Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 21 Disini

Novel Arus Balik bab 21 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Arus Balik menceritakan tentang kisah Kedatangan Portugis di Bumi Nusantara dengan latar awal Abad XVI, yaitu ketika surutnya pengaruh Majapahit dan naiknya pamor Kesultanan Demak.

Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Arus Balikk Bab 21 Bahasa Indonesia Sekarang ini. 

21, Keributan di Bandar Tuban

Hari ini warung Yakub nampak terbuka. Langganannya

hanya seorang: Tholib Sungkar Az-Zubaid Syahbandar

Tuban. Ia duduk di pojokan mencangkungi cawan arak.

Yakub sendiri di seberang meja dengan mata tak tenang,

berdiri dengan diam-diam, bukan karena menunggu

langganan yang tak kunjung datang.

“Yakinkah tuan kita masih selamat dan tetap akan

selamat?” tanyanya dengan nada keluh tanpa kepercayaan

diri.

“Pertanyaan bodoh. Bukankah semua orang tahu,

Syahbandar Tuban ini selalu berada di kadipaten?”

“Syukurlah, Tuan. Jadi sepulang sahaya keadaan masih

tetap aman buat si Yakub ini?”

“Lebih aman daripada di pangkuan ibumu sendiri.”

“Sahaya lebih suka berlayar lagi, Tuan. Bagaimanapun

sahaya tak merasa aman lagi. Sekiranya sudah, tuan

siapkan surat balasan itu…” 

‘Tak ada surat balasan Yakub”.

Yakub duduk sambil menghembuskan nafas keluh. Dan

Tholib Sungkar tak mempedulikannya. Mereka duduk

diam-diam mengikuti pikiran masing-masing.

“Ya, memang terlalu sepi,” Syahbandar membenarkan

keluhannya. ‘Tapi kau hidup dari air dan dari darat, dari

tuak, arak dan penipuan.”

“Ah, Tuan Syahbandar Tuban, hanya untuk jasa-jasa

tuan si Yakub celaka ini beberapa kali harus meloloskan diri

dari maut dengan pertolongan Allah saja.”

“Cukup baik. Tuban takkan melupakan jasa-jasamu.”

“Bagaimana jadinya bandar ini. Tuan?”

“Seperti kau tak tahu saja. Sebentar lagi akan ramai

kembali.”

“Seperti kuburan begini sepinya, Tuan. Tak mungkin

hanya Tuan dengan Yakub menghabiskan arak ini.”

“Kau belum lagi bercerita, Yakub.”

“Hanya satu yang sahaya dengar di Blambangan sana.

Katanya Peranggi sudah menaklukkan sebuah pulau di

Nusa Tenggara sana”.

“Dia bisa lakukan apa saja yang dia kehendaki. Kira-kira

karena kapal-kapal Gresik terlalu berani menerobos ke

Maluku – pedagang-pedagang rakus yang bodoh itu. Kalau

Peranggi membuka pangkalan baru di Nusa Tenggara, tentu

untuk menghadapi mereka yang gegabah itu. Dan aku kira

bukan hanya satu, tapi sudah banyak pulau yang

didudukinya”.

“O, itu mulai kelihatan orang berdatangan,” seru Yakub

pelahan, tapi dari nada suaranya tetap terdengar

kegelisahan hatinya. 

Tholib Sungkar menengok ke arah jalan raya. Dilihatnya

orang-orang itu berjalan menuju ke bandar tanpa menengok

ke arah warung.

“Tak ada yang singgah ke mari nampaknya.”

“Kelihatan makin banyak saja yang datang, Tuan. Ada

apa gerangan?”

Tetapi Tholib Sungkar Az-Zubaid sudah mencangkungi

cawannya lagi, berkata: “Ada apa? Takkan ada apa-apa.

Orang-orang bodoh itu. Tak tahu apa bakal terjadi.”

“Hampir sama dengan hewan,” Yakub membenarkan.

“Perbedaannya sudah nampak sebagai cetbang dengan

meriam. Kau sudah lihat sendiri meriam itu, kan? Ya

begitulah cetbang, dan begitulah meriam,” Syahbandar

Tuban menggeserkan tongkat dari tangan untuk bertepuk

senang. “Rajanya dungu rakyatnya pandir. Satu kitab pun

tak pernah ditulis. Kerajaan kecil dungu begini tidak berhak

hidup di jaman meriam ini, Yakub.”

