Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 6 Disini

Novel Arus Balik bab 6 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Arus Balik menceritakan tentang kisah Kedatangan Portugis di Bumi Nusantara dengan latar awal Abad XVI, yaitu ketika surutnya pengaruh Majapahit dan naiknya pamor Kesultanan Demak.

Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Arus Balikk Bab 6 Bahasa Indonesia Sekarang ini. 

6. Adipati Tuban Arya Tumenggung Wilwatikta

Orang bilang: Sang Adipati Tuban bukan keturunan

orang kebanyakan. Semua orang percaya: ia langsung

berasal dari darah wangsa Majapahit. Dan tak ada orang

yang meragukan. Sang Adipati sendiri bangga pada darah

yang mengalir di dalam tubuhnya. Juga ia merasa aman

karena darah itu sendiri telah menyebabkan ia tak punya

penantang sebagai penguasa atas negeri Tuban.

Pada 1292 Raden Wijaya berhasil mendirikan

Majapahit. Kawan-kawan seperjuangannya, hampir semua

berasal dari rakyat kebanyakan, diangkatnya jadi gubernur

yang berkuasa di kabupaten-kabupaten penting di Jawa

Timur. Ia marak jadi raja pertama Majapahit dengan nama

Kartarajasa. 

Sang Adipati tahu, Sri Baginda Kartarajasa lebih banyak

memberikan kekuasaan pada sahabat-sahabat seperjuangan

yang telah sangat berjasa padanya. Kaum ningrat keluarga

Sri Baginda justru sangat dibatasi kekuasaannya. Baginda

menganggap orang-orang ningrat telah menjadi lemah

karena kemewahan dan penghormatan dan sanjungan yang

berlebihan.

Tetapi, pejabat-pejabat dari orang kebanyakan ini,

demikian pendapat Sri Baginda pendiri wangsa Majapahit

biarpun sudah diangkat jadi gubernur, tetaplah tak punya

jangkauan pandang yang jauh. Kemana pun mereka

tebarkan pandangnya, yang nampak hanya dusunnya

semula. Kesetiaan memang bisa diharapkan dari mereka,

tetapi kebesaran hanya bisa datang dari seorang raja yang

bijaksana.

Juga Sang Adipati Tuban tahu dari guru praja: sejak

masih bernama Raden Wijaya pun Sri Baginda Kartarajasa

telah dijiwai oleh cita-cita besar Sri Baginda Kartanegara

dari Singasari untuk mempersatukan seluruh Nusantara. Ia

sendiri pernah bertugas memimpin ekspedisi militer ke

negara-negara Melayu. Juga pernah ikut memimpin

gerakan mempersatukan Madura, Bali, Sunda, Sukadana,

Pahang dan ikut membangunkan persekutuan militer

dengan Campa. Setelah menjadi raja Majapahit pertama,

Sri Baginda bercita-cita hendak membangunkan kekaisaran

dengan bantuan gubernur-gubernurnya yang setia.

Dari guru praja Adipati Tuban tahu: Sri Baginda

Kartarajasa mempunyai dua jalan untuk mempersatukan

Nusantara. Pertama jalan kecil karena keciilah

kemungkinannya, yakni melalui jalan laut ke Tiongkok –

dan kekaisaran Tiongkok terlalu kukuh dan terlalu kuat

untuk dipengaruhi dan ditembus oleh Majapahit. Yang

kedua adaiah jalan besar, karena besarlah kemungkinannya, 

yakni melalui jalan laut melewati Selat Semenanjung ke

Atas Angin, ke Benggala dan ke negeri-negeri yang tak

terbatas jumlah kerajaan dan kebangsaannya. Untuk dapat

menguasai jalan besar, Selat Semenanjung harus dikuasai.

Dan untuk kepentingan itu pula Sri Baginda Kartarajasa

mengawini putri Melayu bergelar Dara Petak artinya Gadis

Putih. Seorang putra yang lahir dari perkawinan ini, Kala

Gemit, diangkat jadi putra mahkota untuk menjamin

kesetiaan Melayu pada Majapahit dan dengan demikian

menyelamatkan Selat Semenanjung.

Para gubernur bekas teman-teman seperjuangan Sri

Baginda tidak mau mengerti tentang kebijaksanaan ini.

Biarpun permaisuri Gayatri tidak melahirkan seorang putra,

hanya putri, tidak ada satahnya ia diangkat jadi putri

mahkota. Bukankah putri itu, Dewi Tribuwana, cucu Sri

Baginda Sri Kertanegara, yang lebih berhak? Bukankah

Tribuwana sendiri sudah melambangkan bersatunya tiga

benua: Nusantara, Atas Angin dan Wulungga? Mereka

tidak rela kalau Majapahit, hasil jerih-payah mereka, harus

jatuh ke tangan keturunan Melayu, hanya untuk dapat

mempertahankan Selat Semenanjung.

Percekeokan dan pertengkaran terjadi. Tidak makin reda,

tapi semangat menjadi-jadi.

Gubernur-gubernur berasal dari orang kebanyakan itu,

kata guru praja pada Sang Adipati semasa masih kanakkanak, tidak mengerti sesuatu yang besar, yang

dipertaruhkan dalam pengangkatan Kala Gemit jadi putra

mahkota. Memang pandangan mereka hanya seluas

desanya sendiri. Gubernur Tuban, Ranggalawe, yang paling

keras menentang, ditindak dengan ekspedisi militer oleh Sri

Baginda. Ia melawan dengan gagah-berani, tetapi sia-sia.

Pengganti Ranggalawe itulah moyang Sang Adipati. 

Sang Adipati Tuban Arya Teja, karena kebijaksanaan

dan kecerdikannya, dalam usia sangat muda telah diangkat

jadi Patih Majapahit, waktu itu Majapahit telah lemah

sehabis perang-saudara Peregreg, dan Sri Baginda

Brawijaya lebih lama lagi, raga dan jiwanya, Sang Patih

Majapahit Arya Teja tak melihat adanya jalan terbuka

untuk membangunkan kembali Majapahit Raya. Ia patah

semangat, perhatiannya kemudian ia tumpahkan pada

wilayahnya sendiri berdasarkan darmaraja, yakni negeri

Tuban. Tetapi Tuban tak bisa menjadi besar dan berdikari

selama Majapahit yang sakit-sakitan itu masih ada. Ia mulai

bersekongkol dengan pedagang-pedagang Islam. Ialah yang

memberikan ijin pada Syekh Maulana Malik Ibrahim untuk

memberikan perkampungan dan pengajaran Islam di

pelabuhan utara Majapahit, Gresik. Ialah yang membentuk

persekutuan dengan gubernur-gubernur pelabuhan untuk

semakin mengeratkan hubungan dengan saudara-saudara

Islam sambil sedikit demi sedikit menunggangi Majapahit.

Majapahit telah lama runtuh. Tetapi Adipati Tuban tak

mampu melepaskan diri dari bentuk tatap raja Majapahit. Ia

pun bagi-bagikan jabatan-jabatan penting pada orang-orang

kebanyakan yang telah berjasa, sangat berjasa. Hanya Sang

Patih, saudara sepupu anak seorang paman tuanya, yang

berasal dari darah raja-raja. Semua kepala pasukan Tuban

adalah orang-orang kebanyakan. Tak seorang pun di antara

mere ka punya gelar, kecuali gelar ketentaraan.

