Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 33 Disini
Novel Arus Balik bab 33 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Arus Balik menceritakan tentang kisah Kedatangan Portugis di Bumi Nusantara dengan latar awal Abad XVI, yaitu ketika surutnya pengaruh Majapahit dan naiknya pamor Kesultanan Demak.
Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Arus Balikk Bab 33 Bahasa Indonesia Sekarang ini.
33. Demak Mulai Bergerak
Begitu telah mendapat kepastian pasukan gabungan
Tuban-Aceh-Bugis mulai menyerang daerah peluaran kota
Malaka, dan Portugis terpaksa membatasi ruang geraknya
di dalam kota saja, Trenggono memerintahkan menyerang.
Pasukan kuda dan kaki Demak dengan cepat menerjang
kabupaten-kabupaten sebelah timur negerinya. Santenan
jatuh. Balatentara itu bergerak tenis mengejar bab tentara
Santenan yang melarikan diri ke timur bergabung dengan
tentara bupati Blora. Dan dua orang bupati yang sekeluarga
itu tak punya pasukan kuda. Trenggono memperhitungkan:
juga Blora akan segera jatuh.
Semua orang lelaki kabupaten Santenan yang berumur di
atas tujuh belas sampai tiga puluh dan tak sempat melarikan
diri, di seret terus ke timur untuk jadi serdadu tambahan.
Balatentara gabungan Pesantenan-Blora yang menyedari
kelemahannya memasang perangkap-perangkap kaki kuda
dengan ranjau gambangan dari bambu, yang dijajar
renggang di atas lobang-lobang dangkal dan ditutup dengan
dedaunan dan tanah. Pekerjaan itu tidak sia-sia. Barisan
terdepan pasukan kuda Demak memasuki semua perangkap
dan kuda-kuda celaka itu pada patah kakinya.
Trenggono sangat marah melihat kerusakan pada
pasukan kuda kesayangannya. Ia mengancam bupati-bupati
bersangkutan akan merejamnya hidup-hidup.
Maka pasukan kaki Demak yang digalakkan oleh
harapan menjarah melewati pasukan kuda, menempuh
jalan hutan, dan menyerbu ke depan. Dua-dua pihak
balatentara yang bermusuhan tidak lagi mengindahkan
aturan perang. Mereka tak mesanggrah untuk kemudian
bertempur pada keesokan harinya. Kekuatan Demak
mengalir deras tak sempat menunggu persiapan lawannya,
menerjang yang terkena terjang membongkar yang terkena
bongkar. Pertempuran sengit terjadi di desa dan kampung
yang dilewati.
Di sebelah utara, balatentara Demak yang telah
dipusatkan Mfeetumnya di Juana, juga bergerak ke timur.
Rembang tidak mengosongkan daerahnya seperti halnya
dengan Pesantenan Satu pertempuran yang mendarah
terjadi dengan sengitnya di hutan bakau-bakau sepanjang
pesisir di mana penikan kuda Demak tak dapat berbuat
sesuatu pun. Dan pertempuran itu berlarut-larut hingga
Trenggono memerlukan datang ke daerah pesisir itu dan
sendiri turun ke medan.
Pada hari Trenggono memerintahkan penyerangan,
armada Jepara Demak, armada terbesar setelah jatuhnya
Majapahit, tujuh puluh kapal besar, dipimpin oleh
Panglima-Laksamana Fathillah. meninggalkan bandar
Jepara untuk ke tiga kalinya dan menempuh garis pelayaran
yang sama: ke jurusan Banten.
Sama halnya dengan dua pelayaran sebelumnya di setiap
bandar dikatakan mereka sedang berlayar untuk
menghadap Peranggi.
Mengetahui, bahwa balatentara Demak bergerak ke
jurusan timur dan mulai menaklukkan bupati-bupati
tetangga sendiri, orang menjadi curiga dan bersiaga.
Mengapa armada yang ditimang-timang Adipati Unus itu
tak juga menuju ke Malaka. Maka di setiap bandar hanya
dengan kekerasan bisa diperoleh air dan bahan makanan
Armada bergerak melewati Selat Sunda tanpa mampir ke
Banten dan membelok ke kiri sampai Ujung Kulon, seakan
memang sedang berja-ga-jaga agar Portugis tak masuk ke
Jawa. Walau demikian seluruh Banten telah bersiaga.
Kepercayaan orang terhadap Trenggono telah punah sama
sekali.
Gerak-gerik armada diikuti oleh Banten dari pesisir
Mereka melihat armada besar itu menurunkan beberapa
pasukan di Ujung Kulon. Dan di sana sudah menunggu
pasukan Banten Pertempuran sengit segera terjadi. Armada
menurunkan pasukan bantuan, kemudian mengangkat sauh
dan semua berangkat meninggalkan Ujung Kulon. Pasukanpasukan yang didaratkannya terus terlihat dalam
pertempuran.
Tujuh puluh kapal itu kembali menuju ke Selat Sunda.
Tiba-tiba membelok ke kanan, memasuki bandar Banten
sambil melepaskan tembakan-tembakan cetbang. Banten
pun melepaskan cetbangnya, tetapi pasukan-nya telah
banyak dipasang di sebelah pesisir barat. Pertempuran
cetbang yang berjalan selama setengah hari telah
menghabiskan peluru Banten.
Pendaratan dimulai oleh para penyerbu. Dan
pertempuran di atas pasir pantai meluas ke mana-mana,
ditutup hanya oleh malam. Dan dalam malam itu juga
Demak meneruskan pendaratannya. Mereka tahu Perangi
sedang sibuk di Malaka, dan mungkin melakukan sergapan
dari belakang.
