama gugup. Ia

harus segera menjawab. Dibukanya senyum manis dan

berkata meyakinkan, lebih pada diri sendiri: “Ketahuilah,

kau. Kepala Desa, kami Pangeran Adipati Jepara tidak

setuju armada Jepara-Demak melanggar Sunda Kelapa.

Maka itulah sebabnya kami berselisih dengan Sultan

Trenggono Demak, saudara kami, juga dengan PanglimaLaksamana-Gubernur Fathillah.”

Ia hampir-hampir kehabisan kata. Sedang kata-kata yang

terhambur pun belum tentu betul. Waktu ia belajar bahasa

Tionghoa, Liem Mo Han mengatakan padanya: kalau kau

sudah bisa menipu dengan bahasa ini, kau benar-benar

sudah pandai Tionghoa. Dan sekarang ia sedang menipu

dalam bahasa Sunda, dan ia tahu benar sama sekali tidak

pandai Sunda.

Semua orang menunggu kata-katanya selanjutnya. Dan

ia meneruskan tersendat-sendat: “Jadi larilah kami kemari

untuk mengabdi di bawah duli Sri Baginda Prabu Sedah.

Barangkali diterima dan diluluskan untuk dapat

menghadapi Panglima-Laksamana-Gubemur Fathillah.”

Pada diam dan menebarkan pandang pada semua orang

di hadapannya. Ia tahu bahasanya menubruk-nubruk, tak

ada jalan lain yang dapat ditempuhnya.

Belum lagi kepala desa membuka suara ia menggeragap

lagi, menyedari bahaya baru yang mungkin menimpa

dirinya dengan serbuan Fathillah terhadap Sunda Kelapa.

Ia bermaksud hendak menerobos kepungan Demak dari

Sunda Kelapa, sekarang bandar ini justru jatuh ke tangan

Demak. Dengan menantang Fathillah hanya karena hendak

berkelakar ia akan terjatuh dalam kesulitan yang lebih

parah. 

“Patik semua di sini bergagama Hindu, Gusti, sedang

Gusti Islam. Orang-orang Islamlah yang menyerbu negeri

kami dari laut, sedang Gusti memasuki negeri kami dari

darat.”

Ia sepenuhnya mengerti ketidak-percayaan kepala desa

itu. Dan sekali dimulai dengan kebohongan, kebohongan

lain harus membantunya. Celaka. Cepat-cepat ia

menerangkan: “Ketahuilah, Pangeran Adipati Jepara ini

masuk dari darat tanpa membawa balatentara. Ia datang

sebagai pelarian.”

“Kalau begitu soalnya, Gusti akan patik kirimkan utusan

untuk mempersembahkan kedatangan Gusti Pangeran

kepada Gusti Patih di Ibukota.”

Pada menjadi pucat. Dan kata-katanya tak juga mau

datang ke otaknya. Ia gerak-gerakkan lengan untuk

menutupi kegugupannya. Dan keluar saja dari mulutnya:

“Ketahuilah, kami akan menghadap sendiri. Sediakan

untuk kami pengiring secukupnya, sediakan untuk kami

penginapan untuk beberapa hari….”

0o-dw-o0

Armada Jepara-Demak memblokade bandar Sunda

Kelapa dari laut dan darat. Perdagangan dan kesibukan

bandar jatuh. Perahu-perahu kecil dari pantat jauh dari

bandar, juga dari bandar kedua Pajajaran, Cimanuk,

berbondong-bondong menerobos ke Panjang di ujung

selatan Sumatra, meloloskan diri dari blokade.

Armada Fathillah tak mampu mengatasi penerobosan di

jarak sejauh itu, Maka ia jatuhkan perintah untuk

menguasai sama sekali Sunda Kelapa. 

Pendaratan serentak dimulai. Pertempuran yang tidak

begitu berarti terjadi. Mula-mula di daerah sekitar bandar,

kemudian meluas ke daerah rawa-rawa di peluaran bandar.

Kekuatan Pajajaran di Sunda Kelapa terlalu kecil dan

lemah dibandingkan dengan belasan ribu balatentara

penyerbu. Pangeran Sunda Kelapa sendiri yang memimpin

pertahanan. Dalam hanya satu hari pertempuran

pertahanan Sunda Kelapa dadal, pasukan Pajajaran

terdesak mundur sampai ke pedalaman.

Pangeran Sunda Kelapa ditemukan tewas di tengahtengah empat orang perwira yang hendak

menyelamatkannya.

Fathillah, yang sendiri memimpin pendaratan, ikut

melakukan penghalauan dan pembersihan terhadap daerah

bandar. Ia temukan tugu perjanjian Portugis-Pajajaran yang

berdiri di atas sebidang tanah, yang dicadangkan untuk

kantor dagang Portugis.

Ia memerintahkan untuk merobohkannya dan

menceburkannya ke dalam kali Ciliwung tanpa sesuatu

upacara.

Keesokan harinya Fathillah mendapat serangan

pembalasan. Pajajaran menurunkan balatentara besar untuk

menguasai kembali Sunda Kelapa. Pertempuran baru segera

terjadi di rawa-rawa, riuh-rendah ditingkah sorak-sorak dan

canang dari kedua belah pihak.

Demak menggunakan cetbang bikinan pandai

Blambangan. Dan Pajajaran tak pernah mengenal senjata

ledak yang melumpuhkan syaraf ini. Mereka terhalau

meninggalkan rawa-rawa dan naik ke darat dalam

pengejaran peluru cetbang. 

Melihat balatentara Pajajaran menarik diri Fathillah

memerintahkan penghentian pengejaran. Seluruh bandar

jatuh ke tangan Demak. Perlawanan Pajajaran patah dan

Sunda Kelapa terpaksa dilepaskan.

