Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 2 Disini
Novel Arus Balik bab 2 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Arus Balik menceritakan tentang kisah Kedatangan Portugis di Bumi Nusantara dengan latar awal Abad XVI, yaitu ketika surutnya pengaruh Majapahit dan naiknya pamor Kesultanan Demak.
Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Arus Balikk Bab 2 Bahasa Indonesia Sekarang ini.
2. Tuban
“Tahan dia ini, Patragading, putra Sang Adipati.
Ayahandanya sendiri yang akan menentukan hidup dan
matinya.” Patragading digiring keluar pendopo. Begitu
turun ke tanah ia memandangi bulan, memukul dadanya,
bergumam: “Apakah masih patut aku membawa mukaku
sendiri?”
“Jalan ke kiri, Paduka!” perintah kepala regu, dan
berbarislah mereka meninggalkan halaman kepatihan.
Sang Patih masih tegak berdiri di tempatnya. Ia
menggalang pelahan, kemudian berbalik dan masuk ke
dalam rumah.
Paling tidak telah seribu tahun perahu dan kapal-kapal
berlabuh di bandar Tuban Kota. Dari barat, timur dan
utara. Dari timur orang membongkar rempah-rempah dari
kepulauan yang belakangan ini mulai disebut bernama
Mameluk (Nama yang diberikan oleh pedagang-pedagang
Arab, kemudian berobah jadi Maluku.) dan cendana dari
Nusa Tenggara. Dari Tuban sendiri orang memunggah
beras, minyak kelapa, gula garam, minyak tanah dan
minyak-minyak nabati lainnya, kulit binatang hutan.
Dari laut bandar Tuban Kota nampak seperti sepotong
balok, pepohonan dan taman-taman. Bila lumut hijau
hilang dan muncul coklat baru, itulah kampung-kampung
nelayan. Hijau lagi, coklat lagi, dan itulah bandar Pasukan
Laut dan galangan kapal. Hijau lagi, coklat lagi, dan itulah
bandar alam lainnya yang dimiliki negeri Tuban.
Di atas balok coklat bermulut berdiri barisan perbukitan
tebal, kuning, di sana-sini agak hijau. Itulah perbukitan
kapur bernama Kendeng.
Dan di atas perbukitan adalah langit para dewa.
Bandar Tuban adalah bikinan alam yang pemurah,
disempurnakan oleh tangan manusia selama paling tidak
seribu tahun. Lautnya dalam dan dermaganya kokoh,
indah, juga bikinan alam, sepotong jalur karang yang
menjorok ke laut. Pedagang-pedagang Atas Angin menamai
bandar ini Permata Bumi Selatan.
Dan bila orang mendarat dari pelayaran, entah dari jauh
entahlah dekat, ia akan berhenti di satu tempat beberapa
puluh langkah dari dermaga. Ia akan mengangkat sembah –
di hadapannya berdiri Sela Baginda, sebuah tugu batu
berpahat dengan prasasti peninggalan Sri Airlangga. Bila ia
meneruskan langkahnya, semua saja jalanan besar yang
dilaluinya, jalanan ekonomi sekaligus militer. Ia akan selalu
berpapasan dengan pribumi yang berjalan tenang tanpa
gegas, sekalipun di bawah matari terik.
Kalau orang datang untuk pertama kali, segera ia akan
terpikat melihat lalu lalang. Orang tak henti-hentinya
mengangkuti barang dari dan ke bandar, dengan pikulan
atau grobak beroda bulat dari potongan batang kayu. Kereta
sangat sedikit, apalagi yang beruji kayu. Lebih banyak lagi
grobak beruji. Grobak beroda kayu utuh berasal dari
pedalaman, yang beruji dari kota sendiri. Penariknya adalah
sapi atau kerbau. Seorang pendatang boleh jadi akan
bertanya, mengapa tak ditarik oleh kuda? Dan dengan
senang hati orang akan menerangkan: tak diperkenankan
menggunakan kuda atau diri sendiri untuk penarik grobak
Kalau pendatang itu bertanya: mengapa terlalu sedikit
kereta di sini? Ia akan mendapat jawaban: memang, tuan
jumlahnya taklah lebih dari dua puluh – semua milik para
pembesar negeri dan praja, dan milik para panglima
Pasukan Pengawal, Pasukan Kaki, Pasukan Gajah dan
Pasukan Laut.
Bila kereta berkuda empat semacam itu lewat, lalu lintas
berhenti, menyibakkan diri untuk memberi penghormatan.
Dari jauh telah terdengar gerincing giring-giringnya dari
kuningan berkilat-kilat dan nampak umbul-umbul beraneka
warna, bendera jabatan dan kesatuan. Kuda-kuda penarik
itu pun dihias dengan gombak dan limbai aneka warna.
Abah-abahnya berkilat-kilat dengan hiasan dari tembaga,
kuningan, perunggu dan perak, kadang juga dari mas. Juga
orang-orang asing diwajibkan berhenti bila kereta lewat,
penduduk berlutut menyembah. Dan bila kereta Sang
Adipati sendiri yang lewat, juga penduduk asing harus
menyembah dengan caranya masing-masing.
Lalu lalang di bandar beraneka ragam. Orang-orang
asing, Arab, Benggala, Parsi, bangsa-bangsa Nusantara,
Tionghoa, bergaya dengan pakaian negeri masing-masing.
Pribumi sendiri juga beraneka. Pria berambut pendek,
bahkan gundul tak berdestar atau berkopiah, adalah mereka
yang telah menanggalkan agama leluhur. Mereka tidak
berkain batik, tetapi berkain tenun genggang atau polos
tanpa belahan, tak mengenakan wiron atau dodot. Pria
berambut panjang berdestar batik pertanda masih
mengukuhi Buddha atau Shiwa atau Wisynu, dan hampir
selalu berkain batik atau wulung. Dan bila rambut panjang
mereka tergulung dalam destar, itulah pertanda mereka
pedagang pedalaman yang berurusan dengan pedagangpedagang beragama Islam.
