Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 16 Disini

Novel Arus Balik bab 16 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Arus Balik menceritakan tentang kisah Kedatangan Portugis di Bumi Nusantara dengan latar awal Abad XVI, yaitu ketika surutnya pengaruh Majapahit dan naiknya pamor Kesultanan Demak.

Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Arus Balikk Bab 16 Bahasa Indonesia Sekarang ini. 

16. Datangnya Meriam Portugis

Pesta laut itu tidak semeriah biasanya.

Pada sore hari gadis-gadis menari mengelilingi Sela

Baginda yang tinggal umpaknya sebagai pembukaan pesta.

Langit terus menerus bermendung dan sebentar-sebentar

turun gerimis kecil. 

Lomba perahu belum lagi selesai. Bila lomba usai dan

bunga-bungaan dan ketupat telah ditebarkan ke laut orang

pun akan naik ke darat untuk mengikuti pesta api.

Tetapi pesta itu kini telah ditiadakan. Dahulu dalam

pesta ini tulang-belulang atau mayat-mayat dibakar

bersama-sama di empat penjuru kota, bila memang banyak

yang harus dibakar. Bila abunya telah diambil, janda-janda

pun menyusul masuk ke dalam api unggun sampai lumat

jadi abu pula.

Pesta api sudah tiada. Orang-orang Islam telah berusaha

melawan adat kejam dan mengerikan ini sambil

memasyhurkan agamanya. Golongan wanita terutama yang

menyambut perlawanan kaum Muslimin itu. Mula-mula

dengan diam-diam mereka bersimpati pada agama baru itu

dan membenarkan, bahwa adat itu memang kejam dan

mengerikan. Maka juga golongan wanita yang paling mula

dalam pembisuannya menerima Islam tanpa sepengetahuan

suaminya. Menerima Islam pada tingkat pertama berarti

bagi mereka dibenarkan menghindari api maut. Dan sekali

kaum wanita menerimanya, pengaruhnya menentukan di

dalam kehidupan rumahtangga dan anak-anaknya. Dalam

hanya satu generasi pembakaran janda mulai susut keras

dan kemudian hilang seperti tertiup angin badai.

Sebagai akibatnya Tuban mulai menghadapi masalah

janda hidup dan tinggal hidup. Tak ada yang mau

mengawini mereka. Mereka dianggap wanita pembawa sial

bagi mendiang suami dan keluarga. Bahkan untuk

memberikan atap untuk melindungkan kepala mereka dari

hujan dan panas orang tidak sudi, takut terjalari kesialan.

Maka mengembaralah mereka bergelandangan di kampungkampung para perantau untuk mendapatkan sekedar

makan, suami baru atau sekedar kasih dan kekasihan. Bila

nasib baik mereka memang bisa mendapatkan dirinya 

sebagai istri atau gundik. Yang tidak beruntung terus

bergelandangan di pelabuhan sebagai pelacur untuk awak

kapal. Dan di daerah pelabuhan juga janda-janda yang

kurang beruntung mendirikan gubuk-gubuk-nya dari daun

kelapa.

Walau pun pada umumnya penduduk negeri Tuban

beragama Buddha, tetapi pengaruh Hindu dan adatistiadatnya masih mendarah-daging. Pergantian raja karena

perang ataupun tidak mengakibatkan banyak kala terjadi

pergantian agama: Syiwa, Wisynu, Brahma dan Buddha,

bagaimana saja rajanya. Dengan demikian penduduk negeri

tidak mempunyai kesempatan cukup lama untuk menganut

salah satu agama dengan mendalam. Suatu hal yang

menyebabkan pembakaran janda tetap umum di manamana di negeri Tuban. Dan wanita yang menceburkan diri

ke dalam api mengikuti mendiang suami mendapat nilai

sebagai wanita setiawan dan terpuji.

Dengan berpengaruhnya Islam terhadap mereka –

sekalipun baru terbatas pada penghindaran dari sang api –

makin lama makin banyak pelacur bergentayangan. Kapal

adalah sumber penghidupan mereka yang pokok.

Kendaraan laut itu memuntahkan untuk mereka awak kapal

yang haus wanita. Dan penghidupan baru itu membikin

mereka ber-tingkah-laku sesuai dengan kehendak sang

hidup. Pejabat-pejabat bandar tak jarang mengalami

kesulitan karena mereka, dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Bandar Tuban adalah bandar bebas, juga untuk mereka,

Pribumi mau pun asing, penetap ataupun pendatang.

Dan kini kelengahan bandar telah mengancam

penghidupan mereka. Penghidupan sulit diharapkan datang

dari laut. Mereka terhalau makin ke darat, meninggalkan

daerah bandar, mengembara ke mana-mana untuk

mendapat sekedar makan. 

Dengan adanya pesta air, mereka datang lagi menduduki

gubuk-gubuknya kembali. Juga mereka berkepentingan

untuk ikut memeriahkannya, karena itu mengingatkan

mereka pada masa kanak-kanak sewaktu mereka bukan

segolongan orang yang dikucilkan. Dan berhubung tiada

kapal datang berlabuh, mereka berubah jadi serombongan

penekad. Setiap nampak oleh mereka orang asing, segera

mereka kepung, mereka tarik-tarik ke suatu tempat, dan

merampas barang apa yang ada pada diri mangsanya.

Demikianlah pada pesta air ini Liem Mo Han menjadi

korban mereka….

Malam itu mendung menutup semua bintang di

cakrawala. Kilat antara sebentar mengerjap kejam, seperti

mata bencana sedang mengintip dunia.

Liem Mo Han datang ke pelabuhan untuk mencari

Wiranggaleng.

Tahu yang dicarinya sedang menunggu istrinya menari

tunggal di depan umum. Tetapi ia tak dapat

menemukannya. Maka ia berjalan-jalan sambil menunggu

selesainya pertunjukan.

Serombongan janda gelandangan telah menyergapnya. Ia

meronta dan melawan, tapi sia-sia. Ia tahu mereka adalah

wanita-wanita lemah, dan ia tahu, tak mungkin ia harus

menggunakan kekerasan. Adalah memalukan

kemenangannya terhadap mereka. Maka ia membiarkan

dirinya masuk dalam sergapan, la ikuti arus yang

menyeretnya. Lebih baik begini daripada jadi tertawaan

seluruh negeri, pikirnya.

Kuncirnya yang panjang telah dicengkeram oleh tak

kurang dari enam tangan. Juga dua belah tangannya. Juga

bajunya. Ia sudah tak ingat lagi di mana topi hitamnya yang

kecil itu terjatuh. 

Tapi ia tak menyangka dalam waktu sekejap segala apa

yang ada pada tubuhnya mereka lolosi. Dan tertinggal ia di

lapangan, telanjang bulat seperti seorang bayi baru keluar

dari rahim ibunya.

Dalam keadaan seperti itu ia dilepaskan.

Dan larilah Liem Mo Han dalam malam gelap

bermendung itu, telanjang bulat, mencari perlindungan.

Mula-mula ia menuju ke warung Yakub. Ternyata pintunya

tertutup dan terkunci dari dalam. Ia lari ke syahbandaran,

tanpa mengindahkan larangan untuk memasuki daerah itu

tanpa seijin Syahbandar. Dan bersembunyi ia di sesuatu

tempat sambil menunggu kedatangan Wiranggaleng.

Ia masih sempat menimbang-nimbang tempat mana

sebaik-baiknya untuk menghindari pandangan orang: di

gandok sebelah kanan yang sehari-hari kelihatan lebih

tenang dan lengang.

Begitu ia mendekam memanaskan badan terhadap

serangan angin, nyamuk mulai menyerangnya tanpa

ampun. Dan kepalanya terasa panas seakan tengkoraknya

sudah menganga setelah sebanyak itu tangan yang

menjahili kuncirnya.

