Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 23 Disini
Novel Arus Balik bab 23 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Arus Balik menceritakan tentang kisah Kedatangan Portugis di Bumi Nusantara dengan latar awal Abad XVI, yaitu ketika surutnya pengaruh Majapahit dan naiknya pamor Kesultanan Demak.
Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Arus Balikk Bab 23 Bahasa Indonesia Sekarang ini.
23. Idayu Jadi Sandera
Bayi itu belum lagi bernama. Ayahnya belum lagi
melihat dan menjenguknya. Ia pun belum lagi bisa
menelungkup. Baru belajar miring.
Setelah melahirkannya Idayu merasa sangat berbahagia.
Bayi ini tidak seperti Gelar. Wajahnya cerah seperti
ayahnya dan hidungnya seperti ibunya.
Setiap han penduduk desa ada saja yang memerlukan
datang untuk menjenguk dan untuk ikut merawat. Semua di
antara mereka tahu belaka: ayah si bayi itulah sekarang
Patih Senapati Tuban. Maka kebesaran pun sudah mulai
dipersembahkan kepada sang bayi.
Tidak lain dari kepala desa itu juga yang paling gopohgopoh mengurus kesejahteraan dan kebutuhan si ibu dan
anaknya. Dan semua itu disambut dengan kewaspadaan
oleh Idayu.
Dan tidak lain dari kepala desa itu juga yang sering
menebah di hadapan orang-orang lain, kalau bukanlah
karena kebijaksanaannya mengirimkan Idayu dan Galeng
ke kota, tak bakal mereka menaiki kemuliaan setinggi itu.
Kebahagiaan meliputi hati Idayu. Bayi itu adalah
segalanya.
Dan datanglah satu regu prajurit, yang dengan sopannya
memberitahukan: atas perintah Sang Patih Senapati Tuban,
Idayu dan anaknya dan Nyi Gede Kati harus diboyong dari
Awis Krambil ke Tuban Kota; anakbuah Sunan Rajeg telah
bersebaran di mana-mana; mereka bertiga harus
diselamatkan.
Di bawah kesaksian seluruh desa dan orang tuanya
mereka berangkat meninggalkan Awis Krambil: Idayu
dengan menggendong si bayi, Nyi Gede Kati yang
membawa popok bayi dan menggandeng Gelar. Barangbarang lain diangkat oleh prajurit-prajurit. Mereka berjalan
pelan-pelan.
Baik Idayu maupun Nyi Gede Kati merasa was-was
terhadap panggilan ini. Semestinya Sang Patih Senapati
Tuban mengirim tandu untuk seorang wanita yang baru
melahirkan. Tapi mereka tak bertanya.
Tiga buah desa telah dilewati. Kepala regu penjemput,
yang tak pernah menawarkan jasanya itu menyuruh Nyi
Gede Kati melangsungkan perjalanan ke Tuban.
“Sendirian?”
“Tidak, dengan segala bungkusan yang kau bawa itu,
tapi tanpa anak yang kau tuntun itu”.
“Bagaimana dengan Nyi Gede Idayu nanti?”
“Begitulah perintah Senapati”.
“Biar aku bawa Gelar”.
“Tidak, jalan kau sendiri”.
Ia tak meneruskan jalan, berhenti mengawasi Idayu dan
Gelar dan si bayi membelok ke kanan dalam iringan regu
penjemput. Ia tetap berdiri di situ sampai mereka hilang di
kejauhan, baru kemudian meneruskan perjalanan seorang
diri.
Wanita yang baru melahirkan menggendong bayi,
membawa bungkusan dan menggandeng Gelar itu tidak
diperkenankan beristirahat.
Idayu mulai curiga.
Bayi itu pun tak boleh disusuinya.
Gelar sudah mulai lelah, tidak boleh beristirahat, dan
antara sebentar minta digendong. Dan tak ada seorang pun
di antara regu penjemput itu mengulurkan tangan
penolongnya.
Tahulah ia sekarang, ia telah jatuh ke tangan musuh
suaminya. Ga-leng takkan mungkin memperlakukan
keluarganya seperti ini.
Ya, Dewa Batara, pintanya dalam hati, selamatkan aku
dari pendarahan, kuatkan aku, selamatkan anak-anak ini.
