Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 24 Disini
Novel Arus Balik bab 24 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Arus Balik menceritakan tentang kisah Kedatangan Portugis di Bumi Nusantara dengan latar awal Abad XVI, yaitu ketika surutnya pengaruh Majapahit dan naiknya pamor Kesultanan Demak.
Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Arus Balikk Bab 24 Bahasa Indonesia Sekarang ini.
24. Demak
Tahun 1518 Masehi
Sesuatu telah terjadi di Demak – Demak yang
dicemburui oleh Kiai Benggala Sunan Rajeg. Ribuan orang
berduyun-duyun di depan istana, kemudian bergerak ke
mesjid agung Bintoro. Mereka sedang berkabung dengan
wafatnya Sultan Demak: Sultan Syah Sri Alam Akbar alFattah atau Raden Patah, Khalifah pertama-tama di Jawa.
Tak ada orang bersuara dalam kerumunan besar itu.
Semua berpakaian serba putih. Sebagian dari mereka
memasuki mesjid agung, sebagian besar tiada bisa masuk
dan berdiri di pelataran depan.
Dengung Allahu Akbar berkali-kali membuntingi udara,
membubung berat baik dari dalam mau pun di luar mesjid.
Gerak dan suara mereka berirama dalam bertakbir
bersembahyang mayat. Tidak lama. Dan kerumunan orang
di depan mesjid mulai bergerak berdiri jalan pada jenasah
yang akan diantarkan ke tempatnya yang terakhir.
Kerumunan besar orang itu berubah, membentuk diri
jadi barisan panjang dan teratur. Paling depan adalah
barisan pengawal kerajaan Demak. Dan seperti prajurit
kerajaan Jawa pada umumnya mereka bertelanjang dada.
Hanya pada kesempatan ini pada dada mereka terhiasi pita
putih yang tergantung pada leher. Juga ujung paksi dari
tombak mereka terhiasi dengan pita putih pula.
Di samping-menyamping jenasah berjalan beberapa
orang anggota Majelis Kerajaan, para wali yang bergelar
Sunan, tak lebih dari empat orang. Dan Sunan Kalijaga,
yang selalu berdestar, berkain dan berkerodong kain batik,
tiada nampak.
Di belakangnya lagi adalah para ulama yang kebetulan
sedang berada di Demak.
Menyusul kemudian para punggawa dan rakyat biasa. Di
tengah-tengah barisan para punggawa terdapat sebuah
tandu bertanda putih. Di atasnya sebuah bola kayu kuning
keemasan. Di dalamnya terdapat putra mahkota Demak:
Adipati Unus Jepara.
Di samping-menyamping tandu adalah para keluarga
Sultan, kecualiwanita, karena tak ada seorang pun wanita di
dalam seluruh iring-iringan panjang ini.
Barisan itu berjalan lambat-lambat meninggalkan
pelataran mesjid. Waktu buntut barisan telah hilang dari
pemandangan alun-alun yang luas itu tertinggal sunyi dan
sepi.
Seluruh Demak berada dalam suasana berkabung.
0o-dw-o0
Delapan minggu kemudian sekitar alun-alun menjadi
ramai kembali. Tidak tampak adanya suasana berkabung.
Gong dan canang bertalu-talu riuh-rendah menyerukan
kegembiraan. Sepasukan prajurit pengawal bertombak
berbaris keluar dari istana. Rakyat yang berada di alun-alun
bersorak-sorai menyambut. Mereka mengangkat tangan dan
selendang dan kerudung.
Di belakang pasukan pengawal nampak lagi tandu
bertenda putih dengan bola kayu keemasan di atasnya,
diapit oleh prajurit-prajurit pengawal berpedang terhunus.
Di belakangnya pasukan pengawal lagi. Kemudian barisan
dan barisan dan barisan. Semua menuju ke mesjid agung
Bintoro.
Alun-alun semakin lama semakin ramai. Orang
berdatangan tiada henti-hentinya. Dan di mana-mana
dipasang umbul-umbul berwarna-warni dan berwarna
ganda.
Begitu akhir barisan memadat di halaman mesjid, peluru
cetbang berledakan di udara. Kemudian tenang, dan tiada
antara lama kemudian membubung ucapan syukur di
udara: Alhamdulillah berkali-kali. Gong dan canang
semakin riuh.
Adipati Unus Jepara telah dinobatkan jadi Sultan
Demak.
Tandu meninggalkan mesjid dan memasuki istana.
