Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 4 Disini

Novel Arus Balik bab 4 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Arus Balik menceritakan tentang kisah Kedatangan Portugis di Bumi Nusantara dengan latar awal Abad XVI, yaitu ketika surutnya pengaruh Majapahit dan naiknya pamor Kesultanan Demak.

Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Arus Balikk Bab 4 Bahasa Indonesia Sekarang ini. 

4. Sayid Habibullah Al-Masawa

Armada Portugis itu berlabuh jauh, jauh, terlalu jauh

dari dermaga. Matari pagi sedang mengusir halimun yang

masih melembayung di seluruh Malaka. Layar kapal-kapal

dan… Pribumi masih dalam keadaan tergulung.

Tiang-tiangnya menuding langit yang tebal karena

halimun. Dan matari sendiri baru beberapa derajad dari

permukaan bumi. Sinar-suramnya yang berpantulan pada

permukaan laut berpendar-pendar lesu.

Jauh di bandar Malaka sana perahu-perahu dan kapalkapal itu masih pada tidur, berayun-ayun malas dibuai

ombak. Hanya perahu-perahu nelayan kecil-kecil nampak

hidup. Dan kalau pandang diangkat naik ke darat, mata

akan menampak atap-atap injuk, ilalang dan sirap dari

bedeng-bedeng pelabuhan. Jalanan-jalanan nampak

merupakan garis tipis kuning. Hanya beberapa orang

kelihatan mondar-mandir. Semua pria.

Lubang-lubang bulat pada lambung kapal-kapal Portugis

mulai terbuka. Moncong-moncong meriam mulai

bermunculan dari sebaliknya, Terdengar kemudian yang

banyak diceritakan orang: pekik bersama Mariam. Meriam

– meriam bergelegaran. Api bersemburan dari moncongmoncongnya. Peluru besi beterbangan, membentuk kerucut

udara dengan bola-bola besi sebagai matanya. Semua

menuju ke bandar Malaka.

Atap injuk, ilalang dan sirap di bandar Malaka sana

mulai terbakar. Api menjalar, berdansa dengan angin yang

mulai datang bertiup. Asap hitam berkepulan seperti 

cendawan raksasa, dengan beratnya naik pelahan ke atas,

membikin kelam udara yang kelabu.

Ketenangan pagi itu lenyap dalam dentuman meriam,

api, asap dan kebalauan. Perang Salib dari beberapa abad

yang lalu kini tersasarkan pada kesultanan Malaka.

Perahu-perahu nelayan yang sedang pulang ke pangkalan

berhamburan lari tak jadi menuju ke bandar. Perahu dan

kapal lain yang tertidur hangat dalam belaian matari pagi,

nyenyak dalam ayunan ombak, mulai menggeragap,

menaikkan layar masing-masing, berhamburan mencoba

melarikan diri dan keselamatan.

Bola-bola besi dari kapal Portugis tak membiarkan

mereka lolos. Dalam hanya beberapa bentar perahu dan

kapal kayu itu pun pada pecah atau menungging, hilang

dari pengelihatan, ditelan laut.

Kapal-kapal dari armada kebanggaan Malaka masih juga

belum bergerak, seakan masih terbuai dalam mimpi indah.

Tak kurang dari sebelas jumlahnya. Konon kabamya

sebagian besar dari kesatuan ini dulu biasa dipimpin oleh

Laksamana Hang Tuah. Dan tak lebih dari tiga puluh

bentar, armada kebanggaan itu pun seluruhnya tenggelam

ke dasar laut.

Kebakaran sedang menjadi-jadi di darat sana.

Dari laut nampak jalanan-jalanan pasir kuning

pelabuhan mulai hidup dengan orang-orang yang bcrlarian

kebingungan. Di antara mereka nampak juga wanita yang

menarik-narik atau menggendong anak. Mereka lari

meninggalkan daerah pelabuhan. Sebarisan prajurit

bertombak muncul di dermaga, berhenti pada akhir jalanan

yang terputus oleh laut, mengacu-ngacu senjatanya ke arah

armada Portugis. 

Sepucuk laras meriam ditujukan pada mereka. Aba-aba,

dentuman. Sebuah bola besi membentuk kerucut udara,

terbang menyambari barisan prajurit bertombak itu. Mereka

bubar berlompatan dan berlarian, hilang dari pemandangan.

Yang tersisa hanya bangkai-bangkai dan tombaknya, tulang

dan serpihan daging.

Tak ada lagi barisan muncul. Bandar telah jadi lautan

api. Meriam-meriam berhenti menggonggong. Kapal-kapal

Portugis mulai menurunkan sekoci. Serdadu-serdadunya

pada turun. Dan seperti iring-iringan semut sekoci-sekoci itu

menuju ke bandar.

Kini balatentara Malaka mulai mengisi semua jalanan

bandar. Tombak dan pedang mereka gemerlapan tertimpa

matari yang telah berhasil mengusir halimun. Di antara

letusan musket dari sekoci terdengar sorak-sorai mereka.

Kembali meriam-meriam berdentuman. Peluru beterbangan

dan menyambari mereka, tak menggubris tak menghormati

tombak dan pedang dan sorak-sorai. Juga tembakan musket

menggebu-gebu, menghalau, membunuh, menumpas.

Jalanan kuning di bandar sana makin kelam disirami darah

dan disebari serpihan daging dan tulang para prajurit yang

tiada dapat beibuat sesuatu. Yang tersisa melarikan diri.

Lenyap di balik lidah api dan cendawan asap.

Tahun 1511 Masehi. Alfonso d’Albuquerque-Kongso

Dalbi-menyerbu dan menduduki Malaka.

Dengan tergopoh-gopoh Sultan Mahmud Syah,

keturunan Paramesywara itu, memerintahkan pengerahan

pasukan gajah. Binatang-binatang raksasa itu didapatkan

telah bergelimpangan termakan racun. Balatentara Malaka

tanpa perlindungan gajah tak terbantu oleh armada, dalam

waktu pendek dihalau oleh peluru musket Portugis. Perang

darat terjadi seperti tiupan angin lalu. Mereka melawan

mati-matian. 

Tapi senjatanya terlalu pendek. Musket dan meriam

tetap lebih unggul. Semua harus mundur, terpaksa mundur,

harus, terpaksa. Yang tertinggal hanya daging yang telah

terpisah dari tulang.

Sultan Mahmud Syah melarikan diri ke Johor, Bintan,

Kampar. Kerajaan berumur seabad lebih beberapa belas

tahun itu jatuh. Dan bandar kunci Asia ini kini berada di

tangan Portugis.

Dalam keributan dan kekacauan berhidung bengkung

merajawali sebuah kapal kecil bercat hitam masih juga

nampak aman terayun-ayun di pelabuhan. Tanpa tergesagesa layar-layamya dipasang dan berkembang lesu,

kemudian berlayar menuju ke tengah-tengah armada

Portugis. Benderanya berkibar-kibar gelisah pita hijau

panjang berjela-jela.

Kapal kecil hitam itu terus juga mendekat. Semua gerakgeriknya tak terlepas dari teropong d’Albuquerque. Terus

mendekat dan nampak sedang mengucapkan selamat

datang.Sesampainya di dekat kapal bendera pita hijau

diturunkan, tinggal bendera hitam bersirip kuning itu

berkibar sendirian. Kapal itu tidak berhenti. Dengan tenang

seakan tidak terjadi sesuatu apa ia terus melewati armada

Portugis. Di bawah tiang utamanya berdiri seorang lelaki

tinggi, agak bongkok, berhidung bengkung merajawali,

berjubah genggang, membawa tongkat hitam berhulu

gading.Kopiahnya tarbus merah. Kumis, jenggot dan

cambang-bauknya mengkilat hitam seperti jelaga tersulam

oleh beberapa lembar uban.

Portugis tak sedikit pun mengganggunya. Kapal kecil itu

pun hanya membawa seorang penumpang saja. Orang itu

terus juga berdiri di bawah tiang utama. Matanya besar

bulat-bulat, tajam dan gelisah. Pandangnya selalu 

bertebaran ke mana-mana seperti sedang mencari sesuatu di

atas permukaan laut.

Nakhoda datang menghampirinya, mencium jubahnya.

Berkata dalam Melayu:” Alhamdulillah, ya Tuan Sayid

Mahmud Al-Badawi. Berkah Tuanlah maka kapal sahaya

ini selamat.”

“Kafir-kafir itu takkan berani mengganggu aku,” jawab

penumpang itu angkuh. “Tuhan takkan membiarkan

terlantar ummat-Nya yang beriman.”

“Hanya dengan pita hijau!” seru nakhoda.

“Ya, hanya dengan pita hijau,” penumpang itu

membenarkan.

“Bagaimana sahaya harus membalas budi, ya Tuan

Syahbandar Malaka?” nakhoda bertanya menghiba.

