Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 19 Disini
Novel Arus Balik bab 19 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Arus Balik menceritakan tentang kisah Kedatangan Portugis di Bumi Nusantara dengan latar awal Abad XVI, yaitu ketika surutnya pengaruh Majapahit dan naiknya pamor Kesultanan Demak.
Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Arus Balikk Bab 19 Bahasa Indonesia Sekarang ini.
19. Kesepian di Tuban
Pelabuhan itu sepi. Hanya kadang saja terdengar
seseorang menohok-nohok memperbaiki sesuatu. Pasar
pelabuhan kosong. Bangsal-bangsal pelabuhan yang selalu
kedatangan rempah-rempah baru dari Maluku sekarang
melompong dengan pintu semua terbuka.
Rejeki telah segan datang dari laut. Dari darat pun tiada
sesuatu datang ke tempat ini. Dengan gerobak tidak, dengan
pikulan pun tidak. Bahkan wanita-wanita gelandangan pada
meninggalkan pondok daun kelapanya, mengungsi entah ke
mana: Perkampungan orang-orang Islam di sebelah timur
sana tertinggal lengang. Tinggal kucing dan ayamnya tidak
dibawa mengungsi ke pedalaman masih berkeliaran tanpa
pemilik.
Di pantai barang dua puluh atau dua puluh lima perahu
tercancang pada patok. Air hujan mulai mengisinya.
Mereka berayun tidak menentu, hanya menunggu
datangnya hujan deras untuk kemudian tenggelam.
Warung Yakub pun sudah lama tutup. Ada terdengar
berita dari seseorang yang telah bertemu dengannya di
Gresik, ia telah membuka warung tuak di sana. Berita lain
menyebutkan orang pernah memapasi-nya di Pasuruan.
Berita ketiga mengabarkan ia telah masuk jadi prajurit pada
balatentara Demak. Tak ada berita yang pasti. Yang jelas
warungnya tinggal tutup.
Kapal peronda pantai Tuban tiada lagi nampak sebuah
pun. Semua telah diungsikan ke Gresik atas perintah
Senapati Tuban. Kapal-kapal itu takkan dapat membela diri
terhadap serangan Peranggi, percuma mondar-mandir
sepanjang pantai untuk menunggu peluru besi. Harus bisa
membikin meriam sendiri maka kapal-kapal itu bisa
berguna kembali.
Tholib Sungkar Az-Zubaid tak mempunyai kegiatan
harian. Ia kelihatan lebih kurus daripada biasanya. Jarang ia
nampak di rumah. Ia lebih sering kelihatan di dalam
kadipaten, baik dipanggil atau tidak oleh Sang Adipati. Tak
sering lagi orang melihatnya berjalan memeriksai bagianbagian pelabuhan yang membutuhkan perbaikan. Dana
untuk itu sudah tak ada lagi dalam perbendaharaan
kesyahbandaran. Dan setiap berada di dermaga orang dapat
melihat ia sedang gelisah meninjau ke jurusan timur.
Menara pelabuhan tiada berpenjagaan lagi. Tinggal
canangnya tergantung tanpa disentuh orang lagi.
Pemukulnya menggeletak di pojokan geladak.
Kesyahbandaran lebih sunyi daripada di mana pun.
Gandok kiri dan kanan tiada berpenghuni. Gedung utama
pun kosong. Gedung batu kedua di seluruh negeri Tuban itu
kehilangan serinya, nampak seperti candi besar yang telah
ditinggalkan oleh pemeluk agamanya. Syahbandar sendiri
jarang nampak. Dan tiada terdengar gelaktawa atau tangis
Gelar. Ia dibawa oleh Idayu ke Awis Krambil. Nyi Gede
Kati ikut pula ke sana. Hanya Paman Marta yang setiap
hari kelihatan mengurus taman.
Di luar kesepian ini terdapat kesibukan yang tak dapat
difahami oleh penduduk. Ratusan lelaki berjalan kuat dan
tegap selalu kelihatan berjalan tersebar ke sana ke mari
tanpa pekerjaan. Karena tiada keris pada pinggang dan
tiada tombak pada tangan, orang yang tak mengenalnya
menduga mereka prajurit-prajurit yang sedang melepaskan
diri dari kesatuan. Dan mereka selalu berada di luar daerah
pelabuhan.
