Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 31 Disini
Novel Arus Balik bab 31 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Arus Balik menceritakan tentang kisah Kedatangan Portugis di Bumi Nusantara dengan latar awal Abad XVI, yaitu ketika surutnya pengaruh Majapahit dan naiknya pamor Kesultanan Demak.
Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Arus Balikk Bab 31 Bahasa Indonesia Sekarang ini.
31. Kembali ke Malaka
Memang berbeda dengan peristiwa tahun 1275 Masehi.
Dahulu itu bandar Tuban penuh dengan umbul-umbul
dan sorak-sorai yang berkumandang seperti guruh. Pendetapendeta Buddha dengan jubah kuning menggemerincingkan
giring-gliing naik-turun ke kapal-kapal, tiga puluh buah
banyaknya, untuk memberikan restu. Sri Baginda
Kartanegara, raja Singosari sendiri mengantarkan
berangkatnya armada yang dipimpin oleh Raden Wijaya
dan seorang admiral yang kelak terkenal dengan nama
Mahesa Anabrang. Baginda bersabda: Ekspedisi militer ini
harus berhasil, harus, demi Maha Buddha. Kalau tidak,
Jawa akan remuk dilindas kekuatan Jenghis Khan.
Dan berangkatlah armada itu untuk memasuki daerahdaerah yang diperkirakan bisa jadi pangkalan armada
kerajaan langit Jenghis Khan! Sekali armadanya berhasil
menusuk ke selatan, memuntahkan balatentaranya yang
termasyhur penunggang kuda dan lebih masyhur juga akan
keganasannya, maka Jawa dan Nusantara takkan bangun
lagi. Maka Sri Baginda Kartanegara telah memerintahkan:
persatukan Nusantara. Setiap pulau harus jadi benteng
terhadap serangan dari utara: Dan dengan demikian
armada Singosari muncul dengan segala kebesaran negerinegeri Melayu.
Dua ratus tiga puluh tiga tahun kemudian, pada 1523
Masehi, berangkat pula sebuah armada ekspedisi militer.
Tidak ke daerah Melayu, tetapi ke Malaka. Tidak dengan
umbul-umbul dan upacara, tanpa pendeta-pendeta Buddha
membawa giring-giring, tidak dengan tiga puluh kapal
perang tetapi dengan tiga puluh buah jung! Tidak
diantarkankan Sang Adipati Tuban, hanya oleh Patih Sang
Wirabumi. Tidak ada sorak sorai. Semua yang
mengantarkan, semua penduduk kota menonton dengan
diam-diam, dan curiga. Bahkan Sang Adipati menolak
menyerahkan dua pucuk meriam. Juga dalam dada mereka
yang mengantarkan tanpa sorak telah terjalari perasaan
umum: mereka pergi untuk tidak kan kembali. Mereka
balatentara dari gugusan Tuban itu.
“Baik,” kata Wiranggaleng pada Kala Cuwil yang berdiri
di dermaga. “Kami akan berangkat sebagai hukuman.”
“Patih Tuban tidak menghukum siapa pun, Senapatiku.
Semua atas perintah langsung Sang Adipati.”
“Ingat-ingat ini: Wiranggaleng takkan kembali ke negeri
ini sebelum Sang Adipati mati.”
“Senapatiku, Kala Cuwil tak bisa berbuat apa-apa.”
“Ada! Katakan padaku, jung-jung siapa semua ini?”
“Jung-jung para pedagang Tionghoa, Senapatiku, ditarik
dari mana-mana bandar oleh Liem Mo Han. Senapatiku
nanti akan bertemu dengannya di Lao Sam. Sang Adipati
tak sudi menyerahkan kapal barang sebuah pun.”
“Lima ratus orang diserahkan untuk jadi perburuan
kapal Peranggi! Kami diharapkan jadi makanan hiu. Tak
dapat bertahan sedikit pun terhadap Peranggi. Baik, kami
jalani hukuman mati ini.”
“Kala Cuwil tak dapat berbuat apa-apa.”
Wiranggaleng tak menggubris ulangan itu. Dengan
geram ia memasuki jungnya diiringkan oleh Pada. Sunyisenyap di dalam jung itu: ia jatuhkan perintah berangkat.
Dan jung-jung itu mulai bertolak. Tiada orang bicara.
Prajurit laut yang diberangkatkan bertanya-tanya dalam
hati: Apa kesalahan maka Sang Adipati berlaku demikian
terhadap kawula sendiri, dan siapa sesungguhnya yang
mengajukan namanya untuk menyertai ekspedisi ini?
Mereka sendiri saksikan betapa geram pemimpinnya,
Senapati Wiranggaleng. Dan orang melihat, tak seorang
pun di antara keluarga Senapati datang menguntapkan
keberangkatannya. Orang pun mengetahui: Idayu telah
menyatakan seumur hidup takkan sudi menginjakkan kaki
di ibukota negeri Tuban. Bahkan anaknya memasuki umur
lima belas itu tidak mengantarkan – suatu hal yang
dianggap tidak patut bagi seorang anak Senapati. Dan
ditambah lagi dengan sumpah Wiranggaleng sendiri yang
takkan kembali lagi ke Tuban sebelum Sang Adipati mati.
Setiap orang punya pikirannya sendiri. Juga Senapati. Ia
masih sempat mengenangkan peristiwa manis sebelum
berangkat meninggalkan Awis Krambil. Anak-anak itu
bersimpuh dan mencium kakinya, berjanji akan menemani,
membantu dan membela ibu mereka. Dan Idayu, ah,
wanita yang selalu ditinggalkannya itu – ia tak bicara apaapa. Hanya mata merahnya mengatakan segala-galanya;
protes keras tak terucapkan terhadap Sang Adipati. Dan
seluruh penduduk desa datang untuk mengucapkan selamat
jalan. Wanita pada menangis untuk Idayu, dan pria
menekur mengherani keputusan Sang Adipati mondarmandir terhadap anak desa yang perwira itu. Ia naik ke atas
benteng penduduk: “Jaga Nyi Gede Idayu dan anakanaknya. Urus keselamatan dan kesejahteraan mereka.”
Di Tuban Kota Sang Adipati menolak dihadap. Dan
sekarang jung-jung, bukan kapal perang untuk berangkat ke
medan perang.
Lain lagi halnya dengan Pada. Berkali-kali ia
mengucapkan syukur alhamdulillah karena
keberangkatannya. Setidak-tidaknya ia merasa
mendapatkan kembali kemerdekaannya. Semakin jauh
jung-jung bendera itu meninggalkan pantai, semakin mudah
ia dapat menyusun pikirannya.
Di Awis Krambil ia merasa otak dan hatinya
terbelenggu. Salah seorang isi rumah di pinggir hutan itu
terus juga mendayu-dayu memanggilnya. Kalaulah tidak
disuruh Wiranggaleng tak bakal ia dapat meninggalkan desa
perbatasan itu untuk menemui Liem Mo Han.
Pada hari pertama kedatangannya di Lao Sam ia diajak
Liem Mo Han beiialan-jalan sepanjang Dusun, menikmati
pemandangan pantai yang dijaga oleh bukit-bukit rumah.
Suara Gabah Liem tinggi menusuk. Sekalipun dalam tiupan
angin keras terus-menerus, suaranya tetap tak
menyenangkan masuk ke pendengarannya. Dan ia ingat
sepatah demi sepatah. “Memang banyak bandar-bandar
yang menolak bergabung, kira-kira takut pada pembalasan
Peranggi bila serangan gagal. Memang sulit untuk dapat
meramalkan. Semestinya Malaka dengan mudah bisa
dijatuhkan. Ada suatu kelemahan umum pada mereka:
penjagaannya di belakang tidak serapi yang di depan.
Penyerangan dari barisan punggungnya akan membikin
mereka kocar-kacir. Kita akan lakukan itu.”
Dan ia bertanya: “Kita? Maksud Babah Tiongkok juga
akan ikut serta?”
Dan Liem Mo Han menjawab: “Tidak, kami hanya
perantauan buangan dari Tiongkok. Kami hanya bisa
membantu dengan apa saja yang dapat kami bantukan.
Kami hanya pedagang, bukan prajurit. Aku sudah usahakan
agar ada kesatuan Tiongkok ikut bergabung. Mereka
menyanggupi dan akan diturunkan dari Teluk Tonkin.”
“Siapa mereka itu?”
Liem Mo Han tak menjawab, hanya berkata, “Aku
sebenarnya malu tak mampu menyertai di medan perang
nanti. Sudah diserukan di mana-mana negeri supaya orangorang Tionghoa punya perhatian dan ikut bergabung dalam
penyerangan umum. Belum jelas apa jadinya nanti.
Kesatuan Tiongkok akan serta. Semoga berhasil.”
Kata-kata itu sama sulitnya untuk dapat ia pahami
dengan tingkah hatinya sendiri yang mengimpikan Idayu,
istri dari seorang sahabat Wiranggaleng, dan berharga bagi
dirinya sendiri.
Seluruh awak jung yang tiga puluh buah itu tak
berbahasa Jawa atau Melayu. Semua orang Tionghoa totok,
dan nampaknya semua mereka menghindari percakapan
dengan para prajurit. Bila terpaksa hanya bahasa gerak yang
dipergunakan.
Sebagian kecil dari awak kapal beragama Islam dan pada
setiap kesempatan ikut berjemaat.
