Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 19 Disini

Novel Arus Balik bab 19 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Arus Balik menceritakan tentang kisah Kedatangan Portugis di Bumi Nusantara dengan latar awal Abad XVI, yaitu ketika surutnya pengaruh Majapahit dan naiknya pamor Kesultanan Demak.

Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Arus Balikk Bab 19 Bahasa Indonesia Sekarang ini.

19. Kesepian di Tuban

Pelabuhan itu sepi. Hanya kadang saja terdengar

seseorang menohok-nohok memperbaiki sesuatu. Pasar

pelabuhan kosong. Bangsal-bangsal pelabuhan yang selalu

kedatangan rempah-rempah baru dari Maluku sekarang

melompong dengan pintu semua terbuka.

Rejeki telah segan datang dari laut. Dari darat pun tiada

sesuatu datang ke tempat ini. Dengan gerobak tidak, dengan

pikulan pun tidak. Bahkan wanita-wanita gelandangan pada

meninggalkan pondok daun kelapanya, mengungsi entah ke

mana: Perkampungan orang-orang Islam di sebelah timur

sana tertinggal lengang. Tinggal kucing dan ayamnya tidak

dibawa mengungsi ke pedalaman masih berkeliaran tanpa

pemilik.

Di pantai barang dua puluh atau dua puluh lima perahu

tercancang pada patok. Air hujan mulai mengisinya.

Mereka berayun tidak menentu, hanya menunggu

datangnya hujan deras untuk kemudian tenggelam.

Warung Yakub pun sudah lama tutup. Ada terdengar

berita dari seseorang yang telah bertemu dengannya di

Gresik, ia telah membuka warung tuak di sana. Berita lain

menyebutkan orang pernah memapasi-nya di Pasuruan.

Berita ketiga mengabarkan ia telah masuk jadi prajurit pada

balatentara Demak. Tak ada berita yang pasti. Yang jelas

warungnya tinggal tutup.

Kapal peronda pantai Tuban tiada lagi nampak sebuah

pun. Semua telah diungsikan ke Gresik atas perintah

Senapati Tuban. Kapal-kapal itu takkan dapat membela diri

terhadap serangan Peranggi, percuma mondar-mandir

sepanjang pantai untuk menunggu peluru besi. Harus bisa

membikin meriam sendiri maka kapal-kapal itu bisa

berguna kembali. 

Tholib Sungkar Az-Zubaid tak mempunyai kegiatan

harian. Ia kelihatan lebih kurus daripada biasanya. Jarang ia

nampak di rumah. Ia lebih sering kelihatan di dalam

kadipaten, baik dipanggil atau tidak oleh Sang Adipati. Tak

sering lagi orang melihatnya berjalan memeriksai bagianbagian pelabuhan yang membutuhkan perbaikan. Dana

untuk itu sudah tak ada lagi dalam perbendaharaan

kesyahbandaran. Dan setiap berada di dermaga orang dapat

melihat ia sedang gelisah meninjau ke jurusan timur.

Menara pelabuhan tiada berpenjagaan lagi. Tinggal

canangnya tergantung tanpa disentuh orang lagi.

Pemukulnya menggeletak di pojokan geladak.

Kesyahbandaran lebih sunyi daripada di mana pun.

Gandok kiri dan kanan tiada berpenghuni. Gedung utama

pun kosong. Gedung batu kedua di seluruh negeri Tuban itu

kehilangan serinya, nampak seperti candi besar yang telah

ditinggalkan oleh pemeluk agamanya. Syahbandar sendiri

jarang nampak. Dan tiada terdengar gelaktawa atau tangis

Gelar. Ia dibawa oleh Idayu ke Awis Krambil. Nyi Gede

Kati ikut pula ke sana. Hanya Paman Marta yang setiap

hari kelihatan mengurus taman.

Di luar kesepian ini terdapat kesibukan yang tak dapat

difahami oleh penduduk. Ratusan lelaki berjalan kuat dan

tegap selalu kelihatan berjalan tersebar ke sana ke mari

tanpa pekerjaan. Karena tiada keris pada pinggang dan

tiada tombak pada tangan, orang yang tak mengenalnya

menduga mereka prajurit-prajurit yang sedang melepaskan

diri dari kesatuan. Dan mereka selalu berada di luar daerah

pelabuhan.

