Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 7 Disini

Novel Arus Balik bab 7 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Arus Balik menceritakan tentang kisah Kedatangan Portugis di Bumi Nusantara dengan latar awal Abad XVI, yaitu ketika surutnya pengaruh Majapahit dan naiknya pamor Kesultanan Demak.

Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Arus Balikk Bab 7 Bahasa Indonesia Sekarang ini. 

7. Syahbandar Tuban : Rangga Iskak & Sayid

Habibullah Al-Masawa

Pada waktu tidak dinas seperti sekarang ini ia selalu

bersarong, berbaju dan berkopiah putih dari tenunan

Benggala -semua kain kaliko kasar. Tamu itu telah turun ke

jalan raya dan ia berjalan kembali hendak memasuki 

gedung kesyahbandaran. Percakapan dengan tamu sangat

menarik: masuknya Islam ke Nusantara bukan suatu

kebetulan. Juga bukan suatu kebetulan mengapa penguasapenguasa di Perlak, Pasai dan Malaka yang mula-mula

masuk Islam: mereka membutuhkan ajaran, perlindungan,

kepercayaan lain dari segala yang serba Majapahit….

Gedung kesyahbandaran yang terpampang di

hadapannya nampak masih, terindah di seluruh negeri

Tuban. Lebih indah dari kadipaten, istana Sang Adipati.

Gedung itu adalah yang kedua yang terbuat daripada batu.

Yang pertama adalah klenting Tionghoa. Kedua-duanya

berdiri di wilayah pelabuhan. Rumah selebihnya di seluruh

negeri Tuban terbuat dari kayu atau bambu, beratap sirap,

injuk atau ilalang. Yang termiskin berdinding daun nipah

atau kelapa.

Selalu bila ia sedang memintasi jalanan halaman depan

rumah, ia tak pernah melewatkan nikmat keindahan bungabungaan aneka warna di atas permadani rumput hijau ini.

Dua tahun lalu seorang anak kapal dari Malabar, terdampar

di Tuban, telah membangunnya meniru taman raja-raja

Benggala, dan jadilah yang terindah di seluruh negeri. Di

sore hari orang suka berdiri di luar pagar untuk menikmati

dan mengagumi. Ia bangga pada tamannya.

Sampai di depan pintu para pelayan sewaan telah

berbaris menyongsongnya. “Semua sudah dirapikan, Tuan

Syahbandar,” kata Yakub, majikan para pelayan itu dalam

Melayu.

“Kalian boleh pergi,” jawabnya sambil melambaikan

tangan dan memberikan sesuatu di tangan Yakub. Tanpa

menoleh ia masuk ke dalam.

Dan bila ia menikmati kebagusan gedungnya, tak pernah

ia habis heran akan kebodohan Pribumi yang menganggap 

rumah batu sebagai sebuah canai, yang nanya Daik untuk

menyimpan abu jenasah.

Ruang tamu yang luas itu juga susunan awak kapal dari

Malabar. Perabot: kursi-kursi berukir, dua bangku bantal

kulit onta. Permadam tergelar di atas lantai batu dihiasi

dengan lemari besar dari kayu berukir arabesqus merupakan

dinding pembatas antara ruang tamu dan ruang kerja, diatur

menurut gaya ruang kerja saudagar-saudagar Parsi.

Percakapan dengan Abdulgafur memang menarik, dan

itu terjadi sebelum jatuhnya Malaka. Beberapa hari

kemudian setelah Malaka jatuh dan ia mendengamya, buruburu ia buka lemari besar itu dan mengeluarkan sebuah

kitab tebal, catatan sambungan dari catatan salinan

abangnya dari ayahnya, dan ayahnya meneruskan dari

kakeknya yang besar Mirsa Hisyam Syu’bah, Syahbandar

Malaka, yang pernah mengislamkan Bhre Paramesywara.

Catatan-catatan kakeknya tentang Malaka hampirhampir hafal olehnya di luar kepala. Kakeknya, Mirsa

Hisyam Syu’bah, telah mendapatkan pelarian dari

Majapahit itu, yang ternyata suami kaisar wanita

Majapahit, Suhita. Ia adalah Bhre Paramesywara.

Pertemuan itu terjadi di Tumasik, bandar Majapahit yang

besar, menghubungkan Nusantara dengan Atas Angin dan

Tiongkok. Kakeknya segera bersahabat dengan pelarian

agung itu.

Dalam catatan itu diterangkan juga, bahwa Bhre

Paramesywara terlibat dalam komplotan untuk

menggulingkan isterinya sendiri dan berkeinginan untuk

jadi kaisar Majapahit. Dari mata-matanya ia mengetahui,

bahwa kaisar Suhita telah memerintahkan penangkapan

atas dirinya. Larilah ia ke Tumasik. Tetapi komplotan itu

diteruskannya. Perang saudara Paregrek meletus pada

tahun 1401 sampai 1405 Masehi antara Majapahit dengan 

Blambangan, antara Kaisar wanita Suhita dengan Bhre

Wirabumi. Perang laut dan perang darat membeludag.

Cetbang yang menurut aturan perang Majapahit hanya

dipergunakan di laut dipergunakan juga di darat oleh dua

belah pihak. Armada dua belah pihak bertenggelaman di

perairan Bali, Lombok dan Nusa Tenggara. Lumajang,

ibukota Blambangan, jatuh. Majapahit jatuh miskin,

kehilangan kekuatan lautnya. Bahkan anak dari Bapak

Angkatan laut Majapahit, Mpu Nala ke 2, tenggelam dalam

perang laut di tentang Singaraja.