Walaupun Trenggono-Fathillah berkokok-kokok untuk

menumpas kerajaan Hindu di sebelah barat ini, namun

Fathillah tidak bermaksud menguasai pedalaman. Tanpa

bandar, katanya pada suatu kali di dalam khotbahnya,

Pajajaran akan jatuh dengan sendirinya tanpa arti. Maka

bandarnya yang kedua, Cimanuk, juga harus direbut.

Seluruh pesisir harus dikawal.

Dan itulah yang akan dikenakannya.

Ia kerahkan penduduk Sunda Kelapa yang telah

beragama Islam, dipilihnya yang muda-muda, dilatih dan

dipersenjatai, kemudian dinaikkan ke kapal dan dikirimkan

ke Cimanuk

Pasukan kaki Demak ditinggalkan di Sunda Kelapa

sebagai tentara pendudukan. Ia sendiri sekarang tinggal di

Sunda Kelapa sebagai Panglima Laksamana Gubernur

Banten dan Sunda Kelapa.

Penduduk Sunda Kelapa tidaklah banyak. Dalam banyak

hal bandar ini tak mampu melawan bandar Banten. Daerah

bandarnya sendiri pada umumnya ditinggali oleh pelarian

dari Semenanjung, terutama Malaka. Orang Pajajaran

sendiri segan tinggal di sini karena hebatnya penyakit

demam-pembunuh. Pendatang-pendatang itu seluruhnya

beragama Islam. Mereka lebih berpihak pada Demak yang

Islam daripada Pajajaran. Apalagi Demaklah satu-satunya

kekuatan yang dengan sunguh-sungguh berusaha mengusir

Peranggi dari negeri kelahiran mereka. Maka jatuhnya

Sunda Kelapa ke tangan Demak terlalu mudah. 

Fathillah tak menghadapi sesuatu kesulitan dalam

mengatur kembali kehidupan. Bahkan perintahnya untuk

mendirikan mesjid kemenangan di wilayah bandar

disambut dengan bersemangat oleh penduduk. O-rangorang Hindu yang sedikit, yang tak dapat menenggang kerja

untuk desa lain dan untuk menguasai lain pada

membangkang atau melarikan diri, meninggalkan harta

benda dan kampung-halaman. Mereka menghilang di balikbalik perbukitan pedalaman. Yang tertinggal kemudian

ditangkapi dan ditindas dengan kerja paksa. Tak ada tempat

lagi di bawah kekuasaan Fathillah untuk mereka yang

beragama Hindu.

Selama pembicaraan di pendopo Pada dapat melihat

hadirnya seorang gadis yang selalu memperhatikan gerakgerik dan bahasanya yang aneh, kaku dan dipaksapaksakan. Dialah satu-satunya yang tidak menunduk

Matanya laksana sepasang bulan kembar, bulat, dengan

bulu mata panjang dan lengkung. Nampaknya ia bersimpati

pada tamu agung yang jelas berada dalam kesulitan dan

sedang mencoba sekuat daya untuk keluar daripadanya.

Ia adalah Sabarani, anak kepala desa.

Ia jatuh kasihan. Baginya tamu itu sama sekali bukan

tamu agung, bukan seorang pangeran, hanya manusia biasa

yang membutuhkan pertolongan. Dalam gambarannya,

pasukan Pajajaran yang dibakar oleh dendam pada JeparaDemak akan merejamnya tanpa ampun. Dan gambarannya

itu pasti akan menjadi kenyataan dalam beberapa hari ini.

Ia mendengarkan suara hatinya yang memanggilmanggil untuk menolongnya. Tapi bagaimana? Ia belum

lagi tahu. Ia harus menolongnya. Bagaimana? Sedang

dirinya sendiri pun membutuhkan pertolongan? 

Ia sendiri harus melarikan diri dari desanya. Seorang

ningrat Pakuan dalam beberapa bulan mendatang akan

merenggutkannya dari desanya.

Ia akan diselir olehnya. Orang tuanya tak dapat berbuat

sesuatu. Seluruh desa pun tidak.

Ia menunduk waktu orangtuanya menyatakan

bersenanghati menerima Pangeran itu sebagai tamunya,

sudi menyediakan penginapan, dan berjanji akan

mengirimkan utusan ke Pakuan.

Setelah pertemuan selesai, di ruang belakang ibunya

berkata padanya: “Kau, Sabarini, putri berbangsa, hanya

kau saja yang patut melayani Gusti Pangeran.”

Dengan demikian ia mulai melayani tamu agungnya,

mencuci kakinya dengan air hangat, merapikan tempat

tidur dan menyediakan makan dan minumnya. Simpati

menyebabkan ia merasa lebih dekat pada orang asing ini

daripada seluruh penduduk desa.

Mungkin perpaduan antara kesulitan pribadi dan

kesulitan tamu itu dapat menghasilkan satu penyelesaian

bagi mereka berdua.

Selama ini tak ada pemuda sedesa berani menyatakan

kasih-sayang pada seorang calon selir ningrat. Untuk itu

jiwa bisa jadi tebusannya. Maka sebagai seorang gadis ia

tumbuh seorang diri dalam kesepian. Ia hanya dapat

menyaksikan teman-temannya ria bergembira menikmati

keremajaannya. Dengan diam-diam ia berjanji dalam hati

untuk membantu tamu itu melarikan diri, dan ia akan

mengikutinya kapan saja dan ke mana saja, asal tidak

menjadi selir saudaranya sendiri.

Dari cerita ibunya ia dan seluruh penduduk desa sendiri

pun tahu, pada suatu kali dalam perburuan kerajaan, Patih 

Narogol mendapat penginapan di rumah kepala desa. Oleh

ayahnya, ibunya disediakan untuk Sang Patih buat jadi

pelayannya selama persinggahan. Sejak itu sang ibu tidak

digauli oleh ayahnya, sampai si bayi dilahirkan. Dan si bayi

itu dinamai Sabarini. Seluruh desa menganggapnya sebagai

putri Sang Patih. Dan tak ada seorang pun berani

mempersembahkannya pada Narogol.

