Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 20 Disini

Novel Arus Balik bab 20 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Arus Balik menceritakan tentang kisah Kedatangan Portugis di Bumi Nusantara dengan latar awal Abad XVI, yaitu ketika surutnya pengaruh Majapahit dan naiknya pamor Kesultanan Demak.

Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Arus Balikk Bab 20 Bahasa Indonesia Sekarang ini. 

20. Pertempuran dan Pertempuran

Hujan jatuh tak semena-mena di atas pesanggrahan

balatentara Tuban. Malam gelap-pekat. Angin kencang

antara sebentar menggeleparkan atap-atap dan dinding

daun kelapa setiap gubuk pesanggrahan. Bila kilat

mengerjap, gubuk-gubuk itu nampak seperti sekelompok

anak kucing yang mendekam putus asa kehilangan induk.

Dalam salah sebuah gubuk pesanggrahan ini sebuah

pelita minyak kelapa memancari wajah dan tubuh beberapa

orang yang berdiri di sekelilingnya. Setiap kali nyala pelita

itu bergerak, wajah mereka yang mengelilinginya nampak

berubah-ubah, seperti bukan wajah manusia tetapi makhluk

menyeramkan dari alam lain. Tak ada di antara mereka

tersenyum atau tertawa. Semua memusatkan pikiran dan

kesungguhan mereka menegangkan suasana.

“Yang telah kita hadapi dan hancurkan pada hari ini

bukanlah dan belumlah seluruh kekuatan mereka,” kata

Kala Cuwil. “Mungkin baru sebagian kecil. Malahan di

mana disembunyikan meriam itu kita belum lagi tahu.”

“Dari bunyi ledakannya jelas disembunyikan di arah

tenggara,” seseorang memberikan pendapatnya.

“Jelas seperti siang. Tapi meriam bisa berpindah setiap

waktu.”

“Dia tetap akan meninggalkan bekas.”

“Orang bisa membikin supaya tidak berbekas.”

“Mereka takkan mempunyai cukup waktu untuk itu.”

“Moga-moga.”

“Selama mereka masih menembakkan meriamnya, induk

pasukan mereka belum lagi bergerak,” sambung Rangkum,

kepala pasukan kaki. 

“Dan hanya sedikit-sedikit tembakannya,” Kala Cuwil

meneruskan, “barangkali pelurunya sangat terbatas. Mereka

takkan bisa bikin sendiri. Atau, mereka bertekad untuk

melakukan perang lama seperti Paregreg. Dan bila itu yang

mereka kehendaki dan kita tidak bisa mengatasi, Tuban

akan diterkam bahaya kelaparan. Sedang bandar akan

hanya menjadi beban.”

“Kita akan usahakan mereka tak punya kemampuan

untuk berperang lama,” Banteng Wareng

memperdengarkan suaranya, “pedalaman kita tidak begitu

subur. Daerah Tuban Kota sendiri tandus. Selama ini hanya

kebesaran bandar yang diagung-agungkan. Kalau

pedalaman kacau dan laut pampat, hanya kelaparan yang

ada.”

“Semua itu benar kecuali satu yang tidak dilihat: kita

inilah kunci’ Wiranggaleng menyarani. “Kalau mereka

menghendaki perang panjang, kitalah yang akan membikin

pendek.”

Banteng Wareng mengangkat muka. Suatu perasaan tak

senang terpancar pada wajahnya. Dengan tenang ia

memperdengarkan suaranya: “Dan mereka bisa juga

memegang kunci atas kita. Menyesal sekali Mahmud Barjah

dilepas murah.”

Kala Cuwil mendengus menahan kegusaran Banteng

Wareng. Ia memang terkenal sebagai jurudamai yang tidak

pernah berpihak, maka orang mendengarkan setiap

katanya: “Ikan besar umpan pun besar.”

“Ikan itu belum lagi kelihatan,” bantah Banteng Wareng,

“lagi pula kita tidak sedang mengail, kita sedang

berperang.”

“Dengarkan, kau, Rangkum,” Senapati Tuban

membelokkan perhatian mereka, “aku minta separoh dari 

pasukan kaki. Berangkat malam ini juga, kau dan aku.

Besok bila mereka bangun, mereka akan tahu telah terputus

dari induk pasukannya sendiri!”

“Tak pernah ada balatentara bergerak di waktu malam,”

bantah Banteng Wareng.

“Apakah Senapati kalian kira keturunan raja? Aturan

perang Senapati kalian bukan berasal dari para raja. Apa

katamu, Kala Cuwil?”

“Biarlah kepala pasukan kaki sendiri yang menjawab.”

“Mereka sudah terlalu lelah, Senapatiku,” jawab

Rangkum. “Besok mereka masih membutuhkan tenaganya

sendiri. Mereka tak berkuda, tak bergajah. Biarlah mereka

mengasoh. Petani-petani pedalaman itu takkan dapat lari

jauh. Mereka masih ada di dekat-dekat sini, Senapatiku.”

Dan Wiranggaleng tahu, hanya Senapati tidak bijaksana

disangkal oleh bawahannya. Semua mengawasinya seakan

mengukuhkan ketidakbijak-sanaannya. Dan jatuh hujan di

atas atap daun kelapa itu kembali terdengar oleh mereka.

“Senapatiku belum lagi selesaikan perbincangan ini,”

Banteng Wareng memperingatkan.

“Aku tidak biasa bicara seperti kalian. Yang aku tahu,

hari ini kita telah mendapatkan kemenangan gemilang.”

“Senapati baru sekali ini berperang,” bantahnya.

“Dalam seumur hidupku, balatentara Tuban hanya

sekali ini turun untuk berperang. Pengalamanmu tidak lebih

banyak dari aku,” jawab Senapati. Dengan sendirinya

tangannya terkepal jadi tinju. Bantahan ini dirasainya tidak

layak setelah kemenangan gemilang hanya karena dirinya

yang memerintahkan dimulainya gerakan, la telah

pertaruhkan nasibnya dengan mengambil-alih kesenapatian. 

Ia pandangi kepala pasukan itu seorang demi seorang.

Dan ia tak mendapat sokongan. Juga Kala Cuwil tak

menyokongnya.

“Tak ada yang bilang mereka tak boleh mengasoh.

Bukan raja pun harus tidur. Cobalah fahami maksud

Senapati,” katanya menyarani. “Kalian memang boleh

menyanggah seorang Senapati anak desa, tapi perang

adalah perang.”

“Kepala pasukan kaki tidak menyanggah, Senapatiku.

Mereka lelah, hari hujan dan gelap. Harap Senapatiku

bijaksana.”

“Kala Cuwil!” panggil Senapati. “Juga kau sendiri tahu,

yang paling lelah adalah pasukan kuda. sekalipun tidak

dengan kakinya sendiri. Lagi pula hanya sebagian dari

pasukan kaki yang dikerahkan pada hari ini. Tak sampai

separoh. Bagaimana jawaban ini?”

“Rangkum menolak, Senapatiku, sebagaimana pada

sebaliknya Senapatiku melepaskan Mahmud Barjah dari

kepungan, demikian juga Rangkum melepaskan

anakbuahnya untuk beristirahat,” jawab Rangkum tegas.

“Baik. beristirahatlah. Aku kenal daerah ini. Aku tahu

pasukan kuda dan gajah tak bisa jalan pada malam seperti

ini. Namun sesuatu harus kita kerjakan pada malam ini.

Sekalipun kalian menolak, aku masih mengharapkan ada

yang mau berangkat. Siapa siap berangkat?”

Tak berjawab. Senapati masih memerlukan memandangi

kepala-kepala pasukan sekali lagi untuk mendapat jawaban.

