Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 15 Disini
Novel Arus Balik bab 15 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Arus Balik menceritakan tentang kisah Kedatangan Portugis di Bumi Nusantara dengan latar awal Abad XVI, yaitu ketika surutnya pengaruh Majapahit dan naiknya pamor Kesultanan Demak.
Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Arus Balikk Bab 15 Bahasa Indonesia Sekarang ini.
15. Perjalanan Sepucuk Surat Rahasia
Dilihatnya Sang Patih sedang dihadap oleh Syahbandar
langsung, ia berjalan melalui samping kepatihan ke
belakang. Ada terdengar olehnya sepotong kata-kata
Syahbandar dalam Melayu: “… tak ada hak patik untuk
mengusirnya….”
Ia berhenti dan terdengar suara Sang Patih: “Siapa bilang
kami mengusir atau memerintahkan mengusir? Patih Tuban
mengundang mereka kemari. Kami tahu mereka penembak
meriam. Maka itu kami mengundang mereka.”
Wiranggaleng meneruskan jalannya dan masuk ke dapur
kepatihan untuk menghilangkan lapar dan dahaga. Begitu
Syahbandar pergi ia datang menghadap. Sang Patih duduk
di atas bangku kayu sedang mengipas-kipas badan. Melihat
Syahbandar-muda datang ia tersenyum senang dan
menyilakannya duduk.
“Kau nampak agak kurus, Wira. Pasti terlalu berat
perjalananmu.” Dan belum lagi penghadap itu bersembah
ia telah meneruskan, “Pasti kau lihat tadi Syahbandar habis
menghadap. Dipergunakannya segala alasan untuk
menghalangi orang-orang Peranggi petualang itu datang
menghadap ke mari. Apa boleh buat. Gusti Adipati
berkenan memberikan perlindungan, dengan dugaan
mereka mau mengajar membikin meriam. Telah kami
persembahkan petualangan mereka di Lao Sam. Sia-sia,
Wira. Jangankan Peranggi mau membagi ilmunya, orang
Tionghoa di sini saja segan mengajar membikin kertas.
Katanya kau sudah pernah melihat orang-orang Peranggi
itu. Bagaimana pendapatmu? Ah-ya, nanti dulu, mereka toh
masih berada di bawah perlindungan Syahbandar.
Bagaimana kepergianmu?”
Dan Wiranggaleng bersembah.
“Jadi sudah jelas Rangga Iskak memang hendak
bertingkah. Dia telah bikin kawula Tuban membangkang
dan melawan. Mana surat itu?”
Melihat surat itu bertulisan Arab ia hanya mengangguk.
“Kami tahu kau masih lelah dan rindu pula pada
keluargamu. Apa boleh buat, Wira, pekerjaan ini harus kau
selesaikan sendiri. Pergi kau ke Bonang dan panggil
menghadap Mashud bersama denganmu.”
Dengan seekor kuda kepatihan ia berangkat ke Bonang
dan keesokannya menghadap lagi bersama Mashud.
“Bapa Mashud,” kata Sang Patih, “kami perintahkan
padamu membaca surat Arab ini baris demi baris dan
terjemahkan baris demi baris pula.”
Mashud membaca baris demi baris dan menterjemahkan:
“Selamat bagimu,” sebaris lagi, “Dilimpahkan oleh Allah
kiranya padamu taufik dan hidayatnya,” sebaris lagi,
“Dijauhkan Tuan kiranya dari jilatan api neraka,”
selanjutnya, “Kecuali bila kau lakukan hal-hal yang
diwajibkan kepadamu untuk mengembangkan dan
menyampaikan, melindungi mempertahankan dan
mengamalkan,” sebaris lagi, “Maka itu kerjakan apa yang
kami sebutkan di bawah ini….”
Mashud tiba-tiba terdiam. Mukanya pucat. Tangan dan
bibirnya menggeletar. Matanya liar ke mana-mana seperti
keranjingan.
“Mengapa, Bapa Mashud?”
Orang kurus tinggi bersorban tebal itu menelan ludah
dan meneruskan. Tetapi kata-katanya sudah tak jelas lagi
artinya.
Sang Patih memerintahkannya berhenti dan
menyuruhnya pergi, dan ia pergi masih dalam keadaan
pucat dan gugup. Seorang perwira menghadapkan pada
Sang Patih guru daripada Mashud. Ia seorang Campa yang
sudah lama tinggal di Malaka, bernama Jamhur Tenga,
barangkali seumur hidup selalu menggunakan jubah coklat
dan sorban coklat pula.
Dengan tenang dan percaya diri ia mulai
menterjemahkan, baris demi baris. Sampai pada baris yang
memucatkan Mashud ia menjadi gugup dan menubruknubruk, sedang terjemahannya berbeda jauh dari Mashud.
Sang Patih mengangguk dan memerintahkannya pergi.
Seorang perwira lain menghadapkan seorang Melayu
pelarian dari Malaka, telah kehabisan modal dan
kehilangan kapal. Ia telah diambil sewaktu sedang bersiapsiap hendak pindah ke pedalaman. Ia tak berjubah tak
bersorban, tetapi berpakaian Pribumi Tuban. Ia menghadap
dalam keadaan setengah mati ketakutan. Ia bernama
Kamang Sani.
Terjemahannya mulai baris yang memucatkan itu tiada
kesamaan baik dengan Mashud ataupun Jamhur Tenga.
Sang Patih memerintahkannya pergi.
“Jadi kau sendiri tahu, Wira, ada rahasia terkandung di
dalamnya. Rahasia ini mengikat Rangga Iskak dengan para
penterjemah pada satu pihak dan Rangga Iskak dengan
Syahbandar Tuban pada lain pihak. Di sebelah sana lagi
ada Peranggi. Di sampingnya ada perusuh yang menentang
Tuban ”
Sang Patih memutarkan tinju dalam genggaman tangan
yang lain.
“Aneh, Rangga Iskak bermusuhan dengan Syahbandar,
juga bermusuhan dengan Peranggi, juga bermusuhan
dengan Tuban. Syahbandar bermusuhan dengan Rangga
Iskak dan kami mencurigainya bersahabat dengan
Peranggi.”
“Barang tentu surat gawat, Gusti.”
“Pergi kau sekarang juga ke Gresik. Carikan terjemahan
yang benar. Jangan kau tunda-tunda tugasmu.”