Dan sekarang, bahwa ia mengangkat Idayu dan Galeng

pada kehormatan sedemikian tinggi, adalah juga karena

tradisi Majapahit. Ia merasa bangga dan puas telah dapat

lakukan itu, sekali pun ia tak sepenuhnya rela di dalam hati.

Sebagaimana halnya dengan leluhurnya, ia tak pernahmenggunakan tahyul sebagai pegangan. Ia dasarkan

tindakan-tindakannya praja pada perhitungan tentang 

kemungkinan yang lebih baik. Maka begitu orang bersoraksorai di alun-alun dan membenarkan Idayu, seketika itu

juga ia harus dapat mengubah pikirannya: melepaskan

impian sendiri tentang tubuh jelita dari gadis perbatasan

bernama Idayu dan serta-merta berpihak pada sorak-sorai

itu.

Dan ia tahu, peristiwa Idayu-Galeng tak boleh berhenti

sampai di situ saja. Mereka dapat dipergunakan untuk

memelihara kesetiaan kawula Tuban kepadanya. Maka

Galeng harus juga mendapat jabatan yang patut.

Setelah upacara perkawinan agung selesai sering ia

duduk termenung seorang diri di taman kesayangan di

tempat gajah pribadi. Dalam kesibukan resmi ia dapat

kehebatan berahinya pada tubuh Idayu. Tetapi setelah

kembali hidup sebagai pribadi, berahi itu tetap menyala,

menyambar dan membakar dalam dada tuanya.

Kekuasaannya yang tanpa batas ternyata tak dapat

membantunya.

Seorang diri di taman seperti ini jiwanya penuh-sesak

dengan bayangan penari jelita itu. Gerak-gerak yang begitu

mengikat, pandang mata yang sayup-sayup mengundang…

betapa… betapa… tidak, ia meyakinkan diri setelah teringat

pada ajaran keprajaan dari nenek sendiri dan juga nenek

Sang Patih: tak ada raja kehilangan kerajaan selama ia tidak

kehilangan kehormatan. Maka untuk ke sekian kali ia

kebaskan berahinya.

Selama Idayu, seorang wanita, apakah bedanya dengan

wanita lain? Tapi pribadi seperti itu! Di sana bisa

didapatkan lagi?

Dan dialahkan pikirannya sekarang pada Galeng. Di

mana harus ditempatkan juara gulat keparat yang hanya

tahu gulat dan berani itu? Stt, stt, jangan remehkan 

kemampuan seseorang. Apakah artinya Mpu Nala dan

Gajah Mada sebagai seseorang? Namun wajah dunia telah

berubah karena mereka berdua, anak-anak desa itu:

Semenanjung jatuh ke tangan Majapahit. Selat dikuasai,

Jalan besar terbuka, Majapahit jaya.

Sekarang Malaka jatuh ke tangan Peranggi. Selat dengan

sendirinya, sebentar lagi mungkin Pasai runtuh pula dan

Selat akan jadi milik mutlak Peranggi. Dia bukan hanya

hendak menguasai dunia, juga Nusantara. Tak ada yang

mampu melawan dia. Tuban pun tidak. Tetapi selama

Tuban di dalam tanganku, kita akan memiliki harga apa

pun juga.

0o-dw-o0

Sang Adipati terbangun dari pemenungannya melihat

sesosok tubuh merangkak mendekati sambil menyembah:

“Ya, Galeng, pengantin baru yang berbahagia, adakah

sesuatu hendak kau persembahkan?”

Ia tertawa melihat pegulat itu dengan susah-payah

mencoba menyusun kata.

“A, persembahan saja dengan caramu sendiri, nak desa!”

“Ampun, Gusti Adipati Tuban sesembahan patik.

Adapun patik menghadap tidak sepertinya ini ialah

memohon perkenan dari Gusti Adipati Tuban…”

Keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuh pegulat

itu. Setelah perkawinannya dan diharuskan tinggal di dalam

kadipaten, ia kehilangan niat untuk berbuat sesuatu

terhadap Sang Adipati. Sebagian dari kecurigaannya telah

hilang. Idayu telah jadi istrinya. Kegelisahannya sekarang

adalah kegelisahan seorang kawula yang menunggu

datangnya hukuman. Pasti Sang Adipati telah mengetahui 

segala-galanya tentang dirinya. Sedang larangan baginya

untuk melakukan sesuatu kerja menyebabkan

kegelisahannya semakin menjadi-jadi.

“Kurang cukupkah yang telah lewat dan yang sudah

ada…?”

“Lebih dari cukup, Gusti, patik hanyalah petani biasa.

Patik dan istri sudah rindu pada desa patik, Gusti.”

“Bukankah kami Adipati Tuban dan kau kawulanya?

Bukankah kau mengabdi pada adipatimu?”

Juara gulat itu tak mampu meneruskan kata-katanya.

Badannya sudah kuyup.

“Kau, Galeng, kembali ke tempatmu. Jangan tinggalkan

pengantinmu. Kau tidak kembali ke desamu.”

Juara itu telah menggelesot di tanah. Beberapa kali ia

mengangkat sembah. Ia belum lagi mampu mengangkat

badan untuk pergi. Otot-ototnya seperti lumpuh.

Dan Sang Adipati memperhatikan bahu bidang di

bawahnya itu – bahu pegulat yang kukuh seperti baja.

Dunia pun akan bisa dipikulnya, bidiknya puas dalam hati.

Dia tak tahu apa sedang menunggunya. Anak desa.

Prajurit-prajurit yang telah diperintahkan membersihkan

gedung bekas asrama telah menyelesaikan tugasnya. Sang

Adipati sendiri yang telah memerintah mereka. Dan setelah

itu mereka harus memindahkan semua barang pribadi

Rangga Iskak ke bekas asrama tersebut. Sang Adipati

menganggap semua pekerjaan itu sudah selesai dengan

sepatutnya. “Ya, Galeng, pergi, kau!” perintah Sang

Adipati. 

Anak desa itu menyembah, mengesot jauh dan

menyembah lagi, kemudian hilang dari penglihatan Sang

Adipati.

Ia tahu Syahbandar Tuban sedang mencoba menghadap

untuk memprotes. Ia sengaja takkan melayani. Ia bangkit,

berjalan lambat-lambat menikmati cuaca, menuju ke

kandang gajah. Sebelum sampai ia lihat pemelihara

binatang itu sedang menggunakan cis untuk memerintah si

gajah agar duduk pada kaki belakang. Dan ia lihat

pemelihara itu kemudian duduk di samping binatangnya,

menyembah pada Sang Adipati. Gajah itu sendiri

mengangkat belalai.

Sang Adipati tertawa terhibur.

0o-dw-o0

Tidak lebih dari lima hari kemudian, di taman di tentang

kandang gajah ini juga datang menghadap seorang utusan

rahasia dari Sultan Mahmud Syah yang sedang menyingkir

ke pembuangan. Ia mempersembahkan sepucuk berbahasa

dan bertulisan Jawa.