Orang-orang yang mengenal salah seorang di antara
mereka segera tahu, mereka tidak lain daripada anggotaanggota pasukan pengawal kadipaten yang tidak berpakaian
prajurit. Gerak-gerik menarik perhatian. Dan orang-orang
tak pernah dapat mendapat keterangan apa sedang mereka
kerjakan. Karena di balik semak-semak hutan yang
membatasi daerah pelabuhan dengan daerah tak
berpenghuni ditempatkan cetbang-cetbang yang semua
diarahkan ke laut. Orang hanya menduga-duga mereka
disiapkan untuk menanggulangi kemungkinan masuknya
Peranggi atau sebangsanya dari laut, sementara
pertempuran sedang terjadi di pedalaman.
Perkampungan non-Nusantara juga sepi karena setelah
terjadi kerusuhan sebagian besar penduduknya telah
meninggalkan Tuban belayar entah ke mana. Hanya
penduduk Pecinan tidak susut, karena hukum Tuban
melindungi mereka di waktu perang. Artinya, semua
prajurit dari dua belah tentara yang bermusuhan tidak
diperkenankan menginjak daerah itu baik untuk
kepentingan penyerangan ataupun pertahanan. Penduduk
biasa pun tidak diperkenankan memasuki di waktu perang,
sekalipun untuk menyelamatkan diri. Belum jelas benar dari
mana asalnya hak perlindungan yang seakan berjalan
dengan sendirinya ini. Boleh jadi sudah sejak Majapahit
atau lebih tua lagi. Sedang perjanjian antara Ceng He
dengan Adipati Tuban memperkokoh perjanjian itu untuk
ganti pengakuan armada Tiongkok itu. Pada monopoli
Tuban atas sumber rempah-rempah Maluku Pecinan malah
mendapat hak bertahan dan hak kepolisian demi
keselamatan warganya.
Sunyi pula alun-alun yang biasanya jadi pusat keramaian
dan daerah pusat praja. Tak ada orang menginjakkan kaki
di sini, apalagi kanak-kanak. Kalau orang tua melewatinya,
ia berjalan tanpa semau sendiri. Peristiwa pembunuhan atas
diri Sang Patih didekat pohon beringin kurung, telah
membikin tempat ini jadi sangar. Bahkan mereka yang
tinggal di sekitar situ lebih suka mengambil jalan belakang
dan menerjang-nerjang pelataran tetangga.
Mayat Sang Patih masih juga tergeletak, berpindah dari
tempat semula karena serbuan anjing. Lalat dan gagak ikut
pula menyerangnya. Bau busuk dibawa angin ke seluruh
penjuru mata-angin. Tak ada orang memeliharanya.
Keluarga Sang Patih sendiri pun tak berani turun tangan.
Di dalam kadipaten Sang Adipati kelihatan selalu
murung dan gusar. Tak ada seorang pun prajurit pengawal
menjaga kadipaten. Mesin praja lumpuh sama sekali. Arus
bahan makanan ke dalam kadipaten terputus, dan bahaya
kelaparan akan segera mengancam bila keadaan tidak
berubah.
Sang Adipati tak dapat berbuat sesuatu apa tanpa
pengawal dan tanpa punggawa. Dan para punggawa telah
diperintahkan keluar dari kadipaten oleh pasukan pengawal
atas perintah Wiranggaleng.
Untuk pertama kali dalam hidupnya ia baru mengerti,
tanpa kawula yang dengan sukarela melayani dan
menjalankan perintahnya, ternyata ia tidak berarti sesuatu
pun. Anggapan, bahwa seorang raja dimungkinkan oleh
para dewa, dan oleh para dewa saja, kini ternyata
menghadapi ujian. Dan justru karena pengetahuan baru itu
ia menjadi murung dan gusar setiap hari, tak tahu apa harus
diperbuatnya.
