Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 32 Disini
Novel Arus Balik bab 32 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Arus Balik menceritakan tentang kisah Kedatangan Portugis di Bumi Nusantara dengan latar awal Abad XVI, yaitu ketika surutnya pengaruh Majapahit dan naiknya pamor Kesultanan Demak.
Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Arus Balikk Bab 32 Bahasa Indonesia Sekarang ini.
32. Gelar Jadi Sandera
Kemarin dulu Idayu masih berseru dari beranda gubuk
panggung itu: “Gelar! jangan begitu. Belajar yang baik!”
Tapi Gelar tak peduli. Dengan melepas kendali ia
menggantungkan diri di samping kuda, tangan memeluk
leher binatangnya. Kuda itu lari terus, dan ia melompat
melalui punggung kuda, berbuat semacam itu di samping
lain. Kemudian ia berpacu di jalanan desa dengan
memunggungi arah. Tak lama kemudian ia berpegangan
sanggurdi dan menggantung di bawah badan kuda.
Ia tak mau dengar emaknya memekik-mekik ketakutan.
Tubuhnya dan tubuh kuda itu seakan telah jadi satu. Dan
berlatih menguasai kudalah kesibukannya sehari-hari
sehabis kerja.
Dan sekarang ia menggeletak di atas ambin kayu.
Matanya terbuka tanpa melihat. Antara sebentar seseorang
memasuki bangsal dan menengoknya, mentertawakannya.
Ada juga yang sengaja mengejek, tajam dan mengirim:
“Apa kau renungkan, Buyung! Anak Senapati Tuban bukan
seperti itu mestinya. Kalau tidak suka, menangislah keraskeras, biar kami gendangi, biar semua orang tahu, anak
Senapati punya sejambang airmata.”
Untuk menghindari semua gangguan ia tutup mukanya
dengan bantal.
Sekali terjadi seseorang menarik bantal itu dan
menjelirkan lidah padanya. Ia rebut kembali bantalnya dan
ditekankan erat-erat pada mukanya lagi. Seorang lain
masuk dan menyeret kakinya sampai ia terjatuh dari ambin
dan segera merangkak naik ke atas, di bawah sorak dan
sorai tawa.
Pada mulanya ia meraung-raung minta dikasihani
terhadap perlakuan kasar yang tak pernah dikenalnya
sebelumnya itu. Tak seorang pun akan berbuat demikian di
desanya. Ayah dan ibunya tidak, kepala desa pun tidak.
Apakah salahku sampai diperlakukan demikian? Sekarang
ia tidak meraung lagi, walau ia tidak berani melawan atau
membela diri. Ia akan deritakan semua dengan sabar.
Bahkan ia pun tidak tahu sedang berada di rumah siapa.
Semua lelaki, prajurit, tak ada seorang wanita pun!
Di malam hari waktu keadaan agak tenang, terdengar
olehnya seseorang bicara pada yang lain: “Jangan ganggu
dia. Aku yang melarang. Ayahnya sangat terhormat dan
dihormati. Juga ibunya. Dia bukan sejenis kalian. Yang tak
tahu batas.”
Gelar mencoba mengintip dari balik bantal. Terlihat
olehnya seorang prajurit pengawal bergelang baja bicara
pada bawahannya. Ia merasa mendapat perlindungan.
Dadanya tak begitu sesak lagi. Seorang demi seorang di
antara mereka mulai merebahkan diri di samping-
menyampingnya dan segera kemudian tertidur dengan
menyemburkan bau tuak dari mulut.
Malam semakin tenang dan ia sendiri pun menjadi
tenang. Baru ia berani turun untuk buang air. Kemudian
merangkak lagi ke tempatnya.
Ia kenangkan kembali percakapan antara Prajurit Tuban
itu dengan ibunya: “Nyi Gede Idayu, jangan kaget. Gusti
Adipati Tuban telah menitahkan agar Gelar, putra Nyi
Gede yang pertama, dibawa ke Tuban.”
“Apakah salahnya anakku? Bukankah suamiku sudah
juga dibawa ke Tuban?”
“Tak ada yang dapat mencegah titah Gusti Adipati, Nyi
Gede. Panggillah anak itu.”
Dan dihadapkan pada orang-orang yang berperawakan
kukuh tertutup dengan gumpalan otot.
“Gelar, kau akan kami bawa ke Tuban.”
“Bapak berpesan untuk menjaga dan membantu emak
dan adik.” Ia membantah, dan menerangkan tugasnya
sebagai lelaki tertua dalam keluarga.
Dan prajurit-prajurit itu mentertawakannya.
“Seluruh desa akan menjaga dan membantu Nyi Gede.
Itulah yang jadi titah Gusti Patih.”
“Aku telah berjanji pada bapak….”
Mereka berhenti tertawa melihat pancaran kebencian
dan amarah pada mata Idayu. Dan wajah Idayu itu tetap
cantik seperti semasa masih berada di Tuban dulu, dan
tubuhnya tetap semampai berisi karena latihan-latihan.
Cuping hidung wanita itu menggetar seperti cuping macan
betina yang mencium bahaya yang mendatangi.
“Dulu begini juga yang diperbuat oleh Kiai Benggala,”
bentak Nyi Gede.
“Kami datang membawa titah Gusti Patih.”
“Kita tak bisa berbuat apa-apa, Nak. Biar aku siapkan
pakaianmu.” wanita itu masuk ke dalam dan keluar lagi
membawa bungkusan kecil dan selembar kain batik
dikalungkannya pada lehernya sambil berkata. “Dan ini,
Gelar, kain mak, pergunakan kalau kau kedinginan. Kau
harus ingat, bapakmu tidak bisa berbuat apa-apa. Makmu
pun tak bisa. Jangan kau menangis. Nak sudah besar,
hampir lima belas. Berangkatlah kau dengan doaku. Jadilah
kau seorang lelaki.”
Melihat ibu yang dihormati dan dicintai itu tak dapat
mempertahankan dirinya, juga tak dapat mempertahankan
pesan ayahnya atau janjinya pada ayahnya, ia pun
meraung, menjatuhkan diri dan memeluk kaki ibunya.
Dengan prihatin ibunya mengusap-usap kepalanya. “Belum
lagi kepala ini sempat berdestar…” gumam ibunya.
Kumbang pun memekik, merangkul leher abangnya
tercinta, meraung: “Tidak boleh. Kang Gelar jangan pergi!”