Di Lao Sam armada jung itu berlabuh.
Liem Mo Han menjemput Wiranggaleng dan
menemukan Pada ikut serta.
“Tak perlu lama-lama berlabuh di sini,” pesan Babah
Liem. “Senapatiku bisa tertinggal oleh armada Jepara.”
Sementara itu dari dermaga dipunggah ke dalam jungjung itu bahan makanan, pakaian dan senjata.
“Juga tidak perlu bermalam di Jepara. Bila sudah sampai
di Semenanjung, memantai sebelah barat Sumatra,
Senapatiku mendarat di mana saja di sebelah utara Malaka.
Pasukan-pasukan Aceh sudah tahu di mana harus
mendarat. Bila Senapatiku sampai di Aceh, pasukan
gabungan Aceh-Bugis sudah menunggu di sana.”
Wiranggaleng terheran-heran mengapa kata-kata
sahabatnya begitu kacau, dan mengapa dia yang
memberikan petunjuk kemiliteran dan bukan Panglima
Demak Fathillah. Ia tatap sahabatnya dengan pandang
tidak mengerti.
Melihat itu Liem Mo Han meneruskan dengan gugup:
“Ya, Senapatiku, sahaya hanya meneruskan pesan Gusti
Ratu Aisah, Ibunda Sultan. Tuban, Aceh dan Bugis akan
merupakan satu kesatuan tersendiri. Demak akan
menyerang dari sebelah selatan sebagai kesatuan tersendiri
pula, dan akan melakukan pendaratan dari sebelah timur
Semenanjung. Boleh jadi armada Demak sudah berangkat
terlebih dahulu. Atau lebih kemudian.”
Wiranggaleng semakin terheran-heran. Bagaimana bisa
demikian? Ia tak bertanya lebih lanjut. Ia curiga. Ia anggap
Liem Mo Han tak mempunyai sesuatu hak untuk
memberinya petunjuk barang sedikit pun di bidang ini. Dan
ia menatapnya dengan curiga.
Dan Liem Mo Han berusaha untuk tidak bicara lagi,
mencari dalih untuk segera dapat menghindarinya.
Senapati Tuban mengucapkan terima kasih atas
usahanya mendapatkan jung sebanyak itu.
Pada berusaha menyertai bicara, tetapi Liem Mo Han
hanya menghormatinya dengan sopan kemudian
mengundurkan diri, dengan dalih yang tidak masuk di akal.
Armada jung meneruskan pelayaran. Suasana tetap:
suram bertanya-tanya.
Walau telah dipesan oleh Liem Mo Han agar tak
bermalam di Jepara, Wiranggaleng memutuskan untuk
singgah dan mencari keterangan yang benar. Ia ingin
mendapatkan petunjuk dan perintah langsung dari
Fathillah. Ia melihat Pada nampak bingung, kuatir
dibangkit-bangkit, maka ia sengaja tak hendak bertanya
padanya.
Sedang Pada sendiri pun tidak mengerti mengapa Liem
Mo Han menjadi begitu aneh. Terhadap dirinya pun ia
bersikap seolah tak mengenal, seakan bukan lagi seorang
ayah angkat. Dan nampak olehnya orang itu gugup dan
ingin segera pergi mengakhiri pertemuan itu.
Armada jung itu berlayar terus dalam suasana muram.
“Kosong!” seru Wiranggaleng waktu dari jung bendera ia
melihat pelabuhan Jepara kosong.
Hanya sebuah kapal perang nampak, dan itulah kapal
bendera Adipati Unus yang dipajang di pelabuhan.
“Tak kelihatan barang sebuah pun kecuali yang satu itu!”
serunya geram.
Bekas kapal bendera itu bergeleng-geleng lemah. Berbelas
tahun lamanya menjalankan perintah Unus untuk jadi
tontonan ummat manusia sebagai kapal yang pernah
bertempur melawan Peranggi silelananging jagad.
Sekalipun kalah dan dikalahkan dia pernah melawan!
Dan kapal pameran itu seakan dimaksudkan sebagai
lambang kapal mana pun bisa melawan Peranggi.
Adipati Unus telah melarang diadakannya perbaikan
setelah 1513.
Tiang-tiang layar dibiarkan patah, haluannya terpenggal,
bahkan kaki cetbangnya terbalik dengan tubuh tinggal
sebagian kecil. Dindingnya yang complak tinggal
menganga. Perbaikan yang diperkenankan hanya atas
kerusakan yang bisa membikin kapal itu tenggelam. Dan
semua orang diperkenankan naik ke atasnya untuk
menonton.
Sultan Trenggono tak suka melihatnya. Ia tak pernah
memerintahkan untuk menenggelamkannya. Hanya
pekerjaan perawatan tak diperkenankan diteruskan.
Dengan demikian bekas kapal bendera itu dinamaikan
satu itu.
Lima ratus prajurit laut Tuban yang bersemangat rendah
sejak mancal, melihat kekosongan Jepara seperti melihat
bekas pesta. Di mana-mana nampak daun bekas
pembungkus yang bersebaran dan bermain-main ditiup
angin. Dan kalau selama pelayaran mereka banyak
termenung-menung, sekarang mereka mulai berteriakteriak: ”Kurangajar! Tak tahu diuntung!”
Wiranggaleng dapat mengerti perasaan anakbuahnya.
Perasaan mereka adalah juga perasaannya sendiri. Ia telah
menduga ada pengkhianatan tersembunyi dalam perintah
pemberangkatan ini. Ia belum tahu apa dan bagaimana.
Bahkan ia pun mulai mencurigai Pada. Bagaimanapun
sahabatnya itu bekas seorang musafir Demak, dan mungkin
masih tetap seorang musafir Trenggono.
Jung bendera mulai melewati yang satu itu, memasuki
selat antara pulau Kelar dan pulau Panjang. Senapati Tuban
itu memerlukan mengangkat sembah pada gambaran gaib
Adipati Unus. Dan jung menuju langsung ke pelabuhan.
Bandar itu sunyi walaupun di mana-mana terpasang
umbul-umbul segala warna. Galangan dan bengkel sama
sekali berhenti bekerja. Bahkan Syahbandar pun tak
nampak menjemput, sebaliknya seorang wanita tua
berpayung hitam, berdiri, bersama seorang gadis, di
samping sebuah tandu yang tergeletak di atas tanah. Para
penandu nampak duduk-duduk di kejauhan menonton
berlabuhnya armada aneh itu. Wiranggaleng mendarat
dengan wajah merah padam.
“Anakku,” tegur wanita tua berpakaian serba hitam itu.
“Sudah kami duga kau akan singgah.”
Senapati Tuban segera teringat pada wanita tua itu. Ia
bersimpuh dan menyembah: “Gusti Ratu, patik singgah.”
“Armada Jepara telah berangkat mendahului. Tentu
Babah Liem sudah sampaikan segalanya padamu,
Wiranggaleng, Senapati Tuban. Jangan berkecil hati,
karena kau, anakku, akan membentuk kesatuan sendiri
dengan Aceh dan Bugis. Terimalah ini, cincin yang pernah
dibawa dan dikenakan almarhum Unus waktu menyerang
Malaka, pertanda kau diberi wewenang oleh Jepara dan
Demak. Sri Baginda Sultan Trenggono merestui kau.
Senapati Tuban. Allah akan memimpin dan memberkati
dan melindungi kau dan semua anakbuahmu, demi doa
kami. Insya Allah selamat dan berhasil.”
Wanita tua itu minta Wiranggaleng mengulurkan
tangan-kanannya, kemudian memasangkan cincin. Dan
Senapati membalas dengan sembah dan beribu terimakasih
dengan kepercayaan itu.
Ia memberanikan diri mengangkat muka dan bertanya:
“Ya, Gusti Ratu, apakah gerangan sebabnya pasukan kami
diangkut dengan jung Tionghoa, bukan dengan kapal
perang sebagaimana layaknya?”
“Jangan bertanya, anakku, karena itulah kiriman Allah
dan bukan sekedar manusia yang mengusahakan.”
“Bagaimanakah jung-jung ini tanpa barisan pendayung
untuk bisa bergabung dengan armada Jepara-Demak?”
“Jalan dan tugasmu telah ditentukan, anakku. Lepaskan
armada Jepara-Demak dari pikiranmu.”
“Armada jung ini takkan dapat lari dari Peranggi, Gusti
Ratu, tak dapat melawan sedikit pun di laut.”
“Kau takkan dikejar Peranggi, juga tidak melawan di
laut. Tugasmu melakukan pendaratan.”
Wanita tua itu naik ke atas tandu bersama cucunya. Dan
para penandu lari menghampiri, menyembah, kemudian
mengangkatnya, bergerak meninggalkan bandar.
Wiranggaleng tertinggal berlutut di atas pasir. Ia makin
tidak mengerti. Ia perintahkan para peratus untuk segera
mendarat: “Sampaikan pada anakbuah kalian, jangan
berkecilhati. Apa pun yang terjadi dan tersedia, kita bertekat
untuk menggempur Malaka. Jangan pikirkan yang lain.”
Orang mulai berdatangan di pelabuhan untuk melihat
armada aneh – armada jung berbendera Majapahit. Armada
apakah ini gerangan? Armada dagang membawa beras ke
Pasai? Dan tidak lain dari Wiranggaleng juga yang merasa
jengkel armada-anehnya jadi tontonan, dianggap sebagai
keanehan jaman yang perlu disaksikan.