Sia-sia.

“Baik,” katanya kemudian, “Banteng Wareng, sediakan

untukku seekor kuda yang segar.”

“Kemana Senapatiku akan pergi, seorang diri?” 

“Memutuskan mereka dari induk pasukannya.”

Banteng Wareng menatap Senapati dengan diam-diam.

Melihat Wiranggaleng tetap pada pendiriannya, lambatlambat tapi pasti ia menjawab: “Baik. Kalau begitu seluruh

pasukan kuda akan bergerak mengikuti Senapatiku, malam

ini juga.”

“Tidak. Seekor saja aku perlukan. Biar aku berjalan

sendiri, dan biar kalian tahu bagaimana orang yang tak tahu

aturan perang para raja ini bertarung.”

Sejenak kepala-kepala pasukan itu terdiam. Banteng

Wareng menatap Rangkum, dan yang belakangan ini

mengangguk.

“Senapatiku,” jawab Rangkum, “pasukan kaki akan

bergerak malam ini juga, mengikuti Senapatiku.”

Malam itu juga, dalam kegelapan dan hujan, pasukan itu

bergerak bergandengan tangan dan lari maju bila kilat

menerangi bumi barang sekejap.

Tanah berumput di bawah kaki memudahkan

perjalanan. Dan mereka berjalan dan berjalan. Hujan

berhenti dan curah kembali. Mereka terus berjalan melintasi

padang rumput berbatu-batu, kemudian memasuki jalanan

desa yang berbatu-batu pula. Hujan berhenti lagi dan

bintang-bintang mulai mengintip dari sela-sela mendung.

Beberapa kali ayam liar dan ayam hutan terdengar

berkeruyuk. Kemudian unggas-unggasan yang lain mulai

menyanyi dari segala pelosok, dan matari pun mulai

memancarkan lembayung merah dari bawah bumi, jauh di

timur sana.

Laskar-laskar Rajeg yang dicari ternyata tiada.

“Apa katamu sekarang. Rangkum?” 

“Senapatiku benar. Mereka bergerak di malam hari.”

“Apa artinya itu, Rangkum?”

“Artinya, kita sudah binasa, bila mereka menyerang

dengan sepenuh kekuatan, Senapatiku.”

Demikianlah maka berita, laskar-laskar musuh bergerak

di malam hari diterima dengan terkejut di pasanggrahan.

Pada waktu itu juga gubuk-gubuk dibongkar dan semua

bergerak menyusul Senapati.

Gerakan penjejakan diadakan. Bekas-bekas mereka pada

siang kemarin telah terhapus oleh hujan.

Berita, bahwa Tuban terpancing turun ke gelanggang

tanpa persiapan dan tanpa mengerahkan pagardesa ataupun

penduduk, menerbitkan suka cita Ki Aji. Mereka akan mati

kelaparan, kehujanan dan kedinginan.

Setelah magrib, di depan pendopo, di hadapan para

pengikut ia memberikan wejangan pendek sebelum isya:

“Anak-anakku, kawulaku, sudah berkali-kali aku ajarkan

pada kalian, jangan percaya pada ningrat Jawa. Mereka

bilang dewa-dewa yang telah pilih mereka jadi ningrat

untuk memerintah orang desa.”

“Semua orang tua-tua kalian tahu tentang cerita

pertentangan antara ningrat dan bukan ningrat semasa

Majapahit. Di Tuban aku pun sudah banyak dengar tentang

itu, bahkan juga dari para nakhoda dan saudagar asing yang

punya perhatian pada kejayaan Majapahit di masa silam.

Juga punya perhatian, mengapa kemaharajaan yang besar

itu bisa jatuh berkeping-keping dan tak mampu berdiri lagi.”

“Tak perlu aku ulangi pada kalian tentang Perang

Paregreg. Bukankah kalian juga masih ingat soalnya karena

tidak sukanya kaum ningrat pada kebijaksanaan Maharani

Suhita yang masih juga mau meneruskan memberikan 

kekuasaan pada bukan ningrat? Dan bukankah kalian juga

masih ingat, bahwa dalam kekuasaan Majapahit hampir

semua pangeran itu tidak mampu melakukan sesuatu

pekerjaan besar? Dan bahwa yang besar-besar hampir

seluruhnya dilakukan oleh orang-orang keturunan desa?”

“Lebih sepuluh tahun aku telah mengabdi pada Adipati

Tuban sebagai Syahbandar. Aku sudah jelajahi bandarbandar di Jawa, dari Banten sampai Panarukan. Sama saja

di mana-mana: ningrat Jawa sudah lapuk, hidup hanya di

bawah bayang-bayang nenek moyang yang besar.”

Lihat itu raja Ciri Dahanapura Blambangan, yang

menamakan diri pewaris tunggal Majapahit. Bukankah

sudah diketahui semua orang dia mengemis-ngemis meriam

pada Peranggi? Pada Kongso Dalbi di Malaka? Begitulah

ningrat Jawa. Untuk mengambil hati Peranggi, raja

Blambangan itu tak malu-malu mengaruniakan sebidang

tanah dan tenaga kerja pada Peranggi-peranggi di

Blambangan untuk digarap dan untuk mendirikan rumah di

Panarukan dan Pasuruan. Dibiarkan mereka mendirikan

rumah-rumah besar. Tak tahu malu. Apakah Islam datang

pada kalian karena meriam? Dan disertai orang Arabnya

sekali? Tidak! Tak ada orang Arab menyampaikan ajaran di

Jawa ini, di seluruh Jawa, di seluruh benua kepulauan

Nusantara ini. Orang-orang Arab datang hanya untuk

memaneni jerih-payah orang lain. Islam datang dari

kandungan hati mereka yang bersih, dan disambut oleh hati

mereka yang bersih pula, berkembang damai seperti

berkembangnya bunga jambu. Lain dengan Peranggi

dengan Nasraninya. Dia datang dengan tembakan meriam,

dan dengan Perangginya sekali. Islam datang tanpa

meminta tanah. Mereka datang dan membutuhkan tanah.”

Ia terhenti bicara, terkejut, terbatuk-batuk, melirik pada

Rois dan Manan, Peranggi mualaf, membersihkan 

tenggorokan dan mulai lagi: “Manan dan Rois datang

bukan sebagai Peranggi Blambangan. Mereka berdua

datang untuk jadi bagian dari kita. Untuk jadi saudara

sendiri.”

Dari kejauhan telah terdengar guruh bergumam dan

gerimis tipis mulai turun. Kiai Benggala Sunan Rajeg tak

juga berkisar dari tempat duduknya, meneruskan: “Kalau

Tuban telah kita kuasai, kita akan bergerak ke selatan,

mengusir Hindu dan Nasrani dan Peranggi dari

Blambangan. Tak ada alasan Tuban bisa mengalahkan kita.

Adipati Tuban sama dengan ningrat Jawa yang lain, lemah,

tak berkemauan. Ingin aman dan senang terus sampai mati,

tanpa berbuat apa-apa dengan merugikan semua orang.

Munafik! Lihat saja dia itu. Tak ada maharaja memerintah

dia. Pasukan gajahnya kuat, lebih dua ratus tahun jadi

perisai Majapahit. Mengaku Islam. Sekarang Majapahit

tinggal segenggam tanah yang bernama Blambangan,

jangan harapkan dia mau dan berani bergerak ke selatan.

Dia malah mau meniru raja Blambangan, Girindra Wardhana, mau mengemis-ngemis persahabatan dari Peranggi,

sekalipun dengan caranya sendiri. Malah anak-anaknya

sendiri pada lari meninggalkannya.