Prajurit-prajurit itu dengan hati-hati melepaskan Gelar
dari rangkulan pada kaki ibunya dan dari pelukan adiknya.
Ia angkat Gelar dalam bopongan. Dan yang dibopong
meronta dan melawan. Dengan demikian bermulalah
perjalanannya ke Tuban. Dalam hidupnya yang semuda itu
ia mulai dapat merasakan adanya kekuasaan dan pengaruh
ayah dan ibunya terhadap kehidupan di Awis Krambil.
Wiranggaleng Senapati, semua orang senang padanya,
bahkan Sang Patih Tuban tidak tanpa hormat
menghadapinya. Ibunya seorang penari tanpa tandingan.
Semua orang datang padanya bila bertanya sesuatu tentang
tari. Ayah dan ibunya yang sejuk dari panas dan kering dari
hujan. Kehidupan seperti itu berjalan tanpa gugatan. Tapi
apa sekarang? Ternyata kekuasaan ayah dan ibunya takluk
pada yang lebih tinggi lagi. Dan ayahnya dan ibunya tak
dapat berbuat sesuatu pun. Bahkan membantah pun tidak
bisa. Dua macam kekuasaan itu ia rasai berlainan,
bertentangan, bermusuhan, tapi tak pernah terucapkan.
Dan tanpa diketahuinya kini ia telah dijadikan sandera
oleh Sang Adipati. Penguasa tua itu telah menitahkan agar
ia dikurung di dalam perumahan pasukan pengawal
kadipaten, dipersiapkan untuk jadi prajurit pengawal.
Di dalam bangsal itulah ia sekarang. Pikirannya terusmenerus diganggu oleh pertanyaan bagaimanakah ibunya
sekarang harus selesaikan semua pekerjaan sehari-hari
tanpa dirinya? Siapa yang mengambil rusa, atau celeng dari
ranjau perangkap? Siapa yang menguliti? Siapa pula yang
mengerjakan sawah dan ladang? Dan siapa yang diajak
adiknya bermain? Siapa pula yang menjaganya? Betapa
akan sunyinya rumah terpencil di pinggir hutan itu, dan
betapa sangat sibuknya emaknya. Ia harus belajar menahan
kekuatiran terhadap yang ditinggalkan dan kesedihan
terhadap nasib sendiri. Yang ditinggalkan adalah alam
kasih-sayang, tenteram dan damai, yang dimasukinya
sekarang adalah alam kekerasan tanpa belas kasihan.
Sampai sejauh itu para prajurit pengawal menduga, si
bocah itu disanderakan karena Wiranggaleng pernah
menyatakan sumpah takkan kembali ke Tuban sebelum
Sang Adipati mati. Dugaan yang kurang berdasar, karena
Sang Adipati tak pernah mendengar sumpah itu. Yang
didengarkan justru lain: Trenggono telah menuduh Sang
Adipati Tuban bersekongkol dengan Wiranggaleng untuk
menantang kekuasaan Demak, dan Sultan mengancam
akan menangkap Sang Adipati hidup-hidup di waktu dekat
mendatang dan akan membelahnya hidup-hidup jadi empat
bagian besar. Ancaman itu disambut dengan tertawa,
namun ia tetap tidak rela Tuban terinjak oleh balatentara
lain. Maka ia menyesal telah memberangkatkan
Wiranggaleng dan lima ratus prajurit laut, ia telah batalkan
harapannya akan kematian Senapati. Ia membutuhkannya
untuk mempertahankan Tuban. Dengan Gelar sebagai
sandera ia mengharap anak desa itu sewaktu-waktu akan
dapat dipanggilnya kembali.
Gelar menggeragap bangun. Tarikan kasar pada kakinya
menyebabkan untuk kedua kalinya ia terjatuh di lantai.
Matari ternyata telah tinggi.
Sepantun suara keras menggertaknya: “Pemalas! Aturan
mana orang bangun tertinggal matari?”
Sekarang Gelar mengerti, tak ada seorang pun akan
melindunginya. Tak percuma emaknya mengharapkan akan
jadi lelaki. Ia tak sudi diperlakukan lebih lama sekasar itu.
Di hadapannya berdiri seorang prajurit bertubuh kekar.
Kasih-sayang yang disampaikan keluarganya menukik
membalik menjadi dendam yang membuncah dalam
dadanya. Dengan segala yang pernah diajarkan dan
dilatihkan oleh bapaknya ia melompat dan menerkam
prajurit pengawal yang tak siaga itu. Seperti seekor biawak
ia melengket pada tubuh penganiayanya, dan giginya
masuk ke dalam otot dada yang telanjang berbulu itu.
Dengan dua belah tangan prajurit itu menolaknya keraskeras. Gelar terjatuh di lantai setelah menubruk dinding.
Dan dada prajurit itu berlumuran darah.
“Kucing keparat!” sumpahnya sambil menyeka dada
dengan lengan. “Sekali lagi, kucekik sampai mampus.”
“Dan kutikam kau sampai mampus!” balas Gelar, berdiri
dan bersiap membela diri terhadap segala penganiayaan
yang mungkin menyusul.
“Lancang, seperti bapaknya! Kau tahu apa tentang
dirimu? Sandera!”
“Ayoh, cobalah sekali lagi.”
“Tak ada yang lebih hina daripada sandera. Kalau aku
jadi sandera, lebih baik kukuliti mukaku,” katanya sembari
terus membersihkan dadanya.
“Cobalah sekali lagi,” tentang Gelar. “Tak bisa kutikam
waktu jaga. waktu tidur pun kena.”
Kuatir akan terjadi geger, prajurit itu mengalah dan pergi
sambil mengurus dadanya yang berdarah dengan pijitan
dan cengkaman.
Seorang diri didalam bangsal ia mulai merenungi katakata prajurit itu sandera, jadi sandera! Dan ia mengerti
hidupnya berada di ujung pedang. Setiap waktu, tanpa
pemberitahuan, seorang sandera dapat dihabisi jiwanya
tanpa tahu apa perkaranya. Baik, aku jadi sandera.
Seseorang memanggilnya keluar dan keluarlah ia dengan
siaga. Dilihatnya pemanggilnya seorang prajurit yang
sedang duduk di atas kuda sambil menuntun kendali kuda
lainnya. Ia memberi isyarat dengan tangan.
“Naik!” perintahnya.
