Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 15 Disini

Novel Arus Balik bab 15 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Arus Balik menceritakan tentang kisah Kedatangan Portugis di Bumi Nusantara dengan latar awal Abad XVI, yaitu ketika surutnya pengaruh Majapahit dan naiknya pamor Kesultanan Demak.

Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Arus Balikk Bab 15 Bahasa Indonesia Sekarang ini. 

15. Perjalanan Sepucuk Surat Rahasia

Dilihatnya Sang Patih sedang dihadap oleh Syahbandar

langsung, ia berjalan melalui samping kepatihan ke

belakang. Ada terdengar olehnya sepotong kata-kata

Syahbandar dalam Melayu: “… tak ada hak patik untuk

mengusirnya….”

Ia berhenti dan terdengar suara Sang Patih: “Siapa bilang

kami mengusir atau memerintahkan mengusir? Patih Tuban

mengundang mereka kemari. Kami tahu mereka penembak

meriam. Maka itu kami mengundang mereka.”

Wiranggaleng meneruskan jalannya dan masuk ke dapur

kepatihan untuk menghilangkan lapar dan dahaga. Begitu

Syahbandar pergi ia datang menghadap. Sang Patih duduk

di atas bangku kayu sedang mengipas-kipas badan. Melihat

Syahbandar-muda datang ia tersenyum senang dan

menyilakannya duduk.

“Kau nampak agak kurus, Wira. Pasti terlalu berat

perjalananmu.” Dan belum lagi penghadap itu bersembah

ia telah meneruskan, “Pasti kau lihat tadi Syahbandar habis

menghadap. Dipergunakannya segala alasan untuk

menghalangi orang-orang Peranggi petualang itu datang

menghadap ke mari. Apa boleh buat. Gusti Adipati

berkenan memberikan perlindungan, dengan dugaan

mereka mau mengajar membikin meriam. Telah kami

persembahkan petualangan mereka di Lao Sam. Sia-sia, 

Wira. Jangankan Peranggi mau membagi ilmunya, orang

Tionghoa di sini saja segan mengajar membikin kertas.

Katanya kau sudah pernah melihat orang-orang Peranggi

itu. Bagaimana pendapatmu? Ah-ya, nanti dulu, mereka toh

masih berada di bawah perlindungan Syahbandar.

Bagaimana kepergianmu?”

Dan Wiranggaleng bersembah.

“Jadi sudah jelas Rangga Iskak memang hendak

bertingkah. Dia telah bikin kawula Tuban membangkang

dan melawan. Mana surat itu?”

Melihat surat itu bertulisan Arab ia hanya mengangguk.

“Kami tahu kau masih lelah dan rindu pula pada

keluargamu. Apa boleh buat, Wira, pekerjaan ini harus kau

selesaikan sendiri. Pergi kau ke Bonang dan panggil

menghadap Mashud bersama denganmu.”

Dengan seekor kuda kepatihan ia berangkat ke Bonang

dan keesokannya menghadap lagi bersama Mashud.

“Bapa Mashud,” kata Sang Patih, “kami perintahkan

padamu membaca surat Arab ini baris demi baris dan

terjemahkan baris demi baris pula.”

Mashud membaca baris demi baris dan menterjemahkan:

“Selamat bagimu,” sebaris lagi, “Dilimpahkan oleh Allah

kiranya padamu taufik dan hidayatnya,” sebaris lagi,

“Dijauhkan Tuan kiranya dari jilatan api neraka,”

selanjutnya, “Kecuali bila kau lakukan hal-hal yang

diwajibkan kepadamu untuk mengembangkan dan

menyampaikan, melindungi mempertahankan dan 

mengamalkan,” sebaris lagi, “Maka itu kerjakan apa yang

kami sebutkan di bawah ini….”

Mashud tiba-tiba terdiam. Mukanya pucat. Tangan dan

bibirnya menggeletar. Matanya liar ke mana-mana seperti

keranjingan.

“Mengapa, Bapa Mashud?”

Orang kurus tinggi bersorban tebal itu menelan ludah

dan meneruskan. Tetapi kata-katanya sudah tak jelas lagi

artinya.

Sang Patih memerintahkannya berhenti dan

menyuruhnya pergi, dan ia pergi masih dalam keadaan

pucat dan gugup. Seorang perwira menghadapkan pada

Sang Patih guru daripada Mashud. Ia seorang Campa yang

sudah lama tinggal di Malaka, bernama Jamhur Tenga,

barangkali seumur hidup selalu menggunakan jubah coklat

dan sorban coklat pula.

Dengan tenang dan percaya diri ia mulai

menterjemahkan, baris demi baris. Sampai pada baris yang

memucatkan Mashud ia menjadi gugup dan menubruknubruk, sedang terjemahannya berbeda jauh dari Mashud.

Sang Patih mengangguk dan memerintahkannya pergi.

Seorang perwira lain menghadapkan seorang Melayu

pelarian dari Malaka, telah kehabisan modal dan

kehilangan kapal. Ia telah diambil sewaktu sedang bersiapsiap hendak pindah ke pedalaman. Ia tak berjubah tak

bersorban, tetapi berpakaian Pribumi Tuban. Ia menghadap

dalam keadaan setengah mati ketakutan. Ia bernama

Kamang Sani.

Terjemahannya mulai baris yang memucatkan itu tiada

kesamaan baik dengan Mashud ataupun Jamhur Tenga.

Sang Patih memerintahkannya pergi. 

“Jadi kau sendiri tahu, Wira, ada rahasia terkandung di

dalamnya. Rahasia ini mengikat Rangga Iskak dengan para

penterjemah pada satu pihak dan Rangga Iskak dengan

Syahbandar Tuban pada lain pihak. Di sebelah sana lagi

ada Peranggi. Di sampingnya ada perusuh yang menentang

Tuban ”

Sang Patih memutarkan tinju dalam genggaman tangan

yang lain.

“Aneh, Rangga Iskak bermusuhan dengan Syahbandar,

juga bermusuhan dengan Peranggi, juga bermusuhan

dengan Tuban. Syahbandar bermusuhan dengan Rangga

Iskak dan kami mencurigainya bersahabat dengan

Peranggi.”

“Barang tentu surat gawat, Gusti.”

“Pergi kau sekarang juga ke Gresik. Carikan terjemahan

yang benar. Jangan kau tunda-tunda tugasmu.”