Di Tumasik terjadi persekutuan, antara Mirsa Hisyam

Syu’bah dengan Bhre Paramesywara. Mereka bersepakat

mendirikan bandar sendiri di atas Tumasik, dan dengan

demikian meruntuhkan bandar besar itu, untuk

menjatuhkan Majapahit dari utara. Perang saudara

menyebabkan Bhre Paramesywara dan Mirsa berhasil

membuka bandar Malaka pada 1402 Masehi, marak jadi

raja, dan menjatuhkan arti Tumasik sebagai bandar antarbenua. Dengan berdirinya Malaka berarti hancumya Majapahit dari sebelah utara. Mirsa Hisyam Syu’bah diangkat

sebagai penasihat dan Syahbandar sekaligus. Kakaknya ini

yang menganjurkan padanya untuk lebih bersekutu dengan

pedagang-pedagang Islam, dan untuk itu harus sendiri

masuk Islam. Kakeknya ini juga yang mengislamkannya,

dan sejak itu Bhre Paramesywara mengubah namanya jadi

Maulana Ishak, dan sebagai raja Islam bergelar Megat

Iskandarsyah.

Rangga Iskak hafal benar bagian itu. Sekarang Malaka

jatuh setelah 109 tahun berdiri dari kesultanan. Ia tahu arti

kejatuhannya di tangan Peranggi. Semua bandar besar dan

kecil di Jawa terancam. Terancam pula penghidupannya.

Tetapi kedatangan orang yang mengaku dirinya Sayid

Habibullah Almasawa lebih berbahaya lagi daripada 

jatuhnya Malaka. Dari resam tubuh dan mukanya ia

sekaligus menduga, ia tidak lain dari Syahbandar Malaka,

yang telah menjatuhkan abangnya. Kelakuannya dalam

kadipaten Tuban seperti kelakuannya di kesultanan Malaka

sejauh ia dengar dari Zakad, saudagar Gujarat itu: tingkah

dan lagaknya seperti raja muda Malaka.

Ia sudah berkali-kali memperingatkan Sang Patih akan

bahaya yang mungkin timbul karena orang Moro itu. Sang

Patih tak dapat berbuat sesuatu. Di waktu belakangan

setelah jatuhnya Malaka Sang Adipati suka mengambil

tindakan sendiri tanpa sepengetahuannya, dan tak

memberitakan sesuatu padanya. Ia sendiri pusing dengan

banyaknya perintah yang datang susul-menyusul. Bahkan

perintah penggalangan kapal-kapal baru dan pemborongan

seluruh rempah-rempah Maluku, kalau perlu dengan

kekuatan senjata, telah membikin Sang Patih kehabisan

tenaga. Maka segala persembahan Syahbandar Tuban tak

mampu menarik perhatiannya.

Kemudian datang hari yang menutup segala

kegelisahannya. Seseorang mempersilakannya pulang dari

pelabuhan. Kesyahbandaran telah penuh dengan prajurit

yang mengeluarkan semua perabot rumahtangganya,

menaikkannya ke atas grobak-grobak dan membawanya

entah ke mana. Ia lari mendapatkan peratus yang

memimpin pasukan itu.

“Tuan Syahbandar harus pindah pada hari ini juga,”

jawabnya pendek. “Atas perintah Sang Adipati.”

Peratus itu tak dapat diajaknya bicara lagi.

Didapatinya keempat-empat istrinya sedang

menggerombol di dapur. Mereka semua tak tahu apa harus

diperbuat. 

“Baik. Benahi barang-barang kalian,” perintahnya pada

mereka.

“Kita tak tahu apa sedang terjadi.”

Ia lari dan menghadap Sang Patih. Juga yang dihadap

tidak mengerti.

“Titah Sang Adipati tak bisa dihalangi,” jawab Sang

Patih.

“Tapi gedung itu adalah gedung patik!”

“Gedung Tuan?”

“Patik yang membangunkannya.”

“Semua atas biaya bandar Tuban.” jawab Sang Patih.

“Tapi perencanaan….”

“Sampai batu terakhir, kawula Tuban yang

mengambilkan, Tuan Syahbandar. Genteng terakhir yang

didatangkan dari Tiongkok itu pun bandar Tuban yang

membiayai. Takkan ada barang Tuan yang bakal terambil

percuma.”

Syahbandar Tuban masih mencoba memprotes.

“Kalau Tuan tidak mematuhi titah Sang Adipati, Tuan

boleh tinggalkan Tuban sekarang juga.”

Syahbandar mohon diri dan pulang ke kesyahbandaran.

Dengan kemarahan luarbiasa ia iringkan gerobak-gerobak

itu mengangkuti barangnya menuju ke bedeng asrama

peserta pertandingan yang baru lalu. Ia kalah. Istri-istrinya

segera membersih-bersihkan gedung. Ia sendiri minta pada

peratus agar pagar kayu tinggi yang mengelilingi gedung

dapat diambil juga. Dan peratus itu sama sekali tak

memberinya jawaban. 

Ia tahu dengan kosongnya kesyahbandaran, Sayid

Habibullah Alamasawa akan memasukinya dan

menggantinya jadi Syahbandar Tuban. Ingat akan itu tak

bisa lain kemarahannya tertuju pada Yakub si pewarung

tuak dan tiu-arak. Dia telah membohonginya uangnya yang

satu dinar. Dan ia tak pernah menampakkan diri dalam

semmggu terakhir ini. Anak keparat itu.

Biarpun gedung besar itu hampir-hampir kosong dari

perabotan, Tholib Sungkar Az-Zubaid alias Sayid Mahmud

Al-Badaiwi alias Sayid Habibullah Almasawa sudah merasa

puas dengan jabatan barunya sebagai Syahbandar baru

Tuban. Seluruh kekuasaan atas bandar, bea keluar-masuk.

pajak pasar pelabuhan, semua jatuh ke tangannya.