Dari ajaran-ajaran istana leluhur ia tahu dan yakin,
kekuasaan seorang raja tidak berasal dari dunia manusia,
untuk mengatur kawula, untuk mengatur perang dan
damai, perjanjian dan pembatalannya. Semuanya berasal
dari Dia yang membikin hidup. Maka sudah menjadi
patokan, barangsiapa melanggar ketentuan praja,
membangkangnya, adalah juga melanggar dan
membangkang terhadap Dia. Bagaimana sekarang?
Sang Patih jelas telah membangkang terhadap dirinya.
Dia layak menerima hukumannya. Kematiannya adalah
sudah sepatutnya sebagai satria – mendapat tikaman keris
sekali. Dalam hal ini para dewa benar. Dia yang membikin
hidup telah mengawal aturanNya sendiri. Bila dia tidak
mati karena Wiranggaleng, pasti karena perintahnya. Dan
itu pasti terjadi. Biarlah itu jadi peringatan pada setiap
kawula. Karena itu setiap permohonan untuk memelihara
dan merawat mayatnya ia tolak tanpa alasan.
Tetapi Wiranggaleng! Apakah yang diperbuatnya? Dia
telah menarik dan mengerahkan semua balatentara Tuban.
Ia telah bunuh Sang Patih tanpa perintahnya. Ia telah seret
Tuban seluruhnya dalam perang, memberi kelonggaran
pada bupati-bupati tetangga untuk datang menyerbu. Ia
membiarkan Tuban terbuka terhadap Demak! Dia telah
kosongkan kadipaten dari pengawalan dan punggawa.
Tanpa kawula, tanpa balatentara, tanpa punggawa, tanpa
saksi dunia yang mengagumi, tanpa kebesaran, terutama
tanpa kawula yang menghinakan dan merendahkan diri
dengan sukarela terhadapnya, tanpa kekecilan di sekitar diri
– seorang raja tidak mempunyai sesuatu arti. Dia sama
dengan seorang desa tak berpendidikan. Bahkan gamelan
tiada keindahannya lagi. Tarian tiada daya penarik lagi bagi
mata dan hati. Makanan hilang rasa: Tetapi jantung terus
juga berdenyut.
Hiburan batin yang ada padanya adalah: balas dendam.
Ya, kelak bila semua telah kembali dalam genggaman
tangan, tumpaslah mereka yang lancang mengurangi
kebesaran dan kekuasaan ini. Tumpaslah semua mereka. Ia
akan jatuhkan hukuman yang sekejam-kejamnya. Dan
untuk mengisi waktu menunggu datangnya waktu itu ia
lewatkan hari-harinya yang sunyi, murung dan gusar di
dalam keputrian. Maka harem yang mengisap daya
kekuatan tuanya itu menyusutkan diri dan pribadinya.
Dendam dalam hati, keriaan yang meriah dan kesenangan
badani di luarnya. Ia sudah tidak mengingat lagi musuh
dari darat ataupun laut. Negeri dan praja tak punya sesuatu
arti lagi baginya.
Terhadap keamanan jiwanya pribadi ia tak pernah punya
waswas. Leluhurnya, dari penguasa yang satu pada
penguasa yang lain telah membangunkan sikap batin satria:
hanya ada satu macam maut dengan tiga nilai, tidak kurang
dan tidak lebih. Nilai pertama dan terpuji adalah maut
karena lanjut usia. Nilai kedua yang patut adalah karena
kehormatan sebagai satria, di medan perang dan di mana
saja. Nilai ketiga yang dianggapnya hina adalah karena
hukuman dan tidak dengan keris. Dan seorang satria hanya
boleh mengambil dua nilai yang sebelum terakhir. Setiap
saat ia bersedia mati baik karena usia mau pun karena
kehormatan. Ia tak pernah punya keraguan.
Bila ternyata Wiranggaleng kelak melakukan
pengkhianatan terhadap dirinya, ia akan mengambil nilai
kedua. Dan pengkhianatan itu bisa datang dari setiap sudut,
dan ia selalu waspada terhadap setiap kemungkinan. Ia
yakin dirinya sendiri, ia akan menghembuskan nafas
penghabisan sebagai satria dengan kehormatan. Dan apalah
salahnya selama ia tetap satria? Putra-putranya akan
mendengar berita kematiannya itu, dan mereka akan
mengerti dan menghormatinya.