Dengan pakaian sewajarnya ia sudah beberapa kali

melakukan pengintaian di sini. Tanpa pakaian ia merasa

kikuk dan bersalah terhadap segalanya. Maka ia taksirtaksir kegelapan mana yang kiranya cukup untuk jadi

pakaiannya. Ia berdiri dan mengulangi pengintipannya.

Dan sekarang ia baru tahu dengan jelas di mana orangorang yang selama ini diburunya: Esteban del Mar dan

Rodriguez Dez. Ternyata mereka berada dalam sebuah

ruang gudang yang pintunya terpasak dari luar.

Dari suatu celah ia dapat melihat rantai besar mengikat

kaki mereka pada sebuah tiang. Dan mereka duduk dan 

bicara lepas-lepas: “Anjing Moro itu mau jual kita pada

Malaka.”

“Bagaimana kita bisa terantai begini?” Esteban

menggerutu gusar dengan menyesali diri. “Bukan untuk

dibeginikan kita berkelana. Kemarin kita masih bebas.

Bodoh. Mengapa tidak waspada terhadap anjing busuk

itu?”

“Kau masih ingat kata-katanya? Seperti sudah jadi kaisar

saja. ‘Mulai hari ini jangan Tuan-tuan pergi ke manamana’, katanya, seperti Tuban ini sudah jadi miliknya

pribadi.”

Esteban mendengus jengkel. Kemudian: “Seperti sudah

setinggi langit kekuasaannya. ‘Tuan-tuan aman dalam

perlindunganku’, katanya. Dan kita aman dalam perantaian

seperti ini. ‘Tuan-tuan takkan jatuh ke tangan Sang Adipati,

karena matilah Tuan-tuan di tangannya.’ Uih, bangunbangun sudah terantai begini.”

“Barangkali Sang Adipati memang menghendaki jiwa

kita?”

“Psss. Dia bukan sekutu Demak,” Esteban barangkali

sudah menerangkan untuk ke sekian kalinya. “Ah, tunggu,

benar, dia toh sekutu Jepara. Tapi kita tak ada sesuatu

urusan.”

Liem Mo Han mendengar sesuatu dari belakangnya. Ia

lari menghindar. Terdengar olehnya suara teguran:

“Siapa?” dalam Melayu.

Ia lari berputar ke belakang Syahbandaran dan menuju

ke gandok kiri.

Justru pada waktu Wiranggaleng bersama istrinya

sedang melintasi jalanan taman untuk masuk ke dalam

rumah. 

“Kaukah itu, Wira Salasa?”

“Sahaya, Tuan Syahbandar.”

“Dengan istrimu, Wira?”

“Sahaya, tuan Syahbandar.”

“Tak ada kau lihat orang berjalan di sini?”

“Tidak. Sahaya justru baru datang.”

Percakapan itu selesai. Wiranggaleng bersama istrinya

masuk ke dalam rumahnya. Orang telanjang bulat itu

mengetuk-ngetuk lemah dan memanggil-manggil pelan:

“Wira, Wira, keluar sebentar, sahaya ada di sini. Liem Mo

Han di sini, Wira.”

Juara gulat itu mengenal suaranya, ia segera keluar. Dan

tertawa ia terbahak mendengar cerita pengalaman

kecelakaan sahabatnya. Ia masuk lagi untuk mengambilkan

pesalin.

“Mari aku antarkan keluar dari sini,” Wiranggaleng

menawarkan jasanya.

“Tidak, Wira, mari ikuti aku ke gandok sana. Ada

sesuatu yang perlu Tuan saksikan sendiri. Selama ini Tuan

masih juga belum percaya.”

Mereka berdua berjalan mengendap-endap kegelapan.

Hujan mulai jatuh dengan derasnya, dan satu-satunya

bahaya adalah kilat. Mereka sampai di tempat tujuan dan

hujan mendadak berhenti. Mereka mengintip bergantian.

Tholib Sungkar Az-Zubaid berdiri di hadapan dua orang

Portugis yang masih juga duduk-duduk tak peduli seperti

tadi. Pada tangan Syahbandar terdapat selembar nampan

dengan cerek tembikar di atasnya. Syahbandar-muda tak

mengerti Portugis. Ia serahkan celah pada temannya. Dan

ia menjaganya. 

Liem Mo Han melihat Esteban del Mar dan Rodriguez

Dez mulai berdiri dan berjalan menghampiri Syahbandar

sampai pada batas rantai mengijinkan. Nyala lilin di dalam

tidak begitu terang.

Ia tak dapat memperhatikan roman mereka dengan jelas.

Tetapi suara mereka jelas terdengar olehnya. Mereka

sedang memaki-maki.

“Pengecut, penipu!” suara Rodriguez. “Kau rantai kami

dalam tidur. Hanya bedebah Moro saja bisa berbuat begini.

Sophari yang hina itu pun takkan sepengecut ini.”

“Hei, Moro, apa salah kami terhadap kau? Anjing?

Bukankah kami tamumu, yang makan garammu?” suara

Esteban, agak lunak.

“Sabar, Tuan-tuan. Bukankah Tuan-tuan haus setelah

begitu lama tidur? Di luar sana pesta air baru saja selesai.

Kalau tidak dibeginikan Tuan-tuan akan menggunakan

kebebasan untuk mencelakakan aku. Maafkanlah,”

Syahbandar membuka pidatonya.

“Lepaskan rantai ini,” Rodriguez meraung.

“Jangan keras-keras,” Syahbandar memperingatkan.

“Biar pun hujan lebat, lebih baik pelan-pelan saja, maksud

Tuan-tuan tercapai juga maksudku.”

“Binatang!” suara Rodriguez. “Aku bisa meraung sekuat

paru-paruku.”

“Sabar. Suara Tuan sendiri yang bakal memanggil maut

Tuan. Dengarkan. Kalau tak kurantai dan Tuan-tuan pergi

dari sini sebagai tamuku, matilah Tuan-tuan diterkam

balatentara Tuban. Nasibku sendiri? Takkan jauh dari

Tuan-tuan – celaka. Buat keselamatan Tuan-tuan sendiri

dan juga aku terpaksa aku perbuat ini. Percayalah.” 

“Bedebah! Siapa bisa percaya pada mulutmu? Hanya si

goblok saja mau dengarkan kafir Moro. Lepaskan,”

Rodriguez mengancam. “Awas, jangan sampai aku marah.”

“Ah, Tuan-tuan boleh marah sesuka Tuan. Tak semudah

yang kalian sangka untuk berbuat sesuatu terhadapku.

Syahbandar dilindungi kuat oleh Sang Adipati selama

kalian tidak lepas,” jawab Syahbandar setelah menaruh

cerek tembikar di atas lantai, kemudian diambilnya tongkat

dari bahu dan mengamang-amangkan. “Tidakkah kalian

bisa sopan barang sedikit? Sudah lenyapkah kesopanan

yang leluhur ajarkan pada bangsamu?”

Rodriguez menjawab dengan semburan ludah pada

muka Tholib Sungkar Az-Zubaid. Yang belakangan ini

menyeka muka dengan lengan jubahnya, kemudian

meludah sendiri ke lantai.

“Baiklah kalau kalian tak mau bersopan-sopan,” dengan

ujung tongkatnya ia mulai menyerang sehingga Rodriguez

mundur-mundur dan rantai pada kakinya menjadi kendor

gemerincing.

“Sudah, sudah, hentikan itu,” Esteban menyabarkan

Syahbandar.

“Sekarang begini, Tuan Syahbandar. Kau ini hanya

bajingan tengik. Kami akui, kami pun bajingan petualang

belaka. Kau dan kami sama saja. Bukankah kita bisa

kerjasama?”

“Baik, aku dengarkan usulmu.”

