Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 31 Disini

Novel Arus Balik bab 31 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Arus Balik menceritakan tentang kisah Kedatangan Portugis di Bumi Nusantara dengan latar awal Abad XVI, yaitu ketika surutnya pengaruh Majapahit dan naiknya pamor Kesultanan Demak.

Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Arus Balikk Bab 31 Bahasa Indonesia Sekarang ini. 

31. Kembali ke Malaka

Memang berbeda dengan peristiwa tahun 1275 Masehi.

Dahulu itu bandar Tuban penuh dengan umbul-umbul

dan sorak-sorai yang berkumandang seperti guruh. Pendetapendeta Buddha dengan jubah kuning menggemerincingkan

giring-gliing naik-turun ke kapal-kapal, tiga puluh buah 

banyaknya, untuk memberikan restu. Sri Baginda

Kartanegara, raja Singosari sendiri mengantarkan

berangkatnya armada yang dipimpin oleh Raden Wijaya

dan seorang admiral yang kelak terkenal dengan nama

Mahesa Anabrang. Baginda bersabda: Ekspedisi militer ini

harus berhasil, harus, demi Maha Buddha. Kalau tidak,

Jawa akan remuk dilindas kekuatan Jenghis Khan.

Dan berangkatlah armada itu untuk memasuki daerahdaerah yang diperkirakan bisa jadi pangkalan armada

kerajaan langit Jenghis Khan! Sekali armadanya berhasil

menusuk ke selatan, memuntahkan balatentaranya yang

termasyhur penunggang kuda dan lebih masyhur juga akan

keganasannya, maka Jawa dan Nusantara takkan bangun

lagi. Maka Sri Baginda Kartanegara telah memerintahkan:

persatukan Nusantara. Setiap pulau harus jadi benteng

terhadap serangan dari utara: Dan dengan demikian

armada Singosari muncul dengan segala kebesaran negerinegeri Melayu.

Dua ratus tiga puluh tiga tahun kemudian, pada 1523

Masehi, berangkat pula sebuah armada ekspedisi militer.

Tidak ke daerah Melayu, tetapi ke Malaka. Tidak dengan

umbul-umbul dan upacara, tanpa pendeta-pendeta Buddha

membawa giring-giring, tidak dengan tiga puluh kapal

perang tetapi dengan tiga puluh buah jung! Tidak

diantarkankan Sang Adipati Tuban, hanya oleh Patih Sang

Wirabumi. Tidak ada sorak sorai. Semua yang

mengantarkan, semua penduduk kota menonton dengan

diam-diam, dan curiga. Bahkan Sang Adipati menolak

menyerahkan dua pucuk meriam. Juga dalam dada mereka

yang mengantarkan tanpa sorak telah terjalari perasaan

umum: mereka pergi untuk tidak kan kembali. Mereka

balatentara dari gugusan Tuban itu. 

“Baik,” kata Wiranggaleng pada Kala Cuwil yang berdiri

di dermaga. “Kami akan berangkat sebagai hukuman.”

“Patih Tuban tidak menghukum siapa pun, Senapatiku.

Semua atas perintah langsung Sang Adipati.”

“Ingat-ingat ini: Wiranggaleng takkan kembali ke negeri

ini sebelum Sang Adipati mati.”

“Senapatiku, Kala Cuwil tak bisa berbuat apa-apa.”

“Ada! Katakan padaku, jung-jung siapa semua ini?”

“Jung-jung para pedagang Tionghoa, Senapatiku, ditarik

dari mana-mana bandar oleh Liem Mo Han. Senapatiku

nanti akan bertemu dengannya di Lao Sam. Sang Adipati

tak sudi menyerahkan kapal barang sebuah pun.”

“Lima ratus orang diserahkan untuk jadi perburuan

kapal Peranggi! Kami diharapkan jadi makanan hiu. Tak

dapat bertahan sedikit pun terhadap Peranggi. Baik, kami

jalani hukuman mati ini.”

“Kala Cuwil tak dapat berbuat apa-apa.”

Wiranggaleng tak menggubris ulangan itu. Dengan

geram ia memasuki jungnya diiringkan oleh Pada. Sunyisenyap di dalam jung itu: ia jatuhkan perintah berangkat.

Dan jung-jung itu mulai bertolak. Tiada orang bicara.

Prajurit laut yang diberangkatkan bertanya-tanya dalam

hati: Apa kesalahan maka Sang Adipati berlaku demikian

terhadap kawula sendiri, dan siapa sesungguhnya yang

mengajukan namanya untuk menyertai ekspedisi ini?

Mereka sendiri saksikan betapa geram pemimpinnya,

Senapati Wiranggaleng. Dan orang melihat, tak seorang

pun di antara keluarga Senapati datang menguntapkan

keberangkatannya. Orang pun mengetahui: Idayu telah

menyatakan seumur hidup takkan sudi menginjakkan kaki 

di ibukota negeri Tuban. Bahkan anaknya memasuki umur

lima belas itu tidak mengantarkan – suatu hal yang

dianggap tidak patut bagi seorang anak Senapati. Dan

ditambah lagi dengan sumpah Wiranggaleng sendiri yang

takkan kembali lagi ke Tuban sebelum Sang Adipati mati.

Setiap orang punya pikirannya sendiri. Juga Senapati. Ia

masih sempat mengenangkan peristiwa manis sebelum

berangkat meninggalkan Awis Krambil. Anak-anak itu

bersimpuh dan mencium kakinya, berjanji akan menemani,

membantu dan membela ibu mereka. Dan Idayu, ah,

wanita yang selalu ditinggalkannya itu – ia tak bicara apaapa. Hanya mata merahnya mengatakan segala-galanya;

protes keras tak terucapkan terhadap Sang Adipati. Dan

seluruh penduduk desa datang untuk mengucapkan selamat

jalan. Wanita pada menangis untuk Idayu, dan pria

menekur mengherani keputusan Sang Adipati mondarmandir terhadap anak desa yang perwira itu. Ia naik ke atas

benteng penduduk: “Jaga Nyi Gede Idayu dan anakanaknya. Urus keselamatan dan kesejahteraan mereka.”

Di Tuban Kota Sang Adipati menolak dihadap. Dan

sekarang jung-jung, bukan kapal perang untuk berangkat ke

medan perang.

Lain lagi halnya dengan Pada. Berkali-kali ia

mengucapkan syukur alhamdulillah karena

keberangkatannya. Setidak-tidaknya ia merasa

mendapatkan kembali kemerdekaannya. Semakin jauh

jung-jung bendera itu meninggalkan pantai, semakin mudah

ia dapat menyusun pikirannya.

Di Awis Krambil ia merasa otak dan hatinya

terbelenggu. Salah seorang isi rumah di pinggir hutan itu

terus juga mendayu-dayu memanggilnya. Kalaulah tidak

disuruh Wiranggaleng tak bakal ia dapat meninggalkan desa

perbatasan itu untuk menemui Liem Mo Han. 

Pada hari pertama kedatangannya di Lao Sam ia diajak

Liem Mo Han beiialan-jalan sepanjang Dusun, menikmati

pemandangan pantai yang dijaga oleh bukit-bukit rumah.

Suara Gabah Liem tinggi menusuk. Sekalipun dalam tiupan

angin keras terus-menerus, suaranya tetap tak

menyenangkan masuk ke pendengarannya. Dan ia ingat

sepatah demi sepatah. “Memang banyak bandar-bandar

yang menolak bergabung, kira-kira takut pada pembalasan

Peranggi bila serangan gagal. Memang sulit untuk dapat

meramalkan. Semestinya Malaka dengan mudah bisa

dijatuhkan. Ada suatu kelemahan umum pada mereka:

penjagaannya di belakang tidak serapi yang di depan.

Penyerangan dari barisan punggungnya akan membikin

mereka kocar-kacir. Kita akan lakukan itu.”

Dan ia bertanya: “Kita? Maksud Babah Tiongkok juga

akan ikut serta?”

Dan Liem Mo Han menjawab: “Tidak, kami hanya

perantauan buangan dari Tiongkok. Kami hanya bisa

membantu dengan apa saja yang dapat kami bantukan.

Kami hanya pedagang, bukan prajurit. Aku sudah usahakan

agar ada kesatuan Tiongkok ikut bergabung. Mereka

menyanggupi dan akan diturunkan dari Teluk Tonkin.”

“Siapa mereka itu?”

Liem Mo Han tak menjawab, hanya berkata, “Aku

sebenarnya malu tak mampu menyertai di medan perang

nanti. Sudah diserukan di mana-mana negeri supaya orangorang Tionghoa punya perhatian dan ikut bergabung dalam

penyerangan umum. Belum jelas apa jadinya nanti.

Kesatuan Tiongkok akan serta. Semoga berhasil.”

Kata-kata itu sama sulitnya untuk dapat ia pahami

dengan tingkah hatinya sendiri yang mengimpikan Idayu, 

istri dari seorang sahabat Wiranggaleng, dan berharga bagi

dirinya sendiri.

Seluruh awak jung yang tiga puluh buah itu tak

berbahasa Jawa atau Melayu. Semua orang Tionghoa totok,

dan nampaknya semua mereka menghindari percakapan

dengan para prajurit. Bila terpaksa hanya bahasa gerak yang

dipergunakan.

Sebagian kecil dari awak kapal beragama Islam dan pada

setiap kesempatan ikut berjemaat.