Dan dengan demikian mendaratlah Wiranggaleng di
bandar Gresik.
Bandar itu tidak seindah Tuban, namun masih lebih
ramai, juga pasar dan perdagangannya. Di masa-masa yang
lalu peranannya jauh lebih penting daripada Tuban, dan
sampai sekarang pun masih bandar terbesar di Jawa.
Sebelum Portugis menduduki Malaka dan Maluku,
sebagian terbesar rempah-rempah Maluku datang kemari,
dari sini berpecahan ke seluruh bandar di Jawa dan dunia.
Tiga ratus tahun setelah menjadi bandar tanpa tuan,
mulai abad ke sepuluh Masehi, pelabuhan ini dipergunakan
oleh Sri Baginda Teguh Dar-mawangsa menjadi pangkalan
angkatan laut kerajaan Daha. Pada pertengahan abad ke
sebelas Masehi mendapat prasasti penghargaan dari Sri
Baginda Erlangga sebagaimana halnya dengan Tuban dan
bukan saja menjadi pangkalan Angkatan laut, juga
pelabuhan dagang antara Jawa dan Bali, Nusa Tenggara,
Maluku dan Sulawesi. Dari Gresik ini pula sebagian
angkatan laut Majapahit muncul untuk mencapai daratan
Asia dan Afrika.
Dan seperti halnya dengan Semarang dan Lao Sam, juga
Gresik pada mulanya dibangun menjadi bandar oleh
pendatang-pendatang dari Tiongkok. Setelah jatuhnya
Majapahit pada 1478 Masehi, Gresik berada dalam keadaan
tanpa tuan lagi. Tetapi perdagangan berjalan terus seakanakan jatuhnya kekuasaan politik itu tiada mempunyai
sesuatu pengaruh terhadap pelayaran dan perdagangan,
sebagaimana sebelum dikuasai oleh Sri Baginda Teguh
Darmawangsa.
Satu kekuasaan yang kemudian timbul lagi adalah justru
karena ingin menguasai bandar dan keuntungannya ini.
Beberapa orang yang mengaku keturunan Bre Wijaya
Purwa wisesa bertentangan dan berperang satu-sama-lain
sampai akhirnya balatentara Giri Dahanapura turun dari
Blam-bangan melakukan pameran militer memasuki
wilayah inti Majapahit, membungkam kekuatan-kekuatan
kecil yang bertarung memperebutkan Gresik. Raja
Blambangan Hindu, Ranawijaya Girindra Wardhana sejak
tahun 1485 menguasai Gresik sebagai bawahan Giri
Dahanapura atau Blambangan.
Gresik yang berpindah-pindah tangan itu tetap
berkembang tanpa kerusakan. Usaha Ranawijaya untuk
memindahkan Gresik ke bandar-bandarnya sendiri,
Panarukan dan Pasuruhan, tidak pernah berhasil. Pameran
militer yang terlalu mahal itu akhirnya ditarik kembali
dengan Gresik dalam keadaan utuh.
Keadaan memang agak lengang waktu Wiranggaleng
mendarat. Namun jauh lebih sibuk daripada Tuban. Orangorang berambut panjang di sini jauh lebih sedikit, dapat
dikatakan tinggal satu-dua. Orang yang mengenakan baju
juga jauh lebih banyak, menandakan golongan satria tidak
lagi begitu berkuasa, dan kehidupan lebih banyak dikuasai
oleh kaum pedagang Islam. Penduduk sudah banyak
mengenakan terompah seperti para pendita di pedalaman,
terbuat daripada kulit kayu, pelepah atau kulit kambing
mentah.
Dan Wiranggaleng terheran-heran melihat betapa sedikit
orang yang berkain batik. Orang lebih banyak mengenakan
pakaian polos putih, wulung atau genggang, semua tenunan
desa. Orang-orang bertombak dan berpedang sama sekali
tidak kelihatan di pelabuhan, seakan-akan golongan satria
memang sudah tak punya sesuatu kekuasaan.
Setelah mendapat ijin masuk segera ia mencari-cari
keterangan. Tapi pandang mata yang tertuju padanya
seperti memperhatikan seekor binatang aneh yang terlepas
dari kandang. Di suatu tempat yang terlindung ia terpaksa
menggelung rambut dan menutupinya sama sekali dengan
destar. Dibelinya selembar sarong dan dikalungkannya
tergantung di tentang dada seperti kebiasaan orang
setempat. Baru ia merasa dapat bergerak agak leluasa.
Ternyata tidak semudah itu ia dapat menguasakan agar
tidak menjadi perhatian umum. Rambut sepanjang itu,
bagaimana pun ia sembunyikan ternyata tetap menarik
orang. Tiga hari lamanya ia berpikir untuk mendapat jalan
keluar. Maka ia pun berpuasa memohon ampun dari para
dewa dan para leluhur, pada Hyang Widhi, dan dimintanya
seorang untuk mencukur rambutnya.
Itu pun ternyata tak semudah dugaannya untuk
melaksanakan. Tak ada orang bersedia memotong rambut
panjang seorang kafir, karena ada orang dan tempat tertentu
untuk itu. Kalau tidak para leluhur akan gusar, katanya,
baik yang dipangkas ataupun yang memangkas bisa terkena
kutuk. Dan tempat pemangkasan adalah pesantren.
Kemudian ia ketahui pesantren adalah tempat para santri,
dan santri sendiri tidak lain dari ucapan guru agama dari
seberang untuk cantrik. Ki Aji, yang artinya yang
terhormat, di sinipun telah mulai berubah bunyinya jadi
Kiai oleh guru-guru agama dari seberang itu pula.
Ia pergi ke sebuah pesantren, yang ternyata adalah
sebuah asrama pendidikan. Dan untuk keperluan itu ia
sudah lakukan satu kekeliruan.
Semestinya ia tidak datang seorang diri sebagai seorang
yang berambut panjang. Harus diantarkan oleh sanakkeluarga yang menyatakan kerelaan akan pemotongan
rambut itu. Bila sanak-keluarga menolak, baru orang boleh
membawa teman-temannya sebagai saksi. Di samping itu
masih ada lagi syaratnya: seekor ayam jantan putih, beras
tujuh tempurung dan tiga depa bahan pakaian putih.