Sultan mengabarkan, Malaka telah jatuh ke tangan

Peranggi sebagai akibat pengkhianatan Syahbandar Malaka

berkebangsaan Arab bernama Sayid Mahmud Al-Badaiwi.

Diterangkan orang itu berbadan kurus tiggi agak bongkok,

setengah umur, berkumis, berjenggot dan bercabang-bauk

yang telah bersulam uban dan berhidung bengkok rajawali.

Sultan Malaka mengakui, ia telah keliru mengangkat

orang tersebut, hanya karena terbujuk oleh kefasihan

tersebut dan kepandaiannya mengambil hati orang.

Menjelang jatuhnya Malaka ia malah mendapat 

kepercayaan keluar-masuk istana, dan hampir-hampir

diangkat menjadi wazir.

Sultan berseru pada Sang Adipati sebagai sedarahsedaging, seasal-keturunan Majapahit, supaya berhati-hati

terhadap orang tersebut sekiranya ia berada di Tuban,

karena orang itu telah meninggalkan Malaka di bawah

perlindungan Peranggi.

Sang Adipati mengerti maksud surat itu. Orang yang

dimaksudkan tidak lain dari Sayid Habibullah Almasawa.

Ia tak terkejut. Berubah pun airmukanya tidak.

Penguasa Tuban itu duduk di atas bangku batu yang

lebih tinggi daripada duta rahasia Sultan Mahmud Syah.

Dan setelah membacanya surat kertas itu dilipatnya baikbaik dan dengan tangan itu juga menuding pada sang duta

berkata dalam Melayu: “Kami telah baca baik-baik surat

ini, Tuan Duta. Terimakasih ke hadapan Sri Sultan

Mahmud Syah. Di Tuban tak ada seorang Arab bernama

Sayid Mahmud Al-Badaiwi. Kelahiran mana dia, Tuan

Duta?”

“Dia selalu berbangga sebagai orang Moro kelahiran

Ispanya, negerinya Andalusia, Gusti.”

“Kelahiran Ispanya? Tentu dia pandai Ispanya?”

“Barangtentu, Gusti.”

“Apa dia barangkali juga berbahasa Peranggi?”

“Jelas seperti matari, Gusti, karena dia dapat juga

melayani kapai Peranggi sebelum mereka menyerbu.”

“Mengapa Tuan Duta mengandaikan dia di sini?”

“Wara-wara Gusti Adipati Tuban di atas Malaka telah

didengar oleh setiap pelaut. Pekerjaan Syahbandar Tuban 

yang baru sangat cocok untuk Sayid Mahmud Al-Badaiwi,

Gusti. Dia akan datang kemari.”

“Apakah menurut perkiraan Tuan Duta dia akan

mengubah namanya sekiranya memasuki Tuban?”

“Apakah Tuan Duta di samping tugas khusus ini juga

bertugas menjejak bekas Syahbandar Malaka?”

“Barang tentu, Gusti. Patik telah singgah di Pasai,

Jambi, Riauw, Banten, Cirebon, Jepara sambil menuju

Tuban. Memang ada petunjuk-petunjuk ke mana

pengkhianat itu pergi. Semenanjung telah berubah sangar

bagi nyawanya. Dan ternyata, Gusti, benar belaka, Sayid

Mahmud Al-Badaiwi sudah ada di Tuban sini, jadi abdi

Gusti Adipati Tuban, bahkan telah Gusti angkat jadi

Syahbandar Tuban.”

“Maksud Tuan Duta, Sayid Mahmud Al-Badaiwi itu

tidak lain dari Syahbandar Tuban sekarang? Sayid

Habibullah Almasawa?”

“Betul, Gusti, Syahbandar Tuban yang baru itulah bekas

Syahbandar Malaka.”

“Dan setelah Tuan Duta mengetahui dia ada di sini,

adakah sesuatu yang Sri Sultan kehendaki dari kami?”

“Kalau sekiranya berkenan di hati Gusti Adipati

Tuban… ampun, Gusti, bukan buatan terkejut patik

melihatnya di bandar Gusti… dia tak mengenal patik tapi

patik mengenal dia… dalam hati patik membersitlah satu

doa yang tulus-ikhlas, dijauhkan oleh Allah kiranya Sang

Adipati Tuban dan negerinya dari pengkhianat ini. Dan

betapa bersyukur patik apabila nyawanya diserahkan

kepada patik,” Duta rahasia itu terdiam.

Nampak jelas ia sedang berdoa untuk terkabulnya

harapan. 

Sang Adipati membuang pandang ke arah kandang

gajah. Persoalan Malaka adalah persoalan masa silam

walau baru kemarin dulu bencana itu terjadi. Semua yang

sudah lewat telah beibaris masuk ke alam lampau. Yang

kemarin dulu Sultan, sekarang buangan. Yang sekarang Adipati masih tetap Adipati. Ia pandangi duta itu tajam-tajam.

Ada dilihatnya rangsang dendam bergolak dalam dada

orang di hadapannya itu.

Matari hampir tenggelam. Percakapan rahasia itu

terhenti. Sebagai pengisi kemacatan duta rahasia itu

mempersembahkan sebilah keris bersarung mas bertulisan

Arab dan berbulu mas bertatahkan zamrud.

”Perkenankanlah patik mempersembahkan keris pusaka

kerajaan Malaka ini, Gusti, sebagai harapan dapat

terjadinya persekutuan antara Tuban dengan Sri Sultan,

untuk tidak menyinggahi Malaka selama dikuasai

Peranggi.”

“Telah kami terima tanda persekutuan ini. Dan jadilah

pengetahuan Tuan Duta, bahwa nya wa Syahbandar Tuban

Sayid Habibullah Almasawa ada di tangan kami, dan

sungguh sayang kami belum bisa menyerahkan pada Tuan

Duta. Belum ada tanda-tanda, apalagi bukti, dia melakukan

pengkhianatan terhadap kami. Sampai di mana

persekutuan-persekutuan telah Tuan Duta usahakan?”

“Ampun, Gusti, Adipati, tentang itu pastikah bukan

patik yang harus mempersembahkan.”

Duta itu mengundurkan diri tepat pada waktu matari

tenggelam sama sekali.

Nyamuk mulai berkeliaran di taman. Namun Sang

Adipati masih juga belum bangkit dari bangku batu.

Betapa bodoh mengurusi yang telah masuk masa silam,

pikirnya. 

Ia lambaikan tangan pada seorang pengawal dan

menitahkan agar Galeng datang menghadap. Dan waktu

pegulat itu telah duduk bersembah di hadapannya segera ia

memulai: “Galeng, apa yang kau ketahui dari kebesaran

masa silam?”

Ia telah menduga anak desa itu akan sangat terkejut. Dan

ia dengar juara gulat itu meraung dengan suara tertekan:

“Ampun, gusti Adipati Tuban sesembahan patik.”

Galeng tak dapat meneruskan kata-katanya. Dalam

menunduk ia mengherani dirinya sendiri, dan mengapa

daya-perlawanannya menjadi layu setelah memperistri

Idayu, dan mengapa dirinya begitu takut pada hukuman.