Dengan kepergian Rangga Iskak gedung kesyahbandaran

itu kini nampak ramah. Pintu depannya kini selalu terbuka

dan melelakan kehampaan di dalam gedung. Namun ia tak

merasa hina atau miskin karenanya. Taman indah di depan

rumah itu saja telah menipakan kekayaan warisan yang

tiada tertandingi di seluruh Tuban.

Ia isi kekosongan rumah di waktu malam dengan

membacai buku-buku cerita dari Portugis dan Spanyol, atau

membacai kitab-kitab Arab peninggalan kebudayaan Junani

Purba-Arab di Cordoya. Setiap ia tertumbuk pada kaum

Sephardi, kaum Jahudi, Spanyol-Portugis, ia tak teruskan

bacaannya dan berpindah pada buku lainnya.

Hanya saja ia merasa sunyi dalam gedung besar ini di

waktu malam, karena semua pembantu harus pulang di

malam hari sesuai dengan ketentuan.

Keadaan mendadak berobah: pengantin baru GalengIdayu datang ke kesyahbandaran untuk tinggal bersama

dengannya. Mereka menempati sebuah kamar di gandok

kiri kesyahbandaran, pavilyun untuk tamu-tamu Islam. 

la sambut kedatangan mereka, menunjukkan tempat

tinggal mereka. Ia lihat sejoli itu ragu-ragu memasuki

kamarnya yang baru. Ia dengar mereka bicara satu-samalain dalam Jawa, dan ia tidak mengerti. Dan ia lihat Idayu

jauh lebih cantik di dekat mata daripada dari kejauhan.

Kulitnya yang langsat kecoklatan memancarkan seri ramah

dan mengundang, halus dan lembut. Dan di balik kulit itu

tersembunyi otot-otot padat seorang gadis petani yang biasa

kerja.

Setelah menunjukkan tempat mereka ia pergi kembali ke

gedung utama.

Idayu mengetoki dinding, kemudian terpakukan pada

tanah, hanya matanya melihat ke mana-mana.

“Mengapa, Dayu?”

“Batu, Kang, semua batu,” bisiknya, takut terdengar oleh

orang lain, “seperti candi. Dingin. Mengerikan.”

Galeng menirunya mengetuki semua dinding.

“Semua batu, Dayu,” ia jatuh terduduk di ambin, juga

matanya mengembara ke seluruh batu yang dingin itu,

putih dan bisu.

“Kotak batu semacam ini, Kang, hanya baik untuk….”

Syahbandar baru masuk tanpa beruluk salam. Bertanya

dalam melayu: “Apa katamu, Idayu?”

Idayu melompat mendekati suaminya dan berlindung di

balik gumpaian otot yang kuat itu.

“Apa kata istrimu?” tanyanya pada juara gulat itu.

“Pergi kau ke dapur, Dayu” perintah Galeng pada

istrinya. 

Di dapur wanita itu menemukan seorang pembantu.

Dilupakannya prasangkanya terhadap tempat tinggalnya

yang baru dan segera kemudian mulai bekerja sebagai ibu

rumah tangga sebagaimana biasa ia lakukan di Awis

Krambil.

Tholib Sungkar Az-Zubaid merasa kecewa melihat

wanita pujaan Tuban itu pergi menghindarinya. Ia

perlihatkan keramahan dengan membantu Galeng

mengatur barang-barangnya – semua sumbangan dari

penduduk Tuban Kota.

Orang jangkung agak bongkok, berhidung bengkung,

muka penuh dengan kumis, jenggot, cambang-bauk dan alis

itu, tak henti-hentinya bicara dalam Melayu. Galeng tak

mengerti, kecuali beberapa patah kata. Dan syahbandar

baru itu tertawa-tawa senang melihat Galeng tidak mengerti

dan mengawasinya dengan waspada. Ia hampiri jago gulat

muda bertubuh perkasa itu dan menepuk-nepuk pada

lengannya. Berkata: “Aku undang kalian. Datanglah nanti

malam ke tempatku.”

Juara gulat itu menggeleng tak mengerti. Syahbandar

mengulangi kata-katanya dan membantunya dengan gerakgerak tangan yang ramai. Juara itu mengangguk mengerti.

Tholib Sungkar Az-Zubaid mengangguk-angguk senang,

kemudian pergi.

Kamar tamu gedung utama kesyahbandaran itu kini diisi

hanya dengan bangku-bangku kayu dan meja sederhana.

Mereka bertiga duduk mengepung meja.

Tholib Sungkar Az-Zubaid tak henti-hentinya bicara.

Suami-istri, pengantin baru itu, duduk diam-diam, kikuk,

dan untuk pertama kali bergaul dengan orang asing. Galeng

terus-menerus mengawasi Syahbandar, memperhatikan 

gerak-gerik dan mendengarkan setiap patah kata yang

diucapkannya. Idayu sebaliknya terus-menerus menunduk.

“Berkah pengantin baru! Berkah untuk kalian berdua!”

tuan rumah membuka percakapan, “maafkan aku terlambat

menjamu kalian. Uah…,” alis Syahbandar baru itu

terangkat naik, kemudian cepat turun lagi, “… pengantin

masyhur. Wanitanya penari ulung, cantik-jelita tiada

tandingan di seluruh Tuban Kota dan Tuban negeri.

Prianya gagah-perkasa, tiada cecat barang secuwil,”

katanya cepat pula.

Dengan bahasa Jawa sebagaimana diajarkan di

perguruan dan asrama Galeng berkata: “Sahaya tidak

mengerti, Tuan Syahbandar.”