“Memang meriam saja yang menentukan dunia sekarang

ini, Tuan. Dan bangsa-bangsa dari utara sana akan selalu

berada di atas mereka kelak, Tuan. Minum, Tuan araknya.”

Syahbandar Tuban meneguk. Yakub kembali

memperhatikan orang-orang yang makin banyak juga

menuju ke bandar.

“Dan biadab!” Syahbandar menambahi. “Arakmu cocok

sekali hari ini”.

“Untuk Syahbandar Tuban terbaik, arak terbaik.

Memang biadab. Tuan 1 Sang Patih, Tuan, orang ke dua,

dibunuh begitu saja. Mayatnya dibiarkan menggeletak

busuk di alun-alun, dirubung lalat, burung, dan dirobek-

robek anjing. Dan tiada seorang Islam pun memeliharanya.

Dan mereka mengaku Islam pula, Tuan.”

“Sudah selayaknya… orang-orang jahil, bodoh itu.”

“Tahukah Tuan, cetbang-cetbang dipasang di sekeliling

bandar, di balik semak-semak?” tiba-tiba Yakub

mengalihkan percakapan.

“Siapa yang tidak tahu? Uh, apa artinya cetbang?”

“Sahaya kuatir, Tuan. Keadaan begini sunyi. Sahaya

lihat sendiri kapal-kapal perang Tuban pada berlabuh di

Gresik. Orang-orang Gresik pada bernafsu untuk

menyewanya ke Maluku.”

“Tentu tak ada yang menyewakan.”

“Memang tak ada, Tuan.”

‘Tuban hanya menunggu giliran saja. Yakub. Apa lagi

yang kau kua-tirkan?”

“Boleh jadi Demak sana membantu.”

Mula-mula Yakub hendak menuntut upah untuk

keterangannya. Tak jadi. Kegelisahan sendiri dan

keamanan yang tergantung pada jaminan Tholib Sungkar

Az-Zubaid menyebabkan ia mengendalikan diri. Kemudian

memulai dengan ragu-ragu.

“Di Jepara sedang terjadi sesuatu, tuan.”

Syahbandar Tuban itu pura-pura tidak berminat, tetapi

matanya yang bulat itu melirik sekejab di bawah keningnya.

‘Tentu saja,” sambutnya tak peduli untuk mencegah

keluarnya upah. “Masa seorang Syahbandar bisa tidak

tahu? Lagi pula kau sudah terlalu banyak mendapat uang

dari pundi-pundiku,” katanya lagi pura-pura tidak tertarik. 

“Biar pun sahaya sudah banyak menerima dari Tuan.

Biar pun Tuan sudah tahu, rasa-rasanya…,” akhirnya

Yakub tak dapat menahan nafsu untuk mendapat upah

juga, “rasa-rasanya Tuan perlu juga mengeluarkan barang

sereal. Tidak. Tidak rugi Tuan. Yakub tak pernah

merugikan orang.”

“Jangan terlalu rakus, Yakub,” Syahbandar menasihati,

“katakan saja apa yang kau ketahui. Barangkali tidak cocok

dengan yang kuketahui dengan sebenar-benarnya.”

Suatu keributan menghentikan pembicaraan. Yakub

berdiri dan gugup. Tholib Sungkar meneguk arak.

“Apa itu. Tuan Syahbandar?” mata Yakub menjadi liar.

“Lihat, Tuan,” ia menuding ke jalanan. Berdua mereka

keluar dari warung dan melihat kuncir Liem Mo Han di

balik punggung, juga berjalan ke arah bandar.

“Masyaallaaaaah!” teriak Syahbandar waktu dilihatnya

sebuah kapal Peranggi telah berlabuh dan mengikatkan tali

pada patok dermaga. “Sudah gila penunggu menara itu!”

teriaknya dan lari tertatih-tatih seperti orang gila menuju ke

pelabuhan.