Orang-orang yang mengenal salah seorang di antara

mereka segera tahu, mereka tidak lain daripada anggotaanggota pasukan pengawal kadipaten yang tidak berpakaian

prajurit. Gerak-gerik menarik perhatian. Dan orang-orang 

tak pernah dapat mendapat keterangan apa sedang mereka

kerjakan. Karena di balik semak-semak hutan yang

membatasi daerah pelabuhan dengan daerah tak

berpenghuni ditempatkan cetbang-cetbang yang semua

diarahkan ke laut. Orang hanya menduga-duga mereka

disiapkan untuk menanggulangi kemungkinan masuknya

Peranggi atau sebangsanya dari laut, sementara

pertempuran sedang terjadi di pedalaman.

Perkampungan non-Nusantara juga sepi karena setelah

terjadi kerusuhan sebagian besar penduduknya telah

meninggalkan Tuban belayar entah ke mana. Hanya

penduduk Pecinan tidak susut, karena hukum Tuban

melindungi mereka di waktu perang. Artinya, semua

prajurit dari dua belah tentara yang bermusuhan tidak

diperkenankan menginjak daerah itu baik untuk

kepentingan penyerangan ataupun pertahanan. Penduduk

biasa pun tidak diperkenankan memasuki di waktu perang,

sekalipun untuk menyelamatkan diri. Belum jelas benar dari

mana asalnya hak perlindungan yang seakan berjalan

dengan sendirinya ini. Boleh jadi sudah sejak Majapahit

atau lebih tua lagi. Sedang perjanjian antara Ceng He

dengan Adipati Tuban memperkokoh perjanjian itu untuk

ganti pengakuan armada Tiongkok itu. Pada monopoli

Tuban atas sumber rempah-rempah Maluku Pecinan malah

mendapat hak bertahan dan hak kepolisian demi

keselamatan warganya.

Sunyi pula alun-alun yang biasanya jadi pusat keramaian

dan daerah pusat praja. Tak ada orang menginjakkan kaki

di sini, apalagi kanak-kanak. Kalau orang tua melewatinya,

ia berjalan tanpa semau sendiri. Peristiwa pembunuhan atas

diri Sang Patih didekat pohon beringin kurung, telah

membikin tempat ini jadi sangar. Bahkan mereka yang 

tinggal di sekitar situ lebih suka mengambil jalan belakang

dan menerjang-nerjang pelataran tetangga.

Mayat Sang Patih masih juga tergeletak, berpindah dari

tempat semula karena serbuan anjing. Lalat dan gagak ikut

pula menyerangnya. Bau busuk dibawa angin ke seluruh

penjuru mata-angin. Tak ada orang memeliharanya.

Keluarga Sang Patih sendiri pun tak berani turun tangan.

Di dalam kadipaten Sang Adipati kelihatan selalu

murung dan gusar. Tak ada seorang pun prajurit pengawal

menjaga kadipaten. Mesin praja lumpuh sama sekali. Arus

bahan makanan ke dalam kadipaten terputus, dan bahaya

kelaparan akan segera mengancam bila keadaan tidak

berubah.

Sang Adipati tak dapat berbuat sesuatu apa tanpa

pengawal dan tanpa punggawa. Dan para punggawa telah

diperintahkan keluar dari kadipaten oleh pasukan pengawal

atas perintah Wiranggaleng.

Untuk pertama kali dalam hidupnya ia baru mengerti,

tanpa kawula yang dengan sukarela melayani dan

menjalankan perintahnya, ternyata ia tidak berarti sesuatu

pun. Anggapan, bahwa seorang raja dimungkinkan oleh

para dewa, dan oleh para dewa saja, kini ternyata

menghadapi ujian. Dan justru karena pengetahuan baru itu

ia menjadi murung dan gusar setiap hari, tak tahu apa harus

diperbuatnya.