Di Lao Sam armada jung itu berlabuh.

Liem Mo Han menjemput Wiranggaleng dan

menemukan Pada ikut serta.

“Tak perlu lama-lama berlabuh di sini,” pesan Babah

Liem. “Senapatiku bisa tertinggal oleh armada Jepara.”

Sementara itu dari dermaga dipunggah ke dalam jungjung itu bahan makanan, pakaian dan senjata.

“Juga tidak perlu bermalam di Jepara. Bila sudah sampai

di Semenanjung, memantai sebelah barat Sumatra,

Senapatiku mendarat di mana saja di sebelah utara Malaka.

Pasukan-pasukan Aceh sudah tahu di mana harus

mendarat. Bila Senapatiku sampai di Aceh, pasukan

gabungan Aceh-Bugis sudah menunggu di sana.”

Wiranggaleng terheran-heran mengapa kata-kata

sahabatnya begitu kacau, dan mengapa dia yang

memberikan petunjuk kemiliteran dan bukan Panglima

Demak Fathillah. Ia tatap sahabatnya dengan pandang

tidak mengerti.

Melihat itu Liem Mo Han meneruskan dengan gugup:

“Ya, Senapatiku, sahaya hanya meneruskan pesan Gusti

Ratu Aisah, Ibunda Sultan. Tuban, Aceh dan Bugis akan 

merupakan satu kesatuan tersendiri. Demak akan

menyerang dari sebelah selatan sebagai kesatuan tersendiri

pula, dan akan melakukan pendaratan dari sebelah timur

Semenanjung. Boleh jadi armada Demak sudah berangkat

terlebih dahulu. Atau lebih kemudian.”

Wiranggaleng semakin terheran-heran. Bagaimana bisa

demikian? Ia tak bertanya lebih lanjut. Ia curiga. Ia anggap

Liem Mo Han tak mempunyai sesuatu hak untuk

memberinya petunjuk barang sedikit pun di bidang ini. Dan

ia menatapnya dengan curiga.

Dan Liem Mo Han berusaha untuk tidak bicara lagi,

mencari dalih untuk segera dapat menghindarinya.

Senapati Tuban mengucapkan terima kasih atas

usahanya mendapatkan jung sebanyak itu.

Pada berusaha menyertai bicara, tetapi Liem Mo Han

hanya menghormatinya dengan sopan kemudian

mengundurkan diri, dengan dalih yang tidak masuk di akal.

Armada jung meneruskan pelayaran. Suasana tetap:

suram bertanya-tanya.

Walau telah dipesan oleh Liem Mo Han agar tak

bermalam di Jepara, Wiranggaleng memutuskan untuk

singgah dan mencari keterangan yang benar. Ia ingin

mendapatkan petunjuk dan perintah langsung dari

Fathillah. Ia melihat Pada nampak bingung, kuatir

dibangkit-bangkit, maka ia sengaja tak hendak bertanya

padanya.

Sedang Pada sendiri pun tidak mengerti mengapa Liem

Mo Han menjadi begitu aneh. Terhadap dirinya pun ia

bersikap seolah tak mengenal, seakan bukan lagi seorang

ayah angkat. Dan nampak olehnya orang itu gugup dan

ingin segera pergi mengakhiri pertemuan itu. 

Armada jung itu berlayar terus dalam suasana muram.

“Kosong!” seru Wiranggaleng waktu dari jung bendera ia

melihat pelabuhan Jepara kosong.

Hanya sebuah kapal perang nampak, dan itulah kapal

bendera Adipati Unus yang dipajang di pelabuhan.

“Tak kelihatan barang sebuah pun kecuali yang satu itu!”

serunya geram.

Bekas kapal bendera itu bergeleng-geleng lemah. Berbelas

tahun lamanya menjalankan perintah Unus untuk jadi

tontonan ummat manusia sebagai kapal yang pernah

bertempur melawan Peranggi silelananging jagad.

Sekalipun kalah dan dikalahkan dia pernah melawan!

Dan kapal pameran itu seakan dimaksudkan sebagai

lambang kapal mana pun bisa melawan Peranggi.

Adipati Unus telah melarang diadakannya perbaikan

setelah 1513.

Tiang-tiang layar dibiarkan patah, haluannya terpenggal,

bahkan kaki cetbangnya terbalik dengan tubuh tinggal

sebagian kecil. Dindingnya yang complak tinggal

menganga. Perbaikan yang diperkenankan hanya atas

kerusakan yang bisa membikin kapal itu tenggelam. Dan

semua orang diperkenankan naik ke atasnya untuk

menonton.

Sultan Trenggono tak suka melihatnya. Ia tak pernah

memerintahkan untuk menenggelamkannya. Hanya

pekerjaan perawatan tak diperkenankan diteruskan.

Dengan demikian bekas kapal bendera itu dinamaikan

satu itu.

Lima ratus prajurit laut Tuban yang bersemangat rendah

sejak mancal, melihat kekosongan Jepara seperti melihat 

bekas pesta. Di mana-mana nampak daun bekas

pembungkus yang bersebaran dan bermain-main ditiup

angin. Dan kalau selama pelayaran mereka banyak

termenung-menung, sekarang mereka mulai berteriakteriak: ”Kurangajar! Tak tahu diuntung!”

Wiranggaleng dapat mengerti perasaan anakbuahnya.

Perasaan mereka adalah juga perasaannya sendiri. Ia telah

menduga ada pengkhianatan tersembunyi dalam perintah

pemberangkatan ini. Ia belum tahu apa dan bagaimana.

Bahkan ia pun mulai mencurigai Pada. Bagaimanapun

sahabatnya itu bekas seorang musafir Demak, dan mungkin

masih tetap seorang musafir Trenggono.

Jung bendera mulai melewati yang satu itu, memasuki

selat antara pulau Kelar dan pulau Panjang. Senapati Tuban

itu memerlukan mengangkat sembah pada gambaran gaib

Adipati Unus. Dan jung menuju langsung ke pelabuhan.

Bandar itu sunyi walaupun di mana-mana terpasang

umbul-umbul segala warna. Galangan dan bengkel sama

sekali berhenti bekerja. Bahkan Syahbandar pun tak

nampak menjemput, sebaliknya seorang wanita tua

berpayung hitam, berdiri, bersama seorang gadis, di

samping sebuah tandu yang tergeletak di atas tanah. Para

penandu nampak duduk-duduk di kejauhan menonton

berlabuhnya armada aneh itu. Wiranggaleng mendarat

dengan wajah merah padam.

“Anakku,” tegur wanita tua berpakaian serba hitam itu.

“Sudah kami duga kau akan singgah.”

Senapati Tuban segera teringat pada wanita tua itu. Ia

bersimpuh dan menyembah: “Gusti Ratu, patik singgah.”

“Armada Jepara telah berangkat mendahului. Tentu

Babah Liem sudah sampaikan segalanya padamu,

Wiranggaleng, Senapati Tuban. Jangan berkecil hati, 

karena kau, anakku, akan membentuk kesatuan sendiri

dengan Aceh dan Bugis. Terimalah ini, cincin yang pernah

dibawa dan dikenakan almarhum Unus waktu menyerang

Malaka, pertanda kau diberi wewenang oleh Jepara dan

Demak. Sri Baginda Sultan Trenggono merestui kau.

Senapati Tuban. Allah akan memimpin dan memberkati

dan melindungi kau dan semua anakbuahmu, demi doa

kami. Insya Allah selamat dan berhasil.”

Wanita tua itu minta Wiranggaleng mengulurkan

tangan-kanannya, kemudian memasangkan cincin. Dan

Senapati membalas dengan sembah dan beribu terimakasih

dengan kepercayaan itu.

Ia memberanikan diri mengangkat muka dan bertanya:

“Ya, Gusti Ratu, apakah gerangan sebabnya pasukan kami

diangkut dengan jung Tionghoa, bukan dengan kapal

perang sebagaimana layaknya?”

“Jangan bertanya, anakku, karena itulah kiriman Allah

dan bukan sekedar manusia yang mengusahakan.”

“Bagaimanakah jung-jung ini tanpa barisan pendayung

untuk bisa bergabung dengan armada Jepara-Demak?”

“Jalan dan tugasmu telah ditentukan, anakku. Lepaskan

armada Jepara-Demak dari pikiranmu.”

“Armada jung ini takkan dapat lari dari Peranggi, Gusti

Ratu, tak dapat melawan sedikit pun di laut.”

“Kau takkan dikejar Peranggi, juga tidak melawan di

laut. Tugasmu melakukan pendaratan.”

Wanita tua itu naik ke atas tandu bersama cucunya. Dan

para penandu lari menghampiri, menyembah, kemudian

mengangkatnya, bergerak meninggalkan bandar. 

Wiranggaleng tertinggal berlutut di atas pasir. Ia makin

tidak mengerti. Ia perintahkan para peratus untuk segera

mendarat: “Sampaikan pada anakbuah kalian, jangan

berkecilhati. Apa pun yang terjadi dan tersedia, kita bertekat

untuk menggempur Malaka. Jangan pikirkan yang lain.”

Orang mulai berdatangan di pelabuhan untuk melihat

armada aneh – armada jung berbendera Majapahit. Armada

apakah ini gerangan? Armada dagang membawa beras ke

Pasai? Dan tidak lain dari Wiranggaleng juga yang merasa

jengkel armada-anehnya jadi tontonan, dianggap sebagai

keanehan jaman yang perlu disaksikan.