Justru tanpa syarat dan pengantar pada suatu hari ia
datang ke sebuah pesantren terdekat pada bandar Gresik.
Ia diterima oleh seorang bocah yang kontan menolak
menghadapkannya pada seorang pemangkas. Anak itu
mengawasinya dengan curiga, bahkan menjawab
pertanyaan dan permintaannya pun segan.
Ia memaksa diri mendekati salah sebuah dari perumahan
yang ada dan menemui orang lain. Lelaki dewasa berkalung
sarong itu menegurnya: “Hei, rambut panjang, apa
keperluanmu?”
“Sahaya bermaksud mencukurkan rambut,” jawabnya
merendah.
“Manakah saksimu yang memberi kerelaan dan
mendengar kau mengucapkan kalimah syahadad? Mana
pula syarat untuk hajad?”
Ia tidak mengerti kata-kata aneh itu dan minta
diterangkan.
“Tiada sahaya bersaksi, tiada pula bersyarat.”
“Tentu kau datang dari jauh untuk mendengarkan
panggilan ini. Mari aku potong rambutmu.”
Dan rambut itu pun dipotong sambil Wiranggaleng
menirukan kata-kata aneh yang digumamkan oleh si
pemangkas. Pekerjaan itu sendiri tak lama karena memang
tidak dilakukan secara sebaik-baiknya, hanya sekedar
memendekkan sejari dari kulit kepala.
“Apa lagi yang kau kehendaki?” tanyanya lagi. “Rambut
itu boleh kau buang ke kali.”
Buru-buru Wiranggaleng mengumpulkan potongan
rambut dan disimpannya di dalam sarong. Ia akan
menanamnya kelak dengan upacara di sesuatu tempat yang
patut untuk itu dengan memohon ampun dari para leluhur,
para dewa dan Hyang Widhi.
“Kalau tak ada yang kau kehendaki lagi, kau boleh pergi.
Aku pun masih banyak pekerjaan. Siapa namamu?”
“Itung.”
“Nah, Itung, kau sekarang sudah hampir sepenuhnya
Islam, pergunakan sekarang nama Islam, Salasa. Bisa
menghafalnya? Salasa, karena kau datang kemari pada hari
ke tiga.”
“Salasa.”
“Pulanglah dengan selamat.”
“Bolehkah kiranya sahaya…,” ia tak tahu bagaimana
menyebut orang itu, “diperkenankan belajar agama baru di
sini?”
“Bahasamu baik, tentu kau sudah pernah mengikuti
pendidikan.
Tentu saja kau boleh belajar di sini’ orang itu tertawa
ramah, mengangguk dan memandanginya dengan kasihan.
“Setiap orang yang sudah berambut pendek boleh belajar di
sini, tinggal di sini, makan dan kerja di sini, selama dia suka
dan berkelakuan baik.”
“Kalau sudah tidak suka lagi?”
“Ya, boleh pergi setiap waktu, minta diri secara baik-baik
sebagaimana datangnya. Benar-benar kau mau belajar? Jadi
santri?”
Wiranggaleng mengangguk mengiakan.
“Kalau begitu mari aku antarkan kau ke tempatmu.”
Seperti seekor kambing yang tertuntun Syahbandar-muda
itu mengikutinya masuk ke sebuah pondok. Di dalamnya
disusun ambin-ambin seperti dalam asrama di pedalaman.
Tapi tak ada seorang pun nampak di dalam.
“Kau boleh ambil tempat kosong itu, Salasa.”
Wiranggaleng tidak pergi ke tempat yang ditunjuk. Ia
berdiri saja, malah mengeluarkan surat Rangga Iskak dan
berkata: “Surat inilah sebenarnya yang membawa sahaya
kemari. Sahaya percaya ini ajimat luar biasa, tetapi sahaya
tak tahu tuah apa terkandung di dalamnya. Tolonglah
jawakan tulisan ini pada sahaya.” Orang itu menerima surat
itu dan mengawasinya dengan terheran-heran.
“Ini surat baru, di atas kertas, bukan lontar. Dari mana
kau dapat?”
“Jauh, jauh dari sini.”
“Aku sendiri tak bisa menjawakan. Mari aku antarkan
pada Bapa Kiai.”
Sekali lagi ia mengikuti orang itu seperti seekor kambing
dalam tuntunan. Dan masuklah mereka ke dalam sebuah
ruangan yang bergeladak pelupuh. Orang yang disebut Bapa
Kiai itu duduk menghadapi meja lipat, sedang di atasnya
terbuka sebuah kitab lebar. Tak ada orang lain
menyertainya.
Melihat ada orang masuk ia berhenti menyanyikan
bacaannya dan menutup kitabnya, menegur dalam Melayu:
“Allah memberkahimu dengan keselamatan, anakku. Ada
keperluan apa maka kau datang menghadap?”
Pengantar itu menjawakan, dan dalam Melayu
menjawabkan Wiranggaleng sambil mengulurkan surat
tulisan Arab.
Juara gulat itu duduk di atas geladak pelupuh
memperhatikan wajah Bapa Kiai. Betul juga dugaannya,
kira-kira sampai pada baris yang mengejutkan Bapa Kiai
nampak tegang, berdiri, mendekatinya dan bertanya terbatabata: “Dari mana kau peroleh surat ajimat ini?” dan
pengantar menjawakan.
“Nun di pinggir jalan di desa sahaya.”
“Di mana desamu?”
“Jauh, jauh dari sini, kira-kira tujuh hari perjalanan,
mungkin lebih.”
“Nama, nama desamu.”
“Kuda, Bapa Kiai, Kuda Kondang.”
“Kabupaten mana itu anakku?”
“Bojanegara, Bapa Kiai.”
“Sedang ada apa di desamu?”
“Tak ada apa-apa, Bapa, hanya panen.”
“Atau di dekat-dekat desamu?”
“Juga tak ada apa-apa, Bapa.”
“Tidak mungkin, pasti ada terjadi sesuatu.”
“Apakah kiranya isi ajimat itu, Bapa Kiai?”
Bapak Kiai yang nampaknya masih muda itu mengawasi
Wiranggaleng, menaksir-naksir badannya yang besar.
Suaranya berubah mencurigai: “Kau belum patut
mengetahui, Nak,” jawabnya curiga. “Biar aku simpan
surat ini, terlalu amat berbahaya disimpan oleh orang
seperti kau.”