Melihat penumpangnya tak menjawab, ia meneruskan:

“Sekiranya Tuan sekarang ini memerintahkan sahaya

menuju Tuban, tiadalah sahaya akan menolak, biarpun

upah tiada ditambah.”

‘Tak ada padaku niat hendak ke Tuban.”

“Bukankah dengan datangnya Peranggi Tuan kehilangan

jabatan sebagai Syahbandar dan sebagai penasihat Baginda

Sultan?”

“Tetap. Antarkan aku ke Pasai.”

“Sahaya, Tuan. Tujuan tetap. Ke Pasai.” Nakhoda itu

berhenti bicara, menunggu penumpangnya mengatakan

sesuatu. Melihat Sayid Mahmud AI-Badaiwi tak juga

bicara, dilemparkan pandangnya pada layar yang

menggeletar, beiteriak memerintahkan memperbaiki

kedudukan siku, kemudian: “Setelah kejadian mengagetkan

ini, Tuan, ada baiknya Tuan berteduh-teduh di Tuban Di 

sana sedang ada pesta tahunan dari bangsa kafir itu.

Biarpun kafir, cukup menyenangkan juga, Tuan

Syahbandar.”

“Dilaknatlah kiranya kafir-kafir itu,” sumpah

penumpang itu bersun gut-sun gut.

“Ampun, Tuan, kemudi tetap di arahkan ke Pasai.”

“Bukan begitu, Tuan, yang kafir bisa jadi tidak kafir lagi.

Yang tidak kafir pun bisa berubah jadi kafir, bukan?”

‘Tak pernah ada orang mencoba menggurui aku,”

penumpang itu bersungut-sungut.

“Ampun, Tuan, kemudi tetap diarahkan ke Pasai.”

Penumpang itu masih juga merabai permukaan laut dengan

pandangnya. Nakhoda mencoba mengikuti arah

pengelihatannya dan tak menemukan sesuatu yang

luarbiasa. Dan kapal kecil hitam itu terus juga berlayar

menyeberangi Selat menuju Pasai.

“Cat hitam ini takkan sahaya ubah lagi, Tuan. Wama

keselamatan,” nakhoda bicara lagi. “Bolehkah kiranya

sahaya bercerita, Tuan?”

Penumpang tak ramah itu tak mengacuhkannya. Dan

nakhoda itu menggosok-gosok kedua belah telapak tangan,

tersenyum manis dan memulai: “Bukan cerita, Tuan

Syahbandar Malaka, tapi warta. Warta sesungguhnya

sungguh-sungguhnya warta. Warta yang mungkin khusus

untuk Tuan saja.”

Penumpang itu menoleh padanya tetapi tak bertanya

sesuatu.

“Tentu Tuan melihat juga kapal Jawa yang tenggelam

sebentar tadi. Lambungnya pecah-belah seperti kepiting

terinjak. Semoga Tuhan melapangkan jalan mereka di alam

arwah’ Semalam, Tuan, setelah Tuan meninggalkan kapal 

sahaya, sahaya sudah bicara dengan nakhodanya, seorang

anak muda, uh, anak semuda itu telah dilepas jadi nakhoda.

Dia akan belayar ke Singhala Dwipa, katanya. Sahaya tak

tanyakan muatannya. Mungkin dupa dan setanggi untuk

kafir-kafir Atas Angin sana. Tapi memang ada muatan

penting dibawanya. Dan itulah warta khusus untuk Tuan.

Lagi pula sahaya tidak melanggar amanatnya, karena kita

sudah berada di atas Malaka.”

Penumpang itu nampak bosan dan jemu mendengarkan

kkauannya. Namun ia tetap tak beranjak dari tempatnya

berdiri. Dan matanya tetap menyisiri permukaan laut.

”Bukan suatu kebetulan,” nakhoda meneruskan sebagai

balas-jasa. “Kapal itu dari Tuban. Dan warta itu, Tuan,

muatan yang lain, itu, adalah wara-wara untuk disebarkan

di negeri-negeri di atas Malaka. Katanya: Adipati Tuban

Tumenggung Wilwatikta mencari Syahbandar baru

yang….”

Keangkuhan, kecemberutan dan keseraman penumpang

itu mengurang dan mengurang. Ia menoleh lagi pada

nakhoda. Melihat nakhoda itu berseri-seri, ia mengangguk.

“Begitulah wartanya.”

“Matikah Syahbandar Tuban?”

“Sayang, itu tak termaktub dalam warta. Pendeknya

Adipati Tuban mencari Syahbandar baru. Syaratsyaratnya… apalah artinya itu? Semua sudah ada pada

Tuan: bisa menulis, membaca, dan berbahasa Arab dengan

baik, dan Tuan sendiri keturunan Sayid-sayid Arab yang

mulia….”

“Kalau itu saja syarat-syaratnya, ribuan orang bisa jadi

Syahbandar.” 

“Masih ada, Tuan, itu pun sudah ada pada Tuan: pandai

berbahasa Melayu. Jangan tertawakan dulu, Tuan. Inilah

syarat gila menurut perasaan sahaya yang bodoh ini: Harus

juga lancar berbahasa Pcranggi dan Ispanyn dan menulis

serta membacanya.”

Penumpang tunggal itu menegakkan bongkoknya,

mengangkat tongkat, dan dengan tiga batang jari

menggaruk rambut di bawah tarbus. Matanya bersinarsinar. Satu pikiran sedang membersit menerangi wajahnya.

“Di Jawa sana orang harus bisa berbahasa Jawa,”

penumpang itu membongkok seperti semula. “Kata

nakhoda Jawa itu, bahasa jawa tidak perlu.” Sayid

Mahmud Al-Badaiwi, yang kemarin masih Syahbandar

Malaka sesungguhnya bemama Tholib Sungkar Az-Zubaid.

Nama barunya itu dipergunakan sejak jadi Syahbandar

Malaka. Nakhoda dan semua orang Malaka tak pernah

mengetahui. “Jadi ke Tuban tujuan kita, Tuan?”

“Tidak. Pasai.”

“Jadi tetap ke Pasai,” dengan demikian kapal tetap ke

tujuan semula. Sesampainya di Pasai, Tholib Sungkar AzZubaid alias Sa yid Mahmud Al-Badaiwi menyewa kapal

Aceh yang bertujuan Banten dan ia membayar khusus

untuk pelayaran ini.

Pada waktu kapal yang ditumpanginya mancal dari

Banten menuju ke Tuban pikirannya tidak disesaki lagi oleh

ingatan pada api yang menjolak-jolak membakar bekas

bandarnya, peluru-peluru yang beterbangan merebahkan

barang siapa dan barang apa diterjangnya, orang yang

belingsatan menyelamatkan nyawanya, dan balatentara

Malaka yang sama sekali tiada berdaya….

Umbul-umbul berkibaran di sekelilirig alun-alun Tuban,

tinggi dan berwarna-wami. Pada pesta tahun ini gapura-

gapura batu tidak dipasang. Orang dapat masuk dan

meninggalkan alun-alun tanpa melalui pandangan kala dan

makara gapura. Dan orang tidak merasakan kehilangan ini.

Penduduk Tuban memang keranjingan seni dan

olahraga. Larangan memahat batu dan perlntah membuangi

peninggalan Hindu seakan telah mereka lupakan untuk

sementara ada pesta. Bahkan para pernahat sendiri

menangguhkan kekecewaannya demi sang pesta.

Orang pada berpakaian bagus-bagus. Para pedagang

Pribumi kaya menghiasi destar dengan permata serta

menyelitkan keris berhulu mas berukir pada tentang perut.

Beberapa orang tidak mengenakan kain batik, tapi sarong

berkotak-kotak seperti pedagang seberang.

Para wanita mengenakan penutup dada dan selendang

sebagai penutup bahu. Istri-istri pedagang kaya kelihatan

dari selendang sutranya.

Santri-santri yang kadang bersarong putih, berambut

pendek atau gundul dan berkopiah putih, turun

berbondong-bondongdari perguruannya masing-masing.

Mereka pun takkan melewatkan pesta lomba tahunan kafir

yang tradisionil itu. Di pelabuhan kapal-kapal Pribumi

dihiasi dengan aneka-warna bendera dan umbai-umbai.

Di setiap perempatan jalan yang menuju ke alun-alun

bunga-bungaan dikarang jadi lingkaran besar. Buah-buahan

dan telor bcrwarna membentuk lingkaran sari bunga di

dalamnya. Sedang tepat di tengah-tcngah berdiri sebuah

pedupaan tanah dengan asap harum mengepul menyerbaki

udara. Anak-anak kecil berlari-larian riang dengan

penganan di tangan. Semua mengenakan pakaian dan

destar baru. Dan rombongan-rombongan dari desa-desa tak

henti-hentinya memasuki kota. 