Dari suatu tempat yang terlindung. Ratu Aisah di atas

tandunya mengantarkan armada jung itu dengan pandang

yang memendungi selaput awan.

“Nenenda,” panggil cucunya, “ke mana mereka

belayar?”

“Malaka, mengusir Peranggi.”

“Mengapa nenenda menangis?”

“Kapal-kapal besar dan kuat dan mewah bikinan

pamanmu. Upik, semestinya mengangkut mereka.”

“Ya, nenenda, tapi mengapa nenenda menangis?”

“Upik, kadang ada gunanya orang menangis untuk

mengucapkan syukur, kadang untuk mengucapkan doa dan

diri merasa demikian rendahnya di hadapan Tuhan Yang

Maha Kuasa. Masih kau ingat pamandamu, Unus,

penantang Peranggi?”

“Tentu, nenenda. Paman Adipati Unus, penantang

Peranggi.”

“Dan ingat-ingatlah satu nama lagi: Wiranggaleng. Dia

pun menantang Peranggi. Kau masih terlalu kecil untuk 

dapat mengingat wajah pamanmu almarhum. Tapi

Wiranggaleng kau sudah lihat sendiri. Jangan sampai kau

lupa seumur hidup.”

“Yang dikaruniai cincin tadi, nenenda?”

“Ya, yang tadi itulah. Lihatlah ke sana sekarang,

antarkan armadanya dengan doa selamat, cucunda. Sertai

nenenda mengucapkan doa untuk kemenangannya.”

Wanita itu mengucapkan sebaris kalimat doa dan

cucunya mengulangi. Kalimat demi kalimat sehingga

selesai. Kemudian dengan suara dalam karena perasaan

tertekan ia meneruskan: “Kelak kalau orang-orang seumur

aku telah dipanggil Tuhan, cucunda, orang-orang

seumurmu masih harus mengingat satu nama itu, dan satu

lagi itu. Kalau kelak negerimu aman, makmur dan

sentausa, adil dan sejahtera, adalah karena mereka. Kalau

yang sebaliknya yang terjadi mereka gagal. Ya-ya, kelak kau

akan mengerti, musuh negeri dan bangsamu bersaf-saf,

berlapis-lapis. Aaa, kau tidak dengarkan.”

Tandu itu berangkat lagi dengan mengirimkan doa pada

armada jung dan cericau cucu tentang umbul-umbul dan

rombongan penonton di pelabuhan.

Setelah bersembahyang magrib Ratu Aisah berdoa

sampai menjelang isya, doa terpanjang yang pernah

diucapkan di dalam khalwat. Dengan berlinangan airmata

ia memohon kedamaian dan kemampuan untuk

memaafkan putranya Sultan Trenggono, karena armada

Jepara-Demak telah dilarang oleh putranya menerima

penggabungan Tuban, dan berangkat satu hari sebelum

waktu yang dijanjikan. Dan bukan sebagian armada yang

berangkat, seluruhnya dan dengan seluruh pasukan laut

ditambah dengan pasukan kaki. Ia sendiri tak percaya

armada itu menuju ke Malaka. Maka ia berdoa agar Allah 

menggerakkan putranya untuk menggerakkan armada itu

langsung ke sasaran. Tapi hatinya tidak yakin.

Setelah bersembahyang isya ia menengok cucunya yang

ternyata belum lagi tidur, dan direbahkan tubuh tuanya di

samping cucunya.

“Mengapa nenenda begitu terlambat?” tegur cucunya.

“Sekarang, cucunda bacalah surah-surah yang kau sudah

hafal.”

Cucu itu mulai mengulang-ulang dari surah hafalan

sambil bertidur-an. Suaranya semakin lama semakin lemah

untuk kemudian terhenti dan disambung dengan nafasnya

yang teratur.

Ratu Aisah bangkit dan keluar dari bilik.

Makan malam itu tak dijamahnya. Ia pergi ke taman,

memandangi bintang-bintang bertaburan di langit gelap.

Jiwa yang telah tua itu meraung-raung pada antariksa,

memanggil-manggil, berseru-seru, terhisak-hisak dalam

kekuatiran, dan menjolak-jolak dengan harapan. Ia rasai

buminya tiada keteguhan lagi, setapak tanah pun tak lagi

kekukuhan untuk berpijak. Ambillah makhluk-Mu ini,

habisilah kesia-siaannya, seorang wanita, tua dan tanpa

daya. Hidupi terus cucuku, dengan semangat yang sudah

dimulai oleh pamannya. Segala sudah aku tempuh, aku

usahakan. Janganlah datangkan jaman sebagaimana aku

dan orang-orang sebelum aku tiada menghendaki, karena

jaman yang itu akan membikin sia-sia segala dan semua

yang telah umat-Mu taburkan di bagian bumi ini. Ya Allah,

ya Allah.

Tengah malam ia baru masuk ke dalam rumah. Para

inang masih juga menunggui. Makan malam telah

dihangatkan lagi. Ia tak juga datang untuk menjamah. 

Terdengar percikan air. Ratu Aisah mengambil air wudhu,

kemudian kelihatan ia masuk ke dalam khalwat kembali

dan bersembahyang tahajjud sampai subuh.

Dengan susah-payah armada jung itu berlayar ke arah

utara untuk mendapatkan angin yang lebih

menguntungkan.

Dan Wiranggaleng masih juga tenggelam dalam

pembisuannya. Tak ada yang berani mengganggunya.

Orang melihat keterangan telah memperkosa airmukanya.

Orang-orang yang datang untuk menunggu perintah tinggal

duduk-duduk menunggu dan menunggu Bahkan tak ada

orang yang berani menyilakannya makan.

Tempat kesukaannya adalah lambung kiri. Di sana ia

berdiri dengan pandang ditebarkan pada pantai Jawa yang

serasa tiada kan habis-habis-nya, siang dan malam.

Dan sekali ini ia sengaja mengenangkan kembali pidato

Rama Cluring yang terakhir itu, sewaktu cengkaman gurupembicara pada hadirin mulai mengendor, dan di sana-sini

orang mulai terdengar mendehem dan terbatuk-batuk. Dan

tiba-tiba semua pandang terarah pada Idayu yang angkat

bicara: “Rama, aku tak begitu tertarik pada kata-katamu

yang belakangan itu. Ceritai saja kami tentang jaman

kejayaan yang kau agung-agungkan itu.”

Rama Cluring menengok ke arah Idayu, tersenyum dan

mengangguk: “Permintaan yang bijaksana. Gadis, agar

kalian tahu perbandingan dengan jaman kalian sendiri

sekarang ini. Dengarkan, Gadis: “Dalam seluruh

pengembaraanku, aku selalu mengagungkan jaman

kejayaan itu, biar orang tua-tua sekarang ini tahu sampai di

mana mereka sudah merosot, ya sampai ke lutut

dibandingkan dengan nenek-moyangnya sendiri. Sayang

sekali. Gadis, orang-orang tua itu kalau diceritai, hanya 

mengangakan mulut seperti buaya berjemur menunggu

lalat. Pengelihatannya dan pendengarannya sudah tak peka

lagi. Kau anak berbahagia, Gadis. Memang aku lebih suka

melayani pertanyaan dan permintaan gadis dan perjaka,

karena jaman ini adalah permulaan dari jamannya, dan

kalian sendiri, bukan orangtua kalian yang sudah berlengahlengah tak sanggup membiakkan kelapa itu.”

“Kau sendiri sudah menyia-nyiakan jamanmu sendiri,

Rama,” seseorang memprotes.

“Itu menurut kau. Soalnya karena kalian sejak dulu tak

mau mendengarkan aku. Sampai berbulu putih begini aku

masih terus bicara dan kalian masih juga menganga

menunggu datangnya lalat.”

“Mulailah dengan cerita itu!” Idayu mendesak.

“Baik,” sambar Rama Cluring untuk meninggalkan

pertengkaran secepat mungkin. “Dahulu adalah seorang

anak desa, Nala namanya. Dia berasal dari sebuah

kampung nelayan di Tuban. Seorang bocah yang oleh para

dewa dikaruniai dengan banyak cipta. Untuk Majapahit dia

ciptakan kapal-kapal besar dari lima puluh depa panjang

dan sepuluh depa lebar, bisa mengangkut sampai delapan

ratus o-rang prajurit dan dua ratus tawanan, kapal-kapal

besar, terbesar di dunia ini, di seluruh jagad ini. Pada tiang

agungnya selalu terpasang bendera merah-putih yang

berkibar tak jemu-jemunya. Seperti bendera kapal-kapal

kecil Tuban sekarang ini, hanya lebih pendek.

“Beratus-ratus kapal semacam itu dibuat di galangangalangan Majapahit di Tuban, Gresik, Kawal, Panarukan,

Pasuruan, Pacitan, Juana… aku kira jumlahnya takkan

kurang dari tiga ribu. Penuhlah laut dengan armada

Majapahit. Setiap di antaranya pasti akan kalian sangka 

istana Dewi lautan. Dan setiap kapal pimpinan selalu

berlayar sutra kuning gemerlapan.”

“Apakah Rama pernah melihat dan menaikinya?” Idayu

bertanya lagi.

“Waktu muda, ya, dari Gresik sampai ke Nalagasari,

dari Malaka sampai ke utara sana, memudiki Kali Mutiara.