Dan setiap ia ingat pada putra-putranya, ia mengebaskan
mereka semua dari pikirannya. Tak ada perlunya mengingat
mereka. Mereka akan dihadapi oleh jamannya, atau jaman
itu sendiri akan membunuh-nya bila ia melawannya, karena
jaman adalah tidak lebih dan tidak kurang daripada Batara
Kala itu sendiri, tak peduli mereka Islam atau Hindu, atau
Buddha atau Peranggi sekalipun. Semua sudah mendapat
tempatnya.
Tetapi yang satu ini: kekosongan dari kekuasaan.
Kesepian dari kebesaran. Tak ada orang-orang kecil di
selingkungan yang melaksanakan segala apa yang diri
kehendaki. Semua sudah terasa ingkar terhadapnya. Tanpa
kekuasaan dan kebesaran segala-galanya menjadi berubah.
Dan semua bersumber hanya pada seorang anak desa yang
tak tahu adat. Seorang anak desa telah membunuh saudara
sepupunya, kemudian mengangkat diri sendiri menjadi
Patih Senapati Tuban! Siapakah dewa sembahannya maka
dia berbuat tanpa titahku?
Terngiang-ngiang ajaran praja itu: seorang raja tidak
akan berbuat sesuatu berdasarkan belas kasihan, ia berbuat
hanya demi keselamatan praja. Seseorang raja tidak akan
berbuat sesuatu berdasarkan terimakasih, ia berbuat hanya
demi keselamatan praja. Dan beberapa kalimat lagi sebangsanya.
Dan praja sekarang lumpuh.
Dan praja adalah raja.
Bagaimana pun dan ke mana pun pikirannya ia
kerahkan, datangnya pada satu nama itu juga:
Wiranggaleng, seorang anak desa tanpa makna yang telah
berani membunuh seorang dari darah Majapahit, darah
tertinggi dalam kehidupan yang dikenalnya. Anak desa
lancang itu begitu bodohnya, dia tidak mengerti, bahwa
setiap orang yang dialiri darah Majapahit mempunyai hak
untuk menjadi raja.
Pengetahuannya tentang sejarah praja, bahwa Majapahit
bisa berdiri hanya karena bantuan orang-orang kebanyakan,
dan orang-orang itu kemudian diangkat oleh Sri Baginda
Kertarajasa menjadi gubernur terper-caya tak juga mampu
melenyapkan dendamnya pada Wiranggaleng. Ia harus
membunuhnya, dengan jalan dan cara apa pun
sebagaimana o-rang-orang lain telah juga dibunuhnya.
Hanya ada kesulitan pelaksanaan terhadap orang yang satu
ini: ia dicintai dan dihormati oleh kawula Tuban.
Bagaimana menghukum dia kalau semua orang mencintai
dan menghormatinya? Tidakkah kawula Tuban akan
melindunginya, dan itu berarti menentangnya? Hukuman
padanya akan berarti kebencian yang tertujukan kepada
raja. Dan bagaimana kalau seluruh kawula karenanya
ingkar dan membangkang terhadap dirinya?
Bila demikian maka dewa-dewa tidak lagi membenarkan
kekuasaannya, mencabut kembali kebesarannya. Ternyata
dewa-dewa juga berpihak pada manusia….
Dan bila pikiran itu sampai di situ ia menjadi pusing.
Dalam kepusingan itu satu-satunya tempat yang baik hanya
haremnya.
Sang Adipati mendengar peristiwa di dekat pohon
beringin itu dari persembahan Syahbandar Tuban.
Nampaknya orang lain tak ada yang berani menghadap.
Persembahan yang cukup teliti itu telah menyorong
Wiranggaleng ke pojokan sebagai biangkeladi segala
keonaran yang tak patut mendapat sedikit pun
pengampunan daripadanya.
“Wira, si anak desa itu, Gusti, telah berani melanggar
titah setelah dia mengangkat diri jadi Patih Senapati
Tuban,” Tholib Sungkar As-Zubaid mengadu, “bukan
hanya menggerakkan lima ratus prajurit. Dia telah
perintahkan semua kepala pasukan untuk mengikuti dan
menjalankan perintahnya. Dialah yang pertama-tama
menguasakan kepala pasukan pengawal. Dia telah
membikin-bikin alasan untuk bertengkar dengan Sang Patih
dan membunuhnya, membunuh atasannya, ya Gusti,
seperti membunuh anak kambing.”