Dari suatu tempat yang terlindung. Ratu Aisah di atas
tandunya mengantarkan armada jung itu dengan pandang
yang memendungi selaput awan.
“Nenenda,” panggil cucunya, “ke mana mereka
belayar?”
“Malaka, mengusir Peranggi.”
“Mengapa nenenda menangis?”
“Kapal-kapal besar dan kuat dan mewah bikinan
pamanmu. Upik, semestinya mengangkut mereka.”
“Ya, nenenda, tapi mengapa nenenda menangis?”
“Upik, kadang ada gunanya orang menangis untuk
mengucapkan syukur, kadang untuk mengucapkan doa dan
diri merasa demikian rendahnya di hadapan Tuhan Yang
Maha Kuasa. Masih kau ingat pamandamu, Unus,
penantang Peranggi?”
“Tentu, nenenda. Paman Adipati Unus, penantang
Peranggi.”
“Dan ingat-ingatlah satu nama lagi: Wiranggaleng. Dia
pun menantang Peranggi. Kau masih terlalu kecil untuk
dapat mengingat wajah pamanmu almarhum. Tapi
Wiranggaleng kau sudah lihat sendiri. Jangan sampai kau
lupa seumur hidup.”
“Yang dikaruniai cincin tadi, nenenda?”
“Ya, yang tadi itulah. Lihatlah ke sana sekarang,
antarkan armadanya dengan doa selamat, cucunda. Sertai
nenenda mengucapkan doa untuk kemenangannya.”
Wanita itu mengucapkan sebaris kalimat doa dan
cucunya mengulangi. Kalimat demi kalimat sehingga
selesai. Kemudian dengan suara dalam karena perasaan
tertekan ia meneruskan: “Kelak kalau orang-orang seumur
aku telah dipanggil Tuhan, cucunda, orang-orang
seumurmu masih harus mengingat satu nama itu, dan satu
lagi itu. Kalau kelak negerimu aman, makmur dan
sentausa, adil dan sejahtera, adalah karena mereka. Kalau
yang sebaliknya yang terjadi mereka gagal. Ya-ya, kelak kau
akan mengerti, musuh negeri dan bangsamu bersaf-saf,
berlapis-lapis. Aaa, kau tidak dengarkan.”
Tandu itu berangkat lagi dengan mengirimkan doa pada
armada jung dan cericau cucu tentang umbul-umbul dan
rombongan penonton di pelabuhan.
Setelah bersembahyang magrib Ratu Aisah berdoa
sampai menjelang isya, doa terpanjang yang pernah
diucapkan di dalam khalwat. Dengan berlinangan airmata
ia memohon kedamaian dan kemampuan untuk
memaafkan putranya Sultan Trenggono, karena armada
Jepara-Demak telah dilarang oleh putranya menerima
penggabungan Tuban, dan berangkat satu hari sebelum
waktu yang dijanjikan. Dan bukan sebagian armada yang
berangkat, seluruhnya dan dengan seluruh pasukan laut
ditambah dengan pasukan kaki. Ia sendiri tak percaya
armada itu menuju ke Malaka. Maka ia berdoa agar Allah
menggerakkan putranya untuk menggerakkan armada itu
langsung ke sasaran. Tapi hatinya tidak yakin.
Setelah bersembahyang isya ia menengok cucunya yang
ternyata belum lagi tidur, dan direbahkan tubuh tuanya di
samping cucunya.
“Mengapa nenenda begitu terlambat?” tegur cucunya.
“Sekarang, cucunda bacalah surah-surah yang kau sudah
hafal.”
Cucu itu mulai mengulang-ulang dari surah hafalan
sambil bertidur-an. Suaranya semakin lama semakin lemah
untuk kemudian terhenti dan disambung dengan nafasnya
yang teratur.
Ratu Aisah bangkit dan keluar dari bilik.
Makan malam itu tak dijamahnya. Ia pergi ke taman,
memandangi bintang-bintang bertaburan di langit gelap.
Jiwa yang telah tua itu meraung-raung pada antariksa,
memanggil-manggil, berseru-seru, terhisak-hisak dalam
kekuatiran, dan menjolak-jolak dengan harapan. Ia rasai
buminya tiada keteguhan lagi, setapak tanah pun tak lagi
kekukuhan untuk berpijak. Ambillah makhluk-Mu ini,
habisilah kesia-siaannya, seorang wanita, tua dan tanpa
daya. Hidupi terus cucuku, dengan semangat yang sudah
dimulai oleh pamannya. Segala sudah aku tempuh, aku
usahakan. Janganlah datangkan jaman sebagaimana aku
dan orang-orang sebelum aku tiada menghendaki, karena
jaman yang itu akan membikin sia-sia segala dan semua
yang telah umat-Mu taburkan di bagian bumi ini. Ya Allah,
ya Allah.
Tengah malam ia baru masuk ke dalam rumah. Para
inang masih juga menunggui. Makan malam telah
dihangatkan lagi. Ia tak juga datang untuk menjamah.
Terdengar percikan air. Ratu Aisah mengambil air wudhu,
kemudian kelihatan ia masuk ke dalam khalwat kembali
dan bersembahyang tahajjud sampai subuh.
Dengan susah-payah armada jung itu berlayar ke arah
utara untuk mendapatkan angin yang lebih
menguntungkan.
Dan Wiranggaleng masih juga tenggelam dalam
pembisuannya. Tak ada yang berani mengganggunya.
Orang melihat keterangan telah memperkosa airmukanya.
Orang-orang yang datang untuk menunggu perintah tinggal
duduk-duduk menunggu dan menunggu Bahkan tak ada
orang yang berani menyilakannya makan.
Tempat kesukaannya adalah lambung kiri. Di sana ia
berdiri dengan pandang ditebarkan pada pantai Jawa yang
serasa tiada kan habis-habis-nya, siang dan malam.
Dan sekali ini ia sengaja mengenangkan kembali pidato
Rama Cluring yang terakhir itu, sewaktu cengkaman gurupembicara pada hadirin mulai mengendor, dan di sana-sini
orang mulai terdengar mendehem dan terbatuk-batuk. Dan
tiba-tiba semua pandang terarah pada Idayu yang angkat
bicara: “Rama, aku tak begitu tertarik pada kata-katamu
yang belakangan itu. Ceritai saja kami tentang jaman
kejayaan yang kau agung-agungkan itu.”
Rama Cluring menengok ke arah Idayu, tersenyum dan
mengangguk: “Permintaan yang bijaksana. Gadis, agar
kalian tahu perbandingan dengan jaman kalian sendiri
sekarang ini. Dengarkan, Gadis: “Dalam seluruh
pengembaraanku, aku selalu mengagungkan jaman
kejayaan itu, biar orang tua-tua sekarang ini tahu sampai di
mana mereka sudah merosot, ya sampai ke lutut
dibandingkan dengan nenek-moyangnya sendiri. Sayang
sekali. Gadis, orang-orang tua itu kalau diceritai, hanya
mengangakan mulut seperti buaya berjemur menunggu
lalat. Pengelihatannya dan pendengarannya sudah tak peka
lagi. Kau anak berbahagia, Gadis. Memang aku lebih suka
melayani pertanyaan dan permintaan gadis dan perjaka,
karena jaman ini adalah permulaan dari jamannya, dan
kalian sendiri, bukan orangtua kalian yang sudah berlengahlengah tak sanggup membiakkan kelapa itu.”
“Kau sendiri sudah menyia-nyiakan jamanmu sendiri,
Rama,” seseorang memprotes.
“Itu menurut kau. Soalnya karena kalian sejak dulu tak
mau mendengarkan aku. Sampai berbulu putih begini aku
masih terus bicara dan kalian masih juga menganga
menunggu datangnya lalat.”
“Mulailah dengan cerita itu!” Idayu mendesak.
“Baik,” sambar Rama Cluring untuk meninggalkan
pertengkaran secepat mungkin. “Dahulu adalah seorang
anak desa, Nala namanya. Dia berasal dari sebuah
kampung nelayan di Tuban. Seorang bocah yang oleh para
dewa dikaruniai dengan banyak cipta. Untuk Majapahit dia
ciptakan kapal-kapal besar dari lima puluh depa panjang
dan sepuluh depa lebar, bisa mengangkut sampai delapan
ratus o-rang prajurit dan dua ratus tawanan, kapal-kapal
besar, terbesar di dunia ini, di seluruh jagad ini. Pada tiang
agungnya selalu terpasang bendera merah-putih yang
berkibar tak jemu-jemunya. Seperti bendera kapal-kapal
kecil Tuban sekarang ini, hanya lebih pendek.
“Beratus-ratus kapal semacam itu dibuat di galangangalangan Majapahit di Tuban, Gresik, Kawal, Panarukan,
Pasuruan, Pacitan, Juana… aku kira jumlahnya takkan
kurang dari tiga ribu. Penuhlah laut dengan armada
Majapahit. Setiap di antaranya pasti akan kalian sangka
istana Dewi lautan. Dan setiap kapal pimpinan selalu
berlayar sutra kuning gemerlapan.”
“Apakah Rama pernah melihat dan menaikinya?” Idayu
bertanya lagi.
“Waktu muda, ya, dari Gresik sampai ke Nalagasari,
dari Malaka sampai ke utara sana, memudiki Kali Mutiara.