“Ayoh, persembahkan. Mukamu terlindungi kegelapan

malam, dan kami pun tak perlu tahu,” kata Sang Adipati,

sekalipun ia punya dugaan, anak desa itu sedang kacaubalau. Mengetahui Galeng tak juga berdatang sembah, ia

mendesak: “Cepat, Galeng. Kami tahu, kau telah banyak

mendengar tentang kebesaran masa silam. Kau! Tidak lain

dari kau dan Idayu yang telah mengurus Rama Cluring

sampai matinya beberapa waktu yang lalu. Kakek-kakek

gila kebesaran masa silam itu. Persembahkan!”

“Ampun, Gusti Adipati Tuban sesembahan patik.” suara

juara gulat itu gemetar.

“Kau takut, Galeng. Juara gulat yang takut bersembah!”

Tak ada jawaban dari sesosok tubuh di hadapannya.

Suaranya menjadi agak lunak. “Dulu guru-guru pembicara

seperti Rama Cluring banyak berkeliaran dan membual di

kota-kota. Cluring itu mungkin sisa dari gerombolan

mereka yang terakhir. Banyak di antara mereka dibunuh

oleh bupati-bupati pesisir yang bodoh itu. Sekarang secara

berani bicara hanya di desa-desa yang jauh, terpencil.

Adipati Tuban tidak gentar pada buatan seribu gurupembicara seperti itu. Maka kau tak perlu takut.” 

“Ampun, Gusti, kata Rama Cluring, hendaknya orang

memanggil kembali kejauhan dan kebesaran masa silam

pada guagarba hari depan?”

“Dari seluruh bualan Cluring hanya itu saja yang teringat

olehmu?”

Juara gulat itu tak dapat mengingat. Sebongkah batu

seakan bersarang dalam kepalanya.

“Baik, hanya itu yang teringat olehmu. Ketahuilah,

bagaimana pun kau memanggil-manggil pada guagarba hari

depan, tanpa restu seorang raja, tak ada sesuatu bisa terjadi.

Kau percaya pada kata-kata Rama Cluring?”

Kepala Galeng semakin mendekati tanah.

“Kami tahu, kau percaya. Kalau tidak, mana mungkin

kau… Sering kau datang ke balai-desa mendengarkan

pembicara-pembicara membual?”

“Ampun, Gusti, memang demikian halnya.”

“Tentu saja. Kalau tidak, mana mungkin kau selalu

datang? Sekarang dengarkan perintahku, hai kau, juara

gulat?”

“Patik ada di sini, Gusti!”

“Kami menghendaki tenagamu. Kau orang kuat,

badanmu dilipuri otot-otot kukuh. Kami menghendaki

pikiranmu, karena kau anak terpelajar, ingin banyak

mengetahui, karena itu sering mendengarkan guru

berbicara. Kami menghendaki kesetiaanmu, karena kau tak

dapat berbuat sesuatu tanpa restu seorang raja. Kami

menghendaki jiwamu, karena tak ada kebesaran datang

tanpa petaruh jiwa. Galeng, kembalikan kejayaan dan

kebesaran Majapahit untuk Tuban, untuk negerimu, ini

untuk Adipati sesembahmu. Berangkat kau sekarang juga, 

kau bersama istrimu. Tinggalkan kadipaten. Tinggal kau

berdua di gandok kesyahbandaran yang sebelah kiri,

gandok Islam. Dengan ototmu yang kuat lindungi jiwa

Syahbandar baru. Dengan otakmu yang penuh berisi bualan

pembicara-pembicara itu, selidiki segala rahasia Syahbandar

dan sampaikan pada Sang Patih. Belajar baik-baik bahasa

Melayu. Jadilah pembantu utama Sayid Habibullah

Almasawa. Berangkat!”

Setelah juara gulat itu pergi Sang Adipati bangkit dan

berjaian tenang-tenang masuk ke kadipaten.

Seminggu kemudian di taman itu juga Sang Adipati

menerima seorang duta dari Jepara. Sore juga waktu itu.

Berbeda hainya dengan duta dari Malaka, duta yang

sekarang ini ia ajak berjalan-jalan ke kandang kuda. Ia

belai-belai suri kuda kesayangannya, sedang sang duta

berdiri di belakangnya.

“Ya, Gusti, patik adalah utusan pribadi Gusti Kanjeng

Adipati Unus dari Jepara. Nama patik Aji Usup, Gusti.”

‘Teruskan, Aji Usup yang terhormat.”

“Salam bahagia dari Gusti Kanjeng Jepara, dan

pesan….” Sang Adipati berbalik. Wajahnya merah padam

menahan kemarahan. Matanya membelalak: “Pesan? Pesan

untuk Adipati Tuban? Ataukah maksud Tuan ancaman?”

“Ampun, Gusti Adipati Tuban. Peristiwa Jepara itu

memang jadi duri dalam daging Tuban. Untuk itu patik

datang menghadap untuk mempersembahkan alasan dari

tindakan Demak, Gusti.”

“Alasan? Apakah masih perlu ada alasan? Memasuki

dan merampas tanda pemyataan perang, tanpa membuka

gelanggang perkelahian? Hanya karena ingin punya bandar

sendiri! Alasan dari seorang yang tidak tahu batas. Apakah 

Tuban pernah menjamah Demak dengan kuda atau

gajahnya? Atau dengan kakinya? Atau itukah alasannya,

memanggil kaki dan kuda dan gajah Tuban?”

“Ampun, Gusti, Demak tahu benar akan kekuatan

perkasa dari Tuban.”

Sang Adipati mulai berjaian agak cepat dan Aji Usup

mengikuti dari belakang.

“Kami dapat injakkan kaki gajah kami sampai seluruh

Demak rata dengan tanah.”

“Demak sesungguhnya tahu benar akan itu, Gusti

Adipati Tuban, ampuni patik.”

“Mengapa perbuatan tidak satria, tanpa pernyataan

perang, dilakukan seperti bukan seorang raja yang

memerintah Demak?” Sang Adipati memilin-milin kumis

putihnya. “Bukankah kami bisa perintahkan tumpas tuan

Duta, sebagai duta seorang raja yang berlaku bukan sebagai

raja?”

“Inilah nyawa patik, Gusti, bila Gusti perlukan untuk

ditumpas, patik persembahkan dengan rela.”

“Sungguh berani mati, kau, Tuan Duta.”

“Karena memang ada yang lebih penting daripada hati

mati, Gusti, mengangkut seluruh nasib Jawa Dwipa.”

“Apakah karena memikirkan nasib seluruh Jawa, maka

Demak merasa dibenarkan memasuki Jepara?”

“Sesungguhnya tiada jauh dari sangkaan Gusti Adipati

Tuban. Ampun, Gusti.”

“Allah Dewa Bathara! Apakah rajamu mengira dia

sendiri tahu tentang nasib Jawa?” 

“Jauh dari itu, ya Gusti Adipati Tuban yang mulia,”

susul Duta Jepara itu dengan cepat-cepat. “Utusan-utusan

Demak ke seberang dan Atas Angin, Gusti….”

“Siapa utusan-utusan itu? Bukankah utusan juga dari

Sampo Toalang?” Sang Adipati memotong. “Adakah

Sampo Toa-lang menghendaki agar Loa Sam kami

hancurkan dalam sepuluh bentar? Dengarkah, kau Aji

Usup, Duta Jepara. Semua orang prajawan tahu, Sampo

Toa-lang atau Semarang dibangun oleh orang-orang

Tiongkok itu untuk menandingi Jepara. Jepara tidak jatuh

karenanya. Bandamya tetap jaya. Kemudian Lao Sam atau

Lasem didirikannya untuk menyaingi bandar Tuban.

