Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 5 Disini
Novel Arus Balik bab 5 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Arus Balik menceritakan tentang kisah Kedatangan Portugis di Bumi Nusantara dengan latar awal Abad XVI, yaitu ketika surutnya pengaruh Majapahit dan naiknya pamor Kesultanan Demak.
Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Arus Balikk Bab 5 Bahasa Indonesia Sekarang ini.
5. Idayu dan Galeng
Pagihari.
Semua orang datang ke alun-alun membawa bekal
makan.
Pelabuhan sunyi. Jalan-jalan senyap. Semua
berkepentingan menyaksikan dan mendengarkan sendiri
keputusan Sang Adipati di hadapan para petanding.
Alun-alun lebih ramai daripada kemarin atau kemarin
dulu. Bangsal-bangsal pertunjukan telah terbongkar. Dan
orang duduk berbanjar-banjar di atas tanah, tak peduli
rakyat biasa saudagar ataupun orang asing.
Penduduk Tuban punya kepercayaan: meriah-tidaknya
penutupan pesta akan jadi petunjuk makmur-tidaknya
Tuban pada tahun mendatang. Orang berkepentingan hadir.
Sakit ringan dilupakan. Yang sakit berat digotong dengan
tandu beratap kain batik. Seseorang mencarikan bungabungaan yang telah luruh dari tubuh para penari dan
diobatkan padanya sebagai param atau minuman. Tarian
adalah keindahan gerak yang diajarkan oleh dewa kepada
manusia. Dan bunga yang terhias pada tubuh penari adalah
wadah tempat para dewa menurunkan berkahnya.
Barisan kuda telah tiga kali mengedari alun-alun. Para
peserta pertandingan telah duduk di dalam pendopo
kadipaten. Canang bertalu satu-satu. Keadaan menjadi
sunyi-senyap. Hanya kadang-kadang, di sana-sini, terdengar
tangis bayi. Desau angin dan deburan laut tak digubris
orang. Semua yang duduk di atas rumputan memusatkan
pendengaran pada suara-suara yang akan datang nanti dari
dalam kadipaten. Dan mata mereka antara sebentar
mengawasi gerak-gerak para pejabat yang berdiri di manamana, berpakaian serba kuning, juga selendang dan
destarnya. Dari kejauhan nampak seperti cuwilan kunyit
sedang di jemur. Itulah para peseru yang akan menyerukan
percakapan yang terjadi di pendopo nanti.
Di dalam pendopo sendiri Sang Adipati telah duduk di
atas tahta gandingannya. Semua pembesar pribumi duduk
bersila di kanan dan kiri belakang tahta. Lain dari
kebiasaan, Tholib Sungkar Az-Zubaid mendapat kursi kayu.
Tempatnya ndnlnh di pinggir kanan, hingga lskak tak
mendapat kursi. Ia berdiri di tempatnya yang biasa di
pinggir kiri, dan dengan demikian mendapat kebebasan
menyemburkan pandang kebencian pada orang Moro itu.
Tidak salah lagi, pikir Syahbandar Tuban, semangkin
had tangannya semakin mendekati bandarku juga. Dengan
dia Sang Adipati takkan bakal melakukan perlawanan
terhadap Peranggi dan Ispanya. Hanya segeraman dan
kejengkelan berkiprah dalam hatinya sejak orang Arab itu
mendarat di Tuban. Sekarang dia mendapatkan bangku
pula! Alamat Sang Adipati telah jatuh ke dalam
genggamannya. Keparat! Laknat!
Dan para punggawa pun sudah yakin sekarang: Sayid itu
akan segera jadi pejabat tinggi dan penting. Sebentar nanti
mungkin akan diumumkan.
Seorang punggawa, yang mewakili dewan penilai,
dengan lisan telah mempersembahkan nama para juara
yang dibacanya dari lontar. Dengan suara lantang para
peseru meneruskan bacaan itu ke jurusan alun-alun. Para
peseru di alun-alun meneruskan lagi ke tempat-tempat yang
lebih jauh. Setiap sesuatu selesai diumumkan sorak-sorai
berderaian mengegongi.
Galeng tersebut sebagai juara gulat untuk tahun ini,
dengan peringntan, ia harus bermain lebih patut. Sorak
yang mengikuti terdengar ragu-ragu. Seluruh penonton dari
Awis Krambil membisu. Seakan semua itu sebagai ucapan
ikut berdukacita pada juara gulat dua kali berturut yang
bakal kehilangan kekasihnya. Bahkan peringatan itu pun
terdengar sebagai pendahuluan bencana atas dirinya.
Nama para juara telah selesai disebutkan. Orang masih
juga tak dengar nama Idayu. Seluruh hadirin sunyi
membisu dalam kecucukan dan ketegangan. Idayu!
mengapa dia? Mengapa tak disebut? Apa sedang terjadi?
Tapi akhirnya nama itu disebutkan juga: “Juara tiga kali
berturut untuk tari, Idayu, dari desa perbatasan Awis
Krambil!” Para peseru meneruskan ke seluruh alun-alun.
Sorak sorai gegap-gempita, berderai-derai seperti gelombang
semudra, bergulung seperti hendak membenam bumi.
“Setelah dua puluh tahun ini, muncul, sekarang juara
tiga kali berturut! Dua puluh tahun! Ingat-ingat. Dan
namanya: Idayu. Desanya Awis Krambil! Tenang. Sang
Adipati Tuban berkenan bertitah….” Sunyi-senyap.
Di dalam pendopo, Syahbandar Tuban tak hentihentinya melirik pada Tholib Sungkar Az-Zubaid. Orang itu
sedang duduk tenang menikmati kegembiraan yang
berlangsung di depan matanya sambil mencicipi
kehormatan yang semakin meningkat juga: mendapat kursi
kayu satu-satunya! Nampaknya ia tak peduli orang senang
atau tidak terhadap dirinya, asal Sang Adipati berkenan,
dan semua sudah be res. Apa peduli yang lain-lain?