Hujan mulai melebat. Dan untuk pertama kali dalam

kekuasaannya di Rajeg ia mempersilakan para pengikut

masuk ke dalam pendopo yang tak berdinding itu.

Dan ia terpaksa meneruskan wejangannya, karena

memang belum lagi sampai pada pokok kesukaan: Demak.

“Nah,” ia meneruskan setelah semua mendapat

tempatnya, “kalian sudah tahu siapa yang menganggap

dirinya Sultan Islam pertama-tama di Jawa. Kalian

memanggilnya Raden Patah, bukan? Tidak, tidak

sesederhana itu namanya. Lengkapnya: Sultan Sri Alam

Akbar Al-Fattah. Sama sekali bukan nama Jawa. Memang 

dia bukan orang Jawa. Jangan dengar musafir-musafir

Demak berkicau, dia ningrat Jawa, berdarah Majapahit.

Bohong! Semua pemasyhuran tentang Demak oleh musafirmusafir itu bohong belaka. Ningrat Jawa sekarang ini

takkan punya kemampuan membuat sesuatu yang baru,

apalagi mendirikan kerajaan Islam pertama.

“Aku tahu ada di antara kalian di sini bekas musafir

Demak, hei, kau bekas musafir Demak, benarkah Sultan

Demak orang Jawa?” ia tertawa mengejek. “Yang kalian

sebut Sultan Demak orang itu sama sekali tidak bisa baca

dan tulis Jawa, tak bisa bicara Jawa. Dia hanya bisa bicara

sedikit Melayu. Anak dusun yang bodoh itu bisa baca dan

tulis. Masa seorang raja Jawa tidak bisa? Bukan itu saja,

kulitnya bukan kulit Jawa dan matanya bukan mata Jawa.

Hei, kau bekas musafir Demak, cobalah jawab: sipit atau

tidakkah Sultan Demak?”

Seorang pemuda jangkung nampak memanjangkan

badan dan leher dan menjawab: “Sahaya belum pernah

melihatnya, Ki Aji.”

“Bahkan musafirnya sendiri tak pernah melihatnya. Dia

memang tak pernah muncul di depan umum. Dan jangan

percaya kalian pada orang selama dia mengaku diri musafir

Demak. Mari aku ceritai kalian: “Sultan Demak memang

tidak pernah muncul di depan umum. Dia takut dilihat oleh

kawulanya sendiri. Karena itu dia membutuhkan musafir

untuk menyebarkan kebohongannya ke seluruh Jawa.”

“Jadi siapa gerangan, Kanjeng Sunan?”

Pertanyaan itu menyebabkan orang tergugah dari

kebosanan. Ada hal baru yang nampaknya bakal mereka

ketahui: “Itu hanya dalam kitab seorang Syahbandar.

Selama ada Syahbandar di pelabuhan-pelabuhan di Jawa,

orang akan dapat memperoleh keterangan yang benar 

tentang raja-raja Jawa sekarang ini. Itulah tambo. Kalian

harus tahu tambo untuk mengetahuinya duduk perkara.

Waktu kalian belum ada… “, ia memulai dengan ceritanya,

“ada tersebut dalam kitab para Syahbandar, datanglah

armada dari utara sana, memang bukan untuk

menaklukkan negeri-negeri seperti Peranggi dan Ispanya,

bukan untuk menaklukkan dan juga bukan untuk

membajak. Mereka datang untuk menguasai perdagangan

rempah-rempah. Mereka datang dengan dalih telah terusir

dari negerinya dan minta perlindungan pada Majapahit.

Tidak lain dari Sang Adipati Tuban yang lebih tahu

bagaimana isi perjanjian itu, karena dialah waktu itu

ditunjuk oleh Sri Baginda Bhre Wijaya Purnawisesa untuk

melayani mereka. Mereka diperkenankan tinggal di Lao

Sam sekarang dan Semarang sekarang, tetapi mereka tidak

boleh memasuki perairan Maluku. Mereka boleh

mendapatkan rempah-rempah hanya dari bandar-bandar di

Jawa. Laksamana armada ini kalian tahu namanya: Dampo

Awang. Orang hanya mengenal gelarnya: Ceng He.

“Memang mereka tidak seperti Peranggi dan Ispanya. Dan

mereka berdagang biasa, tidak mampu menguasai

perdagangan rempah-rempah seluruhnya. Mereka melalui

jalan dagang dan jalan laut seperti halnya dengan kapalkapal Jawa.”

“Armada itu sangat besar, walau mungkin takkan sebesar

armada Majapahit di masa jayanya. Dan karena waktu itu

di Jawa tak ada armada besar lagi, armada itu nampaknya

memang sangat besar. Orangtua kalian tahu betul tentang

itu, tetapi ada banyak hal yang mereka tidak pernah tahu.”

“Mereka tidak menyerang, juga tidak diserang. Mereka

datang dengan dalih sama di mana-mana: dagang.Mereka

datang untuk menguasai perdagangan dengan jalan dagang, 

tidak menembak dengan meriam atau cet-bang, tidak

merampas bandar orang dan tidak menumpas rajanya.”

“Di mana armada itu sekarang, Kanjeng Sunan, karena

menurut cerita kapal Dampo Awang sendiri tenggelam di

pantai Rembang.”

“Armada itu sendiri sudah banyak buyar di banyak

bandar!”

Orang berdesakan mendekat untuk tidak terganggu oleh

tampias dan bunyi jatuh air di perlimbahan.

“Mereka memang tidak kembali ke negeri sendiri.

Mereka tersekat di sini karena di negerinya sendiri terjadi

pergantian kaisar.

Berdasarkan persetujuan dengan Majapahit, dengan

Tumenggung Wilwatikta, mereka membuka daerah-daerah

rawa-rawa Semarang sekarang, mereka bikin jadi bandar

perdagangan dengan nama Sampo Toa-lang.

“Dulu orang segan singgah di sana, tidak sehat, banyak

penyakit. Lama-lama ada juga yang datang dan mendapat

pelayanan. Tentu tidak sebaik pelayanan Tuban sewaktu

aku masih jadi Syahbandar.

“Dengan jatuhnya Majapahit kelompok besar armada

musafir kuatir akan terjadinya perang antara para gubernur

untuk berebut jadi raja di antara mereka. Mereka kuatir

perjanjian dan Tumenggung Wilwatikta itu kehilangan

kekuatannya. Mereka tahu gubernur yang paling kuat

adalah Arya Teja Tumenggung Wilwatikta, maka dari

timurlah mereka menduga akan datangnya bahaya.

Begitulah mereka bentengi pangkalannya dengan melantik

sebuah kerajaan baru dekat sebelah timurnya. Kerajaan

benteng Sampo Toa-lang itulah Demak.” 

“Bukan Kanjeng Sunan, bukan begitu babad berdirinya

Glagah Wangi Demak,” seseorang membantah berapi-api

sambil berjongkok meninggikan badan.

“Bukankah kau bekas musafir Demak, Firman?”

“Betul, Kanjeng Sunan, bukan begitu. Sungguh bukan

begitu.”

“Memang bukan begitu yang diajarkan padamu untuk

jadi musafir Demak. Coba, adakah pernah seorang raja

Jawa menyebarkan musafir? Itu bukan adat raja-raja Jawa.

Raja-raja Jawa biasanya hanya menyuruh pujangganya

untuk membual tentang kebesarannya, tentang kemuliaan

asal-usulnya. Bohong kalau dia keturunan Majapahit, anak

Retna Su-banci, cucu Babah Bantong dari Gresik.