Tak ada yang menyamai besar dan kelajuannya. Kapalkapal Atas Angin itu, huh, apalah artinya, seperti kambing
di sebelah kuda. Dan bila semua layar telah dikembangkan,
laksana elang ia meluncur meninggalkan di belakangnya
semua bikinan manusia yang terapung di atas laut. Seribu
bajak takkan dapat memburu apalagi mengepungnya. Ya,
Gadis, aku pernah ikut berlayar dengan sisa jenis kapal
Majapahit ini. Tak ada lagi yang bisa membikinnya
sekarang.”
“Mengapa tak bisa? Bukankah di bandar-bandar orang
terus menggalang?” Idayu merangsang. “Aku sendiri
pernah berkunjung ke sebuah galangan Tuban setahun yang
lalu.”
‘Tidak bisa. Gadis. Sudah lebih seratus tahun orang tak
dapat membikinnya lagi. Orang yang dapat mengetahui
kayu lunas yang dipergunakan oleh Mpu Nala sudah tiada.
“Bocah dari kampung nelayan Tuban itu bukan saja
seorang Mpu kapal, ia pun seorang ahli kayu. Memang ia
pernah ke kepulauan cengkeh dan pala. Hanya sebuah saja
katanya, yang menghasilkan. Pulau itu tidak begitu besar
dengan sebuah gunung berapi. Kira-kira seratus tahun
setelah Mpu Nala wafat, orang memang masih
membangunkan kapal Majapahit, karena masih ada
persediaan kayu lunas. Setelah habis, habis pula
kemungkinan.
“Pada suatu kali,” Rama Cluring meneruskan.
Airmukanya nampak lunak, dan ia tidak mempedulikan
kegelisahan yang masih juga berkuasa di dalam hati
setengah orang, “Sebuah iring-iringan kapal datang ke sana,
begitu menurut cerita guruku dulu. Ternyata gunung itu
telah meletus, menghancurkan semua hewan, manusia dan
tetumbuhan di atasnya. Yang tertinggal hanya seperlima
dari pulau itu, putih, tinggal pasir dan karang semata.”
“Kalau begitu kayu itu sekarang sudah tumbuh lagi di
sana,” Galeng mencoba menyertai.
“Mungkin kau tak salah, Perjaka. Tapi orang sudah tak
tahu lagi kayu yang mana, pada umur berapa baru bisa
diteras dan ditebang, bagaimana merawatnya sebelum dan
sesudah ditebang. Lagi pula orang datang ke sana bukan
untuk mencari kayu, tapi rempah-rempah semata.” Ia diam
sebentar untuk minum. “Memang tidak semudah itu. Mpu
Nala telah merahasiakannya. Kalau setiap orang tahu,
semua kerajaan di dunia ini bisa juga, maka kapal-kapal
Majapahit bukan lagi satu-satunya yang menguasai laut.”
“Mengapa kau tak bicara lagi, Kang?” Idayu berbisik
pada Galeng.
Dan Galeng hanya menggeleng, tenggelam dalam cerita
guru itu.
“Beruntunglah aku pernah ikut berlayar dengannya.
Lunasnya masih tetap utuh, biarpun badannya telah berkali
diganti. Kata guruku, sebelum kayu dibentuk jadi lunas,
beberapa bulan lama direndam dalam lumpur larutan
sesuatu. Orang tak tahu ramuannya. Pewaris tunggal
ramuan adalah anaknya, juga seorang Mpu kapal. Sayang,”
ia menghembuskan nafas keluh, “ia tewas dalam
pertempuran laut di sebelah utara Singaraja dalam perang
Paregreg. Ah, jaman silam! Kapal-kapal megah yang
mampu membawa ratusan prajurit begitu, dan
perlengkapan, dan perbekalan, dan tawanan. Kalau kapalkapal semacam itu masih ada, dan sebanyak dulu, tak bakal
ada kapal Parsi, Arab dan Benggala berkeliaran ke mari.
Satu demi satu kapal itu binasa dalam Perang Paregreg.
Kapal dari satu jenis berhadap-hadapan, dengan senjata
satu jenis: cetbang. Tenggelam terkubur di dasar laut
akhirnya semuanya.
Sebuah kapal dari jenis ini pernah dilarikan dari Tuban
ke Malaka. Yang melarikan ialah suami kaisar Suhita.
Dengan diiringkan oleh beberapa buah kapal kecil Pangeran
Bhre Paramesywara itu marak jadi raja di Malaka, tetapi
tak pernah dapat membangunkan sendiri kapal Majapahit.
Apa yang dijanjikannya tak pernah ditepati. Kalau
Majapahit tak mampu hidup di Selatan, kami akan
hidupkan dia di utara, kata Pangeran Bhre Paramesywara.
Ternyata Malaka tidak pernah melahirkan Mpu Nala.
Bandarnya tak lebih baik dan tak lebih besar ataupun bagus
daripada Tuban, namun merugikan bandar-bandar di
bawahnya, dan tinggal jadi bandar dagang dan
persinggahan. Majapahit runtuh di selatan dan tak bangun
di utara.”
“Rama,” seseorang menegur, “sebenarnya kau hendak
bicara tentang apa? Bicaramu tidak menentu. Kau
mengagungkan kejayaan Majapahit.
Yang kau agungkan runtuh. Di mana pula kejayaannya?
Bicaramu melompat-lompat seperti katak diburu ular!
“Uah! kau benar,” Rama during mengangkat dagu
tinggi-tinggi, mukanya telah berkilat-kilat karena keringat.
“Ada kalanya katak berlompatan dikejar ular. Ada kalanya
dia mati kena terkam. Namun sebagian terbesar dari
hidupnya yang pendek dia mengagungkan hidup bukan
mati. Hanya kau, yang dalam hidupmu melihat katak cuma
dalam buruan ular. Mengerti kau apa maksudku? Boleh jadi
kau sedang menunggu-nunggu datangnya kata-kataku yang
bisa memperluas hatimu. Puh! Rama CIuring bukan si
pengluas hati.”
“Tak ada yang berkeberatan Rama seorang pengeluas
hati atau tidak. Bukankah tahu juga kau, mayat orang baikbaik dibakar, hanya orang-orang tak menentu ditanam?
Yang dibakar nyawanya terbang ke Suralaya, yang ditanam
hancur dimakan cacing dan nyawanya jadi dedemit. Kau
bicara tentang yang sudah mati, Rama,” penyanggah itu
menetak gencar. “Katakanlah, kau bicara tentang suralaya
atau kerajaan dedemit?”
“Suralaya dan kerajaan dedemit dan nirwana aku tak
tahu. Itulah perkara parabiksu, pandita dan pedanda. Aku
tak bicara tentang kema-tian. – tentang kehidupan, tentang
hidup dan bercipta dan mencipta. Majapahit kehilangan
Mpu Nala, dan Malaka tidak melahirkannya. Di Suralaya
dan di kerajaan dedemit dia tidak ada. Kalau ada kapalkapalnya sudah pasti akan datang di bandar-bandar seluruh
dunia. Tetapi, dengarkan, kau yang tak mengerti tentang
kebesaran dan kejayaan. Dengarkan yang baik, kau
pembantah, negeri dengan bandar begini,… orang cukup
duduk seminggu di pelabuhan, melihat-lihat besar dan
banyaknya kapal sendiri yang mondar-mandir pergi dan
datang… orang akan tahu sampai berapa artinya negeri itu.
Hanya orang hidup dari kekecilan negeri ini yang tidak
bakal mengerti maksudku. Dan barangkali karena katakataku ini bukan saja seorang tapi banyak Mpu Nala,
karena panggilan ini, membenih dalam guagarba perawanperawan yang ada di dalam balai-desa sekarang ini/’
Rama CIuring diam dan berdoa. Juga Galeng
mengangkat sembah. Kata-kata Rama yang terakhir itu
menggelora berseru-seru dalam hatinya. Segera ia akan
kawini Idayu. Dan kelak anak-anaknya juga harus jadi Mpu
penggalang kapal, pendiri kebesaran dan kajayaan.
Ia sendiri, seperti yang lain-lain, telah banyak mendengar
tentang kebesaran dan kejayaan Majapahit – Majapahit
yang kini telah mati tinggal jadi cerita itu. Doa Rama
CIuring ia rasai seakan tertuju pada dirinya semata: kau,
kau munculkan dia dari guagarba haridepan.
Ketika ia menengok pada Idayu, perawan itu sedang
tersenyum melirik dari samping. Ia betulkan letak kain
kerudung pada bahu pacarnya. Kemudian tangannya
mencari tangan Idayu, dan mereka berpegangan tangan
seakan tiada kan lepas lagi untuk selama-lamanya.
“Panas’ bisik Idayu.
“Mereka namai dia seorang dewa haridepan,”
gumamnya. Tanpa pikir panjang, hanya untuk menyatakan
penghargaannya, ia angkat kata: “Rama, kau tahu tentang
jaman lewat, kau sendiri hidup dalam jaman kemerosotan
ini seperti kau sendiri telah katakan, maka kau berseru-seru
pada jaman mendatang, seakan kau hendak memberikan
pada kami tiga-tiga jaman itu tidak berpisahan seperti
banyak orang bergandeng-gandengan dalam suatu
permainan.”
“Tidak pernah berpisahan, Perjaka, bersambungan dan
bergandengan tak putus-putusnya.”