”]uara tiga kali berturut” Sang Adipati memulai dengan
suara pelahan, kata demi kata. “I-da-yu!” ia menyebut
nama itu dengan perasaan meresap seakan sedang
mencicipi madu.
Kata-katanya, dengan gaya dan nada sama,
berkumandang melalui para peseru ke seluruh alun-alun.
“Ketahuilah, juara kesayangan seluruh Tuban. Tak
pernah ada kecuali kau: satu perpaduan antara keindahan
tubuh, kecantikan wajah, keagungan tari. Hanya kau!
Seluruh Tuban berbahagia dapat menyaksikan dalam
hidupnya seorang dewi tiada tandingan.”
Dan kata-kata penguasa Tuban itu lebih mendekati
rayuan danpada amanat. Juga sampai sejauh itu Sang
Adipati tak juga menyebut-nyebut kebesaran nama Tuhan,
atau Allah, atau Maha Dewa atau Maha Budha atau Sang
Hyang Widhi. la sengaja hendak menenggang semua agama
rakyatnya. Ia hadapi mereka semua sebagai kawula atau
tamu, bukan sebagai pemeluk sesuatu agama.
“Sang Adipati Tuban,” ia meneruskan, “dan seluruh
negeri Tuban. Idayu, memuja kau. Kami dapat mengerti
mengapa mereka semua menghendaki agar kau selalu dapat
dikagumi dan dipuja di ibukota ini”
Sang Adipati berhenti bicara, memberikan kesempatan
pada para peseru untuk melakukan kewajibannya. Orang
bersorak ragu, kemudian menggelimbang sejadi-jadinya,
kemudian ragu-ragu lagi. Sorak itu panjang panjang sekali,
sehingga canang kadipaten dipukul tiga-tiga untuk memberi
peringatan. Lambat-lambat sorak itu mereda.
Sang Adipati tersenyum puas-puas dan mengerti: ia
mendapat sokongan rakyatnya wajahnya berseri-seri. Ia
pandangi Idayu di tempat duduknya dan sedang
mengangkat sembah. Gadis perbatasan itu selalu tunduk
menekuri lantai.
“Kau dengar sendiri bagaimana mereka menyetujui,”
Sang Adipati meneruskan. “Pastilah kau sendiri juga
setuju.”
Idayu tetap menekuri lantai.
“Orang tua-tua mengerti, Idayu, dan kami, Adipati
Tuban juga mengetahui, ada aturan khusus bagi juara tiga
kali berturut. Idayu! Mengapa kau menggigil?”
Kata-kata Sang Adipati, juga turun-naiknya nada,
berpendar-pendar ke alun-alun melalui para peseru.
Sebentar sorak-sorai meledak, kemudian mendadak padam.
Sunyi-senyap.
“Dengarkan baik-baik. Usahakan jangan menggigil.
Siapa pun mengerti kebahagiaanmu, Idayu. Kebahagiaan
yang terlalu amat sangat, yang bisa kau dapatkan hanya di
bumi Tuban ini. Berbahagialah orangtua yang pernah
melahirkan kau. Berbahagialah anak-anak yang bakal jadi
keturunanmu. Dengarkan baik-baik, kau. Idayu, juara tiga
kali berturut, kau mendapatkan….”
Juga Galeng menggigil. Ia rasai pedalaman dirinya
menggeletar, karena cemburu, karena geram, karena
ketiadaan daya menghadapi penguasa mutlak negeri Tuban,
karena tak sudi kehilangan amarah-sendiri. Ia rasai katakata manis Sang Adipati sebagai rayuan dan sebagai
pemula kehancuran kebahagiaan dan impiannya. Itukah
arti kekuasaan Sang Adipati yang diejek dan ditertawakan
oleh Rama Cluring? Dengan kekuatan batin luar biasa ia
tindas semua perasaannya. Dan setelah semua tertindas,
dengan malu-malu muncul ketakutan: ketakutan pada
hukuman yang diancamkan oleh kepala desa. Apakah yang
harus ditakuti oleh seorang yang akan kehilangan harapan?
Ia tertawakan dirinya sendiri. Segala macam hukuman
takkan berarti. Kalau soalnya hanya mati, berapa kali saja
ia telah hadapi maut panggung gulat! Ketakutannya hilang.
Yang muncul sekarang kekuatiran: jangan-jangan Idayu
sendiri setuju dan dengan sukarela menerima tangan Sang
Adipati.
Keringat dingin mulai bermanik-manik pada
tengkuknya.
Sorak-sorai telah padam. Sang Adipati meneruskan:
“Pertama, dengarkan baik-baik, Idayu dan semua kawula
Tuban. Pertama, hak menerima dan mengenakan cindai
penari yang tak pernah dikenakan penari siapa pun selama
dua puluh tahun ini….”
Sorak-sorai. Galeng mengangkat pandang menetak
wajah Sang Adipati.
“… Dan perhiasan serta pakaian pribadi, perhiasan serta
pakaian penari, seluruhnya dari emas dan kain pilihan…
permata….” Sorak-sorai!
“Terimalah sendiri karunia Adipati Tuban ini, kau,
pujaan Tuban! Maju, jangan ragu-ragu, jangan gentar…
Ayoh!”
Galeng bukan hanya mengangkat pandang ia
mengangkat kepala untuk melihat kekasihnya di depan sana
menerima karunia langsung dari penantangnya, penguasa
Tuban. Ah, Tuban dan hati pujaan itu! Kembali. Cemburu
menyambar hati dan membutakan pandang. Ia angkat
kedua belah tangan dan ditutupkan pada matanya. Ia tak
mau melihat itu. Idayu! Jangan sentuh tangan berkarunia
itu. Jangan biarkan kulitmu terkena olehnya, Idayu.
Nafasnya pengap. Cepat tangan kanannya menggerayang
pada pinggangnya. Tak ada keris di situ. Dan ia lihat Idayu
merangkak maju dan beringsut sambil sebentar-sebentar
mengangkat sembah.