“Sebenarnya kau ini begundal raja Pribumi atau

begundal d’Albuquerque? Kalau kau hanya begundal raja

Pribumi, Sang Adipati itu, katakan saja apa dia mau, dan

kami akan laksanakan. Kami akan bebas, dan akan tetap

bekerjasama denganmu.” 

“Indah sekali. Teruskan.”

“Baik. Sebaliknya kalau kau begundal d’Albuquerque,

kami lebih suka mati di sini bersama denganmu.”

“Bagus. Andaikan aku begundal Sang Adipati,

bagaimana usulmu setepatnya,” ia terbatuk-batuk. “Nah,

kau lihat bagaimana aku memberi contoh bersopan-sopan.”

“Ya, memang cukup sopan untuk seorang begundal.”

“Bagus. Sopanlah, sabarlah. Aku tahu orangtua, guru

dan padri-padrimu mengajarkan dan menganjurkan begitu.

Ayoh, mulai. Aku dengarkan kata demi kata.”

Rodriguez telah siap dengan makian baru. Esteban

mencegahnya.

Dan tiga orang itu berdiri berhadap-hadapan bermain

sandiwara.

“Jangan kalian kira aku belajar Portugis untuk

dengarkan maki-maki-annya. Aku yakin lebih banyak buku

Portugis aku baca daripada kalian. Teruskan, Esteban.”

Tapi Esteban masih sibuk menyabarkan temannya.

“Kau benar, Esteban. Kau nampaknya lebih tua dan

lebih punya pengertian. Hanya kalian agak salah terka, aku

bukan bajingan. Juga bukan bajingan petualangan seperti

kalian.”

“Baiklah, setidak-tidaknya begundal. Tuan Syahbandar

masih mau dengarkan aku, tidak?”

“Ayoh, mulailah.”

“Kalau rajamu itu menghendaki bantuan kami, kita

bertiga bisa bikin persekutuan. Apalah bisanya orang

Pribumi? Kami berdua bisa usahakan kau naik jadi raja, dan

kami berdua pembantumu yang paling setia.” 

“Mereka bukan boneka, Tuan-tuan. Mereka punya alat

pemerintahan dan kekuasaan seperti kerajaan mana pun di

Eropa.”

“Semua itu bisa diakali, Tuan Syahbandar. Dan Tuan

sendiri punya banyak akal dalam persediaan.”

“Usulmu ternyata lebih bodoh daripada orang Pribumi.

Impian di siang bolong. Dengarkan sekarang. Sang Adipati

Tuban mengetahui, entah dari setan mana, kalian ini ahli

meriam. Ia menghendaki kalian mengajarkan membikin

meriam….”

Rodriguez tertawa terbahak.

“Mengapa tidak dari kemarin bicara? Aku sanggup, apa

lagi Esteban. Tanggung beres. Lepaskan rantai ini.”

“Sabar, nanti dulu. Kalau aku menyanggupinya, matilah

aku di sini,” Tholib Sungkar Az-Zubaid meneruskan

pidatonya. “Kalian hanya penembak meriam. Lebih tidak.

Apa pengetahuan kalian tentang pengecoran logam? Kalau

kalian punya keahlian lebih dari menembak, menembaki

kapal-kapal yang tak berdaya, itulah justru petualangan dan

kebohongan kalian.”

“Kafir!” maki Rodriguez.

“Jadi aku punya rencana lain, agar kalian selamat dan

aku pun tak kurang suatu apa.”

“Tak kurang suatu apa buat Moro berarti kerugian buat

semua orang,” gertak Rodriguez.

“Terserahlah pada penilaian kalian. Mengapa kalian aku

rantai? Aku mengerti darah Portugis. Kalau kalian orang

Ispanya, barangkali lebih daripada rantai. Mungkin kalian

aku pakukan pada tiang ini.”

“Jadi dia mau jual kita pada d’Albuquerque, Esteban.” 

“Kira-kira. Jangan lupa, dia orang Moro.”

“Tidak. Kalian bocah-bocah Portugis. Aku tahu kalian

membutuhkan pangkalan-pangkalan di Jawa untuk

menguasai laut dan darat Nusantara sebelah selatan –

terutama laut,” Syahbandar Tuban meneruskan. “Biarlah

kalian mendapatkan kembali kesempatan mengabdi pada

raja dan negeri kalian.”

“Tak ada urusan,” bentak Rodriguez.

“Kalau itu bukan urusan kalian lagi, tak ada artinya aku

bawakan cerek ini,” dengan tongkatnya Tholib Sungkar

menuding pada cerek di atas lantai, “tak perlu kuantarkan

kemari, biar kalian mampus kehausan.”

“Diam kau, Rodriguez. Biar aku yang bicara. Nah,

teruskan Tuan Syahbandar Tuban. Kami yang

mendengarkan sekarang.”

“Nah, belajar agak bijaksana. Ketahuilah, Tuan-tuan,

kapal-kapal Jawa masih juga menerobos ke Maluku. Kapalkapal kalian terlalu sedikit untuk dapat mengawasi perairan

seluas ini. Pangkalan baru masih dibutuhkan. Lebih banyak

lebih baik. Nah, itulah, Tuan-tuan yang terhormat, untuk

kepentingan negeri Tuan-tuan sendiri, untuk kepentingan

padroa-do, kami masukkan Tuan-tuan ke dalam rencana

kedua ini. Kalian akan merasa puas di kemudian hari dan

akan berterimakasih pada orang Moro tulen yang Tuantuan benci ini.”

“Dia memang hendak jual kita pada Malaka!” Rodriguez

memperingatkan. “Hati-hati, Esteban.”

“Tidak, demi Allah. Lagi pula d’Albuquerque sudah tak

ada di Malaka. Dan kalau Tuan-tuan menghendaki acara

ketiga, itu lebih mudah. Tuan-tuan celaka, aku selamat dan

dapat tambahan real.” 

“Tuan Syahbandar,” Esteban menyela. “Ingatkah kau

bagaimana Moro diusir dari negeriku oleh orangtua kami?”

“Aku kelahiran Ispanya.”

“Bagus. Jadi kau mengerti. Sejak itu tak ada orang

Spanyol atau Portugis, bahkan bayi dalam kandungan pun,

bisa percaya pada mulut Moro,” Esteban menambahi.

“Bagus. Biar begitu, orang Moro juga yang menjamu

Tuan-tuan selama ini. Garam orang Moro yang kalian

makan. Arak orang Moro yang kalian minum. Sekarang,”

Tholib Sungkar menyorong cerek arak dengan ujung

tongkat ke dekat mereka, “orang Moro juga yang melayani

Tuan-tuan dengan arak ini. Pasti kalian tidak akan

menolaknya. Minumlah.”

“Mengapa kau sorong dengan tongkat? Kurangajar!

Terlalu mahalkah tanganmu?” Esteban memprotes.

“Dijauhkan oleh Allah kiranya aku dari tangan kalian.”

Rodriguez menghentak-hentak lantai dan rantai tegang

kembali karena ia mencoba menyambar Tholib Sungkar

Az-Zubaid.

“Batang lehernya memang berhak untuk dipatahkan,”

gumam Rodriguez gemas. Ia tak berhasil menyambar

Syahbandar.

“Ya, katakan semau kalian. Nyawa kalian toh tetap di

tanganku.”

Esteban pun kehilangan kesabarannya. Tholib Sungkar

pura-pura hendak pergi. Ia terpaksa memanggilnya kembali.

Dan Syahbandar kembali berbalik dengan tangkai tongkat

hendak menarik cerek.

“Kalau kalian tak suka pada pelayanan orang Moro

busuk ini, baiklah cerek ini kubawa pulang,” katanya 

mengancam. Rodriguez menangkap cerek yang hendak

ditarik itu dan meneguk puas-puas. Baru kemudian

disorongkan pada Esteban yang juga segera meminum

isinya. Setelah kosong dilemparkannya cerek itu pada muka

Syahbandar.