Lima belas tahun kemudian suatu perburuan singgah lagi

di desa Baleugbak. Putra Narogol yang melihat Sabarini

sekaligus tertarik pada kecantikannya dan meminta pada

kepala desa untuk menyelimya. Ia akan mengambilnya

barang tiga tahun kemudian. Ditinggalkan olehnya

sebentuk cincin pada keluarga itu dan selembar destar

sebagai tanda pengikat. Tak ada yang dapat mematahkan

ikatan ini kecuali Sri Baginda sendiri atau Sang Patih.

Pelanggaran berarti tebusan jiwa.

Setelah beberapa hari menginap, dan sawah telah dituai

seluruhnya, pesta panen untuk memuliakan Dewi Sri.

Upacara-upacara telah selesai sedang pesta menunggu

setelah itu.

Sebuah kalangan dibuka untuk mengalahkan juara tahun

lalu. Mula-mula diadakan pertunjukan demonstrasi

perkelahian kanak-kanak yang ditingkah dengan gamelan

sederhana, gendang kemong dan banyak suling. Waktu

gamelan berhenti, anak-anak keluar dari kalangan. Muncul

sang juara dengan sebilah tongkat bambu mengkilat seperti

telah lama di ganggang di atas api dan digosok bermingguminggu. Beberapa orang penantang mengeroyoknya

berbareng. Pertarungan sengit terjadi, juara itu melompat

dan menerjang, berpaling dan bergulung-gulung seperti

baling-baling lepas.

Penonton bersorak-sorak gegap-gempita dalam sinar

cempor-cempor besar di empat penjuru. 

Baik juara maupun para penantang berkilau-kilau

bermandi keringat dan debu. Dan setelah agak lama

pertunjukan berjalan, senjata seorang penantang terungkit

lepas oleh tongkat bambu sang juara, melambung ke atas

dan ditangkap oleh penantang lain. Penantang yang

kehilangan senjata keluar dari kalangan dalam iringan sorak

pujian untuk sang juara.

Selang beberapa bentar sebuah senjata lagi terungkit

lepas lagi. Dan demikian seterusnya sehingga para

pengeroyok terpaksa meninggalkan kalangan.

Sang juara mempertahankan kejuaraan desanya.

“Demikianlah kebiasaan di desa patik sejak nenekmoyangnya,” kepala desa menerangkan pada tamuagungnya.

Sekilas terangsanglah Pada untuk bercerita tentang

Tuban dan pes tatah unannya. Satu kesedaran, bahwa ia

seorang pangeran Jepara, mematikan rangsangan. Ia

mengangguk dan menggarami: “Bagus. Calon-calon prajurit

ulung.”

“Bukan calon prajurit, Gusti. Perang soal lain lagi. Yang

pandai berkelahi belum tentu pandai berperang. Lagi pula

negeri kami tak pernah berperang seperti negeri Gusti.

Kami lebih suka hidup dalam kedamaian.”

Pada menggeragap. Ia tahu telah salah menanggapi. Dan

ia merasa beruntung kepala desa itu tidak melanjutkan

persoalan.

Gamelan bertalu lagi. Suling-suling mengimbau

memanggil juara baru. Dan tak terkirakan heran Pada

melihat seorang gadis tampil ke gelanggang membawa dua

batang bambu kecil sepanjang lengan. Kainnya dilipat 

sedemikian rupa sehingga menjadi cawat, dan rambutnya

terkondai ramping seperti destar.

Dan gadis itu adalah Sabarini.

“Juara?” Pada bertanya.

“Juara, Gusti,” jawab kepala desa yang duduk di bawah

sebelah samping. Matanya berkilau-kilau bangga.

Sabarini memutar-mutarkan dua bilah tongkat pendek itu

ke udara dan menangkapnya kembali, melontarkan dan

menangkapnya lagi. Tongkat-tongkat itu berputar seperti

kitiran. Dan Pada baru sekali akan melihat perkelahian

dengan dua tongkat pendek.

Seorang gadis lain melompat ke gelanggang dengan

sebilah parang dan langsung menyerang. Orang bersoraksorak, kemudian terdiam melihat hebatnya serangan.

Hantaman-hantaman parang itu tertangkis oleh bambubambu pendek yang melindungi lengan.

Pada melihat, dengan bambu-bambu pendek itu Sabarini

ternyata juga bisa menyerang. Satu di antara bambu itu

melesit berputar mengenai tangan si penyerang. Parang itu

meleset ke samping, dan dengan bambu yang lain gadis itu

memukul tangan berparang sehingga senjata itu jatuh ke

tanah tanpa daya.

Orang bersorak-sorak riang. Penantang meninggalkan

gelanggang. Sabarini melontar-lontarkan bambunya ke

udara lagi sebagai undangan untuk penantang baru.

Tak seorang pun tampil ke depan.

“Gusti Pangeran!” seseorang berteriak.

“Ya-ya, Gusti Pangeran,” yang lain-lain membenarkan.

“Gusti,” kepala desa itu memohon, “itulah adat desa

kami. Gusti dipersilakan turun ke gelanggang.” 

“Kami!?” tanya Pada tak percaya. Peluh dingin mulai

membasahi tubuhnya.

Seumur hidup ia tak pernah berlatih berkelahi. Sekarang!

Sekarang akan terbongkar belangnya. Mana ada seorang

pangeran tak pernah berlatih keprajuritan dan berkelahi?

Mana ada? Haruskah diri dipermalukan di depan umum

oleh seorang gadis pula? Gadis desa Baleugbag? Betapa

dunia akan mentertawakan ningrat Jepara di kemudian

hari.