Bandar besar di Jawa itu jatuh pada hari berikutnya
Pada hari ketiga setelah pendaratannya kekuatan Demak
memasuki ke pedalaman Banten. Balatentara Banten kalah
dalam jumlah dan persiapan. Dan setelah seminggu
bertahan pertahanannya pasukan Banten jatuh ke dalam
kekuasaan Demak.
Fathillah bergerak dengan cepat la dudukkan orangorang Demak jadi pemegang kekuasaan di Banten. Dengan
keras ia mengatur kembali pulihnya kehidupan dan
penghidupan untuk dapat bertahan terhadap kemungkinan
datangnya Portugis. Sebagian dari kapal-kapalnya
melakukan penjagaan terus-menerus di sepanjang pesisir
barat dan utara Banten.
Taraf pertama persekutuan militer Trenggono-Fathillah
telah berhasil. Dengan Banten sebagai pangkalan Demak,
seluruh Jawa sebelah barat akan dapat ditelan. Dan Demak
harus jadi modal.
Dalam waktu hanya tiga bulan kehidupan sudah pulih
kembali. Fathillah mulai memanggili penduduk dewasa
untuk dijadikan prajurit. Dengan jalan demikian ia telah
ganti kerugian manusia selama pertempuran seminggu.
Semua pandai besi dikerahkan untuk membikin peralatan
perang baru. Bandar dibuka kembali Dan negeri yang kaya
akan lada ini siap menunggu kapal-kapal dari Atas Angin.
Banten adalah penghasil lada dan minyak kelapa.
Dengan jatuhnya Malaka dan Pasai, ia telah menggantikan
kedudukan Gresik sebagai bandar terbesar di Jawa. Tetapi
Banten sendiri tidak mempunyai armada dagang ataupun
militer, karena percaya kegiatan perdagangan takkan
menyebabkan kekuasaan lain akan berniat menyerbu
selama dia sendiri tak menghendaki daerah orang lain.
Pertahanan dalam negerinya disia-siakan. Dan semua ini
telah diperhitungkan oleh Fathillah
Dan sekarang Fathillah akan menggunakan penghasilan
bumi dan laut Banten untuk memperluas gerakan
memasuki pedalaman sampai he Laut Kidul. Penduduk
bandar Banten sendiri membantu dan menyokongnya.
Mereka adalah Pribumi yang hidup dalam kampungkampung tersebar di sekitar bandar. Sebagian adalah
penduduk bangsa-bangsa Nusantara dan non-Nusantara
dan mereka mengirimkan wakilnya untuk menyatakan
takluk dan setia pada Demak. Tak bisa lain: balatentara
Fathillah sebanyak lebih dari lima belas ribu orang itu
takkan mungkin dapat ditahan oleh kekuasaan manapun!
Fathillah sendiri adalah seorang di antara sekian puluh
orang di Banten yang telah naik haji, dan seorang di antara
beberapa belas orang yang tahu berbahasa Arab. Dengan
pengetahuannya tentang agama Islam dalam waktu hanya
beberapa bulan orang mulai melupakan penyerbuannya dan
melupakan tindakannya yang keras. Ia sering berkhotbah di
mesjid dengan bahasa Melayu, la panggili para ulama
setempat, dan diperintahkan pada mereka mendirikan
majelis dakwah, yang bukan saja bertugas menyebarkan
agama Islam secara teratur, juga mewajibkan padanya
membentuk barisan musafir sebagaimana pernah dilakukan
oleh Demak, hanya sekarang untuk memasyhurkan
Gubernur-Panglima-Laksamana Fathillah.
Beberapa kali ia melakukan pemeriksaan ke pedalaman.
Beberapa kali pula ia mengerahkan pasukan untuk
menghalau penduduk yang menolak Islam dalam segala isi
dan bentuknya. Pada mulanya orang melawan dengan
senjata, tetapi kekuatan besar Demak yang membeludak itu
tiada terlawan. Kemudian mereka melawan dengan katakata – makin tidak berarti dan tertindas. Dengan sikap pun
tanpa makna. Mereka terpaksa melarikan diri dan mencan
daerah hidup baru tanpa Fathillah.
Jatuhnya Banten dan Pesantenan ke dalam kekuasaan
Demak sampai pada Wiranggaleng dua bulan kemudian:
“Khianat” bisiknya seorang diri dan pergi menyendiri ke
suatu tempat untuk memikirkannya “Tepat sebagaimana
kuduga. Semua telah berkhianat! Semua hendak menarinari dengan Peranggi di atas pundak si Wiranggaleng, anak
desa ini: Trenggono, Adipati Tuban, Fathillah Liem Mo
Han, Kala Cuwil, Ratu Aisah,… Dan pasukan gabungan ini
sekarang menjadi lola di negeri orang ”
Ia berpikir. Kesimpulannya hanya satu semua yang
terjadi telah melawan cita-cita Rama Cluring, bertentangan
dengan Adipati Unus.
Dicobanya berpikir terlepas dan semua ikatan dengan
Jawa. Ia tak mampu. Semua punya ikatan dengan Jawa,
justru bersangkut-sangkutan, bertali-temali.
Ia pulang ke markasnya. Dan Pada telah menunggunya,
juga dalam keadaan gelisah dan menunduk menunggu
teguran. Wiranggaleng tak menegurnya.
Senapati itu duduk diam-diam di atas ambin. Waktu
pimpinan kesatuan Aceh dan Bugis datang. Senopati
bertanya apakah tempat di mana pernah terjadi
pertempuran pertama antara kesatuan Bugis dan Peranggi,
dapat digarap jadi daerah pertanian tetap.
Melihat pimpinan kesatuan Aceh tak memberikan
jawaban ia bertanya apakah tidak atau kurang menyetujui.