Dan dengan demikian mendaratlah Wiranggaleng di

bandar Gresik.

Bandar itu tidak seindah Tuban, namun masih lebih

ramai, juga pasar dan perdagangannya. Di masa-masa yang

lalu peranannya jauh lebih penting daripada Tuban, dan

sampai sekarang pun masih bandar terbesar di Jawa.

Sebelum Portugis menduduki Malaka dan Maluku,

sebagian terbesar rempah-rempah Maluku datang kemari,

dari sini berpecahan ke seluruh bandar di Jawa dan dunia.

Tiga ratus tahun setelah menjadi bandar tanpa tuan,

mulai abad ke sepuluh Masehi, pelabuhan ini dipergunakan

oleh Sri Baginda Teguh Dar-mawangsa menjadi pangkalan 

angkatan laut kerajaan Daha. Pada pertengahan abad ke

sebelas Masehi mendapat prasasti penghargaan dari Sri

Baginda Erlangga sebagaimana halnya dengan Tuban dan

bukan saja menjadi pangkalan Angkatan laut, juga

pelabuhan dagang antara Jawa dan Bali, Nusa Tenggara,

Maluku dan Sulawesi. Dari Gresik ini pula sebagian

angkatan laut Majapahit muncul untuk mencapai daratan

Asia dan Afrika.

Dan seperti halnya dengan Semarang dan Lao Sam, juga

Gresik pada mulanya dibangun menjadi bandar oleh

pendatang-pendatang dari Tiongkok. Setelah jatuhnya

Majapahit pada 1478 Masehi, Gresik berada dalam keadaan

tanpa tuan lagi. Tetapi perdagangan berjalan terus seakanakan jatuhnya kekuasaan politik itu tiada mempunyai

sesuatu pengaruh terhadap pelayaran dan perdagangan,

sebagaimana sebelum dikuasai oleh Sri Baginda Teguh

Darmawangsa.

Satu kekuasaan yang kemudian timbul lagi adalah justru

karena ingin menguasai bandar dan keuntungannya ini.

Beberapa orang yang mengaku keturunan Bre Wijaya

Purwa wisesa bertentangan dan berperang satu-sama-lain

sampai akhirnya balatentara Giri Dahanapura turun dari

Blam-bangan melakukan pameran militer memasuki

wilayah inti Majapahit, membungkam kekuatan-kekuatan

kecil yang bertarung memperebutkan Gresik. Raja

Blambangan Hindu, Ranawijaya Girindra Wardhana sejak

tahun 1485 menguasai Gresik sebagai bawahan Giri

Dahanapura atau Blambangan.

Gresik yang berpindah-pindah tangan itu tetap

berkembang tanpa kerusakan. Usaha Ranawijaya untuk

memindahkan Gresik ke bandar-bandarnya sendiri,

Panarukan dan Pasuruhan, tidak pernah berhasil. Pameran 

militer yang terlalu mahal itu akhirnya ditarik kembali

dengan Gresik dalam keadaan utuh.

Keadaan memang agak lengang waktu Wiranggaleng

mendarat. Namun jauh lebih sibuk daripada Tuban. Orangorang berambut panjang di sini jauh lebih sedikit, dapat

dikatakan tinggal satu-dua. Orang yang mengenakan baju

juga jauh lebih banyak, menandakan golongan satria tidak

lagi begitu berkuasa, dan kehidupan lebih banyak dikuasai

oleh kaum pedagang Islam. Penduduk sudah banyak

mengenakan terompah seperti para pendita di pedalaman,

terbuat daripada kulit kayu, pelepah atau kulit kambing

mentah.

Dan Wiranggaleng terheran-heran melihat betapa sedikit

orang yang berkain batik. Orang lebih banyak mengenakan

pakaian polos putih, wulung atau genggang, semua tenunan

desa. Orang-orang bertombak dan berpedang sama sekali

tidak kelihatan di pelabuhan, seakan-akan golongan satria

memang sudah tak punya sesuatu kekuasaan.

Setelah mendapat ijin masuk segera ia mencari-cari

keterangan. Tapi pandang mata yang tertuju padanya

seperti memperhatikan seekor binatang aneh yang terlepas

dari kandang. Di suatu tempat yang terlindung ia terpaksa

menggelung rambut dan menutupinya sama sekali dengan

destar. Dibelinya selembar sarong dan dikalungkannya

tergantung di tentang dada seperti kebiasaan orang

setempat. Baru ia merasa dapat bergerak agak leluasa.

Ternyata tidak semudah itu ia dapat menguasakan agar

tidak menjadi perhatian umum. Rambut sepanjang itu,

bagaimana pun ia sembunyikan ternyata tetap menarik

orang. Tiga hari lamanya ia berpikir untuk mendapat jalan 

keluar. Maka ia pun berpuasa memohon ampun dari para

dewa dan para leluhur, pada Hyang Widhi, dan dimintanya

seorang untuk mencukur rambutnya.

Itu pun ternyata tak semudah dugaannya untuk

melaksanakan. Tak ada orang bersedia memotong rambut

panjang seorang kafir, karena ada orang dan tempat tertentu

untuk itu. Kalau tidak para leluhur akan gusar, katanya,

baik yang dipangkas ataupun yang memangkas bisa terkena

kutuk. Dan tempat pemangkasan adalah pesantren.

Kemudian ia ketahui pesantren adalah tempat para santri,

dan santri sendiri tidak lain dari ucapan guru agama dari

seberang untuk cantrik. Ki Aji, yang artinya yang

terhormat, di sinipun telah mulai berubah bunyinya jadi

Kiai oleh guru-guru agama dari seberang itu pula.

Ia pergi ke sebuah pesantren, yang ternyata adalah

sebuah asrama pendidikan. Dan untuk keperluan itu ia

sudah lakukan satu kekeliruan.

Semestinya ia tidak datang seorang diri sebagai seorang

yang berambut panjang. Harus diantarkan oleh sanakkeluarga yang menyatakan kerelaan akan pemotongan

rambut itu. Bila sanak-keluarga menolak, baru orang boleh

membawa teman-temannya sebagai saksi. Di samping itu

masih ada lagi syaratnya: seekor ayam jantan putih, beras

tujuh tempurung dan tiga depa bahan pakaian putih.