“Silakan Gusti Pangeran Adipati Jepara!”

Dan Pada mengerahkan pikiran untuk menemukan akal.

Lambat-lambat ia berjalan memasuki gelanggang. Memang

tak ada jalan lain untuk menyelamatkan muka.

Sabarini berlutut. Dua potong bambu pendek itu

digeletakkannya di hadapan Sang Pangeran, dan ia

menyembah.

Aku hanya pernah belajar bicara, pilar Pada, itu pun

belum tentu dapat dan bisa meyakinkan orang….

Langkahnya gontai dan kakinya berat. Ia ambil dua bilah

dari bambu di hadapannya dan pura-pura mengagumi.

Buat para penonton perbuatannya terlalu lama. Orang

sudah tak sabar. Tapi akal belum juga datang pada Pada.

Sekarang ia pura-pura mengagumi Sabarini, ikut pula

berlutut seakan-akan sedang mengikuti adat gelanggang,

tetapi bibirnya menggeletar berbisik: “Sabarini, ah,

Sabarini.”

Sabarini menyembah lagi, juga berbisik: “Gusti

Pangeran, patik di sini, Gusti,” suaranya lunak, bening dan

bernyanyi, menyirapkan darah Pada.

Orang-orang bersorak tak sabar. Pada berdiri. Sabarini

juga berdiri setelah mengambil jarak. Pada mengembalikan 

bambu pada yang punya. Sambil berpaling pada kepala

desa ia berkata dengan nada protes: ‘Tak pernah di tempat

kami bambu begini dipergunakan untuk berkelahi.”

“Ambilkan dua bilah pedang.” seseorang berteriak.

Celaka, raung Pada dalam hatinya, dari bilah bambu

beralih ke pedang. Akal! Hei, kau, akal, mengapa kau tak

juga datang hei akal?

Seseorang masuk ke gelanggang membawa dua bilah

pedang lebar tapi pendek. Dan badan Pada telah basah

kuyup oleh keringat dingin sendiri.

Pembawa pedang itu berjongkok menyembah, kemudian

mempersembahkan dua-dua senjata itu untuk dipilih mana

yang lebih cocok Dan Pada menerima dua-duanya dan

menimang-nimang. Berdoalah ia di dalam hati memohon

perlindungan dan petunjuk dari Tuhannya. Keadaan ini

harus diatasi. Dan doa itu memberinya ketenangan barang

sedikit. Keluar lagi kata-kata bernada protes dari mulutnya:

‘Tidak ada cara di negeri kami seorang satria menghadapi

wanita dalam gelanggang semacam ini/’

“Kang Acep, kau tampil, kang,” seseorang berseru.

Celaka, sekarang juara lelaki yang akan tampil.

Menghadapi Sabarini sekarang harus dianggapnya sebagai

kesempatan baik – sebaik-baiknya. Ia tak memprotes lagi.

Dengan membawa dua-dua pedang ia menghampiri

Sabarini dan menyerahkan semua. Cepat-cepat ia berbisik

“Lebih baik kuperistri kau daripada aku binasakan,

Sabarini, manis.”

Sabarini mengangkat mata dan memandangnya.

Tangannya salah menerima pedang dan senjata itu jatuh ke

tanah. Dan Sabarini tak juga segera memungutnya.

Orang-orang terdiam, heran melihat seseorang juara

luput menerima senjata. 

Gamelan berhenti mengejut. Suling-suling membisu.

“Bagaimana, Sabarini?” bisik Pada.

“Pedang itu jatuh, Gusti, dan tak ada kekuatan pada

patik untuk memungutnya,” Sabarini berbisik menjawab.

Pada mendapat kepribadiannya kembali dan berseru:

“Ambillah pedangmu, Sabarini!”

Orang melihat gadis itu gemetar. Sabarini membungkuk,

tangannya layu mengambil pedangnya, tapi badan itu

lambat sekali tegaknya. Dan belum lagi badan itu berdiri

lurus, lututnya kemudian tertekuk, pedang tergelincir dan

nampak tak ada niat padanya untuk memungutnya.

“Sabarini!” terdengar beberapa wanita berseru-seru.

Sekarang gamelan berbunyi lagi, pelan-pelan, tanpa suling.

Kepala desa masuk ke gelanggang, menyembah Pada

dan menghampiri anaknya, bertanya: “Mengapa kau,

anakku?” dan berpaling pada Pada.

“Dia telah menyerah, Kepala Desa, menyerah.”

Gamelan berhenti sama sekali.

Kepala desa membantu anaknya berdiri.

Sabarini mengangkat sembah lagi pada tamu agung,

menerima tangan bapaknya dan berdiri dengan susahpayah, berjalan gemetar keluar gelanggang.

Pesta malam itu bubar dengan keheranan semua

penduduk.

0o-dw-o0

Sesampai di rumah Pada segera pergi ke belakang dan

kemudian bersembahyang di dalam bilik, mengucapkan

syukur yang sebesar-besar-nya atas rahmat dan petunjuk 

yang diterimanya. Selesai bersembahyang ia lihat,

sebagaimana biasa sebelum tidur, Sabarini masuk ke dalam

bilik membawa air hangat pencuci kaki.

Ia turun dari ambin dan menyerahkan kakinya.

“Gusti,” bisik Sabarini, “benarkah yang patik dengar di

gelanggang tadi?”

“Mengapa, Sabarini?”

“Karena, Gusti, ternyata orangtua patik telah

mengirimkan utusan ke Pakuan begitu panen dan upacara

panen selesai. Pastilah tentara Pajajaran akan segera

datang. Larilah, Gusti, dan bawalah patik.”

Suara ribut terdengar di luar rumah: “Kepala desa! Mana

itu Pangeran Adipati Jepara?”