Dengarkan baik-baik. Babah Ban-tong memang orang

Tionghoa Islam. Nama sebenarnya Tan Go Hwat. Bapakku

mengenal dia, karena beberapa kali dia memang pernah

berlayar ke Malaka. Benar anaknya telah diselir oleh Sri

Baginda Bhre Wijaya, tetapi tidak benar anaknya itu

dihadiahkan pada Arya Damar, Adipati Palembang dan

melahirkan Al-Fattah. Uh, kalian, orang Jawa. Dalam

lontar kalian hanya yang itu-itu juga yang disalin. Tak ada

yang baru. Bahkan tak ada orang Jawa jadi Syahbandar!

“Tidak, Firman, anak ganteng. Retna Subanci tidak

pernah berlayar ke Palembang. Dia pernah dibawa oleh

ayahnya ke Malaka semasa masih gadis kecil. Memang dia

mengandung dan mendapat anak dari raja Majapahit, tapi

anak itu kemudian mati. Dia sangat menderita di dalam

keputrian, hampir-hampir tak bisa dikendalikan, selalu

merengek minta menjenguk orangtuanya. Sri Baginda

dalam pada itu tidak terlalu suka padanya. Tanyalah pada

Sang Adipati Tuban, ke mana itu Retna Subanci. Boleh jadi

hanya dialah yang tahu. Anak Babah Bantong itu

dikaruniakan oleh Sri Baginda kepada Adipati Tuban. Anak 

yang dilahirkannya di Tuban itu bernama Jaka Seca.

Selanjutnya kalian tahu sendiri. Oleh ibunya sebelum

meninggalnya dia diserahkan pada Gouw Eng Cu untuk

dididik.”

“Seluruh Majelis Kerajaan Demak tidak bakal bisa

bantah aku, Sultan Demak itu tak lain dari peranakan awak

armada Ceng He. Itu ada dalam kitab para Syahbandar,

boleh jadi juga dalam klenting-klenting di Tuban dan Lao

Sam, boleh jadi juga di Semarang sendiri.”

Sebentar terjadi kegaduhan dan Mohammad Firman

menjawab pertanyaan dari beberapa orang di dekatnya.

“Apa?” sambar Sunan Rajeg yang menangkap

kegaduhan itu. “Betul Jaka Seca itu kemudian jadi Raden

Said, sekarang Sunan Kalijaga, tahu betul bahasa Cina,

maka juga ikut mengelompok di Demak. Demak dan Islam

dibikin jadi satu – dengarkan itu, karena kekuatan di Jawa

sepenuhnya dipegang oleh pedagang-pedagang orang Islam.

Apakah Sultan Demak sesungguhnya sudah setingkat

keislamannya dengan Sunan Rajeg ini? Hei, kau, bekas

musafir Demak, pernahkah kau mendengar Sultan Demak

menyebutkan barang satu ayat dari kitab suci? Atau orang

pernah bercerita tentang itu? Mengapa kau diam saja? Tak

ada urusan. Urusannya hanya keselamatan Semarang.”

Sikap Sunan Rajeg yang memusuhi Demak itu sudah

sangat diketahui oleh umum. Mohammad Firman yang

dikirimkan ke pedalaman Tuban sama sekali tidak bisa

menandinginya, apalagi meyakinkannya. Ia malah tertelan

oleh pengaruh Sunan Rajeg. Biar pun begitu pernyataan

bahwa Sultan Demak bukan berdarah Majapahit dan

peranakan awak kapal Dampo Awang sungguh

menggoncangkan: 

Dan melihat terjadinya kegaduhan Kiai Benggala Sunan

Rajeg buru-buru melambaikan tangan untuk menenangkan:

“Bukan soal ini sebenarnya aku ingin sampaikan. Ialah

bahwa ningrat Jawa sudah begitu lemahnya, bukan saja

armada yang tersekat itu sampai dapat membuka bandar

dan perkampungan besar, tapi juga tidak berdaya sesuatu

melihat ada seorang bukan Jawa telah naik tahta jadi raja

Islam pertama-tama. Mungkin kalian tidak tahu,

Semaranglah-bandar Demak. Apakah kalian tidak malu

adalah orang yang tak tahu basa dan tulisan Jawa, tak bisa

bicara Jawa menjadi raja dari orang-orang Jawa?”

Sampai pada puncak semangatnya kembali ia terserang

oleh batuk, dan sekali ia mencoba sekuat daya untuk

bertahan.

“Aku pun bukan orang Jawa, orang Benggala, orang

Keling. Apakah aku tak bisa bicara dan membaca Jawa?

Bawa sini semua lontarmu, dan aku bisa bacakan mungkin

lebih baik daripada guru-guru kalian. Dan semua isinya

omong kosong belaka tanpa bisa dibuktikan. Maka aku

tidak datang pada ningrat Jawa, tapi pada kaum pedagang

dan petani seperti kalian, orang-orang biasa, orang desa…

lain halnya dengan Sultan Demak, mendirikan kerajaan

untuk jadi benteng Semarang. Islam dipergunakan dalih.”

“Dan lihat di ujung Barat Pulau Jawa sana. Aku kira

belum ada di antara kalian pernah ke sana. Aku pernah. Di

sana ada sebuah kerajaan Hindu seperti Giri Dahanapura

Blambangan, Pejajaran namanya. Rajanya juga lemah

seperti Girindra Wardhana. Penghasilannya melimpahlimpah, tanahnya subur dan kawulanya rajin dan patuh.

Karena rajanya lemah, kekayaan tidak jadi berkah bagi

orang yang lemah, malah menjadi semakin lemah karena

kekayaannya. Dia pun berusaha mendapatkan persahabatan

dengan Peranggi. Dia mencari persahabatan dari singa yang 

lapar.” Bedug masjid Rajeg telah memanggil-manggil untuk

bersembahyang isya.

“Begitulah raja-raja di Jawa, maka semua bakal dikuasai

oleh Peranggi,” Sunan Rajeg meneruskan, “dan itu tidak

boleh. Tidak boleh. Demi Allah!” dan ia memberi tekanan

pada kata-katanya: “Maka aku, orang Benggala,

mengajukan diri untuk melindungi Jawa dari tangan najis

kafir Peranggi, aku, Sunan Rajeg.”

“Maka itu kita harus melawan Tuban. Sekarang

balatentara Tuban sedang terpancing turun ke gelanggang.

Pasukan gajahnya akan punah oleh meriam kita, akan

terkubur dalam perangkap, insya Allah, kita pasti menang.”

0o-dw-o0

Mahmud Barjah dengan membawa dendamnya terhadap

Manan dan Rois menarik pasukannya pada malam itu juga.

Kalau tidak, bila seluruh tentara Tuban yang dikerahkan,

dengan kuda dan gajahnya sebelum ia mempunyai

persiapan kedua, pasti dan terjadi penumpasan yang tak

dapat dielakkan.

Hujan deras yang turun pada malam itu telah

diperhitungkannya akan menjadi pelindungnya. Balatentara

Tuban tidak akan menyusul. Bila toh dilakukan juga takkan

dapat menemukan.

Dengan diam-diam ia perintahkan melaksanakan

rencana Manan dan Rois untuk membangunkan parit-parit

penjebakan terhadap kuda dan gajah musuh. Mereka harus

masuk ke dalam penjebakan untuk tumpas.

Sementara itu ia perintahkan untuk membikin jejak-jejak

ke arah yang berlawanan dari jebakan yang sedang 

dibangun. Ia membutuhkan waktu pendek untuk

rencananya itu.

Hampir-hampir ia tak percaya pada telik-teliknya yang

melaporkan, tentara Tuban telah melakukan gerakan di

malam hari. Ia sebarkan telik-telik baru untuk menguji

laporan pertama. Dan dua-dua laporan itu tidak berbeda.