‘Tidak, Hang Wira,” jawabnya, “bukan soal tidak atau
kurang menyetujui. Kami ada persoalan lain. Setelah Sultan
Mughayat Syah, Sultan kami, Sultan Banda Aceh
Darussalam, wafat, kesatuan kami diperintahkan ditarik,
dan kami harus pulang ke Aceh begitu jemputan datang.”
Berita itu laksana petir menyambar. Ia tahu Sultan Aceh
yang baru telah kehilangan kepercayaannya pada
Trenggono.
“Sembah sujudku ke bawah duli Baginda Sultan. Semoga
penumpasan terhadap Peranggi dari Malaka tetap jadi
perhatian. Kami yang tertinggal akan berusaha sebaikbaiknya.”
Berita dari Jawa itu telah melumpuhkan semangat
kesatuan Tuban. Di mana-mana tempat mereka
menggerombol dan membicarakan kemungkinan terjadinya
penyerbuan Demak terhadap Tuban sendiri
“Sedang kita ada di sini’ mereka mengeluh.
Dan keluhan itu adalah yang juga ada dalam hati Hang
Wira. Armada sebesar itu! Ia perang tanpa daya, ternyata
betul tidak untuk pembebasan Malaka, sebaliknya untuk
melampiaskan nafsu kekuasaan pribadi.
‘Trenggono!” sebutnya di hadapan pemimpin-pemimpin
kesatuan, “telah mengubah kedudukan kita menjadi badut
yang lemah, tidak lucu, dan tidak berarti. Aku akui
Peranggi berjumlah kecil, keampuhannya hebat. Dan
sekarang kekuatan kita semakin berkurang dengan
kepergian kesatuan Aceh.”
“Akan kuusahakan menghadap ke bawah duli Baginda
Sultan dan mempersembahkan semua ini,” pimpinan
kesatuan Aceh menyampaikan, “bebasnya Malaka dari
Peranggi juga jadi urusan Banda Aceh Darussalam.”
“Kami akan tetap tinggal di sini,” pimpinan kesatuan
Bugis memberikan jaminan. “Jatuhnya Malaka juga jadi
urusan Bugis-Makasar. Mereka jatuh, dan jalan kami ke
utara akan kembali terbuka.”
Dua minggu setelah itu kesatuan Aceh minta diri untuk
kembali. Kesempatan itu dipergunakan Hang Wira untuk
mengirimkan Pada pulang ke Jawa.
“Carilah berita yang benar, dan tengok mbokayumu dan
kemenakan-kemenakan,” pesan Hang Wira. “Cari Liem
Mo Han, cari keterangan tentang Kala Cuwil: jangan lupa
menghadap Gusti Ratu Aisah.”
Dan dengan demikian berangkatlah Pada.
Setelah pertahanan Rembang patah dan medan
pertempuran di hutan bakau-bakau selesai, balatentara
Demak memasuki Rembang, menjarah-riah segala yang
dapat dan ditemuinya.
Penduduk melarikan diri ke hutan-hutan pedalaman.
Balatentara pemenang itu kemudian membelok ke
selatan untuk membantu menghancurkan persekutuan
militer Pesantenan Blora.
Persekutuan, yang tak menduga-duga akan datangnya
balabantuan musuh dari utara, meliuk kena terjang dan
melarikan diri ke selatan.
Balatentara Demak, di bawah pimpinan Trenggono
sendiri, menang untuk ketiga kalinya.
Sultan Demak semakin berbesar hati. Seorang ke Banten
dan memberikan perintah baru: Ambil Sunda Kelapa!
Dalam pada itu balatentara Demak dari barat dan utara
yang bertemu di Blora, dengan membawa serdadu baru dari
tempat yang baru ditaklukkan, diperintahkan menerobos ke
timur laut untuk menaklukkan Tuban dan Bojonegara.
Patih Tuban Kala Cuwil Sang Wirabumi telah
menyebarkan telik untuk mengikuti gerak-gerik balatentara
Demak. Mengetahui bahwa para penyerbu akan menyerang
dari jurusan barat daya Tuban, disiapkannya pasukan gajah
di perbatasan. Ia percaya Demak takkan mungkin dapat
menembus pasukan gajah.
Telah ia pilih tanah lapang untuk membuka medan ini di
mana ia berjanji akan giling bonyok balatentara musuhnya.
Ditunggunya para penyerbu itu menyeberangi tanah lapang
itu. Dan perhitungannya tidak keliru.
Pada suatu hari, pagi-pagi benar, ujung pasukan kuda
Demak yang bersenjata tombak berjumbai berwama-wami
itu bersorak-sorak menyeberangi lapangan untuk mengutip
kemenangan yang ke sekian kalinya. Nyaris sampai ke
pinggiran lapangan, gajah-gajah Tuban pada berdiri,
bersuling, lari ke depan membawa bentengan kayu di atas
punggung.
Kuda-kuda Demak terkejut Tombak-tombak mereka
yang berdiri condong menuding langit sekarang mendatar
siap untuk melayang. Tetapi mereka tak pernah berlatih
menombak pada sasaran tinggi. Dan kuda-kuda kaget itu
menyulitkan pembidikan.
Sebaliknya panah dan tombak dari atas gajah
berlayangan bebas menuju ke sasaran.
Kuda-kuda Demak masih terus berlarian gugup melihat
gajah-gajah menggiling barang apa yang melintang di
hadapannya. Kegugupan Demak menyebabkan tubrukantubrukan antara mereka sendiri. Dan kuda-kuda di
belakangnya langsung membelok menghindari tanah
lapang.
“Lindungi Sultan!” seseorang berseru.