Dan makin lama Gelar makin sering minta digendong.
Dengan dua gendongan dan satu bungkusan ia berjalan
pelan-pelan ke tempat yang ia tidak tahu.
“Ke mana kami akan dibawa?” sekali ia memberanikan
diri bertanya.
“Ke mana? Ke suatu tempat di mana Wiranggaleng akan
datang dan menemui matinya,” jawaban yang cukup
menyakitkan dan kurangajar sekaligus. Setelah itu ia tak
bertanya lagi.
Menjelang tengah malam setelah melalui banyak desa,
barulah perjalanan sampai ke tujuan. Ia dan anak-anaknya
dimasukkan ke dalam sebuah rumah, tanpa pelita, dan
pintu dipasak dari luar.
Dengan menggerayang-gerayang ditemukannya ambin
tak bertikar, di situ ia letakkan anak-anaknya dan mulai
menyusui anaknya sambil memijiti kaki Gelar. Ia sudah tak
dengar mereka menangis lagi seperti di perjalanan. Kakinya
sendiri terasa sesak dan tangannya lebih-lebih lagi.
Bangun pada keesokannya ia lihat anak-anaknya masih
tidur. Ia duduk dan memandangi mereka. Lubang-lubang
pada dinding bambu itu cukup terang. Ia rasai tangan dan
kakinya masih juga sesak dan pegal.
Sinar pagi yang mendadak jatuh dari lubang pintu
membuat ia menggerayap menghadapi pintu dan bersiaga.
Di lubang pintu itu berdiri Sunan Rajeg alias Kiai Benggala
alias Rangga Iskak alias Iskak Indrajit.
Seakan melihat maut yang datang mengancam secepat
kilat ia ambil bayinya dan didekapkannya pada dada.
Dengan punggung melindungi Gelar yang masih nyenyak
dalam tidurnya ia hadapi pendatang itu. Tak dirasainya lagi
bajunya telah basah diompoli bayinya.
“Ah, ah, si Upik!” tegur Sunan Rajeg dengan senyum
menggigit, “lama nian sudah aku tunggu kau. Jangan
gugup. Jangan takut. Mengapa bangkit berdiri dan siaga?
Kau dan kalian masih lelah. Tidurkan bayimu. Apa kau
kira aku hendak terkam bayi itu atau dirimu? Cukup
kiranya bila kau tahu siapa aku. Siapa aku, hai
perempuan?”
Kata-kata itu agak melunakkan kecurigaan Idayu:
“Tidak tahu,” jawabnya pendek.
“Astagafirullah. tidak tahu! Tak pernah kau melihat tuan
Syahbandar Tuban?”
‘Tuan Syahbandar Sayid….”
“Sayid Sayid!” lelaki itu melecehkan. “Dari mana
sayidnya si iblis itu? Ya, tentu dari iblis dan setan laknat
juga. Jangan sebutkan dia seperti itu lagi di hadapanku,
Idayu.”
Suaranya membangunkan Gelar. Anak itu berdiri di atas
ambin, berteriak ketakutan.
Idayu menengok ke belakang sejenak untuk
menenteramkan anak itu dengan memberikan
punggungnya.
Gelar mengerti, menempel pada punggung itu, memeluk
leher ibunya dan mengintip Sunan Rajeg dari samping leher
ibunya. Dan ia tetap berdiri di atas ambin.
“Mengapa pada takut padaku? Apakah aku kelihatan
menakutkan?” orang itu bertanya. “Kau sendiri juga takut,
Idayu. Hei, apakah kau tak pernah dengar nama Sunan
Rajeg di desamu Awis Krambil? Inilah aku, Idayu”.
Idayu tak menanggapi kata-katanya. Mengetahui itu ia
justru menajamkan kewaspadaan dan mengikuti gerak-gerik
tangannya..
Dan bayi itu mulai menangis lapar, tapi ia tak
menggubrisnya, juga tak mendiamkannya. Matanya tetap
tertuju pada tangan Sunan Rajeg.
“Kau, Upik, siapa tidak tahu kau? Juara tari tiga kali
berturut pujaan Tuban. Di sini, Idayu, kau bukan pujaan
siapa pun. Kau, isteri satu-satunya Wiranggaleng”.
Ia menunggu sambutan. Idayu tetap membisu.