Pembukaan pesta telah diawali dengan pawai para

peserta lomba. Umbul-umbul mempelopori barisan desa

masing-masing. Di belakangnya menyusul perangkatperangkat gamelan untuk baris: gong, gendang, suling dan

kenong. Semua gamelan ditabuh melagukan nyanyi pujipujian kepada Hyang Widhi, tanpa suara manusia, tanpa

tari.

Dahulu pawai selalu mula pada Sela Baginda di

pelabuhan. Setelah tugu prasasti Airlangga dirobohkan dan

juga diceburkan ke laut, umpaknya saja kini jadi tempat

membubarkan diri.

Pawai bergerak pelahan-lahan meninggalkan asrama. Di

antara dupa-setanggi pada setiap awalan barisan, nama

Idayu bergema-gema dalam hati para penonton. Dan nama

itu semakin semerbak dengan semakin mendekati

pembukaan. Kunjungan Sang Adipati ke bangsal wanita di

dalam asrama telah meyakinkan semua orang: gadis

perbatasan yang menawan hati Tuban itu pasti keluar

sebagai juara lagi. Takkan ada yang berani meniadakan

isyarat dari Sang Adipati.

Orang harus mengerti tanpa bertanya.

Hari-hari mengintip di depan asrama tanpa hasil

membikin orang seperti dicurahkan memadati kiri-kanan

pawai di mana Idayu berada. Anak-anak kecil yang

terdesak orang-orang dewasa, kalah tinggi dan kalah kuat,

hanya bisa berlari-larian sambil bersorak-sorak tidak

menentu. Pria dewasa membelaikan pandang berahi.

Wanita meneliti apa-apa yang dapat dicela atau dipuji pada

Idayu.

Semua peserta wanita berkalung rangkaian melati.

Peserta pria masing-masing membawa setangkai dedaunan 

beringin. Dan antara sebentar tangkai itu dilambaikanlambaikan ke langit, mengikuti jatuhnya gong.

Tidak seperti satu atau dua tahun sebelumnya kini Idayu

gugup tak menentu. Ia bingung di mana harus sangkutkan

pandangnya. Ke mana pun matanya diarahkan, tertatap

juga olehnya pandang yang memberahikan, merajuk,

merayu, mengajak, mengagumi, atau hanya sekedar hendak

melihatnya. Peluh telah membasahi tubuhnya. Ia rasai pada

matari mendidih dalam dirinya, karena di desa sendiri ia

tidak biasa berkemban. Antara sebentar ia menghela nafas

dalam-dalam untuk mengalahkan kegugupannya sendiri.

Pawai terus bergerak pelahan. Setiap gong berbunyi

seakan di atas kepala pawai tumbuh semak pohon beringin.

Dan beringin itu hilang kembali dengan cepat seperti

tertelan rekah bumi.

Di depan kadipaten barisan panjang berhenti. Pohon

beringin melambai-lambai tinggi di atas kepala mereka.

Kemudian sunyi-senyap. Juga para penonton terdiam, tak

bergerak di tempatnya masing-masing. Kenong bertalu.

Tiba-tiba membubung nyanyian bersama dari semua gadis

peserta, disahuti oleh nyanyian bersama semua pria peserta.

Bersahut-sahutan seperti seribu pasang burung cocakrawa,

dalam tingkahan gamelan baris. Sunyi-senyap.

Canang kadipaten bertalu-talu. Semua peserta bersimpuh

di tanah. Canang kadipaten bertalu-talu lagi. Sebuah tandu

keemasan muncul dari kadipaten. Di atasnya duduk Sang

Adipati menghadapi sebuah jambang besar dari kuningan.

Semua peserta mengangkat sembah. Tandu berjalan lambatlambat dengan gerak kaki seirama dari para pengusungnya,

dan nampak seperti menari. Di belakangnya, para pembesar

negeri berbaris, juga melangkah lambat-lambat seirama.

Juga seperti menari. 

Tandu Sang Adipati menghampiri ujung barisan yang

satu, bergerak lambat-lambat sampai ke ujung yang lain

sambil memercikkan air bunga pada kepala para peserta.

Selesai itu canang kadipaten kembali bertalu-talu. Sang

Adipati dengan semua pengiringnya berjalan kaki kembali

masuk ke kadipaten.

Para peserta menurunkan sembahnya, kemudian lambatlambat mengangkat sembah lagi tiga kali berturut mengikuti

tabuhan canang.

Selesai itu pecah sorak-sorai gegap-gempita dari

penonton. Barisan berdiri, bergerak lambat-lambat

mengelilingi alun-alun. Setiap sampai di depan kadipaten

lagi mereka mengangkat sembah seirama dengan paluan

canang kadipaten. Kemudian mereka menuju ke Sela

Baginda.

Dan inilah saat yang ditakuti oleh Idayu. la jera terhadap

orang banyak, terhadap pengagum-pengagumnya. Di dalam

barisan ia masih terlindungi oleh aturan. Tanpa barisan,

dengan semua mata tertuju padanya? Begitu pawai bubar

segera ia lari mendapatkan Galeng, berlindung di balik

bahunya yang bidang. Teman-teman sedesa melindunginya

rapat-rapat. Lenyap ia dari pemandangan penonton.

“Idayu! Idayu!” orang berseru mencari-cari, kecewa,

jengkel, membujuk, merayu, “di mana kau, Idayu? Di

mana?”

Gadis dan perjaka Awis Krambil menjadi gumpalan

pelindung bidadari perbatasan itu terhadap gangguan.

Rombongan ketat itu menahan semua serbuan, sedang

umbul-umbul desa berjalan mendahului.

Sampai di alun-alun gumpalan ketat Awis Krambil

langsung menuju ke bangsal penari. Dan di sini keadaan 

telah aman. Aturan tidak membenarkan orang

menghampiri bangsal kecuali hanya untuk menonton

pertunjukan. Dan perlombaan tari tak pernah diadakan di

pagi atau siang hari.

Pesta lomba dibuka dengan sodor berkuda dan ujungan

dan lomba ben teng dan gulat. Sodor berkuda diikuti hanya

oleh para prajurit peijaka. Sorak-sorai gegap-gempita tak

putus-putusnya mengiringi sudah sejak pertand ingan belum

dimulai. Mula-mula lapangan yang tersedia seakan disapu

oleh sebarisan prajurit menabuh gendang dengan berlari

dalam barisan. Di belakangnya mengikuti barisan dari

Pasukan Kuda. Setiap penunggang menurun-naikkan

bendera merah dan kuning dan ungu dan hijau. Petanding

berbaris di belakangnya dengan gerakan kuda yang

mengedrap, pelan seakan tidak akan beringsut dari tempat.

Bila barisan gendang dan Pasukan Kuda telah

meninggalkan lapangan, para petanding memacu kuda

mengelilingi lapangan. Kemudian dua petanding

ditinggalkan untuk mengawali perlombaan.

Mereka berhadap-hadapan jauh pada tepi-tepi yang

bertentangan. Dua barisan prajurit dari Pasukan Kaki

masuk ke dalam lapangan dan mempersembahkan kayu

sodor pada mereka. Kemudian mereka lari meninggalkan

lapangan.

Canang bertalu. Kedua petanding melesit maju ke

tengah-tengah lapangan diiringi oleh sorak-sorai. Kayukayu sodor teracukan di atas kepala kuda. Dan bila soraksorai tiba-tiba berhenti keadaan sunyi-senyap, pertanda

seseorang telah terjatuh dan dinyatakan kalah. Tak jarang

pertandingan harus diulang-ulang karena tak ada yang

segera teralahkan.

Kata orang tua-tua permainan ini berasal dari Atas

Angin, diperkenalkan oleh pendatang-pendatang Benggala 

sekira seribu tahun yang lalu, menurut perhitungan surya.

Permainan ujungan lain lagi coraknya. Penonton sama

sekali tidak bersorak. Ya, sekalipun sedang menjagoi

desanya sendiri. Mereka mengikuti pertandingan dengan

diam-diam. Di atas panggung tampil dua orang petanding.

Canang bertalu. Mereka menyembah pada penonton,

berputar-putar di panggung memperlihatkan tubuh mereka

yang bercawat, memamerkan lengan dan paha dan dada

dan punggung dan kepala, dan mengangkat kaki

memamerkan tulang-keringnya. Mereka kelihatan pengap

seperti habis dipukuli. Kulit mereka seperti terkena lepra,

membengkak merah dengan pori-pori kulit melotot keluar.

Tak bisa lain, karena berminggu sebelum bertanding kulit

mereka digosok dengan lumatan daun tapak liman untuk

mematikan perasaan kulit.

Sehabis pameran mereka meninggalkan panggung di

bawah taluan canang. Tinggal dua orang petanding yang

akan berkelahi. Masing-masing bersenjatakan sebilah rotan

yang sama ukurannya. Menurut aturan setiap petanding

mempunyai kebebasan memukul dan memilih sasaran.