Apakah Adipati Tuban berbuat sesuatu terhadap Lao Sam?

Bandar asing kecil itu kami biarkan berdiri, bahkan kami

ijinkan. Tuban takkan jadi pudar karenanya. Bukankah

kerajaan Demak didirikan untuk membentengi Semarang

dari Tuban? Sekarang Demak sebagai kerajaan benteng

sudah mulai menyerang. Sang Adipati Tuban masih dapat

mengendalikan diri, hai kau, Aji Usup Duta Jepara.”

“Patik, Gusti.”

“Sekarang utusan Semarang-Demak ke seberang dan

Atas Angin kau jadikan dalih penyerbuan tak tahu

kesopanan itu.”

“Patik, Gusti.”

“Jepara dan Semarang takkan dapat rempah-rempah

lagi. Setiap kapal Semarang dan Jepara yang belayar ke

sebelah timur pasti kami hancurkan.”

“Yang demikian telah terjadi, Gusti.”

“Dan akan terjadi seterusnya selama kami masih hidup.”

“Patik, Gusti.” 

“Sampai Semarang-Demak mengembalikan Jepara pada

kami dengan hormat dan patut.”

“Patik, Gusti.”

Sang Adipati berjalan menuju ke taman di tentang

kandang kuda dan Aji Usup mengikuti. Ia duduk pada

bangku batu dan duta itu berjongkok di tanah. Ia tuding

kandang gajah dan menetak tajam: “Sudah kami

pertimbangkan, percuma gajah-gajah itu dikerahkan.

Semarang-Demak akan punah tanpa rempah-rempah

kami.”

“Pasti, Gusti.”

Agak lama Sang Adipati tidak bicara. Ia telah semburkan

segala kemarahannya dan kini menjadi agak tenang.

Kemudian: “Apa Tuan Duta hendak persembahkan?”

“Bahwa utusan Demak ke seberang dan Atas Angin

telah membawa keterangan-keterangan penting Peranggi

akan menguasai Jawa, Gusti Adipati Tuban yang mulia.

Itulah yang menyebabkan Demak secara terburu-buru

memasuki Jepara. Peranggi tidak boleh memasuki tengahtengah pulau Jawa ini, Gusti. Sekali masuk, seluruh Jawa

akan dikuasainya. Itulah sebabnya Demak memasuki

Jepara dengan sangat terburu-buru.”

“Jauh manakah Tuban daripada negeri Peranggi, maka

tak ada utusan datang padaku? Dan kau, Duta Jepara,

datang jauh setelah adipatimu memasuki wilayah kami?

Betapa lama waktu sudah berlalu, tak ada yang datang

memohon ampun. Dan sekarang kau datang, bukankah

untuk itu?”

“Patik datang menghadap memang untuk urusan yang

agak lain, Gusti, ampunilah patik.”

“Tepat sebagaimana kami duga. Persembahkan!” 

“Ampun, Gusti, utusan Demak, dari seberang dan Atas

Angin yang datang dalam bulan ini, Gusti,

mempersembahkan pada Gusti Kanjeng Sultan Demak,

sesungguhnya Tuban telah mengadakan persiapan

persenjataan untuk menghadapi Peranggi, dan bahwa

jatuhnya Malaka ke tangan Peranggi telah menjadi pikiran

Gusti Adipati yang mendalam. Setidak-tidaknya karena

Tuban sebuah bandar yang paling banyak bersangkutan

dengan Malaka.”

“Betul, Aji Usup. Duta Jepara yang terhormat.”

“Gusti Kanjeng Sultan Demak telah yakin adanya

persiapan ini, dan bahwa persiapan itu tidak ditujukan pada

Jepara.”

Sang Adipati tersenyum puas.

“Juga tidak akan ditujukan pada Jepara.”

“Untuk Jepara, Demak dan Semarang akan waktu lain,

Aji Usup. Lihatlah betapa pongah Sultanmu. Mengirimkan

seorang duta yang berkedudukan hanya sebagai duta putra

mahkota, bukan dutanya sendiri! Apakah yang seperti itu

pernah dilakukan oleh Adipati Tuban?”

“Tidak, Gusti Adipati Tuban.”

“Apakah Tuban pernah menghalangi pembangunan

Glagah Wangi? Atau pernah mengambil salah sebuah

dusun Demak?”

“Tidak, Gusti Adipati Tuban.”

“Apakah kurang berharga Adipati Tuban dibandingkan

dengan Sultan Demak maka hanya duta Adipati Jepara

yang dikinmkan pada Kami?” 

”Tidak, Gusti. Soalnya hanya karena Gusti Kanjeng

Adipati Unus yang mengurusi soal-soal manca-praja, maka

patik dikirimkan dari Jepara kemari.”

“Pikiran Demak sungguh berbelit-belit biar pun mudah

dapat dimengerti. Sebagai kerajaan pun sudah berbelit.

Coba, kerajaan benteng yang didirikan oleh Sampo Toalang untuk menghadapi Tuban, sebuah kerajaan bayangbayang yang didirikan oleh pendatang Tionghoa. Sungguh

berbelit.”

“Ampun, Gusti, Demak adalah kerajaan Islam, itulah

keterangan satu-satunya dan tiada lain, Gusti.”

“Ya, keterangan satu-satunya sebagai negara, tapi bukan

sebagai praja. Sebagai praja sangat berbelit karena dia

mengabdi pada Semarang, dia tidak mengabdi pada Islam.

Negeri Syiwa-Buddha juga tidak mengabdi pada SyiwaBuddha.”

“Patik, gusti.”

“Dan bagaimanakah rupanya negeri yang mengabdi

pada sesuatu agama? Kami tidak pernah tahu. Majapahit

yang jaya sepanjang sejarahnya juga tidak.”

“Ampun, Gusti, patik tidak ada wewenang untuk

berselisih. Barang tentu Gusti Adipati benar.”

“Ya, dan Demak seluruhnya keliru.”

“Ampun, Gusti Adipati benar.”

“Baik, apa hendak kau persembahkan lagi, Tuan Duta?”

“Masih tetap soal Peranggi, Gusti. Sekiranya Gusti

Adipati ada kecenderungan untuk melupakan perselisihanperselisihan kecil dengan Demak… sekiranya Gusti Adipati

ada terniat untuk melancarkan perang pengusiran terhadap

Peranggi dari Malaka… Itulah Gusti, yang dipikulkan di 

atas pundak patik dari Sultan Demak melalui Gusti

Kanjeng Adipati Jepara.”

“Persembahkan, Tuan duta.”

“Maka Tuban dan Jepara-Demak bisa bergabung dalam

satu armada besar, Gusti.”

“Kau tak pernah bicara tentang Semarang. apakah kau

memang pura-pura bukan kawula Semarang?”

“Ampun, Gusti, patik memikul pada bahu patik untuk

jangan sampai menggusarkan hati Gusti Adipati Tuban.”

“Tanpa kau pun Demak telah menggusarkan kami.”