Mendengar Sultan ada dalam pasukan kuda itu Kala
Cuwil menjadi lebih bersemangat. Ia perintahkan pasukan
kaki menyerbu dengan ting-kahan canang dan gendang
bertalu, yang terdengar dari segala penjuru. “Tangkap
Sultan!” ia berteriak. Suaranya bergema-gema melalui
ribuan mulut lainnya. Panah dan tombak berhamburan di
medan pertempuran. Balatentara Demak mengalami
banyak kerusakan dan segera mengundurkan diri sebelum
pasukan kaki Tuban dikerahkan memburu. Bagi Trenggono
sendiri kemenangan atas Tuban menjadi petaruh untuk
gerakan militer selanjurnya. Dari Tubanlah seluruh Jawa
Timur akan dapat dikuasai. Dari sini akan dapat ditumpas
Blambangan sebagaimana halnya dari Sunda Kelapa akan
ditumpas Pajajaran. Dan dengan tumpasnya dua kerajaan
Hindu tersebut seluruh Jawa akan menjadi Islam atas
namanya. Dan Islam, menurut Fathillah yang kemudian
juga jadi pegangannya, menjamin kebebasan Jawa dari
Peranggi.
Khusus untuk Trenggono, Blambangan adalah gudang
peninggalan Majapahit. Dengan benda-benda kerajaan
Majapahit itu Demak saja yang bakal jadi kerajaan pewaris
syah dan tunggal dari Majapahit, dan seluruh Jawa akan
sujud dengan badan dan matinya padanya, pada Demak.
Kegagalannya di perbatasan barat daya Tuban membikin
ia menjadi beringas. Ditariknya semua pasukan kaki ke
utara untuk dapat merebut Tuban dari pesisir. Sebagian
kecil pasukan kuda ia perintahkan tinggal untuk menyibuki
pasukan gajah.
Tetapi Kala Cuwil tidak dapat ditipu dengan siasat itu.
Melihat balatentara Demak mengurangi kekuatannya ia
pindahkan semua pasukan gajah kembali ke kota.
Pagardesa dan sebagian kecil pasukan kaki ia tinggalkan
untuk menyibuki pasukan kuda Demak.
Demikianlah maka pertempuran kecil-kecilan terjadi
terus-menerus di perbatasan ini dengan membawa
kerusakan pada kedua belah pihak.
Induk pasukan Demak yang bergerak dari pesisir utara
menghindari daerah koloni Tionghoa Lao Sam, kemudian
mengancam perbatasan timur Tuban.
Meriam Portugis di tangan Tuban menyambut
kedatangan mereka.
Demak tertegun menerima peluru-peluru besi itu
sehingga gerakannya terhenti sama sekali. Kemudian
mereka menempuh jalan lain dan mendesak terus tiada
tertahankan. Cetbang-cetbang Tuban mulai berledakan.
Demak meliuk lebih ke selatan dan mulai membuka medan
pertempuran baru sebagaimana mereka tentukan sendiri.
Balatentara Tuban yang dipaksa bertahan melepaskan
pasukan gajah. Dan Demak meliuk kembali ke utara. Sekali
ini Demak berhasil menjebol pertahanan Tuban dengan
meninggalkan pasukan gajah.
Banteng Wareng dengan pasukan kudanya belum juga
dikeluarkan oleh Kala Cuwil. Patih-Panglima Tuban itu
punya rencana hendak menggunakannya untuk menyergap
dari belakang, bila Demak berhasil dengan desakannya.
Tidak diketahui penghubungnya telah tertangkap oleh
musuh dan tewas di pinggiran medan pertempuran.
Di kota Tuban, kehidupan masih berjalan tenang. Tak
ada orang percaya Demak bisa menembusi pasukan gajah
Tuban. Dua ratus tahun lamanya pasukan ini telah jadi
tulang punggung Majapahit Demak hanya kerajaan
kemarin! Tak tahu banyak tentang perang besar. Maka juga
pasukan pengawal kadipaten masih tenang-tenang di
tempatnya masing-masing. Kala Cuwil pun belum lagi
memberikan perintah untuk siaga.
Meriam Portugis dan cetbang tak berhasil membendung
desakan Demak. Sorak-sorainya kini mulai terdengar di
Tuban kota. Pasukan pengawal terperanjat dan tanpa
perintah Patih-Panglima mulai disiagakan untuk
mempertahankan kadipaten dan kota.
Dengan gopoh-gopoh Braja memasuki kadipaten untuk
mempersiapkan pengungsian Sang Adipati. Beberapa orang
perwira diperintahkannya memberitahukan pada penduduk
untuk mengungsi.
Di depan pintu peraduan Sang Adipati didapati Braja
dua orang pengawal bertombak itu masih berdiri di
tempatnya. “Siapkan tandu!” perintahnya. Dua orang itu
lari dan hilang dari pemandangan. Braja belum juga masuk.
Jantungnya berdebaran dan pikirannya sibuk untuk
mendapatkan kata-kata yang tepat. Ia menyembah, menarik
tali untuk memberitahukan pada penjaga di dalam. Tetapi
tarikannya tak mendapat jawaban. Ia buka pintu.
Dilihatnya Sang Adipati tergolek tenang di atas peraduan.
Dan tak ada seorang penjaga pun di dalam bilik itu.
“Braja!” panggil Sang Adipati.
Braja menjatuhkan diri, berlutut dan menyembah.
“Ampun Gustiku, Gusti Adipati Tuban sesembahan patik.”
‘Trenggono berkhianat”
“Sorak-sorainya telah terdengar dari sini. Gusti.”
“Kami tak dengar. Sorak-sorai Demak?”
“Sorak-sorai Demak, Gusti.”