Berpuluh-puluh orang tak dikenal telah padat memenuhi

dermaga. Dan Syahbandar Tuban tak dapat melihat apa

yang sedang terjadi di antara padatan orang itu dengan

kapal. Ia hanya dapat berteriak-teriak di belakang padatan

untuk minta jalan. Di depannya orang berteriak-teriak lebih

keras lagi. Ia mencoba menguak dan menerobos. Sia-sia.

Dan ia sudah dapat bayangkan nakhoda dan anakbuah

kapal itu sedang turun tapi dihalang-halangi oleh mereka.

Padatan orang itu kemudian diketahuinya bersenjatakan

tongkat kayu. 

Ia melihat Liem Mo Han menelisip di antara mereka dan

menjadi bagian dari mereka. Kemudian bukan hanya

punggung dan kuncirnya, juga seluruh badannya hilang di

dalam kepadatan manusia itu.

“Minggir! Minggir!” sayup-sayup ia dengar teriak

seorang Portugis dalam Melayu. “Panggilkan Syahbandar.

Francisco de Sa perlu dilayani.”

“Syahbandar tak ada!” teriak yang lain menjawab.

“Syahbandar sudah mampus!” teriak yang lain.

Mendengar itu Tholib Sungkar Az-Zubaid naik pitam.

Dengan tenaga lemahnya ia menguak-nguak lagi di sana

dan di sini, juga tanpa hasil. Ia angkat tinggi-tinggi

tongkatnya dan menegakkan bongkok berjalan kian ke mari

penasaran, berteriak: “Ada di sini Tuan Syahbandar! Ada di

sini!”

Seruan-seruan dari padatan manusia itu seperti disengaja

menenggelamkan teriakannya. Ia mulai menarik dan

mendorong, menyerudug dan menerobos. Kekuatannya tak

mencukupi.

“Sini Syahbandar, Tuan Syahbandar!” pekiknya.

Sekarang ia melonjak-lonjak seperti burung gereja. Dan

tangannya melambai-lambai. Tongkatnya pun berkibarkibar. Dan tetap sia-sia.

“Beri jalan!” pekik Francisco de Sa. “Portugis akan

temui Sang Adipati.”

“Gusti Adipati tak menerima siapa pun!” orang berteriak

berbareng dengan berbagai cara dan nada.

“Kembali kalian, Peranggi!”

“Ayoh, kembali!” 

“Bukan cara Portugis diperlakukan begini!” pekik de Sa.

“Tuan Syahbandar ada di siniiiiiiii!” Tholib Sungkar

meraung. Ia kembali menguak dan menyibak, menyerudug

dan mendorong. Tetap tanpa hasil. “Buka jalan untuk Tuan

Syahbandar!”

Pagar manusia di depannya tidak menggubris, bahkan

menengok ke belakang dan menertawakannya beramairamai.

Sekarang Syahbandar itu berseru-seru dalam Portugis:

“Tuan-tuan, Tuan Syahbandar ada di sini,” sambil

mengangkat tongkat dan melonjak-lonjak lagi seperti

burung gereja.

Francisco de Sa di depan sana naik pitam. Kulitnya yang

kemerahan nampak jadi coklat. Cuping hidungnya

kembang-kempis.

“Yesus! Bunyikan meriam!” perintahnya dalam Melayu.

“Beri jalan!” raung Jesus Laslo, pengiringnya. “Kalau

tidak kami akan buka dengan cara kami sendiri,” dalam

Melayu.

Orang bersorak-sorai menertawakan dan mengejek.

“Jangan ragu-ragu,” perintah de Sa dalam Portugis,

“kembali dan bu nyikan.”

“Kalian Peranggi!” tuding Liem Mo Han dalam

Portugis, “yang letak kan kekuatan pada meriam semata.

Lepaskan semua pelurumu. Habiskan semua obatmu!”

“Siapa bicara Portugis itu?” tanya Francisco de Sa

melotot. “Katakan pada anjing-anjing ini, Portugis akan

menembak!”

“Kami bisa menembak kalian lebih dulu. Pergi!

Tinggalkan Tuban!” jawab Liem Mo Han. 

Kembali orang bersorak-sorai malahan berjingkrak.

Melihat pembesarnya berada dalam bahaya, awak kapal

Portugis mulai mengalir turun dari kapal membawa segala

macam alat yang dapat diambil. Mereka tak membawa

musket.