“Jangan bicara Jawa,” tuan rumah melarang, “ayoh,

mulai sekarang pergunakan Melayu,” sekarang ia ucapkan

sepatah sepatah. “Melayu! Bukankah kau sekarang

pembantu-utamaku?”

Juara gulat itu mengangguk mengiakan. “Melayu!

Melayu! Mulai bicara Melayu!” Dan bila Idayu mencuri

pandang dari bawah keningnya pada Syahbandar, ia tak

dapat sembunyikan keheranannya melihat hidung

sepanjang itu dan bengkung dan tipis. Seakan muka itu

diadakan hanya untuk dapat ditenggeri oleh hidung raksasa.

Kalau dia diberi bersayap. pikimya selintas sambil

tersenyum, sungguh, orang akan menyangkanya seekor nuri

ajaib. Dan matanya yang bulat besar di bawah alis tebal itu

seakan mentah-mentah dipindahkan dari muka area

lempung yang sering dibuat oleh bocah-bocah penggembala

bila menggambarkan dedemit atau gandaran.

Galeng, yang juga terpesona oleh hidung bengkung itu,

lain lagi pikirannya. Yang terbayang olehnya adalah

seorang raksasa. Dan tingkah-laku Syahbandar di depannya 

itu, suara dan gerak-geriknya, adalah tepat seluruhnya

sebagaimana digambarkan oleh nenek-moyangnya dengan

raksasa di dalam wayang. Hanya raksasa yang seorang ini

kurus, sedikit bongkok, mungkin dikandungkan dan

dilahirkan di miisim paceklik.

Tanpa mengindahkan adakah tamu-tamunya mengerti

atau tidak, Tholib Sungkar Az-Zubaid meneruskan kata

demi kata: ”Aku akan jamu kalian dengan janiuan haibat.

Pasti kalian belum pernah merasakan. Ambil air panas

mendidih dan cawan-cawan dan pengaduk, kau, Idayu, dan

gula,” dan tangannya bergerak-gerak menggambarkan apaapa yang dipintanya.

Ia sendiri kemudian masuk ke dalam kamar dan tak lama

kemudian keluar lagi membawa sesuatu di tangannya.

Begitu Idayu datang membawa barang-barang yang

dipintanya, ia meneruskan: “Jamuan haibat,” ia

mengulangi sambil memasukkan tepung hitam dan gula di

dalam cawan-cawan itu. “Nah!” ia menggosok-gosok

tangan kemudian bertepuk, “sekarang tuangi cawan-cawan

itu dengan air panas, Idayu! Hati-hati, jangan sampai

turnpah.”

Ia mulai mengaduknya, cawan demi cawan.

Galeng memperhatikan mata Syahbandar yang antara

sebentar mengingatkannya pada istrinya. Dan muka

Syahbandar itu mendadak mengingatkannya pada muka

hewan yang baru keluar dari lobang arang, karena muka itu

dihitami oleh rambut.

“Inilah minuman raja-raja jauh di atas Atas Angin sana.

Ingat-ingat, nama minuman ini: kahwa! jangan lupa. Ayoh,

Galeng, Idayu! minum!” 

Sekejap mata Tholib Sungkar Az-Zubaid menelan wajah

Idayu yang sedang melihat padanya.

“Kahwa, Idayu!” suaranya merendah lunak dan

memikat. “Hanya raja dan ratu Ispanya mampu dua kali

meminumnya dalam sehari. Raja dan ratu Peranggi tiga

kali. Semua membelinya dari pedagang Arab. Dan

pedagang-pedagang itu menjadi kaya-raya karena tepung

hitam ini. Raja Peranggi tiga kali sehari. Ingat-ingat itu.

Betapa hebat Peranggi itu. Tak ada yang bisa tahu. Dia

datang hanya untuk menang, di negeri mana pun. Jangan

main-main dengan Peranggi. Ingat-ingat itu, jangan mainmain. Ayoh minum!”

Di dalam kamar tinggalnya yang baru Galeng

menghampiri pelita satu sumbu dan membersihkannya dari

kerak. Nyala itu membesar.

Idayu bertiduran di ambin kayu. Karena pengaruh kopi

kedua-duanya tak bisa tidur sampai lewat tengah malam.

“Minuman setan!” dengus juara gulat itu. Ia rasai

jantungnya berdebaran kencang.

“Tak perlu kita minum lagi, Kang.”

Galeng hendak menyumpah. Tak jadi. Ada terdengar

olehnya suara yang mencurigakan. Ia melompat keluar

kamar. Dalam kegelapan ia masih dapat melihat bayangan

seseorang melarikan diri. la lalu memburunya. Bayangan

itu hilang entah ke mana. Ia kehilangan arah.

Dikelilinginya seluruh kesyahbandaran. Tiada sesuatu ia

tcmukan. Ia periksa gandok kanan, juga kiri. Sunyi-senyap

tiada sesuatu. la pulang kembali. Duduk diam-diam di

serambi kamar. Juga tiada sesuatu pun terjadi.

Waktu masuk ke dalam didapatinya Idayu telah tertidur

dalam kedamaian. 

Dalam beberapa hari menjabat pembantu-utama

Syahbandar dengan gelar jabatan Wira, ia segera dikenal

penduduk Tuban Kota sebagai Wira Galeng. Tetapi lamakelamaan tumbuh sisipan dengan antara nama jabatan dan

nama sendiri dan dipanggillah ia Wiranggaleng,

Syahbandarmuda.

Baik di pelabuhan atau di jalanan ia mendapat

penghormatan dari semua orang. Bukan sekedar karena ia

seorang punggawa lebih lagi sebagai seorang yang populer,

seorang juara gulat dan suami Idayu: pujaan Tuban.

Dan bila orang lewat di depan kesyahbandaran, orang

memerlukan menengok untuk dapat melihat tuan

Syahbandar-muda atau istrinya.