“Ampun, Gusti, patik hanya memikul perintah soal

Peranggi.”

“Persembahkan!”

“Semua kekuatan laut dari Tuban dan Jepara dan

Banten, dan Jamto’ dan Riauw dan Aceh akan sanggup

mengusir Peranggi, Gusti, kalau or laksanakan. Sekiranya

Gusti Adipati berkenan menyertai.”

Sang Adipati terdiam dan sang Duta tidak memulai lagi,

menunggu jawaban.

Matari semakin condong mendekati tepi bumi waktu

penguasa Tuban itu berkata: “Datang kau sebulan lagi,

barangkali kami ada jawaban.”

“Dilimpahi oleh Allah hendaknya Gusti Adipati Tuban

dengan ramah dan kebijaksanaan sedalam-dalamnya dan

usia panjang sehat dan sejahtera….”

Begitu duta Jepara pergi, Sang Adipati tak dapat

mengendalikan kemuakannya atas lawan-lawannya di barat

sana. Ia takkan membiarkan siapa pun berjingkrak di atas

kepalanya dan melecehkan Tuban. Tetapi perang ia tidak 

menghendaki. Perang saudara Peregrek itu selalu jadi

momok selama hidupnya sejak ia menjadi Tumenggung

Wilwatikta di Mahapahit selama lima tahun sampai

sekarang ini, nyaris empat puluh tahun yang lalu. Ia tak

menyukai perang dengan siapa pun. Juga tidak dengan

Peranggi. Dan sekarang dari utara, timur, barat dan selatan,

Prajawan-prajawan pada mempergunjingkan jatuhnya

Malaka. Memang sejak dahulu pun Selat jadi urat nadi

kemakmuran dunia, hanya karena dilewati rempah-rempah

Nusantara. Tetapi mengapa orang begitu dungu membatasi

kemakmurannya pada rempah-rempah dan Selat semata,

seakan tak ada resiko lain di atas dunia ini? Sekarang pula

Peranggi datang justru hendak mengangkangi ke duaduanya ogah berbagi dengan yang lain-lain seperti semula?

Sekarang. Demak pun ikut dengan pergunjingan, dan

dengan pergunjingan celaka itu hendak melupakan kami

pada tindakan mereka yang tidak satria. Puh! Demak yang

tandus-miskin hendak keluar sebagai penantang Peranggi!

Negeri-negeri pada berjatuhan di tangan Peranggi, ini,

kerajaan miskin yang baru kemarin akan mencoba-coba,

terhadap tetangga sendiri dan terhadap Peranggi sekaligus!

Sang Adipati mencoba membayangkan Adipati Jepara

yang muda dan bersemangat itu. Angan-angannya,

pikirnya, lebih besar dari akalnya. Memang semua nampak

indah bagi orang yang masih muda dan menganggap diri

kuat tak terkalahkan. Barangkali dia sendiri yang hendak

naik ke Malaka. Baik, datangilah Malaka, Unus! Hanya dia

yang berusaha mendekati hasil. Kalau kau dapat takkan

lebih baik dari Peranggi sendiri. Semua boleh gagahi

Malaka. Tuban takkan binasa karenanya!

Ia melangkah pelan-pelan mengaji pikirannya sendiri.

Dalam kegelapan para pengawal pun bergerak

mengikutinya dari kejauhan. Ia memasuki daerah 

perumahan. Tiba-tiba, seperti tidak dimaksudkannya

semula, ia berhenti di depan pintu yang diterangi dengan

sebuah lampu gantung bersumbu lima.

Pintu itu terbuat dari papan jati berat berukir dalam,

menggambarkan beberapa orang wanita sedang

bercengkerama di bawah sebatang pohon jeruk macam di

sebuah taman larangan.

Gubernur Tuban itu menarik seutas tali yang menjulur di

atas daun pintu dan berujung jumbai berwarna-warni.

Segera kemudian pintu berkerait terbuka. Sebidang

pelataran dalam yang di sana-sini disinari lampu bersumbu

satu terpampang di hadapannya.

Seorang wanita setengah baya bertubuh kekar bersimpuh

di tanah menyambut dengan sembah. Kepalanya menekur.

Inilah keputrian atau harem Sang Adipati.

“Bagaimana kalian, Nyi Gede Kati?”

“Karunia dan kemurahan Gusti Adipati kuminta tanpa

henti, Gusti,” sembah wanita itu.

Sang Adipati langsung berjaian ke serambi, kemudian

masuk ke dalam salah sebuah bilik selir kesayangan: Nyi

Ayu Sekar Pinjung.

Selir-selir lain yang waktu itu kebetulan berada di

pelataran atau serambi masih tetap bersimpuh di tanah pada

tempat masing-masing. Setelah penguasa itu hilang dalam

bilik selir kesayangan mereka bergegas masuk ke bilik

masing-masing. Yang tertinggal di luar hanya Nyi Gede

Kati.

Perempuan itu berdiri berjaga dengan sebilah tongkat

panjang karena itulah tugasnya sebagai pengurus harem dan

sebagai penjaga sekaligus. Ia berumur lebih-kurang empat 

puluh dan tampak masih muda, seakan baru kemarin

meninggalkan umurnya yang ke tiga puluh. Mukanya

bundar dan selalu nampak segar, Matanya agak sipit.

Pandang matanya tenang tetapi nampak tajam menembus

segala apa yang dilihatnya. Lebih dari itu ia seorang pesilat

tangguh. Pada punggungnya selalu terselit senjata tajam

dan pada sanggulnya selalu melintang sebilah cundrik kecilpanjang sebagai tusuk kondai. Rambutnya tersanggul,

berbeda dari para selir yang diharuskan berurai. Juga

berbeda dari para selir Nyi Gede Kati bergigi hitam arang,

sedang para selir diharuskan tetap bergigi putih seperti

seorang penari. Bila ia tertawa gigi hitamnya berkilau

mengkilat, nampak keras seperti baja sepuh. Dan hanya Nyi

Gede Kati sendiri barangkali tahu berapa banyak biji

jahawe yang telah ia habiskan untuk kepentingan itu.

Tenang suasana harem itu. Deburan laut hampir-hampir

tak kedengaran dari sini. Dan bunyi gamelan di pendopo

pun hanya sayup-sayup.

Di dalam bilik Sang Adipati duduk di atas sampai

tertiduran sedang pandangannya diarahkan ke bawah pada

Nyi Ayu Sekar Pinjung yang sedang menyeka kaki

penguasa itu dengan selembar kain basah.

Tangan Sang Adipati melambai, menarik dagu selir

kesayangan untuk memandangi wajahnya. Dan wanita itu

berkata dengan kenesnya,

“Aduh, Gusti sesembahan patik, betapa lama patik

menunggu selama ini.”

Sang Adipati mengangguk dan tersenyum. Di bagian

bumi yang sepotong ini saja ia dapat melepas senyum dan

tawa sebanyak ia kehendaki. Namun di sini juga ia paling

waspada. Setiap kata yang tertangkap oleh pendengarannya

ia timbang-timbang sindir dan siratnya. Dari keturunan ke 

keturunan, dari penguasa yang satu pada penguasa yang

lain menggantikan, sampai pada dirinya, abadilah

peringatan itu: waspadalah kau, raja, begitu kau injak

bendul keputrian, di dalamnya musuh dan lawan, penjilat

dan peracun, pengkhianat dan perakus, sedang sibuk

memasang jebak. Dan pusat jebakan selalu selir

kesayangan. “Awaslah jangan terlena, karena lena adalah

binasa.”