Memang balatentara Tuban bergerak juga di malam hari.

Pembikinan jebakan terpaksa dilakukan siang-malam,

tak mengindahkan cuaca, dan dengan hasil yang tidak

memuaskan. Hujan dan air menghalangi penggalian.

Namun petani-petani yang terbiasa bergaul dengan tanah

dan lumpur menggali terus tanpa mengeluh. Bahkan hujan

itu menghemat tenaganya dibandingkan dengan

pemborosan di waktu panas. Tapi air curah itu tetap

menghalangi kemajuan.

Sebagaimana halnya dengan Manan dan Rois, ia tidak

menyetujui perang yang belum waktunya ini. Tapi perang

telah dimulai. Kekalahan pada hari pertama ia anggap

sebagai kewajaran yang harus diterima. Namun ia masih

juga belum dapat berdamai dengan kekalahannya yang

pertama. Ia pun belum dapat berdamai dengan nafsu segera

perang dengan gampang dari Sunan Rajeg. Dan ia pun

menyesali diri sendiri tak dapat mencegah semua itu,

bahkan dengan diam-diam mengakui, diri sendiri ingin

segera masuk ke Tuban kota sebagai pemenang, megah

dikagumi oleh semua penduduk, tak ada seorang pun yang

bakal memerintah, malah memerintah semua orang. Betapa

lama ia sudah mengimpikan datangnya hari, semua

atasannya dulu datang padanya, berlutut di bawah kakinya

dan menyembah mengakui keunggulannya.

Kekalahan pertama ini menjauhkan dari impiannya

sendiri. Ia harus bekerja lebih keras. Sedang Manan dan 

Rois itu mereka menambahi segalanya pula, karena harus

berbagi pendapat dengan mereka.

Ia takkan datang melapor pada Sunan Rajeg karena

kekalahan ini. Ia akan bergerak terus. Dan sekarang

melakukan gerakan semu untuk mengelabui musuh untuk

melindungi pembikinan jebakan. Sebelum mendapat

kemenangan ia tidak akan muncul untuk melapor.

Anak buah yang membikin bekas-bekas kaki pun bekerja

siang dan malam tanpa henti. Tak bisa lain: ia

membutuhkan paling tidak tiga hari untuk dapat membuka

pertempuran baru.

Jebakan yang dibuat menurut rencana Manan dan Rois

adalah sebuah parit berbentuk tapal kuda yang bermulut

luas. Pasukan kuda dan gajah musuh harus masuk ke dalam

kantong tapal kuda ini. Di belakangnya akan dipasang

pasukan pemanah yang akan melemparkan anak panah api

dan biasa Bila kuda dan gajah telah menjadi kacau

ketakutan karena api, meriam akan beraksi sehingga musuh

kehilangan keseimbangan. Serangan selanjurnya tinggal

pembabatan penyelesaian, dan akan dilakukan oleh bekas

tentara Tuban sendiri.

Ia telah kirimkan penghubung untuk menempatkan

meriam. Manan dan Rois mengikuti perintahnya. Mereka

mengarahkan regu-regu pelayan dan pengawalnya. Pasukan

pemanah pun telah siap di belakang tapal kuda. Tinggal

gerakan pemancingan terhadap musuh yang berhari-hari

mencari dengan sia-sia, masih harus dirancang dengan

seksama.

Dan semua kegiatan itu melupakannya kepada

pertentangan dengan Esteban dan Rodriguez, juga pada

penyesalannya terhadap Sunan Rajeg dan diri sendiri.

0o-dw-o0 

Pada suatu hari pasukan kaki Rangkum melihat

serombongan prajurit putih melintasi jalanan negeri. Dari

kejauhan nampak jumlah mereka begitu sedikit.

Pasukan kaki Tuban segera bersorak dan mengejar. Dan

sorakan itu memanggil pasukan-pasukan lain untuk

bergabung. Arus balatentara Tuban mengalir dari segala

penjuru menuju ke tempat Mahmud Barjah telah menunggu

dengan diam-diam.

Laskar Rajeg yang berjumlah kecil itu seakan lari

ketakutan langsung masuk ke dalam tapal kuda, melompati

tirnbunan-timbunan tanah, men-ceburi tanah, menceburi

parit, menyeberanginya dan keluar dari jebakan, hilang di

balik semak-semak.

Sebagian dari pasukan kaki Rangkum telah memasuki

jebakan waktu di kejauhan Wiranggaleng dari atas gajah

mengirimkan penghubung berkuda untuk menghentikan

pasukan kaki. Dari ketinggian itu dilihatnya Rangkum

sedang memasuki jebakan raksasa. Penghubung itu

mencapai kepala pasukan kaki waktu ia sudah berada di

tengah-tengah jebakan.

Dengan terbata-bata Rangkum memberikan perintah

berhenti dan menyebar pada garis henti untuk menunggu

serangan.

Banteng Wareng menyebarkan pasukannya di luar

daerah jebakan untuk melakukan gerakan penyisiran.

Mahmud Barjah melihat tentara Tuban berhenti di

tengah-tengah jebakan mengerti, musuh telah menyadari

masuk perangkap dan tidak bisa kembali, juga tidak

mungkin maju terus. Dengan hati berat ia jatuhkan perintah

untuk menghujaninya dengan api dan anak-panah. 

Ia lihat prajurit-prajurit Tuban mengangkat perisai

sebagai payung.

Anak panah dan api berjatuhan seperti hujan,

bersemburan dari balik-balik semak tanpa kelihatan

pemanahnya, dan mereka sambil bersorak-sorak

menggugupkan lawannya.

Banteng Wareng mengalami kesulitan dalam melakukan

penyisiran. Daerah luar jebakan itu ditumbuhi dengan

semak-semak telakan yang rapat dengan batangnya yang

liat. Ia tak maju. Dalam semak-semak sendiri gelap

kegelapan yang memuntahkan anak panah dan api. Ia tak

dapat menanggulangi serangan. Ia perintahkan pasukannya

mundur dengan meninggalkan banyak korban.

Melihat kegagalan ini dari atas gajahnya Wiranggaleng

memerintahkan pasukan gajah menggantikan pasukan

kuda.

Gajah-gajah Tuban itu tak lama kemudian lari memasuki

semak-semak yang ditinggalkan oleh Banteng Wareng.

Dari atas gajahnya Senapati melihat pasukan Rangkum

di dalam jebakan ini berusaha hendak mundur berpayung

perisai tanpa bisa membalas. Dan dari belakang jebakan

sorak-sorai tentara Rajeg semakin lama semakin

bersemangat.

Kerusakan pada pasukan kaki itu cukup besar, tanpa bisa

membalas, namun berhasil keluar dari tungku maut.

Rangkum sendiri menderita luka pada bahunya waktu

kudanya melarikan diri dari api yang sedang

menandatangani, tetapi terjungkal dengan kepala pecah

kena peluru meriam. Ia digotong keluar gelanggang oleh

anakbuahnya. 

Semak-semak yang diterjang pasukan gajah itu menjadi

rata. Prajurit-prajurit Rajeg yang berada di dalamnya tak

dapat melukai dan mengenai binatang-binatang itu ataupun

penunggangnya, terhalang oleh semak-semak

persembunyian sendiri, sorak-sorai pengunduran diri

mereka terdengar riang penuh kemenangan.

Meriam tiba-tiba berhenti menembaki.

Pasukan gajah terus melakukan gerakan penyisiran.

Mereka tinggal berhadapan dengan semak-semak.