Dari ajaran-ajaran istana leluhur ia tahu dan yakin,

kekuasaan seorang raja tidak berasal dari dunia manusia,

untuk mengatur kawula, untuk mengatur perang dan

damai, perjanjian dan pembatalannya. Semuanya berasal

dari Dia yang membikin hidup. Maka sudah menjadi

patokan, barangsiapa melanggar ketentuan praja, 

membangkangnya, adalah juga melanggar dan

membangkang terhadap Dia. Bagaimana sekarang?

Sang Patih jelas telah membangkang terhadap dirinya.

Dia layak menerima hukumannya. Kematiannya adalah

sudah sepatutnya sebagai satria – mendapat tikaman keris

sekali. Dalam hal ini para dewa benar. Dia yang membikin

hidup telah mengawal aturanNya sendiri. Bila dia tidak

mati karena Wiranggaleng, pasti karena perintahnya. Dan

itu pasti terjadi. Biarlah itu jadi peringatan pada setiap

kawula. Karena itu setiap permohonan untuk memelihara

dan merawat mayatnya ia tolak tanpa alasan.

Tetapi Wiranggaleng! Apakah yang diperbuatnya? Dia

telah menarik dan mengerahkan semua balatentara Tuban.

Ia telah bunuh Sang Patih tanpa perintahnya. Ia telah seret

Tuban seluruhnya dalam perang, memberi kelonggaran

pada bupati-bupati tetangga untuk datang menyerbu. Ia

membiarkan Tuban terbuka terhadap Demak! Dia telah

kosongkan kadipaten dari pengawalan dan punggawa.

Tanpa kawula, tanpa balatentara, tanpa punggawa, tanpa

saksi dunia yang mengagumi, tanpa kebesaran, terutama

tanpa kawula yang menghinakan dan merendahkan diri

dengan sukarela terhadapnya, tanpa kekecilan di sekitar diri

– seorang raja tidak mempunyai sesuatu arti. Dia sama

dengan seorang desa tak berpendidikan. Bahkan gamelan

tiada keindahannya lagi. Tarian tiada daya penarik lagi bagi

mata dan hati. Makanan hilang rasa: Tetapi jantung terus

juga berdenyut.

Hiburan batin yang ada padanya adalah: balas dendam.

Ya, kelak bila semua telah kembali dalam genggaman

tangan, tumpaslah mereka yang lancang mengurangi

kebesaran dan kekuasaan ini. Tumpaslah semua mereka. Ia

akan jatuhkan hukuman yang sekejam-kejamnya. Dan

untuk mengisi waktu menunggu datangnya waktu itu ia 

lewatkan hari-harinya yang sunyi, murung dan gusar di

dalam keputrian. Maka harem yang mengisap daya

kekuatan tuanya itu menyusutkan diri dan pribadinya.

Dendam dalam hati, keriaan yang meriah dan kesenangan

badani di luarnya. Ia sudah tidak mengingat lagi musuh

dari darat ataupun laut. Negeri dan praja tak punya sesuatu

arti lagi baginya.

Terhadap keamanan jiwanya pribadi ia tak pernah punya

waswas. Leluhurnya, dari penguasa yang satu pada

penguasa yang lain telah membangunkan sikap batin satria:

hanya ada satu macam maut dengan tiga nilai, tidak kurang

dan tidak lebih. Nilai pertama dan terpuji adalah maut

karena lanjut usia. Nilai kedua yang patut adalah karena

kehormatan sebagai satria, di medan perang dan di mana

saja. Nilai ketiga yang dianggapnya hina adalah karena

hukuman dan tidak dengan keris. Dan seorang satria hanya

boleh mengambil dua nilai yang sebelum terakhir. Setiap

saat ia bersedia mati baik karena usia mau pun karena

kehormatan. Ia tak pernah punya keraguan.

Bila ternyata Wiranggaleng kelak melakukan

pengkhianatan terhadap dirinya, ia akan mengambil nilai

kedua. Dan pengkhianatan itu bisa datang dari setiap sudut,

dan ia selalu waspada terhadap setiap kemungkinan. Ia

yakin dirinya sendiri, ia akan menghembuskan nafas

penghabisan sebagai satria dengan kehormatan. Dan apalah

salahnya selama ia tetap satria? Putra-putranya akan

mendengar berita kematiannya itu, dan mereka akan

mengerti dan menghormatinya.