Maka bilah-bilah rotan berayun dan menggebu, membabat

dan menerjang bagian tubuh mana saja: hidung, dagu,

dada, kaki, kepala. Sasaran yang menjatuhkan adalah batok

kepala dan tulang kering. Untuk melindungi kedua-duanya

melompat ketangkasan melompat dan berkelit menjadi

syarat mutlak, sedang keuletan kulit, daging dan tulang dan

syaraf jadi petaruh menentukan. Bila temyata tak ada yang

kalah atau menang, tak ada yang jatuh terguling, mereka

melakukan undian dengan sut di bawah pengawas. Si

pemenang sut boleh memukul tulang kering lawannya

sampai sepuluh kali. Bila ia tidak roboh, ia boleh

memberikan pukulan balasan. 

Tak ada yang bersorak-sorai, hanya meringis-ringis,

mengernyit-ngernyit, mengeluh, mengaduh, mengejapngejapkan mata seperti sekelompok monyet kehilangan akal

pada setiap pukulan yang jatuh. Jantung terasa seperti

dicekam, diremas-remas menjadi ciut. Bila salah seorang

roboh dan terpaksa digotong keluar, orang pun tak juga

bersorak. Hanya mengeluh dan mengaduh atau

menghembuskan nafas panjang.

Kalau pukulan tulang kering tidak merobohkan, sut

diadakan lagi. Dan sekali ini batok kepala yang dipukul

bergantian. Tiga kali. Biasanya orang tak dapat menahan

lebih dari dua kali dan roboh terjengkang di geladak

panggung. Lomba banteng lain lagi ceritanya. Pada

pertandingan ini kanak-kanak dilarang menonton. Peserta

hanya dari kalangan prajurit perjaka. Juga tidak setiap

tahun diadakan. Harus ada permohonan dari para prajurit

sendiri, yang ingin melompat jadi perwira Pengawal.

Lomba khusus ini, bila ada, selalu dipergelarkan pada sore

hari tanpa disaingi oleh lomba-lomba lain.

Dalam medan yang dipagari balok-balok kayu, seekor

banteng lapar dilepaskan. Orang pun bersorak-sorak.

Binatang lapar itu jadi marah dan bingung, berjalan

mondar-mandir, kadang berlarian kecil mengitari medan.

Kadang berhenti sejenak untuk memelotoli penonton.

Seratus gendang dipukul orang. Dan seorang prajurit

penantang naiklah ke atas pagar balok. Ia melompat ke atas

leher binatang lawannya dan berusaha, dengan kedua belah

tangan berpegangan pada tanduk, membantingnya. Belum

tentu sang penantang berhasii. Tak jarang orang kehabisan

nafas dan tenaga dan terlompat ke udara menyemburkan

darah dan isi perut.

Berkali-kali terjadi seorang penantang lari dan lari

membiarkan diri diburu sampai lawannya kehabisan 

tenaga. Baru kemudian ia mengguguh mata lawannya

sampai bolanya terlompat keluar dari rongga. Dengan

guguhan pada mata yang lain banteng buta itu kehilangan

daya. Ia dinyatakan menang, hanya bukan dengan nilai

tertinggi. Menurut aturan, kemenangan yang sempuma

adalah bila penantang dapat meremukkan kepala lawannya

dengan pukulan tangan. Dan orang pun bersorak-sorai

menderu. Mereka menyerbu ke gelanggang, menggotong si

pemenang, mengaraknya ke kadipaten. Para penggotong itu

adalah gadis-gadis Tuban. Maka juga para penonton

kebanyakan gadis. Pada umumnya penantang banteng

punya maksud Iain daripada hanya ingin melompat jadi

perwira Pengawal. Biasanya ia orang putus-asa karena

kegagalan cinta. Dalam gotongan dan arakan para gadis

Sang Adipati akan menyambutnya pada anak tangga

kadipaten. Di sana ia diturunkan, mendapat pangkat dan

nama dan gelar ketentaraan yang menjadi haknya. Tandatanda pangkat pun dikenakan pada badannya: gelang dan

keris, dan kalung. Begitu ia mendapat pengangkatannya ia

dapat memilih pasangan hidupnya dan menjadi kesukaan

pada hari itu. Dan masyarakat Tuban yang mengagungkan

kepahlawanan ikut serta merayakan kegembiraan mereka

berdua.

Lomba gulat adalah umum. Selalu diadakan pada pagi

hari. Prajurit tidak diperkenankan serta. Penonton dari

desa-desa bersorak-sorai untuk jagonya masing-masing.

Dua orang pejabat panggung tak henti-hentinya

memercikkan air pada para petanding sehingga lantai

panggung jadi basah, kotor dan licin – keadaan yang

membikin petanding lebih menarik. Para petanding hanya

mengenakan cawat. Tidak boleh berdestar. rambut harus

disanggul untuk tidak menghalangi pemandangan. 

Pada tahun yang lalu Galeng telah memenangkan

kejuaraan. Tahun ini dengan atau tanpa Boris, ia bertekad

memenangkan kejuaraan berturut. Ia harus hadapi lima

belas orang penantang. Tak tahu ia bagaimana harus

mengalahkan orang sebariyak itu. Dan sudah menjadi

kebiasaan bagi juara gulat mendapat banyak tantangan.

Makin banyak penantang makin banyak kemungkinan

seorang juara ditelentangkan di atas lantai panggung.

Dalam pertandingan awal Galeng berkelahi seperti orang

keranjingan. Ia lebih banyak bertempur menaklukkan

ketakutan dan kekecilan hati sendiri dan cemburu sendiri.

Sang Adipati harus tahu: si Galeng bukan perjaka yang

mudah melepaskan Idayu apa pun yang terjadi, Idayu

hanya untuk diri dan kebahagiaannya.

Dua-tiga orang penantang telah dibantingnya dan nyaris

mati. Pertandingan dihentikan untuk sementara. Para

petugas ragu-ragu atas sikap juara dari Awis Krambil. Ia

lebih banyak tampil sebagai pembunuh daripada

olahragawan. Dan ia akan berkelahi terus seperti itu bila

idaman hidup direnggutkan orang daripadanya. Tak peduli

orang itu Sang Adipati atau punggawa praja.

Dengan titah Sang Adipati pertandingan gulat

diteruskan. Ia berkelahi terus, mengamuknya orang yang

terpojokkan. Kunjungan penguasa Tuban pada kekasihnya

di asrama telah membikinnya kalap. Ia akan tunjukkan

pada rajanya, ia juga bisa berkelahi, dan melawan siapa

saja: ia akan berikan nyawanya untuk bukti cintanya pada

Idayu melawan penantang gulat ataupun penantang

tombak-tombak para pengawal.

Pada awal perlombaan menari Idayu dipancari semangat

tinggi. Dua tahun berturut-turut ia telah memenangkan

kejuaraan pertama. Tahun ini ia bertekad untuk

memenangkan lagi. Bukan karena kunjungan Sang Adipati 

yang jadi isyarat pada para penilai. Ia harus menang karena

kejuaraan tiga kali berturut memberinya sesuatu rencana

kemungkinan: ia punya rencana. Dalam setiap

pertandingan Galeng memerlukan hadir. Bukan karena

hendak menonton, hanya hendak mematahkan batang leher

orang, siapa saja, yang berani bertingkah terhadap Idayu.

Tak ada suatu gerak terlepas dari perhatiannya.

Perlombaan telah berjalan beberapa hari. Setiap pulang

dari menari Idayu langsung pergi ke tempat kekasihnya

untuk mengurutnya. Ia tak peduli pada larangan yang

berlaku. Para punggawa tak sampai hati melarangnya,

mengetahui, itulah hari-hari terakhir dua orang kekasih itu

dapat berkumpul untuk kemudianberpisahn buat selamalamanya….

Pagi hari waktu itu. Pertandingan olahraga sedang seruserunya berjalan.

Syahbandar Rangga Iskak sedang sibuk di pelabuhan

mencatati nama orang dan kapal peiarian yang

berbondongan datang dari Malaka dan telah ditolak di

bandar-bandar lain di Sumatra dan Jawa. Di Tuban mereka

bermaksud memohon perlindungan pada Sang Adipati

Tuban Arya Teja Tumenggung Wilwatikta. Jatuhnya

Malaka ke tangan Kongso Dalbi telah jadi pengetahuan

umum.

Di antara para pendatang terdapat bekas Syahbandar

Malaka Sayid Mahmud Al-Badaiwi alias Tholib Sungkar

Az-Zubaid.

Sekilas Rangga lskak mengetahui, pendatang itu seorang

Arab – Arab yang dibencinya. la berbenah dalam hati,

menyingkirkan perasaan pribadi dan melayaninya sebaik

mungkin. 