“Mengapa diam saja? Masih takut?” melihat wanita itu
tak juga menjawab sekilas wajahnya dijalari oleh darah
kemerahan karena tersinggung. “Tahu kau mengapa di
sini?” ia belai-belai jenggot untuk menyalurkan
kemarahannya.
Jenggot itu tebal dan keriting dengan sulaman uban yang
mulai membanyak.
Mengetahui Idayu tak juga bicara ia meneruskan dengan
gaya pemain panggung: “Bukan salahku, kau didatangkan
ke mari. Suamimulah yang memaksakan keadaan ini.
Suamimu Wiranggaleng, si anak desa tak tahu di untung
itu, mengangkatkan diri jadi Patih dan Senapati Tuban.
Bukan karena pengangkatannya itu ia sendiri menyusahkan
aku Idayu, tapi asalnya! Asalnya! Karena bukan ningrat,
hanya anak desa, tak pernah belajar keprajuritan, mendadak
jadi Senapati, tak tahu aturan dan cara-cara perang, maka
perangnya ngawur serampangan, tak dapat ditebak apa
maunya. Mengerti kau?”
Gelar mengendorkan pelukannya pada leher ibunya. Si
bayi menggerayangkan tangan pada dada Idayu.
Sunan Rajeg tetap mengawasi wanita itu dan
meneruskan dengan nada menurun seakan mengharapkan
simpati yang ikhlas.
“Maafkan aku. Bukan maksudku menyusahkan kau.
Percaya sajalah. Kau anak desa, istri tunggal, suamimu
akan datang menjemput, dan kau dan anak-anakmu akan
kulepaskan, akan diantarkan secara baik-baik kembali ke
Tuban. Sekiranya kau dulu memilih jadi selir, memang
semua tidak akan begini jadinya, Idayu”.
Gelar mengintip Sunan Rajeg dari balik tengkuk ibunya.
Baru sekarang geraknya menarik dan ia mengalihkan
perhatian pada anak itu.
Suaranya menaik lagi dengan telunjuk pada Gelar:
“Mengapa anak itu tak ada kesamaannya dengan Galeng?
Ah, Kau. Idayu pujaan Tuban. Lepas dari Sang Adipati
jatuh ke dalam terkaman si Habibullah keparat itu”.
Ia diam memperhatikan Gelar yang sekarang mencoba
menyembunyikan diri lagi di balik tubuh ibunya. Sunan
Rajeg tertawa menggigit dan mengejek: “Kau layani dua
lelaki, Idayu! Tak salah lagi. Hidungnya sama bengkuknya,
matanya, rambutnya yang agak keriting. Hah! Mukanya
sama tipisnya. Kulit kehitaman. Sama sekali tak dapat
dikatakan coklat. Kehitaman! Tepat. Ai, si Habib cilik: Kau
memang layani dua pria! Yang satu begundal Peranggi,
yang lain anak dungu begundal munafik” Tak tahan lagi
Idayu mendengar tusukan kata-katanya. Ia hanya
menunduk, makin menunduk. Kedua orang anaknya harus
selamat. Maka penghinaan sekeji-kejinya pun akan
diterimanya dengan menunduk.
“Malu? Pura-pura malu?”
Dengan menahan kesakitan hati pelan-pelan ia angkat
kepalanya. Ia pandangi Sunan Rajeg, berkata lembut,
seakan tiada terjadi sesuatu dalam hatinya: “Suamiku
sendiri. Sunan, tak pernah mengejek dan menggugat seperti
itu”.
“Karena dia dungu. Sedikit saja cerdik… takkan lama
kau menghirup udara. Cukup lama aku tinggal di Tuban.
Aku tahu gelagak darah pria Tuban. Dan si dungu itu,
kalau bukan karena dungunya, dia takkan mungkin berani
mengangkat diri jadi Senapati. Sekarang dia jadi penghalangku yang satu-satunya tak ada duanya di atas bumi
selatan ini”.
“Ya, Sunan. Si dungu itu suamiku. Senapati Tuban,”
Idayu berkata lambat-lambat dan hati-hati untuk tidak
menakutkan Gelar, dan bangga ia istri Wiranggaleng.
“Dan kau perempuan tidak setia. Betapa banyak
ragamnya.”