Tholib Sungkar tak sempat mengelak. Benda itu

berdentam menubruk pelipisnya dan jatuh menggerontang

di lantai. Tak pecah.

“Begitulah orang Portugis menyatakan terimakasihnya,”

ia menggerutu sambil menyeka lukanya. “Tapi kalian

memang terlalu berharga untuk dibunuh di sini.”

“Ayoh, dekat-dekat sini kau!” tiba-tiba Esteban meluap.

“Biar kugigit putus tenggorokanmu, biar aku kunyahkunyah jakunmu! Ayoh, dekat sini.”

“Kalau Tuan-tuan memang berniat mau mengajar

Pribumi bikin meriam, sebentar lagi aku lepas. Sayang

Tuan-tuan takkan dapat membikinnya untuk sisa hidup

kalian. Jadi selamat bermimpi, Tuan-tuan, membikin

meriam, pulang ke Lisboa!”

Tanpa diduga-duga Tholib Sungkar Az-Zubaid

menghantamkan tongkatnya pada Rodriguez.

“Ampun, ampun,” gumam Rodriguez dengan suara

semakin lemah tak nyata, kemudian terguling, tertidur.

“Kau pun mendapat bagianmu,” tongkatnya

menghantami punggung Esteban.

Orang Portugis yang dihantami itu nampak seperti orang

yang kehabisan kemauan. Kedua belah tangannya

tergantung lunglai, mulut menganga. Tak lama kemudian ia

tersungkur dan juga jatuh tertidur. 

Syahbandar menyorong-nyorongkan kepala mereka

dengan terompahnya, bergumam tak nyata, keluar dari

ruangan dan memasak pintu dari luar.

Ia sama sekali tak tahu ada dua orang yang sedang

mengintainya. Ia berjalan cepat-cepat dalam malam gelap

bermendung dan tanah basah di bawahnya melewati

gedung utama, langsung ke pintu gandok Wiranggaleng dan

mendengar-dengarkan. Kemudian ia pergi meninggalkan

kesyahbandaran.

Bulan tua itu mengintip dari celah mendung.

Tholib Sungkar Az-Zubaid masih juga tak tahu sedang

diikuti oleh dua orang. Sebentar saja ia memasuki warung

yang pintunya ternyata tak terkunci itu. Ia keluar lagi diikuti

oleh beberapa orang. Sampai di kesyahbandaran ia

menuding ke arah gandok kanan, kemudian masuk ke

dalam dan terburu-buru keluar lagi, mengikuti

segerombolan orang itu ke gandok kanan.

Mereka semua masuk ke tempat Esteban dan Rodriguez

terantai, dan keluar lagi menggotong mereka berdua.

Sampai di gedung utama Syahbandar memberikan sesuatu

pada Yakub dan orang itu memeriksanya, langsung

memasukkan ke dalam sakunya.

Syahbandar masuk ke rumah dan tak keluar lagi.

Wiranggaleng dan Liem Mo Han mengikuti

penggotongan sampai pada suatu jarak. Mereka berdua naik

ke atas menara pelabuhan. Dua orang penjaga itu ternyata

sedang tidur nyenyak. Persediaan makan malam mereka

belum lagi tersinggung. 

Waktu bulan memperlihatkan seluruh wajah tuanya dari

bolongan mendung, jauh sekali, nampak kelap-kelip lampu

tiang agung sebuah kapal di tengah laut. Sebuah perahu

dayung besar sedang meluncur menuju ke kapal tersebut. Di

atasnya adalah gerombolan Yakub membawa Esteban del

Mar dan Rodriguez Dez.

“Jelek benar nasibnya,” kata Liem Mo Han. “Kalau

mereka membuka matanya, mereka sudah berhadapan

dengan pengadilan kapal. Enam kali aku sudah pernah

lihat. Tangan mereka terikat ke belakang. Seorang imam

kapal akan membacakan sesuatu sambil berjalan mengikuti

mereka menuju ke tiang gantungan, tiang layar utama. Di

sana mereka akan tergeong-geong mati. Mayatnya dibuang

ke laut untuk hiu.”

“Hanya Sang Adipati saja tidak percaya Syahbandarnya

hanya orangnya Peranggi,” kata Wiranggaleng.

“Sang Adipati mengerti benar, Wira. Dia tidak kurang

cerdiknya daripada siapa pun. Sampai jauh-jauh di barat

sana orang mengakui kecerdikannya. Ia berusaha untuk

tidak akan menggunakan kekerasan dalam mencapai semua

maksudnya. Ada itu tercatat dalam buku besar kami. Juga

sekarang ini, Wira. Ia tahu apa yang ia kehendaki. Selama

Syahbandar itu masih bisa dipergunakannya untuk

keselamatan dirinya dan Tuban, dia akan tetap dilindungi

dan mendapatkan hak-haknya.”

“Dan nampaknya Peranggi akan mencoba membikin

pangkalan di Jawa.”

“Dia akan teruskan bikin pangkalan-pangkalan yang bisa

mengepung Maluku dari semua jurusan. Mereka punya

kepentingan untuk memutuskan hubungan antara Jawa

dengan Maluku. Lihat, Wira, bedanya dengan kami bangsa

Tionghoa. Perjanjian antara Ceng He dan Sang Adipati 

menyebutkan, kami tidak akan memasuki wilayah Maluku.

Kami tak pernah melanggar perjanjian itu. Peranggi lain

lagi, Wira. Maka itu Gusti Kanjeng Adipati Unus

seluruhnya benar, musuh pertama adalah Peranggi, mereka

harus dihalau dari perairan Nusantara.”

Wiranggaleng mendengarkan dengan diam-diam.

Pengetahuan semacam itu takkan dapat diperolehnya dari

para punggawa, hanya bisa dari orang asing dan para

nakhoda.

Perahu dayung besar itu semakin lama semakin hilang ke

dalam kegelapan malam bermendung. Hilang pula ombak

dan puncak-puncak-nya. Hanya lampu kapal di kejauhan

sana masih kelihatan samar. Dan waktu hujan turun lagi

dengan lebatnya, nyalanya pun hilang-lenyap seakan keluar

dari ruang kehidupan.

Esteban terbangun dan mencoba duduk. Selalu ia gagal

dan roboh kembali. Ia mulai mengingat-ingat. Tapi

pikirannya beku. Ia berusaha keras untuk mengenangkan

peristiwa terakhir sebelum tertidur. Tak mampu. Ia

berusaha lagi untuk duduk. Kemudian dirasainya tangan

dan kakinya terikat erat-erat. Ia menyadari ada sesuatu yang

tidak beres. Tapi ingatannya menolak disuruhnya bekerja.

Dirasainya punggungnya memar dan kepalanya

berdenyut-denyut berat. Dunia di hadapannya seperti

diliputi awan tipis. Ia tajamkan pengelihatannya. Juga tak

berhasil. Kemudian ia tutup kembali matanya dan

menopangkan kepala di atas lutut.

Sebuah bundaran cahaya dan beku mulai tertangkap oleh

pengelihatannya, samar dan tidak meyakinkan. Bundaran 

cahaya itu makin lama makin terang, makin terang. Dan

diketahuinya itu tak lain daripada sebuah patrisporta kapal.

Patrisporta kapal! Kapal apa? Di mana? Dan mengapa

sampai bisa datang ke mari? Sekarang ingatannya mulai

berjalan tanpa diperintahnya. Kapal! Di kapal! Ia tebarkan

pandang ke sekelilingnya. Kapal apa? Kapal Siapa?

Pandangnya yang samar itu tertumpuk pada ambin kayu di

sampingnya. Ambin kayu, ia mengingat-ingat. Ia hendak

merabainya, apakah itu ambin kayu benar. Dan tangannya

berat diangkat, tali pengikat itu semakin memperberat. Di

sebelah sana berdiri sebuah meja. Dan daun meja itu

tergantung dengan dua helai rantai besi pada dinding.