Di alun-alun para hadirin tak lagi dapat tenang pada
tempatnya. Mereka tak puas hanya mendengar. Sekiranya
tak ada aturan tak boleh lebih tinggi dari kepala Sang
Adipati, mereka sudah berlarian mencari pohon dan naik ke
atasnya.
“Dengan kejuaraanmu, dengan kecantikan, dengan
segala keluwesan dan daya tarik yang ada padamu, kami
ada rencana untukmu.”
Sunyi-senyap.
Tiba-tiba para peseru meneruskan ke alun-alun: “Yang
terhormat tamu Gusti Adipati Tuban, bernama Sayid
Habibullah Almasawa dari negeri Andalusia berkenan
bersembah.”
“Ya, Gusti jadikanlah bunga itu hiasan kadipaten!”
Sunyi-senyap. Tak ada sorak. Tiba-tiba menyusul
dengung yang tak dapat difahami dari seluruh alun-alun.
“Biar dia tinggal jadi penari untuk seluruh Tuban!”
seseorang memekik.
Dan suara pekikan itu dapat makian dari para peseru.
“Titah Gusti Adipati selanjumya,” peseru meneruskan,
“hak kedua bagi juara tiga kali berturut, dengarkan, Idayu,
hak bagi penari terbaik di seluruh negeri,” sunyi-senyap,
“hak kehormatan yang tak dipcroleh oleh siapa pun: hak
mengajukan permohonan apa saja yang sesuai dengan
kepatuhan yang berlaku.”
Sorak-sorai bergulung-gulung.
Rangga Iskak tak mampu mengikuti seluruh jalannya
perishya. Mungkin inilah untuk pertama kali dalam
jabatannya selama sekian belas tahun ia tidak dapat
menyimak dengan baik. Melihat orang Moro itu masih juga
duduk dengan senangnya, bahkan berani-berani
mempersembahkan saran yang sangat memalukan sebagai
orang yang mengaku keturunan Nabi, saran terhadap
seorang penguasa kafir, kukuh dan semakin kukuh
pendapamya: dengan menyingkirkannya dari bumi yang
sedang diislamkan ini aku akan mendapat pahala besar.
Untukmu, Moro, hanya kematian saja yang terbaik. Segala
yang telah terhina di sini tak boleh susut, tak boleh
berkurang, apa lagi rusak. Awas, kau, Moro!
Di tempat duduknya, di belakang Idayu. Galeng merasa
seperti menduduki bara. Beberapa peserta dari Awis
Krambil beringsut mendekatinya.
“Aku ikut memohon untuk kebahagiaanmu, Kang
Galeng” teman di sampingnya berbisik dan dipegangnya
lengan juara gulat itu.
Galeng membalas hiburan dengan meletakkan tangan
pada lengan orang itu. Berbisik membalas: “Hidup atau
mati, takkan dapat aku lupakan kebaikanmu.”
Dan Idayu masih juga belum kembali ke tempatnya. Ia
masih duduk menunduk di bawah kaki Sang Adipati.
Semua mata, kecuali Rangga Iskak, tertuju padanya.
Dari atas kursinya Tholib Sungkar Az-Zubaid
memandangi gadis itu dengan mata menyala-nyala menelan
seluruh kehadirannya. Mata itu besar bulat, hitam-lekam
diwibawai oleh alis dan bulu mata tebal serta rongga mata
yang dalam dan gelap. Dan mata yang menyala-nyala itu
memancarkan kepongahan, gila hormat tanpa batas, rakus,
bernafsu, tanpa kesabaran dan tidak menenggang, dan lebih
daripada itu licik: yang ada hanya aku, semua untuk aku.
Hening, tenang. Hanya nafas manusia terdengar.
Kemudian: “Mengapa kau menangis, Idayu?” para peseru
meneruskan. “Betapa besar kebahagiaan yang sedang
berbunga dalam hatimu. Adipati Tuban bersabar menunggu
permohonanmu. Kami bersabar. Keringkan airmatamu,
puaskan tangismu, juara, karena kebahagiaan yang lebih
besar lagi sedang menunggumu. Juga semua kawula Tuban
ikut bersabar. Juga mereka yang sedang diganggang terik
matari di alun-alun sana, Idayu!”
Galeng memusatkan pandang pada Sang Adipati,
penantang tiada terlawan itu, dan melihat pada punggung
Idayu yang tersengal-sengal. Kalau Idayu menyerahkan
dirinya, ia akan lompat, mematahkan lehernya, dan
merangsang Sang Adipati untuk menerima ujung-ujung
tombak yang menunggu. Idayu takkan menyerahkan
dirinya, ia yakinkan dirinya, dia juga tahu harga diri dan
kehormatan. “Kau berdua akan jadi sepasang merpati,”
Rama Cluring merestui sebelum meninggalnya. “Semoga
keturunan kalian akan bercipta dan mencipta, mampu
mengembalikan kebesaran dan kejayaan yang telah hilang.”
Rama Cluring lebih berharga dari pada kekuasaan mutlak
yang kini dihadapinya.
Para punggawa tersenyum-senyum dalam hati, juga para
pembesar, mengetahui betapa ramah dan manis Sang
Adipati sekarang dan sekali I ini. Betapa pemurah dengan
kata dan senyum orangtua yang sudah serba putih itu.
”Sudah siapkah kau, Idayu?” Sang Adipati bertanya
lemah-lembut. “Mendekat sini, orang cantik mengapa
menjauh lagi? Apakah perlu Adipati Tuban menyekakan
airmatamu?!”
Peseru-peseru meneruskan. Dan keheningan kembali
menyusul. “Ayoh persembahkan permohonan.”
“Ampun! Gusti Adipati Tuban sesembahan patik,”
akhirnya keluar juga kata-kata Idayu yang menggigil
tersendat-sendat. Para peseru meneruskan dengan terbatabata. “Apa yang patik akan persembahkan,… sebagai
permohonan….”