“Mereka telah mulai datang, Gusti, mari patik antarkan

lari, mari….”

Sabarini menarik tangan Pada dan yang ditarik

menyambar bungkusan-bungkusan bawaan. Mereka lari

setelah memadamkan pelita, ke belakang, langsung

menuruni tangga belakang, melintasi ladang, kemudian

sawah, sampai ke pinggir Ciliwung.

“Naik, Gusti, naik ke atas rakit ini.”

Sabarini menarik tali rakit, dan rakit itu meminggir.

Mereka berdua melompat ke atasnya, dan Sabarini

mengetengahkannya dengan sorongan galah. Tanpa bicara

gadis itu meluncurkan dan mengemudikan rakitnya menuju

ke hilir.

Pada sendiri masih terlongok-longok, kurang semangat,

belum juga sembuh dari terkejutnya,

Dunia apakah semua ini, ya Tuhan, tanyanya pada

Tuhannya. Dan ia tak mendapat jawaban. Ia menongkrong 

di atas rakit bambu, menenggelamkan kepala di antara dua

belah lutut. Dan Sabarini, terus juga berjalan mondarmandir menyorong rakit yang laju dibawa air deras.

“Sudah jauh, Sabarini, berhentilah kau.”

“Belum, Gusti, mereka masih bisa memburu dengan

sampan,” dan ia bekerja terus.

Pada berdiri, menghampiri gadis itu, ragu-ragu sebentar,

kemudian berkata: “Sini, Sabarini, biar aku gantikan. Kau

lelah.”

“Biarlah, Gusti. Patik biasa membawa rakit begini

Sedang Gusti tidak pernah.”

“Aku biasa mendayung perahu.”

“Rakit bukan perahu, Gusti, lain.”

“Air cukup deras begini, dia akan berjalan sendiri.”

“Kalau tidak dikemudikan akan menubruk-nubruk,

Gusti. Patik kenal riam-riam Ciliwung ini.”

Sabarini tak dapat dihampirinya. Ia terus juga mondarmandir mendorong rakit dengan galahnya.

Pada tidak tahu sesuatu tentang rakit. Ia ingin membuka

pembicaraan.

“Sudahlah, biar rakit berjalan sendiri.”

“Nanti berputar-putar. Gusti.”

“Biar berputar-putar,” dan ditangkapnya tangan gadis

itu. Ia rasai tangan itu gemetar. “Ke mana kau akan pergi

malam-malam begini?”

“Ke mana saja asal Gusti selamat.” Pada melepaskan

tangan itu. Sejak kanak-kanak ia sudah terbiasa bergaul

dengan wanita-wanita harem. Ia lakukan apa saja yang 

mereka inginkan. Tapi gadis seorang ini menerbitkan

hormat dalam hatinya. Ia tidak inginkan sesuatu

daripadanya. Ia hanya ingin menyelamatkannya.

“Dan kalau aku sudah selamat kau akan ke mana lagi?”

“Ke mana saja Gusti pergi.”

“Sabarini!” dan gadis itu tak menyahut. “Terimakasih.

terimakasih atas pertolonganmu. Nampaknya

keselamatanku menjadi kepentinganmu benar.”

“Bukankah Gusti sudah mengucapkan kata-kata itu?

Bukankah Gusti seorang satria, sekalipun Islam?”

Malam itu gelap. Dan Pada tidak mengerti bagaimana

gadis pendekar ini dapat mengendalikan rakit tanpa

petunjuk jalan. Nampaknya ia sudah mengenal alur

Ciliwung. Ia perhatikan arus kali permukaan air dan airmuka Sabarini dalam kegelapan. Dan ia tak mampu

menduga. Ia tunggu gadis itu menyatakan sesuatu, dan

Sabarini tidak membuka mulut.

Jauh di sebelah timur sana ada seorang wanita yang

membangkitkan kekaguman dan hormatnya, menyemaikan

cintanya yang tulus. Orang itu adalah Idayu. Di Pajajaran

ini ada juga seorang. Dan dia adalah Sabarini. Benarkah

langkahku, ya Tuhan? Adalah gadis asing ini Kau

pertemukan padaku dengan cara seperti ini untuk jadi

teman-hidupku yang tulus?

Dan ia tak mendapat jawaban dari Tuhannya. Tetapi

dari lubuk hatinya sendiri terdengar suara lantang: Kau

dungu kalau tetap mengimpikan Istri seorang sahabat, ibu

dari anak-anaknya. Sabarini cukup baik untukmu. Suara

dari lubuk hatinya tak berulang lagi. Dan ia sendiri merasa

memang telah membutuhkan seorang istri.

“Sampai di mana kalau terus menghilir?” ia bertanya. 

“Sunda Kelapa, Gusti.”

“Sunda Kelapa”, untuk ke sekian kalinya Pada

menggeragap. Mereka akan tangkap dirinya, juga Sabarini.

Ia merasa tak patut terlalu sering menggeragap begini. Ia

merasa kepercayaannya pada Tuhannya belum cukup

sempurna. Seorang yang beriman tidak akan sering

menggeragap, karena ada iman padanya, karena ada

kepercayaan pada Tuhan dan kekuasaanNya.

“Ya, Sabarini. Kita akan sampai ke Sunda Kelapa,

memasuki daerah pendudukan Demak. Mereka akan paksa

kau masuk Islam. Bagaimana kau?”

“Semua terserah pada Gusti. Patik hanya mengikuti

Gusti!”

”Tidakkah kau akan takut pada hukuman dari dewadewamu?”

“Barangtentu Gusti cukup bijaksana untuk memilihkan

yang baik untuk patik,” jawab gadis itu sambil terus

mendorong rakit dengan galahnya.

“Baik. Jadi kau sudah sedia jadi istriku.”