Ia persilakan pendatang jangkung agak bongkok,

berhidung bengkung merajawali itu, untuk menyampaikan

halnya. Dan nahkoda kapal yang ditumpanginya tidak ikut

mendarat. Ia agak heran, tetapi tidak menanyakan. Kapal

itu akan berlayar terus menuju Gresik.

“Tuan Syahbandar Tuban,” bekas Syahbandar Malaka

memulai dalam Arab. “Berkahlah untuk Tuan buat hah ini.

Aku pendatang baru, juragan kapal itu. Kapalku akan terus

berangkat dan akan menjemput aku kelak. Uang labuh

untuk sehari akulah yang membayamya. Namaku Sayid

Habibullah Almasawa dari Malagas!, bermaksud

menghadap Sang Adipati Tuban.”

“Berkahlah Tuan untuk hari ini. Maksud Tuan akan

terpenuhi.”

Pada para pekerja ia perintahkan untuk mengangkuti

barang-barang persembahan. Ia perintahkan canang menara

dipukul untuk pertanda akan adanya penghadapan.

Canang kadipaten menjawab.

Iring-iringan penghadap berangkat, termasuk bekas

Syahbandar Malaka, Tholib Sungkar Az-Zubaid alias Sayid

Mahmud Al-Badaiwi dan sekarang bernama Sayid

Habibullah Almasawa dari Malagasi. Di belakang mereka

menyusul para pemikul persembahan.

Di alun-alun mereka melihat orang beijejal-jejal

menonton pertandingan. Umbul-umbul berkibaran tinggi di

mana-mana. Dan karangan-karangan bunga di perempatan

jalan. Mereka dengar sorak-sorai tak henti-hentinya. Di

negeri ini orang bersuka-suka, negeri yang mereka

tinggalkan sedang terlanda Portugis. 

Pendatang yang menamakan diri Sayid Habibullah

Almasawa memperhatikan semua dengan kuping dan

matanya.

“Tuban sedang merayakan pesta tahunan,” Rangga lskak

alias Ishak Indrajit menerangkan dalam Melayu. Ia tak

meneruskan, membisu, tak memberi kesempatan pada para

pendatang untuk bertanya. Orang Arab yang seorang itu

merusuhkan hatinya.

Mereka berhenti di depan pendopo. Dua orang pejabat

datang dan menyampaikan tata-tertib. Mereka melepas

semua alas kaki, senjata tajam dan tumpul kecuali keris.

Maka alas kaki pun berbaris berjajar, dan tongkat dan

bawaan pribadi. Mereka dipersilakan masuk ke pendopo

dengan kaki telanjang, duduk berderet-deret di hadapan

kursi gading kedudukan Sang Adipati.

Kursi itu sendiri berdiri di atas lantai khusus yang

ditinggikan. Sebuah bangku rendah berlapis bantal berdiri di

bawahnya. Itulah tempat Sang Adipati meletakkan kakinya.

Menurut peraturan penghadapan secara Tuban, orangorang asing bukan Nusantara tidak diwajibkan duduk dan

menyembah. Bangku atau kursi duduk tidak pernah

disediakan. Mereka harus berdiri dan barang siapa tidak

duduk harus mengambil tempat di pinggir.

Biti-biti perwara keluar menduduki tempatnya di bawah

kiri dan kanan tahta Sang Adipati. Pada tangannya mereka

membawa nampan kuningan tempat sirih dan jambang

kuningan tempat ludah. Menyusul kemudian bentara kiri

dan kanan, yang mengambil tempat di kiri dan kanan

belakang tahta. Mereka semua bersenjata tombak dan

perisai. Baru kemudian datang Sang Adipati dalam iringan

Sang Patih dan para pembesar lain. Di belakangnya lagi

menyusul para pengawal. 

Para penghadap yang duduk menyembah bersama-sama.

Mereka yang berdiri di pinggir menyampaikan hormat

dengan caranya masing-masing. Orang-orang Benggala,

termasuk Syahbandar Tuban, berdiri sambil mengangkat

sembah dada. Sang Patih dan para pembesar yang duduk

bersila jauh di samping kiri dan kanan Sang Adipati, juga

mengangkat sembah.

Upacara penghadapan selesai. Syahbandar Tuban

membacakan daftar para penghadap, nama, asal, pekerjaan

dan permohonannya. Kemudian seorang demi seorang

maju menghadap lebih dekat dan menghaturkan

persembahannya sambil memuji-muji barangnya. Setelah

persembahan menyusul permohonan dengan mulut sendiri.

Sang Adipati duduk mendengarkan, tanpa bicara,

mengangguk dan tersenyum, atau menggeleng dan

tersenyum.

Semua penghadap tahu belaka, satria Jawa tidak berbaju

dalam pekerjaan resmi, dan mereka menghormati kebiasaan

ini.

Bekas Syahbandar Malaka tercantum dalam daftar

terakhir. Waktu sampai pada gilirannya ia bicara dalam

Melayu: “Patik datang dari Malagasi, ya Gusti Adipati

Tuban yang termasyhur pengasih di sepanjang pantai Atas

Angin. Orang memanggil patik Sayid Habibullah

Almasawa. Kata silsilah keluarga, patik adalah keturunan

ke empat puluh dari Nabi Besar Muhammad s.a.w.”

Rangga Iskak mengemyitkan dahi. Giginya berkerut. Ia

tak percaya. Prasangka mulai berbisik-bisik dalam hatinya:

Itulah dia penipu yang kau tunggu-tunggu!

“Patik hanyalah saudagar rempah-rempah yang belayar

dari bandar ke bandar. Mujur tak dapat diraih, malang tak

dapat ditolak, Tuhan belumlah memberkahi, ya Gusti 

Adipati Tuban. Sesampai di Malaka, Peranggi sedang

menggagahi bandar. Semua isi kapal patik dirampas dan

kapal patik dibakar. Alhamdulillah Tuhan masih ingat pada

hamba-Nya ini. Segala puji untuk Yang Maha Pengasih dan

Maha Penyayang.”

Bekas Syahbandar Malaka itu masih juga tak

mempersembahkan sesuatu barang.

Si penipu itu! pikir Rangga Iskak. Dia sedang

memainkan lidahnya.

“Larilah patik ke Bengkulu. Dengan kapal patik yang

ada di )ambi patik belayar kemari untuk memohon

perlindungan Gusti Adipati Tuban. Adapun harta benda

patik seluruhnya telah habis untuk membayar kerugian di

Malaka. Ampun, Gusti, bila patik tidak mampu

mempersembahkan barang sesuatu yang mahal-mahal.”

Nampak Sang Adipati mulai kehilangan kesabarannya.

Ia menguap, dan ditutupnya mulutnya dengan tinju.

Gelang-gelang mas pada tangannya, berukir dan

bertatahkan intan permata, berkilauan. Namun ia tidak

memberi isyarat mencegah penghadap itu meneruskan katakatanya.

“Adapun harta-benda yang tersisa pada patik hanyalah

kecakapan berbahasa Arab, karena itulah bahasa nenekmoyang patik, berbahasa Melayu, karena itulah

penghidupan patik sebagai saudagar rempah-rempah. Yang

tersisa pada sahaya juga bahasa Ispanya, Gusti Adipati

Tuban…”

Para penghadap mengangkat pandang mendengar Sang

Adipati mendeham dan memanjangkan leher mengawasi

pembicara fasih itu dengan perhatian. 

“… karena di negeri Ispanya patik dilahirkan, di sebuah

negeri yang indah bernama Andalusia, ya Gusti Adipati,”

bekas Syahbandar Malaka meneruskan, “dan juga karena

itu patik berdarah Ispanya pula. Kemudian bahasa

Peranggi, ya Gusti Adipati Tuban, karena itulah bahasa

yang patik pelajari sejak kecil.”

Rangga Iskak merasa seakan lantai yang diinjaknya

terbang. Orang jangkung agak bongkok, berhidung

bengkung merajawali itu tak lain dari orang Moro yang

hendak menumbangkan kedudukannya sebagai Syahbandar

Tuban. Dunia dilihatnya berayun-ayun. Tangannya di balik

jubah menggapai-gapai tanpa tujuan. Dan dalam

pandangannya yang bergoyang ia tak lihat Sang Adipati

menegur Moro keparat itu, padahal pembual itu mulai

ramai dengan tangan memberikan tekanan pada katakatanya. Kalau dia Pribumi, pikimya, dia akan mendapat

hukuman dera.

“Ya, Gusti AdipTuban yang mulia, dilindungi oleh

Allah, kiranya Gusti Adipati. Sedang patik hina-dina lagi

melarat begini, ya Gusti yang tersohor bijaksana dan

pemurah di sepanjang pantai Atas Angin, limpahkan

kiranya pada patik suatu perlindungan, karena hanya Allah

jua Maha Mengetahui, bahwa perlindungan Gusti Adipati

adalah berkah daripada-Nya juga.”