Justru tanpa syarat dan pengantar pada suatu hari ia

datang ke sebuah pesantren terdekat pada bandar Gresik.

Ia diterima oleh seorang bocah yang kontan menolak

menghadapkannya pada seorang pemangkas. Anak itu

mengawasinya dengan curiga, bahkan menjawab

pertanyaan dan permintaannya pun segan.

Ia memaksa diri mendekati salah sebuah dari perumahan

yang ada dan menemui orang lain. Lelaki dewasa berkalung 

sarong itu menegurnya: “Hei, rambut panjang, apa

keperluanmu?”

“Sahaya bermaksud mencukurkan rambut,” jawabnya

merendah.

“Manakah saksimu yang memberi kerelaan dan

mendengar kau mengucapkan kalimah syahadad? Mana

pula syarat untuk hajad?”

Ia tidak mengerti kata-kata aneh itu dan minta

diterangkan.

“Tiada sahaya bersaksi, tiada pula bersyarat.”

“Tentu kau datang dari jauh untuk mendengarkan

panggilan ini. Mari aku potong rambutmu.”

Dan rambut itu pun dipotong sambil Wiranggaleng

menirukan kata-kata aneh yang digumamkan oleh si

pemangkas. Pekerjaan itu sendiri tak lama karena memang

tidak dilakukan secara sebaik-baiknya, hanya sekedar

memendekkan sejari dari kulit kepala.

“Apa lagi yang kau kehendaki?” tanyanya lagi. “Rambut

itu boleh kau buang ke kali.”

Buru-buru Wiranggaleng mengumpulkan potongan

rambut dan disimpannya di dalam sarong. Ia akan

menanamnya kelak dengan upacara di sesuatu tempat yang

patut untuk itu dengan memohon ampun dari para leluhur,

para dewa dan Hyang Widhi.

“Kalau tak ada yang kau kehendaki lagi, kau boleh pergi.

Aku pun masih banyak pekerjaan. Siapa namamu?”

“Itung.”

“Nah, Itung, kau sekarang sudah hampir sepenuhnya

Islam, pergunakan sekarang nama Islam, Salasa. Bisa 

menghafalnya? Salasa, karena kau datang kemari pada hari

ke tiga.”

“Salasa.”

“Pulanglah dengan selamat.”

“Bolehkah kiranya sahaya…,” ia tak tahu bagaimana

menyebut orang itu, “diperkenankan belajar agama baru di

sini?”

“Bahasamu baik, tentu kau sudah pernah mengikuti

pendidikan.

Tentu saja kau boleh belajar di sini’ orang itu tertawa

ramah, mengangguk dan memandanginya dengan kasihan.

“Setiap orang yang sudah berambut pendek boleh belajar di

sini, tinggal di sini, makan dan kerja di sini, selama dia suka

dan berkelakuan baik.”

“Kalau sudah tidak suka lagi?”

“Ya, boleh pergi setiap waktu, minta diri secara baik-baik

sebagaimana datangnya. Benar-benar kau mau belajar? Jadi

santri?”

Wiranggaleng mengangguk mengiakan.

“Kalau begitu mari aku antarkan kau ke tempatmu.”

Seperti seekor kambing yang tertuntun Syahbandar-muda

itu mengikutinya masuk ke sebuah pondok. Di dalamnya

disusun ambin-ambin seperti dalam asrama di pedalaman.

Tapi tak ada seorang pun nampak di dalam.

“Kau boleh ambil tempat kosong itu, Salasa.”

Wiranggaleng tidak pergi ke tempat yang ditunjuk. Ia

berdiri saja, malah mengeluarkan surat Rangga Iskak dan

berkata: “Surat inilah sebenarnya yang membawa sahaya

kemari. Sahaya percaya ini ajimat luar biasa, tetapi sahaya 

tak tahu tuah apa terkandung di dalamnya. Tolonglah

jawakan tulisan ini pada sahaya.” Orang itu menerima surat

itu dan mengawasinya dengan terheran-heran.

“Ini surat baru, di atas kertas, bukan lontar. Dari mana

kau dapat?”

“Jauh, jauh dari sini.”

“Aku sendiri tak bisa menjawakan. Mari aku antarkan

pada Bapa Kiai.”

Sekali lagi ia mengikuti orang itu seperti seekor kambing

dalam tuntunan. Dan masuklah mereka ke dalam sebuah

ruangan yang bergeladak pelupuh. Orang yang disebut Bapa

Kiai itu duduk menghadapi meja lipat, sedang di atasnya

terbuka sebuah kitab lebar. Tak ada orang lain

menyertainya.

Melihat ada orang masuk ia berhenti menyanyikan

bacaannya dan menutup kitabnya, menegur dalam Melayu:

“Allah memberkahimu dengan keselamatan, anakku. Ada

keperluan apa maka kau datang menghadap?”

Pengantar itu menjawakan, dan dalam Melayu

menjawabkan Wiranggaleng sambil mengulurkan surat

tulisan Arab.

Juara gulat itu duduk di atas geladak pelupuh

memperhatikan wajah Bapa Kiai. Betul juga dugaannya,

kira-kira sampai pada baris yang mengejutkan Bapa Kiai

nampak tegang, berdiri, mendekatinya dan bertanya terbatabata: “Dari mana kau peroleh surat ajimat ini?” dan

pengantar menjawakan.

“Nun di pinggir jalan di desa sahaya.”

“Di mana desamu?” 

“Jauh, jauh dari sini, kira-kira tujuh hari perjalanan,

mungkin lebih.”

“Nama, nama desamu.”

“Kuda, Bapa Kiai, Kuda Kondang.”

“Kabupaten mana itu anakku?”

“Bojanegara, Bapa Kiai.”

“Sedang ada apa di desamu?”

“Tak ada apa-apa, Bapa, hanya panen.”

“Atau di dekat-dekat desamu?”

“Juga tak ada apa-apa, Bapa.”

“Tidak mungkin, pasti ada terjadi sesuatu.”

“Apakah kiranya isi ajimat itu, Bapa Kiai?”

Bapak Kiai yang nampaknya masih muda itu mengawasi

Wiranggaleng, menaksir-naksir badannya yang besar.

Suaranya berubah mencurigai: “Kau belum patut

mengetahui, Nak,” jawabnya curiga. “Biar aku simpan

surat ini, terlalu amat berbahaya disimpan oleh orang

seperti kau.”