Senapati mengerti berhentinya penembakan meriam

disebabkan karena senjata-senjata itu juga terpaksa

diundurkan.

Mahmud Barjah dengan senyum puas memerintahkan

seluruh tentaranya mundur. Ia telah terhibur karena telah

dapat menebus kekalahannya yang pertama. Tak ada

seorang pun di antara anakbuahnya tewas atau hilang.

Beberapa orang saja terkena cedera karena kecelakaan.

Sekarang ia mendapatkan keseimbangannya lagi. Ia akan

tidak malu lagi menghadap pada Sunan Rajeg. Kalau perlu

Manan dan Rois akan dihalaunya ke tempat yang tidak

berarti di mata Sunan.

Dalam perjalanan mengundurkan diri ia mulai

merencanakan pembikinan parit yang tidak lengkung tapal

kuda tapi lurus menghadang perjalanan musuh. Pos-pos

pengintaian akan ditempatkan pada puncak pepohonan

tertinggi untuk dapat melihat gerak-gerik musuhnya. Ia

menyadari, ketinggian gajahlah yang menyebabkan

jebakannya kelihatan dari kejauhan. Jebakan baru harus

tidak kelihatan dari ketinggian. Dan terutama sekali

pasukan gajah dan kuda yang harus dihancurkan. 

Wiranggaleng, setelah melihat kerusakan pada pasukan

kaki, segera turun dari kendaraannya dan mendatangi

Rangkum.

Kepala pasukan itu sedang duduk di atas tandu waktu ia

datang.

“Pasukanku rusak, Senapatiku.”

“Benar. Tapi kau tidak kalah. Juga tidak hancur.”

“Tidak, tidak kalah, juga tidak hancur. Masih sanggup

bergerak terus.”

Rangkum ternyata tidak bersedia untuk diganti. Ia hanya

menginginkan kuda baru.

Dan Senapati merasa bersyukur. Ia mengerti maksud

Rangkum, dia menghendaki tugas pendesakan dan

penggiringan musuh diserahkan pada dirinya. Rangkum

memaklumi tugasnya mendesak dan menggiring musuh

sampai pada suatu titik di mana mereka tak bisa lagi

menyerang, melawan, bertahan ataupun bergerak.

Ia nilai pertempuran kedua sebagai kemenangan, karena

tentara Rajeg toh terdesak dan tergiring lebih ke pedalaman.

Pertemuan itu terjadi di pendopo antara Sunan Rajeg,

Mahmud Barjah, Esteban dan Rodriguez.

Panglima Rajeg dengan bersemangat melaporkan tentang

jalannya pertempuran dan bagaimana kemenangan

diperoleh. Bahwa pasukan kaki Tuban rusak, dan tak ada

sesuatu kerugian pada pihak Rajeg.

Manan dan Rois diam-diam mendengarkan dan tidak

memberikan sesuatu pendapat.

Mahmud Barjah kemudian menjanjikan kemenangan

gemilang dalam pertempuran ketiga. Ia telah mempunyai

rencana yang masak. 

Sunan Rajeg tak dapat bicara suatu apa, terbenam oleh

semangat kemenangan.

“Kapan pertempuran ke tiga sebaiknya diadakan, Paman

Sunan?” tanyanya kemudian.

“Tentu kau yang lebih mengetahui daripada aku.

Berperang dengan jalan penjebakan rupanya sangat baik.

Teruskan saja,” ia berpaling pada Esteban dan Rodriguez,

“bagaimana pendapat kalian, Manan dan Rois?”

“Pengalaman kedua ini sungguh memuaskan,” Manan

memuji-muji rencananya sendiri, “jebakan, anak panah dan

api. Bila ada ledakan-ledakan lebih banyak lebih baik, gajah

takkan berani mendekat. Dia takut pada api dan ledakan.”

“Sayang tak cukup obat peledak dalam persediaan,”

susul Rois. Tidakkah Kanjeng Sunan punya tenaga yang

bisa membikinnya? Barang sepuluh orang?”

Sunan Rajeg menjanjikan akan memberikan tenaga itu.

Sementara bahan peledak belum tersedia, perbincangan

berkisar pada pencarian jalan untuk menumpas pasukan

gajah. Dan Sunan Rajeg mengharap pada Manan dan Rois

yang punya pengalaman perang di Afrika dan Asia untuk

menyatakan pendapatnya.

“Memang ada jalan yang mudah,” Rois alias Rodriguez

memulai. “Kelemahan gajah ada pada tumitnya. Binatang

yang kaku itu, dengan pandang selalu ke depan, karena

kupingnya yang terlalu besar, sangat mudah diserang

dengan cepat dari belakang. Sambil lari di belakangnya

orang dapat mengapak tumitnya, dan dia takkan berdaya

lagi untuk selama-lamanya. Ia akan menggelosot sampai

mati.” 

“Betul, Kanjeng Sunan, itu memang bukan rahasia.

Semua prajurit yang berpengalaman di benua hitam tahu

akan rahasia itu. Bisa dijalankan dengan mudah.”

“Anak kecil pun tahu kalau hanya begitu,” ejek Mahmud

Barjah, “untuk itu tak perlu berpengalaman perang di

mana-mana. Sebarkan penunggang kuda yang mahir, dan

sambar tumit itu dengan kapak atau tombak… beres. Lihat,

tak ada pasukan kuda pada kita. Lagi pula bukan percuma

bila setiap ekor gajah Tuban diiringkan oleh paling sedikit

limapu-luh prajurit kaki. Mereka bukan hanya menyerang

ke depan. Mereka juga mengawal tumit gajahnya.”

“Tetapi Rois betul,” Manan membenarkan temannya.

“Jawabannya memang pasukan kuda. Kalau itu ada pada

kita memang mudah. Karena tiada, harus diadakan

penggantinya: penyergapan mendadak dan cepat terhadap

pasukan kaki pengiring sambil menghancurkan tumit

binatang itu.”

“Di mana pengalaman perang kalian?” Mahmud

mengejek. “Apakah kalian tak tahu setiap gajah perang dan

di waktu perang semua tumitnya dilindungi dengan

zirahbaja? Dengarkan, gajah perang Tuban bila berjalan,

zirahnya bergerincing nyaring pada setiap langkah, seperti

kopyak ki dalang. Ah-ya, mungkin di negeri-negeri lain tak

demikian. Kasihan, betapa sengsaranya gajah perang di

negeri orang itu.”

Sunan Rajeg tertawa mendamaikan.

“Kalian semua betul,” katanya. “Serangan cepat

mendadak membongkar zirah. Tumit itu pun hancurlah.”

“Tidak semua orang-orang bisa membongkarnya, apalagi

dengan cepat dalam serangan mendadak,” Mahmud

membantah. 

“Setiap bikinan manusia dapat dihancurkan oleh

manusia. Soalnya adalah penggunaan waktu sependekpendeknya. Lihatlah, Paman Sunan, pembongkaran zirah

itu sendiri memakan waktu lama di tangan bukan ahli

daripada pendadakannya. Sebelum pembongkaran selesai,

serangan sudah selesai. Maka serangan seperti itu bukan

saja tidak akan mendapat tumit, tidak akan mendapat

zirahnya, sebaliknya belalai gajah membantingnya ke

bumi”.

“Soalnya hanya pada cara menghancurkan tumit itu,”

Manan berkukuh.

Dan untuk ke sekian kalinya Mahmud tak berhasil

menyudutkan dua orang saingannya itu.

Pembicaraan itu terputus karena datangnya seorang

penghubung: memberitakan: ada beberapa orang

penunggang kuda yang diduga sedang menuju ke jurusan

jebakan baru.