Orang takkan melihat adanya suami-istri berjalan-jalan
bersama di siang hari. Namun wanita nampak di manamana, bekerja di bawah capil bambu anyaman, di pelataran
rumah, di pinggir jalan, di pasar kota dan bandar sendiri.
Mereka melakukan segala macam pekerjaan yang juga
dikerjakan oleh pria. Dan mereka bekerja sambil
berdendang. Juga mereka berkain batik seperti kaum pria.
Lima tahun yang lalu sidang para pedagang Islam telah
menghadap Tuanku Penghulu Negeri, memohon agar para
wanita menutup buahdadanya. Sejak itu semua wanita yang
keluar dari rumah diharuskan mengenakan kemban. Maka
sekarang mereka tak bertelanjang dada lagi seperti halnya
dengan kaum pria Pribumi.
Anak-anak kecil bermain-main dalam rombongan besar
di setiap lapangan terbuka, mengisi udara pagi dan sore
dengan cericau, tawa dan sorak-sorainya. Lima tahun yang
lalu jarang terjadi yang demikian. Setelah sidang para
pedagang Islam, pribumi dan asing menghadap Tuanku
Penghulu Negeri agar membatasi penghajaran kafir pada
kanak-kanak, asrama-asrama mulai ditinggalkan oleh
mereka, dan mulai mereka bergentayangan tanpa
penggembala.
Ke mana pun mata ditebarkan, keadaan aman, damai,
sejahtera. Tetapi semua itu semu belaka.
Sejak jaman-jaman yang tidak dapat diingat lagi Tuban
terlalu sering dihembalang bencana perang dan kerusuhan.
Namun buminya tak juga jenuh tersiram darah putra dan
putrinya, juga darah musuh-musuhnya yang datang
menyerbu.
Dua kali negeri ini dilanda perang besar. Pertama oleh
balatentara Kublai Khan, cicit Jengis Khan yang bertahta di
Khan Baliqr Seperti air bah prajurit-prajurit Tartar
mendarat dari laut, menyapu Tuban yang sama sekali tak
mampu bertahan terhadap senjata api. Negeri ini terinjakinjak balatentara yang bersepatu itu, dan meninggalkannya
lagi untuk meneruskan penyerbuannya ke Singasari. Orang
bilang ini terjadi pada 1292 Masehi.
Perang besar kedua dan ternyata kelak bukan yang
terakhir terjadi pada awal abad ke XIY Masehi. Bupati yang
memerintahTuban waktu itu adalah Adipati Ranggalawe,
salah seorang pendiri Majapahit. Pertentangannya tentang
kebijaksanaan praja dengan Sri Baginda Kartarajasa, raja
pertama Majapahit, menyebabkan balatentara Majapahit
datang menyerbu. Seluruh kota dihancurkan. Tak sebuah
rumah tinggal berdiri, rata dengan tanah, termasuk
bangunan-bangunan suci dan galangan kapal. Adipati
Ranggalawe sendiri gugur. Dan kota, yang dibangun pada
awal abad ketujuh Masehi itu binasa.
Setelah perang besar kedua selesai, yang tertinggal
setengah utuh hanya Sela Baginda, didirikan pada awal
abad ke XI Masehi.
Baginda Sri Kartarajasa mengangkat seorang bupati
baru. Dua puluh tahun lamanya pembangunan kembali
kota Tuban dilaksanakan. Dan Sri Baginda membebani
gubernur baru itu dengan tanggungan pasukan Gajah, yang
menjadi inti kekuatan darat balatentara Majapahit.
Penataran dan galangan kapal dipulihkan, diperbesar,
sampai menjadi penghasil kapalperang dan niaga terbesar di
seluruh Jawa, seluruh Nusantara, seluruh dunia peradaban.
Sekarang tidak demikian lagi.
Pada awal abad ke XYI sekarang kekuatan pemersatu
kekaisaran Majapahit telah patah. Para gubernur pesisir
telah memunggungi Majapahit sehingga runtuh dan berdiri
sendiri-sendiri, jadi raja-raja kedi, tanpa ada yang berani
mengangkat diri jadi Kaisar. Juga bupati Tuban Sang
Adipati Arya Teja Tumenggung Wilwatikta. Orang tua-tua
hanya dengan berbisik-bisik berani membicarakan dengan
sesama tua, tak lain dari Sang Adipati juga yang
memprakarsai dan memimpin persekutuan rahasia ini.
Majapahit jatuh.
Sekarang makin lama makin sedikit kapal-kapal Jawa
belayar kentara, ke Atas Angin, ke Campa ataupun ke
Tiongkok. Arus kapal dari selatan semakin tipis. Sebaliknya
arus dari utara semakin deras, membawa barang-barang
baru, pikiran-pikiran baru, agama baru. Juga ke Tuban.
Gubernur Tuban, Sang Adipati Arya Teja Tumenggung
Wilwatikta, bertekad mempertahankan kedamaian itu,
keamanan, ketenteraman dan kesejahteraan sekarang
dengan mengembangkan perdagangan antarpulau. Ia
menyokong diperbesamya armada dagang ke Maluku.
Dagang! Dagang saja. Ia tak berminat meluaskan kekuatan
ke laut. Ia tak menghendaki Tuban jadi kekaisaran benua
seperti Majapahit dengan terlalu banyak urusan. Dalam
usia tua ia hanya ingin bertenang-tenang. Angkatan Laut
tidak diperlukannya, sekedar cukup jadi penghalau bajak
dan perompak, serta melindungi pantai dari gangguan
mereka. Di bawah pemerintahan dan kebijaksanaannya
bandar Tuban berkembang mendesak bandar Gresik,
menjadi pusat penumpukan rempah-rempah dari Mameluk
dan Nusa Tenggara.
Hampir setiap bulan Sang Adipati datang berkuda ke
pelabuhan. Di depannya berderap pasukan pengawal
berkuda, bertombak, berperisai, dengan pedang tergantung
pada pinggang. Jumbai dan pitamerah menghiasi tombak
mereka. Di belakangnya berderap pasukan pengawal lagi.