Dan Gelar naik dari sanggurdi ke atas kuda yang tinggi
lagi besar itu. Kakinya tak dapat mencapai sanggurdi yang
lain. Dan sebelum ia dapat meletakkan diri dengan enak,
seseorang telah mencambuk binatangnya. Kuda itu terkejut,
melompat. Gelar terbalik di atas punggung kendaraannya
dan jatuh ke samping. Secepat kilat ia berpegangan pada
sanggurdi dan terseret oleh sang kuda. Ia tak dengar lagi
orang bersorak-sorai senang: Pegangannya lepas. Ia jatuh
menggeletak dengan kaki tersobek-sobek batu jalanan.
Prajurit yang memerintahkan tadi mendekati dan dari
atas kuda membentak.
“Siapa perintahkan kau turun? Dengar perintah baikbaik. Kejar aku, dan pukul aku sampai kena,” ia
menggerakkan kudanya dan memacunya mengelilingi alunalun.
Gelar bangun berdiri, memeriksai kakinya yang sobeksobek dan berdarah, kemudian membasahinya dengan
ludahnya sendiri. Binatangnya berhenti di suatu tempat tak
jauh dari padanya. Kuda itu jinak dan larinya kencang,
memang disediakan untuk bisa mengejar. Ia tak tahu
namanya. Maka dipanggilnya dengan kata yang banyak
disebut-sebut belakangan ini: “Sultan! Sultan!” ia
menghampirinya sambil berpincang.
Kuda itu tak mau menghampirinya, ia sendiri yang harus
datang padanya. Angkuh kau, Sultan! Dipegangnya kendali
dan ditepuk-tepuk bahu binatang itu, dipegang kepala dan
diusap-usapnya. Kepala binatang itu ditariknya ke bawah
pada kakinya, disuruhnya menjilati darahnya sampai
bersih. Kemudian ia rangkul leher Sultan dan melompat ke
atasnya.
“Lari, Sultan, lari, kejar dia, bikin aku jadi lelaki. Susul
dia, biar aku gebuk kepalanya.”
Gelar tak duduk di atas pelana. Ia memeluk leher kuda
yang tinggi besar itu dan mulai memburu.
Yang diburu lari, mengelak, meliuk-liuk.
“Ayoh, Sultan, jangan kau beri aku malu,” bisiknya pada
kuping Sultan.
Melihat prajurit itu mengelak-elak juga, ia menjadi
bersemangat. “Tubruk, Sultan, tubruk, biar dia
menjempalit!”
Perkejaran itu berubah dari suatu latihan menjadi suatu
pertarungan. Prajurit-prajurit mulai turun ke alun-alun
untuk menonton. Kemudian orang lalulalang pun
memerlukan melihat. Tanpa undangan dan tanpa
pengumuman penonton semakin lama semakin banyak.
Orang berjingkrak melompat-lompat, orang menahan nafas
ketegangan.
Pada suatu tubrukan yang telah direncanakan kudanya,
tinju bocah itu menggedabir mengenai angin. Dan demikian
beberapa kali lagi terjadi.
Gelar naik pitam. Tak dirasainya lagi perutnya telah
lapar, dan peluh kuda telah bercampur dengan peluhnya
sendiri. Tidak, tidak mungkin dia dapat kupukul dengan
tangan. Lengan ini terlampau pendek. Ia berpacu
membungkuk dengan dua belah tangan erat-erat memeluk
leher Sultan dan ia persiapkan diri untuk melakukan
tubrukan yang menentukan.
Prajurit pengawal itu bukanlah anak kemarin. Dengan
suatu elakan indah tubrukan dapat dihindari untuk ke
sekian kalinya. Tetapi ia salah perhitungan. Tangan Gelar
tidak melayang. Ia ayunkan badan dan menggaet leher
prajurit itu dua belah kaki dan membikin jepitan sila.
Dua ekor kuda itu berpacu berjajar. Leher prajurit itu
tetap dalam jepitan Gelar. Sorak-sorai menjadi riuh. Orang
mulai mengagumi ke-tangkasaan pengendara muda belia
itu. Dan tangan Gelar tetap memeluk Sultan.
“Jatuhkan, orangmuda! jatuhkan!”
Ia tak dengar sorak-sorai dan seruan. Kedua belah tangan
dan bahunya telah terasa kelu dan ia sendiri bakal jatuh.
Secepat kilat ia mengambil keputusan untuk menjatuhkan
prajurit itu. Ia lepaskan jepitan sila dan secepat itu pula
melayangkan tumit pada muka prajurit itu. Tak
diketahuinya tumit telah masuk ke dalam rongga mata. Ia
pun berayun kembali ke atas punggung kudanya.
Penonton terdiam terkejut.
Ia sendiri masih siapkan kudanya untuk tubrukan yang
terakhir setelah dapat melihat prajurit itu duduk goyah di
atas kendaraannya.
“Sudah! Sudah! Cukup!” orang berseru-seru.
Waktu tubrukan hampir berlangsung, mendadak Gelar
menghentikan Sultan. Prajurit itu mulai miring. Tangannya
yang sebelah memegangi matanya dan kepalanya
menunduk miring ditarik oleh daya berat. Kudanya berjalan
pelan-pelan, kemudian berhenti.
Gelar turun dan lari menyongsong. Dan orang-orang pun
lari mendapatkannya.
“Bodoh!” bentak prajurit bergelang baja yang semalam.
“Tidak ada aturan menggunakan kaki.”
Orang itu diturunkan dari kuda dengan muka
berlumuran darah.
Gelar tak mendengarkan bentakan. Ia ikut menolong
sambil memanggil-manggil Sultan yang telah ia lepas.
Binatang itu mengikutinya, berjalan pelan-pelan di
belakangnya.
Bola mata prajurit itu telah keluar dari rongganya. Dan
Gelar tak sampai hati melihatnya. Ia berdiri terpakukan
pada tanah. Ia menyesal. Seluruh dendamnya menungging,
dan belas-kasihannya muncul ke permukaan. Dan ia tak
dapat berbuat sesuatu.
Hari itu kota Tuban digemparkan oleh berita tentang
Gelar si muda belia, si penunggang kuda tanpa tandingan,
Gelar anak Senapati Tuban, calon prajurit pengawal, calon
Senapati, Gelar anak Nyi Gede Idayu. Temui dia dalam
hidupmu: Dan penduduk kota Tuban, terdidik memuliakan
kepahlawanan, datang berbondong-bondong mengunjungi
bangsal pasukan pengawal kadipaten untuk mengelu-elukan
sang perjaka pahlawan, anak kemarin yang bisa
menjatuhkan seorang prajurit pengawal pada hari pertama
jadi calon prajurit.