Sabarini tak menjawab. Sorongan pada rakitnya

bertambah keras, dan mondar-mandirnya semakin cepat.

“Kau diam saja, Sabarini.”

Waktu melewatinya Pada mendengar nafas gadis itu

yang terengah-engah karena mendorong sekuat tenaga

dengan galahnya. Bahkan dalam kegelapan ia mengetahui

Sabarini sama sekali tidak menengok padanya. Matanya

tertuju pada permukaan air yang samar-samar.

“Kita akan kawin di Sunda Kelapa secara Islam,

Sabarini, dan kau akan jadi istri-tunggalku.” Ia menunggu 

agak lama dan tetap tak mendapat jawaban. “Kau diam

saja.”

“Apalah yang harus patik katakan lagi, Gusti? Semua

Gusti yang menentukan. Kebijaksanaan Gusti tidak akan

patik ragukan, Gusti.”

“Baiklah. Jadi kau akan jadi istri-tunggalku.”

“Bagaimanakah dengan selir-selir Gusti?”

“Selir? Seorang pun aku tak punya. Kaulah calon istriku

pertama-tama, calon istri-tunggal.”

Dan Sabarini tak menanggapi. Ia hanya menjalankan

rakit, tanpa pernah menengok pada Pada.

Menjelang subuh rakit dihentikan di sebuah tempat

persinggahan. Gadis itu melompat turun ke darat dan

mencancang rakit pada sebatang pohon ketapang. Galah ia

letakkan baik-baik di atas rakit, kemudian diulurkan

tangannya pada Pada untuk membantunya turun.

Dua orang itu bergandengan mendaki tebing, menuju ke

sebuah bangsal bambu pada tubir tebing.

Bangsal itu luas dan menjadi penginapan mereka yang

pulang-balik melalui Citarum. Tak ada penjaga khusus.

Perawatannya diserahkan pada setiap perakit atau pemilik

perahu.

Dan pada subuh itu dalam bangsal telah ada sebuah

keluarga pelarian dari Sunda Kelapa. Dari percakapan

antara mereka dengan Sabarini Pada dapat mengetahui,

Sunda Kelapa benar-benar telah jatuh ke tangan balatentara

Demak.

“Mereka begitu berangsangan,” salah seorang

memberikan komentarnya, “seperti orang tak pernah

bertemu nasi. Tak ada lagi bisa merasa aman, maka kami 

lari naik kemari. Juga orang Islam sendiri tidak aman.

Semua dipaksa menyerahkan batang bakau-bakau buat

perbentengan. Jangan turun, lebih baik naik kembali.”

Pada mendengarkan dengan diam-diam dari luar bangsal

sambil menggambarkan tingkah-laku prajurit-prajurit

Demak yang dikatakan berangsangan itu. Ia belum berani

bertemu dengan orang, la masih berpakaian pangeran.

“Masih mungkinkah turun ke sana dengan rakit?”

Sabarini terdengar bertanya. Suaranya bening, merdu dan

menyanyi.

‘Tentu saja dapat. Mengapa tak dapat? Tapi buat apa?

Salah-salah jiwa tebusannya. Paling tidak orang akan

terbongkok-bongkok mengangkuti bakau-bakau setiap hari

sampai mati kena demam rawa.’

Pada mengherani apa sebabnya balatentara Demak

hendak mendirikan perbentengan. Seakan-akan mereka

sedang bersiap-siap menunggu datangnya musuh. Dan

musuh dari mana? Mungkinkah Peranggi akan membantu

Pajajaran sebagaimana pernah diperbincangkan orang? Dan

apa keuntungan Peranggi dengan bantuannya?

Tidak mungkin. Peranggi takkan membantu siapa pun

tanpa mendapat keuntungan. Boleh jadi Fathillah

membentengi dirinya sendiri dari serangan Demak. Dia

akan membangkang dan berdiri sendiri jadi raja.

Ia tak dengar percakapan selanjurnya antara Sabarini

dengan keluarga pelarian itu. Hari telah terang tanah.

Burung-burung dari hutan sekitar menyanyi ria menyambut

datangnya sang surya. Pagi itu ia tidak bersembahyang,

hanya mengucapkan doa selamat.

Tak lama kemudian Sabarini keluar dari bangsal,

menyembah dan berbisik padanya: “Lepaskan semua 

pakaian Gusti, dan kenakan pakaian tani.” Pada

menggeleng-geleng menyedari betapa kikuk ia selama

memainkan peranan Adipati Jepara. Ia mengakui memang

tidak pandai menjadi seorang penipu. Dilepasnya semua

pakaian Pangeran Adipati

Uitus dan dikenakannya pakaian sendiri, pakaian santri.

Waktu ia hendak lepas kasut kerajaan itu, tahulah ia barang

itu masih tertinggal di rumah orangtua Sabarini.

Mendung yang menutup puncak pegunungan itu kini

berubah jadi hujan deras dan membekukan darah. Keluarga

pelarian itu menyalakan pediangan penghangat kemudian

naik ke ambin pelupuh dan meneruskan tidurnya.

Pada dan Sabarini pun naik ke ambin, menggolekkan

badan berdampingan dan tertidur dalam kelelahan dan

kantuk.

Hujan makin deras dan makin deras.

Dan waktu matari dengan lemahnya mewarnai langit,

dan silhuet puncak pegunungan dan tajuk pepohonan mulai

muncul, hujan masih juga turun. Ciliwung telah meluap

sejadi-jadinya.

0o-dw-o0

Ciliwung adalah jalanan utama yang menghubungkan

Pakuan dengan Sunda Kelapa. Hasil bumi dari pegunungan

turun ke bandar melalui kali ini pula. Sebaliknya barangbarang dari laut naik ke pegunungan melalui kali ini pula.