Gemerincing “giring-giring mereka serta kepulan debu
menyebabkan orang dari jauh-jauh telah bersimpuh di tanah
dan mengangkat sembah kepala.
Bandar Tuban Kota adalah buahhati Sang Adipati. Ia
merasa puas dengan pekerjaan Syahbandar Tuban: Ishak
Indrajit.
Karena semakin tua ia semakin mengutamakan
perniagaan oleh para bupati tetangga, ia dianggap telah
kehilangan keksatriaannya. Padahal, kata salah seorang di
antara mereka, kalau dia mau, dengan pasukan gajahnya
yang berabad jadi perisai Majapahit, dengan kekayaannya
yang datang dari laut, sebenarnya ia mampu menaklukkan
tetangga-tetangganya dan sendiri marak jadi kaisar.
Dirasani begitu ia hanya tertawa.
Sekali waktu Sang Adipati mempersembahkan ada
seorang bupati lain yang mengejeknya dengan nama Rangga
Demang, Rangga dikerat dari nama Ranggalawe yang
perkasa dan Demang adalah pangkat rendah dalam
kepunggawaan praja, ia menjawab tak peduli: Orang juga
boleh menyebut seperti itu.
Maka para bupati tetangga semakin yakin, Sang Adipati
memang bukan lagi seorang ksatria, telah merosot jadi
sudra.
Ia sendiri tak pernah merasa terhina dengan segala
julukan dan ejekan. Pendirian dan sikapnya tetap:
perniagaan antarpulau harus terus dan makin berkembang.
Bandar harus makin banyak disinggahi kapal-kapal Atas
Angin, Nusantara dan Tiongkok. Pertahanan negeri Tuban
sendiri dianggapnya mudah. Dengan Pasukan Gajah Tuban
yang masyhur ia percaya akan dapat memukul mundur
setiap dan semua penyerbu. Ia telah letakkan dasar jaringan
pengawasan daerah-daerah perbatasan, dilaksanakan oleh
satuan-satuan berkuda yang terus-menerus bergerak.
Apalah arti Pasukan Gajah, bupati-bupati yang mengiri
akan kesejahteraan dan kekayaan Tuban suka merasani,
hanya jadi beban kawula. Sekali ada yang menyerbu,
jatuhlah negeri ini jadi jarahan.
Tak juga ada yang berani menyerbu. Mereka tetap segan
terhadap Pasukan Gajah. Dan semua orang tahu, seekor
gajah sama ampuhnya dengan dua ratus prajurit kaki yang
tangguh. Sedang binatang itu tak kenal kecut apalagi
khianat.
Ia telah berhasil menciptakan cara untuk mengikat
kesetiaan desa-desa perbatasan dengan jalan mengambil
hati penduduk: bunga-bunga tercantik diselir dengan gelar
Nyi Ayu, dan mengirimkan keturunannya kembali ke desa
sebagai punggawa dengan gelar Raden Bambang dan
menjadi pujaan desa. Dengan demikian Sang Adipati telah
menyebarkan ratusan dari anaknya di seluruh negeri.
Untuk pembiayaan praja, desa-desa dikenakan upeti
sepersepuluh dari setiap dan semua macam penghasilan
dengan tambahan khusus:
jatah untuk umpah gajah serta pembuatan dan
pemeliharaan jalanan umum. Segala yang berhubungan
dengan bandar dan wilayahnya dibiayai dengan
penghasilan bandar. Dan Ishak Indrajit yang mengurus
semua itu. Patih Tuban bertindak sebagai pengawas
tertinggi dan pengatur tertinggi semua pekerjaan.
Sang Adipati sudah puas dengan semua itu. Ia tak ingin
terjadi suatu perubahan. Semua kawula mempunyai
penghidupan yang layak. Semua lelaki dapat menghias
dirinya dengan keris dengan pamor dan rangka sebagusbagusnya. Dan nampaknya semua akan abadi seperti itu
sampai ia mati dan juga setelah ia mati, untuk selamalamanya.
Walau ia membiarkan runtuhnya Majapahit, malah ikut
mengambil prakarsa terjadinya persekutuan untuk itu, tak
urung ia juga yang suka menebah dada sebagai pewaris
kekaisaran benua yang sudah runtuh itu. Ia pergunakan
bendera Majapahit untuk negeri dan kapal-kapalnya,
merah-putih, hanya lebih panjang daripada yang lama.
Tuban tidak hanya panglima tetap. Menurut tradisi
Majapahit pula hanya di waktu perang seorang adipati atau
menteri ditunjuk memegang jabatan itu. Setelah Majapahit
jatuh dan Tuban jadi negeri bebas, kebiasaan tak
berpanglima diteruskan. Keamanan Tuban Kota dilakukan
oleh Pasukan Pengawal yang tidak banyak jumlahnya.
Keselamatan praja dijaga oleh Pasukan Kuda, Gajah dan
Kaki. Keamanan pantai dipegang oleh Pasukan Laut, yang
juga tidak banyak, sedang keamanan desa-desa dilakukan
oleh pagardesa yang terdiri atas pemuda-pemuda pilihan.
Untuk mengambil hati rakyat di pesisir yang makin
banyak yang memeluk Islam, ia telah perintahkan
berdirinya sebuah mesjid di wilayah pelabuhan. Dalam
waktu pendek bangunan itu telah menjadi suatu
perkampungan Islam dari orang-orang Melayu, Aceh,
Bugis, Gujarat, Parsi dan Arab.
Sang Adipati tak pernah punya kekuatiran akan
timbulnya pertentangan karena agama. Sejak purbakala
penduduk Tuban tak punya prasangka keagamaan. Orang
berpindah agama karena kesulitan dalam penghidupan,
merasa dewa sembahannya tidak menggubrisnya maka
dicarinya dewa sembahan lain.