Tanpa diduga-duga Sang Adipati melambaikan tangan

dan berkata dalam Jawa. Segera Rangga Iskak

menterjemahkan dalam Melayu.

”Permohonan Tuan kami terima, tuan Sayid. Tuan

Syahbandar Tuban akan mengurusmu sebagai tamu pribadi

kami….”

Rangga lskak hampir-hampir tak dapat meneruskan

terjemahannya. Ia membelalak mengetahui, tamu yang 

mengaku diri Sayid Habibullah Almasawa telah berkenan

di hati Sang Adipati. Celaka, pikirnya, sekali seorang Moro

mendapat setitik tempat, orang harus waspada. Semua akan

berubah, bumi tempat berpijak akan goyah.

“Apalagi yang masih akan dipersembahkan?” tanya Sang

Adipati. Penghadap itu mengangkat kedua belah tangan

sehingga bongkoknya berayun, meneruskan: “Ampun,

Gusti, perkenankanlah kiranya patik mempersembahkan

sesuatu yang langsung berupa karunia dari Allah. Memang

nampaknya tiada sepertinya, namun tak terkirakan

berkahnya.”

Ia keluarkan sebuah pundi-pundi dari balik jubahnya

yang genggang. Semua orang berusaha untuk melihat apa

persembahan si cerewet. Permata! tak bisa lain, orang

menduga.

“Berat tak seberapa, Gusti,” bekas Syahbandar Malaka

itu menjepit pundi-pundi dengan ibujari dan telunjuk.

“Enteng tak terkira.”

Semua penghadap menjadi tegang. Mereka kuatir Sang

Adipati menjadi murka dan membatalkan semua

perlindungan yang telah dikaruniakan. Dan memang Sang

Adipati nampak tersinggung, tapi masih menahan diri.

Rangga lskak gelisah.

“Selaksa kali lebih berharga daripada in tan, mutiara,

zamrud atau delima, karena memang karunia Allah

sendiri!”

Dan para penghadap sampailah pada titik tertinggi

kekuatirannya melihat Sang Adipati bicara untuk ketiga

kali, hanya pada seorang penghadap: “Apakah itu, Tuan

Sayid keturunan Nabi?” 

‘Tidak lain dari benih baru, ya Gusti, dari seberang dan

seberangnya seberang pulau Jawa ini. Benih beras besar ya

Gusti. Sepuluh kali lebih besar daripada beras biasa. Bila

disantap sewaktu muda, ya Gusti, hanya ditunu di atas

bara, gemeratak bunyinya, tapi rasanya takkan kalah

dengan emping ketan bercampur kelapa dan gula.

Menanamnya tak memerlukan air, malah harus ditanam

pada penghabisan musim hujan. Di mana saja dapat

tumbuh, di gunung, di pantai, huma, sawah kering, ladang.

Dia tak memilih tanah, asal tak tergenangi air.”

Tholib Sungkar Az-Zubaid alias Sayid Mahmud AlBadaiwi alias Sayid Habibullah Almasawa menaruh

sejumput bening kuning dari dalam pundi-pundi dan

diletakkan di atas telapak tangan kiri.

“Orang-orang dungu di Ispanya dan Peranggi mengenai

ini beras Turki, ya Gusti. Orang-orang Turki memang suka

menipu, Gusti. Tidak benar ini beras Turki. Yang benar

Zhagung namanya, Gusti. Dalam jangka waktu lima kali

musim panas, seluruh negeri Tuban akan makan beras besar

ini, Gusti, insya Allah.”

Ia melangkah maju setelah mengembalikan benih dari

telapak tangan ke dalam pundi-pundi dan

mempersembahkan kepada penguasa Tuban.

Orang terheran-heran melihat Sang Adipati tersenyum

berseri menerimanya.

“Telah kami terima persembahanmu, Tuan Sayid. Segala

yang berasal dari Tuhan adalah berkah/’ kemudian

menengok pada Sang Patih yang duduk di bawah.

“Kembangkan beras besar ini, Kakang Patih. apalagi

sekarang sedang musim kering.”

Sang Patih menyembah rajanya, kemudian menerima

pundi-pundi itu dan meletakkan di hadapannya. 

“Dan Tuan Sayid, apa nama negeri asal beras besar ini?”

“Negeri itu, Gusti Adipati Tuban yang mulia – orang

mulai menamainya Amerika.”

“Di mana itu?”

“Di balik bumi manusia ini, GustL”

“Di balik bumi?” Sang Adipati berseru berolok, “tentu

mereka di sana hidup seperti cicak dengan badan tergantung

pada kaki?”

“Tidak, Gusti, mereka sama dengan kita, demikian cerita

pelaut-pelaut yang pernah ke sana. Hanya kulitnya merah.”

“Merah?”

“Merah, Gusti, seperti batu bata.”

Rangga Iskak mengerutkan gigi dan mengemyitkan dahL

Kegeramannya menjadi-jadi. Dia mulai menyemburkan

bisa, gumamnya dalam Malayalam. Dan kalau tidak kuatkuat ia mengekang sudah akan tersembur tuduhannya

sebagai ‘penipu’. Ia menggeragap waktu tiba-tibaSang

Adipati berkata: “Tuan Syahbandar, apakah yang Tuan

ketahui tentang bangsa kulit merah?”

“Tidak pernah disebut dalam kitab apa pun, Gusti

Adipati Tuban. Kulit hitam, putih, coklat, kuning, semua

ada, Gusti. Merah tak pernah ada, apalagi seperti batu bata.

Tak pernah tersebut ada manusia makhluk Allah hidup

dengan badan tergantung pada tangan atau kaki.”

Pendatang itu menengok ke pinggiran, pada Rangga

Iskak, dan tersenyum ramah sambil mengangguk.

“Tentang itu panjang ceritanya, ya Gusti. Sembilan

tahun yang lalu Sri Baginda dan Ratu Ispanya, Phillipo dan

Isabella, telah memberikan pangestu pada pelaut-pelaut

Amerigo dan Colombo untuk mencari negeri asal rempah-

rempah. Mereka belayar lurus ke jurusan barat…” dan

bercerita bekas Syahbandar Malaka tentang pelayaran besar

dan penemuannya, dan bahwa dunia temyata bukanlah

seperti tampah tetapi bulat seperti buah kelapa, bahwa di

mana ada daratan di sana ada manusia, semua berdiri pada

kakinya, tak ada yang bergantung pada tangan atau kaki.

Orang mendengarkan dongengan baru yang tak masuk di

akal itu. Mereka tertarik sampai-sampai lupa untuk

mengetahui dari mana Tholib Sungkar Az-Zubaid alias

Sayid Mahmud Al-Badaiwi alias Sayid Habibullah

Almasawa mendapatkan beras besar yang bukan beras

Turki.

Dalam pada itu Sang Adipati sendiri sedang

mengenangkan kembali cerita Sang Patih, bahwa Mpu Nala

pernah menduga dunia ini memang tidak seperti tampah

tapi bulat seperti buah maja. Dan sekarang kapal-kapal

orang putih telah mampu muncul dari balik Ujung Selatan

Wulungga yang selama ini dianggap sebagai batas akhir

dari dunia, dan barang siapa melewatinya akan tercebur ke

kedalaman tanpa batas. Mereka justru muncul dari situ.

Mereka telah belayar sampai ke balik dunia dan

mendapatkan beras besar.

Ia berpaling pada Syahbandar Tuban. Rangga Iskak

sedang merah-padam keunguan. Memahami akan adanya

sikap permusuhan terhadap penghadap itu ia perintahkan

Sayid Habibullah Almasawa kembali ke tempatnya di

pinggir pendopo.

“Patireja!” perintahnya pada menteri-dalam, “tempatkan

tuan Sayid sebaik-baiknya di gandok belakang kadipaten.”

Beberapa jam setelah penghadapan selesai pecahlah

berita ke seluruh Tuban Kota: Sang Adipati telah dihadap

oleh seorang tamu asing, seorang Arab bemama Sayid

Almasawa yang ditempatkan di gandok belakang 

kadipaten. Berita besar, karena itulah untuk pertama kali

seorang asing diterima di dalam kadipaten. Tentang beras

besar orang tak memberitakan. Dan sekarang Tuban

memiliki dongengan baru tentang bangsa manusia berkulit

merah yang hidup di balik bumi, berjalan tergantung pada

tangan dan dengan kaki melambai-lambai di udara.

Tholib Sungkar Az-Zuibaid alias Sayid Mahmud AlBadaiwi alias Sayid Habibullah Almasawa merasa puas

dengan semua jerih-payahnya. Ia merasa telah berkenan di

hati Sang Adipati. Sebentar lagi bendera Tuban akan

dikuasainya. Syahbandar yang sekarang harus menyingkir!

Harus!