“Ya, bersambungan terus-menerus. Tapi tidakkah kau
keliru. Rama, atau sengaja membodohi kami, atau memang
melebih-lebihkan, atau barangkali kau seorang tua
pembohong, waktu kau mengatakan lunas kapal Mpu Nala
jauh lebih tahan dari badan kapal yang berkali diganti,
sampai kapal itu mencapai umur lebih dari seratus tahun?”
“Indah sekali pertanyaan itu, Perjaka. Memang aku tak
dapat membuktikan karena barangnya sudah tidak ada.
Kau boleh tuduh aku bodoh, bohong dan melebih-lebihkan.
Kau sendiri pun takkan dapat membuktikan kebohonganku.
Di jaman jaya dulu memang seorang pembicara harus bisa
buktikan kebenaran omongannya, kalau diminta. Itu aturan
dulu. Dalam jaman kemerosotan ini aturan itu hilang
dengan sendirinya.”
Rama Cluring menggerakkan tangan untuk melukiskan
bentuk lunas.
“Rama, kau tidak memanggil kebesaran pada guagarba
haridepan. Kau memanggil balatentara Tuban untuk
menumpas kami…,” seseorang menuduh.
Orang tua itu tidak peduli dan meneruskan: “Mpu Nala
bukan sekedar hanya mendapatkan kayu itu. Dia punya
sumber cipta agung. Dia juga yang membuat aturan
sehingga puluhan kapal yang bersebaran di permukaan laut
dapat bicara satu-sama-lain seperti aku dan kalian sekarang
ini.”
“Rama, karena kau sudah bilang para guru-pembicara
sekarang ini tak dikenakan aturan membuktikan kebenaran
kata-katanya, terbebaslah kau, jadi kau boleh membohong
sekuat mulutmu. Kau hanya ngomong, ngobrol, tak lebih.”
Orang tua yang serba putih itu terhenyak. Matanya
menyala-nyala. Mukanya yang keriput makin berkerutkerut dalam, seakan sedang menyiapkan ledakan. Dan
ledakan itu ternyata tiada. Ia menuding pada para
pendengar yang duduk berbanjar-banjar. Ia menelan ludah.
Tak ada keluar kata-kata dari mulut.
Dari beberapa tempat mulai terdengar orang mengejek.
Dan mereka yang arif dapat segera melihat, guru-pembicara
itu merasa tersinggung. Mereka yang sudah mengenal
wataknya tahu, singgungan terhadap kebesaran dan
kejayaan Majapahit adalah juga singgungan terhadap
kehormatan pribadi Rama.
“Mengapa terdiam? Mengapa tidak memekik dan
berjingkrak?”
“Jangan menangis, Rama,” seorang dari banjar tengah
melengking ria, “memang orang-orang muda wajib
menghormati orang tua, tapi jangan kau kira kau boleh
semburkan abab semau sendiri.”
Rama Cluring belum juga menjawab. Nampak benar ia
sedang bergulat untuk menindas perasaannya.
Tak lain dari Idayu yang berusaha menyelamatkan
Rama. Berseru ia keras-keras: “Aku menghargai Rama.”
Idayu berdiri, seakan menantang semua orang. Sekali lagi
Galeng menarik duduk. Pemuda-pemudi desa berseru-seru
menyokong Idayu dan membenarkannya.
Baru kemudian keluar kata-kata Rama yang berat dan
sepatah-sepa-tah: “Kalian datang di hadapanku untuk apa?
Untuk mendengarkan aku. Pekerjaanku memang bicara.”
Suara itu bernada rendah memohon simpati…. “Seorang
diri aku berseru-seru: Jangan biarkan anak-anak kalian
tenggelam dalam kemerosotan jaman. Bangkit: Lawan
kemerosotan. Lebih dua puluh tahun aku bicara. Tetapi
orang masih juga tak mau mengerti.”
Sekarang suaranya mengambil nada semula, cepat dan
bersemangat: “Tugasku adalah bicara agar kalian mengerti,
jaman sudah beralih dari kejayaan pada kemerosotan
sekarang ini. Kalau kemerosotan tak dapat ditahan, yang
bakal datang tak lain dari kebinasaan.”
“Kalau begitu. Rama,” Galeng memaksa bicara hanya
untuk menunjukkan simpati. “Ceritai kami bagaimana
orang membangkitkan kejayaan, menahan kemerosotan.
Jangan gubris mereka yang hanya tahu mengejek, yang tak
mampu mengerti.” “Kau jadi panas, Kang?” Idayu berbisik
memperingatkan. “Para pengejek itu tak hanya sekelompok
buaya.” Suasana berubah waktu gadis anak kepala desa
datang membawa nampan berisi gendi, meletakkannya di
hadapan Rama, dan mengambil cawan yang telah kosong,
kemudian pergi lagi.
Guru itu nampak sangat haus. Ia ambil gendi dan minum
dari kucuran cucuknya.
“Dengarkan kalian yang ikut bersama kemerosotan
jaman ini! Orang bijaksana mengetahui berubahnya jaman
dari pengertian-pengertiannya. Guru-pembicara seperti aku
ini hanya menyampaikan pengertian. Orang yang tidak
bijaksana, yang bebal, baru tahu jaman sudah atau sedang
berganti kalau cambukan perang telah mendera-dera pada
punggungnya. Tetapi darah dan keringat yang
dikucurkannya sudah sia-sia belaka bakalnya. Dia akan
meregangkan nyawa di mana saja, di ladang, sawah,
jalanan, laut atau darat, untuk kesia-siaan itu.
Kesalahannya hanya: bebal, tak punya kebijaksanaan.”
Tiba-tiba Rama Cluring meringis. Tangannya menelusuri
perutnya. Sakit perut! orang menduga. Kemudian nampak
Rama mengerutkan gigi. Dan begitu wajahnya cerah
kembali ia melanjutkan kata-katanya, cepat-cepat:
“Dengarkan, kau Perjaka, bagaimana orang telah
membangkitkan kejayaan, dan itu lebih berarti daripada
hanya sekedar menahan kemerosotan.”
Kembali ia meringis. Tangannya gelisah menelusuri
perut.
“Ada seorang anak desa, seorang anak lurah,” katanya
cepat-cepat. “Anak ini diemong oleh bujangnya, seorang
prajurit pelarian balatentara Tatar Kublai Khan. Dari
pengemongannya si bocah belajar membikin senjata-api
penangkap rusa dan babi hutan. Bocah bukan sembarang
bocah. Dia pun punya cipta dan dayacipta besar. Aku akan
perbaiki senjata-api ampuh ini, dibuat sebanyak-banyaknya,
dan balatentara yang menggunakannya akan menjadi
pemenang tunggal di atas bumi manusia ini.
Ia bertekad menjadi orang besar untuk dapat
menggunakan senjatanya. Setelah dewasa ia tinggalkan
desa dan orangtua dan pengemongnya, dan masuk ia ke
pusat kerajaan Majapahit. Dengan ilmu berkelahi dari
pengemongnya dengan mudah ia dapat hancurkan kepala
banteng dengan sebelah tangan, dan jadilah ia perwira
pengawal Sri Baginda Jayanegara. Ia mendapat nama
militer: Gajah Mada.”
Wajah Rama kelihatan pucat. Tapi ia berkukuh
meneruskan ceritanya: “Dengan daya cipta besar ia berhasil
meningkat jadi Mahapatih. Uh, pemberontakan Kuti itu
sangat berarti bagi seorang seperti dia. Pada waktu itulah ia
kembangkan senjata-api yang kini kalian kenal dengan
nama cetbang. Dan dengan kapal-kapal Mpu Nala yang
dipersenjatai cetbang armada Majapahit tak pernah
menemui perlawanan. Bila pelurunya berledakan di udara,
kerajaan-kerajaan bandar pada takluk dan menyerah.”
Kembali ia meringis dan menekan-nekan perut.
Idayu bangkit untuk menolongnya.
Rama CIuring meneruskan: “Tidak menemui
perlawanan di mana pun. Di setiap bandar kerajaan di
seberang, raja-raja pada turun dari singgasana, datang
menyongsong armada di bandarnya. Peluru-peluru cet-bang
yang berledakan di udara, seperti kilat dan guruh sekaligus,
membikin Majapahit jadi penguasa tunggal atas Nusantara
– suatu yang pernah dicapai oleh Sriwijaya selama tiga ratus
tahun. Di tengah laut peluru-pelurunya berluncuran di atas
permukaan air membinasakan armada-armada perampok
dan bajak laut. Maka darat dan laut aman.
“Dalam sepuluh tahun kemudian Majapahit mulai jadi
kekaisaran. Kemudian seluruh Nusantara bersatu di bawah
bendera merah-putihnya.”
Ia menguruti perut, dan dada dan leher. Suaranya
kehilangan kekuatannya, namun ia masih tetap
meneruskan: “Waktu itu hanya ada dua kaisar. Kaisar
Tiongkok di utara dan Kaisar Majapahit di selatan….”
Kebesaran dan kejayaan masa lalu, Wiranggaleng
bergumam, kemudian menghembuskan nafas dalam. Kapal
besar, kapal pemenang di seluruh jagad. Dan sekarang aku
hanya dengan jung… jung Tiongkok pula….
Malam datang. Dingin mulai tak tertahankan. Ia lepas
kain penutup celana, selembar kain batik buatan istrinya,
dan dibuatnya jadi penutup dada.
Sekarang ia terkenang pada rusa yang malam ini
mungkin pada berbaris menyerang ladang-ladang petani.