Sang Adipati juga mengijinkan berdirinya sebuah
klenting batu yang jadi pusat perkampungan penduduk
Tionghoa, Pecinan. Klenting yang lama telah dianggap
terlalu kecil. Yang baru didirikan di sebelah barat
pelabuhan.
Keamanan, kedamaian, ketenteraman dan kesejahteraan
yang didambakan dan dipertahankan dengan segala macam
kebijaksanaan kini mulai terancam dari sebelah barat:
Demak mulai bergerak dan merampas Jepara, daerah
kekuasaan Tuban….
Tenang dan damai keadaan Tuban Kota. Gelisah hati
Sang Adipati yang telah lanjut usia itu.
Sore itu ia datang berkuda di pelabuhan. Sang Patih
mengiringkan di belakangnya. Para pengawal di depan sana
telah berhenti di pasiran pantai. Sebagian menghadap ke
laut biru-kuning yang gelisah/Sebagian menghadap pada
Sang Adipati yang sedang turun dari kuda dengan kaki
sebelah di atas tanah, kaki lain diatas punggung seorang
pengawal yang menungging.
Sang Patih juga turun, langsung dari kuda, kemudian
segera berjongkok dan menyembah.
Syahbandar Tuban, Ishak Indrajit, lari menuruni
kesyahbandaran. Jubah putihnya berkibar-kibar. Sorbannya
nampak terlalu besar dan berat bertengger pada kepalanya
yang kecil, lebat ditumbuhi cambang, kumis dan jenggot
yang mulai jadi kelabu. Sampai barang tujuh langkah dari
Sang Adipati ia berdiri dan mengangkat sembah kepala.
“Mereka bukan saja telah menduduki Jepara…
Bagaimana, Kakang Patih?”
“Ampun, Gusti,” Sang Patih mengangkat sembah, “juga
telah mendirikan galangan-galangan kapal besar.”
“Brandal-brandal itu mengimpi hendak menguasai laut.”
“Ampun, Gusti, setelah Adipati Kudus Pangeran
Sabrang Lor menguasai wilayah terbarat Gusti, sekarang
dari ayahandanya dibenarkan menggunakan gelar Adipati
Unus. Konon kabarnya Unus adalah nama dewa baru
penguasa lautan.”
“Anak baru kemarin, belum lepas dari ingus sendiri.”
“Patik, Gusti. Gusti tidak berkenan memukulnya dengan
perang. Kalau dibiarkan, Demak akan terus mendesak ke
timur.”
“Dewa lama dan Allah baru tidak bakal membenarkan.”
“Allah Dewa Batara, sekali Gusti titahkan, tidak hanya
Jepara, Demak sendiri dapat ditumpas dalam tiga hari
Gusti. Mereka belum punya Pasukan Kuda, tidak punya
Pasukan Gajah. Perwira-perwiranya, orang-orang Tionghoa
itu, tidak akan mampu menahan balatentara kita.” :
“Demak sudah mendirikan galangan-galangan kapal
besar di Jepara.”
“Patik, Gusti. Tuban pun harus segera mengimbangi.”
“Bangunkan, Kakang Patih. Bukan untuk perang, hanya
untuk mengimbangi.”
“Patik, Gusti.”
Sang Adipati masih juga berdiri. Kakinya yang sebelah
ditariknya dan punggung pengawalnya, dan ia meninjau ke
laut yang disebari perahu nelayan yang baru berangkat
pulang.
Pada dermaga tertambat tiga buah kapal asing. Di
kejauhan sana nampak sebuah kapal peronda pantai yang
sedang belayar kearah ba rat. Semua layarnya
menggelembung seperti busur. Namun semua itu tak
menarik perhatian Sang Adipati. Hatinya tetap gelisah.
Ia tarik pandangnya dari laut dan dilekatkan sebentar
pada destar Sang Patih yang dihiasi dengan permata.
Tangannya yang bergelang mas tiga susun menuding pada
pasir. Berkata pelan: “Makin lama makin sedikit kapal Atas
Angin singgah.”
Sang Patih, jauh lebih muda, anak paman Sang Adipati,
mengangkat sembah: “Keadaan di lautan Atas Angin sana
sudah berubah, Gusti,” kemudian dengan jarinya
menggaris-garis di atas pasir membuat gambar, “kapalkapal asing yang selama ini tidak pernah dikenal sekarang
mulai berdatangan dari Ujung Selatan Wulungga – tanjung
yang tak pernah dilewati nenek-moyang, Gusti.”
Sang Adipati mengerutkan kening. Alisnya, kumis,
jenggot dan cambangnya yang putih membikin wajah
tuanya yang penuh kerut-mirut itu nampak semakin pucat.
Matanya kini tersangkut pada pipa celana Sang Patih yang
hitam kelam dengan ujung-ujung pipa dihiasi sulaman
benang sutra kurung.
“Ampun, Gusti sesembahan patik. Mereka, Gusti,
menyusuri pantai Wulungga, memasuki jalan laut kapalkapal Atas Angin. Kapal-kapal mereka, kata orang, tidak
lebih besar dari kapal-kapal Majapahit, agak lebih besar dari
kapal-kapal Atas Angin dan Tuban, tetapi layarnya jauh
lebih banyak dan lebih besar. Jalannya laju seperti cucut,
dapat membelok cepat sambil miring, dengan lambung
menepis permukaan laut seperti camar.”
“Betapa indah, sebagai cerita, Kakang Patih,” Sang
Adipati memberanikan.
“Layar-layarnya, Gusti, digambari dengan salib raksasa.”
“Salib?”
“Ampun, Gusti, hanya dua buah garis bersilang. Orang
bilang, garis yang datar melambangkan kerajaan manusia,
garis dari atas ke bawah, kata orang, melambangkan
karunia dewa di atas pada kerajaannya.”
“Apa bedanya dengan swastika Buddha?”
“Kalau dibuang siripnya tentu dia akan sama, Gusti.”