Dan setiap ia ingat pada putra-putranya, ia mengebaskan

mereka semua dari pikirannya. Tak ada perlunya mengingat

mereka. Mereka akan dihadapi oleh jamannya, atau jaman

itu sendiri akan membunuh-nya bila ia melawannya, karena

jaman adalah tidak lebih dan tidak kurang daripada Batara 

Kala itu sendiri, tak peduli mereka Islam atau Hindu, atau

Buddha atau Peranggi sekalipun. Semua sudah mendapat

tempatnya.

Tetapi yang satu ini: kekosongan dari kekuasaan.

Kesepian dari kebesaran. Tak ada orang-orang kecil di

selingkungan yang melaksanakan segala apa yang diri

kehendaki. Semua sudah terasa ingkar terhadapnya. Tanpa

kekuasaan dan kebesaran segala-galanya menjadi berubah.

Dan semua bersumber hanya pada seorang anak desa yang

tak tahu adat. Seorang anak desa telah membunuh saudara

sepupunya, kemudian mengangkat diri sendiri menjadi

Patih Senapati Tuban! Siapakah dewa sembahannya maka

dia berbuat tanpa titahku?

Terngiang-ngiang ajaran praja itu: seorang raja tidak

akan berbuat sesuatu berdasarkan belas kasihan, ia berbuat

hanya demi keselamatan praja. Seseorang raja tidak akan

berbuat sesuatu berdasarkan terimakasih, ia berbuat hanya

demi keselamatan praja. Dan beberapa kalimat lagi sebangsanya.

Dan praja sekarang lumpuh.

Dan praja adalah raja.

Bagaimana pun dan ke mana pun pikirannya ia

kerahkan, datangnya pada satu nama itu juga:

Wiranggaleng, seorang anak desa tanpa makna yang telah

berani membunuh seorang dari darah Majapahit, darah

tertinggi dalam kehidupan yang dikenalnya. Anak desa

lancang itu begitu bodohnya, dia tidak mengerti, bahwa

setiap orang yang dialiri darah Majapahit mempunyai hak

untuk menjadi raja.

Pengetahuannya tentang sejarah praja, bahwa Majapahit

bisa berdiri hanya karena bantuan orang-orang kebanyakan,

dan orang-orang itu kemudian diangkat oleh Sri Baginda 

Kertarajasa menjadi gubernur terper-caya tak juga mampu

melenyapkan dendamnya pada Wiranggaleng. Ia harus

membunuhnya, dengan jalan dan cara apa pun

sebagaimana o-rang-orang lain telah juga dibunuhnya.

Hanya ada kesulitan pelaksanaan terhadap orang yang satu

ini: ia dicintai dan dihormati oleh kawula Tuban.

Bagaimana menghukum dia kalau semua orang mencintai

dan menghormatinya? Tidakkah kawula Tuban akan

melindunginya, dan itu berarti menentangnya? Hukuman

padanya akan berarti kebencian yang tertujukan kepada

raja. Dan bagaimana kalau seluruh kawula karenanya

ingkar dan membangkang terhadap dirinya?

Bila demikian maka dewa-dewa tidak lagi membenarkan

kekuasaannya, mencabut kembali kebesarannya. Ternyata

dewa-dewa juga berpihak pada manusia….

Dan bila pikiran itu sampai di situ ia menjadi pusing.

Dalam kepusingan itu satu-satunya tempat yang baik hanya

haremnya.

Sang Adipati mendengar peristiwa di dekat pohon

beringin itu dari persembahan Syahbandar Tuban.

Nampaknya orang lain tak ada yang berani menghadap.

Persembahan yang cukup teliti itu telah menyorong

Wiranggaleng ke pojokan sebagai biangkeladi segala

keonaran yang tak patut mendapat sedikit pun

pengampunan daripadanya.

“Wira, si anak desa itu, Gusti, telah berani melanggar

titah setelah dia mengangkat diri jadi Patih Senapati

Tuban,” Tholib Sungkar As-Zubaid mengadu, “bukan

hanya menggerakkan lima ratus prajurit. Dia telah

perintahkan semua kepala pasukan untuk mengikuti dan

menjalankan perintahnya. Dialah yang pertama-tama

menguasakan kepala pasukan pengawal. Dia telah

membikin-bikin alasan untuk bertengkar dengan Sang Patih 

dan membunuhnya, membunuh atasannya, ya Gusti,

seperti membunuh anak kambing.”