“Itu sahaya punya, Bapa Kiai.”
“Bukankah sudah aku katakan? Ini tidak tepat kau
simpan, apalagi kau miliki. Kau bisa terkena tulah.”
Melihat Ki Aji kembali pada meja-lipatnya hendak
memasukkan surat itu ke dalam kitab, ia melompat.
Ditangkapnya tangan itu dan dirampasnya kembali surat
itu. Bapa Kiai memekik. Wiranggaleng menguguh
mulutnya. Pengantar itu lari ketakutan sambil memekikmekik minta tolong. Dan sekarang giliran Wiranggaleng
untuk juga melarikan diri. Tanpa menoleh lagi ia langsung
meninggalkan tempat itu. Para santri lainnya sedang
bekerja di sawah atau ladang. Dan tak ada di antara mereka
yang bertombak atau berpedang. Mereka takkan dapat
menghalang-halanginya.
Setelah jauh ia berteduh di bawah sebatang pohon
mengenangkan kegagalannya. Ia takkan menempuh jalan
yang sama. Ia akan mencari pesantren lain, satu dengan lain
tidak selamanya bersahabat. Permusuhan sering timbul di
antara mereka, dan kadang berakibat bentrokan, malahan
perang kecil.
Ia merasa aman. Ia berjalan pelan-pelan setelah
mendapatkan nafasnya kembali. Dirasainya kepalanya
begitu ringan seakan ikat kepalanya melekat pada
tengkoraknya. Ingat bahwa rambutnya telah terpotong ia
merasa menyesal. Dirasainya suatu kesedaran
menghentikan seluruh pekerjaan ototnya. Ia mencari
tempat berteduh lagi di tepi jalan dan mencoba mengikuti
gerak kesedarannya.
Benarkah aku sekarang sudah Islam? Muslim? Bernama
Salasa?
Ia tenangkan pikiran dan perasaan. Ia resapkan kembali
kesan-kesan yang baru dialaminya. Aku masih tetap seperti
kemarin, hanya kepalaku saja terasa ringan tak berambut.
Tapi kau telah ucapkan mantra orang Islam itu, satu
pengakuan, satu kesaksian kau sudah Islam, Muslim seperti
yang lain.
Tidak, aku masih tetap seperti kemarin.
Tunggu, cobalah rasakan perbedaannya, jangan
kesamaannya.
Tidak beda. Beda! Tidak. Beda!
Rambutmu telah pendek dan kau telah geletarkan
melalui lidah dan bibirmu sendiri, dengan kemauan sendiri
siapa dewa dan pemimpinmu yang baru.
Tidak, aku masih tetap seperti kemarin.
Kau bohong! Tak ada yang memaksa kau memotong
rambut dan mengucapkan mantra itu. Semua atas
kemauanmu sendiri. Kau, tak lain dari kau sendiri, dengan
sepengetahuanmu sendiri, dengan lidah dan suaramu
sendiri.
Diam kau! Tidakkah kau tahu, aku sedang mencari
terjemahan? Gerak lidah itu telah padam, suara itu telah
beku dan rambutku bakal tumbuh lagi, dua minggu dan dia
akan mulai panjang.
Diam kau! Tidakkah kau dapat jujur terhadap diri
sendiri? Kau sudah Islam. Kau harus akui kebenaran ini.
Pusing karena pertikaian di dalam diri sendiri ia
melompat berdiri dan meneruskan perjalanan. Langkahnya
makin lama makin cepat. Pikirannya dialihkan pada soalsoal lain. Apakah aku harus lakukan kekerasan di pesantren
baru nanti? Apakah aku harus meninggalkan kebencian
orang terhadap diriku? Teringat ia pada Liem Mo Han:
Wira, Tuan adalah orang berbahagia, karena dicintai dan
dihormati orang banyak. Dan di Gresik sini? Tak ada orang
mencintai dan menghormati aku. Tidak berbahagiakah aku?
Ia merasa-rasakan. Dan ia tetap masih merasa
berbahagia.
Kebahagiaanmu tak lain dari pesangon cinta dan hormat
orang di Tuban sana, seakan Liem Mo Han meneruskan
kata-katanya.
Kemudian Rama Cluring muncul di depan mata
batinnya, mengacukan jari padanya dan berkata: aku tak
membutuhkan cinta dan hormat kalian; selama kata-kataku
hidup dalam hatimu, itu sudah cukup bagiku.
Dia tidak membutuhkannya, seakan Liem Mo Han
berseru, karena dia tidak hidup dalam jamannya sendiri
atau jaman orang lain; dia tidak ber-jaman, dia hanya suara.
Ia melangkah cepat. Pandangnya ditebarkannya ke
mana-mana untuk mengebaskan segala yang bertingkah
dalam dirinya.
Pada hari itu juga ia dapatkan pesantren baru, yang sama
saja dengan sebelumnya. Hanya lebih kecil. Ia lalui harihari pertama dengan mengerjakan sawah dipagi dan sore
hari dan belajar membaca disore hari.
Dikendalikan lidahnya untuk tidak menanyakan sesuatu.
Sebaliknya ia tajamkan pengelihatan dan pendengaran. Ia
perhatikan galanya.
Ia dapat mengetahui adanya seorang santri yang
dianggap terpandai dan telah lebih sepuluh tahun belajar.
Orang itu yang dipilihnya untuk membantunya
mendapatkan terjemahan. Dan ia takkan mendekati Kiai.
Genap seminggu kemudian ia sudah mulai meramahi
Danu, santri terpandai itu. Juga Danu yang bercerita
padanya, Gresik bisa hidup terus tanpa raja, tanpa bupati.
Makin tak ada mereka makin baik. Di jaman Majapahit, tak
ada punggawa mencampuri pesantren, ia bercerita. Sri
Baginda Bhre Wijaya Purwawisesa malah memberikan
tanah pada kiai-kiai yang tidak dikenakan pajak atau kerja
negeri – sama halnya yang didapat oleh asrama-asrama
Buddha.
Dan waktu raja Giri Dahanapura, Sri Ranawijaya
Girindra Wardha-na memasuki Gresik, ceritanya lagi,
dipanggilnya menghadap semua saudagar dan nakhoda,
dan dititahkannya semua memindahkan harta dan
perdagangannya ke Panarukan atau Pasuruan.