Sang Patih membikin salib di atas pasir. “Sebab itu besar,
besar sekali, merah menyala, dapat dilihat sepemandangan
dari atas gajah dan dari atas menara. Layar-layar putih
sangat besar, dari ufuk nampak seperti kuntum melati.”
“Kapal-kapal siapa yang muncul dari Ujung Selatan
Wulungga yang keramat itu, Kakang Patih?”
‘Itulah kapal-kapal Peninggi, Gusti sesembahan patik,”
jawabnya sambil mengangkat sembah, menunduk lagi dan
meneruskan gurisannya di atas pasir, membuat gambar kirakira dari kapal-kapal baru itu.
“Tentu mereka bajak yang menakutkan,” Sang Adipati
memancing-mancing pendapat.
Tenang dan damai keadaan Tuban Kota. Gelisah hati
Sang Adipati yang telah lanjut usia itu.
Sore itu ia datang berkuda di pelabuhan. Sang Patih
mengiringkan di belakangnya. Para pengawal di depan sana
telah berhenti di pasiran pantai. Sebagian menghadap ke
laut biru-kuning yang gelisah/Sebagian menghadap pada
Sang Adipati yang sedang turun dari kuda dengan kaki
sebelah di atas tanah, kaki lain diatas punggung seorang
pengawal yang menungging.
Sang Patih juga turun, langsung dari kuda, kemudian
segera berjongkok dan menyembah.
Syahbandar Tuban, Ishak Indrajit, lari menuruni
kesyahbandaran. Jubah putihnya berkibar-kibar. Sorbannya
nampak terlalu besar dan berat bertengger pada kepalanya
yang kecil, lebat ditumbuhi cambang, kumis dan jenggot
yang mulai jadi kelabu. Sampai barang tujuh langkah dari
Sang Adipati ia berdiri dan mengangkat sembah kepala.
“Mereka bukan saja telah menduduki Jepara…
Bagaimana, Kakang Patih?”
“Ampun, Gusti,” Sang Patih mengangkat sembah, “juga
telah mendirikan galangan-galangan kapal besar.”
“Brandal-brandal itu mengimpi hendak menguasai laut.”
“Ampun, Gusti, setelah Adipati Kudus Pangeran
Sabrang Lor menguasai wilayah terbarat Gusti, sekarang
dari ayahandanya dibenarkan menggunakan gelar Adipati
Unus. Konon kabarnya Unus adalah nama dewa baru
penguasa lautan.”
“Anak baru kemarin, belum lepas dari ingus sendiri.”
“Patik, Gusti. Gusti tidak berkenan memukulnya dengan
perang. Kalau dibiarkan, Demak akan terus mendesak ke
timur.”
“Dewa lama dan Allah baru tidak bakal membenarkan.”
“Allah Dewa Batara, sekali Gusti titahkan, tidak hanya
Jepara, Demak sendiri dapat ditumpas dalam tiga hari
Gusti. Mereka belum punya Pasukan Kuda, tidak punya
Pasukan Gajah. Perwira-perwiranya, orang-orang Tionghoa
itu, tidak akan mampu menahan balatentara kita.” :
“Demak sudah mendirikan galangan-galangan kapal
besar di Jepara.”
“Patik, Gusti. Tuban pun harus segera mengimbangi.”
“Bangunkan, Kakang Patih. Bukan untuk perang, hanya
untuk mengimbangi.”
“Patik, Gusti.”
Sang Adipati masih juga berdiri. Kakinya yang sebelah
ditariknya dan punggung pengawalnya, dan ia meninjau ke
laut yang disebari perahu nelayan yang baru berangkat
pulang.
Pada dermaga tertambat tiga buah kapal asing. Di
kejauhan sana nampak sebuah kapal peronda pantai yang
sedang belayar kearah ba rat. Semua layarnya
menggelembung seperti busur. Namun semua itu tak
menarik perhatian Sang Adipati. Hatinya tetap gelisah.
Ia tarik pandangnya dari laut dan dilekatkan sebentar
pada destar Sang Patih yang dihiasi dengan permata.
Tangannya yang bergelang mas tiga susun menuding pada
pasir. Berkata pelan: “Makin lama makin sedikit kapal Atas
Angin singgah.”
Sang Patih, jauh lebih muda, anak paman Sang Adipati,
mengangkat sembah: “Keadaan di lautan Atas Angin sana
sudah berubah, Gusti,” kemudian dengan jarinya
menggaris-garis di atas pasir membuat gambar, “kapalkapal asing yang selama ini tidak pernah dikenal sekarang
mulai berdatangan dari Ujung Selatan Wulungga – tanjung
yang tak pernah dilewati nenek-moyang, Gusti.”
Sang Adipati mengerutkan kening. Alisnya, kumis,
jenggot dan cambangnya yang putih membikin wajah
tuanya yang penuh kerut-mirut itu nampak semakin pucat.
Matanya kini tersangkut pada pipa celana Sang Patih yang
hitam kelam dengan ujung-ujung pipa dihiasi sulaman
benang sutra kuning.
“Ampun, Gusti sesembahan patik. Mereka, Gusti,
menyusuri pantai Wulungga, memasuki jalan laut kapalkapal Atas Angin. Kapal-kapal mereka, kata orang, tidak
lebih besar dari kapal-kapal Majapahit, agak lebih besar dari
kapal-kapal Atas Angin dan Tuban, tetapi layarnya jauh
lebih banyak dan lebih besar. Jalannya laju seperti cucut,
dapat membelok cepat sambil miring, dengan lambung
menepis permukaan laut seperti camar.”
“Betapa indah, sebagai cerita, Kakang Patih,” Sang
Adipati memberanikan.
“Layar-layarnya, Gusti, digambari dengan salib raksasa.”
“Salib?”
“Ampun, Gusti, hanya dua buah garis bersilang. Orang
bilang, garis yang datar melambangkan kerajaan manusia,
garis dari atas ke bawah, kata orang, melambangkan
karunia dewa di atas pada kerajaannya.”
“Apa bedanya dengan swastika Buddha?”