Kemudian ia menyedari adanya Rodriguez yang tidur

miring tak jauh dari sebelahnya. Juga tangan dan kakinya

terikat tali. Kedua belah lengannya terbuka mendepai

udara. Kepalanya miring dan air liur menetes dari sudut

mulurnya. Dengan sendirinya Esteban menyeka sudut

mulut sendiri dengan bahu.

Teringat sedang ada di dalam kapal, sekali lagi ia

terkejut. Mulai ia berpikir keras: di kapal! Tentu kapal

Portugis!

“Maut,” bisiknya, dan dibangunkannya temannya.

“Aha!” seseorang berseru dari belakangnya.

Kontan ia berpaling ke belakang. Pada daun pintu yang

terkirai seorang perwira sedang mengintipnya.

Esteban mencoba berdiri untuk menghormat. Ia jatuh

terduduk kembali dan pemandangannya berputar. Dari

mulurnya keluar ucapan selamat, pelan dan ragu-ragu – ia

tidak tahu waktu.

“Puas berpetualang, he?” ejek perwira itu.

Ia tak tahu bagaimana harus menjawab. 

“Akhirnya pulang kembali ke geladak lama juga?”

Jantung Esteban mulai berdebaran kencang. Ia mencoba

untuk berdiri lagi. Tapi perwira itu telah hilang. Pintu

tertutup kembali. Kesadarannya mulai pulih. Ia berusaha

membangunkan temannya.

Rodriguez hanya menggeliat malas, kemudian

meneruskan tidurnya sambil menyeka mulut.

“Bangun, bangun kau,” ia goyang-goyangkan temannya

dengan tangannya yang terikat. Melihat Rodriguez tak juga

bangun ia membisikkan pada telinganya, “Bangun kau,

anjing, kita sudah terkunci dalam kamar kapal. Di dalam

kamar perwira! Bangun, anjing!”

Ia sorong-sorong temannya. Rodriguez menggeliat lagi

kemudian mencoba membuka tapuk matanya yang berat.

Dan mata itu tertutup kembali.

“Anjing terkutuk!” makinya, “menikmati tidur, tak tahu

kau, sebentar lagi kau akan tidur untuk selama-lamanya.”

Melihat temannya tak juga mau bangun ia pergunakan sikut

untuk menyakitinya.

Rodriguez bangun dengan malasnya. Dan ia mengulangi

pengalaman Esteban. Ia buka matanya dengan tapuk berat.

“Memang kita masih mabuk,” kata Esteban. “Sebentar lagi

kau tahu sendiri apa sedang menunggu kita.”

Rodriguez telah menutup matanya kembali. Dengan dua

tinjunya yang terikat Esteban memukul pipinya, dan

temannya jatuh di geladak sambil menggeram. Esteban

menggunakan sikutnya lagi dan Rodriguez bangun

menyentak. Dari bawah tapuk matanya yang berat bola

matanya mengintip.

“Hhhh?” tanyanya. 

“Sekarang ini bangun kau! Sebentar lagi kau dapat cukup

waktu untuk tidur.”

Dan ia usahakan agar temannya menjadi sadar untuk

dapat menyertainya dalam ketakutan. Ia tahu tidak

menghadapi orang Moro atau Pribumi, tapi bangsanya

sendiri.

Dengan sikutan dan tonjokan Rodriguez menjadi sadar.

Sadar juga ia akan tali yang mengikat kaki dan tangannya.

Ia siap hendak memaki.

“Sttt,” cegah Esteban. “Jangan gaduh. Kita sedang di

kapal Portugis.”

Kesedaran membikin Rodriguez terkejut, kemudian

pucat. Pintu terbuka lagi dan perwira yang tadi masuk ke

dalam membawa sebilah tongkat: “Anak maut!” katanya

menggigit pahit. Ia pandangi Rodriguez yang berjuang

hendak berdiri menghormatinya. Ia melangkah padanya

dan menendang dengan sepatunya pada lambungnya.

Rodriguez berpilin, meliuk kesakitan dan jatuh.

“Habis suka datang duka, he? Akhirnya di geladak yang

lama juga. Apa sudah lupa memberi hormat?

Sekali lagi Rodriguez berjuang untuk dapat bangun.

Esteban tinggal duduk di tempat.

“Bagaimana? Sudah siap menghormat, kalian, anak-anak

maut terkutuk?” Rodriguez berdiri dan Esteban berdiri pula

dengan berpegangan pada dinding.

Perwira itu nampaknya asyik dan senang melihat mereka

berdua. Ia menahan tawanya sehingga darah menjompak

pada mukanya.

“Kalau semua pemuda Portugis semacam kalian ini, apa

jadinya dengan Sri Baginda, Sri Ratu dan negeri kalian? 

Bagaimana dengan tugas suci kalian? Ha? Memang hanya

tali gantungan yang terbaik. Ya, menghormat!”

Mereka berdua memberi hormat. Tapi perwira itu tidak

membalas, mengawasi mereka dari ujung rambut sampai ke

tumit: “Mana sepatu kalian?”

“Sudah lama hancur, Tuan,” jawab Esteban. “Pakaian

apa kalian kenakan itu? Merampas kepunyaan kafir

perbegu?”

Tak ada yang menjawab. Perwira itu maju ke hadapan

mereka dan meninju muka Esteban. Ia menggelepar jatuh

miring di geladak.

“Bangun!” perintahnya.

Sebelum ia dapat bangun, Rodriguez mendapat giliran.

Ia jatuh tertelentang dan menjerit kesakitan menindih

tangan sendiri.

“Apa kataku? Bangun!”

Dengan susah-payah mereka berusaha bangun dalam

pengawasan kejam perwira itu.

“Sekawanan burung gereja yang malang. Sudah siap

maju ke pengadilan kapal? Mengapa diam saja? Sudah tak

punya lidah? Sudah kau gadaikan lidah itu pada kafir

perbegu? Sambar geledek, kalian. Heh baru dengar, dengar

saja, pengadilan kapal, sudah seperti tikus jatuh ke dalam

kuah. Jawab.”

“Siap menghadap ke pengadilan kapal, Tuan.”

“Bagus. Begitulah pemuda Portugis menghadapi

mautnya.” Perwira itu menarik sebuah kursi, menarik buku

dari laci meja dan mulai memeriksa petualangan mereka.

Pemeriksaan dan pencatatan itu berlangsung lebih dari tiga

jam. Kemudian: “Jadi kalian sudah banyak tahu tentang 

daerah pesisir Jawa utara. Coba pikir, sekiranya kalian dulu

dengan perintah,” ia tertawa mengejek, “Sri Baginda dan

Sri Ratu pasti akan berkenan menerima kalian. Musik

istana akan menyambut kalian. Kebangsawanan kalian,

sekiranya ada darah biru pada kalian, akan dipulihkan.

Kalau tidak boleh jadi kalian akan mendapatnya. Siapa

tahu mungkin diangkat jadi laksamana… Barisan

kehormatan berkuda akan mengelu-elukan kalian dan

mengantarkan kalian dalam kereta jemputan dari istana.

Apa sekarang? Aku pun muak melihat kalian. Mengapa

gemetar? Belum lagi cukup merampok nasi Pribumi?”

Mendengar nasi dua orang tangkapan itu sekilas teringat

belum lagi makan selama ini, dan merasa lapar membelit di

dalam usus. Tiba-tiba mereka merasa dirinya sangat lemah

untuk dapat mempertahankan keseimbangannya.

“Jawab!”

“Dua hari satu malam kami belum lagi makan,” jawab

Esteban del Mar.