Sepanjang hari tiada berkeputusan orang datang untuk
mengaguminya.
Kepala-kepala regu menjadi sibuk mengurusi para
pengunjung. Mereka tahu, datangnya bondongan
pengagum tak dapat dan tak mungkin dicegah karena
memang sudah jadi adat yang mendarah-daging. Gadisgadis datang membawa bunga-bungaan untuk dijamah oleh
si gagah-berani dan wanita-wanita bunting untuk menjamah
tangannya agar anaknya kelak pun seperti itu juga gagahberaninya.
Tiga hari lamanya bangsal pasukan pengawal ramai
dikunjungi orang. Buah-buahan, penganan, ikan laut dan
daging perburuan, tuak, madu, telor datang bertumpuk di
dalam dapur tanpa diketahui siapa pengirimnya. Dan
tempat tidur Gelar tak pernah sunyi dari daun bunga yang
ditebarkan.
Kemudian keadaan pulih kembali seperti biasa. Gelar tak
mengerti mengapa sebesar itu penghargaan ditumpahkan
kepadanya. Yang dirasainya hanyalah pemberontakan di
dalam hati terhadap semua perlakuan kasar terhadap
dirinya. Ia menolak semua kekasaran, dan ia bertekad
untuk membalas dengan setimpal. Maka ia terus-menerus
bersikap waspada, menyedari tak ada lagi kasih-sayang di
lingkungannya yang baru. Tidak ada seorang ayah, seorang
ibu dan adik, tidak ada seorang guru, tiada pula
pembimbing. Yang ada hanya kekasaran, nafsu penganiaya
dan penindasan.
Dan pengagungan orang sebanyak itu terhadapnya? Ia
tidak mengerti. Ia bingung.Seorang prajurit lain yang
ditugaskan untuk melatihnya memainkan tombak,
sebelumnya telah memamerkan keunggulannya, baik dalam
melempar mau pun menyerang dan bertahan jarak dekat,
untuk mematahkan keberaniannya.
Dan anak muda desa manakah di Tuban tak tahu
memainkan tombak? Juga Gelar tahu. Hanya lengannya
belum cukup berotot Lemparannya kurang jauh dan
permainannya kurang cepat
Juga pelatihnya mempunyai kecenderungan untuk
menindas dan mengejeknya, mentertawakan dan
menghinanya. Dan ia dapat raba semua itu dari sikap
pelatihnya yang angkuh terhadapnya.
Prajurit pelatih itu tak mampu mengubah cara-cara Gelar
yang dianggap salah menurut dasar ajaran. Ia tunjukkan
kelemahan-kelemahan yang memberikan peluang bagi
lawan untuk memasukkan serangan. Gelar tetap menolak
tak mau mengikuti. Bukan ajaran itu yang ditolaknya, tetapi
keadaannya sebagai sandera dan perlakuan terhadap
dirinya.
Pelatih yang jadi jengkel tapi segan mengambil tindakan
itu menghentikan latihannya, mendengus: “Kepala kerbau!”
“Apa?”
“Lepaskan cara lama. Salah semua.”
“Senapatiku lebih tahu daripada kau. Dia guruku.”
“Senapati tak pernah dididik jadi prajurit”
“Dia sudah pimpin kau dalam kemenangan,” bantahnya.
“Kalau terus membantah, kau takkan jadi prajurit yang
baik.”
“Dan siapa bilang aku harus jadi prajurit?”
“Ada, yang jauh lebih berkuasa dari prajurit?”
“Peduli apa?”
“Dan siapa kau kira bapakmu?” pelatih itu jadi jengkel.
“Siapa lagi?”
“Senapati Wiranggaleng? Bukan!” prajurit pelatih itu
menggeleng-geleng dan berkecap. “Siapa bilang Senapati itu
bapakmu?”
“Semua orang.”
“Pembohong! Tak ada orang pernah bilang begitu.”
Dan Gelar merasa kehormatan keluarganya telah
dihinakan. Ia pun merasa dirinya sendiri dihinakan.
Orangtuanya tak pernah bicara semacam itu, apalagi
penduduk Awis Krambil selebihnya.
Prajurit itu tertawa dan Gelar semakin tersinggung.
“Memang Nyi Gede pernah melahirkan kau. Nyi Gede
yang terhormat itu. Tapi Senapati bukan bapakmu. Tidak
pernah! Coba katakan, apakah Wiranggaleng pernah
mengatakan kau anaknya? Kau, pembohong!”
Melihat Gelar mulai mengukuhkan pegangan pada
tombaknya segera ia berjaga-jaga sambil tersenyum. Dan ia
pun tahu telah menghinakankeluarga dan pribadi yang
sedang dilatihnya. Juga ia tahu yang dihina itu takkan
melupakan hinaan itu untuk seumur hidupnya.
“Jangan mencoba-coba gurumu, pelatihmu,” kata
prajurit itu. “Kalau bukan karena menghormati Sang
Senapati dan Nyi Gede, kepalamu sudah pecah. Lepaskan
tombak itu!”
Cuping hidung bengkung Gelar sudah kembang-kempis
sebagai halnya Idayu bila marah.
“Kau marah. Pada waktunya yang tepat kau akan tahu
Sang Senapati sungguh bukan bapakmu.”
Tetapi Gelar sudah tak mendengar lagi. Darah yang
telah menyesaki kepalanya membikin ia menjadi kalap dan
menyerang dengan tombaknya.
Pelatih yang sudah sejak semula waspada itu
mengelakkan semua serangan. Ia tahu, Gelar bersungguhsungguh hendak membinasakannya. Ia bersungguhsungguh bertahan.
Perkelahian dengan tombak adalah perebutan
kesempatan untuk dapat melemparkan senjata pada tubuh
lawan. Mata tombak hampir-hampir tidak dimainkan, tapi
justru tangkai dua ujung yang silih ganti menyasar pada
lengan untuk tidak dapat melemparkan mata senjata. Duaduanya tidak menggunakan tombak lempar, tapi tombak
pengawal. Dengan tangkainya yang kuat dan panjang
perkelahiannya menyerupai permainan sodor.
Gelar terus menyerang dan pelatih terus bertahan.
Dalam suatu serangan yang keras pelatih itu melakukan
tangkisan silang. Tombak Gelar terlepas dari tangan tanpa
ia ketahui sebabnya. “Ambil lagi tombakmu!” perintah
pelatih.