“Kalau dibuang siripnya tentu dia akan sama, Gusti.”
Sang Patih membikin salib di atas pasir. “Sebab itu besar,
besar sekali, merah menyala, dapat dilihat sepemandangan
dari atas gajah dan dari atas menara. Layar-layar putih
sangat besar, dari ufuk nampak seperti kuntum melati.”
“Kapal-kapal siapa yang muncul dari Ujung Selatan
Wulungga yang keramat itu, Kakang Patih?”
‘Itulah kapal-kapal Peninggi, Gusti sesembahan
patik,”jawabnya sambil mengangkat sembah, menunduk
lagi dan meneruskan gurisannya di atas pasir, membuat
gambar kira-kira dari kapal-kapal baru itu.
“Tentu mereka bajak yang menakutkan,” Sang Adipati
memancing-mancing pendapat.
“Kalau hanya sekedar bajak, Gusti, mereka bisa
dihindari bahkan bisa dilawan. Mereka tak bisa dihindari.
Bukan saja karena kelajuannya, karena layarnya yang
berlapis-lapis, dapat mekar menggelembung seperti melati,
sebesar tiga kali gajah, dapat mengempis seperti kantong
kosong, dapat cepat digulung…, ya Gusti….”
“Maksudmu meriamnya?”
“Benar, Gusti, meriamnya, senjatanya itu, dapat
memuntahkan api dan….”
“Adakah Patih sedang mengulangi dongeng kanak-kanak
itu.”
“Ampun, Gusti. Dongengan kanak-kanak itu sekarang
sudah jadi kenyataan.”
“Kenyataan!” Sang Adipati terpekik. “Memuntahkan
api! Apakah Kakang Patih bermaksud mengatakan ada
bangsa lain di atas bumi ini punya cetbang Majapahit? Ada
di negeri Atas Angin sana? Kakang Patih tidak hendak
mendongeng lagi?”
“Ampun, Gusti sesembahan patik. Ada bangsa jauh di
Atas Angin sana punya semacam cetbang Majapahit. Lebih
dahsyat, Gusti.”
“Lebih dahsyat!” Sang Adipati berseru menyepelekan,
tertawa kosong. Bergumam: “Ada yang lebih dahsyat dari
cetbang Majapahit,” ia menuding pada langit tanpa
mengangkat kepala. “Dari mana pula dongengan menarik
itu berasal, kiranya?”
Deburan ombak terdengar nyata. Tak ada manusia
bergerak dalam sepengelihatan penguasa Tuban itu. Jauhjauh di darat nampak orang bersimpuh di atas tanah dengan
kepala menunduk ke bumi. Dan di laut kapal dan perahu
yang tertambat berayun-ayun dengan layar tergulung dan
tiang-tiangnya menuding langit.
”Teruskan, Kakang Patih.”
“Ampun, beribu ampun, Gusti. Dongengan patik yang
indah ini datang menghadap Gusti untuk jadi bahan
periksa, Gusti. Kapal-kapal Atas Angin pada gentar. Orang
bilang banyak di antaranya telah mereka kirimkan ke dasar
lautan. Semua pedagang mengimpikan dan memburu
keuntungan, Gusti, maka benua dan lautan ditempuh.
Mengetahui, dengan munculnya kapal-kapal Peranggi,
bukan keuntungan yang teraih, tapi maut belaka, maka
mereka lebih suka tinggal tidur di tengah-tengah mewahan
di rumah masing-masing di bandar sendiri.”
“Maka makin berkurang kapal-kapal Atas Angin
datang?”
“Demikian adanya, Gusti sesembahan patik.”
Sang Adipati tercenung sebentar. Ia menunduk dan
berpikir. Lambat-lambat kedua belah tangannya tertarik ke
atas dan bertolak pinggang Sebentar dia berpaling dan
menebarkan pandang pada laut, kemudian pada langit.
Bertanya pelan: “Bagaimana bisa ada senjata lebih dahsyat
dari cetbang?”
“Beribu ampun, Gusti, cetbang mereka bukan sekedar
dapat menyemburkan api dan meledak, juga memuntahkan
bola-bola besi sebesar, sebesar, kata orang, sebesar buah
kelapa”
“Sebesar buah kelapa! Terkupas atau tidak?”
“Gusti Adipati berolok-olok. Apakah bedanya buah
kelapa itu terkupas atau tidak? Besi sebesar tinju pun akan
dapat remukkan setiap kapal, Gusti.”
Adipati Tuban Arya Teja Tumenggung Wilwatikta
terdiam. Juga destarnya yang panjang-panjang itu sebentar
menggelepar tertiup angin. Intan, baiduri dan jamrud yang
menghiasi bagian depan destar gemerlapan bermain-main
dengan sinar surya. Bertanya seakan tak acuh: “Bangsa apa
kata kakang tadi?”
“Peranggi, Gusti. Orang bilang, ada bangsa lain, juga
sama hebatnya, Ispanya namanya, Gusti. Kapal-kapal Atas
Angin pada ketakutan, Gusti, biarpun hanya melihat dari
kejauhan. Mereka sudah berlarian cari selamat, berlingsatan
tunggang-langgang cari hidup. Sedang kapal Peranggi itu,
Gusti, tak pernah belayar sendirian, selalu dalam
rombongan, paling tidak dua atau tiga buah. Kapal-kapal
Atas Angin itu, milik pedagang-pedagang itu, tak pernah
dalam rombongan. Karena persaingan satu dengan yang
lain, baik di laut mau pun di darat.”
“Dalam rombongan seperti armada Majapahit?”
“Benar, Gusti.”
“Apa lagi ceritamu, Kakang Patih?”
“Mereka lain dari orang-orang Arab, Parsi atau
Benggala, lain dari semua bangsa yang pernah datang di
Tuban. Mereka itu putih seperti kapas, seperti awan, seperti
kapur, seperti bawang putih….”
“Barangkali sebangsa hantu laut?”