“Kasihan hiu-hiu itu. Tentu kau terlalu kurus untuk

mereka. Kasihan, bukan?” melihat mereka tak juga

menjawab, ia menggertak: “Kasihan, bukan?”

“Ya, Tuan, kasihan sekali,” jawab Rodriguez.

“Mengapa dengan sekali?”

“Karena mungkin mereka seminggu belum makan.”

“Bagus. Jadi apa yang kau tunggu sekarang?” teriaknya

pada Rodriguez, kemudian mendadak menuding Esteban:

“Tiang gantungan, Tuan.”

“Bagus. Tiang gantungan. Indah, bukan, tiang itu?”

mendadak ia alihkan tudingan pada Rodriguez: “Indah,

Tuan.” 

“Tanpa sekali?”

“Kalau Tuan membutuhkan yang sekali….”

Tinju melayang dan untuk yang kesekian kalinya

Rodriguez jatuh. Tapi perwira itu menyambarnya dengan

pertanyaan: “Tanpa sekali, tanyaku.”

“Tanpa sekali, Tuan,” jawab Rodriguez sambil berdiri.

“Bagus. Tanpa sekali. Kau simpan dimana sekali itu

sekarang?” ia tunggu Rodriguez kukuh dalam tegaknya.

“Kau simpan di mana?”

Rodriguez bingung untuk menjawabnya.

“Di mana?” pekik perwira itu.

“Sudah tertelan, Tuan.”

“Tertelan? Jadi dalam perut?” dan dipukulnya perut

Rodriguez.

Dan sekali ini Rodriguez Dez tak bangun lagi. Ia

pingsan.

“Kau bagaimana, kau, bagaimana bagusnya tiang

gantungan?”

“Seperti seorang penari, Tuan.”

“Penari? Coba terangkan mengapa seperti penari.”

“Langsing, Tuan, cantik, cantik tanpa sekali, Tuan.

Kalau lelaki dia gagah, Tuan.”

“Juga tanpa sekali, Tuan.”

“Kira-kira tanpa, Tuan.”

“Anak maut! Mengapa tanpa?”

“Karena Tuan belum menghendakinya.” 

Ia tertawa senang, berjalan mendekati pintu dan

menjenguk keluar. Memanggil-manggil: “Kelasi. He,

kelasi!” ia kembali ke tempatnya dan duduk.

Kelasi yang dipanggil masuk, memberi hormat dan

berdiri di tempat.

“Lepaskan tali pada kaki mereka, anak-anak maut ini

biar berjalan sendiri ke tiang-gantungannya.”

Kelasi itu mengeluarkan sebilah belati dan memutuskan.

Rodriguez masih nyenyak dalam pingsannya.

“Kelasi, kau tinggal di sini. Tunggu sampai yang satu itu

bangun lagi,” dan pada Esteban, “mengerti kau? Dengan

kaki sendiri berjalan ke tiang gantungan.”

“Indah, Tuan, dengan kaki sendiri berjalan ke tiang

gantungan.”

“Dan kalau kau sudah mati, jadi iblis gentayangan,

apakah kau akan membalas dendam padaku?”

“Tidak, Tuan.”

“Mengapa tidak, kau, calon iblis?”

“Karena Tuan menjalankan tugas untuk Sri Baginda, Sri

Ratu dan negeri Portugis.”

“Bagus. Kelasi! bangunkah orang itu. Tadi dia pingsan

sekarang ia pura-pura.”

Dan Rodriguez bangun terburu-buru.

“Nah itulah tingkah pemuda Portugis yang tidak patut.

Hei, kelasi. Coba lihat baik-baik pemuda-pemuda ganteng

ini. Dan coba katakan padaku, bagaimana kalau mereka

sebentar nanti mulai menaiki ancak gantungan.”

“Lebih cepat dari sekarang, Tuan.” 

“Lantas?”

“Kakinya mungkin gemetar. Kalau terlalu amat sangat

gemetarnya seseorang harus membantunya.”

“Cuma itu saja?”

‘Tentu saja tidak, Tuan. Masih ada, celananya sudah jadi

basah dan busuk. Bibirnya tak berdarah dan sebentarsebentar menelan ludah, kerongkongannya kering.”

“Tahu betul kau, kelasi. Apakah kau sendiri pernah

menggantung o-rang.”

“Pekerjaan tambahan, Tuan.”

“Pantas. Dengarkan itu, anak-anak maut! Teruskan,

kelasi.”

“Beruntunglah yang lehernya lemah, Tuan. Kalau ancak

dilepas, dia akan mudah patah dan sekaligus mati.

Celakalah yang lehernya kuat.”

“Orang tak terbunuhi lagi kalau ancak jatuh?”

“Ya, hanya bunyi sekali nafas tersekat, kadang diikuti

bunyi kecil ‘klik’ dari persambungan tulang leher yang

patah. Setelah itu hanya lidah menjelir seperti anjing, Tuan,

sebagai pertanda: saat itu….”

“Ya-ya, aku mengerti, saat itu dia jadi iblis.”

“Mereka biasanya lupa mengucapkan terimakasih pada

apa pun dan siapa pun. Kalau tali sudah mengalungi leher,

dan kaki mulai meliuk, orang biasanya sudah pingsan,

Tuan. Betapa takutnya orang pada maut.”

“Dan kau sendiri, kelasi, kapan kau berniat untuk

digantung orang?”

“Selama bersetia pada Portugis, Tuan, Sri Baginda, Sri

Ratu dan negeri… Tuhan takkan membiarkan diri ini mati 

di tiang gantungan, dengan lidah menjelir seperti anjing

kepanasan.”

“Bukan seperti, mereka memang anjing. Teruskan,

kelasi!”

“Dengan ejekan, sumpahan dan makian orang, tentu

dari juru gantung juga, Tuan, mereka menurunkannya dari

tali sebagai bangkai sial, dan dengan sorak orang

melemparkannya ke laut. Selanjutnya…”

“Bagus. Pandangi sekali lagi anak-anak maut ini sebelum

berjalan ke pengadilan. Tentu kau sudah tak kenal. Hampir

lima tahun menghilang.”

“Empat tahun,” Esteban membetulkan.

“Nafsu hidupmu masih menyala, Esteban!” tegur

perwira itu. “Apa yang masih kau harapkan dari sepenggal

hidup ini?”

‘Tiang gantungan yang indah itu, Tuan.”

“Apakah kau juru gantung hari ini, kelasi?”

“Boleh jadi, Tuan, belum ada perintah.”

“Bagus. Kau sudah memberikan cerita yang indah pada

anak-anak maut ini. Bisakah kau bercerita setelah mereka

nanti gentayangan sebagai iblis?”

Kelasi itu membuat gerak salib dan perwira itu terdiam,

kemudian: “Cukup, pergi kau.”

Kelasi itu memberi hormat dan pergi. Perwira itu

mengawasinya sampai hilang di balik pintu.

“Dengarkan, kalian: Sri Baginda dan Sri Ratu sungguh

menyesal dengan masih adanya pemuda-pemuda Portugis

yang berangkat ke tiang gantungan. Apa boleh buat, tanpa

kepatuhan yang jadi sendi kebesaran Portugis dan Salib, 

negeri akan jatuh. Kalian tahu betul itu. Kalian telah

dengarkan waktu kata-kata itu dibacakan dalam upacara

kalian memasuki angkatan laut. Bukankah kalian

meninggalkan negeri dan keluarga tak lain hanya dan hanya

untuk kebesaran Portugis dan Salib?”

“Demikianlah pada mulanya, Tuan,” sambar Rodriguez.

“Pada mulanya, ya. Dan pada akhirnya tali gantungan

juga.”

Rodriguez terdiam lagi, nampaknya menyesal telah

menyambar. Esteban memperhatikan tangan perwira itu.

Nampaknya pikirannya beku.