“Hanya suamiku yang menilai diriku”.
“Suaminya dungu, istrinya tidak setia. Serasi. Istri tidak
setia patut bangga pada suaminya yang dungu”.
“Kalau yang menilai itu Wiranggaleng, Sunan,” Idayu
berkata lebih lunak lagi. “Wiranggaleng Senapati Tuban,
tentu akan lain artinya. Selama orang lain yang menilainya,
terserah. Setiap orang memang menilai setiap orang”.
“Kau memang bijaksana, perempuan!” Sunan Rajeg
tertawa mengejek, “menyerahkan penilaian pada suami
dungu. Kau bijaksana,” ia berkecap-kecap senang, “seperti
dalam dongeng, Idayu. Tapi biarlah, justru karena suamimu
memuja kau, seperti orang-orang gila lainnya itu, pasti dia
akan datang kemari. Dia musuhku”.
“Ya, Sunan.”
“Tak ada yang menyebut aku Sunan – Kanjeng Sunan.”
“Ya, Kanjeng Sunan”.
“Kau masih seperti anak desa yang tak tahu bahasa
kadipaten. Baiklah. Kau sendiri memang bukan musuhku.
Apalagi anak-anakmu. Jangan buang airmata di
hadapanku. Iba hatiku melihat istri seorang Senapati
menangisi suaminya. Sia-sia saja sebanyak apa pun airmata
itu, penari agung. Sayang di sini tarianmu tiada harga.
Hanya tubuh yang harus bergeol-geol di hadapan bukan
muhrim”.
Idayu dapat mengerti mengapa ia dihina seperti itu
sebagai istri Senapati Tuban. Itu sudah sewajarnya. Tapi
hatinya sakit karena hal yang lain: penghinaan terhadap
tariannya. Guru-gurunya telah membikin ia jadi seorang
penari ulung, berhasil memenangkan tiga kali kejuaraan
berturut. Seluruh Tuban mengakui, mengapa orang yang
satu ini justru menghinanya?
Dan kedua belah tangannya sudah pegal dari
menggendong kemarin dan sekarang ia masih juga
tahankan sekuat daya agar bayi itu tak jatuh dari dekapan.
“Apa aku bilang? Tak ada airmata berharga di
hadapanku. Istri seorang musuh bukanlah musuh, apalagi
bayi dan bocahnya. Aku tahu aturan, Idayu, bukan kafir
jahiliah”.
Ia panggil beberapa orang yang datang berdiri di
belakangnya. “Lihat, ini Idayu, istri Wiranggaleng, istri
tunggal si anak desa dungu dan celaka itu. Ingat-ingat,
karena dia hanya anak desa dan tetap anak desa, maka istri
cuma satu. Berulangkah kukatakan pada kalian: ningrat
Jawa tak pernah punya kesetiaan pada istri dan anakanaknya, tapi istri dan istri-istrinya harus selalu setia mutlak
padanya. Ningrat Jawa tak mengenal kesetiaan dan
kecintaan pada apa dan siapa pun, juga tidak pada anakanak sendiri. Mereka tak lain daripada merak jantan,
kesibukannya hanya mengigal mengagumi dirinya sendiri.
Mengerti?”
“Sahaya, Kanjeng Sunan.”
“Barang siapa tak kenal kesetiaan dan kecintaan,
dikodratkan untuk menjadi budak dari kehawanafsuan, dari
orang-orang yang lebih kuat daripada yang punya hawa
nafsu yang lebih besar lagi. Begitu ningrat Jawa, begitu pula
nasib Jawa. Masih ingat kalian pada kata-kataku itu? Kita
sudah bertekat untuk mengubah nasib Jawa agar tak jadi
seperti itu, tapi sesuai dengan ajaran, larangan dan
petunjuk”.
Kemudian kata-katanya dialihkan lagi pada Idayu:
“Bukankah sudah aku katakan padamu? Jangan menangis.
Suamimu akan terpanggil kemari karena kesetiaannya
padamu. Apa keberatannya sekarang, Idayu?”
“Apakah yang akan kukatakan? Sudah sejak semula aku
hanya ditipu untuk datang kemari”.
“Tidak. Kau bukan ditipu untuk datang kemari. Jangan
salah. Ini hanya muslihat perang.”