Tak ada yang menyamai besar dan kelajuannya. Kapalkapal Atas Angin itu, huh, apalah artinya, seperti kambing

di sebelah kuda. Dan bila semua layar telah dikembangkan,

laksana elang ia meluncur meninggalkan di belakangnya

semua bikinan manusia yang terapung di atas laut. Seribu

bajak takkan dapat memburu apalagi mengepungnya. Ya,

Gadis, aku pernah ikut berlayar dengan sisa jenis kapal

Majapahit ini. Tak ada lagi yang bisa membikinnya

sekarang.”

“Mengapa tak bisa? Bukankah di bandar-bandar orang

terus menggalang?” Idayu merangsang. “Aku sendiri

pernah berkunjung ke sebuah galangan Tuban setahun yang

lalu.”

‘Tidak bisa. Gadis. Sudah lebih seratus tahun orang tak

dapat membikinnya lagi. Orang yang dapat mengetahui

kayu lunas yang dipergunakan oleh Mpu Nala sudah tiada.

“Bocah dari kampung nelayan Tuban itu bukan saja

seorang Mpu kapal, ia pun seorang ahli kayu. Memang ia

pernah ke kepulauan cengkeh dan pala. Hanya sebuah saja

katanya, yang menghasilkan. Pulau itu tidak begitu besar

dengan sebuah gunung berapi. Kira-kira seratus tahun

setelah Mpu Nala wafat, orang memang masih

membangunkan kapal Majapahit, karena masih ada

persediaan kayu lunas. Setelah habis, habis pula

kemungkinan. 

“Pada suatu kali,” Rama Cluring meneruskan.

Airmukanya nampak lunak, dan ia tidak mempedulikan

kegelisahan yang masih juga berkuasa di dalam hati

setengah orang, “Sebuah iring-iringan kapal datang ke sana,

begitu menurut cerita guruku dulu. Ternyata gunung itu

telah meletus, menghancurkan semua hewan, manusia dan

tetumbuhan di atasnya. Yang tertinggal hanya seperlima

dari pulau itu, putih, tinggal pasir dan karang semata.”

“Kalau begitu kayu itu sekarang sudah tumbuh lagi di

sana,” Galeng mencoba menyertai.

“Mungkin kau tak salah, Perjaka. Tapi orang sudah tak

tahu lagi kayu yang mana, pada umur berapa baru bisa

diteras dan ditebang, bagaimana merawatnya sebelum dan

sesudah ditebang. Lagi pula orang datang ke sana bukan

untuk mencari kayu, tapi rempah-rempah semata.” Ia diam

sebentar untuk minum. “Memang tidak semudah itu. Mpu

Nala telah merahasiakannya. Kalau setiap orang tahu,

semua kerajaan di dunia ini bisa juga, maka kapal-kapal

Majapahit bukan lagi satu-satunya yang menguasai laut.”

“Mengapa kau tak bicara lagi, Kang?” Idayu berbisik

pada Galeng.

Dan Galeng hanya menggeleng, tenggelam dalam cerita

guru itu.

“Beruntunglah aku pernah ikut berlayar dengannya.

Lunasnya masih tetap utuh, biarpun badannya telah berkali

diganti. Kata guruku, sebelum kayu dibentuk jadi lunas,

beberapa bulan lama direndam dalam lumpur larutan

sesuatu. Orang tak tahu ramuannya. Pewaris tunggal

ramuan adalah anaknya, juga seorang Mpu kapal. Sayang,”

ia menghembuskan nafas keluh, “ia tewas dalam

pertempuran laut di sebelah utara Singaraja dalam perang

Paregreg. Ah, jaman silam! Kapal-kapal megah yang 

mampu membawa ratusan prajurit begitu, dan

perlengkapan, dan perbekalan, dan tawanan. Kalau kapalkapal semacam itu masih ada, dan sebanyak dulu, tak bakal

ada kapal Parsi, Arab dan Benggala berkeliaran ke mari.

Satu demi satu kapal itu binasa dalam Perang Paregreg.

Kapal dari satu jenis berhadap-hadapan, dengan senjata

satu jenis: cetbang. Tenggelam terkubur di dasar laut

akhirnya semuanya.

Sebuah kapal dari jenis ini pernah dilarikan dari Tuban

ke Malaka. Yang melarikan ialah suami kaisar Suhita.

Dengan diiringkan oleh beberapa buah kapal kecil Pangeran

Bhre Paramesywara itu marak jadi raja di Malaka, tetapi

tak pernah dapat membangunkan sendiri kapal Majapahit.

Apa yang dijanjikannya tak pernah ditepati. Kalau

Majapahit tak mampu hidup di Selatan, kami akan

hidupkan dia di utara, kata Pangeran Bhre Paramesywara.

Ternyata Malaka tidak pernah melahirkan Mpu Nala.

Bandarnya tak lebih baik dan tak lebih besar ataupun bagus

daripada Tuban, namun merugikan bandar-bandar di

bawahnya, dan tinggal jadi bandar dagang dan

persinggahan. Majapahit runtuh di selatan dan tak bangun

di utara.”

“Rama,” seseorang menegur, “sebenarnya kau hendak

bicara tentang apa? Bicaramu tidak menentu. Kau

mengagungkan kejayaan Majapahit.

Yang kau agungkan runtuh. Di mana pula kejayaannya?

Bicaramu melompat-lompat seperti katak diburu ular!

“Uah! kau benar,” Rama during mengangkat dagu

tinggi-tinggi, mukanya telah berkilat-kilat karena keringat.

“Ada kalanya katak berlompatan dikejar ular. Ada kalanya

dia mati kena terkam. Namun sebagian terbesar dari

hidupnya yang pendek dia mengagungkan hidup bukan 

mati. Hanya kau, yang dalam hidupmu melihat katak cuma

dalam buruan ular. Mengerti kau apa maksudku? Boleh jadi

kau sedang menunggu-nunggu datangnya kata-kataku yang

bisa memperluas hatimu. Puh! Rama CIuring bukan si

pengluas hati.”

“Tak ada yang berkeberatan Rama seorang pengeluas

hati atau tidak. Bukankah tahu juga kau, mayat orang baikbaik dibakar, hanya orang-orang tak menentu ditanam?

Yang dibakar nyawanya terbang ke Suralaya, yang ditanam

hancur dimakan cacing dan nyawanya jadi dedemit. Kau

bicara tentang yang sudah mati, Rama,” penyanggah itu

menetak gencar. “Katakanlah, kau bicara tentang suralaya

atau kerajaan dedemit?”

“Suralaya dan kerajaan dedemit dan nirwana aku tak

tahu. Itulah perkara parabiksu, pandita dan pedanda. Aku

tak bicara tentang kema-tian. – tentang kehidupan, tentang

hidup dan bercipta dan mencipta. Majapahit kehilangan

Mpu Nala, dan Malaka tidak melahirkannya. Di Suralaya

dan di kerajaan dedemit dia tidak ada. Kalau ada kapalkapalnya sudah pasti akan datang di bandar-bandar seluruh

dunia. Tetapi, dengarkan, kau yang tak mengerti tentang

kebesaran dan kejayaan. Dengarkan yang baik, kau

pembantah, negeri dengan bandar begini,… orang cukup

duduk seminggu di pelabuhan, melihat-lihat besar dan

banyaknya kapal sendiri yang mondar-mandir pergi dan

datang… orang akan tahu sampai berapa artinya negeri itu.

Hanya orang hidup dari kekecilan negeri ini yang tidak

bakal mengerti maksudku. Dan barangkali karena katakataku ini bukan saja seorang tapi banyak Mpu Nala,

karena panggilan ini, membenih dalam guagarba perawanperawan yang ada di dalam balai-desa sekarang ini/’

Rama CIuring diam dan berdoa. Juga Galeng

mengangkat sembah. Kata-kata Rama yang terakhir itu 

menggelora berseru-seru dalam hatinya. Segera ia akan

kawini Idayu. Dan kelak anak-anaknya juga harus jadi Mpu

penggalang kapal, pendiri kebesaran dan kajayaan.

Ia sendiri, seperti yang lain-lain, telah banyak mendengar

tentang kebesaran dan kejayaan Majapahit – Majapahit

yang kini telah mati tinggal jadi cerita itu. Doa Rama

CIuring ia rasai seakan tertuju pada dirinya semata: kau,

kau munculkan dia dari guagarba haridepan.

Ketika ia menengok pada Idayu, perawan itu sedang

tersenyum melirik dari samping. Ia betulkan letak kain

kerudung pada bahu pacarnya. Kemudian tangannya

mencari tangan Idayu, dan mereka berpegangan tangan

seakan tiada kan lepas lagi untuk selama-lamanya.

“Panas’ bisik Idayu.

“Mereka namai dia seorang dewa haridepan,”

gumamnya. Tanpa pikir panjang, hanya untuk menyatakan

penghargaannya, ia angkat kata: “Rama, kau tahu tentang

jaman lewat, kau sendiri hidup dalam jaman kemerosotan

ini seperti kau sendiri telah katakan, maka kau berseru-seru

pada jaman mendatang, seakan kau hendak memberikan

pada kami tiga-tiga jaman itu tidak berpisahan seperti

banyak orang bergandeng-gandengan dalam suatu

permainan.”

“Tidak pernah berpisahan, Perjaka, bersambungan dan

bergandengan tak putus-putusnya.”