“Gusti berolok-olok. Mohon apalah kiranya tidak
berolok-olok, Gusti. Keadaan dunia sungguh-sungguh
sudah berubah. Gusti. Mereka punya negeri dan rajanya
sendiri.” Sang Patih menurunkan nada suaranya dan
meneruskan pelahan bercampur dengan tiupan angin…
“Aku tak dengar, Kakang Patih, lebih keras.”
“Ampun, Gusti. Dari dulu orang tua-tua sudah
mendongeng tentang bangsa kulit putih, seperti dongeng
tentang peri dan gandarwa, seperti dongengan orang Islam
tentang jin, iblis dan setan, seperti dongengan tentang
dedemit para leluhur. Sekarang ternyata bangsa manusia
berkulit putih sesungguhnya ada.”
Ia turunkan lagi nada suaranya sehingga hampir
bergumam.
“Siapa tahu, Gusti….”
“Lebih keras!”
“Ampun, Gusti, siapa tahu, barangkali pada suatu kali
jin dan iblis dan setan orang-orang Islam juga punya negeri
sendiri kapal dan cetbang.”
Sang Adipati memperbaiki letak keris, kemudian
dilambainya Syahbandar agar mendekat. Yang dilambainya
bergerak, tetap berdiri dan mengangkat sembah kepala.
“Apa pengetahuanmu tentang bangsa berkulit putih?”
“Bangsa kafir itu, Gusti, bangsa berkulit putih, tapi
hatinya, rohnya, nyawanya, hitam, Gusti, hitam seperti
jelaga periuk. Mereka tidak mengagungkan Allah Yang
Maha Besar. Mereka penyembah patung. Sedangkan orang
Jawa pun bukan penyembah patung, kecuali pemeluk
Buddha. Mereka penyembah patung, Gusti.”
“Kafir atau tidak apa salahnya? Penyembah patung atau
tidak apa buruknya? Roh, nyawa atau hatinya hitam atau
putih atau kelabu ataupun ungu seperti bunga kecubung,
apa peduli? Allah Maha Besar telah memberikan pada
manusia berbagai macam warna. Selama mereka datang
membawa kesejahteraan untuk bandar Tuban… siapa saja
baik.”
“Auzubillah min zalik!” seru Syahbandar.
“Apa persembahanmu, Tuan Syahbandar?”
“Diampuni oleh Allah apalah kiranya… Baik Peranggi,
Gusti, maupun lspanya, memusuhi semua bangsa,
memusuhi semua orang Islam, dan Yahudi, dan Buddha,
dan Hindu, semua bangsa manusia. Mereka mau merajai
segala-galanya. Tuhan akan mengenyahkan mereka dari
muka bumi.”
“Kapan Tuhan mengenyahkan mereka?”
“Semua bangsa, Gusti,” sembah Ishak Indrajit terus
dalam Melayu, “dengan bimbingan Allah. Kalau semua
bangsa tidak mau, merekalah yang bakal menghalau kita
semua….”
“Di mana negerinya? Jauh atau dekat? Maka akan dapat
mengenyahkan semua bangsa dari muka bumi?”
“Jauh, Gusti, lebih jauh dari Parsi, Arabia ataupun
Turki. Negerinya ada di atas Atas Angin.”
“Kalau dongengan itu benar, pasti kapalnya banyak, kuat
dan hebat, tentu mereka bangsa yang pandai dan gagahberani. Mereka telah lewati Ujung Selatan Wulungga yang
tak pernah dilalui oleh nenek-moyang,” puji Sang Adipati
pada bangsa yang belum dikenal itu.
“Mereka diberanikan oleh iblis, dipimpin oleh setan,
Gusti Adipati Tuban,” susul Syahbandar pada Sang Adipati
tak senang.
Sang Adipati tak memperhatikan. Pandangnya
ditebarkan ke laut yang masih juga disebari perahu-perahu
nelayan. Angin yang meniupi dadanya membikin bulu dada
yang putih itu berombak. Tak dirasainya seekor lalat
hinggap pada dagunya. Ia sedang bekerja keras memanggil
kapal-kapal Peranggi dan lspanya dalam angan-angan.
“Bangsa-bangsa Atas Angin takut pada mereka,” tibatiba ia berpaling pada Syahbandar.
“Tuan Syahbandar, bagaimana bisa orang-orang Islam
takut pada kafir?”
“Senjata dari iblis!” Sang Adipati mengulangi.
“Sihir namanya, Gusti.”
“Sihir!” Sang Adipati mengulangi, melecehkan. “Kalau
begitu orang Islam pasti punya mantra-mantra penangkal.”
Syahbandar terdiam, menunduk lebih dalam, tak
menemukan kata-kata jawaban. Tubuhnya yang tinggi
jangkung nampak meriut kecil.
“Ampun, Gusti sesembahan patik,” sela Sang Patih
sambil menyembah, “adapun senjata itu sama sekali bukan
sihir, justru cetbang yang lebih ampuh. Kapal-kapal tak bisa
lari dari tudingannya. Senjata itu dapat menenggelamkan
kapal yang sebesar-besarnya dari jarak sepemandangan.”
“Jadi sungguh-sungguh mereka memusuhi semua
kapal?”
“Benar, Gusti, dan terutama kapal-kapal berbendera
bulan dan bintang, semua kapal Islam, juga kapal-kapal
bukan Islam dari Benggala, semua.”
“Apa yang mereka cari, orang-orang… apa pula
namanya tadi?”
“Peranggi, Gusti,” sembah Sang Patih. “Semua, Gusti,
semua yang mereka cari, terutama rempah-rempah.”
Tiba-tiba Sang Adipati tertawa senang dan bergumam
pada angin mendesau: “Ha! Rempah-rempah! Seperti kapalkapal lain, seperti yang selebihnya. Rempah-rempah. Hai!”
“Beribu ampun, Gusti,” Sang Patih meneruskan, “para
nakhoda bilang mereka mulai kelihatan di Malagasi,
memasuki Teluk Parsi dan mengamuk tiada terlawan.