“Itu sahaya punya, Bapa Kiai.”

“Bukankah sudah aku katakan? Ini tidak tepat kau

simpan, apalagi kau miliki. Kau bisa terkena tulah.”

Melihat Ki Aji kembali pada meja-lipatnya hendak

memasukkan surat itu ke dalam kitab, ia melompat.

Ditangkapnya tangan itu dan dirampasnya kembali surat

itu. Bapa Kiai memekik. Wiranggaleng menguguh

mulutnya. Pengantar itu lari ketakutan sambil memekikmekik minta tolong. Dan sekarang giliran Wiranggaleng

untuk juga melarikan diri. Tanpa menoleh lagi ia langsung 

meninggalkan tempat itu. Para santri lainnya sedang

bekerja di sawah atau ladang. Dan tak ada di antara mereka

yang bertombak atau berpedang. Mereka takkan dapat

menghalang-halanginya.

Setelah jauh ia berteduh di bawah sebatang pohon

mengenangkan kegagalannya. Ia takkan menempuh jalan

yang sama. Ia akan mencari pesantren lain, satu dengan lain

tidak selamanya bersahabat. Permusuhan sering timbul di

antara mereka, dan kadang berakibat bentrokan, malahan

perang kecil.

Ia merasa aman. Ia berjalan pelan-pelan setelah

mendapatkan nafasnya kembali. Dirasainya kepalanya

begitu ringan seakan ikat kepalanya melekat pada

tengkoraknya. Ingat bahwa rambutnya telah terpotong ia

merasa menyesal. Dirasainya suatu kesedaran

menghentikan seluruh pekerjaan ototnya. Ia mencari

tempat berteduh lagi di tepi jalan dan mencoba mengikuti

gerak kesedarannya.

Benarkah aku sekarang sudah Islam? Muslim? Bernama

Salasa?

Ia tenangkan pikiran dan perasaan. Ia resapkan kembali

kesan-kesan yang baru dialaminya. Aku masih tetap seperti

kemarin, hanya kepalaku saja terasa ringan tak berambut.

Tapi kau telah ucapkan mantra orang Islam itu, satu

pengakuan, satu kesaksian kau sudah Islam, Muslim seperti

yang lain.

Tidak, aku masih tetap seperti kemarin.

Tunggu, cobalah rasakan perbedaannya, jangan

kesamaannya.

Tidak beda. Beda! Tidak. Beda! 

Rambutmu telah pendek dan kau telah geletarkan

melalui lidah dan bibirmu sendiri, dengan kemauan sendiri

siapa dewa dan pemimpinmu yang baru.

Tidak, aku masih tetap seperti kemarin.

Kau bohong! Tak ada yang memaksa kau memotong

rambut dan mengucapkan mantra itu. Semua atas

kemauanmu sendiri. Kau, tak lain dari kau sendiri, dengan

sepengetahuanmu sendiri, dengan lidah dan suaramu

sendiri.

Diam kau! Tidakkah kau tahu, aku sedang mencari

terjemahan? Gerak lidah itu telah padam, suara itu telah

beku dan rambutku bakal tumbuh lagi, dua minggu dan dia

akan mulai panjang.

Diam kau! Tidakkah kau dapat jujur terhadap diri

sendiri? Kau sudah Islam. Kau harus akui kebenaran ini.

Pusing karena pertikaian di dalam diri sendiri ia

melompat berdiri dan meneruskan perjalanan. Langkahnya

makin lama makin cepat. Pikirannya dialihkan pada soalsoal lain. Apakah aku harus lakukan kekerasan di pesantren

baru nanti? Apakah aku harus meninggalkan kebencian

orang terhadap diriku? Teringat ia pada Liem Mo Han:

Wira, Tuan adalah orang berbahagia, karena dicintai dan

dihormati orang banyak. Dan di Gresik sini? Tak ada orang

mencintai dan menghormati aku. Tidak berbahagiakah aku?

Ia merasa-rasakan. Dan ia tetap masih merasa

berbahagia.

Kebahagiaanmu tak lain dari pesangon cinta dan hormat

orang di Tuban sana, seakan Liem Mo Han meneruskan

kata-katanya.

Kemudian Rama Cluring muncul di depan mata

batinnya, mengacukan jari padanya dan berkata: aku tak 

membutuhkan cinta dan hormat kalian; selama kata-kataku

hidup dalam hatimu, itu sudah cukup bagiku.

Dia tidak membutuhkannya, seakan Liem Mo Han

berseru, karena dia tidak hidup dalam jamannya sendiri

atau jaman orang lain; dia tidak ber-jaman, dia hanya suara.

Ia melangkah cepat. Pandangnya ditebarkannya ke

mana-mana untuk mengebaskan segala yang bertingkah

dalam dirinya.

Pada hari itu juga ia dapatkan pesantren baru, yang sama

saja dengan sebelumnya. Hanya lebih kecil. Ia lalui harihari pertama dengan mengerjakan sawah dipagi dan sore

hari dan belajar membaca disore hari.

Dikendalikan lidahnya untuk tidak menanyakan sesuatu.

Sebaliknya ia tajamkan pengelihatan dan pendengaran. Ia

perhatikan galanya.

Ia dapat mengetahui adanya seorang santri yang

dianggap terpandai dan telah lebih sepuluh tahun belajar.

Orang itu yang dipilihnya untuk membantunya

mendapatkan terjemahan. Dan ia takkan mendekati Kiai.

Genap seminggu kemudian ia sudah mulai meramahi

Danu, santri terpandai itu. Juga Danu yang bercerita

padanya, Gresik bisa hidup terus tanpa raja, tanpa bupati.

Makin tak ada mereka makin baik. Di jaman Majapahit, tak

ada punggawa mencampuri pesantren, ia bercerita. Sri

Baginda Bhre Wijaya Purwawisesa malah memberikan

tanah pada kiai-kiai yang tidak dikenakan pajak atau kerja

negeri – sama halnya yang didapat oleh asrama-asrama

Buddha. 

Dan waktu raja Giri Dahanapura, Sri Ranawijaya

Girindra Wardha-na memasuki Gresik, ceritanya lagi,

dipanggilnya menghadap semua saudagar dan nakhoda,

dan dititahkannya semua memindahkan harta dan

perdagangannya ke Panarukan atau Pasuruan.