“Lihat, bagaimana hebatnya Gresik,” ia meneruskan.
“Para saudagar dan nakhoda mengetahui, tanpa Giri
Dahanapura, Gresik akan tetap hidup. Mereka bersembah,
Giri Dahanapura dapat dipindahkan ke Gresik, tetapi
Gresik tak bisa dipindahkan ke mana pun!”
Danu adalah seorang patriot Gresik.
Wiranggaleng tak sempat membikin perbandingan
dengan bandar Tuban. Ia sibuk mencari-cari kesempatan
untuk bisa berdua saja dengan Danu.
Hari yang ditunggu-tunggunya tiba juga.
Sore itu mereka telah mandi di saluran air sawah. Enam
belas orang jumlahnya, termasuk dirinya. Semua sedang
bersiap-siap pulang, pada berdiri di pematang menunggu
yang belum selesai berpakaian. Pacul-pacul kayu bermata
baja itu pada berdiri berderet di atas lumpuran sawah yang
habis digaru. Di atas sana langit sedang bermendung.
Sekali-dua terdengar sayup guruh menggerutu seperti dari
perut bumi.
Ia hampiri Danu, menawarkan jasanya.
“Biar aku cuci paculmu, Kang Danu!” dan tanpa
menunggu jawaban ia memasukkannya ke dalam saluran
dan mencucinya dengan setekam rumput.
“Kalau aku sudah tamat nanti,” katanya menambahi
sambil menyerahkan pacul Danu, “aku akan masuk ke
daerah kafir Blambangan, mendirikan pesantren sendiri.”
“Kau!” Danu tertawa geli, “belum lagi dua minggu
belajar! Tidak semudah itu,” dan dengan gaya keguruguruan meneruskan. “Abangku sudah setahun di
Dahanapura. Apa hasilnya? Buh! Tak ada. Apa kekurangan
dia? Semua sudah habis dipelajarinya. Sekarang dia mau
tinggalkan Blambangan hendak berusaha di Nusa
Tenggara.”
“Di sana dia tentu akan berhasil, Insya Allah.”
“Tuhan akan menunjukkan padanya jalan yang terang.”
“Aku ingin memasuki Dahanapura, Kang.”
“Di sana kau akan jadi kafir lagi. Belajar saja baik-baik.”
“Tentu, Kang Danu. Aku akan belajar baik-baik.
Bagaimana pun Blambangan sangat menarik. Kerajaan
sekecil itu! Sebentar lagi tentu tumbang, Kang, biar pun
punya bandar dan angkatan laut.”
“Buh!” Danu melecehkan, “penyebaran agama bukanlah
perang,” ia meneruskan, “majunya tidak seperti tentara
berbaris, dia tidak menambah jalan darat atau laut, tetapi
hati manusia! hati yang harus dirambahnya. Ada kau
mengetahui sesuatu tentang Blambangan Dahanapura?”
“Katanya Peranggi sudah masuk ke sana. Kang, ada
yang membuka perguruan, kata orang, menyebarkan agama
sendiri. Itu kata orang, Kang.”
“Ya, semua orang di sini pernah dengar. Kata abangku,
beberapa waktu yang lalu,” Danu mulai berjalan di atas
pematang menuju ke desa dan Wiranggaleng mengikutinya
dari belakang.
“Di mana abangmu sekarang, Kang Danu?”
“Masuk ke Daahanapura lagi. Kata dia, raja di
Blambangan, Sri Rana-wijaya, tidak menyukai orang Islam,
dia lebih suka pada Peranggi. Tak pernah dikaruniakan
tanah pada pesantren, tapi orang Peranggi dikaru-niainya.
Malah patihnya, Patih Udara, sudah mengirimkan utusan
pada Kongso Dalbi di Malaka…. Tahu siapa Kongso
Dalbi?” ia menengok dan menyaksikan gelengan
Wiranggaleng. “Raja Peranggi di Malaka. Utusan itu, kata
abangku, telah mempersembahkan pada Kongso Dalbi
sebuah giring-giring emas, lambang kejayaan Hindu di
Blambangan, beras dua kapal, satu ukiran kayu cendana
berbingkai emas. Kebetulan abangku kenal dengan
pengukirnya.”
“Apa yang diukir pada kayu itu, Kang?”
“Satu adegan dari Ramayana, Lesmana dan Sinta di
dalam hutan.”
“Pengukirnya, Kang?”
“Pengukir asal Tuban, Borisrawa.”
Wiranggaleng mengangguk di belakang Danu. Dia sudah
di sana, pikirnya. Tetapi yang keluar dari mulutnya:
“Taklukkah Dahanapura pada Malaka, Kang?”
“Tidak. Ranawijaya takut kalau-kalau bupati pesisir
utara bersekutu menumbangkan kerajaannya yang terpencil
semakin terdesak oleh meluasnya Islam. Maka dia surati
Kongso Dalbi memohon persahabatannya, dan memohon
bantuan sepuluh pucuk meriam untuk menahan arus
kekuasaan Islam; dengan peluru dan penembaknya.”
“Apa meriam itu, Kang?”
“Senjata Peranggi. Yang dilemparkan bukan mercon
udara seperti cet-bang, tapi besi sebesar kepalan.”
Enam belas santri lainnya mulai mengikuti keduanya
dari belakang, memanggul pacul masing-masing.
“Apakah Peranggi suka memberikan meriam?”
“Pada lawan Islam? Boleh jadi,” jawab Danu ragu-ragu.
“Karena itu, jangan sepelekan kerajaan kecil. Kekuatannya
bisa besar dan ampuh.”
“Jadi kafir Dahanapura Blambangan sudah bersekutu
dengan kafir Peranggi?”
“Kira-kira. Kan kau sendiri yang memberitakan tadi,
Peranggi sudah ada di sana? Persembahan Patih Udara itu
nampaknya berbalas juga. Buh! Kapal-kapal Peranggi sudah
mulai kelihatan juga di Gresik, menuju ke Pasuruan dan
Panarukan.”