Melihat awak kapal turun hendak menyerang padatan

manusia itu mulai memainkan tongkat mereka dan

mengusir, memaksa dan menyorong mereka kembali ke

kapal.

Orang pun meraung-raung senang sambil memainkan

tongkat.

Awak kapal yang belum mendapatkan daratan di bawah

kaki bercepat masuk ke dalam kapal di bawah hujan

tongkat. Juga Francisco de Sa dan Jesus Laslo tidak urung

terpaksa masuk ke kapal juga.

Seseorang di antara padatan manusia itu melepaskan tali

kapal. Orang makin ramai bersorak berjingkrak melambailambaikan tongkat dan tangan, berteriak-teriak.

“Pergi! Ayoh pergi! Kembali ke Malaka! Kembali ke

Peranggi! Tinggalkan Tuban!”

“Kapal celaka! Pergi!”

Kapal Portugis itu memasang layar. Tak ada seorang pun

di antara mereka mencoba menyerbu masuk ke dalam. Dan

kapal itu mulai bergerak menjauhi dermaga. Di dermaga

sendiri orang terus juga meledak dan mengejek.

“Francisco de Sa akan datang lagi!” teriak Portugis itu.

“Awas!”

Setelah kapal bergerak ke tengah, seperti diperintahkan

oleh tenaga gaib orang-orang di dermaga itu mulai berlarian

meninggalkan pelabuhan, menubruki para pedagang yang 

juga berlarian hendak datang berjualan. Barang-barang

mereka berpelantingan kocar-kacir, ayam-ayam bebas

berterbangan dan kambing dan babi mendapat kesempatan

untuk ikut berjingkrak dengan majikannya.

Waktu orang-orang bertongkat sudah lenyap dari

pelabuhan, para pedagang mengumpulkan barang

dagangannya yang berantakan. Tak banyak jumlah mereka.

Dan selain menemukan semua barang sendiri mereka

menemukan juga tuan Syahbandar Sayid Habibullah

Almasa-wa tertelungkup di lebuan sehabis terinjak-injak

oleh orang banyak.

Seseorang menolongnya berdiri dan membersihkan lebu

yang melekat pada kulit dan pakaiannya.

“Tongkatku!” perintahnya.

Orang menemukan tongkat itu tanpa kerusakan dan

menyerahkan ke padanya. Ia menerimanya dengan

memberengut.

“Tarbusku!” perintahnya lagi.

Orang tak mengerti maksudnya, dan Syahbandar naik

pitam.

“Tarbus! Goblok,” waktu dilihatnya tarbus itu

menggeletak penyok di pinggir jalan, hilang warna

merahnya berganti dengan coklat muda lebu, ia berjalan

terseok-seok mendekatinya, berjongkok sambil memijit!

punggung dan mengambilnya, membersihkannya dari lebu,

kemudian menciumnya.

Pedagang-pedagang pada mengutuk dan memaki

meninggalkan daerah bandar.

Tinggallah dia: Syahbandar Tuban Tholib Sungkar AzZubaid alias Sayid Mahmud Al-Badaiwi alias Sayid 

Habibuliah Almasawa. Ia berdiri mengenakan tarbusnya

kembali berjalan terpincang-pincang bertun-jangan pada

tongkatnya.

Dibalik semak-semak di luar pelabuhan cetbang-cetbang

bikinan pandai besi Trantang yang bergelang-gelang itu

telah ditujukan pada kapal Portugis. Dan lambat-lambat

tapi pasti kapal itu mulai semakin jauh meninggalkan jarak

tembak. Dari kejauhan nampak tinggi, besar, dengan

ornamen haluan yang indah lagi gagah.

Dan kalau orang mengalihkan pandang dari kapal itu

pada pelabuhan akan nampak olehnya seorang jangkung

agak bongkok, setengah baya, bertarbus merah, berdiri

seorang diri di dermaga menghadap ke laut, dan kapal

Peranggi yang sedang menjauh. Dengan tangan kanan ia

melambai-lambaikan tangan memanggil kembali kapal

tersebut dan dengan tangan kiri bertelekan pada tongkatnya.