Galeng mengepalkan tinjunya. Kembali tubuhnya
menggigil. Otot-otot yang kukuh ternyata tak kuasa
menahan gelombang perasaan yang memukul menggebugebu. Mengapa lama betul Idayu menyelesaikan katakatanya?
“Harapan patik… semoga permohonan patik… yang
tiada sepertinya takkan menggusarkan Gusti Adipati Tuban
sesembahan patik.” Kata-kata Idayu tersekat macat.
Rangga lskak sekali lagi melirik pada musuhnya. Ia telah
serahkan cepuk tembikar itu pada Yakub. Terserah pada dia
bagaimana akan menggunakannya, apakah melalui kulit,
mulut atau usussi durhaka itu. Terserah. Racun campuran
bisa ular, yang biasa dibawa ke mana-mana oleh petualangpetualang Benggala dan selalu jadi kegentaran perantauperantau lain, sekarang datang waktunya untuk dicoba
keampuhannya. Sayid Habibullah Almasawa akan hanya
sebentar terkejut, kemudian seluruh jaringan syarafnya akan
lumpuh, tanpa sakit, dan… tiada lagi masalah Syahbandar
lama atau baru, karena ia tetap dan akan tetap jadi
Syahbandar Tuban. Tetapi di mana Yakub? Mengapa ia tak
juga nampak dan melapor? Bagaimana ia akan menjalankan
tugasnya?
Hampir pada banjar terakhir di alun-alun seseorang
peseru meneruskan: “Ayoh, Idayu…!”
Sekarang Idayu berdatang sembah: “Ampunilah patik, ya
Gusti sesembahan patik. Bukan maksud patik hendak
menggusarkan Gusti. Permohonan patik yang tidak
sepertinya adalah…”
“Betapa susah berhadapan dengan Gusti Adipati”
seseorang menyeletuk.
“Diam!” bentak seorang peseru.
“Nah, aku teruskan persembahan Idayu. Dengarkan…
adalah… adalah… Gusti Adipati Tuban sendiri.. adalah…
Kakang Galeng… Juara gulat!”
Sekarang Gusti Adipati Tuban bertanya: “Kami tidak
mengerti, Idayu. Apa maksudmu!?”
Tetapi para hadirin di seluruh alun-alun mengerti belaka.
Sorak-sorai meledak sejadi-jadinya. Hadirin di alun-alun
lupa daratan, lupa pada semua aturan. Mereka
berlompatan, berjingkrak, kegirangan. Para peseru tak
mampu memadamkan keriuhan. Juga yang sakit di atas
tandu-tandu memerlukan tersenyum dan bersyukur pada
Hyang Widhi. Mereka dapat menangkap maksud Idayu.
Ah, perawan mulia itu! Dan rakyat Tuban sejak dahulu juga
memuja cinta yang berpribadi, disemerbaki kesetiaan dan
ketabahan menghadapi hidup dan mati. Mereka bersorak
untuk kemenangan cinta. Udara menggeletar seakan tiada
kan habis-habisnya. Canang peringatan bertalu tanpa hasil.
Di dalam pendopo sendiri orang melihat wajah Sang
Adipati tiba-tiba merah padam. Suaranya agak sengit: “Apa
maksudmu? Katakan yang jelas!”
Galeng tak mampu lagi mendengarkan. Tanpa
disadarainya airmata haruan telah meleleh jatuh setelah
menyeberangi pipinya, membasahi lengan tern an yang
menghiburnya.
Teman itu melihat pada airmata itu dan dengan diamdiam mengecupnya dengan bibir sebagai berkah dari Hyang
Kamajaya, untuk mendapatkan kekuatan cinta semacam itu
juga. Kemudian ia belai-belai punggung Galeng.
“Patik memohon, ya Gusti Adipati Tuban sesembahan
patik,’ mendadak suara Idayu menjadi keras, kuat dan
tabah setelah diberanikan oleh sorak-sorai, “semoga Gusti
Adipati Tuban berkenan, Gusti Adipati Tuban sendiri,
merestui patik dan Kakang Galeng sebagai istri dan suami.”
Idayu telah mempersembahkan keinginannya sebagai
hak yang telah dikaruniakan padanya. Dan Sang Adipati
semakin memahami persembahan itu. Kedua belah kakinya
yang tidak bergerak selama ini dilempangkan kejang.
Matanya membeliak. Tangan kanannya berayun, kemudian
mencengkam hulu keris. Dadanya terengah-engah.
Suasana pendopo tegang. Para peseru bungkam.
Mati kau, Idayu! Mati kau di ujung keris, pikir orang.
Dan para punggawa dan pembesar mengangkat kepala
untuk mengagumi perawan desa yang gagah berani itu.
Tholib Sungkar Az-Zibaid menjatuhkan tinju pada telapak
tangan kiri, meringis.
Di alun-alun suasana kembali membuncah riuh-rendah.
Tangan Sang Adipati terhenti pada hulu keris itu.
Nampak ia sedang bergulat menguasai diri. Cengkaman
pada hulu senjata itu terurai dan tangannya jatuh lesu di
samping badan. Ia mencoba tersenyum sambil mempeibaiki
letak kaki.
Gelombang sorak-sorai: masih membeludag
memandangi gunung melerus. Canang peringatan yang
makin bertalu tenggelam dalam lautan sorak-sorai: I-da-yu,
I-da-yu, I-da-yu-I-da-yu! Beberapa orang nampak seperti
kesetanan, mengangkat naik pacamya tinggi-tinggi, lupa,
tak ada orang lebih tinggi dari kepala Sang Adipati.
Banyak di antara wanita menghapus airmata, tersedansedan terharu, menemukan seseorang yang mewakilinya
sebagai makhluk pilihan para dewa.
Di tengah-tengah keriuhan itu seorang nenek menutup
mata, menunduk sampai-sampai ke tanah. Memohon:
“Berbahagialah kau, wanita pilihan. Kahyangan terbukalah
bagi cinta setia. Kau pilih petani desa daripada adipati
berkuasa. Ya dewa batara: Betapa berbahagia ada jaman
seindah ini.”