Gelar melompat memungut senjatanya dengan mata tak
lepas dari tangan pelatihnya. Ia takkan biarkan dirinya
terkena tipu. Bocah itu berkisar dan dengan cepat
melemparkan tombaknya. Prajurit itu mengelak lebih cepat
dan menangkap tangkainya, kemudian melemparkannya
kembali pada Gelar dan jatuh menancap di antara dua kaki.
“Ambil tombakmu,” perintahnya lagi.
Tanpa diketahui oleh Gelar, orang sudah datang
merubung. Dan Gelar mulai melakukan serangan jarak
pendek. Nafasnya telah terengah-engah dan gerak-geriknya
seperti kutilang menyambali belalang, cepat, sulit untuk
dapat diduga. Dan pelatih itu tetap tidak berkisar dari
tempatnya. Si penyerang berputar-putar mengitari,
melompat dan mengendap, berkelit dan menjuju.
Seorang kepala regu bergumam: “Bukan orang, iblis
kelaparan itu,” kemudian memerintahkan: “Selesai!
Bubar!”
Bersamaan dengan itu satu pukulan telah membikin jarijari Gelar tak dapat mencekam. Tombaknya terlepas jatuh
ke tanah. Cepat ia mengambilnya kembali.Tombak itu jatuh
lagi. Jari-jarinya seperti terbuat dari kayu.
Ia dengar tawa di sekelilingnya. Dan dendamnya serasa
akan memecahkan dadanya.
“Pulang!” perintah kepala regu.
Semua bubar. Gelar berjalan paling belakang. Begitu ia
memasuki bangsal ia disambut oleh wajah-wajah yang
berseri bersuka-cita atas kegagalannya. Dan dendamnya
bergumul bergulung-gulung dengan kemurungan.
Cepat-cepat ia naik ke atas ambin, menutup mukanya
dengan bantal dan menahan tangisnya. Ia rasai airmatanya
mengalir hangat pada mukanya. Ia marah pada diri sendiri
karena tak bisa membinasakan pelatih itu. Dan ia ingin
dekat lagi dengan emaknya, dengan bapaknya.
Dan ia dengar gelak-tawa berderai seperti takkan
habisnya mengejek kegagalannya. Setiap kata yang mereka
lepaskan ia rasai gatal, panas dan menggigit. Ia makin tidak
mengerti mengapa semua orang memusuhinya, hanya
karena tidak mampu mencapai apa yang telah dicapai oleh
bapaknya. Tak ada sesuatu senjata di tangannya. Bila ada ia
akan melompat dan mengamuk. Ia menangis. Ia kerutkan
gigi karena amarah. Ia panggil-panggil emaknya dalam
hatinya. Dan semua dewa yang pernah dikenalnya ia tuntut
perlindungan dan kekuatannya. Ia tak dapat menenggang
kekalahannya yang begitu mudah.
“Hari ini takkan datang pengagum dan penyanjung!”
seseorang melengking ria.
“Kalau bantal sudah tertutup mata….”
“Itulah tanda hujan deras membasahi bumi….”
Dan ingin sekali ia membuang bantal dan berteriak ia tak
takut pada siapa pun. Ingin – ingin – tapi seluruh tubuhnya
menolak melakukan keinginannya.
“Siapa bilang habis pengagum habis pula penyanjung?
Lihat, seorang wanita datang membawa keranjang….”
“Mana Gelar, anakku?” Gelar mendengar suara wanita –
suara lembut memanggil-manggil.
“Itu, Bu, di ambin, sedang patah hati, tak mau makan.”
Ia rasai tangan halus seorang wanita merabai kakinya.
Kemudian terdengar lagi suaranya: “Gelar, anakku,
bangun.”
“Gelar! Bangun, kau!” kepala regu memerintah.
Gelar menghela nafas panjang untuk mendamaikan
perasaannya, bangun dan menemui wanita itu.
“Aduh, kau sudah besar begini, Gelar, sudah perjaka.”
Dan Gelar berhadapan dengan seorang wanita bermata
agak sipit.
“Perjaka!” orang bersorak-sorak senang.
Gelar duduk pada tepi ambin. Juga wanita itu.
“Aku baru dengar kau ada di sini. Nak. Lupakah kau
padaku? Orang yang menyambut kedatanganmu yang
paling mula, waktu kau dilahirkan?”
“Nyi Gede,” bisik Gelar, lupa pada perasaannya yang
kacau sebentar tadi. Ia turun dari ambin, bersujud dan
menyembah.
Dan wanita itu merestuinya dengan usapan tangan pada
kepalanya.
“Kau sudah berdestar begini,” katanya. “Aku ikut
mengantarkan Senapatiku berangkat. Tapi tak ada aku lihat
dia. Kau pun tak kelihatan. Gelar. Mengapa pakaianmu
begini buruk? Tak dibekali secukupnya dari rumah?
Keterlaluan Idayu. Datanglah ke kesyahbandaran, Gelar.”
“Tidak boleh, Ibu,” seseorang mencampuri. “Anak yang
luar biasa nakalnya ini tak diperkenankan meninggalkan
asrama tanpa titah Gusti Adipati, kecuali kalau sedang
latihan.”
“Tapi prajurit pengawal lainnya boleh,” bantah Nyi
Gede.
“Ya, yang ini tidak.”
“Baiklah,” sambungnya. “Ini kubawakan penganan
sekedarnya. Kalau begitu akulah yang harus sering datang
ke mari. Kau sudah punya kelengkapan prajurit. Gelar?”
“Tak ada satu pun padaku kecuali itu,” ia menuding
pada bungkusan pakaian.
“Emakmu memang keterlaluan.”
“Apalah gunanya? Itu pun sudah cukup, Nyi Gede.”
“Di rumah masih ada peninggalan Sang Senapati,
pakaian, pedang dan empat bilah tombak. Nanti aku
bawakan.”
“Jangan. Ibu.” seseorang mencegah, “ia hanya sandera,
tak boleh punya senjata sendiri.”
“Sandera!” pekik Nyi Gede Kati. “Siapa bilang dia
sandera? Tidak mungkin!”
“Aku yang bilang. Ibu. Kebenarannya tak dapat
diragukan.”
“Apa kesalahan Wiranggaleng Sang Senapati?”
Pertanyaan itu tak terjawab. Setiap orang tahu artinya
sandera: orang yang setiap waktu dapat dihabisi bila yang
dilepas tak menepati tugas.