Sang Adipati hanya mengajukan satu pertanyaan:
“Bagaimana bisa kepala-kepala pasukan mendengarkan
dia?”
“Takut, Gusti. Setan telah merasuki dirinya.”
Sang Adipati mengerti, bukan karena takut mereka
mendengarkannya. Juga bukan karena kerasukan setan.
Memang ada sesuatu yang hidup dalam jiwa si anak desa
itu. Dan semua itu takkan terjadi tanpa perkenan dewadewa. Dan tidak mungkin kalau hanya karena kepalakepala pasukan itu bukan berdarah ningrat. Sekiranya
mereka berdarah ningrat pun, kalau dewa-dewa telah
berkenan, mereka akan mendengarkannya juga.
Yang teringat olehnya adalah pemberontakanpemberontakan besar yang berkali-kali meletus dalam masa
kejayaan Majapahit, hanya karena pembagian kekuasaan
antara ningrat dan tidak ningrat. Ini jugakah akan jadi akhir
kadipaten Tuban?
Bila pikirannya sampai di situ ia pun menjadi pusing.
Syahbandar Tuban tak membiarkan kesempatan berlalu
tanpa membakar-bakar Sang Adipati untuk bertindak
terhadap anak desa itu bila keadaan sudah reda.
“Tidak bisa dibiarkan anak desa itu mengangkat diri jadi
Patih dan Senapati sekaligus, Gusti, itu adalah menyalahi
darah, menyalahi takdir, melawan ketentuan kodrat,” dan
ia merenungkan makna dari darah, takdir dan kodrat.
Tetapi Sang Adipati lebih cenderung untuk mengingatingat akan mendesaknya Gajah Mada, si anak desa itu, ke
atas sehingga jadi Mahapatih Majapahit. Ia teringat juga
pada anak desa lain, juga mendesak naik terus, bukan saja
jadi Patih, malah jadi raja. Dan anak desa itu adalah Ken
Arok, orang yang darahnya hidup dalam tubuh raja-raja di
Jawa kemudian. Tetapi Wiranggaleng takkan jadi Patih
Tuban, juga takkan jadi raja Tuban, selama Adipati Tuban
Arya Teja Tumenggung Wilwantikta belum lenyap dari
muka bumi.
Dan sejak mempersembahkan peristiwa di alun-alun
Tholib Sungkar Az-Zubaid selain berkitar-kitar di sekeliling
kadipaten, tak peduli pada bau mayat yang mengembara ke
mana-mana. Ia merasa lebih aman di dekat Sang Adipati.
Sebaliknya keputrian yang kadang membosankan itu
membikin Sang Adipati merindukan Syahbandar Tuban –
satu-satu orang yang kini dapat diajaknya bicara.
Pada kesempatan-kesempatan seperti itu Tholib Sungkar
suka mencoba-coba bicara tentang jalannya pertempuran di
pedalaman. Tetapi Sang Adipati tidak pernah melayaninya.
Ia percaya pada balatentara Tuban. Biar pun musuh itu
menggunakan meriam, balatantaranya takkan mungkin
dapat dikalahkan. Dengan atau tanpa Wiranggaleng
ataupun Sang Patih, balatentara Tuban pasti akan menang.
Tidak percuma selama dua ratus tahun jadi andal-andal
Majapahit.
Bila Syahbandar Tuban mulai bicara tentang
Wiranggaleng makin jelas gambaran anak desa itu di
hadapannya untuk waktu dekat mendatang. Anak desa itu
akan menghadap padanya dan mempersembahkan, musuh
telah dikalahkan. Dia akan menganggap kemenangan
balatentara Tuban sebagai kemenangannya sendiri. Pada
waktu itu dia akan tahu, sekiranya ada seekor anjing dapat
diangkat jadi Senapati, balatentara Tuban akan tetap
menang. Dia akan menghadap seperti seekor anak kambing
yang mengembik-ngembik memohon pengesahan. Dan dia
akan menunggu datangnya karunia dari tanganku.