Mendadak keriuhan reda. Suasana baru menguasai
keadaan. Orang duduk kembali di tempat masing-masing
dengan tertib. Pada suatu jarak seseorang berdiri, tak peduli
pada larangan, suaranya lantang menyanyikan nyanyi
pujaan untuk kebesaran Dewa Kamajaya dan Dewa
Kamaratih. Setiap orang ikut menyanyi, tak peduli apa
agama mereka: Syiwa. Buddha. Wisynu. Islam.
Kesyahduan menguasai bumi, langit dan manusia Tuban.
Di pendopo Sang Adipati bermandi keringat. Mendengar
mazmur menggelora di alun-alun, dan mengikuti tradisi
lama, ia pun berdiri, turun dari tahta dan berlutut di
hadapan Idayu. Dan waktu mazmur selesai ia angkat kedua
belah tangan ke atas sambil berdiri. Semua mata bertemu
pada tangan berkuasa itu.
Orang telah bayangkan Idayu mati di ujung keris,
menjelempah bermandi darah, karena demikian memang
adat raja-raja Jawa. Dalam bayangan orang, Galeng akan
maju beringsut bersujud pada kaki Sang Adipati untuk juga
menerima tikaman keris. Pada pinggangnya. Jantung orang
berdebaran kencang.
Temyata lain lagi yang terjadi: “Restu untukmu, Idayu,
wanita utama Awis Krambil dan Tuban. Seluruh Tuban
bangga padamu. Dengarlah orang melagukan nyanyian
puja untukku…, Dengarkan orang bersorak-sorai
untukmu….” kata-kata Sang Adipati tersekat pada
tenggorokan.
Orang melihat penguasa itu menelan ludah, sekali, dua
kali – suatu pantangan bagi orang yang sedang dihadap.
Kembali nyanyi puja untuk cinta menggema menyarati
langit Tuban. Dalam keadaan seperti itu Sang Adipati
meneruskan, tanpa duduk di atas tahta: “Idayu, kekasih
Tuban, hari ini akan kami kawinkan kau dengan Galeng.”
Sorak-sorai gila di alun-alun.
“Galeng! Maju kau, juara gulat yang berbahagia!”
Galeng maju dengan waspada, berjalan merangkak seperti
katak, menyembah beberapa kail Kemudian duduk di
samping kekasihnya.
“Benarkah ini yang bernama Galeng, Idayu? Pria yang
engkau cintai?”
“Benar, Gusti Adipati Tuban sesembahan patik.”
“Lihat dulu baik-baik, jangan keliru.”
“Benar, Gusti, tidak keliru.”
“Tidakkah kau akan menyesal, Idayu?”
“Demi Hyang Widhi, tidak, Gusti Adipati sesembahan
patik”
“Katakan ‘demi Allah’”, Tholib Sungkar Az-Zubaid
berseru dari tempatnya.
“Demi Allah, ya Gusti.”
“Kau yang bemama Galeng dari Awis Krambil?”
“Inilah patik, Gusti Adipati Tuban sesembahan patik.”
“Jadi kaukah kekasih Idayu?”
“Demikian adanya, Gusti.”
Kembali Sang Adipati mengangkat lengan: “Dengarkan
dan sakakan semua kawula Tuban. Pada hari ini, dengan
kekuasaan kami, di kawinkan juara tari Idayu dengan juara
gulat Galeng, dua-duanya dari desa Awis Krambil.”
Sorak-sorai bersyukur membubung ke angkasa.
“Kami restui perkawinan kalian. Anak-anak berbahagia
akan menjadi keturunan kalian….”
“Auzubillah!” terlompat kata dari mulut Rangga Iskak.
Kaget pada seruannya sendiri ia meneruskan dalam hati:
”Dasar kafir turunan kafir. Masa semacam itu
mengawinkan orang? Tidak syah! Mengaku Islam pula.
Munafik. Kufur.”
‘Tidak syah!” gumam Tholib Sungkar Az-Zubaid dalam
bahasa Arab. Sang Adipati hendak bermain-main dengan
hak dan hukum. Ya, ya, memang cerdik dia, Idayu dengan
begitu takkan jadi hak bagi si pegulat itu. Dia akan tetap
milik semua penduduk Tuban. Mungkin kau sendiri yang
akan merampasnya kelak, Adipati. Dan kau juara gulat
yang sebodoh banteng. Hanya badanmu saja yang besar.
Otakmu cuma sebesar biji korma kering.
“Kakang Patih, persembahkan sesuatu pada kami.”
Dari bawah kursi, Sang Patih Tuban mengangkat
sembah. Kemudian dengan suara pelahan: “Ampun, Gusti
Adipati sesembahan patik, ada pun segala yang telah Gusti
ganjarkan benar belaka adanya. Kawula Tuban sangat
memuja cinta yang murni, ya Gusti. Dan bukan tanpa
bahaya Idayu memilih suaminya.”
Dari alun-alun sorak-sorai menyerbu ke dalam pendopo,
membenarkan Sang Patih. Kemudian hening.
“Juga bukan tanpa bahaya bagi Galeng. Ia pun telah
menunjukkan kejantanan, Gusti Adipati Tuban sesembahan
patik. Ia telah maju atas panggilan kekasihnya. Kalau
bukan karena pemurah Gusti, bukan kekasih ia dapatkan,
tapi ujung keris.”
“Kau benar, Kakang Patih.”
“Ampun, Gusti, adapun akan gadis ini, tidak lain dari
penjelmaan Sang Hyang Dewi Kamaratih, dan perjaka ini
penjelmaan Sang Hyang Kamajaya. Berbahagialah
pengantin baru yang agung, direstui oleh semua kebajikan.
Terkutuklah siapa saja yang mengganggu percintaan
mereka.”
Sebagian terbesar pengantar sumbangan, pria dan
wanita, tua dan muda, menolak disuruh pulang. Mereka
bermaksud menyumbangkan tenaga juga. Maka jadilah da
pur raksasa pada malam itu juga. Menyusul kemudian
datang bondongan grobak mengantarkan kayu bakar dan
minyak-minyakan. Dan api pun menyala dalam berpuluh
tungku.