“Jangan kalian kira Sri Baginda dan Sri Ratu tak punya

pengampunan. Ada, ya, selama pengabdian padanya dan

pada Salib tetap dijunjung tinggi-”

“Kami sanggup mengabdi lebih baik!” Rodriguez

mendesis.

“Diam, kau, calon iblis. Aku tak bertanya.”

“Ya, Tuan.”

“Nah, apa maksudmu bermulut lancang itu?”

“Mengabdi lebih baik, Tuan, lebih baik dan lebih, lebih

baik.”

“Bukankah itu sudah terlambat?”

“Kami masih hidup, Tuan,” sekarang Esteban

memperkuat.

Airmuka perwira itu kelihatan kehilangan kekerasannya.

Secuwil senyum manis mencerahi bibirnya. Matanya

memancarkan cahaya ramah. Dan terdengar suaranya yang

ramah pula, memikat dan menawarkan: “Ya, tentu, lebih

dan lebih baik lagi. Dan sudah aku pikir baik-baik, tentunya 

kalian masih sanggup melayani meriam setelah

berpetualangan selama empat tahun belakangan ini. Belum

lupa, kan?”

“Meriam itu rasanya masih hangat dalam genggaman,

Tuan,” sambar Rodriguez.

“Dan mengapa temanmu membisu saja, Rodriguez?”

“Lebih dari melayani meriam kami pun sanggup, Tuan.”

“Nah, begitu pemuda Portugis,” perwira itu tertawa,

memperhatikan wajah dua orang tangkapan itu dan

matanya berseri-seri mengejek.

“Nafsu hidup kalian memang besar.” Ia keluarkan

sepucuk surat dari kantong. “Kalian sudah pandai

berbahasa Melayu dan Jawa. Bagus. Dan tentunya kalian

kenal juga siapa itu Tholib Sungkar Az-Zubaid.”

‘Tidak, Tuan,” jawab Esteban del Mar mencoba

meramahi perwira itu.

“Dasar goblok. Mestinya kau Pribumi Jawa atau

Malaka, bukan Portugis. “Siapa yang menangkap kalian

kalau bukan Tholib Sungkar Az-Zubaid? Syahbandar

Malaka?”

“Bukan, Tuan, Sayid Habibullah Almasawa, Syahbandar

Tuban,” Esteban mendapatkan semangatnya pribadi.

“Serigala pun lebih cerdik daripada kalian.”

“Ya, Tuan.”

“Dengarkan: Tholib Sungkar Az-Zubaid, bekas

Syahbandar Malaka, apakah namanya Tholib Sungkar

ataukah Sayid Mahmud ataukah Sayid Habibullah, telah

meminta padaku untuk keselamatan nyawa kalian.

Dengar?” 

“Ya, Tuan,” mereka menjawab berbareng.

“Dia minta hendaknya kalian tidak diserahkan pada tali

tiang gantungan. Nyawa kalian diperlukan olehnya.

Daripada kalian jadi makanan hiu, pintanya, baiklah kalian

diberi hidup sebagaimana dikehendaki olehnya. Kalian

barangkali sekarang lebih mengerti: Tholib Sungkar itu

penyelamat nyawa kalian. Tapi entahlah bagaimana kalian

nanti menjawab di depan pengadilan kapal.”

“Kami akan menjawab sebaik-baiknya, demi Sri Baginda

dan Sri Ratu, demi Portugis, demi Salib,” Esteban

mewakili.

Dan perwira itu tidak menggubris.

“Mari aku bawa kalian ke pengadilan.”

Perwira itu berjalan keluar dari bilik kapal. Esteban dan

Rodriguez mengikuti dengan kedua belah tangan terikat ke

belakang.

Mereka melalui lorong yang dapat dikenal dalam setiap

kapal Portugis. Pandang mata sepanjang jalan tidak

menjadi pertimbangan mereka. Nyawa lebih penting

daripada pandang orang.

Tetapi mereka tidak dibawa ke dek. Di sana biasanya

pengadilan diadakan, disaksikan oleh awak kapal. Mereka

terus juga mengikuti perwira itu menuruni tangga sampai ke

dasar kapal, dan sampailah mereka di sebuah ruangan

gelap. Perwira itu memerlukan membawa lentera gantung.

Mereka berdiri di tengah-tengah barang-barang rusak

atau setengah rusak dan meriam-meriam dengan atau tanpa

roda. 

“Pada mulanya,” perwira itu memulai lagi, “dua pucuk

ini akan kukirimkan ke Pasuruan.” Mendadak ia tertawa

dengan muka tertengadah pada langit-langit. “Kafir-kafir

dungu itu mengira, dengan meriam orang bisa jadi segagah

Portugis. Tidak jadi barang-barang ini kukirimkan ke

Blambangan. Aku ada pikiran lain. Kalian berdua, Esteban

dan Rodriguez, sanggupkah kalian melayani dua pucuk

meriam ini?”

‘Tapi ini barang rusak, Tuan,” Rodriguez menyambar.

Tinju itu menghantam mulut Rodriguez dan ia meliuk.

Darah keluar dari mulutnya. Ia meludahkan darah dan gigi.

“Kami bisa betulkan, Tuan,” Esteban memperbaiki.

“Betul. Itu jawaban gaya Portugis. Kalian bisa betulkan

sendiri. Memang meriam rusak semua ini. Kalian justru

harus berterimakasih dengan adanya barang-barang ini.

Kalaulah tidak karena ini, tali gantungan yang akan kalian

temui.”

“Ya, Tuan,” Esteban menjawab sangat sopan. “Kami

pun bersedia dan rela dikirimkan ke Blambangan.”

“Ke mana dikirimkan, aku yang menentukan.”

“Ya, Tuan,” Esteban menjawab lebih sangat sopan lagi.

“Kalau ada kesediaan dan kesetiaan melayani senjata

ini…. Pikir cepat, jangan gegabah. Kalian terikat, hidup

atau mati pada senjata ini.”

Dan Esteban dan Rodriguez justru tak dapat berpikir.

“Bagaimana?”

“Kami berdua ada kesediaan dan kesetiaan itu, Tuan,”

jawab Esteban.

“Betul? Sudah dipikirkan dengan baik dan cepat sebagai

pemuda Portugis?” 

“Betul, Tuan.”

Perwira itu tertawa melecehkan. Kemudian: “Memang,

tali lebih berat daripada meriam. Hanya sekali ini

kesempatan diberikan, kesempatan hidup, kesempatan

memperbaiki diri. Tidak benar? Tali gantungan juga yang

kalian parani.”

“Ke mana pun kami dikirimkan, kami akan setia

padanya sampai mati,” Esteban hampir-hampir mengulangi

sumpahnya sebagai kanonir.

Perwira itu memberi isyarat. Ia berjalan lebih dahulu dan

dua orang tangkapan yang terikat itu mengikutinya dari

belakang seperti dua ekor anjing. Di geladak itu memang

tak ada persiapan pengadilan kapal juga tak nampak ada

persiapan penggantungan. Sebaliknya ada serombongan

orang bukan Portugis sedang berdiri menggerombol dan

tersenyum-senyum memandangi mereka.

“Ya!” seru perwira itu pada mereka, kemudian dalam

Melayu, “bawa mereka turun!”

Dengan bantuan beberapa orang Esteban dan Rodriguez

diturunkan melalui tangga tali ke sebuah perahu dayung

besar. Mereka masih tetap terikat dengan tangan ke

belakang.

Hari telah malam dan mendung tebal mengapung di

udara.

Lampu-lampu dari atas kapal membikin mereka dapat

melihat, didalam perahu itu sudah menanti beberapa orang

berpakaian Pribumi. Tetapi dari raut mukanya mereka

nampaknya peranakan Arab atau Benggal. Di tengahtengah perahu besar itu berdiri dua buah meriam beroda

dan peluru-peluru besi. 