Mereka semua telah meninggalkan tanggul saluran dan
berada di jalanan desa. Garu dan luku ditinggalkan mereka
bergeletakan di atas lumpuran sawah. Matari di sebelah
barat menyala merah di celah-celah mendung seperti telur
angsa ajaib. Dan dengan segala usaha Wiranggaleng
mencoba menarik Danu dengan pertanyaan-pertanyaan
agar berada di buntut iring-iringan. Ia bertanya terus sambil
memperlambat jalan. Dan usahanya berhasil. Santri-santri
lain ingin segera pulang. Mereka tak memperhatikan katakata Danu yang menggurui. Dan begitu jarak mereka telah
nampak jauh, Wiranggaleng membuka maksudnya:
“Tolonglah aku, Kang Danu. Ada padaku sebuah ajimat,
tapi aku tak tahu tuah di dalamnya,” ia keluarkan
bungkusan kecil dari tali ikat pinggang kain, setelah
meletakkan pacul di tanah, dan berhenti.
Danu pun berhenti dan memperhatikannya membuka
bungkusan kecil yang ternyata segulungan kertas itu.
“Inilah ajimat itu, Kang, jawakanlah padaku, tolonglah.”
Dengan baik hatinya Danu membuka kertas itu dan
mulai membaca.
“Ini bukan ajimat,” katanya setelah membaca sebarisdua. “Ini surat biasa. Masyaallah! Dari mana kau dapat
surat ini? Wah, wah. Baru saja kita bicara tentang meriam,
di sini sudah disebut-sebut soal meriam. Minta dikirimi
paling tidak dua pucuk meriam Peranggi, kalau tidak….”
“Kalau tidak, apa Kang?”
“Uh-uh, dari mana kau dapat surat ini?” tanya Danu
mendesak dan bersungguh-sungguh.
“Jangan jalan dulu, Kang, berhenti di sini saja, biar aku
ceritai kau.”
Mereka berdua berdiri di tengah-tengah jalanan desa
yang sunyi itu. Wiranggaleng memperhatikan dengan
pandang selintas, bahwa santri terpandai itu masih tetap
mengawasinya, sedang santri-santri lain telah hilang di
tikungan jalan. Lambat-lambat ia mulai bercerita; dan ia
mengulangi ceritanya di pesantren pertama, hanya
ditambah lebih banyak.
“Sekarang kau teruskan membacanya, Kang, kau belum
selesai.”
Dan Danu sudah melepaskan sikap keguru-guruannya.
Ia genggam surat itu seakan takut terlepas dari tangan.
Dengan suara rendah ia berkata: “Kau tidak berhak
memegang surat ini. Akan kuserahkan pada Bapa Kiai.
Entah apa akan diperbuatnya nanti dengan ini. Barangkali
juga terjemahanku tidak benar.”
“Jangan, Kang, jangan.”
“Siapa sebenarnya kau ini? Kau datang kemari bukan
hendak belajar. Ketahuan dari kata-katamu yang berlagak
bodoh. Ayoh, katakan. Kalau tidak, surat ini benar-benar
akan kusampaikan pada Bapa Kiai, kemudian pada Gusti
Bupati, yang tentu akan memanggil Bapa Kiai lagi.
Mengaku saja. Kau mata-mata, telik!”
“Jangan, Kang, jangan,” tegah Wiranggaleng dengan
suara ketakutan.
“Kalau begitu katakan siapa kau sebenarnya.”
Tangan Wiranggaleng cepat melayang, menangkap
tengkuk Danu dan ditekuknya seperti ia melipat segulungan
kain. Terdengar bunyi berdetak dan tulang tengkuk itu
patah. Lidah Danu menyelir keluar sedikit meneteskan air
liur. Surat di tangan korban itu terlepas dan jatuh ke tanah.
Surat itu segera ia bungkus dalam tali kain pinggang. Ia
lemparkan korbannya ke atas lumpuran sawah. Ia
lemparkan pula dua buah pacul yang berdiri di jalanan itu
lebih jauh lagi.
“Ampuni aku, Kang Danu. ampuni aku, ya, Dewa
Batara.”
Ia tak pulang ke desa pesantren, justru sebaliknya….
Ia tak menempuh jalan laut.
Setelah dapat menangkap makna isi surat ia langsung
mengambil jalan darat pulang ke Tuban. Sepanjang
perjalanan ia menyesali kekerasan-kekerasan yang
dilakukannya. Dan ia bertanya-tanya dalam hati: siapakah
yang harus bertanggungjawab atas kekerasan-kekerasan ini?
Aku yang menjalani ataukah dia yang menugaskan aku?
Aku tak punya urusan apa-apa dengan mereka. Aku bukan
pembunuh, juga bukan penganiaya. Aku hanya seorang
bocah desa yang tidak diperkenankan jadi petani.
Untuk pertama kali ia menyedari, dirinya telah jadi
bagian dari kekuasaan Sang Adipati Tuban dan
kelangsungan hidup praja Tuban.
Inikah cara mengambil kembali kebesaran dan kejayaan
masasilam pada guagarba haridepan? Untuk Tuban?
Inikah?
Barangkali. Barangkali aku tidak keliru. Barangkali pun
aku salah.
Dan ia tanam potongan rambut yang selama ini ia
simpan dalam sa-rongnya di bawah sebatang pohon baru di
pinggir hutan.
Ia tembusi hutan-belantara itu melalui jalan setapak,
jalan desa dan jalan besar negeri. Langkahnya seperti lari.
Tubuhnya yang berat itu dirasainya mengganggu gerakan
kaki dan tangan. Namun jalannya tetap seperti lari.
Sang Patih menerima kedatangannya dengan girang.
Serentak ia mendengar, Ki Aji Benggala minta meriam
Peranggi pada Syahbandar Tuban dengan ancaman, lenyap
kegirangannya. Airmukanya berkerut, keningnya terangkat
naik, mengetahui bahaya yang sedang datang mendekati
Tuban.
“Ya,” katanya setelah agak lama berdiam diri, “berikan
surat ini pada yang berhak.”
Wiranggaleng berjalan cepat menuju ke Syahbandaran.
Sekilas ia lihat Idayu berjalan dari dapur menuju ke kamar,
dan ia lihat juga istrinya melihat padanya. Ia naik ke
gedung utama dan mendapatkan Syahbandar Tuban sedang
duduk membaca kitab.
“Hasalamu alaikooom!” serunya.