“Ya, bersambungan terus-menerus. Tapi tidakkah kau

keliru. Rama, atau sengaja membodohi kami, atau memang

melebih-lebihkan, atau barangkali kau seorang tua

pembohong, waktu kau mengatakan lunas kapal Mpu Nala

jauh lebih tahan dari badan kapal yang berkali diganti,

sampai kapal itu mencapai umur lebih dari seratus tahun?” 

“Indah sekali pertanyaan itu, Perjaka. Memang aku tak

dapat membuktikan karena barangnya sudah tidak ada.

Kau boleh tuduh aku bodoh, bohong dan melebih-lebihkan.

Kau sendiri pun takkan dapat membuktikan kebohonganku.

Di jaman jaya dulu memang seorang pembicara harus bisa

buktikan kebenaran omongannya, kalau diminta. Itu aturan

dulu. Dalam jaman kemerosotan ini aturan itu hilang

dengan sendirinya.”

Rama Cluring menggerakkan tangan untuk melukiskan

bentuk lunas.

“Rama, kau tidak memanggil kebesaran pada guagarba

haridepan. Kau memanggil balatentara Tuban untuk

menumpas kami…,” seseorang menuduh.

Orang tua itu tidak peduli dan meneruskan: “Mpu Nala

bukan sekedar hanya mendapatkan kayu itu. Dia punya

sumber cipta agung. Dia juga yang membuat aturan

sehingga puluhan kapal yang bersebaran di permukaan laut

dapat bicara satu-sama-lain seperti aku dan kalian sekarang

ini.”

“Rama, karena kau sudah bilang para guru-pembicara

sekarang ini tak dikenakan aturan membuktikan kebenaran

kata-katanya, terbebaslah kau, jadi kau boleh membohong

sekuat mulutmu. Kau hanya ngomong, ngobrol, tak lebih.”

Orang tua yang serba putih itu terhenyak. Matanya

menyala-nyala. Mukanya yang keriput makin berkerutkerut dalam, seakan sedang menyiapkan ledakan. Dan

ledakan itu ternyata tiada. Ia menuding pada para

pendengar yang duduk berbanjar-banjar. Ia menelan ludah.

Tak ada keluar kata-kata dari mulut.

Dari beberapa tempat mulai terdengar orang mengejek.

Dan mereka yang arif dapat segera melihat, guru-pembicara

itu merasa tersinggung. Mereka yang sudah mengenal 

wataknya tahu, singgungan terhadap kebesaran dan

kejayaan Majapahit adalah juga singgungan terhadap

kehormatan pribadi Rama.

“Mengapa terdiam? Mengapa tidak memekik dan

berjingkrak?”

“Jangan menangis, Rama,” seorang dari banjar tengah

melengking ria, “memang orang-orang muda wajib

menghormati orang tua, tapi jangan kau kira kau boleh

semburkan abab semau sendiri.”

Rama Cluring belum juga menjawab. Nampak benar ia

sedang bergulat untuk menindas perasaannya.

Tak lain dari Idayu yang berusaha menyelamatkan

Rama. Berseru ia keras-keras: “Aku menghargai Rama.”

Idayu berdiri, seakan menantang semua orang. Sekali lagi

Galeng menarik duduk. Pemuda-pemudi desa berseru-seru

menyokong Idayu dan membenarkannya.

Baru kemudian keluar kata-kata Rama yang berat dan

sepatah-sepa-tah: “Kalian datang di hadapanku untuk apa?

Untuk mendengarkan aku. Pekerjaanku memang bicara.”

Suara itu bernada rendah memohon simpati…. “Seorang

diri aku berseru-seru: Jangan biarkan anak-anak kalian

tenggelam dalam kemerosotan jaman. Bangkit: Lawan

kemerosotan. Lebih dua puluh tahun aku bicara. Tetapi

orang masih juga tak mau mengerti.”

Sekarang suaranya mengambil nada semula, cepat dan

bersemangat: “Tugasku adalah bicara agar kalian mengerti,

jaman sudah beralih dari kejayaan pada kemerosotan

sekarang ini. Kalau kemerosotan tak dapat ditahan, yang

bakal datang tak lain dari kebinasaan.”

“Kalau begitu. Rama,” Galeng memaksa bicara hanya

untuk menunjukkan simpati. “Ceritai kami bagaimana 

orang membangkitkan kejayaan, menahan kemerosotan.

Jangan gubris mereka yang hanya tahu mengejek, yang tak

mampu mengerti.” “Kau jadi panas, Kang?” Idayu berbisik

memperingatkan. “Para pengejek itu tak hanya sekelompok

buaya.” Suasana berubah waktu gadis anak kepala desa

datang membawa nampan berisi gendi, meletakkannya di

hadapan Rama, dan mengambil cawan yang telah kosong,

kemudian pergi lagi.

Guru itu nampak sangat haus. Ia ambil gendi dan minum

dari kucuran cucuknya.

“Dengarkan kalian yang ikut bersama kemerosotan

jaman ini! Orang bijaksana mengetahui berubahnya jaman

dari pengertian-pengertiannya. Guru-pembicara seperti aku

ini hanya menyampaikan pengertian. Orang yang tidak

bijaksana, yang bebal, baru tahu jaman sudah atau sedang

berganti kalau cambukan perang telah mendera-dera pada

punggungnya. Tetapi darah dan keringat yang

dikucurkannya sudah sia-sia belaka bakalnya. Dia akan

meregangkan nyawa di mana saja, di ladang, sawah,

jalanan, laut atau darat, untuk kesia-siaan itu.

Kesalahannya hanya: bebal, tak punya kebijaksanaan.”

Tiba-tiba Rama Cluring meringis. Tangannya menelusuri

perutnya. Sakit perut! orang menduga. Kemudian nampak

Rama mengerutkan gigi. Dan begitu wajahnya cerah

kembali ia melanjutkan kata-katanya, cepat-cepat:

“Dengarkan, kau Perjaka, bagaimana orang telah

membangkitkan kejayaan, dan itu lebih berarti daripada

hanya sekedar menahan kemerosotan.”

Kembali ia meringis. Tangannya gelisah menelusuri

perut.

“Ada seorang anak desa, seorang anak lurah,” katanya

cepat-cepat. “Anak ini diemong oleh bujangnya, seorang 

prajurit pelarian balatentara Tatar Kublai Khan. Dari

pengemongannya si bocah belajar membikin senjata-api

penangkap rusa dan babi hutan. Bocah bukan sembarang

bocah. Dia pun punya cipta dan dayacipta besar. Aku akan

perbaiki senjata-api ampuh ini, dibuat sebanyak-banyaknya,

dan balatentara yang menggunakannya akan menjadi

pemenang tunggal di atas bumi manusia ini.

Ia bertekad menjadi orang besar untuk dapat

menggunakan senjatanya. Setelah dewasa ia tinggalkan

desa dan orangtua dan pengemongnya, dan masuk ia ke

pusat kerajaan Majapahit. Dengan ilmu berkelahi dari

pengemongnya dengan mudah ia dapat hancurkan kepala

banteng dengan sebelah tangan, dan jadilah ia perwira

pengawal Sri Baginda Jayanegara. Ia mendapat nama

militer: Gajah Mada.”

Wajah Rama kelihatan pucat. Tapi ia berkukuh

meneruskan ceritanya: “Dengan daya cipta besar ia berhasil

meningkat jadi Mahapatih. Uh, pemberontakan Kuti itu

sangat berarti bagi seorang seperti dia. Pada waktu itulah ia

kembangkan senjata-api yang kini kalian kenal dengan

nama cetbang. Dan dengan kapal-kapal Mpu Nala yang

dipersenjatai cetbang armada Majapahit tak pernah

menemui perlawanan. Bila pelurunya berledakan di udara,

kerajaan-kerajaan bandar pada takluk dan menyerah.”

Kembali ia meringis dan menekan-nekan perut.

Idayu bangkit untuk menolongnya.

Rama CIuring meneruskan: “Tidak menemui

perlawanan di mana pun. Di setiap bandar kerajaan di

seberang, raja-raja pada turun dari singgasana, datang

menyongsong armada di bandarnya. Peluru-peluru cet-bang

yang berledakan di udara, seperti kilat dan guruh sekaligus,

membikin Majapahit jadi penguasa tunggal atas Nusantara 

– suatu yang pernah dicapai oleh Sriwijaya selama tiga ratus

tahun. Di tengah laut peluru-pelurunya berluncuran di atas

permukaan air membinasakan armada-armada perampok

dan bajak laut. Maka darat dan laut aman.

“Dalam sepuluh tahun kemudian Majapahit mulai jadi

kekaisaran. Kemudian seluruh Nusantara bersatu di bawah

bendera merah-putihnya.”

Ia menguruti perut, dan dada dan leher. Suaranya

kehilangan kekuatannya, namun ia masih tetap

meneruskan: “Waktu itu hanya ada dua kaisar. Kaisar

Tiongkok di utara dan Kaisar Majapahit di selatan….”

Kebesaran dan kejayaan masa lalu, Wiranggaleng

bergumam, kemudian menghembuskan nafas dalam. Kapal

besar, kapal pemenang di seluruh jagad. Dan sekarang aku

hanya dengan jung… jung Tiongkok pula….

Malam datang. Dingin mulai tak tertahankan. Ia lepas

kain penutup celana, selembar kain batik buatan istrinya,

dan dibuatnya jadi penutup dada.

Sekarang ia terkenang pada rusa yang malam ini

mungkin pada berbaris menyerang ladang-ladang petani.