“Lihat, bagaimana hebatnya Gresik,” ia meneruskan.

“Para saudagar dan nakhoda mengetahui, tanpa Giri

Dahanapura, Gresik akan tetap hidup. Mereka bersembah,

Giri Dahanapura dapat dipindahkan ke Gresik, tetapi

Gresik tak bisa dipindahkan ke mana pun!”

Danu adalah seorang patriot Gresik.

Wiranggaleng tak sempat membikin perbandingan

dengan bandar Tuban. Ia sibuk mencari-cari kesempatan

untuk bisa berdua saja dengan Danu.

Hari yang ditunggu-tunggunya tiba juga.

Sore itu mereka telah mandi di saluran air sawah. Enam

belas orang jumlahnya, termasuk dirinya. Semua sedang

bersiap-siap pulang, pada berdiri di pematang menunggu

yang belum selesai berpakaian. Pacul-pacul kayu bermata

baja itu pada berdiri berderet di atas lumpuran sawah yang

habis digaru. Di atas sana langit sedang bermendung.

Sekali-dua terdengar sayup guruh menggerutu seperti dari

perut bumi.

Ia hampiri Danu, menawarkan jasanya.

“Biar aku cuci paculmu, Kang Danu!” dan tanpa

menunggu jawaban ia memasukkannya ke dalam saluran

dan mencucinya dengan setekam rumput.

“Kalau aku sudah tamat nanti,” katanya menambahi

sambil menyerahkan pacul Danu, “aku akan masuk ke

daerah kafir Blambangan, mendirikan pesantren sendiri.” 

“Kau!” Danu tertawa geli, “belum lagi dua minggu

belajar! Tidak semudah itu,” dan dengan gaya keguruguruan meneruskan. “Abangku sudah setahun di

Dahanapura. Apa hasilnya? Buh! Tak ada. Apa kekurangan

dia? Semua sudah habis dipelajarinya. Sekarang dia mau

tinggalkan Blambangan hendak berusaha di Nusa

Tenggara.”

“Di sana dia tentu akan berhasil, Insya Allah.”

“Tuhan akan menunjukkan padanya jalan yang terang.”

“Aku ingin memasuki Dahanapura, Kang.”

“Di sana kau akan jadi kafir lagi. Belajar saja baik-baik.”

“Tentu, Kang Danu. Aku akan belajar baik-baik.

Bagaimana pun Blambangan sangat menarik. Kerajaan

sekecil itu! Sebentar lagi tentu tumbang, Kang, biar pun

punya bandar dan angkatan laut.”

“Buh!” Danu melecehkan, “penyebaran agama bukanlah

perang,” ia meneruskan, “majunya tidak seperti tentara

berbaris, dia tidak menambah jalan darat atau laut, tetapi

hati manusia! hati yang harus dirambahnya. Ada kau

mengetahui sesuatu tentang Blambangan Dahanapura?”

“Katanya Peranggi sudah masuk ke sana. Kang, ada

yang membuka perguruan, kata orang, menyebarkan agama

sendiri. Itu kata orang, Kang.”

“Ya, semua orang di sini pernah dengar. Kata abangku,

beberapa waktu yang lalu,” Danu mulai berjalan di atas

pematang menuju ke desa dan Wiranggaleng mengikutinya

dari belakang.

“Di mana abangmu sekarang, Kang Danu?”

“Masuk ke Daahanapura lagi. Kata dia, raja di

Blambangan, Sri Rana-wijaya, tidak menyukai orang Islam, 

dia lebih suka pada Peranggi. Tak pernah dikaruniakan

tanah pada pesantren, tapi orang Peranggi dikaru-niainya.

Malah patihnya, Patih Udara, sudah mengirimkan utusan

pada Kongso Dalbi di Malaka…. Tahu siapa Kongso

Dalbi?” ia menengok dan menyaksikan gelengan

Wiranggaleng. “Raja Peranggi di Malaka. Utusan itu, kata

abangku, telah mempersembahkan pada Kongso Dalbi

sebuah giring-giring emas, lambang kejayaan Hindu di

Blambangan, beras dua kapal, satu ukiran kayu cendana

berbingkai emas. Kebetulan abangku kenal dengan

pengukirnya.”

“Apa yang diukir pada kayu itu, Kang?”

“Satu adegan dari Ramayana, Lesmana dan Sinta di

dalam hutan.”

“Pengukirnya, Kang?”

“Pengukir asal Tuban, Borisrawa.”

Wiranggaleng mengangguk di belakang Danu. Dia sudah

di sana, pikirnya. Tetapi yang keluar dari mulutnya:

“Taklukkah Dahanapura pada Malaka, Kang?”

“Tidak. Ranawijaya takut kalau-kalau bupati pesisir

utara bersekutu menumbangkan kerajaannya yang terpencil

semakin terdesak oleh meluasnya Islam. Maka dia surati

Kongso Dalbi memohon persahabatannya, dan memohon

bantuan sepuluh pucuk meriam untuk menahan arus

kekuasaan Islam; dengan peluru dan penembaknya.”

“Apa meriam itu, Kang?”

“Senjata Peranggi. Yang dilemparkan bukan mercon

udara seperti cet-bang, tapi besi sebesar kepalan.”

Enam belas santri lainnya mulai mengikuti keduanya

dari belakang, memanggul pacul masing-masing. 

“Apakah Peranggi suka memberikan meriam?”

“Pada lawan Islam? Boleh jadi,” jawab Danu ragu-ragu.

“Karena itu, jangan sepelekan kerajaan kecil. Kekuatannya

bisa besar dan ampuh.”

“Jadi kafir Dahanapura Blambangan sudah bersekutu

dengan kafir Peranggi?”

“Kira-kira. Kan kau sendiri yang memberitakan tadi,

Peranggi sudah ada di sana? Persembahan Patih Udara itu

nampaknya berbalas juga. Buh! Kapal-kapal Peranggi sudah

mulai kelihatan juga di Gresik, menuju ke Pasuruan dan

Panarukan.”