Pulang dari kadipaten Rangga Iskak langsung menuju ke

pelabuhan untuk menemui nakhoda kapal Sayid. Temyata

kapal itu telah berangkat ke Gresik. Dengan jengkel ia

pulang sambil menyumpah-nyumpah dan mengutuk semua

orang Arab di atas bumi ini kecuali mereka yang tersebut

dalam Alkitab dan Tarikh.

Dengan cepatnya terjadi persahabatan antara Sayid

dengan Pada. Mereka berdua fasih berbahasa Melayu. Pada

pandai melayani orang-orang besar dan Sayid pandai

mengambil hati orang.

Padalah yang mengantarkan tamu itu menghadap Sang

Patih. Ia duduk di belakangnya.

Sang Patih duduk di atas kursi kayu dihadap oleh empat

orang yang barn datang dari Bonang – murid-murid Ki Aji

Bonang – dan dianggap tahu berbahasa Arab.

Bekas Syahbandar Malaka itu duduk di antara mereka

berempat. Dan ujian diadakan.

Tamu Sang Adipati tertay/a geii dalam hati mengetahui

sedang menghadapi ujian bahasa Arab. Seratus orang 

penguji masih takkan dapat mengatasi bahasa Arabkuf

sumbarnya dalam hati. Mereka paling-paling tahu bahasa

ibunya sendiri, sedikit Melayu dan sedikit Arab! Tulisan

latin mereka takkan bisa. Ayoh, ujilah aku, tantangnya.

Salah seorang di antara empat penguji menyodorkan

padanya setumpukan lontar bertulisan Jawa.

“Tuan Sayid bisa membaca ini?” tanyanya.

Ia ambil seikat lontar, mengamat-amati, menggeleng

melihat huruf-huruf yang menjulur berlingkar-lingkar itu.

“Tulisan kafir,” gumamnya.

“Jadi Tuan Sayid dapat membacanya?”

Ia menggeleng. Seaksara pun tak terbaca olehnya.

“Baik, kalau begitu biar kami bacakan, ukara demi

ukara. Ini tulisan Jawa, tetapi berbahasa Melayu. Tulis oleh

Tuan terjemahannya dalam bahasa Peranggi. Tuan sendiri

punya kertas dan kalam.”

Dan dengan demikian ujian dimulai.

Dari setumpukan lontar Iain Tholib Sungkar Az-Zubaid

alias Sayid Mahmud Al-Badaiwi alias Sayid Habibullah

Almasawa menterjemahkan ukara demi ukara yang

dibacakan itu ke dalam bahasa Ispanya dan Peranggi.

Tulisan-tulisan terjemahan itu disimpan oleh Sang Patih.

Pada hari berikutnya dengan diantarkan juga oleh Pada

ia menghadapi ujian yang memakan waktu lama. Ia tak

pernah menyangka akan menghadapi ujian pengalaman gila

itu. Para penguji memberikan kembali terjemahan Peranggi

padanya, kemudian menunjuk pada baris-baris tertentu dan

bekas Syahbandar Malaka diminta untuk melisankannya

dalam Melayu. 

Peluh mulai membasahi tubuhnya. Ia mengakui

terjemahan Peranggi itu ditulisnya dengan gegabah.

Kalimat-kalimat dan kalimat itu bermunculan di hadapan

matanya seperti barisan mara. Ia menyesal telah

melakukannya dengan gegabah dan menganggap sepele.

Berkali-kali para penguji melihat tak ada kecocokan antara

terjemahan Melayu orang ujian itu dengan teks Melayu

dalam tulisan Jawa diatas lontar. Pengalamannya yang

sama dialaminya sewaktu memelayukan Ispanya tulisannya

sendiri. Banyak selisihnya dengan teks Melayu di atas

lontar.

“Gusti Patih Tuban,” salah seorang penguji melaporkan.

“Memang Arabnya tidak meragukan, Peranggi dan

Ispanya-nya nampak agak sembarangan, Gusti.”

“Banyakkah kelirunya?” tanya Sang Patih.

‘Tidak Gusti, hanya sembarangan.”

Untuk pertama kali dalam hidupnya Tholib Sungkar AzZubaid alias Sayid Mahmud Al-Badaiwi alias Sayid

Habibullah Almasawa kehilangan kata-kata dan bermandi

keringat sebanyak itu.

Hari yang dinanti-nantikan tiba juga: hari penutupan

pertandingan. Sejak pagi hari dengan membawa bekal

makan orang telah datang berbondong ke alun-alun. Bunyi

gamelan tak henti-hentinya berlagu.

Orang berdatangan bukan sekedar hendak menyaksikan

pertandingan. Pada hari penutupan Sang Adipati akan

datang dalam iringan besar para pembesar negeri dan para

pengawal.Semua dalam pakaian berwarna-wami. Mereka

akan berbaris datang ke alun-alun mengunjungi semua

gelanggang. Para penilai akan berbaris di belakang para

pengawal dengan kaki dan tangan berhiaskan giring-giring

serta kain dan destar berwamn keemasan cemerlang. Dan 

setiap orang di antara mereka akan membawa umbul-umbul

kecil beraneka wama.Di belakangnya lagi akan menyusul

barisan pengawas pertandingan, semua menabuh genderang

kecil.

Dan begitu Sang Adipati dan rombongan datang orang

pun bersimpuh di tanah dan mengangkat sembah. Begitu

rombongan lewat orang pun berdiri dan bersorak gegapgempita.

Rombongan itu lewat tanpa menengok tanpa menjawab

sembah. Orang berdesak-desak mengikuti rombongan,

semakin lama semakin tebal dan panjang. Sekali ini bukan

sekedar karena kebiasaan: orang ingin menyaksikan dengan

mata kepala sendiri bagaimana kerja mata Sang Adipati bila

berhadapan dengan Idayu.

Di dalam rombongan pembesar terdapat Tholib Sungkar

Az-Zubaid, di Tuban Kota mulai dikenal sebagai Sayid

Alusawa. Ia tetap bertarbus merah dengan jumbai

keemasan jatuh ke belakang, berjubah genggang, agak

bongkok, berjenggot, bermisai, bercambang-bauk, jangkung

dan membawa tongkat hitam berhulu gading. Hidung

bengkungnya menjadi sasaran setiap mata.

“Itulah Tuan Ulasawa!” seseorang berbisik pada

temannya.

Seorang lain tertawa keheranan, memberi komentar:

“Betapa panjang dan bengkung hidung itu. Kalau diberi

berbuntut panjang, pasti akan lebih mendekati kadal.”

“Puh!”, yang lain lagi mendengus, “Gusti kita memang

kranjingan orang asing – dan semua saja tidak beres.”

Apa pun komentar orang yang pasti sudah dapat

diketahui: itulah tamu terhormat yang telah berkenan di

hati Sang Adipati. 

Dan dalam hati mereka, yang memang sudah tidak

senang pada orang asing yang mendapat jabatan tinggi,

timbul pertanyaan: jabatan tinggi apa yang akan

diterimanya? Pada umumnya orang menebak: penghulu

negeri. Dan tebakan itu saja sudah cukup menjengkelkan,

mengingat penghulu sebelumnya telah banyak mengurangi

kesenangan mereka dengan berbagai aturan yang masih

juga berlaku sampai sekarang Aturan baru, aturan baru,

selalu mengurangi kebebasan. Dan penduduk negeri dan

kota Tuban terkenal pencinta kebebasan.

Tak jauh dari Tholib Sungkar berjalan Syahbandar

Tuban, juga berjubah, hanya berwarna putih, berkopiah,

tidak bersorban, berselendang leher putih. Hanya dia yang

berjalan menunduk Tak ada nampak sinar kegembiraan

pada wajah dan matanya, di tengah-tengah pesta yang

membeludag itu.

Damarsewu dan cempor menyala di mana-mana,

mencoba mengusir semua bayang-bayang benda dan

manusia. Namun semua lampu itu tak kuasa mengusir

bayang-bayang dalam pikiran Rangga lskak.Ia telah

mendapat firasat Sayid Habibullah Almasawa tidak lain

dari Syahbandar Malaka yang dahulu menjatuhkan

abangnya, dan sekarang datang ke Tuban untuk

menjatuhkan pula sebagai Syahbandar. Tidak salah lagi,

kata hatinya, dialah iblis laknat itu. Dan pikirannya kini

bekeija keras mencari jalan untuk menyingkirkan orang

Moro itu dari Tuban sebelum Sang Adipati mengambil

sesuatu keputusan yang akan merugikan dirinya.Si

pembual, penipu, pendusta, mengaku keturunan Nabi itu

harus punah!

Begitu rombongan memasuki ruangan tari, ia sudah

mempunyai rencana. Gamelan membubungkan lagi

sambutan. Idayu muncul di atas panggung menarikan tarian 

penghormatan. Kepalanya bermahkotakan bunga-bungaan

sedang pakaian tarinya yang serba ketat memperagakan

resam-tubuhnya semampai berisi. Pada bibimya tersunting

senyum kemenangan. Matanya memancar penuh

keyakinan dan kebahagiaan. Waktu mengangkat sembah

gerak lehernya berayun seakan sedang menyerahkan

pipinya untuk dicium oleh penonton di depan, sebelah kiri

dan kanan. Dan Rangga Iskak tak melihat semua itu.