Tholib Sungkar Az-Zubaid melompat terkejut. Melihat
Wiranggaleng mula-mula ia terdiam. Matanya waspada dan
menelan ludah. Awan dengan lambat berarak
meninggalkan wajahnya. Ia tersenyum dan membalas: “Wa
alaikum salaaam. Rupa-rupanya sudah jadi Islam, Wira.
Ah, ya, benar sekali!” ia bertepuk-tepuk tanpa menegakkan
bongkoknya. “Siapa menduga kau sudah berambut pendek
begini. Kau kelihatan lebih hitam, tapi lebih berseri dan
lebih bersih dan lebih berbahagia.”
“Alhamdulillah, tuan Syahbandar.”
“Siapa yang mentaubatkan kau? Rangga Iskak?”
“Tidak salah, Tuan Syahbandar.”
“Tak pernah kau nampak begitu periang seperti
sekarang. Berkah taubat, Wira. Berkah taubat. Tak bisa
lain. Bukan main. Apa kata Rangga Iskak?”
“Bukan hanya kata, Tuan Syahbandar, malahan surat
balasan.”
“Surat balasan! Nanti dulu, ceritakan bagaimana
perjalananmu.”
Dan Wiranggaleng membikin-bikin cerita sendiri, bahwa
perjalanan sangat menyenangkan, bahwa tak ada sesuatu
aral melintang. Dan Syahbandar Tuban menyambutnya
dengan tertawa-tawa senang.
“Mana surat balasan itu?” tanyanya tak acuh. “Mana.
mana?”
Syahbandar-muda itu memperhatikan dengan saksama
tingkah-laku majikannya, untuk dapat membedakan antara
kepura-puraan dari kesungguhan.
“Sayang sekali sudah agak rusak, Tuan, terlalu sering
sahaya genggam, kuatir kalau-kalau hilang.”
Syahbandar menerima dengan mata melirik tajam
padanya. Tapi pada bibirnya tetap tertarik senyum
mencemoohkan. Tiba-tiba senyum itu hilang dan menjadi
bersungguh-sungguh.
Ia sudah sampai pada kalimat yang menggugupkan itu,
pikir juara gulat itu. Dan wajah orang di hadapannya itu
nampak berubah-ubah. Kemudian Syahbandar itu berhenti
membaca, menyelidiki ke arah surat, juga menyelidiki
wajahnya.
“Wira’ panggilnya dengan menusukkan pandang pada
matanya: “Apakah dia tidak bicara sesuatu tentang cap?”
“Tidak, tuan Syahbandar.”
“Memang orang keparat,” katanya dan kembali
mempelajari keadaan surat itu.
“Betul kau sudah bertemu sendiri dengan Rangga
Iskak?”
“Demi Allah, Tuan.”
“Begini, Wira, aku lihat beberapa tangan sudah pernah
memegangnya, dan beberapa pasang mata telah melihat
dan membacanya. Bagaimana keteranganmu, Wira?”
“Demi Allah, Tuan Syahbandar.”
Syahbandar Tuban mengawasinya. Pegulat itu merasa
dirinya diragukan.
“Kalau begitu lama pergi,” Tholib Sungkar Az-Zubaid
meneruskan penyelidikannya.
“Sahaya memerlukan belajar sebelum pulang. Apalah
salahnya, Tuan Syahbandar, sekedar untuk perbekalan
pulang.”
“Siapa saja pernah membaca ini?”
“Tak ada. Hanya Ki Aji Benggala Rangga Iskak yang
bisa menulis dan membaca Arab.”
“Kau bohong!” tuduhnya.
“Demi Allah, kata sahaya. Memang Ki Aji bilang sudah
kehabisan kertas, maka ia menulis di atas kertas bekas.”
Tholib Sungkar Az-Zubaid berdiri dan berjalan mondarmandir. Bongkoknya nampak semakin menjadi-jadi,
kemudian berhenti dan mengambil tongkat yang tergantung
pada punggung kursi, berjalan mondar-mandir lagi, dan
tiba-tiba berhenti di hadapan Wiranggaleng.
“Kau begitu lama pergi. Aku tak yakin tak ada orang
membaca surat ini.”
“Tak apalah kalau tuan Syahbandar tak mempercayai
sahaya lagi.”
“Orang bilang, pernah melihat kau di Tuban antara
keberangkatanmu dan kedatanganmu sekarang.”
“Kalau Tuan lebih mempercayai dia, perintahkan
padanya menghadap Ki Aji Benggala, jangan sahaya.”
“Nampaknya kau sudah mulai hendak berselisih
denganku.”
“Bukankah sahaya tak bisa memaksa Tuan Syahbandar
percaya pada sahaya? Terserah saja pada Tuan sendiri
hendak percaya atau tidak. Sahaya pun tidak membutuhkan
kepercayaan Tuan. Sungguh.”
Tholib Sungkar kembali duduk dan menggerak-gerakkan
tangkai tongkat dari gading itu. Dan gerakan gading berukir
itu selalu membikin orang tertarik pada persambungannya
dengan kayu hitam, yang seakan dua kuntum bunga
tertangkup jadi satu.
Mengetahui pikiran pembantu-utamanya mulai terlena,
dengan nada membujuk ia bertanya: “Lamakah sudah surat
ini kau simpan?”
“Segera setelah sahaya menerimanya.”
“Aku percaya padamu, Wira,” ia diam lagi.
Dan Wiranggaleng tahu, ia tak percaya.
“Aku senang kau telah masuk Islam, Wira.”
“Salasa nama sahaya, Tuan.”
“Salasa! Nama yang sangat bagus. Artinya ke tiga, Wira,
tepat. Satu artinya baik. Dua berarti lebih baik. Tapi tiga
artinya sempurna,” ia tertawa dibuat-buat. “Baiklah, lain
kali kita bicarakan lagi soal surat ini. Kau setuju, bukan,
Salasa?
“Tentu saja, Tuan Syahbandar.”
“Sekarang kita bicara soal lain, Wira Salasa. Sekarang
kau sudah masuk Islam. Tetapi istrimu masih kafir. Kau
harus perhatikan itu, Wira. Tak ada orang kafir yang baik.
Kalau seorang kafir itu pembohong, menipu suaminya, itu
sudah selayaknya, karena dia kafir, tak tahu ajaran. Kau
jauh lebih mulia daripada kafir mana pion, Salasa, apalagi
dari istrimu, kau pun lebih mulia dari Sang Adipati ataupun
Sang Patih. Mengerti kau?”