“Khianat! Khianat!” ia ulangi kata-kata itu dengan suara
semakin lama semakin pelahan, kemudian tak terdengar
lagi.
“Gusti, sudah datang waktunya untuk mengungsi.” Sang
Adipati tak menjawab. Braja mendekati untuk mengulangi.
Sang Adipati sudah tak bernapas lagi. Wajahnya telah
menjadi begitu ciut dan rambutnya yang begitu putih
seluruhnya terberai di atas bantal. Destarnya terlepas dan
jatuh di samping kepala. Ia ambil destar itu, ia tutupkan
pada wajah jenasah itu. Kemudian ia lari keluar dan
berteriak-teriak: “Cepat! Mengungsi semua! Mengungsi!
Gusti Adipati Tuban jangan ditunggu. Gusti telah
mangkat.”
Ia terus lari ke belakang, tak mempedulikan orang
berlarian silang-pukang. Digedornya harem. Waktu pintu
itu terkirai, ia masuk di bawah protes Nyi Gede Daludarmi,
ia tak peduli, berteriak: “Pergi kalian! Pergi dari sini! Ke
mana saja kalian suka. Sang Adipati mangkat. Balatentara
Demak sedang mengancam. Cepat pergi. Bawa semua
barang kalian! Perempuan-perempuan itu pada menjerit
kebingungan.
“Diam!” bentak Braja. “Bawa harta-benda kalian. Lari
sejauh-jauhnya, jangan sampai tertangkap.”
la tinggalkan kadipaten dengan bimbang. Siapa dan apa
sekarang ia kawal? Jenasah Sang Adipati? Harta-benda
kadipaten? Ia lari masuk ke dalam asrama, memanggil
semua anakbuahnya, kemudian memerintahkan semua
bergerak ke selatan untuk mendapatkan Kala Cuwil Sang
Wirabumi.
“Gila! Balik! Pertahankan Tuban Kota.”
“Apa yang dipertahankan? Sang Adipati telah mangkat.”
Kala Cuwil berlutut. Kepalanya menunduk dalam.
Mangkat? Ia termangu-mangu. Apa lagikah yang harus
dipertahankan?
Dan Tuban Kota jatuh jadi rayahan dan jarahan tentara
Demak – tiga puluh ribu prajurit. Balatentara Demak asli!
Tambahan dari daerah-daerah taklukan baru lima ribu!
Dalam kawalan barisan kuda Trenggono turun dari
kendaraannya di depan gedung kabupaten Tuban. Dengan
langkah gugup ia naik ke atas diiringkan oleh para
pengawal.
‘Takluk menyerah kalian yang di dalam!” serunya,
“Sultan Trenggono Demak datang!”
Tiada seorang pun datang mengelu-elukan. Putri-putri
Tuban tidak, selir-selir pun tidak, apalagi prianya.
Ia berdiri di tengah-tengah pendopo, gugup menunggu
datangnya para pengelu. Sunyi senyap. Ia menoleh ke kiri
dan ke kanan. Kesenyapan juga yang hadir. Ia menengok ke
belakang. Semua prajuritnya turun belakangan dari kuda
masing-masing dan tak menyaksikan suatu penyerahan.
“Bedebah! Tumpas setiap yang hidup di dalam sini”
perintahnya. Pasukan kuda mulai memasuki kadipaten,
Trenggono sendiri diiringan regu pemeriksa gedung.
“Peraduan Adipati Tuban,” seorang perwira
mempersembahkan. “Bedebah! Keluar kau anjing Tuban!”
pintu kamar itu ia terjang. Juga tak ada yang datang
bersujud pada kakinya, la masuk ke dalam, langsung pada
Sang Adipati yang terbujur di peraduan. la cabut kerisnya.
Dan tubuh terbujur itu tiada memperdulikan-nya.
“Kaulah ini kiranya,” bentaknya murka, dan dicabutnya
destar itu dari wajah Sang Adipati Tuban.
Sekaligus ia tahu sedang berhadapan dengan mayat
Dipunggungjnya mayat itu sambil menyarungkan kembali
kerisnya dan bergumam, “Sayang. Tak kau saksikan
bagaimana kejatuhanmu sendiri. Takkan lagi kau saksikan
bagaimana Jawa sujud di bawah kaki Trenggono. Sayang
kau tak melihat pasukan gajah andal-andalanmu tersobeksobek oleh pasukan kuda Demak!” Ia berbalik lagi dan
melusuhi mayat itu. Dengan demikian ia tak jadi bermarkas
di kadipaten.
Pasukan Tuban menyingkir ke selatan. Dan Kala Cuwil
masih juga tak dapat memutuskan apa harus diperbuat.
Tak lain dari Banteng Wareng yang sangat kecewa
terhadap pimpinan Kala Cuwil. Ia lebih suka mati di medan
pertempuran daripada menderita kan malu telah kalah
tanpa berbuat sesuatu pun. Ia melawan tradisi pasukan
kuda Tuban, biarpun tak banyak jumlahnya. Ia tak rela
kalah sebelum bertempur
Pagi-pagi benar ia siapkan seluruh pasukannya. Tanpa
memberitahukan atau minta diri dan Kala Cuwil pasukan
kuda itu melakukan serangan mendadak atas Tuban Kota
yang telah jatuh ke tangan musuhnya.