“Kalau itu hanya urusan perang, apa gunanya aku
ditanyai?”
“Diam!” bentak Sunan Rajeg. “Kau tak juga mau
mengerti siapa yang kau hadapi”.
Idayu menunduk, mengetahui tak ada gunanya bicara.
“Mengapa diam? Siapa yang kau hadapi” Idayu tetap
membisu. “Siapa?!” bentaknya lagi.
Dan Idayu tak juga membuka mulut. Suaranya
kemudian merendah jadi gerutu. “Betapa banyak orang
yang kutolak permohonannya untuk menghadap?
Semestinya kau bangga aku ajak bicara”. Dan suaranya
menaik lagi. “Siapa sedang kau hadapi sekarang?”
“Sunan Rajeg.”
“Kanjeng Sunan Rajeg,” Rangga Iskak membetulkan.
“Kanjeng Sunan Rajeg.”
“Betul. Siapa lagi?”
“Musuh suamiku seperti kata-katamu sendiri”.
“Diam kau, perempuan perbegu! Tak ada gunanya
keangkuhan itu di hadapanku”.
“Ampunilah aku bila itu suatu keangkuhan.”
“Ya, itulah keangkuhan.”
“Guru-guru mengajarkan pada kami sikap tahu harga
diri dan kehormatan diri”.
“Di mana harga dan kehormatanmu? Terlalu banyak
disanjung orang, ya? Maka di hadapan Sunan Rajeg juga
minta disanjung? Apa modalmu untuk angkuh di
hadapanku? Tarianmu tak ada harganya di sini. Juga tidak
untukku. Gamelan tak punya bunyi di sini, bisu, hanya
barang-barang kafir tiada harga. Tak pernah tersebut dalam
ajaran. Sombong, akui, ya? bicara tentang kehormatan dan
harga diri. Apa artinya anak Habibullah keparat itu? Semua
sudah terjadi dan terbukti. Semestinya aku suruh bunuh
anak haram itu di wilayah kekuasaanku. Bahkan
perkawinanmu pun tidak sah. Tapi tidak aku anggap kalian
anak-be-ranak sebagai tamuku. Tak layak kau bersikap
angkuh seperti itu. Kalian anak-beranak berhak makan
garamku. Semua orang di sini tahu aturan, tahu suruhan
dan larangan. Penjaga-penjaga di sini akan menjaga
keselamatan dan keamananmu sampai suamimu datang
menjemput. Apa kurangnya aku sebagai tuan rumah maka
kau seangkuh itu? Di sini takkan ada seorang pun dihukum
tanpa dosa atau tanpa pemeriksaan yang betul dan
pengadilan yang adil”.
“Kalau harga diri dan kehormatan diri di hadapan
Kanjeng Sunan Rajeg berarti keangkuhan, memang tak
perlu lagi aku bicara”.
“Jih! Dasar kafir turunan kafir!”
Ia tinggalkan rumah itu bersama pengiring-pengiringnya
dan pintu kembali dipasak dari luar.
Setelah mereka pergi Idayu baru sadar, di atas ambin
telah tersedia nasi dan lauk pauk secukupnya dan gendi
minum dan pasu kayu berisi air.
“Tidak ada apa-apa, Nak,” katanya pada Gelar dan
disusuinya anaknya yang kecil. ”Makanlah. Apakah emak
harus layani?” ia melayani Gelar sambil menyusui.
Ia mempunyai alasan untuk takut. Dan ia tak perlihatkan
kepada anaknya. Ia tak ingin kepercayaan anaknya pada
dirinya sebagai pelindung tergoncang. Mereka justru
memerlukan perlindungannya pada saat seperti ini.
Tidak lebih dari seminggu kemudian terdengar bunyi
kentongan dan bedug bertalu-talu menerobos celah dindingdinding bambu masuk ke dalam rumah itu.
Idayu duduk di atas ambin mendengarkan. Si bayi
berkicau di tengah-tengah ambin dengan Gelar sedang
mencium-cium kakinya yang kecil. Ia sedang mengucapkan
syukur pada para dewa telah terlindungi dari pendarahan.
“Apa yang ramai itu, Mak?” Gelar bertanya.
Idayu mulai memperhatikan keriuhan itu.