Di dalam rumah-rumah Tuban Kota orang tua-tua
memerlukan menyanyikan kembali mamur KamaratihKamajaya, mengajak anak-anak gadis mereka ikut serta
menyanyikan, seakan-akan syair itu adalah pe rasa an
mereka sendiri.
“Nah, Nak. begitu seyogyanya jadi wanita. Jadilah
wanita utama seperti Idayu. Untuk cintanya dia berani
hadapi segala, termasuk orang yang paling berkuasa di
bumi Tuban. Ketahuilah, tanpa cinta hidup adalah sunyi,
karena raga telah mati dan dunia tinggal jadi padang pasir.
Bukankah itu kata-kata dalam mamur sendiri.
Malam itu Idayu dan Galeng mendapat tempat sendirisendiri, dua-duanya adalah tempat yang jauh lebih patut
bagi dua orang anak desa perbatasan.
Idayu dilingkari oleh wanita-wanita tua, mewejanginya
dengan seribu satu nasihat, memandikannya, dalam
jambang air bunga, memotongi bagian-bagian runcing dari
giginya, kemudian memaraminya untuk mendapatkan kulit
yang lunak dan berseri pada keesokan harinya.
Ia ikuti segala harapan yang ditumpahkan pada dirinya.
Ia berbahagia karena dapat membahagian kekasihnya.
Selesai berparam, seorang nenek menyanyikan untuknya
lagu-lagu tua, yang ia sudah banyak tak tahu artinya,
kemudian nenek itu menerangkan artinya dan memberikan
tafsiran. Ia mendengarkan lebih khidmat dari pada upacaraupacara yang pernah disaksikannya. Ia tahu segala macam
upacara ini akan segera selesai, dan sebagai istri dari
suaminya ia akan kembali ke desa membawa keharuman
dan kebesaran.
Lain halnya dengan Galeng. Sekalipun ia dilingkari priapria tua, mewejanginya dengan seribu satu nasihat, memijiti
seluruh tubuhnya agar otot-otomya kendor kembali,
ingatannya tak juga mau lepas dari Rama Cluring dan
segala akibat yang mungkin timbul. Ancaman kepala desa
itu membuatnya terus-menerus tegang dalam kewaspadaan.
Dan ia menduga, apa yang diperbuat oleh Sang Adipati
sekarang ini hanya satu muslihat untuk memusnahkannya
dari muka bumi.
Ia tak dengarkan wejangan-wejangan ;
tu. Ia tak rasakan
tangan yang mengendorkan otot-ototnya. Tiga orang
melulurnya berbareng. Seorang pada bagian bahu, yang lain
pada bagian pinggang. Yang ketiga pada bagian kaki. Dan
nasihat mereka tak putus-putusnya bersahut-sahutan seperti
burung berkicau.
Galeng berusaha keras mengingat-ingat kembali….
Orang tua bertubuh kecil, pedok, karus semua sudah
serba putih karena tuanya dengan cepat mengutip Negara
Kertagama dan Pumntmi. Menyebutkan kerajaan-kerajaan,
negeri-negeri dan kota-kota seberang yang berlindung di
bawah kekuasaan Majapahit. Bahwa di mana tentara laut
Majapahit mendarat, di sana pula orang berkerumun
hendak mendengarkan berita dari Bumi Selatan, juga
hendak mendengarkan centa-berangkai Panji dan
Candrakirana.
“Selama kalian tak mampu melihat dunia, selama itu
kalian telah diperlakukan oleh Tuban bukan sebagai
kawula, tetapi sebagai musuh yang telah dikalahkan dalam
perang. Upeti! Upeti! Upeti saja yang diketahui Tuban dari
kalian. Barang bakal dan barang jadi…!”
“Jangan ditahan kaki ini, Galeng biar aku tekuk,” salah
seorang pemijit menegur.
Dan Galeng mengendorkan otot-otot kakinya.
”Bagian ini sangat tegang, Galeng, terlalu lelah.”
Kembali ia mengenangkan mendiang Rama Cluring:
Orang setua itu, tak punya sesuatu pun keeuali diri,
kebenaran dan kepercayaan, mengajarkan kebenaran di
mana-mana, dan juga di mana-mana menimbulkan
kekaguman orang, pengikut, juga ketakutan bagi mereka
yang tak membutuhkan kebenaran….
“Telentang, kau, Galeng!”
Juara gulat itu telentang. Otot-otot dan dada dan leher
sekarang mendapat giliran.
“Tahu-tahu kau jadi pengantin kerajaan, Leng. Dasar
nasib sabut dilempar ke kali tetap mengapung.”
“Karunia Hyang Widhi muncul di mana-mana,” ia
menjawabi.
Semua ototnya telah jadi kendor. Param itu menusuk. Ia
merasa nyaman dan segar. Ia terlena, terlelap, berlayar di
alam mimpi…
Azan subuh dari menara mesjid Kota dan pelabuhan
belum lagi lama padam. Dari mana-mana terdengar
gamelan mulai bertalu, mendesak deburan laut,
membangunkan mereka yang masih tidur. Orang bergegas
mandi dan mengenakan kembali pakaian terbaik. Bereepateepat orang selesaikan sarapan, membersihkan rumah dan
membuka semua pintu lebar-leban kemurahan Kamaratih
dan Kamajaya yang sedang turun dari Tuban hendaknya
juga memasuki rumah dan hati mereka. Kemudian mereka
membersihkan halaman dan menaburkan bunga-bungaan
dan beras kuning pada pintu rumah dan gerbang.
Matari dengan cepat meninggalkan permukaan laut.
Kapal-kapal dan perahu muncul dalam hiasan berbagai
wama umbai-umbai. Suasana petaruhan digantikan oleh
pesta. Sela Baginda tahu-tahu telah dipagari dengan janur
kuning dan rangkaian bunga-bungaan, Umpak tugu
Airlangga itu hampir semua tertutup olehnya.