“Gelar! Gelar!” ratapnya tiba-tiba. “Siapa yang
menyebabkan semua ini?”
Mendadak ia terdiam dan pandangnya terpusat pada
sesuatu yang jauh. Berbisik meneruskan: “Biar, Gelar.
Sabarlah dulu. Biar aku urus, Nak, semoga berhasil” ia
mendehem. ‘Tinggallah tenang-tenang di sini.”
Ia bersiap-siap, kemudian pergi bercepat-cepat.
Tepat sebulan selama di dalam asrama datanglah
beberapa orang dari Awis Krambil mengantarkan upeti.
Mereka mampir untuk menemuinya: kepala desa dan para
pemikul. Mereka membawakan untuknya pakaian dan
perlengkapan prajurit: tiga bilah tombak lempar, sebilah
pedang, sebuah perisai dari kayu sawo yang berukiran kala
makara. Tetapi semua kelengkapan itu harus dibawa pulang
kembali karena tidak diperkenankan. Beberapa lembar
lontar yang terikat pada benang pilinan dan berujung
jumbai adalah suara dari ibunya: “Gelar, anakku. Kau
harus mengerti keadaanmu. Kau dibuat jadi sandera untuk
menjamin kesetiaan Senapati pada Sang Adipati. Maka
jangan kau pikirkan emak dan adikmu. Jagalah dirimu
sendiri baik-baik, Gelar, jagalah keselamatanmu. Kau
sekarang sudah dewasa. Jangan titikkan airmata untuk
dukacitamu, jangan kau permalukan Senapati dan emakmu.
Belajar kau baik-baik, apa saja yang harus patut kau
pelajari. Sebagai sandera tak ada seorang pun yang dapat
melindungimu kecuali dirimu sendiri. Begitu kau memasuki
asrama, kau sudah menjadi prajurit dan sudah dewasa.
Maka itu aku meminta padamu, Gelar untuk mengerti satu
hal. Satu hal saja, ialah, bahwa emakmu masih
mengharapkan dapat bertemu denganmu, pada suatu kali,
di mana saja. Emak tidak menengokmu di Tuban, dan
jangan kau harapkan yang demikian akan terjadi. Demi
sumpahku, Gelar.”
Dan Gelar mengerti benar apa yang tersirat di dalam
lontar itu. Ia rasai selembar sembilu menyayat dalam
hatinya. Ia teguhkan batinnya. Aku akan bertemu dengan
emak! Pada suatu tempat. Ia tak punya persediaan lontar. Ia
berusaha mendapatkannya dari tamu-tamunya.
“Kau tak ada hak untuk menulis surat!” tegah kepala
regunya. “Jangan menulis.”
“Sampaikan sembah sujudku pada emakku yang mulia,”
katanya dengan suara keras menantang seluruh bangsal,
“telah kubaca lontarnya dan mengerti isinya,” dan ia
persilahkan tamu-tamunya pergi sambil beberapa kali
mengucapkan terimakasih.
Orang-orang sedesanya melingkunginya dengan pandang
belas kasih. Ia bercepat memunggungi mereka, dan waktu
mereka telah pergi semua ternyata para prajurit sedang
ramai-ramai membaca lontarnya.
Malam itu isi surat menjadi tertawaan seluruh bangsal,
bahkan dari bangsal-bangsal lain orang ikut
memeriahkannya.
Gelar diam saja, tak dapat berbuat sesuatu apa. Orangorang ini memperlakukan aku seperti itu hanya karena aku
sandera, setiap waktu dapat mereka bunuh.
Surat itu sudah tak mungkin jadi miliknya lagi. Dan ia
tak ingat semua yang tertulis di dalamnya, kecuali suara
ibunya yang memanggil mendayu-dayu: ‘pada suatu kali, di
mana saja’. Ia tahu, si ibunya mengharapkan pada suatu
kali nentukan ‘suatu kali’ itu dan ‘di mana saja itu? Jelas
bukan emaknya.
Aku sendiri, ia menentukan, tak lain diriku sendiri.
Pada bulan berikutnya datang lagi penjenguk dari desa.
Sekali ini kepala desa tidak ikut serta. Juga beberapa lembar
lontar datang dan: “Aku dengar banyak ejekan ditimpakan
pada dirimu. Gelar, Aku sangat berprihatin. Kau dipanggilpanggil si betet. Mereka meringkus kau dan mempermainmainkan hidungmu, seakan-akan anakku tidak lagi
mempunyai kehormatan dan harga diri, seakan-akan
Senapatiku Wiranggaleng belum berbuat apa-apa dalam
hidupnya, seakan-akan Idayu tak pernah mencapai sesuatu
pun. Aku tahu kau merasa terhina, dan kau tahu tidak lain
dari aku sendirilah yang merasa lebih terhina lagi. Orang
tua-tua kita mengajarkan tentang kehormatanjdan harga
diri. Itu di desa-desa, Gelar, di kota rupanya orang sudah
tidak mengenal lagi ajaran itu. Sudah sering kau kuceritai
tentang Rama Cluring dan guru-guru lainnya. Cerita-cerita
itu tidak akan sia-sia. Lihatlah bapakmu! Tak ada orang lain
yang perlu kau lihat kecuali bapakmu. Senapati
Wiranggaleng adalah bapak yang terbaik untukmu. Tidak
ada yang lebih baik. Tetaplah hormati dan cintai dia
sebagaimana emakmu menghormati dan mencintainya,
maka semua ejekan dan hinaan akan kalis. Kau lebih
berharga untuk emakmu daripada seribu pengejekdan
penghinamu. Si pengejek akan tinggal jadi pengejek Si
penghina semakin menjadi hina sendiri untuk seumur
hidupnya. Tapi kau, Gelar, anakku, akan tumbuh lebih
berharga daripada mereka dikumpulkan jadi satu. Kau tak
perlu membalas surat emak ini, karena aku tahu kau tak
diperkenankan. Walau demikian Idayu tidak bicara pada si
gagu-bisu, tanpa surat pun Gelar mengerti perasaan
emaknya. Banyak-banyaklah berprihatin. Pada suatu kali di
sesuatu tempat entah di mana. Yakinilah itu, dan jangan
malas berdoa untuk bapakmu, jangan malas belajar untuk
dirimu sendiri.”