Tak pernah dalam tradisi perang di Jawa sebuah pasukan
yang telah kehilangan raja melakukan serangan pembalasan
Maka juga Demak tak pernah memikirkan terjadinya
kemungkinan itu
Tapi serangan adalah serangan. Dan pagi itu balatentara
Demak, yang masih lelah dari berpesta merayah dan
menjarah kemarin dan semalam, masih aman tenang
bersembunyi di bawah selimut masing-masing. Dengan
cambuk-perang dan pedang terhunus pasukan kuda Tuban
menyambar-nyambar seperti elang
Balatentara Demak lari kocar-kacir ke jurusan barat
dengan meninggalkan jarahannya
Trenggono sendiri belum lagi bangun waktu serangan
terjadi. Prajurit pengawal membangunkannya dengan kasar
dan menariknya pada kuda yang telah disiapkan.
“Bedebah!” pekik Trenggono
“Mereka menyerang, kembali. Gusti”
“Siapa menyerang, bedebah? Adipati Tuban sudah
mampus.” Ia menolak naik ke atas kuda Tangannya
mencari pedangnya, tetapi senjata itu belum lagi padanya.
Bila ada, prajurit itu akan belah jadi dua.
Sorak-sorai dan geletar cambuk-perang pasukan Banteng
Wareng mengguruh dan segala penjuru.
Buru-buru Trenggono melompat ke atas kudanya.
“Ke sini. Gusti,” seorang prajurit.
Ia hentikan kudanya dan masuk ke dalam apitan
pasukan pengawal, berpacu ke jurusan barat. Dadanya
serasa hendak meledak karena murka, merasa dihina dan
dipermain-mainkan.
Dan dalam serangan mendadak itu Banteng Wareng
bertindak menggiring musuhnya keluar kota Tuban. Ia
segera perintahkan untuk merawat jenasah Sang Adipati.
Kemudian dikerahkannya pasukannya ke selatan kembali,
meninggalkan Tuban Kota dalam keadaan kosong.
Meninggalnya Adipati Tuban tak didengar oleh
Wiranggaleng. Dengan berita masuknya Demak ke negeri
kelahirannya kembali ia bergulat dalam pikirannya. Ia harus
mengubah pendapat yang lama: tidak semua berkhianat.
Kalau Demak menyerang Tuban, jelas Tuban tidak
berkhianat lagi pada cita-cita Adipati Unus. Tapi mengapa
Tuban mengirimkan armada jung? Di mana kapalkapalnya? Mengapa tidak diserahkan padanya? Dan
mengapa meriamnya ditahannya sendiri? la belum dapat
memutuskan. Setidak-tidaknya Demak harus dipisahkan
dari persoalan Tuban. Dulu Demak menyerang Peranggi,
dan Tuban mengkhianati. Sekarang Demak tidak
menyerang Peranggi, tapi menyerang Tuban, dan Tuban
mengirimkan kekuatannya ke Malaka. Dulu Tuban
mengirimkan tentaranya ke Malaka dengan ragu-ragu,
sekarang pun masih tetap ragu-ragu.
Tentang kelolaan pasukan gabungan lain pula soalnya.
Kelolaan menyebabkan pasukan ini tiada mempunyai pusat
pengabdian. Memang gerakannya telah berhasil membatasi
ruang-gerak musuhnya. Tetapi apakah artinya semua itu
bila di Jawa sana kedunguan, nafcu kekuasaan, sudah tak
mau kenal lagi apa artinya pengusiran terhadap Peranggi?
Dan beban tambahan yang tak kurang memberati
pikirannya adalah kemerosotan semangat prajuritnya. Dari
prajurit yang berani dengan cepat mereka berubah jadi
petani yang bersenjata. Dari mengusir Peranggi tugas
mereka berubah jadi menjaga tanaman terhadap gangguan
Peranggi dan celeng. Ketertiban dan disiplin militer dengan
cepat meruap jadi kecintaan pada panen di atas tanah yang
subur menghidupi itu.
Hanya dengan ancaman hukuman keras saja ia berhasil
memerintahkan telik-teliknya memasuki Malaka untuk
mendapatkan keterangan. Dan betapa kecewa hatinya
mengetahui, Pribumi dalam negeri Malaka tidak
mempunyai perhatian terhadap pembebasan negerinya
sendiri. Bahkan mereka mulai berduyun-duyun menjadi
Nasrani, menjadi Peranggi itu sendiri.
Apa lagikah artinya segala usaha dan jerih-payah ini?
Dan tak ada yang dapat membantunya berpikir. Kadang-
kadang ia menyesali diri bodoh hanya karena berasal dari
desa. Kemudian ia bantah kembali: apa kurangnya
Trenggono? Dia Sultan memiliki segala-segalanya, namun
dungu!
Dari pengalaman selama ini ia merasa hanya
mendapatkan satu pelajaran: Peninggi tak akan datang
untuk kedua kalinya di tempat ia pernah dikalahkan. Dan
pelajaran ini takkan dilupakannya selama ia masih
menghadapinya.
Dan apa yang dianggapnya sehagai pelajaran itu ternyata
tidak benar seluruhnya. Portugis hanya mengutamakan
bandar-bandar pangkalan untuk dapat menyelamatkan
pelayaran ke Maluku pulang balik. Ia tak mengutamakan
luasnya daerah taklukan seperti Trenggono.
Apa yang terjadi di dalam tubuh kekuasaan Portugis
sendiri? Para telik tidak tahu. Wiranggaleng pun tidak.
Melihat serangan-serangan dari luar kota dapat diatasi,
malah makin lama makin kendor kehabisan gairah,
mengetahui pula armada Jepara-Demak tidak ditujukan
pada Malaka. Portugis mulai memikirkan kembali rencana
lama untuk menguasai sumber lada dari selatan.
Jatuhnya bandar Banten ke tangan musuhnya yang lama,
Fathillah, telah membikin kering arus lada. Harganya di
benua Eropa melonjak tinggi tiada terkendali, dua-tiga kali
lipat itu pun masih sulit didapatkan. Portugis telah memberi
penntah pada Goa, Goa pada Malaka agar segera mengisi
pasaran Eropa dengan lada baru, sebanyak-banyaknya.