Entah sudah berapa puluh saja binatang itu telah memasuki

jebakan ranjaunya. Semua telah ia kuliti, ia potong-potong,

didendeng. Rusa-rusa itu – makhluk yang tak berbahagia di

negerinya sendiri. Setiap ekor pada suatu kali mengalami

seperti itu. Ya, tidak berbahagia di negeri sendiri. Sedang

yang bijaksana tak dapat berbuat apa-apa, hanya bisa bicara

di desa-desa. Yang dungu mempunyai segala-galanya dan

dapat mengerahkan semua untuk berperang dan mati buat

kesukaannya.

Makin malam makin riuh pergolakan dalam dirinya.

Bukan bayangan yang memburu-buru, bukan rusa bukan

kijang, tapi tanya dan duga yang tiada putus-putusnya. 

Bagaimana mereka jadinya dalam sepuluh tahun

mendatang? Apakah serba kebalikan daripada impian Rama

Cluring impianku pribadi? Bagaimana bakalnya nasib Gelar

dan Kumbang? Apakah mereka akan lebih buta dan lebih

tidak berdaya, tidak berkemampuan, daripada aku? Apakah

mereka akan hanya jadi korban kesia-siaan raja-raja yang

dungu?

Dan Pada yang terus mendampinginya menjadi gelisah

melihat perkembangan sahabatnya yang jadi aneh itu. Ia

memberanikan diri bertanya: “Bukankah kita tetap menuju

ke Malaka, Kang?”

“Jangan pikirkan yang lain-lain,” ia ulangi perintahnya

pada para peratus di bandar Jepara. “Kita akan gempur

Malaka.”

Tengah hari waktu itu. Pesisir pulau Jawa nampak dari

kejauhan sebagai garis putih yang gemerlapan, bersambung

naik dengan hijau-kelam hutan dan gunung-gemunung,

dengan puncak-puncaknya yang semakin tinggi semakin

cerah menantang laut.

“Kau ingat rumah, Kang?”

“Belum lagi kau selesaikan ceritamu tentang Trenggono

dan Fathillah.”

“Jung-jung ini takkan mungkin dapat memburu armada

Fathillah,” Pada mengalihkan percakapan.

‘Trenggono dan Fathillah, Pada,” Wiranggaleng

memperingatkan.

“Ya, Trenggono dan Fathillah. Apa lagi perlunya kita

fikirkan, Kang. Hanya Malaka tujuan kita. Mereka hanya

Sultan dan Panglimanya, laksamananya, mereka hanya ipar

dengan ipar. Kita bukan apa-apanya. Urusan kita tetap

Malaka, Kang.” 

“Mengapa Liem Mo Han tak ramah terhadapmu?”

“Juga tidak padamu. Urusan kita tetap Malaka, Kang.”

Armada jung aneh itu tidak menyinggahi bandar-bandar

kecil. Dan prajurit-prajurit laut ini berlayar semata-mata

dengan kekuatan angin. Setiap hari mereka tak mempunyai

banyak kerja, dan mencoba melupakan tugas tidak menentu

dengan mengobrol, bercerita mendalang atau berlaku

sebagai seorang guru-pembicara. Bergurau pun tidak terjadi,

kuatir bisa menimbulkan salah duga pada pemimpin

mereka.

Ketiga armada jung akan melalui bandar Banten, dari

kejauhan nampak armada Jepara-Demak seperti sebarisan

camar yang sedang mengapung di permukaan air, putihkelabu dengan layar keperakan, dan dua buah kapal

berlayar dengan layar kuning gemerlapan.

Semua orang memerlukan meninjau. Dan mereka tidak

bersorak, seakan sedang melihat sesuatu yang sama sekali

tidak mereka harapkan.

“Kembangkan semua layar. Tambah kalau bisa!”

perintah Wiranggaleng. Ia sendiri malu memerintahkan

untuk mengejar. Yang demikian-memang tidak mungkin.

Orang menghindarkan pandang dari bandar Banten dan

membutakan hati pada kerinduan pada darat. Semua layar

dipasang penuh, bahkan layar-layar tambahan mulai

dikembangkan pula. Titik-titik bersayap keperakan dan

keemasan itu makin lama makin kecil. Memang tak

mungkin dapat menyusul. Namun pengejaran yang sia-sia

diteruskan juga, sedang hati membisu dan hati digumul

jengkel.

Dari jung paling belakang orang berseru-seru bersama:

”Aaaaa!” dan armada Jepara-Demak membelok ke kiri, 

memantai pesisir barat Banten menuju ke selatan, ke Ujung

Kulon.

“Khianat! Benar ada pengkhianatan,” gumam

Wiranggaleng pada diri sendiri. Tiba-tiba ia tersenyum:

begitu juga barangkali yang dirasakan oleh Adipati Unus

waktu Tuban tidak juga muncul untuk bergabung.

Sekarang ia telah dapat menangkap gambaran

selengkapnya: semua harapan tentang Jepara-Demak harus

dilepaskan. Dan bahwa ia dikirimkan dari Tuban untuk

mati di laut, atau di daratan orang, atau di mana saja, asal

mati, bersama lima ratus orang yang tak ada merasa

bersalah pada Sang Adipati. Gila!

Armada Jepara-Demak di bawah Panglima Laksamana

Fathillah telah membelok ke kiri, memantai sepanjang barat

Banten.

Para prajurit laut Jepara terheran-heran: mengapa tidak

ke Utara? Mereka bertanya-tanya satu pada yang lain: apa

sesungguhnya sedang terjadi? Tetapi semua isyarat dari

kapal-kapal yang ditujukan pada kapal bendera tidak

berjawab.

Sampai di Ujung Kulon hanya beberapa regu prajurit

dari kapal bendera diperintahkan mendarat. Juga PanglimaLaksamana Fathillah mendarat dan sendiri memimpin

anakbuah itu menjajagi darat. Tidak lama. Dan mereka

naik lagi membawa terlalu banyak kelapa muda.

Kemudian armada itu balik lagi ke utara, memasuki selat

Sunda, kembali ke Jepara.

Semua kebijaksanaan tentang armada raksasa ini

diserahkan kepada Fathillah oleh Sultan Trenggono

berdasarkan persekutuan militer untuk meneruskan rencana

menguasai Jawa bukan hanya dari darat, juga dari laut. 

Dengan demikian pertikaian antara pasukan laut dan

pasukan kuda dapat dipadamkan – dua-duanya

ditundukkan pada keinginan Trenggono sendiri akan

memimpin gerakan dari darat. Dan persekutuan militer ini

akan melancarkan gerakannya bila pasukan gabungan

Tuban-Aceh-Bugis telah mulai melakukan serangan di

Malaka. Portugis akan sibuk melayani serangan, maka

bahaya terhadap pelaksanaan persekutuan militer Demak

tidak akan ada.

Maka itu armada raksasa harus berangkat satu hari

sebelum gugusan Tuban diperkirakan akan datang ke

Jepara. Jung-jung itu tak boleh menyusul. Demak harus

bisa menggunakan hasil persekutuan rahasia Aisah-UsupLiem Mo Han.

Setelah armada berlabuh untuk beberapa hari di bandar

Banten dan berangkat lagi ke Ujung Kulon, mereka tak

tahu, bahwa jung-jung telah melihat mereka. Juga tidak

mengetahui, Tuban telah melihat mereka membelok ke kiri.

Sesampainya di Jepara kembali armada itu beristirahat

selama tiga bulan, kemudian berangkat lagi, menempuh

garis pelayaran yang sama.

Dan tak lain dari Aji Usup yang giat mondar-mandir

antara Jepara, Demak dan Lao Sam. Ia tahu urusannya

telah gagal. Armada raksasa itu tak dapat dibelokkan ke

utara. Dan seluruh pasukan laut Jepara tak dapat berbuat

sesuatu pun terhadap Fathillah. Sejumlah besar pasukan

kaki yang dibaurkan dalam tubuh pasukan laut telah

membikin prajurit-prajurit Jepara itu tak dapat berbuat

sesuatu pun daripada mengikuti perintah.

Aji Usup insaf ia telah kehilangan segala-galanya.

Bahkan ia telah kehilangan keberanian ke luar lebih jauh

dari tiga tempat tersebut. Ia merasa telah kehilangan muka. 

Setelah kunjungannya terakhir ke Lao Sam ia tak pernah

lagi meninggalkan Jepara. Ia memilih mati dan berkubur di

Jepara.

Pada suatu hari yang telah diduganya satu regu pasukan

pengawal berkuda Demak datang mengepung rumahnya.

Tak seorang pun dapat menolongnya. Sepucuk tombak

telah menembusi dada hingga bahunya. Ia mati di atas

anaktangga rumahnya sendiri. Dua orang anaknya yang

berusaha melarikan diri mengalami nasib yang sama. Istri

dan menantu-perempuan mati di dalam bilik dengan

tikaman keris. Cucu kesayangannya yang cuma seorang

terdapat pecah kepalanya tersorong di kolong ambin.

Aji Usup telah dipunahkan sampai keturunannya.

Sejak hari itu Ratu Aisah tak pernah kelihatan keluar

dari rumah. Seorang sahabatnya telah ditumpas beserta

seluruh keturunannya: Liem Mo Han tak pernah muncul. Ia

menunggu dengan rela datangnya regu pengawal Demak

untuk menghabisi jiwanya pula. Dan akan selesailah cerita

tentang persekutuan rahasia itu. Akan selesai pula cita-cita

Adipati Unus.