Entah sudah berapa puluh saja binatang itu telah memasuki
jebakan ranjaunya. Semua telah ia kuliti, ia potong-potong,
didendeng. Rusa-rusa itu – makhluk yang tak berbahagia di
negerinya sendiri. Setiap ekor pada suatu kali mengalami
seperti itu. Ya, tidak berbahagia di negeri sendiri. Sedang
yang bijaksana tak dapat berbuat apa-apa, hanya bisa bicara
di desa-desa. Yang dungu mempunyai segala-galanya dan
dapat mengerahkan semua untuk berperang dan mati buat
kesukaannya.
Makin malam makin riuh pergolakan dalam dirinya.
Bukan bayangan yang memburu-buru, bukan rusa bukan
kijang, tapi tanya dan duga yang tiada putus-putusnya.
Bagaimana mereka jadinya dalam sepuluh tahun
mendatang? Apakah serba kebalikan daripada impian Rama
Cluring impianku pribadi? Bagaimana bakalnya nasib Gelar
dan Kumbang? Apakah mereka akan lebih buta dan lebih
tidak berdaya, tidak berkemampuan, daripada aku? Apakah
mereka akan hanya jadi korban kesia-siaan raja-raja yang
dungu?
Dan Pada yang terus mendampinginya menjadi gelisah
melihat perkembangan sahabatnya yang jadi aneh itu. Ia
memberanikan diri bertanya: “Bukankah kita tetap menuju
ke Malaka, Kang?”
“Jangan pikirkan yang lain-lain,” ia ulangi perintahnya
pada para peratus di bandar Jepara. “Kita akan gempur
Malaka.”
Tengah hari waktu itu. Pesisir pulau Jawa nampak dari
kejauhan sebagai garis putih yang gemerlapan, bersambung
naik dengan hijau-kelam hutan dan gunung-gemunung,
dengan puncak-puncaknya yang semakin tinggi semakin
cerah menantang laut.
“Kau ingat rumah, Kang?”
“Belum lagi kau selesaikan ceritamu tentang Trenggono
dan Fathillah.”
“Jung-jung ini takkan mungkin dapat memburu armada
Fathillah,” Pada mengalihkan percakapan.
‘Trenggono dan Fathillah, Pada,” Wiranggaleng
memperingatkan.
“Ya, Trenggono dan Fathillah. Apa lagi perlunya kita
fikirkan, Kang. Hanya Malaka tujuan kita. Mereka hanya
Sultan dan Panglimanya, laksamananya, mereka hanya ipar
dengan ipar. Kita bukan apa-apanya. Urusan kita tetap
Malaka, Kang.”
“Mengapa Liem Mo Han tak ramah terhadapmu?”
“Juga tidak padamu. Urusan kita tetap Malaka, Kang.”
Armada jung aneh itu tidak menyinggahi bandar-bandar
kecil. Dan prajurit-prajurit laut ini berlayar semata-mata
dengan kekuatan angin. Setiap hari mereka tak mempunyai
banyak kerja, dan mencoba melupakan tugas tidak menentu
dengan mengobrol, bercerita mendalang atau berlaku
sebagai seorang guru-pembicara. Bergurau pun tidak terjadi,
kuatir bisa menimbulkan salah duga pada pemimpin
mereka.
Ketiga armada jung akan melalui bandar Banten, dari
kejauhan nampak armada Jepara-Demak seperti sebarisan
camar yang sedang mengapung di permukaan air, putihkelabu dengan layar keperakan, dan dua buah kapal
berlayar dengan layar kuning gemerlapan.
Semua orang memerlukan meninjau. Dan mereka tidak
bersorak, seakan sedang melihat sesuatu yang sama sekali
tidak mereka harapkan.
“Kembangkan semua layar. Tambah kalau bisa!”
perintah Wiranggaleng. Ia sendiri malu memerintahkan
untuk mengejar. Yang demikian-memang tidak mungkin.
Orang menghindarkan pandang dari bandar Banten dan
membutakan hati pada kerinduan pada darat. Semua layar
dipasang penuh, bahkan layar-layar tambahan mulai
dikembangkan pula. Titik-titik bersayap keperakan dan
keemasan itu makin lama makin kecil. Memang tak
mungkin dapat menyusul. Namun pengejaran yang sia-sia
diteruskan juga, sedang hati membisu dan hati digumul
jengkel.
Dari jung paling belakang orang berseru-seru bersama:
”Aaaaa!” dan armada Jepara-Demak membelok ke kiri,
memantai pesisir barat Banten menuju ke selatan, ke Ujung
Kulon.
“Khianat! Benar ada pengkhianatan,” gumam
Wiranggaleng pada diri sendiri. Tiba-tiba ia tersenyum:
begitu juga barangkali yang dirasakan oleh Adipati Unus
waktu Tuban tidak juga muncul untuk bergabung.
Sekarang ia telah dapat menangkap gambaran
selengkapnya: semua harapan tentang Jepara-Demak harus
dilepaskan. Dan bahwa ia dikirimkan dari Tuban untuk
mati di laut, atau di daratan orang, atau di mana saja, asal
mati, bersama lima ratus orang yang tak ada merasa
bersalah pada Sang Adipati. Gila!
Armada Jepara-Demak di bawah Panglima Laksamana
Fathillah telah membelok ke kiri, memantai sepanjang barat
Banten.
Para prajurit laut Jepara terheran-heran: mengapa tidak
ke Utara? Mereka bertanya-tanya satu pada yang lain: apa
sesungguhnya sedang terjadi? Tetapi semua isyarat dari
kapal-kapal yang ditujukan pada kapal bendera tidak
berjawab.
Sampai di Ujung Kulon hanya beberapa regu prajurit
dari kapal bendera diperintahkan mendarat. Juga PanglimaLaksamana Fathillah mendarat dan sendiri memimpin
anakbuah itu menjajagi darat. Tidak lama. Dan mereka
naik lagi membawa terlalu banyak kelapa muda.
Kemudian armada itu balik lagi ke utara, memasuki selat
Sunda, kembali ke Jepara.
Semua kebijaksanaan tentang armada raksasa ini
diserahkan kepada Fathillah oleh Sultan Trenggono
berdasarkan persekutuan militer untuk meneruskan rencana
menguasai Jawa bukan hanya dari darat, juga dari laut.
Dengan demikian pertikaian antara pasukan laut dan
pasukan kuda dapat dipadamkan – dua-duanya
ditundukkan pada keinginan Trenggono sendiri akan
memimpin gerakan dari darat. Dan persekutuan militer ini
akan melancarkan gerakannya bila pasukan gabungan
Tuban-Aceh-Bugis telah mulai melakukan serangan di
Malaka. Portugis akan sibuk melayani serangan, maka
bahaya terhadap pelaksanaan persekutuan militer Demak
tidak akan ada.
Maka itu armada raksasa harus berangkat satu hari
sebelum gugusan Tuban diperkirakan akan datang ke
Jepara. Jung-jung itu tak boleh menyusul. Demak harus
bisa menggunakan hasil persekutuan rahasia Aisah-UsupLiem Mo Han.
Setelah armada berlabuh untuk beberapa hari di bandar
Banten dan berangkat lagi ke Ujung Kulon, mereka tak
tahu, bahwa jung-jung telah melihat mereka. Juga tidak
mengetahui, Tuban telah melihat mereka membelok ke kiri.
Sesampainya di Jepara kembali armada itu beristirahat
selama tiga bulan, kemudian berangkat lagi, menempuh
garis pelayaran yang sama.
Dan tak lain dari Aji Usup yang giat mondar-mandir
antara Jepara, Demak dan Lao Sam. Ia tahu urusannya
telah gagal. Armada raksasa itu tak dapat dibelokkan ke
utara. Dan seluruh pasukan laut Jepara tak dapat berbuat
sesuatu pun terhadap Fathillah. Sejumlah besar pasukan
kaki yang dibaurkan dalam tubuh pasukan laut telah
membikin prajurit-prajurit Jepara itu tak dapat berbuat
sesuatu pun daripada mengikuti perintah.
Aji Usup insaf ia telah kehilangan segala-galanya.
Bahkan ia telah kehilangan keberanian ke luar lebih jauh
dari tiga tempat tersebut. Ia merasa telah kehilangan muka.
Setelah kunjungannya terakhir ke Lao Sam ia tak pernah
lagi meninggalkan Jepara. Ia memilih mati dan berkubur di
Jepara.
Pada suatu hari yang telah diduganya satu regu pasukan
pengawal berkuda Demak datang mengepung rumahnya.
Tak seorang pun dapat menolongnya. Sepucuk tombak
telah menembusi dada hingga bahunya. Ia mati di atas
anaktangga rumahnya sendiri. Dua orang anaknya yang
berusaha melarikan diri mengalami nasib yang sama. Istri
dan menantu-perempuan mati di dalam bilik dengan
tikaman keris. Cucu kesayangannya yang cuma seorang
terdapat pecah kepalanya tersorong di kolong ambin.
Aji Usup telah dipunahkan sampai keturunannya.
Sejak hari itu Ratu Aisah tak pernah kelihatan keluar
dari rumah. Seorang sahabatnya telah ditumpas beserta
seluruh keturunannya: Liem Mo Han tak pernah muncul. Ia
menunggu dengan rela datangnya regu pengawal Demak
untuk menghabisi jiwanya pula. Dan akan selesailah cerita
tentang persekutuan rahasia itu. Akan selesai pula cita-cita
Adipati Unus.