“Belum, Tuan Syahbandar.”
“Di hadapan Allah kau lebih mulia daripada semua
mereka.”
“Di hadapan Allah, Tuan Syahbandar. Di hadapan
mereka sendiri bagaimana, Tuan?”
“Tentu saja tetap seperti biasa.”
Wiranggaleng menahan tawanya. Ia menunduk dalam.
“Dan tentang istrimu itu, Wira Salasa, karena kau sudah
bertaubat, kau harus bisa tertibkan dia sebaik-baiknya.
Jangan lagi kau biarkan dia sebagai biasa bila kau sedang
pergi….”
Ia diam dan menunggu tanggapan pembantu-utamanya.
“Dia hanya menari di pendopo kadipaten, tuan, itu
sahaya tahu.”
“Tentu pengetahuanmu kurang sempurna, Wira?”
“Bagaimana menyempurnakannya, Tuan Syahbandar?”
“Menari di pendopo, Wira,… Sang Adipati. Ah,
bagaimana harus aku katakan. Tentu kau mengerti.”
Wiranggaleng menunduk dalam.
“Mengapa kau diam saja?”
“Baik, Tuan Syahbandar.”
“Syukurlah kalau kau mengerti.”
“Bagaimana biasanya ia perbuat kalau sahaya pergi
Tuan?”
“Ah, Wira Salasa, kasihan kau. Apakah kau tak pernah
dengar suara orang? Semua sudah bercerita. Wira, betapa
hinanya lelaki seperti kau dipunggungi istri sendiri….
Pulanglah, Tuhan memberimu petunjuk dan keselamatan
dan semoga kukuh imanmu. Tak ada kafir yang baik di
hadapan Allah.”
Dengan kepala masih menekur juara gulat itu pulang,
melangkah pelan-pelan seakan kepalanya menjadi beban
bagi tubuhnya sendiri.
Idayu tak menyambutnya di serambi. Ia menunggu
kedatangannya di dalam kamar. Gelar tidak nampak. Ia
nampak prihatin duduk di atas ambin sambil mengunyah
sirih. Sebuah bantal terletak di atas pangkuannya. Dan
matanya sayu seperti belum lagi tidur selama tiga malam.
Di atas bantal itu tergeletak sebilah cundrik panjang.
“Mengapa kau diam saja, Idayu?”
Hanya dengan matanya yang sayu ia pandangi
suaminya.
“Mengapa kau pangku cundrik itu di atas bantalmu?”
Idayu menunduk.
“Sakitkah kau?”
Ia menggeleng.
“Seperti tidak senang kau menyambut kedatanganku?”
“Siapa tahu, Kang, kau sudah berubah, Dan kau
memang nampak sudah berubah dengan rambutmu yang
pendek.”
Lelaki itu meletakkan kedua belah tangannya pada bahu
istrinya.
“Berubahkah aku, Dayu?”
“Kau berubah, Kang. Kau sudah masuk Islam
nampaknya. Tentu haruslah aku bersiap-siap dengan
perubahanmu, perubahan sikapmu,” suara Idayu semakin
pelahan dan sayu. “Aku masih juga ragu apakah aku boleh
mendahului kata atau tidak. Siapa tahu, Kang, kau sudah
tak suka mendengarkan aku lagi, suaraku, diriku….”
“Mengapa kau bicara begitu?” dan duduklah ia di
samping istrinya. Diambilnya cundrik dari atas bantal.
“Inilah aku, Kang, berdirilah kau, tidak baik membawa
cundrik sambil duduk begitu.”
“Selamanya kau jadi kurus kalau aku tinggal, Dayu. Apa
yang sudah terjadi?”
“Aku tetap saja, Kang. Kaulah yang banyak berjalan,
banyak melihat dan banyak mendengar. Kata orang tua-tua:
berjalan banyak melihat, curiga banyak mendengar.”
“Untuk apa cundrik ini ikut menyambut kedatanganku?”
“Berdirilah di hadapanku, Kang. Atau aku yang berdiri
di hadapanmu?”
“Baru beberapa minggu, Dayu, kau sudah begini kurus.”
“Untuk memohon pada para dewa buat keselamatanmu.
Kang.”
“Kau masih suka dipanggil menari?”
“Masih, Kang.”
“Dan mimpi lagi seperti dulu?”
“Tidak, Kang.”
“Apakah Syahbandar masih suka mengintip seperti itu?”
Idayu mengangkat kepala dan melihat sebagian dari
muka Syahbandar terlindung pada tiang jendela. Ia
mengangguk.
“Apakah kau masih suka dengar bicaranya, Kang?”
“Dia majikanku, Dayu, tapi kau adalah istriku.”
Galeng mempermain-mainkan cundrik kecil.
“Mana sarongnya ini, Dayu?”
“Sarong yang mana?”
Wiranggaleng mengangkat pandang ke arah jendela
gedung utama dan muka Syahbandar Tuban sudah tiada.
“Sarong yang lama. Aku akan berusaha tidak akan
tinggalkan kau terlalu lama, Idayu.”
“Jangan pikirkan tentang diriku. Aku sehat, jiwa dan
ragaku.”
“Ceritai aku tentang Gusti Adipati.”
“Tak ada yang aku bisa ceritakan, kecuali ia suka
menonton kalau aku menari. Kemudian wanita kadipaten
itu mengantarkan aku pulang dan menemani aku di sini.”
“Ceritai aku tentang Tuan Syahbandar.”
“Kau sendiri bisa bercerita banyak tentang dirinya. Biar
aku ambilkan sarong cundrik itu, Kang,” ia berdiri tetapi
ragu-ragu. Mendekati suaminya, bertanya, “Apakah benar
kau membutuhkan sarong yang lama? Tidakkah kau
menghendaki yang baru?”
Wiranggaleng berdiri. Cundrik itu diletakkannya kembali
di atas bantal. Ia peluk istrinya. Ia menciuminya. Idayu
memeluknya dan air-mata membasahi mukanya.
Novel Arus Balikk Bab 15 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.
Bagaimana alur cerita dari novel Arus Balik Bab 15 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua.
Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.
Untuk membaca Novel Arus Balik bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.
Komentar
Posting Komentar