Dengan bantuan dua orang Sultan Demak kedua
didudukkan di atas singgasana – ia tak mampu lagi
tegakkan badan tanpa bantuan. Serpihan-serpihan laras
cetbang yang belum dapat dicabut dari tubuhnya telah
membuatnya jadi cacad untuk selamanya.
Pada hari ia naik tahta dijatuhkannya titah memanggil
kembali semua musafir Demak. Mereka yang kebetulan
sedang berada di ibukota harus dipersiapkan untuk
menerima amanat sebelum mereka menuju ke daerah
pekerjaan masing-masing, dengan membawa cerita tentang
Demak yang lama dengan sultannya yang baru, dan –
kebijaksanaan baru.
Amanat itu kemudian ternyata diadakan di balairung
penghadapan. Isinya: Sultan Demak kedua berseru pada
seluruh penduduk di lawa untuk melawan Peranggi sebagai
musuh yang takkan dapat diajak Iyr baik. Sultan Demak
berseru pada raja-raja di Jawa dan di seluruh Nusantara
untuk bersekutu dalam pembiayaan dan usaha guna
membangunkan armada gabungan yang perkasa.
Sultan Demak kedua berseru agar para raja menentang
setiap kekuasaan yang mencoba bersahabat dengan
Peranggi dan agar mereka pun dianggap sebagai sekutu
musuh dan harus dihancurkan juga….
Tiada terkira terkejut orang mengetahui, sampai Sultan
baru itu dinaikkan lagi ke atas tandu, tak juga keluar titah
yang bersangkut-pautan dengan agama. Orang masih tetap
menunggu tanpa memberikan ulasan.
Maka para musafir mulailah bersebaran menuju ke
seluruh pelosok Jawa. Beberapa belas orang mancal dari
Jepara menuju ke seberang: Jambi, Aceh, Semenanjung,
sepanjang pesisir Kalimantan, Nusa Tenggara dan Maluku.
Di Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara dan Sumatera,
seruan itu membangkitkan harapan baru akan terjadinya
perbaikan pelayaran dan perdagangan sehingga kembali
seperti sebelum jatuhnya Malaka ke tangan Portugis. Dan
seruan itu terdengar begitu jantan, sehingga orang tak
pernah mengingat lagi, bahwa Sultan Demak baru adalah
seorang yang telah cacad, bahkan untuk tegak berdiri harus
dengan bantuan, dan tidak mungkin lagi tampil jadi
laksamana.
Bupati-bupati pesisir pulau Jawa yang lola tanpa
kekuasaan pusat pada memerlukan datang menghadap
menyatakan kesediaannya. Di antara mereka ada yang
menyanggupi balatentara. Beberapa yang lain menyatakan
berada di bawah perlindungan Demak tanpa dipukul
dengan perang.
Satu-satunya penantang Portugis telah marak jadi raja!
Kekuasaan mutlak telah ada di tangannya. Tak bisa lain,
orang harus mendengarkan setiap katanya. Ia memang
pernah dikalahkan Portugis, dan ia pun mengakui
kekalahannya, namun takluk ia tak pernah.
Titah yang kemudian menyusul lebih menggoncangkan:
segala dana dan daya di dalam kerajaan Demak, tanpa
kecuali, harus dikerahkan untuk membangun armada.
Pelabuhan Jepara dititahkan jadi pusat galangan kapal yang
paling sibuk dan paling besar di seluruh belahan bumi
selatan.
Akhir dari titah itu adalah pernyataan, bahwa ia telah
mendapat firasat takkan memerangi segala apa yang akan
dipersiapkannya, namun sisa kekuatannya sepenuhnya
akan dibaktikannya untuk kepentingan ini. Dan bahwa tak
ada orang akan merasa aman di belahan bumi selatan ini,
selama Peranggi masih bercokol di sini.
Kerajaan Hindu Giri Dahanapura Blambangan dan
Pajajaran membaui datangnya bahaya ini. Dengan serta
merta mereka berusaha lebih giat untuk mendapatkan
persahabatan dari Portugis di Malaka. Sebaliknya titah ke
dua itu juga menimbulkan perasaan kurang puas pada
Majelis Kerajaan. Mengapa di dalamnya tidak disinggungsinggung tentang kepentingan agama dan pengluasannya?