Pada pagi itu juga dari mulut ke mulut orang di
pelabuhan bercerita: subuh tadi Sang Adipati memerlukan
datang ke kamar pengantin yang sudah penuh-sesak dengan
orang tua-tua. Pada mereka ia berkata: “Hari ini Soma.
Untuk mengenangkan hari pesta besar ini, Soma kami ubah
jadi Senin.” Kata berita itu pula: Sang Adipati kelihatan
pucat, mungkin malam-malam tidak beradu. Dengan
tangan sendiri ia telah taburkan daun bunga pada kepala
dua orang pengantin desa itu.
Bunyi gamelan semakin riuh – dari mana-mana. Dalam
rombongan orang bergerak menuju ke kadipaten. Paling
depan adalah gamelan mereka, dengan atau tanpa penari,
untuk menyambut keluarnya pengantin dan juga untuk
mengiringkannya. Dengan kadipaten telah penuh-sesak
dengan manusia dan kegiatannya. Sebuah bonang telah
riang sekali karena terlalu tua dan terlalu bersemangat
orang memukulnya.
Hidangan melimpah-ruah datang. Mendadak game\an
dan sorak-sorai yang mengharap agar pengantin segera
turun, berhenti. Suara suling terakhir melengkung
kemudian padam. Hidangan pagi yanghangat menguap-uap
itu membikin orang lupa bahwa besok masih ada hari lain.
Semua yang terhidang tersantap. Dan minum air gulasantan pagi itu tercampur dengan pandan-wangi
menyatakan, bahwa mereka sungguh-sungguh sedang
berpesta. Untuk daerah Tuban, pandan-wangi selalu
didatangkan dari kabupaten lain, maka merupakan barang
mewah. Kolak dengan ha rum kayu-manis. Gulai ayam,
kambing dan satai, lemper dan pisang goreng. Dan begitu
perut kenyang orang hampir-hampir lupa mereka datang
untuk mengiringkan pengantin. Orang tak memperhatikan:
tak ada ikan laut dihidangkan. Matari mulai bersinar
gemilang.
Tandu pengantin nampak meninggalkan kadipaten,
memasuki pelataran depan. Sebentar semua tangan
melambai-lambai menyambut. Seorang pendeta Buddha
membunyikan giring-giring mas. Dan seorang bocah
memercik-mercikkan air dari jambang kuningan yang
dipikul oleh empat orang dewasa. Air itu menitikan jalanan
itu. Akan ditempuh pengantin.
Tiba-tiba hening sunyi. Terdengar gumam mantramantra dari pendeta itu. Begitu giring-giring berhenti
berbunyi, seorang-orang tua, memekik memecah
keheningan: “Sambutl” Giring-giring. Berbunyi lagi.
Berhenti. “Sambut!” pekik orang tua itu. Giring-giring.
Pekikan. Giring-giring. Pekikan Gumam Pendeta Buddha.
Pekikan. Susul-menyusul kemudian bergulung jadi nyanyi
bersama dalam mazmur cinta, semua membubung sy ahdu
di langjt pagi. Juga kanak-kanak pada menekur ikut
menyanyi. Ah, sudah lama nyanyian puja itu tak pernah
terdengar. Mendadak semua orang kini teringat lagi.
Kemudian semua tangan terangkat ke langit seakan hendak
menerima jabatan dari Kamajaya dan Kamaratih yang akan
turun ke bumi. Juga pengantin di atas tandunya, Juga para
penandu. Dan begitu nyanyi puja berhenti, tandu mulai
berjalan pelan menuju ke gapura.
Sang Adipati kelihatan berdiri di pendopo. Para
pembesar dibelakangnya. Ia memang kelihatan pucat. Dan
tandu berjalan pelahan turun ke jalanan alun-alun. Tandu
itu sendiri terbuat daripada kayu berukir. Atap dan
dindmgnya terbuat daripada sutra kuning tipis terpilih dan
berlipat-lipat. Di sana-sini diselang-seling dengan sutra biru
laut dan merah dan coklat. Tali-tali dari rangkaian melati
berjumlah kenanga merupakan garis-garis busur tergantung
dari tiang ke tiang. Dan tandu itu bergerak di antara kepala
semua manusia.
Begitu nyanyi puja terakhir selesai, gamelan mulai riuh
berbunyi. Orang bersorak bersambut-sambutan. Dua orang
penari berpakaian dewa Kamajaya dan dewi Kamaratih
menjadi pembuka barisan. Bersama dengan penari-penari
lain mereka memainkan riwayat Galeng dan Idayu di
sepanjang jalan arak-arakan.
Sejoli pengantin itu duduk dalam sikap resmi. Mereka
tak tertawa tak tersenyum, seperti sepasang area batu.
Sebentar jalan.
Idayu mengenakan kembang keemasan berkilat-kilat.
Perhiasan dari mas dan permata memancar gemerlapan
pada kepala, kuping, leher, tangan, dada dan perut. Galeng
bertelanjang dada. Destar-wulungnya dijelujuri rantai mas
dan perak. Pada dadanya tergantung kalung mas. Pula
dengan mainan bunga teratai perak dengan benang sari dari
mas. Kerisnya bersarung dan berbulu kayu sawo
bertatahkan intan baiduri.
Memang mereka tak ubahnya dengan pengantin
kerajaan.
Begitu tandu telah meninggalkan alun-alun dan mulai
menghindari kota tata-tertib barisan tak dapat lagi
dipertahankan. Gadis-gadis dan pemuda-pemuda
bersesakan untuk dapat menghampiri pengantin. Tandu
nampak antara sebentar terdorong ke kiri dan ke kanan,
oleng seperti perahu tanpa kemudi. Dan sepasang pengantin
itu tetap agung duduk di tempatnya.