Perobahan dari petani desa perbatasan menjadi

punggawa di ibukota negeri memang membingungkan dan

membikin ia jadi kikuk. la sendiri belli in tahu setepatnya

apa saja harus ia kerjakan. Penghormatan orang yang

berlebih-lebihan membikin ia sering ragu-ragu, sedang

kekualiran akan jatuhnya hukuman tiba-tiba dari Sang

Adipati selalu membikin ia terlalu hati-hati. Sedang

bayangan yang melarikan diri di malam pertama itu tak

juga pernah hilang dari kewaspadaannya.

Idayu tak kurang-kurang gelisah. Rumah batu itu sendin

telah merampas kedamaian hatinya. Tak ada orang yang

hidup di dalam rumah batu kecuali tuan Syahbandar.

Sekarang keharusan mengenakan kemban membikin

tubuhnya serasa terupam dalam tungku. Belum lagi angin

pantai yang tak henti-hentinya dan deburan ombak yang

memeningkan. Ia merindukan kehidupan bebas-merdeka di

desa. Di kota ia merasa terjerat-jerat oleh terlalu banyak

aturan. Dan ia segan menyampaikan perasaan hatinya pada

suaminya, yang toh takkan dapat berbuat sesuatu. 

Biar belum mendapatkan ketenangan dalam

penghidupannya yang baru Galeng dapat mengikuti dengan

cermat adanya perobahan penting dalam kehidupan di

ibukota. Pergeseran jabatan sedang terjadi di mana-mana.

Dan semua itu, menurut penilaiannya, adalah untuk

memudahkan tuan Syahbandar baru menjalankan

kewajibannya.

Juga Galeng tahu, bekas Syahbandar Tuban, Rangga

Iskak, telah pindah ke bekas asrama dan tak juga

mendapatkan jabatan negeri yang patut. Orang menduga ia

akan diangkat jadi penghulu negeri, tetapi Sang Adipati tak

juga melantiknya. Dan telah diketahui oleh seluruh Tuban

Kota, Rangga Iskak tidak suka pada pekerjaan baru apa

pun. Dan pekerjaan yang terbaru adalah mengajar anakanak pembesar membaca Alqur’an bahasa dan tulisan Arab.

Dua tiga kali Wiranggaleng pernah berpapasan dengan

Rangga Iskak sedang berjalan-jalan dengan tongkat diayunayunkan seakan sedang menunggu datangnya kepala untuk

dapat dikemplangnya. Dan orang itu tak pernah

menampakkan diri di wilayah pelabuhan.

Wiranggaleng membenarkan bisik-desus orang bekas

Syahbandar itu tak pernah kelihatan tenang bila sedang

berjalan-jalan. Matanya selalu gelisah mencari-cari

seseorang yang tak pernah didapatkannya. Dan memang ia

selalu mencari-cari Yakub. Tetapi pewarung itu selalu

menjauhkan diri tak ingin melihatnya.

Di samping pekerjaannya sebagai pembantu-utama

Syahbandar juara gulat itu harus pula mengawasi galangangalangan kapal di bandar Glondong, sebuah pelabuhan lain

lagi di negeri Tuban. Dan untuk itu ia mendapat seekor

kuda jantan, muda berwarna putih kelabu. 

Setelah barang tiga minggu bekerja ia mendengar berita:

Rangga Iskak telah mengajukan permohonan berhenti dari

jabatannya yang tidak menentu sebagai pengajar agama.

Kemudian terdengar juga berita, ia telah menghadap Sang

Adipati dan memohon ganti kerugian untuk jabatannya dan

untuk gedung kesyahbandaran yang ditinggalkannya. Sang

Adipati, kata orang, tak senang pada kecerewetannya.

Berita yang didengamya kemudian: beberapa hari

berturut-turut Sang Adipati telah pergi berburu. Pertanda

ada soal-soal pelik sedang mengganggu pikirannya. Malah

pernah ia dengan tak sengaja telah mendengar seseorang

berkata pada temannya: tentulah untuk melupakan Idayu.

Kemudian terjadi perobahan suasana di kesyahbandaran:

Siang itu Tholib Sungkar Az-Zubaid dipanggil menghadap

oleh Sang Adipati. Pada sore harinya ia datang dengan

wajah muram. Di belakangnya, sekira sepuluh depa,

mengikuti seorang wanita sambil mengunyah sirih. Di

belakang wanita itu seorang lelaki memikul beberapa

bungkusan mengikuti.

Suami istri itu tak mengenal pendatang wanita itu. Oleh

Tholib Sungkar Az-Zubaid ia ditempatkan di dalam gedung

utama. Setelah itu Syahbandar pergi lagi dengan muka

cemberut. Dan pemikul itu pun pergi lagi dengan tangan

hampa.

Mungkin karena kesepian di dalam gedung utama wanita

itu keluar dari kamar, masuk ke dapur. Dan di sana ia

bertemu dengan Idayu yang sedang menyiapkan makan

malam.

“Kaukah itu, Idayu?” tegumya dengan lagu dan bahasa

kadipaten.

“Inilah saya: Ibu, sedang masak. Siapakah Ibu?” 

“Aku sudah tahu kau tinggal di sini, Nak. Senangkah

kau jadi istri Syahbandar-muda?” ia tersenyum ramah dan

nampak kilau giginya yang hitam kelam. Pandangnya

membelai Idayu dengan persahabatan.

“Apakah senangnya tinggal di sini, Ibu? Saya lebih suka

tinggal di desa sendiri. Ada apa di sini? Hanya desau angin

dan deburan laut,” ia bicara sambil terus bekerja.