“Halangi dan belokkan perhatiannya,” perintah

Mahmud Barjah. Dan setelah penghubung itu pergi, ia

meneruskan, “Kita harus berpanen, bukan mengasak.

Lupakah zirah dan tumit gajah untuk sementara ini, Paman

Sunan. Pertempuran ke tiga sedang di ambang pintu. Kita

bersiap-siap.”

Sunan Rajeg berpaling pada Manan, berkata: “Manan,

aku ikut bersama dengan meriammu.”

Dan mereka pun berangkat ke medan pertempuran.

0o-dw-o0

Meriam-meriam Portugis itu telah ditempatkan pada

sebuah bukit yang dirimbuni pepohonan. Tempat itu sejuk. 

Peti-peti obat tertumpuk jauh dari senjata-senjata itu.

Peluru-peluru besi bergeletakan seperti buah jeruk di bawah

roda-roda meriam. Para pelayan pada berdiri dengan

tampang angker di belakang senjatanya. Pandang mereka

tertuju pada suatu titik di kejauhan di rendahan sana. Dan

titik itu sebentar lagi akan jadi sasaran. Para pengawal

meriam bersiaga di kaki bukit berdiri berkeliling, seperti

bulu di selingkaran mata.

Manan dan Rois sedang sibuk memeriksa sepucuk di

antara yang dua.

Dalam beberapa hari ini mereka tidak melaporkan yang

sepucuk sudah tak diperlukan lagi, dinding kamar ledaknya

telah cuwil, tebalnya tidak rata lagi. Bila dipergunakan

salah-salah kamar ledak itu yang sendiri meledak.

Melihat adanya kejanggalan itu segera Sunan Rajeg

menegur, mengapa hanya sepucuk saja dipersiapkan?

“Musuh terlalu kecil untuk dilayani dengan dua,” jawab

Manan mantap.

Dari atas bukit kecil nampak pasukan kuda Tuban

bergerak pelahan mengapit pasukan gajah.

Sunan Rajeg menuding ke jurusan mereka.

“Mereka nampak sudah lelah mencari-cari,” katanya

memberi perhatian. “Hajarlah dengan meriammu, biar

segera tumpas!”

“Tidak boleh ada serangan. Kanjeng Sunan, sebelum

mereka berada dalam jarak tembak. Perintah pun belum

diberikan oleh Panglima Mahmud.”

“Aku lebih tinggi daripada Mahmud.”

Rois tertawa. 

Dan Sunan Rajeg tersinggung mendengar tawa itu,

berpaling padanya dan membentak: “Tertawa.”

“Kita sudah menguasai medan Kanjeng Sunan,” Manan

cepat-cepat menengahi. “Tak perlu terburu-buru bertindak.

Mereka belum lagi sampai di tempat yang telah kita

tentukan. Lagi pula mereka sama sekali belum tampak

lelah. Kalau dalam keadaan begitu meriam ditembakkan,

pasukan kuda mereka akan temukan tempat ini.”

“Jadi kalian tak percaya pada kekuatan balatentara

Sunan Rajeg, kalian, Manan dan Rois?” tetak Sunan. Ia

menuding Rois dengan tongkatnya.

Beberapa orang dari pengawal meriam datang berlarian,

langsung mengepung Manan dan Rois mengacukan tombak

mereka.

“Aku tahu apa aku kehendaki,” Sunan Rajeg

meneruskan bentakannya. “Tidakkah kalian mengerti

Sunan Rajeg harus saksikan mereka, kafir-kafir itu

bergelimpangan karena meriamnya? Manan! mengapa kau

diam saja?”

“Kanjeng Sunan,” Manan datang mendekati Sunan.

“Seorang prajurit penembak meriam Peranggi bersumpah

sehidup semati dengan meriamnya. Dia tidak boleh

menembak tanpa perhitungan. Meriam adalah dirinya

sendiri yang kedua. Dia harus selamatkan meriamnya bila

dalam keadaan bahaya dan dia….”

“Diam!” bentak Sunan Rajeg, “kalian bukan lagi

penembak meriam Peranggi. Kalian penembak meriamku.”

Sunan Rajeg terpaksa menghentikan curah katanya.

Gelombang batuk tiba-tiba menyerangnya.

Keadaan itu dipergunakan oleh Manan untuk

menyelamatkan keadaannya menolong Sunan Rajeg 

meringankan serangan batuk, dan berkata lunak: “Kanjeng

Sunan menghendaki kemenangan kecil tapi akan berpanen

kehancuran. Kalau itu yang Sunan kehendaki, baik, kami

akan menembak!”

Sunan Rajeg mengebaskan diri dari tangan Manan.

Berkata sengit dan menggigit: “Bukan kau yang

menentukan. Hanya Allah.”

Rois hendak membantu temannya tetapi telah kena

bentak terlebih dahulu. Ia berjalan mundur-mundur karena

ditarik ke belakang oleh para pengawal meriam.

“Semua Allah yang menentukan, Kanjeng Sunan,”

Manan masih juga membuka mulut. “Semua Kanjeng

Sunan, tetapi yang tahu bertanggung jawab hanyalah

manusia.”

“Ajaran kafir. Dari mana datangnya ajaran

tanggungjawab itu? Nasrani? Tak ada aku ajarkan pada

kalian. Kalian pelayan meriam. Atau Sunan Rajeg

sendirikah kau ini?”

“Sudahlah, mari kita menembak,” Rois bersuara lagi dari

tempatnya, dan ia mulai bersiap-siap.

Atas isyarat Sunan para pengawal meriam lari menuruni

bukit dan melakukan tugasnya.

Sunan Rajeg mundur menjauh sambil menutupi dua

belah kuping dengan telapak tangan. Pertikaian selesai dan

tenang kembali kerindangan di bawah pepohonan itu.

Rois telah memasukkan obat ke dalam kamar ledak.

Manan memasukkan peluru dari moncong meriam.

Kemudian laras itu dibetulkan kedudukannya, terarah pada

musuh yang bergajah dan berkuda jauh di bawah sana. Dan

roda-roda meriam itu meninggalkan bekas dalam setelah 

digeser, di sebelahnya terbentuk bukitan tanah kecil di

bawah kaki. Sumbu obat mulai dibakar.

Kiai Benggala Sunan Rajeg mundur lima langkah lagi

dan semakin merapatkan tangan pada telinga. Kemudian

semua orang menutup telinganya sendiri, bukan telinga

orang lain. Sunan Rajeg menghadap ke arah musuh untuk

melihat bagaimana mereka menerima maut dari

meriamnya.

Api sumbu menjalar cepat masuk ke dalam bilik ledak.

Ledakan yang menggemparkan udara dan hati manusia.

Meriam itu seakan hendak melompat muncul dari bumi ke

angkasa. Api menyemburat dari moncong meriam

melemparkan peluru.

Dan dari atas bukit kecil itu nampak peluru terlontar itu

terbang cepat membelah udara menuju ke arah balatentara

musuh yang sedang bergerak

Mereka berada di luar jarak tembak….

Mendengar ledakan meriam dan melihat peluru jatuh di

hadapan pasukan gajah itu berhenti seketika. Sebaliknya

pasukan kuda lari ke depan meninggalkan gajah

membentuk barisan corong dan berpacu maju ke jurusan

sarang meriam untuk mengepung dan membinasakannya.

“Mereka sedang menuju ke mari, Kanjeng Sunan!”

Manan memperingatkannya.

“Tembaki terus!”

‘Tidak mungkin, terlalu tipis untuk ditembak.”

“Mereka akan terhalang oleh parit’ jawab Sunan Rajeg

pelahan. “Ayoh tembaki, tembaki terus.”