Mereka semua telah meninggalkan tanggul saluran dan

berada di jalanan desa. Garu dan luku ditinggalkan mereka

bergeletakan di atas lumpuran sawah. Matari di sebelah

barat menyala merah di celah-celah mendung seperti telur

angsa ajaib. Dan dengan segala usaha Wiranggaleng

mencoba menarik Danu dengan pertanyaan-pertanyaan

agar berada di buntut iring-iringan. Ia bertanya terus sambil

memperlambat jalan. Dan usahanya berhasil. Santri-santri

lain ingin segera pulang. Mereka tak memperhatikan katakata Danu yang menggurui. Dan begitu jarak mereka telah

nampak jauh, Wiranggaleng membuka maksudnya:

“Tolonglah aku, Kang Danu. Ada padaku sebuah ajimat,

tapi aku tak tahu tuah di dalamnya,” ia keluarkan

bungkusan kecil dari tali ikat pinggang kain, setelah

meletakkan pacul di tanah, dan berhenti.

Danu pun berhenti dan memperhatikannya membuka

bungkusan kecil yang ternyata segulungan kertas itu.

“Inilah ajimat itu, Kang, jawakanlah padaku, tolonglah.”

Dengan baik hatinya Danu membuka kertas itu dan

mulai membaca. 

“Ini bukan ajimat,” katanya setelah membaca sebarisdua. “Ini surat biasa. Masyaallah! Dari mana kau dapat

surat ini? Wah, wah. Baru saja kita bicara tentang meriam,

di sini sudah disebut-sebut soal meriam. Minta dikirimi

paling tidak dua pucuk meriam Peranggi, kalau tidak….”

“Kalau tidak, apa Kang?”

“Uh-uh, dari mana kau dapat surat ini?” tanya Danu

mendesak dan bersungguh-sungguh.

“Jangan jalan dulu, Kang, berhenti di sini saja, biar aku

ceritai kau.”

Mereka berdua berdiri di tengah-tengah jalanan desa

yang sunyi itu. Wiranggaleng memperhatikan dengan

pandang selintas, bahwa santri terpandai itu masih tetap

mengawasinya, sedang santri-santri lain telah hilang di

tikungan jalan. Lambat-lambat ia mulai bercerita; dan ia

mengulangi ceritanya di pesantren pertama, hanya

ditambah lebih banyak.

“Sekarang kau teruskan membacanya, Kang, kau belum

selesai.”

Dan Danu sudah melepaskan sikap keguru-guruannya.

Ia genggam surat itu seakan takut terlepas dari tangan.

Dengan suara rendah ia berkata: “Kau tidak berhak

memegang surat ini. Akan kuserahkan pada Bapa Kiai.

Entah apa akan diperbuatnya nanti dengan ini. Barangkali

juga terjemahanku tidak benar.”

“Jangan, Kang, jangan.”

“Siapa sebenarnya kau ini? Kau datang kemari bukan

hendak belajar. Ketahuan dari kata-katamu yang berlagak

bodoh. Ayoh, katakan. Kalau tidak, surat ini benar-benar

akan kusampaikan pada Bapa Kiai, kemudian pada Gusti 

Bupati, yang tentu akan memanggil Bapa Kiai lagi.

Mengaku saja. Kau mata-mata, telik!”

“Jangan, Kang, jangan,” tegah Wiranggaleng dengan

suara ketakutan.

“Kalau begitu katakan siapa kau sebenarnya.”

Tangan Wiranggaleng cepat melayang, menangkap

tengkuk Danu dan ditekuknya seperti ia melipat segulungan

kain. Terdengar bunyi berdetak dan tulang tengkuk itu

patah. Lidah Danu menyelir keluar sedikit meneteskan air

liur. Surat di tangan korban itu terlepas dan jatuh ke tanah.

Surat itu segera ia bungkus dalam tali kain pinggang. Ia

lemparkan korbannya ke atas lumpuran sawah. Ia

lemparkan pula dua buah pacul yang berdiri di jalanan itu

lebih jauh lagi.

“Ampuni aku, Kang Danu. ampuni aku, ya, Dewa

Batara.”

Ia tak pulang ke desa pesantren, justru sebaliknya….

Ia tak menempuh jalan laut.

Setelah dapat menangkap makna isi surat ia langsung

mengambil jalan darat pulang ke Tuban. Sepanjang

perjalanan ia menyesali kekerasan-kekerasan yang

dilakukannya. Dan ia bertanya-tanya dalam hati: siapakah

yang harus bertanggungjawab atas kekerasan-kekerasan ini?

Aku yang menjalani ataukah dia yang menugaskan aku?

Aku tak punya urusan apa-apa dengan mereka. Aku bukan

pembunuh, juga bukan penganiaya. Aku hanya seorang

bocah desa yang tidak diperkenankan jadi petani. 

Untuk pertama kali ia menyedari, dirinya telah jadi

bagian dari kekuasaan Sang Adipati Tuban dan

kelangsungan hidup praja Tuban.

Inikah cara mengambil kembali kebesaran dan kejayaan

masasilam pada guagarba haridepan? Untuk Tuban?

Inikah?

Barangkali. Barangkali aku tidak keliru. Barangkali pun

aku salah.

Dan ia tanam potongan rambut yang selama ini ia

simpan dalam sa-rongnya di bawah sebatang pohon baru di

pinggir hutan.

Ia tembusi hutan-belantara itu melalui jalan setapak,

jalan desa dan jalan besar negeri. Langkahnya seperti lari.

Tubuhnya yang berat itu dirasainya mengganggu gerakan

kaki dan tangan. Namun jalannya tetap seperti lari.

Sang Patih menerima kedatangannya dengan girang.

Serentak ia mendengar, Ki Aji Benggala minta meriam

Peranggi pada Syahbandar Tuban dengan ancaman, lenyap

kegirangannya. Airmukanya berkerut, keningnya terangkat

naik, mengetahui bahaya yang sedang datang mendekati

Tuban.

“Ya,” katanya setelah agak lama berdiam diri, “berikan

surat ini pada yang berhak.”

Wiranggaleng berjalan cepat menuju ke Syahbandaran.

Sekilas ia lihat Idayu berjalan dari dapur menuju ke kamar,

dan ia lihat juga istrinya melihat padanya. Ia naik ke

gedung utama dan mendapatkan Syahbandar Tuban sedang

duduk membaca kitab.

“Hasalamu alaikooom!” serunya. 