Trenggono tetap pada niatnya. Seluruh Jawa harus sujud
di bawah kakinya, dari Blambangan sampai Banten, dari
laut Jawa sampai lautan Kidul.
Ratu Aisah bersumpah untuk tidak akan menemui siapa
pun, kecuali seisi rumah sendiri dan regu penumpas dari
Demak. Ia takkan mengampuni Sultan. Dan ia akan
gunakan sisa hidupnya yang sedikit untuk mengasuh dan
mendidik cucunya, dan mengabdi pada Tuhannya, dan
berdoa tak henti-hentinya untuk keselamatan dan
kemenangan pasukan gabungan Tuban-Aceh-Bugis….
0o-dw-o0
Sepanjang pelayaran memantai pesisir barat Sumatra
armada jung itu dibantu oleh angin yang cukup baik. Tak
pernah iring-iringan itu berpapasan dengan armada bajak
dalam pemusatan besar, tak pernah memergoki kapal
Peranggi, tak pernah dihadang oleh taufan ataupun badai.
Karena tak jadi menyinggahi Banten dan perhitungan
karenanya jadi keliru, terjadi kekurangan air dan
perbekalan. Walau demikian pelayaran berjalan damai
dalam suasana gembira. Orang tak lagi memikirkan armada
Jepara-Demak. Mereka sudah berpikir dan bersikap sebagai
kesatuan tersendiri. Makin jauh dari Jawa, makin jauh juga
dari pengkhianatan! Mungkin untuk pertama kali dalam
hidup mereka melihat negerinya sendiri sebagai sarang
pengkhianatan, sarang intrik, sejak Tuban sampai Ujung
Kulon.
Orang bernyanyi ria. Dan di malam hari orang membaca
lontar kuno dan satu lingkaran duduk mendengarkan.
Seorang lain lagi menafsirkan. Atau orang berpantunpantunan, sahut-menyahut diikuti gelak tawa.
Puncak kegembiraan ialah waktu mereka mendarat di
bumi Banda Aceh. Beratus-ratus rebana menyambut
mereka. Pasukan Aceh yang berpakaian celana panjang dan
baju serba hitam berikat pinggang selendang merah atau
kuning dan berdestar hitam, pasukan Bugis yang berpakaian
celana dan baju serba genggang dan pasukan Tuban yang
bercelana ditutup dengan kain batik dan bertelanjang dada –
semua berhimpun, berkampung dan bersuka-ria. Mereka
bergerak bebas dan di setiap rumah yang mereka masuki
orang mendapatkan segala penganan dan pelayanan. Taritarian dihidangkan setiap malam dalam tingkahan gendang
dan seruling. Setiap orang mendapatkan kesukaan dan
persahabatan.
Untuk pertama kali orang-orang Tuban itu terpeluk
dalam persahabatan yang semesra ini.
Kemudian datanglah hari keberangkatan. Aceh
menyerahkan tiga ratus prajurit, Bugis dua ratus. Jumlah
seluruhnya seribu lebih dua orang: Wiranggaleng dan Pada.
Pihak Bugis menawarkan diri untuk lakukan pekerjaan
perintisan dan pengintaian, yang disambut dengan soraksorai semua orang.
Di tanah lapang diadakan sembahyang bersama untuk
ummat Islam, memohonkan keselamatan untuk mereka
yang akan berangkat ke medan perang.
Begitu mancal dari darat begitu pula mata Wiranggaleng
berkaca-kaca melihat ribuan orang, laki dan perempuan, tua
dan muda, semua berpakaian serba hitam, celana, baju dan
destar, bersorak-sorak mengucapkan selamat berperang.
Uh! Tidak dilihatnya yang demikian di Tuban, pun tidak di
Jepara. Di sana hanya ada pengkhianatan dan intrik. Di
tengah-tengah saudara-barunya ia merasa lebih aman, dan
tak lagi merasa seorang hukuman yang sedang menemui
algojo. Juga Aceh, juga Bugis tahu: Peranggi harus dihalau.
Apa pun yang akan terjadi, penyerangan terhadap Malaka
takkan sia-sia.
Mereka melihat tempat pendaratan di sebuah kampung
nelayan sekira jarak tiga hari-tiga malam pelayaran di
sebelah utara Malaka.
Penduduk kampung melarikan diri entah ke mana,
menyangka kedatangan perampok lanun. Kampung di atas
tiang-tiang kayu itu tertinggal kosong. Sebuah rumah
terbaik disediakan bagi Wiranggaleng yang telah mereka
angkat bersama sebagai panglima gabungan dengan
panggilan Hang Wira.
Tak ada bangku, meja ataupun ambin di seluruh
kampung ini. Geladak pelupuh adalah segala-galanya. Di
atasnya digelari tikar pandan rawa. Hampir-hampir tak ada
perkakas rumahtangga kecuali perabot masak. Barangbarang gerabah sangat sedikit. Dan bau busuk ikan dijemur
di atas para-para bambu sepanjang kampung menyesakkan
nafas. Tiga hari lamanya mereka tinggal di kampung itu.
Dan penduduk tak juga muncul. Karena tak dapat menahan
keheranannya Wiranggaleng terpaksa bertanya pada Pada:
“Bukankah kau pernah dengar dari cerita Liem Mo Han
pasukan Semenanjung akan bergabung dengan kita? Mana
batang hidungnya? Semestinya mereka telah melihat kita
datang dan menghubungi kita.”
“Benar Panglimaku. Aku pun belum melihat batang
hidungnya. Heran.”
“Dan manakah armada kecil Tionghoa dari utara itu?”
“Benar, Panglimaku. Aku pun belum lagi melihat
kuncirnya.”
“Apa artinya semua ini?”
“Tahu, Panglimaku.”
“Ya, begini inilah jadinya.”
“Kita hanya memikirkan Malaka ini saja, Kang.”
Seorang bocah penduduk kampung telah tertangkap oleh
prajurit yang sedang mengenali medan. Tak banyak yang
dapat diketahui dari anak kecil itu kecuali, bahwa penduduk
selebihnya sedang mengungsi ke dalam hutan. Anak itu
dilepaskan setelah diberi makan dan perbekalan, dan diikuti
dari kejauhan. Persembunyian penduduk dapat diketahui,
dan mereka diperintahkan kembali ke kampung.
Juga penduduk tak tahu akan adanya pasukan
Semenanjung ataupun Tionghoa. Mereka menerangkan
sebaliknya: justru Peranggi yang sering datang, baik dari
darat maupun dari laut.
Perintah siaga dijatuhkan. Kapal dan jung-jung
diperintahkan meninggalkan semenanjung. Dan pasukan
dari seribu orang lebih dua itupun berbaris meninggalkan
kampung dan memasuki hutan belantara. Mereka melalui
jalan setapak yang tampak sering dilalui orang. Dan
semakin memasuki hutan semakin banyak ditemukan bekas
sepatu, samar-samar.
Penduduk yang ditinggalkan melihat semua prajurit pergi
menjadi terheran-heran. Lebih heran lagi melihat jung-jung
dan kapal-kapal mereka sudah sama sekali tiada dan hartabenda mereka dan perahu-perahu mereka tak kurang suatu
apa.
Pasukan gabungan itu bergerak terus dengan melepaskan
harapan akan bergabungnya pasukan Demak, Tionghoa
atau Semenanjung. Mereka menuju ke arah selatan.
Perundingan antara kepala-kepala pasukan menghasilkan
keputusan: Langsung menyerbu ke sasaran.
Dan mereka berbaris menuju ke selatan, melewati
kampung-kampung yang terdiri dari beberapa rumah.
Penduduknya berlarian entah ke mana.
Yang tertinggal biasanya hanya orang tua-tua yang sudah
tak kuat lari, atau orang sakit keras, dan terutama orang
gila. Sama tak dapat ditanyai. Satu-satu keterangan yang
diperoleh: sekali-dua Peranggi pernah datang dan tak
pernah melakukan gangguan: Setelah dua hari menembusi
hutan, perundingan antar-sekutu menyimpulkan:
penyerangan langsung ke Malaka ternyata tidak mungkin.
Tak adanya pasukan semenanjung telah memusnahkan
kemungkinan untuk mendapatkan perbekalan. Tanpa
perbekalan jangankan menyerang, bertahan pun tidak bisa.
Maka diputuskan menunda penyerangan langsung, ladang
pertanian harus dibuka terlebih dahulu.
Pasukan gabungan itu membelok ke timur lebih dalam
lagi dan membuka huma. Dan tidak lain dari Wiranggaleng
yang menyadari: prajurit-prajurit ini akhirnya datang tidak
untuk berperang tapi untuk bertani. Ia tahu sudah sejak
asal, ekspedisi militer ini akan gagal.
Pengenalan medan terus-menerus dilakukan, bergantian
antara tiga macam kesatuan. Tetapi pembukaan humalah
yang mengambil pekerjaan terpokok. Patroli tak hentihentinya dikirimkan. Namun persiapan penyerangan tetap
harus ditunda.
Sekali peristiwa kesatuan Bugis mendapat giliran untuk
mengenali medan. Mereka menemukan sebuah kampung
jauh di dalam hutan. Rumah-rumah yang bersirip tinggi di
atas tiang-tiang itu telah ditinggalkan oleh penduduknya.