Trenggono tetap pada niatnya. Seluruh Jawa harus sujud

di bawah kakinya, dari Blambangan sampai Banten, dari

laut Jawa sampai lautan Kidul.

Ratu Aisah bersumpah untuk tidak akan menemui siapa

pun, kecuali seisi rumah sendiri dan regu penumpas dari

Demak. Ia takkan mengampuni Sultan. Dan ia akan

gunakan sisa hidupnya yang sedikit untuk mengasuh dan

mendidik cucunya, dan mengabdi pada Tuhannya, dan

berdoa tak henti-hentinya untuk keselamatan dan

kemenangan pasukan gabungan Tuban-Aceh-Bugis….

0o-dw-o0 

Sepanjang pelayaran memantai pesisir barat Sumatra

armada jung itu dibantu oleh angin yang cukup baik. Tak

pernah iring-iringan itu berpapasan dengan armada bajak

dalam pemusatan besar, tak pernah memergoki kapal

Peranggi, tak pernah dihadang oleh taufan ataupun badai.

Karena tak jadi menyinggahi Banten dan perhitungan

karenanya jadi keliru, terjadi kekurangan air dan

perbekalan. Walau demikian pelayaran berjalan damai

dalam suasana gembira. Orang tak lagi memikirkan armada

Jepara-Demak. Mereka sudah berpikir dan bersikap sebagai

kesatuan tersendiri. Makin jauh dari Jawa, makin jauh juga

dari pengkhianatan! Mungkin untuk pertama kali dalam

hidup mereka melihat negerinya sendiri sebagai sarang

pengkhianatan, sarang intrik, sejak Tuban sampai Ujung

Kulon.

Orang bernyanyi ria. Dan di malam hari orang membaca

lontar kuno dan satu lingkaran duduk mendengarkan.

Seorang lain lagi menafsirkan. Atau orang berpantunpantunan, sahut-menyahut diikuti gelak tawa.

Puncak kegembiraan ialah waktu mereka mendarat di

bumi Banda Aceh. Beratus-ratus rebana menyambut

mereka. Pasukan Aceh yang berpakaian celana panjang dan

baju serba hitam berikat pinggang selendang merah atau

kuning dan berdestar hitam, pasukan Bugis yang berpakaian

celana dan baju serba genggang dan pasukan Tuban yang

bercelana ditutup dengan kain batik dan bertelanjang dada –

semua berhimpun, berkampung dan bersuka-ria. Mereka

bergerak bebas dan di setiap rumah yang mereka masuki

orang mendapatkan segala penganan dan pelayanan. Taritarian dihidangkan setiap malam dalam tingkahan gendang

dan seruling. Setiap orang mendapatkan kesukaan dan

persahabatan. 

Untuk pertama kali orang-orang Tuban itu terpeluk

dalam persahabatan yang semesra ini.

Kemudian datanglah hari keberangkatan. Aceh

menyerahkan tiga ratus prajurit, Bugis dua ratus. Jumlah

seluruhnya seribu lebih dua orang: Wiranggaleng dan Pada.

Pihak Bugis menawarkan diri untuk lakukan pekerjaan

perintisan dan pengintaian, yang disambut dengan soraksorai semua orang.

Di tanah lapang diadakan sembahyang bersama untuk

ummat Islam, memohonkan keselamatan untuk mereka

yang akan berangkat ke medan perang.

Begitu mancal dari darat begitu pula mata Wiranggaleng

berkaca-kaca melihat ribuan orang, laki dan perempuan, tua

dan muda, semua berpakaian serba hitam, celana, baju dan

destar, bersorak-sorak mengucapkan selamat berperang.

Uh! Tidak dilihatnya yang demikian di Tuban, pun tidak di

Jepara. Di sana hanya ada pengkhianatan dan intrik. Di

tengah-tengah saudara-barunya ia merasa lebih aman, dan

tak lagi merasa seorang hukuman yang sedang menemui

algojo. Juga Aceh, juga Bugis tahu: Peranggi harus dihalau.

Apa pun yang akan terjadi, penyerangan terhadap Malaka

takkan sia-sia.

Mereka melihat tempat pendaratan di sebuah kampung

nelayan sekira jarak tiga hari-tiga malam pelayaran di

sebelah utara Malaka.

Penduduk kampung melarikan diri entah ke mana,

menyangka kedatangan perampok lanun. Kampung di atas

tiang-tiang kayu itu tertinggal kosong. Sebuah rumah

terbaik disediakan bagi Wiranggaleng yang telah mereka

angkat bersama sebagai panglima gabungan dengan

panggilan Hang Wira. 

Tak ada bangku, meja ataupun ambin di seluruh

kampung ini. Geladak pelupuh adalah segala-galanya. Di

atasnya digelari tikar pandan rawa. Hampir-hampir tak ada

perkakas rumahtangga kecuali perabot masak. Barangbarang gerabah sangat sedikit. Dan bau busuk ikan dijemur

di atas para-para bambu sepanjang kampung menyesakkan

nafas. Tiga hari lamanya mereka tinggal di kampung itu.

Dan penduduk tak juga muncul. Karena tak dapat menahan

keheranannya Wiranggaleng terpaksa bertanya pada Pada:

“Bukankah kau pernah dengar dari cerita Liem Mo Han

pasukan Semenanjung akan bergabung dengan kita? Mana

batang hidungnya? Semestinya mereka telah melihat kita

datang dan menghubungi kita.”

“Benar Panglimaku. Aku pun belum melihat batang

hidungnya. Heran.”

“Dan manakah armada kecil Tionghoa dari utara itu?”

“Benar, Panglimaku. Aku pun belum lagi melihat

kuncirnya.”

“Apa artinya semua ini?”

“Tahu, Panglimaku.”

“Ya, begini inilah jadinya.”

“Kita hanya memikirkan Malaka ini saja, Kang.”

Seorang bocah penduduk kampung telah tertangkap oleh

prajurit yang sedang mengenali medan. Tak banyak yang

dapat diketahui dari anak kecil itu kecuali, bahwa penduduk

selebihnya sedang mengungsi ke dalam hutan. Anak itu

dilepaskan setelah diberi makan dan perbekalan, dan diikuti

dari kejauhan. Persembunyian penduduk dapat diketahui,

dan mereka diperintahkan kembali ke kampung. 

Juga penduduk tak tahu akan adanya pasukan

Semenanjung ataupun Tionghoa. Mereka menerangkan

sebaliknya: justru Peranggi yang sering datang, baik dari

darat maupun dari laut.

Perintah siaga dijatuhkan. Kapal dan jung-jung

diperintahkan meninggalkan semenanjung. Dan pasukan

dari seribu orang lebih dua itupun berbaris meninggalkan

kampung dan memasuki hutan belantara. Mereka melalui

jalan setapak yang tampak sering dilalui orang. Dan

semakin memasuki hutan semakin banyak ditemukan bekas

sepatu, samar-samar.

Penduduk yang ditinggalkan melihat semua prajurit pergi

menjadi terheran-heran. Lebih heran lagi melihat jung-jung

dan kapal-kapal mereka sudah sama sekali tiada dan hartabenda mereka dan perahu-perahu mereka tak kurang suatu

apa.

Pasukan gabungan itu bergerak terus dengan melepaskan

harapan akan bergabungnya pasukan Demak, Tionghoa

atau Semenanjung. Mereka menuju ke arah selatan.

Perundingan antara kepala-kepala pasukan menghasilkan

keputusan: Langsung menyerbu ke sasaran.

Dan mereka berbaris menuju ke selatan, melewati

kampung-kampung yang terdiri dari beberapa rumah.

Penduduknya berlarian entah ke mana.

Yang tertinggal biasanya hanya orang tua-tua yang sudah

tak kuat lari, atau orang sakit keras, dan terutama orang

gila. Sama tak dapat ditanyai. Satu-satu keterangan yang

diperoleh: sekali-dua Peranggi pernah datang dan tak

pernah melakukan gangguan: Setelah dua hari menembusi

hutan, perundingan antar-sekutu menyimpulkan:

penyerangan langsung ke Malaka ternyata tidak mungkin.

Tak adanya pasukan semenanjung telah memusnahkan 

kemungkinan untuk mendapatkan perbekalan. Tanpa

perbekalan jangankan menyerang, bertahan pun tidak bisa.

Maka diputuskan menunda penyerangan langsung, ladang

pertanian harus dibuka terlebih dahulu.

Pasukan gabungan itu membelok ke timur lebih dalam

lagi dan membuka huma. Dan tidak lain dari Wiranggaleng

yang menyadari: prajurit-prajurit ini akhirnya datang tidak

untuk berperang tapi untuk bertani. Ia tahu sudah sejak

asal, ekspedisi militer ini akan gagal.

Pengenalan medan terus-menerus dilakukan, bergantian

antara tiga macam kesatuan. Tetapi pembukaan humalah

yang mengambil pekerjaan terpokok. Patroli tak hentihentinya dikirimkan. Namun persiapan penyerangan tetap

harus ditunda.

Sekali peristiwa kesatuan Bugis mendapat giliran untuk

mengenali medan. Mereka menemukan sebuah kampung

jauh di dalam hutan. Rumah-rumah yang bersirip tinggi di

atas tiang-tiang itu telah ditinggalkan oleh penduduknya.