Tholib Sungkar Az-Zubaid melompat terkejut. Melihat

Wiranggaleng mula-mula ia terdiam. Matanya waspada dan

menelan ludah. Awan dengan lambat berarak

meninggalkan wajahnya. Ia tersenyum dan membalas: “Wa

alaikum salaaam. Rupa-rupanya sudah jadi Islam, Wira.

Ah, ya, benar sekali!” ia bertepuk-tepuk tanpa menegakkan

bongkoknya. “Siapa menduga kau sudah berambut pendek

begini. Kau kelihatan lebih hitam, tapi lebih berseri dan

lebih bersih dan lebih berbahagia.”

“Alhamdulillah, tuan Syahbandar.”

“Siapa yang mentaubatkan kau? Rangga Iskak?”

“Tidak salah, Tuan Syahbandar.”

“Tak pernah kau nampak begitu periang seperti

sekarang. Berkah taubat, Wira. Berkah taubat. Tak bisa

lain. Bukan main. Apa kata Rangga Iskak?”

“Bukan hanya kata, Tuan Syahbandar, malahan surat

balasan.”

“Surat balasan! Nanti dulu, ceritakan bagaimana

perjalananmu.”

Dan Wiranggaleng membikin-bikin cerita sendiri, bahwa

perjalanan sangat menyenangkan, bahwa tak ada sesuatu

aral melintang. Dan Syahbandar Tuban menyambutnya

dengan tertawa-tawa senang.

“Mana surat balasan itu?” tanyanya tak acuh. “Mana.

mana?”

Syahbandar-muda itu memperhatikan dengan saksama

tingkah-laku majikannya, untuk dapat membedakan antara

kepura-puraan dari kesungguhan.

“Sayang sekali sudah agak rusak, Tuan, terlalu sering

sahaya genggam, kuatir kalau-kalau hilang.” 

Syahbandar menerima dengan mata melirik tajam

padanya. Tapi pada bibirnya tetap tertarik senyum

mencemoohkan. Tiba-tiba senyum itu hilang dan menjadi

bersungguh-sungguh.

Ia sudah sampai pada kalimat yang menggugupkan itu,

pikir juara gulat itu. Dan wajah orang di hadapannya itu

nampak berubah-ubah. Kemudian Syahbandar itu berhenti

membaca, menyelidiki ke arah surat, juga menyelidiki

wajahnya.

“Wira’ panggilnya dengan menusukkan pandang pada

matanya: “Apakah dia tidak bicara sesuatu tentang cap?”

“Tidak, tuan Syahbandar.”

“Memang orang keparat,” katanya dan kembali

mempelajari keadaan surat itu.

“Betul kau sudah bertemu sendiri dengan Rangga

Iskak?”

“Demi Allah, Tuan.”

“Begini, Wira, aku lihat beberapa tangan sudah pernah

memegangnya, dan beberapa pasang mata telah melihat

dan membacanya. Bagaimana keteranganmu, Wira?”

“Demi Allah, Tuan Syahbandar.”

Syahbandar Tuban mengawasinya. Pegulat itu merasa

dirinya diragukan.

“Kalau begitu lama pergi,” Tholib Sungkar Az-Zubaid

meneruskan penyelidikannya.

“Sahaya memerlukan belajar sebelum pulang. Apalah

salahnya, Tuan Syahbandar, sekedar untuk perbekalan

pulang.”

“Siapa saja pernah membaca ini?” 

“Tak ada. Hanya Ki Aji Benggala Rangga Iskak yang

bisa menulis dan membaca Arab.”

“Kau bohong!” tuduhnya.

“Demi Allah, kata sahaya. Memang Ki Aji bilang sudah

kehabisan kertas, maka ia menulis di atas kertas bekas.”

Tholib Sungkar Az-Zubaid berdiri dan berjalan mondarmandir. Bongkoknya nampak semakin menjadi-jadi,

kemudian berhenti dan mengambil tongkat yang tergantung

pada punggung kursi, berjalan mondar-mandir lagi, dan

tiba-tiba berhenti di hadapan Wiranggaleng.

“Kau begitu lama pergi. Aku tak yakin tak ada orang

membaca surat ini.”

“Tak apalah kalau tuan Syahbandar tak mempercayai

sahaya lagi.”

“Orang bilang, pernah melihat kau di Tuban antara

keberangkatanmu dan kedatanganmu sekarang.”

“Kalau Tuan lebih mempercayai dia, perintahkan

padanya menghadap Ki Aji Benggala, jangan sahaya.”

“Nampaknya kau sudah mulai hendak berselisih

denganku.”

“Bukankah sahaya tak bisa memaksa Tuan Syahbandar

percaya pada sahaya? Terserah saja pada Tuan sendiri

hendak percaya atau tidak. Sahaya pun tidak membutuhkan

kepercayaan Tuan. Sungguh.”

Tholib Sungkar kembali duduk dan menggerak-gerakkan

tangkai tongkat dari gading itu. Dan gerakan gading berukir

itu selalu membikin orang tertarik pada persambungannya

dengan kayu hitam, yang seakan dua kuntum bunga

tertangkup jadi satu. 

Mengetahui pikiran pembantu-utamanya mulai terlena,

dengan nada membujuk ia bertanya: “Lamakah sudah surat

ini kau simpan?”

“Segera setelah sahaya menerimanya.”

“Aku percaya padamu, Wira,” ia diam lagi.

Dan Wiranggaleng tahu, ia tak percaya.

“Aku senang kau telah masuk Islam, Wira.”

“Salasa nama sahaya, Tuan.”

“Salasa! Nama yang sangat bagus. Artinya ke tiga, Wira,

tepat. Satu artinya baik. Dua berarti lebih baik. Tapi tiga

artinya sempurna,” ia tertawa dibuat-buat. “Baiklah, lain

kali kita bicarakan lagi soal surat ini. Kau setuju, bukan,

Salasa?

“Tentu saja, Tuan Syahbandar.”

“Sekarang kita bicara soal lain, Wira Salasa. Sekarang

kau sudah masuk Islam. Tetapi istrimu masih kafir. Kau

harus perhatikan itu, Wira. Tak ada orang kafir yang baik.

Kalau seorang kafir itu pembohong, menipu suaminya, itu

sudah selayaknya, karena dia kafir, tak tahu ajaran. Kau

jauh lebih mulia daripada kafir mana pion, Salasa, apalagi

dari istrimu, kau pun lebih mulia dari Sang Adipati ataupun

Sang Patih. Mengerti kau?”