“Mari kita masak bersama-sama,” katanya lagi tanpa

mengindahkan protes mulai ikut bekerja. “Makan seperti ini

jugakah tuan Syahbandar?”

“Bukan begitu, Ibu. Sahaya hanya bisa masak begini

rupa. Ibu ini siapa….?

“Aku, Nak? Aku istri tuan Syahbandar.”

“Oh-ah, Di mana Ibu dulu tinggal?”

“Di dalam kadipaten, Idayu. Kau tak pernah melihat aku

waktu tinggal di sana. Tapi aku sudah pernah melihat kau.”

Hari pertama yang dimulai dengan keakraban dan

persahabatan itu dilanjutkan dengan saling mempercayai

dan jadilah mereka berdua laksana ibu dan anak sendiri.

Istri Syahbandar Tuban itu tak lain daripada Nyi Gede

Kati, bekas pengurus keputrian Kadipaten.

Dari wanita itu Idayu mengetahui, ia pernah dipanggil

menghadap oleh Sang Adipati di serambi belakang Yang

pertama kali tentang surat, yang kedua… ia duduk

bersimpuh, kemudian datang menghadap juga tuan

Syahbandar.

Tholib Sungkar Az-Zubaid berdiri di belakang Nyi Gede.

“Tuan Sayid Habibullah Almasawa,!” Sang Adipati

berkata, “inilah Nyi Gede Kati, pengurus keputrian, wanita

Tuban pertama-tama yang Tuan kenal.” 

Terdengar dari belakang Nyi Gede, Sayid Habib

Almasawa menjawab gopoh-gapah: “Ampun, Gusti, patik

belum pernah mengenalnya, melihatnya pun belum!”

“Kalau begitu,” kata Sang Adipati lagi, “lihatlah baikbaik. Mungkin sudah agak lupa!”

Terdengar olehnya Syahbandar baru Tuban itu

membantah.

“Ampun, Gusti, betul, demi Rasul, tiada pernah patik

melihat perempuan ini.”

“Baik,” kata Sang Adipati, “dan kau, Nyi Gede, telah

kau serahkan hidup dan matimu pada kami. Maka

dengarkan, Tuan Syahbandar Sayid Habibullah Almasawa,

ambillah perempuan ini dengan baik-baik sebagai istri Tuan

yang baik-baik pula, untuk melayani Tuan dalam hidup

Tuan di Tuban. Dan kau, Nyi Gede, kemasi semua

barangmu dan ikuti suamimu. Tinggallah kau betsama

dengannya di gedung kesyahbandaran. Adipati Tuban

menitahkan. Laksanakan pada hari ini juga dan

berangkatlah kalian sebagai suami istri.”

Kedatangan Nyi Gede di gedung kesyahbandaran

mengurangi kerinduan Idayu pada orang tua dan Awis

Krambil. Apa lagi sikap wanita itu terhadap Galeng adalah

juga seperti terhadap anak sendiri, dan juara gulat itu pun

segera menyayanginya. Sebaliknya Syahbandar selalu

bersungut-sungut dalam bahasa apa orang tak tahu. Dalam

berbagai bahasa yang dikenalnya sebenarnya ia hanya

mengulang kalimat: Mengapa perempuan bergigi hitam

diberikan padaku, bukan yang satu itu? Dan bukan itu saja,

Syahbandar itu kini jadi agak pendiam dan sering

bermenung. Ada satu masalah pelik sedang mengganjal

dalam otaknya seperti batu krikil bergigi: Mengapa Nyi

Gede Kati dihadiahkan padanya sebagai istri yang harus 

dikawininya di mesjid? Apakah benar wanita itu Nyi Gede

Kati? Ia tak pernah melihatnya sebelumnya.

Apakah Sang Adipati tahu tentang diri dan perbuatannya

menghubungi haremnya? Tak ada seorang pun di seluruh

Tuban dapat diajaknya bicara. Kalau toh ada, itu justru

hanya Nyi Gede sendiri.

Setelah Syahbandar menemukan jalan segera

ditempuhnya.

Dalam bilik waktu itu. Hari telah larut malam. Dua buah

lilin menyala menerangi ruangan. Ia bangunkan Nyi Gede.

Di luar kamar tidur Galeng sedang mengintip mereka.

Pelnn, hati-hati, “adakah kau bcnar Nyi Gede Kati

pengurus keputrian?”

“Inilah sahaya, Tuan Syahbandar,” jawab Nyi Gede juga

dalam Melayu.

“Kalau begitu siapakah selir kesayangan Sang Adipati?”

ia menguji.

“Siapa? Tidak tahulah sahaya sekarang ini. Tadinya

sebelum…. tadinya Nyi Ayu Sekar Pinjung.”

“Mengapa tadinya?”

“Ya, Tuan, apalah guna mengetahui soal keputrian?”

“Bukankah aku suamimu? dan engkau harus menjawab!”

“Ya, Tuan, Sekar Pinjung terkena salah. Dia telah

menerima surat dari luar, dari orang yang sahaya tidak

tahu.”

“Jadi dikeluarkan dari keputrian?” Syah Syahbandar

memberikan ujiannya.

“Tidak, Tuan. Dia tetap di dalam keputrian, tetap

mendapat apa yang jadi haknya. Hanya untuk seumur 

hidup dia takkan lagi dikunjungi oleh Sang Adipati. Juga

takkan dapat keluar dari keputrian, sebagai hukuman.”

“Semoga Allah menurunkan dalam hati dia yang

teraniaya tanpa dosa kesabaran yang tak terhingga,”

Syahbandar berdoa. Kemudian: “Katakanlah: Amien”.

“Amien, Tuan.”

“Amien saja, tanpa kau sebut-sebut tuan, karena amien

itu untuk Allah, bukan untuk tuan Syahbandar.”