Orang bersorak-sorai gegap-gempita. Sang Adipati

mengangguk-angguk menyetujui.

“Itulah Idayu, Tuan Sayid,” Sang Adipati berkata dalam

Melayu, “kekasih Tuban, bunga seluruh Tuban. Tiada

tandingan dalam tari dan kecantikan dan keluwesan. Juara

tiga kali berturut.”

“Patik,Gusti.” Mata Tholib Sungkar Az-Zubaid

menyala-nyala, ia angkat tongkatnya turun-naik,

mengagumi tarian Idayu.

“Dahulu gadis seperti itu akan meneruskan pertandingan

ke Wilwatikta, ibukota Majapahit.”

Tholib Sungkar Az-Zubaid mencantolkan tongkat pada

lengan kanan. menegakkan bongkoknya dan bertepuktepuk: “Haibat!” serunya. Tanpa tandingan. Banyak negeri

terah patik lihat, ya Gusti. Yang ini memang tiada tara!

Namanya pun indah: I-da-yu. Dan betapa cantik! Aduhai

betapa cantik, kau, Idayu!” gumamnya. “Allah telah

menciptakan kau sesuai dengan kehendaknya.”

Mata Sang Adipati bersinar-sinar hampir tiada berkedip.

Orang pun lupa memperhatikan mata yang sepasang itu.

Semua tertarik pada Idayu. Tetap hanya Rangga Iskak

antara sebentar melirik pada Tholib Sungkar Az-Zubaid. 

“Aduh, Aduh, Aduh, Gusti!” gumam bekas Syahbandar

Malaka itu seperti kesakitan.

“Apa, Tuan Sayid?” tanya Sang Adipati seperti pada

seorang sahabat lama.

“Serba indah, Gusti, serba cantik, serba mengikat. Kalau

di Ispanya sana, Gusti,” ia bertepuk bersemangat, “tidak

salah lagi, pasti akan jadi hiasan istana Ekopal.”

“Apa?”

“Hiasan istana raja Ispanya, Gusti.”

“Hiasan istana raja….” Sang Adipati berbisik

mengulangi sambil tersenyum. Kemudian agak keras,

“sayang hanya anak desa.”

“Tuban menciptakan makhluknya tanpa perbedaan,

Gusti, baik desa mau pun kota milik Allah juga.”

Rombongan pembesar kembali ke kadipaten sebelum

tarian Idayu selesai…. Rangga Iskak tidak kembali ke alunalun. Ia berjalan bergegas menuju ke pelabuhan. Kakinya

melangkah cepat-cepat. Antar sebentar ia menengok ke kiri

dan ke kanan. Sampai di depan waning tuak dan ciu-arak ia

berhenti. Pintunya terkunci dari dalam. Langit gelap. Ia

mengetuk dan mengetuk. Tak lama kemudian pintu itu

terbuka. Tak ada lampu menyala di dalam. “Kaukah itu,

Yakub?”

“Tidak salah, Tuan, Yakub ada di sini menunggu Tuan.

Tuan tidak masuk?”

Syahbandar Tuban itu masuk ke dalam, duduk pada

salah sebuah bangku setelah menggerayanginya dengan

hati-hati.

Dalam kegelapan tak ada nampak wajah dua-duanya.

Seakan mereka bicara dalam kekosongan alam sebelum 

matari dan bulan diciptakan. Hanya bisik-bisik pelahan,

seperti guru di kejauhan, tanpa nada: “Sang Adipati ini lain

dari putra-putranya, Yakub. Raden Sayid itu sepenuh hati

mengabdikan diri pada Islam, Sang Adipati ini, hanya

perdagangan dan keuntungan saja yang dia urusi. Dasar

Rangga Demang….”

“Tapi Sang Adipati jelas berpihak pada Islam, Tuan,”

Yakub membantah.

“Dari mana pikiranmu itu?”

“Uah, tuan Syahbandar Tuban, bukankah sudah aku

sampaikan, Sang Adipati sudah bersiap-siap dengan

cetbang?”

“Benar, bersiap-siap berperang terhadap Demak.”

Yakub berdiam.

“Lantas di mana Islamnya, Yakub?”

“Banyak yang bilang tidak begitu. Sang Adipati tak

pernah memperlihatkan kegusaran Jepara diambil oleh

Demak, Tuan Syahbandar. Jepara direlakan, karena Demak

Islam yang mengambil. Orang bilang Tuban bersiap-siap

terhadap Peranggi.”

“Bodoh, kau, Yakub. Mari aku bilangi. Tak kau lihat

tadi Sayid palsu Habibullah Almasawa sudah mulai

mengiringkan Sang Adipati?”

“Semua orang sudah melihat, Tuan.”

“Tandanya dia akan gantikan aku jadi Syahbandar

Tuban.”

“Tidak mungkin, Tuan.”

“Untuk melayani kapal-kapal Peranggi dan Ispanya. Dia

tahu dua-dua bahasa itu. Sang Patih sudah mengujinya, dan 

dia dianggap lulus. Maka tak mungkin Sang Adipati punya

sikap terhadap Peranggi atau Ispanya. Dia sendiri kafir!

Dan akan mati sebagai kafir! Dia munafik, kafir yang

munafik. Pada saudagar-saudagar Islam ia perlihatkan diri

seorang Islam demi mas dan perak, dan sutra dan tembikar,

dan persembahan. Berapa perempuannya? Tak ada orang

bisa menghitung.” Bisikannya semakin mengandung

amarah, “Coba, orang-orang lain diperintahkannya

bersembahyang untuknya, yang Buddha, yang Wisynu,

yang Syiwa. Juga mandi junub, Yakub, dia tak lakukan

sendiri, orang lain harus mewakilinya.”

“Kalau begitu Tuan, memang kurang ajar Sang Adipati

itu. Tapi bagaimana pun, Tuan, Sayid itu takkan mungkin

dapat menggantikan Tuan.”

“Mengapa tidak.”

“Aku bilang, pendatang itu tak mungkin dapat jadi

Syahbandar Tuban, biar pun Sang Adipati menghendaki.

Tuan akan tetap di tempat. Jangan lupa, Tuan, Yakub,

masih segar-bugar, sekarang terserah saja pada Tuan

bagaimana jalan dan caranya.”

Dalam kegelapan itu bisikan mereka makin pelan,

semakin mesra seakan dua sahabat karib, yang baru

bertemu setelah berpisah sepuluh tahun. Dan suatu rencana

tertimpalah pada malam itu juga: Sayid Habibullah

Almasawa disingkirkan dari Tuban, hidup atau mati.

Rencana akan dijalankan secepat-cepatnya dan setelititelitinya. Menjelang subuh rencana sudah selesai

sepenuhnya. Dan waktu Syahbandar akan pulang terdengar

suara Yakub yang agak keras: “Nanti dulu, Tuan. Belum

lagi Tuan perhitungkan biaya untuk si Yakub miskin dan

teman-temannya.” 

“Iblis!” bentak Rangga lskak. “Kau selalu menuntut

biaya. Berapa kau kehendaki?”

“Lima dinar, Tuan.”

“Husy. Dengan lima dinar aku bisa beli kepalamu

sampai kepala nenekmu sendiri.”

“Uah, uah,” kemudian Yakub tertawa senang, “hanya

lima dinar harga jabatan Tuan? Tinggal pilih, Tuan. Yakub

sih, sekedar tenaga murah.”

Rangga Iskak berhenti berjalan. Ragu-ragu ia bertanya:

“Dalam waktu berapa hari semua selesai?”

“Dua minggu, Tuan. Begitu dia keluar dari kadipaten,

jadilah sebagaimana Tuan kehendaki.”

“Baik. Terima ini satu dinar panjar,” dan ia pun pergi

tanpa menoleh lagi.

Yakub tertawa, masuk kembali ke dalam warung dan

mendengus: “Si buaya itu sudah menyediakan dinar dalam

pundi-pundinya. Kalau mengenai mas, mas yang harus

keluar, dia pikun seperti hampir-hampir mati tua. Kalau

emas harus masuk, dia lebih dari seorang periba. Dasar

buaya darat!”

Tholib Sungkar Az-Zubaid alias Sayid Mahmud AlBadaiwi alias Sayid Habibullah Almasawa masih

mendengkur di gandok belakang kadipaten…. 

Novel Arus Balikk Bab 4 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.

Bagaimana alur cerita dari novel Arus Balik Bab 4 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua. 

Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.

Untuk membaca Novel Arus Balik bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 8 Disini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 28 Disini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 26 Disini