Gelar tak membalas surat itu. Ia sengaja tak meramahi
para penengok, yang tak berpesan sesuatu pun sampai
mereka pulang. Satu hal yang diketahuinya, ada seorang di
dalam asrama yang suka membuang-buang waktu
melaporkan segala sesuatu tentang dirinya melalui orang
lain ataupun langsung pada emaknya. Dan ia kadang
merasa berterima kasih kadang pun merasa malu karena
perbuatan orang tak dikenal itu. Dan ia bermaksud mencari
orang itu.
Ia kibar-kibarkan lontarnya dan berseru-seru menantang:
“Ayoh, barangsiapa mau merampas surat ini, ayoh sini!”
Ia seperti seekor jago yang sedang berkokok. Dan ia
tersenyum senang, senyum pertama selama dua bulan ini.
Tak ada yang tampil untuk merebutnya. Maka ia
membacanya keras-keras, mengetahui surat itu tidak
sepenuhnya tertuju pada dirinya, teta-pi juga pada pasukan
pengawal pada umumnya. Dan orang-orang yang
mendengar itu duduk menekur seakan sedang menghadapi
taufan amarah dari Idayu sendiri. Juga kepala regu itu
menunduk dalam.
0o-dw-o0
Sesampainya di rumah Nyi Gede Kati dengan tak
sabarnya menunggu-nunggu kedatangan suaminya. Dan
begitu Tholib Sungkar Az-Zubaid datang segera saja ia
menyerang: “Tak ada orang lain yang dapat berbuat begitu
kejam sejak semula daripada Tuan. Keji! Bahkan pada
anaknya sendiri! Tuan malu punya anak seperti dia maka
kau mau binasakan dia sebagai sandera,”
“Ada apa kau ini, Kati?” Tholib Sungkar terheran-heran
tak tahu sesuatu apa.
“Hanya Tuan seorang yang sering menghadap Sang
Adipati hanya kau!”
Tholib Sungkar berubah airmukanya dipanggil kau dan
bukan tuan. “Apa kau ini?” ulangnya tersinggung.
“Kau telah menghasut. Kau! Kau bikin Gelar, anakmu
sendiri, jadi sandera,” tuduh Nyi Gede.
“Dari rumah utama ini, ke rumah Idayu sana, dan
lahirlah Gelar. Idayu sendiri yang berkata. Seluruh Tuban
tahu ceritanya, semua tahu, siapa Gelar, kecuali Gelar
sendiri barangkali, dan kau yang pura-pura tak tahu.”
“Apa kau ini, Kati?”
“Tiga kali kau sudah ulangi pertanyaanmu, menunda
sampai datang kebohongan baru kau buat dalam hatimu.”
Tholib Sungkar Az-Zubaid mengambil tongkat dan
berusaha menghindar. Wanita itu mencegahnya dengan
ancaman hendak menyerangnya.
“Betapa kau hinakan Idayu. Kau paksa dia
mengandungkan anakmu selama sembilan bulan….”
“Bohong! Tak ada cara begitu pada Sayid Habibullah
Almasawa. Kau kira siapa Idayu dibandingkan dengan
bidadari-bidadari lainnya?”
“Dan mengapa mereka kau tinggalkan, dan
menghambakan diri pada raja dan negeri kecil yang selalu
kau hinakan? Mengapa kau diam saja? Biar aku panggil
tukangkebun untuk dengarkan pertengkaran ini.”
“Stt. Mengapa orang luar harus ikut dengar?”
“Dengarkan kata Idayu? Kaulah pula yang mengirimkan
Wiranggaleng ke sarang Kiai Benggala biar terbunuh.”
“Kati!”
“Kaulah yang mengada-ada mengirimkannya ke Malaka
dengan hanya uang! Kaulah pula yang merampas Gelar
dari ibunya yang sendirian di desa, untuk disanderakan dan
dihabisi, biar kau terbebas dari tuduhan umum dan terbebas
dari malu sendiri. Kau, buaya darat! Pembunuh dengan
menggunakan kekuasaan orang lain! Katakan kalau semua
itu tidak benar!”
“Tak satu pun benar,” Tholib Sungkar menjawab tegas.
“Baik. Mari aku seret kau ke pelabuhan, biar aku tuduh
kau di depan umum,” Nyi Gede Kati menangkap tangan
suaminya dan mulai menyeretnya.
“Jangan begini. Kati. Jangan bikin malu.” Wanita itu
menyeretnya terus.
“Aku pukul kau,” Tholib Sungkar Az-Zubaid,
Syahbandar Tuban itu melawan tarikan dan
mengamangkan tongkat.
Nyi Gede Kati mendadak melepaskan seretannya dan
Syahbandar itu jatuh terjengkang di lantai. Ia melompat
mengangkang? dan menginjak kedua telapak tangan
suaminya Syahbandar itu terkaing-kaing kesakitan. Jari-jari
tangannya dirasai hampir remuk dan tak bisa melepaskan
diri.
“Hancur jari-jari ini,” pekik Syahbandar,
“Biar remuk!”
“Aku tak bisa menulis lagi nanti,” pekiknya.
Tukangkebun berlari-lari masuk. Melihat tuannya sedang
dikangkangi istrinya sendiri ia tak meneruskan niatnya, tapi
segera menyurutkan langkah kakinya dan meruncingkan
pendengaran di luar rumah sambil pura-pura bekerja
mencabuti rumput.
“Peduli apa? Aku sendiri nanti menghadap Gusti
Adipati.”
“Jangan, jangan, lepaskan jari-jariku, Nyi Gede.”
“Jadi kau mengaku menghasut, memfitnah,
mencemarkan keluarga sebaik itu? Kau takut pada
Wiranggaleng, maka kau carikan kuburan baginya di dalam
jung. Kau kalah perbawa dari Idayu, maka kau rampas
anak dan suaminya. Supaya dia menderita. Kau bagus,
bagus sekali. Orang pandai dan tahu segala uang tak tahu
tatasusila!”
Nyi Gede Kati melepaskan akan injakannya dan
menyepak kepala suaminya.
Syahbandar Tuban duduk dan memijit-mijit tangan.
Dilihatnya tarbus merahnya terpelanting jauh. Ia jangkau
tongkat dan mencoba mengaitnya.
“Pelindung kepala mulia!” Nyi Gede menyepak topi itu
dan jatuh ke atas pangkuan suaminya.
“Dua kali kau aniaya aku. Nyi Gede.”
“Kaulah yang menganiaya mereka. Aku mau
menghadap sekarang juga.”