Kapal itu tak memperhatikannya. Dan ia menyumpahnyumpah dalam semua bahasa yang dikenalnya, dari yang

paling enteng sampai yang paling mesum. Kapal itu tetap

tak peduli dan semakin menjauh.

“Di sini Syahbandar! Di sini Tuan Syahbandar!”

suaranya parau menghiba-hiba.

Sekarang imbauan Syahbandar dijawab oleh kapal.

Meriam melemparkan peluru-pelurunya ke bandar.

Bondongan tembakan pertama menyebabkan Tholib

Sungkar Az-Zubaid terjerembab ke labuhan. Peluru-peluru

mendesis ke atas kepalanya dan suara gemerasak

menghancurkan atap-atap bangunan pasar. Bondongan

tembakan kedua memaksa Syahbandar merangkak-rangkak

sambil menyeret tongkat. Peluru-peluru itu memporakporandakan gudang-gudang pelabuhan. Ia rebahkan

kembali kepalanya ke tanah, menengok ke kiri dan 

memanggil-manggil Tuban. Mukanya yang tipis berhidung

panjang bengkung itu menghadap ke warung Yakub.

Pewarung itu tidak kelihatan.

Bondongan peluru yang ke tiga membikin Tholib

terpelosok pada tangannya dan terguling ia dari

rangkakannya.

Sebuah di antara peluru-peluru itu masuk ke dalam

warung tidak melalui pintu, melalui dinding, gemerasak

menerjang papan dan gemerincing menerjang cawan-cawan

arak dan barang-barang dagangan.

Bondongan tembakan ke empat membikin Syahbandar

itu berhenti dari rangkakannya. Sebuah peluru jatuh di

depan kamar kerja kesyahbandaran.

Kemudian Portugis menghentikan tembakannya.

Dari daerah pinggiran pelabuhan cetbang-cetbang mulai

menyambut kedentaman. Peluru-peluru beterbangan seperti

bintang-bintang beralih berbuntut api dan berkepala

ledakan, berletusan di udara atau jatuh ke laut. Tak sebutir

pun mencapai sasaran.

Syahbandar Tuban nampak tak bergerak lagi. Ia diam

tertelungkup di atas lebuan. Ia mengucapkan syukur

Alhamdulillah, karena yakin tak ada sepasang dan sebelah

mata pun jadi saksi atas kemudaratannya. Bibirnya tak

henti-hentinya berkomat-kamit.

Di daerah pinggiran pelabuhan, Braja bertolak pinggang

mengawasi peluru-pelurunya yang berterbangan sia-sia.

Dengan sekali gerak ia mengungguli pemandangan itu. Ia

kepalkan tangan jadi tinju, membalik lagi dan mengacukan

tinjunya pada kapal Portugis yang makin menjauh. 

Dari belakangnya ia dengar beberapa orang mulai

menyumpahi pandai-pandai Trantang. Kemudian ia dengar

juga yang lain mengutuki pandai-pandai peluru.

Waktu ia menengok ke belakang dilihatnya dua orang

sedang tenggelam dalam bisik-bisik. Dan mereka nampak

kaget terpandangi oleh pemimpinnya.

“Jangan punya pikiran buruk terhadap Senapatiku,”

tegurnya. “Memang dia orang desa namun dia lebih

daripada hanya kalian. Tutup mulut kalian.”

Walau demikian ia sendiri merasa berkecil hati melihat

cetbang tak mampu menandingi meriam. Dan dengan

perasaan itu pula ia berjalan ke bawah sebatang pohon.

Dituliskannya sepucuk surat di atas lontar,

menghapuskannya dengan jelaga yang tersimpan dalam

daun pisang kering dalam ikat pinggangnya.

“Cari Senapati sampai dapat,” perintahnya pada dua

orang yang tadi berbisik-bisik. “Sampaikan lontar ini. Braja

menunggu di tempat. Pergi.”

Setelah menerima lontar, dua orang melompat ke atas

kudanya, memasuki kota, kemudian ke pedalaman. 

Novel Arus Balikk Bab 21 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.

Bagaimana alur cerita dari novel Arus Balik Bab 21 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua. 

Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.

Untuk membaca Novel Arus Balik bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 8 Disini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 28 Disini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 26 Disini