Kota telah dikelilingi. Kirit arak-arakan menuju ke Sela
Baginda di pelabuhan. Gadis-gadis mulai semakin
mendesak untuk menghampiri Idayu. Mereka tak dapat
menahan godaan untuk menjengah Sang Kamaratih untuk
mendapatkan berkahnya. Dari samping lain para perjaka
berebut dahulu untuk menyentuh Galeng.
Para pengawal, serombongan kakek-kakek, tak mampu
lagi menjaga. Mereka hanya dapat berteriak-teriak
melarang. Suaranya lenyap dalam gelombang gamelan dan
deru angin darat. Yang dilarang pun tidak peduli.
Turunnya Kamajaya dan Kamaratih di atas bumi Tuban
mungkin tak bakal terjadi lagi dalam dua ratus tahun
mendatang. Kesempatan sekali ini takkan mereka biarkan
berlalu tanpa mendapatkan berkah dan kenangan. Kulit
pengantin yang sedang diliputi kasih para dewa harus
disintuh.
Mengerti akan keinginan mereka, Idayu dan Galeng
mengalah. Diulurkan tangan mereka keluar tandu. Serbuan
para perawan dan perjaka semakin menjadi-jadi. Yang tak
berhasil mendapat sentuhan mulai menyerang bungabungaan penghias. Dalam waktu sekejap bunga-bungaan
lenyap dari penglihatan mata.
Perawan dan perjaka terus mendesak. Makin padat dan
makin padat. Para pengawal semakin jauh tersisih. Orang
mulai menyerang dinding dan atap tandu.
Dalam waktu pendek tandu sudah menjadi gundul dan
pengantin pun terbuka seluruhnya terhadap surya dan
angin.
Sorak-sorai makin gegap-gempita. Dan gamelan terus
juga bertalu. Dan para penari terus juga berlengganglenggok sepasang jalan.
Arak-arakan hampir mendekati Sela Bagtnda. Para
perawan dan perjaka mulai menyerbu berusaha mengambilalih tugas memikul tandu. Mereka adalah yang tak dapat
menyentuh dan tak mendapat bunga, tak mendapat
serpihan sutra. Pergulatan terjadi. Tandu betayun-ayun di
udara seperti biduk terkena terjang angin beliung.
Dari mana-mana terdengar orang memekik melarang.
Gemuruh suara manusia dan taluan gamelan, kegalauan
antara getak dan bunyi dan debu yang mengepul ke udara,
menenggelam semua makna kata-kata. Dan tandu semakin
terguncang-guncang.
Idayu lupa pada sikap resminya. Tangannya
berpegangan erat-erat pada tiang tandu. Galeng berusaha
mempertahankan keselmbangannya dengan kedua belah
tangan mencekam tempat duduk. Matanya beipendaran
heran bertanya-tanya.
Sebuah pekikan tinggi melengking keluar dari mulut
seorang nenek pengawal Idayu: “Dewa Batara! Jangan
biarkan jatuh tandu itu’.”
Dan justru pada waktu itu tandu mulai miring, kemudian
hilang dari pemandangan bersama dengan dua sejoli
pengantin di atasnya. Arak-arakan berhenti seketika.
Gamelan bungkam. Tari-tarian mati. Deburan laut pun
membeku. Surya seakan hilang dari peredaran, kehilangan
teriknya.
Nenek pemekik terdengar menangis tersedu-sedu,
kemudian meraung: “Ampun, Dewa Batara, ampun!”
Pada wajah orang-orang nampak ketakutan dan
kekuatiran. Mereka berpandang-pandangan bingung. Suara
sedu-sedan dan memohon ampun pada Hyang Widhi mulai
menggelombang.
Satu lingkaran orang kaget telah berdiri mengelilingi
pengantin yang terjatuh dari atas tandu.
Ketegangan dan kekejangan.
Di hadapan mata batin orang mengawang kutukan para
dewa, karena membiarkan pengantin kekasih Kamajaya
dan Kamaratih terguling dari kedudukannya.
Suasana pesta berubah jadi menakutkan. Dari manamana membubung dengung mantra-mantra.
Dalam kerumunan orang Idayu berdiri dari tanah,
Galeng melompat bangun. Kedua-duanya diam tidak
bicara. Bersama-sama mereka memandang langit dan
menyembah. Selingkaran orang ketakutan itu tak
menyambut tangan yang diulurkan dari kejauhan itu. Baru
setelah ketahuan dua orang pengantin itu tak mengalami
tidera, dan syukur ganti bergema. Seorang mulai tahu apa
harus dikerjakan: membetulkan tandu agar pengantin naik
lagi. Galeng dan Idayu menolak.
Pengantin itu bergandengan. Tanpa bicara mereka
meneruskan perjalanan. Keramaian membuncah lagi. Tapi
para pengiring tepat di belakang pengantin diam membisu.
Pengantin menolak ditunjang.
Di Sela Baginda pengantin disambut dengan percikan air
bunga pada kaki mereka. Serombongan orang tua-tua
membawa mereka mengitari batu itu sampai tiga kali,
kemudian menyilakan mengambil bunga-bungaan penutup
bekas prasasti Airlangga. Bunga-bungaan itu mereka bawa
ke tepi laut dan mereka berdua taburkan sedikit demi sedikit
ke permukaan air.
Keadaan sunyi-senyap. Barisan yang telah memanjang
pada tepian mengawasi setiap bunga yang jatuh ke laut,
seperti sedang meneropong hari depan sendiri.
Bunga-bungaan itu mulai berapungan, naik-turun
bersama ombak, bergerak pelahan, makin lama makin
menjauhi pantai.
Masih tetap diam-diam semua mata mengikuti jalannya
bunga-bungaan. Dan yang mereka awasi tak ada yang bakal
kembali ke darat. Makin lama makin menjauh… jauh,
melalui tubuh-tubuh perahu dan kapal… menjauh,… jauh
… jauh….
Novel Arus Balikk Bab 5 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.
Bagaimana alur cerita dari novel Arus Balik Bab 5 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua.
Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.
Untuk membaca Novel Arus Balik bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.
Komentar
Posting Komentar