Sang Adipati hanya mengajukan satu pertanyaan:

“Bagaimana bisa kepala-kepala pasukan mendengarkan

dia?”

“Takut, Gusti. Setan telah merasuki dirinya.”

Sang Adipati mengerti, bukan karena takut mereka

mendengarkannya. Juga bukan karena kerasukan setan.

Memang ada sesuatu yang hidup dalam jiwa si anak desa

itu. Dan semua itu takkan terjadi tanpa perkenan dewadewa. Dan tidak mungkin kalau hanya karena kepalakepala pasukan itu bukan berdarah ningrat. Sekiranya

mereka berdarah ningrat pun, kalau dewa-dewa telah

berkenan, mereka akan mendengarkannya juga.

Yang teringat olehnya adalah pemberontakanpemberontakan besar yang berkali-kali meletus dalam masa

kejayaan Majapahit, hanya karena pembagian kekuasaan

antara ningrat dan tidak ningrat. Ini jugakah akan jadi akhir

kadipaten Tuban?

Bila pikirannya sampai di situ ia pun menjadi pusing.

Syahbandar Tuban tak membiarkan kesempatan berlalu

tanpa membakar-bakar Sang Adipati untuk bertindak

terhadap anak desa itu bila keadaan sudah reda.

“Tidak bisa dibiarkan anak desa itu mengangkat diri jadi

Patih dan Senapati sekaligus, Gusti, itu adalah menyalahi

darah, menyalahi takdir, melawan ketentuan kodrat,” dan

ia merenungkan makna dari darah, takdir dan kodrat.

Tetapi Sang Adipati lebih cenderung untuk mengingatingat akan mendesaknya Gajah Mada, si anak desa itu, ke

atas sehingga jadi Mahapatih Majapahit. Ia teringat juga

pada anak desa lain, juga mendesak naik terus, bukan saja 

jadi Patih, malah jadi raja. Dan anak desa itu adalah Ken

Arok, orang yang darahnya hidup dalam tubuh raja-raja di

Jawa kemudian. Tetapi Wiranggaleng takkan jadi Patih

Tuban, juga takkan jadi raja Tuban, selama Adipati Tuban

Arya Teja Tumenggung Wilwantikta belum lenyap dari

muka bumi.

Dan sejak mempersembahkan peristiwa di alun-alun

Tholib Sungkar Az-Zubaid selain berkitar-kitar di sekeliling

kadipaten, tak peduli pada bau mayat yang mengembara ke

mana-mana. Ia merasa lebih aman di dekat Sang Adipati.

Sebaliknya keputrian yang kadang membosankan itu

membikin Sang Adipati merindukan Syahbandar Tuban –

satu-satu orang yang kini dapat diajaknya bicara.

Pada kesempatan-kesempatan seperti itu Tholib Sungkar

suka mencoba-coba bicara tentang jalannya pertempuran di

pedalaman. Tetapi Sang Adipati tidak pernah melayaninya.

Ia percaya pada balatentara Tuban. Biar pun musuh itu

menggunakan meriam, balatantaranya takkan mungkin

dapat dikalahkan. Dengan atau tanpa Wiranggaleng

ataupun Sang Patih, balatentara Tuban pasti akan menang.

Tidak percuma selama dua ratus tahun jadi andal-andal

Majapahit.

Bila Syahbandar Tuban mulai bicara tentang

Wiranggaleng makin jelas gambaran anak desa itu di

hadapannya untuk waktu dekat mendatang. Anak desa itu

akan menghadap padanya dan mempersembahkan, musuh

telah dikalahkan. Dia akan menganggap kemenangan

balatentara Tuban sebagai kemenangannya sendiri. Pada

waktu itu dia akan tahu, sekiranya ada seekor anjing dapat

diangkat jadi Senapati, balatentara Tuban akan tetap

menang. Dia akan menghadap seperti seekor anak kambing

yang mengembik-ngembik memohon pengesahan. Dan dia

akan menunggu datangnya karunia dari tanganku. 