Tak lama kemudian terdengar langkah orang berlarian di
depan rumah, makin lama makin banyak.
“Siapa pada lari itu, Mak?”
Suara orang berlarian itu berhenti.
“Tak ada apa-apa, Gelar. Mainlah lagi dengan adikmu”.
Sekarang terdengar lagi bondongan orang berjalan
bergegas, juga terdengar suara kanak-kanak, juga bayi yang
menangis dibawa lari. Dari suara mereka terdiri dari
berbagai kelamin dan umur. Suara-suara itu kemudian
berkurang. Kemudian terdengar suara seorang nenek yang
tak dapat lari, hanya melangkah lambat-lambat: “Cepat,
Yung, jangan terlambat.”
“Ya, lebih cepat, kalau tidak, binasa kau,” suara seorang
lelaki dewasa yang melewatinya.
Tertarik oleh suara-suara itu Idayu meninggalkan ambin,
mendekati dinding depan dan mencoba mengintip.Dari
lubang dilihatnya orang berduyun-duyun membawa harta
bendanya yang terbungkus dalam kain tenun atau kain batik
coklat atau biru berbunga-bunga, dan bayi-bayi pada
digendong dan bocah-bocah pada ditarik-tarik dalam
gandengan.
Seorang wanita muda dilihatnya menyisih dari
rombongan dan berhenti di depan pintu. Terdengar olehnya
ia bertanya pada udara kosong di hadapannya: “Mengapa
mesti berlari-lari begini? Gusti Adipati raja kita, tak
mungkin kawulanya dibunuh tanpa dosa”.
Nampaknya ia tak mendapat jawaban atas
pertanyaannya sendiri, kemudian menggabungkan diri
dengan yang lain-lain, juga lari.
Kentongan dan bedug telah berhenti bertalu.
Sekarang nampaknya olehnya seorang tua berjalan
terengah-engah melalui depan rumah, mengeluh seorang
diri: “Mengapa mesti ikut lari? Apa dosaku?” ia berhenti
lagi untuk mendapatkan nafasnya kembali, kemudian
meneruskan jalan dengan pelan-pelan.
Seorang bocah menjerit-jerit memanggil ibunya tanpa
mendapat jawaban. Dan bocah itu lari terus.
Seorang ibu yang nampaknya habis melahirkan berjalan
terlalu lambat seperti keong. Bayinya ia gendong pada
dadanya tanpa dengan selendang. Matanya tidak melihat
pada jalanan, hanya pada anak dalam gendongan, dan dari
mulutnya keluar keluh dan umpatan, kemudian: “Nasibmu,
Nak, nasibmu. Bapakmu tewas entah di mana. Lahirmu tak
ditungguinya. Terkutuk mereka yang bikin gara-gara ini.
Terkutuk sekarang dan kemudian”.
Ia tak kuat meneruskan jalannya, berbelok ke kiri dan
berhenti di depan pintu, lambat-lambat duduk bersandar
pada daun pintu.
Idayu tak dapat melihatnya lagi.
“Ada apa, Mak?” tiba-tiba Gelar bertanya dari belakang.
Ibu muda yang nampaknya baru melahirkan itu kini
memperdengarkan suaranya lagi: “Ada orangkah di situ?
Mengapa pintu dipasak dari luar?”
Idayu menutup mulut Gelar dengan tangannya. Dan
terdengar lagi suara ibu muda itu: “Ijinkan aku masuk.
Tolonglah aku!”
Idayu tak menjawab, malah memberi isyarat pada
anaknya agar tak bersuara.
“Ah, keterlaluan!” sebut ibu muda itu dari luar. “Jaman
sekarang orang sudah tak mampu menolong yang lain.
Siapakah di dalam situ? Tolonglah aku. Aku sakit. Belum
seminggu aku melahirkan”. Terdengar orang itu
mengerang.
“Ah, dipasak mati dari luar begini”. Kemudian katakatanya jadi singkat-singkat, terkejut. “Ya Allah, ya Dewa
Batara, pendarahan! Mati aku, Nak, kalau begini. Siapa
mesti rawat kau nanti?” ia menangis ter-hisak-hisak. Idayu
menarik Gelar, dibawanya naik lagi ke ambin. Tak
disadarinya airmatanya menetes untuk ibu muda yang
kapiran itu. Dengan diam-diam ditariknya bayinya dan
disusuinya. Tidakkah nasib ibu muda itu akan menimpa diri
dan anak-anaknya ini? Tangannya yang lain kini menggapai
Gelar dan merangkulnya, kemudian menciumnya. “Emak
menangis, Mak,” bisik Gelar, dan ia seka airmata ibunya.