Dengan muatan ini bisa jadi perahu ini pecah dan

tenggelam, pikir Esteban. Dan dengan tangan terikat

begini… maut masih belum dapat dihindari. Orang mulai

mendayung. Perahu mulai bergerak, makin lama makin

menjauhi kapal Portugis, menuju ke arah titik nyala nun

jauh di seberang sana, kecil, hampir-hampir tak nampak.

Para pendayung itu tak ada yang bicara.

Esteban mencoba menembusi kegelapan dengan

matanya yang sudah kehilangan keawasannya karena lapar

dan tegang selama ini. Namun ia masih dapat melihat

beberapa biduk Portugis mengikuti dari belakang.

Mereka berdayung beriringan. Semua menuju ke titik

nyala. Dan gerimis kecil mulai turun, membikin Esteban

dan Rodriguez merasa kedinginan.

“Makan!” tiba-tiba Rodriguez meraung.

Seseorang menjejalkan sesuatu pada mulutnya dengan

diam-diam. Dan Rodriguez tidak merasa terhina, juga tidak

menyemburkan jejalan itu. Ia mulai mengunyah dengan

giginya yang kurang dan menelannya dengan lahap.

Esteban duduk merenung-renung. Seseorang

memasukkan penganan ke dalam mulutnya. Ia tembusi

kegelapan untuk menangkap muka orang itu. Dan ia

mengenalnya: Yakub, pewarung arak dan tuak. Ia merasa

agak lega dan aman. Dan penganan itu pun tidak terasa

jahat. Ia mengunyah dan menelannya.

“Lagi!” teriak Rodriguez dalam Melayu. “Dan minum,

bedebah!” Ia mendapatkan apa yang dipintanya dan

terdiam.

Juga Esteban mendapat tambahan dan minum sampai

kenyang dan merasa tenaganya agak pulih. Terutama

karena minum manis itu. 

“Lepaskan tali ini,” raung Rodriguez memerintah.

“Ayoh, bedebah! Lepaskan!”

Ia lihat Yakub berdiri, mendekati Rodriguez dan

meninju mulutnya. Tak ada yang melihat giginya rontok

lagi atau tidak. Ia tak membuka mulut lagi. Iring-iringan

biduk dan perahu dayung itu meluncur terus ke arah titik

nyala di kejauhan, menerobosi kegelapan malam dan hujan

gerimis. Waktu kilat mengerjap, nampak pantai masih

sangat jauh, dan sebuah kapal pengawal pantai sedang

menuju ke arah barat.

“Moga-moga kapal kafir itu tak melihat kita,” doa

Yakub.

“Mereka akan menduga kita nelayan.”

Dan mereka semua menunggu mengerjapnya kilat lagi.

Mereka akan balik kanan jalan kembali ke kapal Portugis

bila diburu. Tetapi kapal peronda itu tidak melepaskan

eetbang, Semua menunggu-nunggu. Dayung berhenti

bergerak, dan perahu dan biduk terayun-ayun di atas laut

tanpa bergerak maju.

Waktu kilat berkejap lagi bentuk kapal peronda itu

semakin kecil dengan layarnya menggelembung penuh.

Yakub memberi perintah untuk maju lagi, dan majulah

semua iring-iringan, tetapi ke arah cahaya yang timbultenggelam di kepala ombak. Lurus ke barat daya.

Iring-iringan itu memasuki hutan bakau-bakau yang agak

rapat. Para penumpang dan pendayung turun dan

mendorong perahu besar yang kaku dan berat itu. Di

belakang mereka orang-orang Portugis memaki-maki dalam

bahasanya sendiri. 

Seseorang menyalakan obor dan menebangi ranting dan

batang yang menghalangi.

Pantai itu sendiri terletak pada suatu ketinggian. Sebuah

api unggun yang gelisah menebarkan sinar ke laut lepas,

tetapi hutan bakau-bakau itu tak tertembusi olehnya.

Mereka berjuang untuk dapat mencapai ketinggian itu.

Nyamuk mendengung dan menyerang setiap titik kulit yang

terbuka.

Hanya Esteban dan Rodriguez tinggal di atas perahu itu.

Dan tak ada seorang pun yang menggugat mereka. Nyamuk

makin berdatangan, seperti awan tipis menandingi asap

yang keluar dari obor. Dan orang-orang Portugis itu tak

juga berhenti menyumpah-nyumpah.

Menjelang pagi baru mereka dapat mencapai pantai.

Para penunggu api sedang berhangat-hangat dan mengobrol

ramai. Mendengar kecibak air mereka bangkit berbareng,

mencoba menembusi kegelapan dan bertanya: “Yakub?”

“Ya, Yakub di sini,” ia menjenguk ke perahu dan

memerintahkan Esteban dan Rodriguez turun.

Orang mulai sibuk menurunkan meriam dan peluru.

Juga orang-orang Portugis yang beberapa belas itu

menurunkan barang-barang dari biduknya masing-masing:

peluru, onderdil meriam dan perlengkapan sendiri.

Esteban dan Rodriguez menghindarkan mukanya dari

sebangsanya sendiri. Dan mereka pun tak berniat untuk

menegur. Langsung mereka mendekati api unggun, duduk,

kemudian merebahkan diri di rumputan yang kering. Dan

mereka tak juga dilepaskan dari tali pengikatnya.

Tak ada orang mengganggu mereka merebahkan diri.

Mereka sudah sangat mengantuk, lapar dan haus. Dalam

keadaan pura-pura tidur mereka melihat orang-orang 

sebangsanya mendirikan kemahan, membangunkan sendiri

api unggun, menghangati makanan kemudian makan, tanpa

datang pada mereka berdua untuk menawari sesuatu.

Untuk pertama kali dalam hidupnya Esteban merasa

disisihkan dari bangsanya sendiri. Bahkan makanan

sebangsa sendiri, yang selama ini tak pernah dimakannya,

juga tersingkirkan daripadanya. Ia merasa nelangsa. Dan ia

tak tahu pula hendak diapakan dirinya dibawa ke hutan di

tepi laut ini, tetap terikat dan dijaga oleh sebangsa sendiri.

“Setidak-tidaknya,” bisik Rodriguez, “sampai detik ini

kita masih hidup. Sambar gledek mereka.”

Esteban menutup matanya dengan melindungkan

mukanya pada rumputan. Seperti Rodriguez ia pun tidur

tengkurap dengan kedua belah tangan di atas. Dan waktu

tungau menyerang kemaluan mereka, mereka menyumpahnyumpah, lupa akan keadaan.

Sebangsanya hanya melihatkan mereka bingung tak

dapat menggunakan tangan untuk menggaruk. Dalam

serangan gatal-panas paha mereka dikerahkan. Sia-sia.

Mereka gigit pundak, tapi tak sampai. Mereka melompatlompat. Tapi tungau-tungau celaka itu semakin masuk ke

dalam kulit.

“Tolong, Tuan Yakub,” pinta Esteban, “ada binatang

masuk ke celana.”

“Tidak mati kau karena binatang celaka itu. Dia sendiri

yang bakal mati. Tidur.”

Rodriguez menyumpah. Ia tak berani menatap pada

Yakub yang menyala-nyala marah.

Dua orang Portugis dengan musket meronda ke keliling.

Waktu berada di dekat mereka minta tolong. Dan mereka

jalan terus tanpa menggubris. 

Anak buah Yakub seorang demi seorang jatuh tertidur.

Juga orang-orang Portugis.

Yang tinggal jaga hanya Rodriguez dan Esteban, deru

angin, dan deburan ombak, dan nyala api.

Bahkan dua pucuk meriam itu pun nampak tertidur

Novel Arus Balikk Bab 16 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.

Bagaimana alur cerita dari novel Arus Balik Bab 16 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua. 

Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.

Untuk membaca Novel Arus Balik bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 8 Disini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 28 Disini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 26 Disini