Tapi kali ini kini sunyi. Rakit dan perahu nampak segan

meluncur di atasnya setelah Sunda Kelapa jatuh. 

Waktu Pada terbangun hujan belum juga berhenti. Ia

lihat Sabarini sudah tak ada di tempat. Penginap-pengmap

dari Sunda Kelapa telah berangkat meneruskan pemudikan.

Ia turun ke kali dan dilihatnya Sabarini dalam keadaan

telanjang bulat sedang berenang menuju ke rakit yang kini

sudah berada di tengah-tengah. Pohon ketapang tempat

mencancang berada barang sepuluh depa dari tepi air. Ia

lihat gadis itu menyelam untuk mendapatkan tali pada

batang ketapang. Kemudian ia muncul lagi dengan

membawa tali menarik rakit sambil berpegangan batang

kayu itu, kemudian melompat ke atasnya dan

mendorongnya ke tepian.

Pada menyembunyikan diri dan hanya bisa menyebutnyebut melihat keindahan tubuh Sabarini: “Masyaallah…

Allah Maha Besar… Kau karuniakan keindahan semacam

itu kepadaku, ya Tuhan, kepada hamba-Mu yang justru

tidak mencari ini. Betapa pemurahnya Engkau, ya Tuhan’

Ia sama sekali tidak perhatikan air kali yang kini telah

berubah kuning berlumpur. Sinar matari yang jatuh ke bumi

setelah menerobosi mendung hanya samar-samar

menerawang. Namun kesamaran itu tidak membatalkan

pengetahuan Pada, bahwa ia sedang mengagumi tubuh

cantik, indah, gesit – tubuh seorang wanita yang belum lagi

jadi istrinya.

Ia perhatikan gadis itu mengenakan pakaiannya yang

disangkutkan pada cabang batang gempol, dan dengan

pandangnya mengikutinya naik ke tebing. Dengan

membawa bungkusan ia keluar dari persembunyian dan

turun ke atas rakit. Dan sekali lagi ia mengagumi

keberuntungannya dalam kepercayaan pada keagungan dan

kemurahan Tuhannya. 

Ia mulai periksa rakit. Sebentar-sebentar ia meninjau ke

atas mencari-cari Sabarini. Tapi gadis itu belum juga

nampak. Ia berteriak-teriak memanggil, kemudian ia lihat

gadis itu lari menuruni tebing. Wajah merah dan nafasnya

terengah-engah. Tanpa bicara ia turun ke rakit, melompat

lagi ke pantai dan melepaskan tali pencancang, lompat lagi

ke rakit, mengambil galah dan mulai mendorong.

“Kita belum lagi makan pagi, Sabarini.”

Ia tak menjawab.

Dan Pada mencoba merebut galah, dan Sabarini tidak

mengijinkan.

“Patik tidak mengenal air sejak dari sini sampai ke Sunda

Kelapa, Gusti, apalagi Gusti sendiri. Biar patik yang

mengemudikan sendiri-lebih baik Gusti ikat bungkusan itu

agar tak terlempar kalau ada apa-apa.”

Pada merasa malu telah kalah wibawa, ia merasa dirinya

menjadi begitu bodoh di dekat gadis luarbiasa ini. Biasanya

ia merasa cerdas dan dapat memecahkan banyak perkara

yang pelik-pelik. Ia menguasai persoalan neraka dan sorga,

ia dapat menghafal nama dua puluh nabi, ajaran dan

mukjizatnya. Tapi di dekat gadis ini ia seperti seorang tua

yang pikun. Saking gemasnya pada kepikunannya sendiri

akhirnya ia menongkrong di buritan rakit Pada sebuah

celah batang bambu ia lihat sebutir lada terjepit sendirian

tanpa kawan. Ia korek dengan kuku, memungut dan

menggigitnya. Memang lada. Rakit hanya dipergunakan

sekali ke Sunda Kelapa. Sampai di sana dijual atau

ditinggal. Tentu sebelum ia dan Sabarini menggunakannya,

orang pernah memunggah lada di sini, kemudian di

bongkar lagi dan lada di daratkan kembali, tak jadi turun ke

Sunda Kelapa. 

Ia lihat air berkecibak di belakang rakit. Seekor kakap

melompat ke atas air, berenang lari ke hulu. Di belakangnya

nampak sirip hiu cucut yang memburu, membentuk garis

lurus membelah air.

“Di sini ada hiu, Sabarini?”

“Kalau kali banjir, Gusti, kadang-kadang ada juga.”

Kalau kali banjir, kata Sabarini. Mengapa kali ini banjir

sebelum datang musim penghujan? Dan mengapa di sini

sudah mulai turun hujan? Dan mengapa di Semenanjung

sana lain pula jatuhnya musim penghujan?

“Gusti!” terdengar Sabarini memekik

Belum sampai ia sempat menengok rakit telah menubruk

sesuatu. Pada jatuh dari cangkungannya, tertelentang pada

geladak rakit. Dan belum lagi ia dapat berdiri gadis itu

datang padanya dan menolongnya berdiri.

“Ampun, Gusti, patik tak lihat ada tonggak di bawah

air.”

”Tidak apa, Sabarini.”

”Tidakkah Gusti terluka?”

”Tidak.”

“Rakit harus meminggir. Gusti. Tali bagian depan

putus.”

Gadis itu mengambil lagi galahnya dan

meminggirkannya. Dengan cekatan ia melompat ke darat,

mengambil sebuah batu tajam, dan menariki kulit pohon

warn.

Pada tak tahu apa sedang diperbuat gadis itu. Ia berdiri

di dekatnya, bertanya: “Membikin tali?”

“Ya, Gusti.” 

“Sini, barangkali aku lebih pandai daripada kau.”