“Amien.”

Tholib Sungkar Az-Zubaid masih belum dapat

diyakinkan.

“Nyi Gede Kati, perlihatkanlah sekarang padaku barangbarang berharga yang jadi milikmu. Ingin aku melihat

bagaimana dan macam apa perhiasan perempuan Jawa,”

katanya dengan suara lebih keras dari semula.

Dengan luwesnya Nyi Gede Kati memperagakan

tubuhnya yang berisi dan dengan gerak tangan indah

menuding pada perhiasan yang dikenakan pada tubuhnya:

subang cepuk besar yang menyebabkan lobang pada godoh

menjadi besar dan godoh itu sendiri turun panjang ke

bawah, gelang, kalung, cincin dan cundrik langsing

bersarung mas berukir.

Tholib Sungkar Az-Zubaid alias Sayid Mahmud AlBadaiwi, alias Sayid Habibullah Almasawa mengawasi dan

memperhatikan benda-benda itu sebuah demi sebuah.

“Bagus, bagus sekali,” ia mengangguk memuji, “tak

kalah garapannya dari pandai emas di negeri mana pun,” ia

berhenti dan mengelus dada. “Tentu bukan hanya ini

milikmu;” 

“Tentu, Tuan, masih ada pada sahaya. Biar sahaya

ambilkan.”

Tak lama kemudian terjajar barang-barang berharga

milik pribadi Nyi Gede Kati. Di antaranya seutas kalung

sebentuk cincin dan gelang bertatahkan zamrud dan

mutiara. Jelas bukan bikinan dan tidak bermotit Jawa. Dan

dua buah real mas Portugis.

Mata Syahbandar bersinar-sinar. Ia tegakkan

bongkoknya dan bertepuk tangan, kemudian menggeserkan

tarbus ke belakang. Didekatinya barang yang berjajar di atas

ketiduran. dan: “Gelang, cincin dari kalung ini jelas

seperangkat. Semua dibikin oleh pandai yang sama,

dipermatai dengan keserasian hijau putih. Hanya putri-putri

negeri Tiongkok menggunakan keserasian ini.”

“Hadiah para selir dan karunia Sang Adipati sendiri.”

Nyi Gede menerangkan dengan nada bangga. “Yang

menarik hati, Tuan, itu adalah hadiah dari seorang tuan

yang sahaya tidak kenal.” Ia melirik pada suaminya.

“Bagaimana duduk perkaranya maka kau tak

mengenalnya?”

” Ya, Tuan, tahu-tahu sudah ada di bawah pintu sahaya

beserta sepucuk surat. Sahaya tak pernah tahu dari siapa.”

“Adakah kau balas surat itu?”

“Kami orang Jawa selamanya membalas surat, senang

atau tidak pada isinya, karena demikian diajarkan pada

kami di perguruan kami.”

Tholib Sungkar Az-Zubaid tertawa senang dan lega.

Kemudian: “Bagaimana kau membalas surat pada pengirim

tak dikenal itu, Nyi Gede?” 

“Sahaya letakkan di bawah pintu itu juga surat balasan

sahaya Tuan, setiap malam, sampai datang masanya surat

itu tiada.”

Sekali lagi Syahbandar tertawa, lebih keras, mendering

menembusi udara malam, keluar rumah.

“Kalau begitu kau tahu benar ada orang tak dikenal suka

masuk ke dalam keputrian. Siapa dia kiranya, Nyi Gede?”

“Dia datang pada waktu sahaya terlena, Tuan. Sahaya

tiada berkemampuan berjaga sepanjang hidup.”

Sekarang sesuatu membersit di dalam pikiran Tholib

Sungkar Az-Zubaid: ia telah temukan kunci harem, la

tersenyum puas. Dan perhiasan-perhiasan bertatahkan

zamrut dan mutiara yang telah berada di tangannya itu

belum juga diletakkannya, ditimangnya sejenak, kemudian:

“Kau istriku, bukan, Nyi Gede? Istriku yang syah.”

“Sahaya, Tuan.”

“Kukawini kau di mesjid.”

“Sahaya, Tuan.”

“Gusarkah kiranya kau bila barang-barang yang

kukagumi ini dan juga dua real Peranggi ini aku simpan

sendiri agar selamat dan aman?”

“Silakan, Tuan, kalau itu yang jadi kehendak Tuan.

Ambil barang sahaya, bahkan badan sahaya sendiri ini,

adalah milik Tuan Syahbandar Tuban.”

Sekali lagi Tholib Sungkar Az-Zubaid tertawa puas.

Sambil memasukkan barang-barang tersebut ke dalam sakudalam jubahnya ia bertanya bermain-main dan mencubit

pipi istrinya: “Semua jadi milikku. Tapi milik siapa

jiwamu?”

“Gusti Adipati, Tuan.” 

“Husy, jangan sekali lagi bilang begitu. Jiwa hanya milik

Allah.”

Nyi Gede tak menjawab. Ia tidak menggeleng, tidak pula

mengangguk.

“Dengar, Nyi Gede, mulai besok buanglah kebiasaan

menggimakan jahawe. Aku lebih suka melihat gigimu putih

daripada hitam, seperti gigi iblis, seperti gigi perempuan

kafir perbegu Benggala.”

“Baik, Tuan.”

Tholib Sungkar Az-Zubaid meninggalkan kamar untuk

menyembunyikan benda-benda yang bisa jadi bukti

terhadap perbuatannya. Pergilah ia dan turunlah

Wiranggaleng dari tempat pengintaiannya. Syahbandar

muda itu duduk dalam kegelapan di bawah sebatang pohon

menunggu kalau-kalau Syahbandar Tuban keluar dari

rumah. Dugaannya tidak keliru.