Pedagang-pedagang sekongkol Portugis memberitakan
armada Demak kini merajai Selat Sunda, melakukan apa
yang dilakukan oleh Portugis di Selat Malaka, mengawasi
kapal dan perahu yang meninggalkan atau memasuki
bandar.
Malaka telah mengirimkan sekongkol-sekongkolnya
untuk menyelidiki apa sesungguhnya sedang terjadi di
daerah Selatan Dan Malaka mendapat berita: armada
Demak mulai menutup lalulinlas laut dengan… bukan
hanya Banten, juga Sunda Kelapa, sumber utama lada.
Beberapa kali penyelidikan dikirimkan. Hasilnya sama
saja: Fathillah tetap tidak membuka blokade.
Wiranggaleng tidak tahu sama sekali tentang apa yang
terjadi persoalan musuhnya. Kesulitannya sendiri semakin
menumpuk: kekurangan manusia dan peralatan. Keduaduanya telah makin memerosotkan kegiatan kemiliteran,
dan kedua-duanya tidak bisa diatasi. Betapa bisa menambah
kekuatan manusia? Prajurit setempat tidak ada. Kampungkampung hanya terdiri dari empat-lima rumah dengan
penduduknya yang menyandarkan penghidupan pada
pertanian dan pertukaran barang semata-mata. Mereka tak
mempunyai kepentingan dengan penghalauan terhadap
Portugis. Pemuda-pemuda kampung yang ikut bergabung
merupakan keluarbiasaan. Dan pemuda-pemuda itu
kemudian dibenci oleh orang-orang sekampungnya.
Soalnya berkisar pada cemburu. Kampung-kampung kecil
itu kehilangan daya dalam mengimbangi kebutuhan asmara
dari para pendatang yang sebanyak itu dan para pendatang
yang dalam segala hal lebih unggul pula. Dengan dukacita
Hang Wira dapat ikut merasai perasaan cemburu. Makin
banyaknya berita yang datang tentang gerakan balatentara
Demak, semangat para prajurit Tuban itu semakin merosot
juga. Bila toh harus bertempur, lebih baik di Tuban, di
negeri sendiri. Dan semakin lama mereka bergaul dengan
penduduk setempat, semakin dalam mereka terlibat dalam
soal-soal asmara. Maka prajurit-prajurit mulai berubah jadi
pengelana asmara dari kampung ke kampung. Dan begitu
seorang prajurit menikahi seorang perawan kampung,
seperti wabah yang lain-lain pun mengikuti. Habislah
perawan-perawan kampung. Yang belum berhasil
menjauhkan pengelanaannya sampai ke tepi-tepi pantai. Ke
kampung-kampung nelayan yang lebih jauh. Dan begitu
pernikahan terjadi, selesailah si jantan sebagai prajurit. Ia
menjadi petani atau nelayan saja.
Wiranggaleng tahu ia tak punya kemampuan untuk
membendung kemerosotan ini. Inti pengikatnya telah buyar
karena Trenggono. Ia tahu juga: Malaka takkan bakal jatuh
ke tangannya.
Pada meninggalkan Banda Aceh Darusalam
menumpang kapal Bugis, dan tanpa singgah di Jawa
mendarat di Makasar. Di sini ia menumpang sebuah perahu
Bali dan mendarat di Gresik. Dengan perahu Gresik ia
menuju ke Tuban.
Bandar itu sunyi senyap. Tak ada seorang pun kelihatan.
Menara pelabuhan kosong tak terjaga. Kesyahbandaran pun
sunyi. Pintunya tertutup dan dipasak silang dari luar.
Warung Yakub terkunci dari dalam.
Dari kejauhan ia dengar sorak-sorai perang. Ia
mendengar-dengarkan. Jelas bukan sorak-sorai balatentara
Tuban, tapi Demak, Celaka! pikirnya.
Kewaspadaan terhadap kemungkinan ditangkap
punggawa Sang Adipati karena dosa-dosa lama lenyap,
digantikan oleh kekuatiran kena sergap pasukan Demak. Ia
rasai ke mana pun pandang dilayangkan hanya mulut maut
juga yang menganga.
Dengan sisa pikiran yang tercadang ia lari menuju ke
Pecinan: Ternyata semua jalan masuk ke kampung asing,
yang tidak dikenakan hukum Pribumi, terjaga oleh
penduduknya dengan tombak aneh berjumpai-jumpai. Juga
Pecinan mengangakan mulut maut.
la batalkan niatnya dan lari ke menara pelabuhan. Cepatcepat ia naik ke atas dan menyembunyikan diri,
menganggap diri aman dan tak nampak oleh siapa pun.
Dan siapa akan menengok ke menara yang jelas tidak ada
apa-apanya?
Ia depiskan badan tipis-tipis pada geladak. Pada waktu
itu ia merasa, setiap orang yang akan menemukannya di
situ itulah calon pembunuh nya. Betapa berubahnya
manusia di masa perang! Semua yang mereka pelayan di
perguruan dan pesantren, dan guru-guru, dari dongengan
dan wayang dari Tuban dan manusia, dari kehidupan dan
orang tua sendiri, ambyar tanpa makna.
Sebagai seorang pribadi, terlepas dari hubungan orang
lain, Kini ia merasa sama sekali tanpa daya. Ia menyadari
tak bisa membela diri. Puluhan ribu prajurit yang bersoraksorak di kejauhan itu hanya punya dua perhatian: Jarahan
dan korban. Mereka datang bukan untuk berkenalan atau
anjangsana tapi untuk membunuh dan hanya membunuh.