Kambing yang mengembik itu takkan mendapat umpan.

Selamanya badut yang tidak lucu dihukum oleh penonton.

Ia tidak menanggapi Tholib Sungkar Az-Zubaid.

Pertempuran akan segera selesai. Semua akan kembali

seperti sediakala, atau semua akan tumpas tanpa ia saksikan

sendiri. Sederhana.

Di dalam rumah-rumah penduduk Tuban yang suram

pula orang masih juga tak habis-habis pikir tentang

perbuatan Wiranggaleng. Tak ada seorang kawula yang

mempunyai perasaan tidak senang terhadap Sang Patih.

Orang menganggapnya bijaksana. Mengapa justru anak

desa itu yang membunuhnya? Mengapa Wiranggaleng?

Anak desa yang justru dicintai dan dihormati itu?

Dan orang pun terkenanglah pada masa ia diarak jadi

pengantin agung dengan Idayu. Semua orang ikut bersuka

cita bersama dengannya. Apakah perbuatannya yang

menggoncangkan itu bukan telah diramalkan dalam

jatuhnya tandu pengantin? Dan mengapa sebagai Senapati

Tuban ia tidak mengerahkan pagardesa dan penduduk?

Mengapa hanya balatentara yang dikerahkannya?

Dalam rumah-rumah yang suram dalam suasana yang

suram pula pertanyaan-pertanyaan seperti itu tiada pernah

terjawab. Maka oranghanya bisa menunggu selesainya

pertempuran. Seperti halnya dengan setiap orang Tuban,

gumpilan-gumpilan sejarah masalalu tentang seorang anak

desa yang naik ke atas. Gajah Mada dan Ken Arok.

Tetap tak ada yang dapat meramalkan apa yang bakal

terjadi. Setidak-tidaknya setiap orang percaya, pertempuran

di pedalaman akan segera selesai, dan semua akan kembali

seperti semula.

Yang orang tak habis-habis mengerti ialah mengapa

Syahbandar Tuban, Sayid Habibuliah Almasawa, yang 

dicurigai dan tak disukai oleh setiap orang itu, justru

menjadi semakin dekat pada Sang Adipati. Tak ada seorang

pun berani menjamah kulitnya. Dan memang orang tidak

tahu apa yang hidup dalam hati Sang Adipati.

Dan Idayu? Seluruh kota Tuban mengerti dia sedang

tetirah ke Awis Krambil untuk melahirkan. Dan mungkin

juga sudah melahirkan. Mereka semua berdoa dengan

diam-diam agar anak yang dilahirkan pada waktu sekitar

terjadinya pembunuhan terhadap Sang Patih tidak akan

terjatuh dalam pengaruh Sang Banaspati. Semoga anak itu

memang menjadi perpaduan kemuliaan antara bapak dan

ibunya. Anak cinta itu semestinya jadi gemilang, lebih

gemilang daripada kedua orangtuanya.

Pada hari-hari itu langit selalu bermendung, ditingkah

oleh guruh dan petir. Hutan-hutan yang hijau kelam di

kejauhan nampaknya sedang menggigil ketakutan

menunggu datangnya taufan.

Angin tak henti-hentinya bertiup, dan kesenyapan

semakin membikin hati gundah.

Di malam hari bintang yang sekecil-kecilnya pun enggan

menjenguk bumi. Dan laut pun tak jera-jera berdebur,

sedang hati penduduk Tuban tawar kehilangan gairah.

Tinggal Sang Adipati saja percaya: tak lain dari

Syahbandar Tuban, Sayid Habibuliah Almasawa yang bisa

mendatangkan persahabatan dan Peranggi dan Ispanya.

Ia merasa masih mempunyai cukup kehormatan: Ia tidak

akan mengirimkan utusan sebagaimana halnya dengan raja

Blambangan Giri Dahanaputra, Girindra Wardhana. Tuban

tidak perlu mengakui keunggulan Malaka…. 

Novel Arus Balikk Bab 19 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.

Bagaimana alur cerita dari novel Arus Balik Bab 19 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua. 

Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.

Untuk membaca Novel Arus Balik bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 8 Disini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 28 Disini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 26 Disini