Sosok tubuh jangkung sedikit bengkok berjubah gelap itu

keluar dari rumah dengan mengayun-ayunkan tongkat. Ia

mengikutinya dari sesuatu jarak. Yang diikuti ternyata

menuju ke warung Yakub, mengetuk pintu dan memasuki

ruangan warung yang diterangi dengan sebuah pelita

minyak kelapa dari satu sumbu.

Ia dengarkan mereka bercakap dalam bahasa asing yang

ia tidak mengerti. Dalam sinar taram-temaram ia lihat

Tholib Sungkar Az-Zubaid menyerahkan barang-barang

perhiasan pada Yakub. Kemudian terdengar mereka bicara

dalam Melayu: “Ya Allah, Tuan Syahbandar, Tuan selalu

dilindungi Tuhan. Memang tak pernah ada arak baik di

sini, tapi demi Allah, ada barang secawan yang agak tepat

untuk Tuan.” 

“Selama bukan tuak Pribumi, insya Allah agak tepat

kiranya untukku. Keluarkan, Yakub!”

Yakub mengeluarkan sebuah cawan tembikar dan segera

Syahbandar meneguknya habis dan mengucap syukur.

“Tuan nampak sangat gembira hari ini. Alhamdulillah

Tuan mempercayai si Yakub ini untuk menyimpannya,

Tuan. Percayalah, di Tuban ini tak ada maling seperti di

bandar-bandar lain, tak ada perampok Kalau ada kerusuhan

selamanya soal asmara. Darah penduduk Tuban sudah

panas, dipanaskan lagi oleh tuak setiap hari. Biar begitu

tidak mudah menggelegak selama tidak menyinggung

asmara. Memang tidak baik tuak buat orang Atas Angin.

Lagi araknya, Tuan?”

“Cukup, Yakub.”

“Harganya memang bukan harga tuak, Tuan, tepat harga

arak Di mana pun yang lebih baik lebih mahal harganya,

dan baik atau tidak akhir-akhirnya hanya asal selera. Tak

peduli di Tuban atau di tempat lain.”

Dari tempatnya Wiranggaleng melihat Syahbandar

mengawasi Yakub, barangkali untuk memahami apa yang

dikiaskan oleh pewarung itu. la melihat Yakub menunduk

sambil meneruskan katanya “Betul, juga di sini, Tuan,

bayaran yang baik untuk jasa yang baik tepat seperti di

mana pun, di Lisboa atau Madrid.”

Syahbandar itu nampak tak begitu bersenang hati. Ia

balikkan badan, mungkin untuk menyembunyikan

perubahan pada wajahnya. dan berbalik kembali sudah

dengan senyum pada bibir.

”Rupa-rupanya kau, Yakub, seperti aku juga, petugas

Sang Adipati,” ia berkata mencoba-coba. 

“Ohoi!” Yakub berseru pelan. “Terkejut benar

nampaknya Tuan. Mana bisa Yakub seperti Tuan

Syahbandar? Biar pun hanya peranakan Arab dengan

Benggala, Tuan, belum perlu rasanya si Yakub ini

mengabdi pada seorang raja kecil Pribumi. Kami memang

agak lain dari Tuan rupanya. Di mana ada keuntungan di

sana Tuan ada. Begitu, bukan, Tuan Syahbandar?” ia

tertawa menyelidik.

“Allah melindungi aku dari perbuatan menghina.

Karena, di mana pun langit terbentang, di mana pun bumi

terhampar, di sanalah kebesarannya diciptakan untuk

seluruh umatnya.”

Yakub tertawa-tawa sambil mengusap-usap janggut dan

Tholib Sungkar meneruskan pandang padanya.

“Allah memberkahi orang yang tak mudah marah.

Bukankah sabar juga bagian iman, Tuan Syahbandar? Tuan

Sayid?”

“Aku bayar belanjaku, dan tak ada alasan untuk marah,”

ia lihat Yakub meneruskan pandang padanya.

“Tuan agaknya salah tangkap,” Yakub membetulkan.

“Tak ada yang tidak percaya pada semua kata Tuan. Tuan

selalu bayar belanja Tuan. Dan, Tuan Sayid, kapan pun

Tuan akan bayar belanja Tuan yang jauh lebih mahal untuk

jasa Yakub yang lebih baik dan lebih besar. Percayalah,

Tuan Syahbandar.”

“Manakah di Tuban yang kecil ini ada jasa yang baik apa

lagi besar?”

“Pada Yakub, tuan Sayid, jasa selalu tersedia, besar dan

baik, kecil dan besar, setiap saat, tak peduli siang atau

malam, pagi atau sore.” 

“Tak ada perbuatan tanpa dipikirkan lebih dulu, Yakub.

Tuban menciptakan makhluknya bukan untuk jadi gila.

Assalamualaikum,” dan dengan kata itu ia pun pergi

meninggalkan warung.

Wiranggaleng mengikutinya pulang ke kesyahbandaran.

Ia lihat Tholib Sungkar Az-Zubaid berjalan langsung

menuju ke gandok kiri, menaiki serambi, kemudian

mendengar-dengarkan pada pintu kamar, mencoba

mengintip dari sana dan sini. Karena tak melihat sesuatu

pun di dalam kamar itu ia pergi lagi masuk ke dalam

gedung utama dari pintu tengah.

Tahu lah Wiranggaleng sekarang, tidak lain dari tuan

Syahbandar yang jadi bayangan selama ini. Dan

keluarganyalah sasarannya. 

Novel Arus Balikk Bab 7 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.

Bagaimana alur cerita dari novel Arus Balik Bab 7 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua. 

Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.

Untuk membaca Novel Arus Balik bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 8 Disini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 28 Disini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 26 Disini