“Belum, Tuan Syahbandar.”

“Di hadapan Allah kau lebih mulia daripada semua

mereka.”

“Di hadapan Allah, Tuan Syahbandar. Di hadapan

mereka sendiri bagaimana, Tuan?”

“Tentu saja tetap seperti biasa.”

Wiranggaleng menahan tawanya. Ia menunduk dalam. 

“Dan tentang istrimu itu, Wira Salasa, karena kau sudah

bertaubat, kau harus bisa tertibkan dia sebaik-baiknya.

Jangan lagi kau biarkan dia sebagai biasa bila kau sedang

pergi….”

Ia diam dan menunggu tanggapan pembantu-utamanya.

“Dia hanya menari di pendopo kadipaten, tuan, itu

sahaya tahu.”

“Tentu pengetahuanmu kurang sempurna, Wira?”

“Bagaimana menyempurnakannya, Tuan Syahbandar?”

“Menari di pendopo, Wira,… Sang Adipati. Ah,

bagaimana harus aku katakan. Tentu kau mengerti.”

Wiranggaleng menunduk dalam.

“Mengapa kau diam saja?”

“Baik, Tuan Syahbandar.”

“Syukurlah kalau kau mengerti.”

“Bagaimana biasanya ia perbuat kalau sahaya pergi

Tuan?”

“Ah, Wira Salasa, kasihan kau. Apakah kau tak pernah

dengar suara orang? Semua sudah bercerita. Wira, betapa

hinanya lelaki seperti kau dipunggungi istri sendiri….

Pulanglah, Tuhan memberimu petunjuk dan keselamatan

dan semoga kukuh imanmu. Tak ada kafir yang baik di

hadapan Allah.”

Dengan kepala masih menekur juara gulat itu pulang,

melangkah pelan-pelan seakan kepalanya menjadi beban

bagi tubuhnya sendiri.

Idayu tak menyambutnya di serambi. Ia menunggu

kedatangannya di dalam kamar. Gelar tidak nampak. Ia

nampak prihatin duduk di atas ambin sambil mengunyah

sirih. Sebuah bantal terletak di atas pangkuannya. Dan

matanya sayu seperti belum lagi tidur selama tiga malam.

Di atas bantal itu tergeletak sebilah cundrik panjang.

“Mengapa kau diam saja, Idayu?”

Hanya dengan matanya yang sayu ia pandangi

suaminya.

“Mengapa kau pangku cundrik itu di atas bantalmu?”

Idayu menunduk.

“Sakitkah kau?”

Ia menggeleng.

“Seperti tidak senang kau menyambut kedatanganku?”

“Siapa tahu, Kang, kau sudah berubah, Dan kau

memang nampak sudah berubah dengan rambutmu yang

pendek.”

Lelaki itu meletakkan kedua belah tangannya pada bahu

istrinya.

“Berubahkah aku, Dayu?”

“Kau berubah, Kang. Kau sudah masuk Islam

nampaknya. Tentu haruslah aku bersiap-siap dengan

perubahanmu, perubahan sikapmu,” suara Idayu semakin

pelahan dan sayu. “Aku masih juga ragu apakah aku boleh

mendahului kata atau tidak. Siapa tahu, Kang, kau sudah

tak suka mendengarkan aku lagi, suaraku, diriku….”

“Mengapa kau bicara begitu?” dan duduklah ia di

samping istrinya. Diambilnya cundrik dari atas bantal. 

“Inilah aku, Kang, berdirilah kau, tidak baik membawa

cundrik sambil duduk begitu.”

“Selamanya kau jadi kurus kalau aku tinggal, Dayu. Apa

yang sudah terjadi?”

“Aku tetap saja, Kang. Kaulah yang banyak berjalan,

banyak melihat dan banyak mendengar. Kata orang tua-tua:

berjalan banyak melihat, curiga banyak mendengar.”

“Untuk apa cundrik ini ikut menyambut kedatanganku?”

“Berdirilah di hadapanku, Kang. Atau aku yang berdiri

di hadapanmu?”

“Baru beberapa minggu, Dayu, kau sudah begini kurus.”

“Untuk memohon pada para dewa buat keselamatanmu.

Kang.”

“Kau masih suka dipanggil menari?”

“Masih, Kang.”

“Dan mimpi lagi seperti dulu?”

“Tidak, Kang.”

“Apakah Syahbandar masih suka mengintip seperti itu?”

Idayu mengangkat kepala dan melihat sebagian dari

muka Syahbandar terlindung pada tiang jendela. Ia

mengangguk.

“Apakah kau masih suka dengar bicaranya, Kang?”

“Dia majikanku, Dayu, tapi kau adalah istriku.”

Galeng mempermain-mainkan cundrik kecil.

“Mana sarongnya ini, Dayu?”

“Sarong yang mana?” 

Wiranggaleng mengangkat pandang ke arah jendela

gedung utama dan muka Syahbandar Tuban sudah tiada.

“Sarong yang lama. Aku akan berusaha tidak akan

tinggalkan kau terlalu lama, Idayu.”

“Jangan pikirkan tentang diriku. Aku sehat, jiwa dan

ragaku.”

“Ceritai aku tentang Gusti Adipati.”

“Tak ada yang aku bisa ceritakan, kecuali ia suka

menonton kalau aku menari. Kemudian wanita kadipaten

itu mengantarkan aku pulang dan menemani aku di sini.”

“Ceritai aku tentang Tuan Syahbandar.”

“Kau sendiri bisa bercerita banyak tentang dirinya. Biar

aku ambilkan sarong cundrik itu, Kang,” ia berdiri tetapi

ragu-ragu. Mendekati suaminya, bertanya, “Apakah benar

kau membutuhkan sarong yang lama? Tidakkah kau

menghendaki yang baru?”

Wiranggaleng berdiri. Cundrik itu diletakkannya kembali

di atas bantal. Ia peluk istrinya. Ia menciuminya. Idayu

memeluknya dan air-mata membasahi mukanya. 

Novel Arus Balikk Bab 15 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.

Bagaimana alur cerita dari novel Arus Balik Bab 15 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua. 

Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.

Untuk membaca Novel Arus Balik bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 8 Disini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 28 Disini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 26 Disini