“Mengapa kau merasa lama menunggu, Nyi Ayu?” ia

memancing. “Ah, ya, barang tentu ada tersimpan sesuatu

dalam hatimu. Adakah kiranya cincin kau inginkan? Atau

kalung? Ataukah dinar emas? Atau dirham?”

“Ampun, Gusti, bukan mas dan bukan perang, ya Gusti

sesembahan, kalau patik diperkenankan bersembah….”

Sang Adipati menarik selir kesayangan ke atas dan

didudukkan di sampingnya. Dan selir itu mengikuti tarikan

sambil meliak-liuk genit.

“Persembahan, Nyi Ayu Sekar Pinjung, barang tentu

sangat penting.”

“Ampun, Gusti, adapun yang hendak patik

persembahkan, ya Gusti, Gusti sesembahan, bukanlah

sepertinya, hanya perasaan takut dan was-was, Gusti.”

Sambil membelai-belai rambut selirnya Sang Adipati

bertanya setengah tawa tapi dengan kewaspadaan semakin

tinggi: “Apakah kiranya yang kau takutkan dan waswaskan?”

“Ampun, Gusti, orang bilang, ya sesembahan patik, ada

bangsa berkulit putih bernama Peranggi. Kata orang, tiada

tandingan di seantara jagad raya ini.”

“Kata orang, Nyi Ayu, teruskan.” 

“Maka kata orang itu pula, Gusti, seluruh dunia

memberinya julukan lelananging jagad, jantannya dunia, ya

Gusti. Negeri didatangi takluk. Benua dipanggilnya datang.

Kapal ditudingnya tenggelam, ya Gusti.”

Sang Adipati tertawa senang dan didekapnya kepala

wanita itu. Bertanya: “Mengapa takut pada dongengan?”

“Kami semua takut dan was-was,” selir itu

menyembunyikan muka dengan manja pada dada Sang

Adipati. Kemudian meneruskan dengan sura yang tidak

keluar dari hati-kecilnya: “Kata orang, ya Gusti, sebentar

lagi Peranggi itu akan menaklukkan juga Tuban.”

Sang Adipati terlompat seperti tersengat kalajengking. Ia

tolak Nyi Ayu Sekar Pinjung sehingga jatuh tertelentang di

atas ambin. Kemudian ia berdiri tegak lurus, bertolak

pinggang. Wajahnya merah dan berkilauan terkena sinar

lampu. Matanya tajam mengawasi selir kesayangan.

Mengetahui perobahan sikap mendadak itu. Nyi Ayu

Sekar Pinjung tergagap-gagap bangun memerosotkan diri ke

lantai. Dengan manjanya ia rangkul kedua belah kaki lelaki

itu dan memperdengarkan sedu-sedunya: “Ampunilah

patik, ya Gusti.”

“Dari siapa cerita itu, Pinjung?” tanya Adipati itu

pelahan tapi tajam. Kedua belah tangannya masih juga

bertolak pinggang.

Hanya sedu-sedan yang menjawab.

“Jadi kau tak bermaksud mempersembahkan siapa

orangnya?”

Hanya sedu-sedan. Dan tubuh wanita itu gemetar.

Sang Adipati membongkok, meraba-raba muka selir

kesayangan. Tangan itu kemudian berhenti pada kuping. 

Dalam waktu pendek subang-subang selir itu telah

berpindah di atas tangannya. Dan wanita itu seperti dengan

sendirinya hendak mempertahankan subangnya. Terlambat.

Kemudian ia cegah sendiri usahanya.

Nampak Sang Adipati sedang berusaha menindas

kemarahannya. Sekaligus ia mengerti ada kekuatan yang

sedang bekerja untuk menyebarkan ketakutan. Benarkah

tangan-tangan Peranggi sudah mulai memasuki sudut

kadipaten? Ini? pikirnya. Sudah mulai menyebarkan

kegentaran pada seluruh isi kadipaten?

Dengan gerakan yang menterjemahkan kemarahan ia

cabut cepuk-cepuk subang itu. Dugaannya tidak keliru. Dari

dalam keluar segulungan kertas, bertulisan dan berbahasa

Jawa. Ia mendekati lampu dan membacanya. Isinya hanya

sebaris, menyatakan telah mengirimkan selembar sutra

delapan depa, tanpa menyebut nama seseorang.

Isi tulisan itu tak banyak menarik perhatiannya. Tetapi

kertas? Surat di atas kertas! Hanya orang asing menulis di

atas kertas. Kembali ia periksa surat itu… dengan tinta,

sedang Pribumi dengan jelaga.

Ada tangan asing bergerayangan di dalam haremku, ia

memutuskan dalam hatinya. Sejenak ia duduk berpikir. Tak

mendapat jawaban. Sekarang bertanya: “Dari siapa surat

ini?”

“Ampun, Gusti Adipati Tuban sesembahan patik,” suara

Nyi Sekar Pinjung gemetar. “Bukan patik hendak

menyembunyikan sesuatu dari kekuasaan Gusti

sesembahan, memanglah patik tidak tahu siapa

pengirimnya. Ampun, beribu ampun, Gusti.”

“Dari mana kau terima surat dan sutra?”

“Nyi Gede Kati, Gusti.” 

Sang Adipati bergegas meninggalkan bilik harem.

Beberapa hari setelah itu ia duduk di serambi belakang

kadipaten sambil menonton adu jago yang dilaksanakan

oleh para kawula. Perhatiannya tak dapat dipusatkannya

pada peragaan itu. Pikirannya masih juga sibuk dengan isi

lontar yang sepagi dipersembahkan oleh Sang Patih

kepadanya. Lontar itu ditemukan oleh Galeng dalam

penggerayangannya di dalam kamar Syahbandar baru Sayid

Habibullah Almasawa, mengabarkan telah menerima dari

Tuan, gelang, kalung, cincin mas bermatakan zamrud dan

mutiara, dan bersedia lakukan pada yang tuan perintahkan.

Menurut Sang Patih. Galeng telah periksa seluruh kamar

Syahbandar dan ia telah melihat banyak botol dan bendabenda yang ia tak tahu nama dan gunanya: kitab-kitab

dengan tulisan yang ia tak kenal dan tak bisa baca, logamlogam kecil, lontar-lontar halus dan lebar dan lunak dengan

gambar garis-garis bengkok, yang ia pun tak tahu artinya,

setumpuk kertas, dan lain-lain yang ia pun tak tahu nama

dan gunanya.

Dasar anak desa! Tetapi itu hanya permulaan, gumam

Sang Adipati.

Kemudian diambilnya selembar daun sirih dari nampan

kuningan, mengolesinya dengan kapur, menaruh sepotong

kecil gambir di atasnya. Menggulung dan memamahnya.

Kelak akan dia ketahui semuanya, pikirnya lagi.

Ia berusaha menghindari kemungkinan Sang Patih

mencampuri urusan rumahtangga kadipaten. Ia tak

menghendaki berkurangnya kewibawaannya sebagai

Adipati. Ia akan selesaikan sendiri urusan dalam kadipaten.