Masih juga dapat didengar perempuan di luar itu mencoba
membuka pasak. Tersusul kemudian oleh suara seorang
lelaki yang berseru-seru dari sesuatu jarak: “Jangan ganggu
pintu itu!”
Keributan makin lama makin susut. Juga tak terdengar
ibu muda itu mencoba membuka pasak. Mungkin telah
pergi menyingkir dari depan pintu itu. Dan waktu si bayi
dan Gelar telah tertidur, ia turun lagi dari ambin dan
mengintip. Keadaan telah lengang. Tak seorang pun
nampak. Balik lagi ke ambin ia ciumi Gelar, satu-satunya
orang selama hari-hari belakang ini dapat diajaknya bicara.
Anak itu terbangun, kemudian juga adiknya.
“Ada apa, Mak?”
‘Tak ada apa-apa. Gelar. Barangkali saja bapakmu akan
datang”.
“Bapak, Mak?”
“Bapakmu, ya. Barangkali membawa balatentara yang
sangat banyak”.
Gelar turun dari ambin dan lari ke dinding untuk
mengintip. Bayi itu menangis, dan Idayu menyusuinya lagi.
“Kembali, Gelar, sini saja dengan emak”.
Terdengar suara beberapa orang lelaki. Gelar lari dari
dinding dan mendekati emaknya. Suara mereka semakin
mendekati pintu.
“Siapa itu, Mak?”
“Stt,” Idayu menarik mukanya dari pintu. “Ya Dewa
Batara”, bisiknya berdoa, “datanglah kau, Kang,
selamatkan anak-anak ini”.
Pasak pintu terdengar diangkat orang dari luar. Dan
pintu itu terbuka.
Idayu tetap tak melihat ke arah pintu. Hanya Gelar
mengawasi pendatang-pendatang baru berpakaian serba
putih, bertombak dan berpedang.
“Mari,” kata salah seorang di antaranya, “mari kami
antarkan Mbok-ayu ke tempat lain”.
Idayu turun dari ambin. Bayi itu digendongnya, dan
Gelar digandengnya.
“Mari, Mak, kita pergi,” dan tak diteruskannya
mengatakan: pergi untuk selama-lamanya.
Sekilas ia melihat lelaki yang bicara itu muda, tinggi
semampai, berkumis tanpa jenggot, dan ganteng, kulitnya
berminyak. Ia menunduk dan melangkah meninggalkan
rumah.
Inilah hari terakhir, pikirnya, dan berkata pada Gelar:
“Lihatah semuanya, Nak, lihat baik-baik, pepohonan,
rumah-rumah, langit di atas, sana orang-orang, dan jangan
lupa lihat dulu ibumu ini,” ia berjongkok untuk dapat
dilihat oleh anaknya.
“Mengapa harus dilihat semua, Mak”.
“Biar kau akan selalu ingat di kemudian hari, Gelar”.
“Ke sebelah sini, Mbokayu”, orang muda itu berkata
lagi.
Dengan Gelar dalam gendongan dan si bayi dalam
gendongan ia membelok. Orang-orang lelaki berpedang dan
bertombak di belakangnya mengikuti dengan diam-diam.
Suara pemuda itu membangkitkan kenang-kenangan
yang indah, jauh, samar, dalam ingatan Idayu. Siapakah
yang pernah memanggilnya Mbokayu dengan suara seperti
itu? Seindah dan mengandung perasaan seperti itu?
Jantungnya berdentaman. Dan tetap ia tak dapat
mengingat. Lagi pula apalah gunanya mengingat-ingat
sesuatu dalam sisa hidup yang terlalu pendek ini? Mereka
telah datang untuk menghabisi istri dan anak musuhnya.
Novel Arus Balikk Bab 23 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.
Bagaimana alur cerita dari novel Arus Balik Bab 23 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua.
Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.
Untuk membaca Novel Arus Balik bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.
Komentar
Posting Komentar