Dan di bawah rumah-rumah itu Peranggi sedang sibuk

memasak-masak.

Kesatuan Bugis serta-merta merunduk dan melepaskan

tombak. Pekikan maut dan seruan terjadi: Serdadu-serdadu

Peranggi yang tidak terkena tombak berlarian membawa

musket masing-masing dan mulai menembak dari balikbalik pepohonan. Mereka membikin lingkaran pertahanan

dalam kepungan kesatuan Bugis. Tombak beterbangan lagi.

Korban di pihak Portugis jatuh lagi. Dan jatuhnya tombak

sedemikian gencar sehingga musuh terhenti itu tak sempat

lagi memasang obat dan bubar melarikan diri. Sebagian lagi

tewas pula sewaktu menerobosi kepungan. Sisanya hilanglenyap ke dalam hutan. Daerah pengenalan dan patroli

makin diperluas ke sebelah selatan. Kampung bekas tempat

pertempuran pertama kini mendapat kehormatan jadi 

tempat markas gabungan. Dan waktu penduduknya datang

kembali bersama-sama mereka membabat hutan,

mengeringkan dan membakarnya untuk dijadikan huma.

Tidak lebih dari seminggu kemudian di sebelah selatan

nampak asap besar membubung ke langit Asap itu terlalu

kecil untuk dianggap sebagai hutan terbakar dan terlalu

besar untuk dianggap sebagai rumah terbakar. Orang segera

menduga itulah Peranggi sedang membakar sebuah

kampung besar.

Seluruh kekuatan mulai bersiap-siap karena tempat

kebakaran itu tidaklah begitu jauh.

Dengan separoh kekuatan kesatuan Tuban Wiranggaleng

berangkat untuk menyergap mereka. Seorang pengintai

telah dikirimkan terlebih dahulu, dan ia pulang dengan

laporan, benar yang melakukan pembakaran tak lain dari

Peranggi, dan mereka sedang bergerak ke jurusan kampung

sebelah utara. Jumlah kekuatan mereka cukup besar.

Kesatuan Tuban segera disusun dalam bentuk jebakan.

Dari kejauhan telah terdengar Peranggi menembaknembak untuk menghancurkan semangat lawannya.

Wiranggaleng memeriksa tempat penjebakan yang

ditempatkannya di daerah hutan dengan semak-semak di

bawahnya. Di hadapan jebakan adalah tempat terbuka yang

bakal di tempuh oleh serdadu-serdadu Peranggi. Ia telah

banyak dengar tentang keampuhan musket musuhnya, dan

hanya dengan jalan berlindung di balik-balik pepohonan

semprotan pelurunya dapat dihindari. Di tempat terbuka,

sekali tembakan dapat melukai sepuluh orang yang sedang

berdiri berjajar dalam jarak lima belas depa, sedang tombak

hanya bisa mengenai seorang, itu pun kalau kena. 

Dan bunyi tembakan itu memang mengecutkan bagi

mereka yang sudah mengetahui keampuhannya.

“Kalian datang ke mari untuk menghadapi mereka. Kita

akan hadapi mereka. Kita belum pernah mangalami

pertempuran melawan musket. Sekaranglah waktunya.

Lihatlah kesatuan Bugis. Mereka telah berhasil. Kita akan

juga berhasil.”

Mereka telah memasang perangkap di tempat yang tidak

terbuka itu, di tempat yang dapat menahan semprotan

peluru musket. Ternyata lain lagi yang terjadi. Serdaduserdadu Portugis tidak menggerombol sebagaimana halnya

dengan prajurit Tuban atau tentara Jawa pada umumnya.

Musuh itu pun tidak memasuki jebakan yang disediakan.

Mereka berpecah-pecah, seorang-seorang sesuai dengan

keampuhan senjata dan daya tembaknya, dan tiba-tiba saja

kesatuan Tuban yang berada di atas-atas pohon berteriakteriak: “Peranggi telah mengepung kita!”

Teriakannya dibarengi dengan letusan-letusan yang

menyesakkan dada dan menggeletarkan jantung. Dari

segala penjuru, kecuali dari belakang anak-anak panah

mulai berlayangan dari atas-atas pohon dalam keriuhan

letusan. Beberapa orang prajurit Tuban terjungkal dari

panjatannya diikuti dengan gemeratak tubuhnya yang

menyangsang di atas semak-semak atau bergedebug di atas

tanah gundul.

Wiranggaleng memerintahkan mengubah hadap ke arah

tiga penjuru angin, tetap bersembunyi di balik pepohonan,

menyiapkan tombak atau panah, dan tetap memperhatikan

datangnya musuh. Ia sendiri hampir-hampir kehilangan

akal menghadapi pertempuran yang aneh itu. Dan belum

lagi sampai ke Malaka! 

Tembakan-tembakan semakin mendekat. Semprotan

musket yang rasa-rasanya tiada kan henti-hentinya

mematahkan ranting-ranting semak dan menggugurkan

dedaunan dan melubangi batang pohon dan tanah yang

dikenainya, dan merobek kulit pohon, dan mendesingkan

bunyi bisikan maut seperti selaksa tawon datang

menyerang.

Satu semprotan musket berlalu di atas kepala

Wiranggaleng. Dan ia bergidik. Bulu romanya berdiri.

”Tahankan!” serunya, “tahankan sampai muka mereka

bertemu dengan mukamu, dan sergap dia tanpa ragu-ragu.”

Pertempuran aneh. Prajurit-prajurit Tuban dalam jarak

jauh tak bisa melakukan serangan ataupun balasan, dan

cuma harus diam-diam menunggu, dan menunggu, dalam

semprotan maut yang tak putus-putusnya, ledakan dan

desingan dan gemerasak dan ranting-ranting berguguran.

Dua orang telah jatuh pingsan di tempat karena

kejengkelan, kehilangan kesabaran dan kebingungan. Begitu

orang beringsut dari tempat di balik pepohonan, semprotan

peluru pun mendarat dan mengeram di dalam daging.

Ini bukan pertempuran. Ini penyembelihan! Dalam

perang dengan musket begini tak ada prajurit, tak ada satria,

yang ada hanya pembunuh dan korbannya.

“Mereka lebih hebat daripada kita,” seru Panglima

memberanikan. Dengan musketnya Peranggilah yang justru

mengepung. Dan dengan musketnya pula mereka tak

membutuhkan terlalu banyak kekuatan. Di sana-sini

perkelahian orang-orang mulai terjadi. Orang yang sudah

kehilangan kesabaran melompat ke luar dari balik

persembunyiannya dan mengamuk dengan tombak. Makin

lama makin banyak yang ke luar. Tembakan menjadi

berkurang. 

Perkelahian orang-seorang menyebabkan Portugis tak

semudah itu lagi menembak dan membikin bentengan

peluru. Mereka mulai menggunakan pedang.

Kesatuan Tuban bersorak. Itulah yang mereka

kehendaki. Semua meninggalkan persembunyian. Dan

pemain-pemain tombak itu memperlihatkan keunggulannya

di setiap jengkal tanah di dalam hutan itu.

Orang mengakui keberanian Peranggi menghadapi lawan

yang jauh lebih besar. Ayunan pedang mereka begitu

mantap, kuat dan gesit, tak peduli pada ranting semak yang

menghalangi dan rotan berguguran.

Hanya karena jatuhnya malam saja mereka mulai

menarik diri, menghilang ke dalam hutan dengan

meninggalkan korban-korbannya.

Beberapa pucuk musket telah kena rampas, beberapa

pedang, beberapa peralatan makan dan pakaian. Juga

kesatuan Tuban kehilangan beberapa prajuritnya.

Wiranggaleng mengatakan: pertempuran sekali ini sama

sekali tidak dimenangkan oleh Peranggi, juga tidak oleh

Tuban. Namun seluruh pasukan gabungan telah

mendapatkan satu kemenangan mutlak: kemenangan atas

ketakutan terhadap Peranggi dan kehebatannya. Dan itulah

modal untuk dapat mengalahkan dan mengusir mereka dari

Malaka.

Malam itu juga diadakan penguburan untuk temanteman seperjuangan yang tewas dan perawatan bagi mereka

yang terluka. Separuh dari kesatuan Tuban mengadakan

pengejaran seperti halnya waktu terjadi pertempuran besar

melawan Kiai Benggala. Mereka bermaksud mendahului

kedatangan musuhnya di suatu tempat, menghadangnya,

dengan pengetahuan, di malam hari musket Portugis takkan

berdaya. 

Wiranggaleng memimpin pengejaran. Tetapi hutan itu

terlampau gelap dan jalan yang tersedia hanya jalan setapak

yang telah dilalui Portugis. Jalan itu jugalah yang ditempuh.

Mereka tak dapat melalui apalagi menghadang. Mereka

hanya bisa menguntit dan menemukan musuhnya sedang

berkampung di sebuah kampung yang habis dibakarnya.

Suatu serangan dalam kegelapan. Dan sisa pasukan

musuh melarikan diri.

Kesatuan Tuban dalam kegelapan itu tidak tahu, bahwa

dalam pengejarannya selanjutnya mereka sudah berada di

dekat daerah peluaran kota Malaka. 

Novel Arus Balikk Bab 31 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.

Bagaimana alur cerita dari novel Arus Balik Bab 31 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua. 

Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.

Untuk membaca Novel Aru Balik bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 8 Disini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 28 Disini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 26 Disini