Dan di bawah rumah-rumah itu Peranggi sedang sibuk
memasak-masak.
Kesatuan Bugis serta-merta merunduk dan melepaskan
tombak. Pekikan maut dan seruan terjadi: Serdadu-serdadu
Peranggi yang tidak terkena tombak berlarian membawa
musket masing-masing dan mulai menembak dari balikbalik pepohonan. Mereka membikin lingkaran pertahanan
dalam kepungan kesatuan Bugis. Tombak beterbangan lagi.
Korban di pihak Portugis jatuh lagi. Dan jatuhnya tombak
sedemikian gencar sehingga musuh terhenti itu tak sempat
lagi memasang obat dan bubar melarikan diri. Sebagian lagi
tewas pula sewaktu menerobosi kepungan. Sisanya hilanglenyap ke dalam hutan. Daerah pengenalan dan patroli
makin diperluas ke sebelah selatan. Kampung bekas tempat
pertempuran pertama kini mendapat kehormatan jadi
tempat markas gabungan. Dan waktu penduduknya datang
kembali bersama-sama mereka membabat hutan,
mengeringkan dan membakarnya untuk dijadikan huma.
Tidak lebih dari seminggu kemudian di sebelah selatan
nampak asap besar membubung ke langit Asap itu terlalu
kecil untuk dianggap sebagai hutan terbakar dan terlalu
besar untuk dianggap sebagai rumah terbakar. Orang segera
menduga itulah Peranggi sedang membakar sebuah
kampung besar.
Seluruh kekuatan mulai bersiap-siap karena tempat
kebakaran itu tidaklah begitu jauh.
Dengan separoh kekuatan kesatuan Tuban Wiranggaleng
berangkat untuk menyergap mereka. Seorang pengintai
telah dikirimkan terlebih dahulu, dan ia pulang dengan
laporan, benar yang melakukan pembakaran tak lain dari
Peranggi, dan mereka sedang bergerak ke jurusan kampung
sebelah utara. Jumlah kekuatan mereka cukup besar.
Kesatuan Tuban segera disusun dalam bentuk jebakan.
Dari kejauhan telah terdengar Peranggi menembaknembak untuk menghancurkan semangat lawannya.
Wiranggaleng memeriksa tempat penjebakan yang
ditempatkannya di daerah hutan dengan semak-semak di
bawahnya. Di hadapan jebakan adalah tempat terbuka yang
bakal di tempuh oleh serdadu-serdadu Peranggi. Ia telah
banyak dengar tentang keampuhan musket musuhnya, dan
hanya dengan jalan berlindung di balik-balik pepohonan
semprotan pelurunya dapat dihindari. Di tempat terbuka,
sekali tembakan dapat melukai sepuluh orang yang sedang
berdiri berjajar dalam jarak lima belas depa, sedang tombak
hanya bisa mengenai seorang, itu pun kalau kena.
Dan bunyi tembakan itu memang mengecutkan bagi
mereka yang sudah mengetahui keampuhannya.
“Kalian datang ke mari untuk menghadapi mereka. Kita
akan hadapi mereka. Kita belum pernah mangalami
pertempuran melawan musket. Sekaranglah waktunya.
Lihatlah kesatuan Bugis. Mereka telah berhasil. Kita akan
juga berhasil.”
Mereka telah memasang perangkap di tempat yang tidak
terbuka itu, di tempat yang dapat menahan semprotan
peluru musket. Ternyata lain lagi yang terjadi. Serdaduserdadu Portugis tidak menggerombol sebagaimana halnya
dengan prajurit Tuban atau tentara Jawa pada umumnya.
Musuh itu pun tidak memasuki jebakan yang disediakan.
Mereka berpecah-pecah, seorang-seorang sesuai dengan
keampuhan senjata dan daya tembaknya, dan tiba-tiba saja
kesatuan Tuban yang berada di atas-atas pohon berteriakteriak: “Peranggi telah mengepung kita!”
Teriakannya dibarengi dengan letusan-letusan yang
menyesakkan dada dan menggeletarkan jantung. Dari
segala penjuru, kecuali dari belakang anak-anak panah
mulai berlayangan dari atas-atas pohon dalam keriuhan
letusan. Beberapa orang prajurit Tuban terjungkal dari
panjatannya diikuti dengan gemeratak tubuhnya yang
menyangsang di atas semak-semak atau bergedebug di atas
tanah gundul.
Wiranggaleng memerintahkan mengubah hadap ke arah
tiga penjuru angin, tetap bersembunyi di balik pepohonan,
menyiapkan tombak atau panah, dan tetap memperhatikan
datangnya musuh. Ia sendiri hampir-hampir kehilangan
akal menghadapi pertempuran yang aneh itu. Dan belum
lagi sampai ke Malaka!
Tembakan-tembakan semakin mendekat. Semprotan
musket yang rasa-rasanya tiada kan henti-hentinya
mematahkan ranting-ranting semak dan menggugurkan
dedaunan dan melubangi batang pohon dan tanah yang
dikenainya, dan merobek kulit pohon, dan mendesingkan
bunyi bisikan maut seperti selaksa tawon datang
menyerang.
Satu semprotan musket berlalu di atas kepala
Wiranggaleng. Dan ia bergidik. Bulu romanya berdiri.
”Tahankan!” serunya, “tahankan sampai muka mereka
bertemu dengan mukamu, dan sergap dia tanpa ragu-ragu.”
Pertempuran aneh. Prajurit-prajurit Tuban dalam jarak
jauh tak bisa melakukan serangan ataupun balasan, dan
cuma harus diam-diam menunggu, dan menunggu, dalam
semprotan maut yang tak putus-putusnya, ledakan dan
desingan dan gemerasak dan ranting-ranting berguguran.
Dua orang telah jatuh pingsan di tempat karena
kejengkelan, kehilangan kesabaran dan kebingungan. Begitu
orang beringsut dari tempat di balik pepohonan, semprotan
peluru pun mendarat dan mengeram di dalam daging.
Ini bukan pertempuran. Ini penyembelihan! Dalam
perang dengan musket begini tak ada prajurit, tak ada satria,
yang ada hanya pembunuh dan korbannya.
“Mereka lebih hebat daripada kita,” seru Panglima
memberanikan. Dengan musketnya Peranggilah yang justru
mengepung. Dan dengan musketnya pula mereka tak
membutuhkan terlalu banyak kekuatan. Di sana-sini
perkelahian orang-orang mulai terjadi. Orang yang sudah
kehilangan kesabaran melompat ke luar dari balik
persembunyiannya dan mengamuk dengan tombak. Makin
lama makin banyak yang ke luar. Tembakan menjadi
berkurang.
Perkelahian orang-seorang menyebabkan Portugis tak
semudah itu lagi menembak dan membikin bentengan
peluru. Mereka mulai menggunakan pedang.
Kesatuan Tuban bersorak. Itulah yang mereka
kehendaki. Semua meninggalkan persembunyian. Dan
pemain-pemain tombak itu memperlihatkan keunggulannya
di setiap jengkal tanah di dalam hutan itu.
Orang mengakui keberanian Peranggi menghadapi lawan
yang jauh lebih besar. Ayunan pedang mereka begitu
mantap, kuat dan gesit, tak peduli pada ranting semak yang
menghalangi dan rotan berguguran.
Hanya karena jatuhnya malam saja mereka mulai
menarik diri, menghilang ke dalam hutan dengan
meninggalkan korban-korbannya.
Beberapa pucuk musket telah kena rampas, beberapa
pedang, beberapa peralatan makan dan pakaian. Juga
kesatuan Tuban kehilangan beberapa prajuritnya.
Wiranggaleng mengatakan: pertempuran sekali ini sama
sekali tidak dimenangkan oleh Peranggi, juga tidak oleh
Tuban. Namun seluruh pasukan gabungan telah
mendapatkan satu kemenangan mutlak: kemenangan atas
ketakutan terhadap Peranggi dan kehebatannya. Dan itulah
modal untuk dapat mengalahkan dan mengusir mereka dari
Malaka.
Malam itu juga diadakan penguburan untuk temanteman seperjuangan yang tewas dan perawatan bagi mereka
yang terluka. Separuh dari kesatuan Tuban mengadakan
pengejaran seperti halnya waktu terjadi pertempuran besar
melawan Kiai Benggala. Mereka bermaksud mendahului
kedatangan musuhnya di suatu tempat, menghadangnya,
dengan pengetahuan, di malam hari musket Portugis takkan
berdaya.
Wiranggaleng memimpin pengejaran. Tetapi hutan itu
terlampau gelap dan jalan yang tersedia hanya jalan setapak
yang telah dilalui Portugis. Jalan itu jugalah yang ditempuh.
Mereka tak dapat melalui apalagi menghadang. Mereka
hanya bisa menguntit dan menemukan musuhnya sedang
berkampung di sebuah kampung yang habis dibakarnya.
Suatu serangan dalam kegelapan. Dan sisa pasukan
musuh melarikan diri.
Kesatuan Tuban dalam kegelapan itu tidak tahu, bahwa
dalam pengejarannya selanjutnya mereka sudah berada di
dekat daerah peluaran kota Malaka.
Novel Arus Balikk Bab 31 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.
Bagaimana alur cerita dari novel Arus Balik Bab 31 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua.
Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.
Untuk membaca Novel Aru Balik bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.
Komentar
Posting Komentar