Dalam suatu penghadapan khusus mereka mendapatkan
jawaban yang tidak kurang kerasnya: “Bagaimana bisa hal
ini dipersembahkan? Bukankah sudah jelas Peranggi
mengancam apa yang telah Bapa-bapa Sunan yang
terhormat sebarkan di pulau Jawa ini? Dapatkah hasil
penyebaran dipertahankan, dapatkah pertumbuhannya
disuburkan, selama Peranggi masih mengancam?”
Jawaban itu menyebabkan Majelis Kerajaan ragu-ragu
terhadap kekhalifahan Sultan baru. Pertikaian baru terjadi
dalam tubuh Majelis yang mengancam terjadinya
perpecahan baru. Dan pertikaian itu memang tak pernah
terselesaikan. Seorang anggota, sebagai protes, telah
meninggalkan Majelis Demak untuk selama-lamanya,
mengutamakan perguruannya, dan menolak membicarakan
kebijaksanaan Sultan Demak baru sampai meninggalkan.
Titah Sultan yang ke dua itu bergema juga di Aceh,
melalui bandar Pasai. Dari Pasai sampai pada Portugis di
Malaka.
Pengalaman telah mengajarkan pada Portugis, belum
lagi Adipati Unus punya kerajaan telah berani jadi
penantangnya yang cukup berbahaya, bahkan nyaris
mengusir mereka dari Malaka. Sekiranya dahulu Malaka
jatuh, mereka sudah akan menjadi lemah dalam pelayaran
antara Goa dengan Maluku. Maka Demak terlalu
berbahaya. Ia tidak menggubris pendekatan Pajajaran dan
Blambangan. Diperintahkannya kapal-kapalnya menjauh
dari pesisir Jawa. Pelayaran ke Maluku dan Nusa Tenggara
harus lebih mendekati Kalimantan dan Sulawesi. Sedang
Blambangan dan Pajajaran dipergunakannya sebagai
sumber keterangan tentang kegiatan Demak.
Akibat titah ke dua. Laut Jawa terbebas dari kapal-kapal
Portugis. Pelayaran Pribumi mulai ramai kembali,
sekalipun masih ragu-ragu memasuki perairan Maluku dan
Nusa Tenggara. Beberapa orang pedagang telah melakukan
percobaan pelayaran ke Maluku dalam bentuk armada
dagang gabungan dengan mengibarkan bendera kuputarung Jepara. Mereka berhasil mendapatkan rempahrempah. Armada dagang gabungan lain-lainnya pada
meniru. Perdagangan dengan Maluku dan Nusa Tenggara
mulai hidup kembali. Arusnya memantai pulau Jawa, dan
tergabung dengan lada dari Sumatra Selatan arus itu makin
membesar, memantai Sumatra sebelah barat dan menuju ke
Teluk Bayur.
Seperti ditiup dari langit Teluk Bayur menjadi bandar
ramai, menghubungkan Atas Angin dengan Nusantara.
Arus yang menuju ke Pasai mulai mengendor.
Bandar-bandar di Jawa Utara mulai hidup kembali,
bernafas legapenuh pengharapan. Dan para pelaut seperti
digerakkan oleh persetujuan gaib mengakui. Unus berlidah
api. Baru kata-katanya, dan keadaan laut sudah mulai
berubah, apa pula nanti tindakannya!
Jepara tiba-tiba berubah jadi kota industri yang giat.
Tenaga ahli dari seluruh Jawa terhisap ke sini. Kotanya
melambung menjadi besar dalam hanya beberapa tahun.
Pasar-pasar diperbesar dan ditambah jumlahnya. Dan para
musafir semakin giat mengagungkan Demak dan rajanya.
Tetapi Demak sendiri juga terhisap oleh Jepara. Sejak
Sultan Demak baru ini, hubungan mesra antara Demak
dengan Semarang mulai retak. Demak berdiri sebagai
kerajaan bebas.
0o-dw-o0
Hanya Tuban belum juga bangun dari kemuramannya.
Kerusuhan di dalam negeri menyebabkan para saudagar
enggan menyinggahi. Tak ada sesuatu bisa diperoleh
dengan mudah dan murah di Tuban.
Bahkan para insinyur dan tukang kapal meninggalkan
negerinya mencari penghidupan di Jepara.
Armada dagang Tuban sendiri enggan kembali ke
pangkalan asal. Hanya benderanya, merah putih panjang,
masih dapat dilihat, di semua bandar, kecuali di Tuban
sendiri.
Novel Arus Balikk Bab 24 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.
Bagaimana alur cerita dari novel Arus Balik Bab 24 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua.
Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.
Untuk membaca Novel Arus Balik bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.
Komentar
Posting Komentar