Terlepas dari prajurit yang satu orang akan jatuh ke tangan
yang lain.
Pada alias Mohammad Firman berseru-seru dalam
tengkurapnya pada Tuhannya, memohon perlindungan atas
dirinya untuk sekali ini saja, karena dalam keadaan seperti
itu ia merasa telah kehilangan kemampuan untuk dapet
melindungi sesuatu, jiwanya dan raganya.
Ia mengintip dan melihat pasukan kaki Tuban berlarian
tanpa atau dengan senjata dan sebelah barat Sebagian telah
berlumuran darah. Mata mereka tak terang dan
berpendaran ke mana-mana mencari jalan paling dekat
untuk meloloskan diri dari pengejaran Antara sebentar
mereka menengok ke belakang Dan sorak-sorai balatentara
Demak makin lama makin mendekat
Pasukan yang diburu itu mulai melempar-lemparkan
perisai yang mengganggu gerak. Ratusan orang yang diburu
oleh kepulan debunya sendiri itu menghadang ke jurusan
timur lenyap dari penglihatan Pada.
Ia rasai jantungnya berdebar-debar kencang dan
ketakutan yang amat sangat menusuk seperti jarum panjang
di dalam dadanya Tuhan, suruhlah balatentara Demak
mengejar terus, terus, terus, dan melupakan aku. Setelah
berdoa tanpa bunyi itu meruap dari pikirannya tiba-tiba ia
merasa tidak terkejar. Mereka juga masih ingin bertemu
dengan manusia tercinta dan tersayang. Siapa yang
mencintai dan menyayangi aku? Bahkan pikirannya sendiri
ogah menjawab, la gigit lengannya untuk membunuh
pikirannya sendiri. Tuhan menjauhkan aku dari pikiran
khianat.
Dan di depan matanya kini melela pasukan kuda Demak
yang beterbangan sambil bersorak-sorai seperti sedang
memburu tikus. Masing-masing membawa perisai dan
tombak yang telah siap di lempar atau dijojohkan. Ya,
seperti petani-petani sedang memburu tikus di sawah.
Itukah wajah Demak yang selama itu kumasyhurkan?
Itukah wajahnya yang sesungguhnya?
Sebagian kecil pasukan kuda itu membelok ke kiri,
memasuki daerah pelabuhan.
Pada menggigil dan pantatnya bertepuk-tepuk keras
tanpa semaunya sendiri. Ia sorongkan tangan pada dubur
agar tepukan berhenti. Tetapi sesuatu yang merambat pada
tulang belakang memaksa pantat ini menggelombang,
memukuli tangannya, gelombang demi gelombang. Detapa
memalukan pantat ini. Betapa ketakutan diri yang terlepas
dari kekuatan ini. Sekarang, sendirian dalam kepungan
manusia yang sudah jadi lain Ini… aku hanya seekor
cacing. Ya Tuhan, bila kau tamatkan aku dari bahaya ini,
aku akan lebih berbakti pada-Mu, lebih, lebih dari yang
sudah-sudah.
Lima orang prajurit berkuda Demak mengelilingi tiangtiang menara, melihat-lihat ke atas. Tangan Pada telah
basah oleh air dan lumpur dirinya sendiri. Ia tutup
matanya. Dan waktu dibukanya kembali, dari sela-sela
geladak ia lihat mereka mulai meninggalkan daerah
pelabuhan.
Sunyi-senyap sekarang.
Pada berhenti menggigil. Tangan ditariknya dari dubur.
Seluar dan kainnya kotor. Dalam keadaan seperti itu ia tak
berani mengucapkan syukur pada Tuhannya. Setelah agak
tenang dan diduganya tangannya agak bersih dan lebih
kering ia gerayangi semua bawaannya dan menarik
selembar kain baru dari bungkusan. Ia jauhkan pakaian
kotor dan kaki
Dan sorak-sorai menggelombang lagi dari kejauhan.
Makin lama makin mendekat. Dari sebelah timur pasukan
kuda berdatangan lagi untuk kemudian bertemu dengan
pasukan kaki. Mereka mengerumun seperti gerombolan
semut.
Sorak-sorai kini padam. Kerumunan itu membubarkan
diri. Semua berlarian menyerbu masuk ke dalam rumahrumah tak bersorak-sorai. Pintu yang terpasak didobrak.
Dengan batu dan kayu dan gagang tombak semua yang
tidak membuka diri dirusak.
Rumah kesyahbandaran dilindas oleh bondongan orang.
Warung Yakub bedah hingga dinding-dindingnya. Orang
mengambil apa saja yang dapat diambil, memasukkan
jarahan ke dalam kain penggendong. Sorak-sorai berubah
jadi makian dan tawa bahak.
Ternyata tak ada yang bernafsu untuk menggerayangi
menara yang kelihatan jangkung dan miskin, gundul dan
kering kerontang itu. Hanya tiang-tiang kurus dan geladak
kering di atasnya dengan dinding rendah dan sebuah
canang perunggu.
Gelombang prajurit Demak mulai menyerbu ke
pelabuhan. Galangan kapal kemudian jadi api unggun,
demikian juga gudang dan pasar pelabuhan. Orang riuhrendah meninggalkan daerah pelabuhan dengan membawa
jarahan masing-masing.
Sekarang Tuban Kota mendapat giliran.
Malam jatuh. Penjarahan dilangsungkan di tempattempat lain.
Pada alias Mohammad Firman telah lama dingin di
tempat.
Novel Arus Balikk Bab 33 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.
Bagaimana alur cerita dari novel Arus Balik Bab 33 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua.
Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.
Untuk membaca Novel Arus Balik bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.
Komentar
Posting Komentar