Bahkan mantri-dalam Patireja pun tak dititahkannya untuk

melakukan pekerjaan itu. 

Dan surat itu jelas dari seorang wanita. Ya, dari seorang

wanita kepada Syahbandar Sayid Habibullah Almasawa.

Tetapi tiada disebutkan tentangsutra. Mungkinkah barang

perhiasan itu diterima oleh Nyi Gede Kati? Dan apa jasa

Nyi Gede pada Syahbandar? Siapa pula pengantar dan

penghubung surat? Ha, barangkali Nyi Gede bertindak

sebagai penghubung dengan para selir. Tangan-tangan

sudah mulai bergerayangan di dalam kadipaten. Kami

sendiri harus dapat temukan penghubung itu.

“Panggil Nyi Gede Kati,” ia berseru, kemudian

memperhatikan pertarungan ayam di depannya. Wanita

pengurus harem itu bersimpuh di bawah serambi dan

mengangkat sembah.

Dan Sang Adipati sengaja meneruskan perhatiannya

pada peragaan binatang-binatang itu. Baru setelah salah

seekor mati tertembusi taji baja Pada tengkuknya ia

menghela nafas dan menghembuskannya keras-keras,

“Mendekat!” perintahnya keras-keras.

Nyi Gede Kati beringsut mendaki anak-anak tangga

serambi belakang mengangkat sembah lagi. Atas lambai

tangan Sang Adipati ia beringsut maju terus lebih

mendekat. Sang Adipati melambaikan tangan lagi sehingga

ia sudah hampir pada kakinya.

“Nyi Gede’ ia berbisik, siapa yang pernah menyurati kau

dari luar?”

Tiba-tiba tubuh wanita di bawahnya itu menggigil.

“Ampun Gusti Adipati Tuban sesembahan patik,”

sebentar suaranya juga menggigil, kemudian merata

kembali, “memang benar patik pernah….”

“Tidakkah kau dengar kami tiada berkeras-keras

bersabar?” 

“Ampun, Gusti,” Nyi Gede menurunkan suaranya

sehingga mendekati bisikan, “memang benar patik pernah

menerima surat dari luar, tetapi patik tak tahu dari siapa.

Surat tersebut sudah ada saja dalam kamar patik, tanpa

patik ketahui siapa pembawanya.”

“Kami tahu kau seorang yang jujur, Nyi Gede.

Bagaimana mungkin, kau yang bertugas mengurusi

keputrian justru tidak tahu apa yang terjadi di bilikmu

sendiri?”

“Ampun, Gusti Adipati Tuban sesembahan patik.

Hukumlah, patik, karena itulah kebenaran yang

sesungguhnya. Hidup-mati patik adalah milik Gusti

Adipati!”

“Mana surat itu?”

“Ampun, Gusti Adipati, patik takut maka patik bakar.”

“Surat apa, Nyi Gede, lontar ataukah kertas?”

“Lon… lon… lon… kertas barangkali, Gusti, patik tak

tahu namanya. Bukan lontar.”

“Bukankah bukan hanya surat saja telah kau terima?

Adakah real Peranggi pernah kau terima juga?”

“Ada, Gusti real mas, Patik mohon ampun, karena tiada

mengetahui adakah itu real Peranggi atau bukan.”

“Real Peranggi, dua,” Sang Adipati mendengus

menghinakan, “dan gelang, bukan?”

“Demikianlah, Gusti, dan gelang.”

“Dan kalung, dan cincin mas, semua bermata zamrud

dan mutiara. Bukan?” 

“Ampun, Gusti, semua benar. Perkenankanlah patik

mempersembahkan semua itu ke bawah duli Gusti

sesembahan.”

“Ambillah semua untukmu sendiri. Barang-barang itu

dikirimkan untukmu. Kami tahu kau pengurus keputrian

yang jujur. Pergi!”

Ia perhatikan wanita pengurus harem itu beringsut-ingsut

mundur, menyembah dan menyembah, kemudian berjalan

menuju ke tempat pekerjaannya semula. Ia percaya

perempuan itu benar-benar tak tahu siapa pengirimnya, tak

tahu siapa penyampainya.

Waktu ia menoleh nampak olehnya Pada sedang

berjalan di kejauhan memikul kotak sampah menuju keluar

daerah perumahan. Darahnya tersirap. Sesuatu menyambar

pada pusat perasaannya: cemburu. Dia! Ya, dia, Pada itu,

yang dapat bergerak leluasa di dalam kadipaten. Dia ruparupanya kutu busuk keputrian. Dia!

Ia ikuti Pada dengan pandangnya. Ia kaji tingkah-laku

bocah yang bebas gaya dan gerak-geriknya itu. Sekali-dua ia

pernah melihat ia bercakap-cakap dengan wanita dewasa

dengan begitu bebasnya, seakan sudah lama berpengalaman

dengan mereka. Ya. Si bocah itu!

Jantungnya berdebaran. Adakah dugaanku benar? Dan

bocah itu menjamah hak-hakku yang paling tersembunyi?

Mungkin! Dan dia dapat bergaul bebas dengan siapa saja.

Tak pernah punya perasaan gentar. Bahkan hampir dapat

dikatakan kurang ajar. Dia berbahasa Melayu dengan

lancar dan baik. Dia bertugas melayani Sayid Habibullah

Almasawa. Tidak salah: dialah penghubung Syahbandar

dengan keputrian. Dia semestinya kutu busuk harem.

Perasaan cemburu telah menariknya dengan kasar dari

tempat duduknya. Seorang diri tanpa pengawal ia berjalan 

ke belakang memeriksai pagar kayu tinggi, yang melingkari

keputrian, untuk mendapatkan bekas-bekas panjatan.

Tak ditemuinya bekas itu pada kayu yang berwama

coklat yang selalu dibersihkan itu. Tentu ia menggunakan

alat-alat yang sekarang ini belum dapat diketahui.

Ia tak teruskan penyelidikannya dan kembali duduk di

serambi belakang. Ia cegah dirinya untuk berbuat sesuatu

pembalasan dendam yang bisa diketahui oleh seluruh

kawula. Dan ia harus tahu duduk perkara sebenarnya.

Pada nampak lagi memikul kotak sampah yang sudah

kosong. Sang Adipati memperhatikan si bocah yang gelisah

dengan mata berpendaran ke mana-mana itu. Ia lambaikan

tangan padanya. Dan bocah itu pura-pura tidak tahu.

Manakah ada kucing dengan senang hati menghadap

pada si macan? Pikirnya jengkel dan membiarkan Pada

menghilang.

Cemburu tak dapat ia atasi hanya dengan berpikir dan

berpikir. Bocah-bocah semuda itu telah gerayangi

keputrianku!

Kebakaran terjadi di dalam dadanya. Tangannya

melambai menyambar nampan kuningan tempat peracikan

sirih dan dibantingnya menggelintang di lantai. 

Novel Arus Balikk Bab 6 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.

Bagaimana alur cerita dari novel Arus Balik Bab 6 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua. 

Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.

Untuk membaca Novel Arus Balik bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 8 Disini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 28 Disini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 26 Disini