“Pengawal” raung Rois, “selamatkan Sunan Rajeg!” 

Mahmud Barjah datang dengan kudanya. Mukanya

merah-padam karena marah. Tangan kirinya memegang

kendali. Tangan kanan mengayunkan cambuk kuda.

“Bangsat!” Pekiknya murka sambil mencambuk Manan.

Yang dicambuk melompat menghindar. “Siapa perintahkan

menembak?”

“Kanjeng Sunan,” jawab Rois.

“Apakah kalian sudah buta? Mahmud Barjah Panglima,”

dengan cambuknya Mahmud menyambar kepala Rois yang

juga melompat mengelak.

“Mereka datang kemari!” teriak Manan.

Panglima Rajeg itu mencambuk penggul kudanya dan

berpacu turun untuk memimpin pertempuran. Derap

kudanya makin terdengar pelan kemudian hilang sama

sekali, ditelan oleh semak.

Dengan dipapah Sunan Rajeg menuruni bukit sambil

berkomat-kamit. Para pengawal menaikkannya ke atas

tandu, dan berangkat mereka kembali ke desa.

0o-dw-o0

Setelah diurut dengan cermat dan dapat menggunakan

tangannya kembali, walaupun masih lemah, Rangkum

menolak tandu. Dengan tangan kanan lemah memegangi

kendali dan tangan kiri membawa cambuk perang ia

memimpin kembali pasukan kakinya.

Pasukannya berbaris dalam formasi supit udang

melewati pasukan gajah dan maju ke depan mengikuti jejak

pasukan kuda.

Terhenti karena parit terjal, pasukan kuda yang tipis itu

melambai pada pasukan kaki di belakangnya untuk 

melebarkan supitnya. Mereka bergerak untuk menemukan

ujung-ujung parit.

Mahmud Barjah tak menghendaki mereka menemukan

ujung-ujung itu. Perintah penyerangan dijatuhkan. Tetapi

musuhnya tak memperdulikan serangan itu dan terus

bergerak meninggalkan jebakan.

Dari balik-balik semak di seberang parit terjal

bersemburan anak panah dan api dan tombak. Orang mulai

bergelimpangan terluka atau mati, terinjak oleh temanteman sendiri.

Prajurit-prajurit Tuban yang telah berhasil mencapai

ujung-ujung parit segera menyerang musuhnya di seberang

parit. Pertempuran terjadi. Meriam Manan dan Rois

berdentuman. Pelurunya berjatuhan tepat pada tempat yang

telah ditentukan, di depan parit. Mereka tak berani

menembaki musuh yang telah menyusup dalam semaksemak di belakang jebakan.

Dengan semangat hendak menebus kerusakan dalam

pertempuran kedua, pasukan kaki Tuban sama sekali tak

mengindahkan bahaya mengancam. Melalui ujung-ujung

parit kiri dan kanan mereka mencurahi belakang jebakan,

mendesak maju terus. Semak-semak itu bosah-basih terinjak

dan tertebang. Panah tak bisa dipergunakan. Tombak

mengambil alih.

Pasukan kuda mundur mengikuti pasukan kaki yang

mengamuk.

Api anak panah dan tombak tak lagi beterbangan di

depan parit jebakan. Di belakang pasukan kuda mengikuti

pasukan gajah. Dan balatentara Tuban mendesak terus.

Semak-semak yang terinjak pun ludes rata dengan tanah. 

Melihat tentara Rajeg terdesak Manan segera

memerintahkan mengungsikan meriam dan segala

perlengkapan, obat dan peluru. Regu-regu pengangkut lari

naik ke atas dan mengungsikan perlengkapan. Mereka lari

ke bawah, melintasi dataran, lari sambil membawa

bebannya seperti serombongan kucing menggondol

anaknya sendiri. Dan pucuk meriam itu menuruni bukit

dengan gampang. Manan dan Rois pun lari, sepanjang jalan

sambil memaki-maki dalam bahasanya sendiri.

Tentara Rajeg yang terdesak tak mampu lagi menyusun

barisan. Mereka mundur atau melarikan diri ke dalam

rumpunan semak yang lebih dalam. Mahmud Barjah tak

mampu lagi mengirimkan penghubung. Laskar-laskarnya

terpaksa mengambil kebijaksanaan sendiri-sendiri.

Berpegangan pada pengalaman sebelumnya kini

Wiranggaleng tak mau lagi kehilangan jejak musuhnya. Ia

memerintahkan terus mendesak, siang dan malam. Ia tak

mau tentaranya menderita lelah hanya untuk mencari-cari.

Sorak-sorai tentara Tuban yang mengguruh dari dalam

semak-semak menjadi pertanda Rajeg telah terdesak dan

didesak.

Sorak-sorai tentara Tuban itu terdengar semakin

mendekat. Manan memerintahkan agar regu pengangkut

meninggalkan medan terbuka dan masuk ke dalam hutan.

Waktu pasukan Banteng Wareng datang, mereka sudah

tidak nampak kecuali bekas-bekas yang tertinggal.

Pecahan-pecahan tentara Rajeg yang bersebaran di

medan terbuka segera pula melarikan diri masuk ke dalam

hutan. Mereka membuangi pakaian putihnya dan segera

hilang di antara kehijauan dan kecoklatan. 

Tandu Kiai Benggala Sunan Rajeg tergoncang-goncang

dibawa lari oleh para pemikulnya. Antara sebentar

terdengar Sunan berseru-seru memperingatkan dari atas

tandunya.

Dari bawah para pemikul juga memperingatkan ke atas:

“Ampun, Kanjeng Sunan, mereka sudah dekat’ dan terus

lari tak peduli tandu semakin berguncangan.

Waktu derap kuda mulai terdengar, para pemikul

memerlukan berhenti untuk mengambil nafas dan

menengok ke belakang. Mereka tidak keliru dengar pasukan

Tuban sedang berpacu mendatangi sambil menggeletarkan

cambuk perang ke udara.

Dengan serta merta mereka turunkan tandu.

“Lari, Kanjeng Sunan, lari, lari dengan kaki sendiri.”

Dan larilah mereka, yang menandu dan yang ditandu,

dengan kaki sendiri, masuk ke dalam hutan….

0o-dw-o0

Matahari belum lagi tenggelam.

Banteng Wareng dan pasukannya menyisiri setiap

jengkal tanah yang terbuka. Bukan lagi tentara Rajeg untuk

menandingi kelajuan dan kesigapan mereka.

Pasukan kaki di bawah Rangkum kemudian datang

menyusul dan memburu musuhnya masuk ke dalam hutan.

Baru kemudian nampak pasukan gajah sebagai bukitbukit daging yang menggetarkan, berlenggang dengan

hidungnya.

Hutan itu sendiri terlampau lebat untuk mempertemukan

dua tentara yang bermusuhan. Di bawahnya ditumbuhi 

semak-semak bamban dan combrang. Rotan melata datar di

tanah dan menjulur melibati pepohonan tinggi mengatasi

rambatannya sendiri bergumul meliliti barang apa yang

dapat ditangkapnya, kemudian melambai-lambaikan

puncak-puncaknya pada langit dengan penuh kemenangan

dan keangkuhan.

Yang terdengar di dalam hutan hanya gemerasak kaki

menerjang semak. Sorak-sorai telah padam. Unggas hutan

telah dari tadi terbang melarikan diri, lupa pada kicauannya

sendiri… 

Novel Arus Balikk Bab 20 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.

Bagaimana alur cerita dari novel Arus Balik Bab 20 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua. 

Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.

Untuk membaca Novel Arus Balik bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 8 Disini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 28 Disini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 26 Disini