Tholib Sungkar melompat berdiri dan menubruk istrinya.
“Jangan, jangan, Gusti Adipati sedang gering.”
”Menghadap Patih Tuban Sang Wirabumi.”
“Jangan, Gusti Patih sedang ke Malaka.”
“Aku mau ke pasar dan sampaikan semua ini pada
semua orang,” ancam Nyi Gede.
“Jangan Kati, jangan. Katakan saja apa maumu. Aku
akan penuhi, Nyi Gede.”
“Mulut tak pernah bisa dipercaya begini!”
“Baik. Usahakan dalam dua bulan ini agar Gelar bebas
dari sandera. Biar dia kemudian kembali ke desa dan
berkumpul dengan emak dan adiknya.”
“Baik, baik, akan kuusahakan. Tapi bukan aku yang
berkuasa. Kau sendiri tahu.”
“Usahakan, kataku. Aku tunggu hasilnya. Kalau dia
sampai dihabisi dalam dua bulan ini, kaulah… awas, kau
tahu apa bakal terjadi atas dirimu.”
Sejak hari pertengkaran itu kedua orang suami-istri itu
tidur dan hidup berpisahan. Tholib Sungkar As-Zubaid
terpaksa makan di warung dan menghabiskan hari-harinya
yang menjemukan dengan minum arak. Ia pulang hanya di
malam hari, apa pula kapal-kapal Atas Angin tak juga
kunjung berlabuh.
Dan Nyi Gede Kati tak lagi menegurnya. Dipasangnya
selembar papan di ruangkerja suaminya, dan diguratkannya
satu coretan setiap hari.
Dan sudah beberapa kali Syahbandar menghadap untuk
mendongeng. Ia tak juga persembahkan sesuatu tentang
nasib Gelar.
Nyi Gede tak pernah menanyakan. Ia hanya menunggu
coretan yang ke enam puluh, dan ia akan bertindak.
Dan Tholib Sungkar Az-Zubaid memang tak ada
maksud untuk mempersembahkan sesuatu kecuali membuai
Sang Adipati dalam dongengan….
0o-dw-o0
Memasuki bulan ke tiga Gelar dianggap lulus dalam naik
kuda dan mempergunakan tombak di atas tanah.ua
pelajaran yang harus ditempuhnya dalam dua bulan
mendatang adalah memainkan tombak di atas punggung
kuda dan mempergunakan cambuk perang.
Dalam dua bulan itu ia belum juga memperoleh seorang
sahabat. Seorang sandera menduduki tempat terhina dan
terendah dalam tata hidup Tuban. Sahabat seorang sandera
dianggap pula orang hina dan dijauhi. Dan kini ia berdiam
diri bila diejek. Dan siapa pula tidak mengejek dan
menghinanya? Tampangnya adalah lain dari pada yang
lain. Bila kulitnya agak cerah, tua, dan tidak lima jari lebih
rendah, orang akan bertemu dengannya sebagai Syahbandar
Tuban Sayid Habibullah Almasawa. Bila ia teringat pada
sesuatu yang lucu di rumah dulu dan tersenyum, bahkan
senyumnya pun sama dengan tuan Syahbandar sewaktu dia
masih bayi.
“Apakah bedanya dibunuh sebagai bayi dengan sebagai
sandera?”
Darah Gelar tersirat Ia tak ragu-ragu lagi sekarang akan
sindiran orang, bahwa ia dianggap sebagai anak tuan
Syahbandar, bahwa emaknya tidak mempunyai kesetiaan
pada Sang Adipati, bahwa setiap waktu ia dapat dibunuh.
Suara ibunya terdengar semakin keras mendayu-dayu:
Emaknya masih mengharap dapat bertemu denganmu. ada
suatu kali, di mana saja. Hanya ibunya dan hanya adiknya
yang sekarang ini mencintainya. Ia ragu-ragu pada cinta
Sang Adipati. Mak, aku dengar suaramu, Mak! Aku dengar!
Anakmu tidaklah tuli. Tunggulah aku, Mak.
Gelar mengaduh, meliuk-liuk pinggang,, merintih, purapura sakit perut, la keluar untuk pergi ke belakang. Hari
terang bulan. Beberapa orang dipapasinya. Ia berlari-lari
kecil sambil mengaduh. Makin jauh berjalan, makin sunyi
Di tempat pembuangan air ia dapati masih ada seorang
di sana. Ia menunggu sampai orang itu pergi. Kemudian
sebagai pencuri ia mengendap-endap mendekati kandang
kuda.
“Sultan! Sultan!” bisiknya memanggil-manggil.
Binatang yang dipanggilnya bangun berdiri dan
meringkik pelahan.
Gelar masuk ke dalam kandang, menariki palang-palang
pintu, memeluk kuda itu pada lehernya, dan membawanya
keluar. Palang-palang ia pasang lagi. Sekali lagi ia peluk
leher kuda itu, berbisik: “Bawa aku pulang. Sultan, jangan
gusar, perjalanan jauh, malam pula. Jangan tidur malam
ini.” ia melompat ke atas, tanpa abah-abah, tanpa
sanggurdi.
Bocah dengan kudanya yang tinggi besar itu mulai
berjalan lambat-lambat meninggalkan daerah kandang,
memasuki padang alang-alang. Setelah jauh dari daerah
perumahan Gelar memacunya ke jurusan jalanan negeri
Malam terang bulan itu tiada angin meniup. Pepohonan
berdiri tenang seperti tak tumbuh di atas bumi. Langit tiada
berawan. Dan bintang-bintang redup bertebaran enggan di
angkasa bening. Bulan itu seakan tidak akan pernah
berkisar dari tempatnya. Semua seperti batu. Yang bergerak
hanya kaki kuda yang menderap cepat dan debu yang
mengepul di belakang.
Dari suatu jarak terdengar gonggongan anjing hutan.
Gelar tak mendengar. Yang terdengar hanya suara emaknya
dan nafas Sultan. Ia tak perlu menengok ke belakang. Yang
di depan adalah hidup dan kebebasan, yang di belakang
adalah maut dan penindasan.
Dan Sultan akan jauh lebih cepat dari para pengejarnya,
biarpun ditambah dengan tiga lemparan tombak.
Novel Arus Balikk Bab 32 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.
Bagaimana alur cerita dari novel Arus Balik Bab 32 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua.
Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.
Untuk membaca Novel Arus Balik bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.
Komentar
Posting Komentar