Kambing yang mengembik itu takkan mendapat umpan.
Selamanya badut yang tidak lucu dihukum oleh penonton.
Ia tidak menanggapi Tholib Sungkar Az-Zubaid.
Pertempuran akan segera selesai. Semua akan kembali
seperti sediakala, atau semua akan tumpas tanpa ia saksikan
sendiri. Sederhana.
Di dalam rumah-rumah penduduk Tuban yang suram
pula orang masih juga tak habis-habis pikir tentang
perbuatan Wiranggaleng. Tak ada seorang kawula yang
mempunyai perasaan tidak senang terhadap Sang Patih.
Orang menganggapnya bijaksana. Mengapa justru anak
desa itu yang membunuhnya? Mengapa Wiranggaleng?
Anak desa yang justru dicintai dan dihormati itu?
Dan orang pun terkenanglah pada masa ia diarak jadi
pengantin agung dengan Idayu. Semua orang ikut bersuka
cita bersama dengannya. Apakah perbuatannya yang
menggoncangkan itu bukan telah diramalkan dalam
jatuhnya tandu pengantin? Dan mengapa sebagai Senapati
Tuban ia tidak mengerahkan pagardesa dan penduduk?
Mengapa hanya balatentara yang dikerahkannya?
Dalam rumah-rumah yang suram dalam suasana yang
suram pula pertanyaan-pertanyaan seperti itu tiada pernah
terjawab. Maka oranghanya bisa menunggu selesainya
pertempuran. Seperti halnya dengan setiap orang Tuban,
gumpilan-gumpilan sejarah masalalu tentang seorang anak
desa yang naik ke atas. Gajah Mada dan Ken Arok.
Tetap tak ada yang dapat meramalkan apa yang bakal
terjadi. Setidak-tidaknya setiap orang percaya, pertempuran
di pedalaman akan segera selesai, dan semua akan kembali
seperti semula.
Yang orang tak habis-habis mengerti ialah mengapa
Syahbandar Tuban, Sayid Habibuliah Almasawa, yang
dicurigai dan tak disukai oleh setiap orang itu, justru
menjadi semakin dekat pada Sang Adipati. Tak ada seorang
pun berani menjamah kulitnya. Dan memang orang tidak
tahu apa yang hidup dalam hati Sang Adipati.
Dan Idayu? Seluruh kota Tuban mengerti dia sedang
tetirah ke Awis Krambil untuk melahirkan. Dan mungkin
juga sudah melahirkan. Mereka semua berdoa dengan
diam-diam agar anak yang dilahirkan pada waktu sekitar
terjadinya pembunuhan terhadap Sang Patih tidak akan
terjatuh dalam pengaruh Sang Banaspati. Semoga anak itu
memang menjadi perpaduan kemuliaan antara bapak dan
ibunya. Anak cinta itu semestinya jadi gemilang, lebih
gemilang daripada kedua orangtuanya.
Pada hari-hari itu langit selalu bermendung, ditingkah
oleh guruh dan petir. Hutan-hutan yang hijau kelam di
kejauhan nampaknya sedang menggigil ketakutan
menunggu datangnya taufan.
Angin tak henti-hentinya bertiup, dan kesenyapan
semakin membikin hati gundah.
Di malam hari bintang yang sekecil-kecilnya pun enggan
menjenguk bumi. Dan laut pun tak jera-jera berdebur,
sedang hati penduduk Tuban tawar kehilangan gairah.
Tinggal Sang Adipati saja percaya: tak lain dari
Syahbandar Tuban, Sayid Habibuliah Almasawa yang bisa
mendatangkan persahabatan dan Peranggi dan Ispanya.
Ia merasa masih mempunyai cukup kehormatan: Ia tidak
akan mengirimkan utusan sebagaimana halnya dengan raja
Blambangan Giri Dahanaputra, Girindra Wardhana. Tuban
tidak perlu mengakui keunggulan Malaka….
Novel Arus Balikk Bab 19 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.
Bagaimana alur cerita dari novel Arus Balik Bab 19 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua.
Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.
Untuk membaca Novel Arus Balik bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.
Komentar
Posting Komentar