”Tidak, Gusti, sebaiknya Gusti lihat-lihat kalau ada

perahu balatentara Pajajaran memburu kita.”

Jengkel karena kekikukannya Pada menjauh, mencari

pohon yang sekiranya dapat ia panjat. Tetapi pepohonan

hutan itu tak ada sebuah pun yang dapat dipanjat. Semua

besar-besar.

”Tak usah naik, Gusti,” seru Sabarini. “Semua pohon

menjadi licin habis hujan begini. Lihat-lihat di dekat patik

sini saja, Gusti.”

Dan Pada menjadi malu pada dirinya sendiri. Betapa

gadis yang belum dikenalnya itu mengutamakan

keselamatannya – keselamatan seorang asing yang

mukanya penuh jenggot dan kumis dan cambang bauk.

Tentunya seorang gadis dengan pendidikan baik.

Matari berada di atas kepala waktu tali-tali itu habis

terpilin. Mereka berdua mengikat bagian depan rakit dan

mengencangkan tali-temali dengan pasak bambu.

“Kita teruskan mengilir, Gusti.”

Dan rakit meneruskan pelayarannya.

0o-dw-o0

Dengan seruan assalamualaikum pada penjagaan setiap

tikungan kali rakit itu memasuki Sunda Kelapa. Prajuritprajurit Demak membiarkan mereka lewat.

Dan apa yang diberitakan para pengungsi itu ternyata

benar. Orang-orang sibuk memikuli batang bakau-bakau

yang berat itu dari rawa-rawa ke bandar. Di sepanjang

bandar orang mendirikan tonggak-tonggak untuk

perbentengan. Ribuan orang mengangkuti pasir dan 

menimbun tanggul untuk menjadi dermaga dan benteng

sekaligus. Juga ribuan balatentara Demak bekerja

mengangkuti batu. Dari kejauhan mereka nampak seperti

serumpun semut yang sedang menggalang perumahannya

sendiri.

Mereka berdua mendarat di tepi muara tanpa mendapat

gangguan.

Cukup hanya dengan assalamu alaikum. Dan mereka

tidak tahu, bahwa Fathillah menghendaki agar orang-orang

pedalaman turun sebanyak-banyaknya ke Sunda Kelapa,

bukan saja untuk bertaubat, juga agar jumlah penduduk

yang terlalu sedikit itu bertambah tiga sampai empat kali

lipat Dengan penduduk terlalu sedikit ia tak banyak dapat

berbuat. Maka setiap pendatang dari pedalaman untuk

sementara tidak dikenakannya peraturan apa pun.

Dan pendatang-pendatang baru memang ada, walaupun

tidak banyak. Sebagian terbesar dari yang tidak banyak

datang dari sebelah barat Sunda Kelapa. Mereka adalah

orang-orang Banten yang bermaksud mencari perlindungan

dari Pajajaran setelah masuknya Jepara-Demak ke sana.

Serentak mereka mengetahui Sunda Kelapa juga telah

dikuasai Fathillah, mereka melarikan diri ke barat kembali

atau naik memasuki pedalaman Pajajaran. Sebagian kecil

dari mereka – orang tua-tua dan kanak-kanak yang tak

mampu meneruskan perjalanan – terpaksa tertinggal. Di

antaranya terdapat juga wanita-wanita dengan bayinya.

Fathillah memberi mereka tempat di bedeng-bedeng bandar

yang paling jauh. Bedeng-bedeng terdekat dipergunakan

oleh asrama prajurit-prajuritnya.

Pendatang dari selatan adalah laksana tetesan air, tidak

semakin banyak, malah semakin tiada. Pada dan Sabarini

adalah pendatang terakhir dari selatan. 

Mereka melangsungkan perkawinan di mesjid, dengan

dalih mengulangi perkawinan mereka yang telah mereka

lakukan secara Hindu. Sabarini bertaubat masuk Islam dan

Pada bertaubat untuk kedua kalinya.

Apabila mereka tinggal sampai sebulan, Pada akan

terkena wajib kerja seperti yang lain-lain. Bukan maksudnya

untuk jadi penduduk Sunda Kelapa. Ia berada dalam

perjalanan tugas. Ia harus segera meninggalkan tempat ini.

Ia sempat menyaksikan selesainya tanggul yang sangat

panjang itu. Ia ikut menghadiri pesta pembukaan kembali

bandar. Fathillah telah menyatakan Sunda Kelapa telah

siap untuk menerima lalulintas laut. Tetapi sebagaimana

halnya dengan bandar Banten, perdagangan lada ditentukan

olehnya. Harga yang menjadi lebih tinggi karena tingginya

pajak menyebabkan para saudagar enggan singgah baik di

Banten ataupun Sunda Kelapa. Sebaliknya sumber lada

kedua, Sumatra terselatan. Kini berubah jadi ramai. Bandar

Panjang tiba-tiba menjadi ramai dan penting.

Di sekitar mesjid orang pada membicarakan peraturanperaturan yang berlebih-lebihan dari Fathillah. Maka Pada

dapat mengetahui, perkembangan tidak berjalan

sebagaimana dikehendaki Sang Panglima-LaksamanaGubemur itu. Orang telah mendengar ancaman telah

dinyatakannya untuk menghancurkan bandar Panjang.

Untuk keperluan itu ia telah batalkan persiapannya untuk

meneruskan penyerangan dari Cimanuk ke Cirebon.

Ancaman itu tak jadi dilaksanakan karena tersusul

datangnya utusan dari Trenggono yang tidak membenarkan

maksudnya, karena itu menyalahi persekutuan militer

Trenggono-Fathillah. 

Novel Arus Balikk Bab 35 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.

Bagaimana alur cerita dari novel Arus Balik Bab 35 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua. 

Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.

Untuk membaca Novel Arus Balik bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 8 Disini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 28 Disini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 26 Disini