Kapal-kapal armada gabungan dari beberapa negeri dibabat
lenyap ditelan laut… Sekarang mereka bukan hanya sudah
mulai kelihatan di Benggala dan Langka, juga sudah
menduduki Goa. Ya, Gusti, bila senjata mereka berdentum,
langit seperti belah dan hati yang mendengarnya jadi ciut.
Burung-burung lumpuh sayap dan berjatuhan mati. Bolabola besi sebesar kelapa bersemburan, mendesis di udara.
Tumpaslah kapal yang terkena.”
Sang Adipati tersenyum. Berseru pelahan: “Ya-ya-ya,
pastilah mereka memang bangsa-bangsa unggul. Tuan
Syahbandar, meriam bukan nama senjata itu?”
“Ampun, Gusti, dikutuk oleh Allah apalah kiranya
mereka itu. Gusti, Mereka namai senjata itu dengan nama
Dewi Ibunda Nabi Isa, Mariam, Gusti. Bukan mereka
sendiri yang menamainya, memang. Kata orang sebelum
mereka mendentumkan senjatanya, beramai-ramai mereka
memekikkan nama Ibunda Nabi Isa alaihissalaam. Api pun
menyemburat dari moncong senjatanya dan bola besi itu
melesit ke udara seperti peluru cetbang, hampir-hampir tak
dapat ditangkap oleh mata. Kemudian senjata itu dinamai
Meriam.”
Sang Adipati mulai bosan mendengar keterangan bertele.
Ia bergerak dari tempatnya, melangkah menuju pada
kudanya. Semua prajurit pengawal menyembah dan
beringsut menjauhkan diri. Prajurit pengawal pemegang
kuda itu pun mengangkat sembah, menyerahkan kendali
padanya, menyembah lagi. bersujud ke tanah, kemudian
menungging untuk jadi anak tangga.
Tanpa memperhatikan yang lain-lain Sang Adipati naik
ke atas punggung orang dengan sebelah kaki, dan dengan
kaki lain melompat ke atas punggung kuda.
Sang Patih juga naik ke atas kudanya, bergerak
mengiringkan Sang Adipati. Syahbandar tertinggal di
tempatnya….
0o-dw-o0
Kapal unggul senjata unggul bangsa unggul kulit putih,
rempah-rempah, salib… semua menjadi masalah ganda
yang berjubal dalam kepala Sang Adipati. Ia membutuhkan
waktu untuk memikirkan semua itu.
Bangsa-bangsa menjadi kaya karena berdagang rempahrempah. Mungkin satu bangsa bisa menjadi unggul karena
mencari rempah-rempah? Uh, pertanyaan lucu. Orang
takkan mati tanpa dia. Bangsa-bangsa mencarinya karena
memang sudah unggul Mungkinkah suatu bangsa bisa jadi
unggul hanya karena punya senjata unggul? Hhhh,
pertanyaan bodoh. Bangsa unggul saja bisa membikin dan
menggunakan senjata unggul. Ada suatu lembaga yang
membikin mereka jadi unggul, maka segala yang
ditanganinya juga jadi unggul: kapal dan senjata. Mereka
pergi ke mana-mana untuk mengalahkan dan menaklukkan.
Hanya yang dapat menahan dan mengalahkan mereka lebih
unggul. Salib itukah mungkin lambang lembaganya?
Sekarang ini siapa yang tahu? Barang siapa bisa menjawab,
dialah si pembohong itu. Orang harus mengenal lebih dulu
bangsa-bangsa dari negeri terjauh ini, bangsa-bangsa dari
atas Atas Angin, bangsa-bangsa yang telah menaklukkan
Ujung Selatan Wulungga yang belum pernah ditembus
kapal-kapal Majapahit. Tapi mereka membutuhkan
rempah-rempah! Mereka bangsa manusia biasa. Mereka
juga bisa dikendalikan melalui kebutuhannya. Tuban punya
rempah-rempah! Mereka akan datang kemari. Dan melalui
kebutuhannya mereka akan aku kendalikan!
0o-dw-o0
Tanpa mereka semua ketahui, sesuatu telah berubah di
dunia yang tak dikenal di utara, jauh di baratlaut sana.
Senjata baru, meriam itu, sesungguhnya sama nenekmoyangnya dengan cetbang Majapahit. Tahun tolaknya
dari Tiongkok pun sama: 1292 Masehi. Bersama dengan
balatentara Kublai Khan yang melakukan expedisi
penghukuman di Singasari, nenek-moyang cetbang
Majapahit dibawa serta di samping kuda perang dari
Mongolia dan Korea3
. Majapahit semasa Mahapatih Gajah
Mada telah mengembangkan senjata api ini jadi cetbang.
Lawan-lawan Majapahit pada mulanya menamai senjata ini
“sihir api petir”, karena dari bawah ia memancarkan api
dan di udara atau pada sasaran dia meledak. Dengan
cetbang, dalam hanya dua puluh tahun Majapahit Gajah
Mada berhasil dapat mempersatukan Nusantara menjadi
kekaisaran Malasya, kekaisaran Asia Tenggara. Setelah itu
cetbang tidak berkembang lagi.
Pada tahun 1292 itu juga prinsip.senjata-api bertolak dari
Tiongkok, dibawa oleh Marco Polo dan diperkenalkan di
Eropa. Orang mengetawakan dan mengejeknya, juga
setelah matinya. Makin banyaknya orang Eropa berkunjung
ke Tiongkok menyebabkan orang lebih mengerti dan mulai
mencoba-coba membikin sendiri. Perkembangan
selanjutnya melahirkan musket. Dengannya Portugis dan
Spanyol mengusir penjajahan Arab di negeri mereka,
semenanjung Iberia. Musket dibikin dalam bentuk raksasa
menjadi meriam. Dengannya mereka mempersenjatai
kapal-kapal, mengarungi samudra tanpa gangguan. Seperti
halnya dengan Majapahit, dengan kapal dan senjatanya
mereka mulai menguasai jalan laut dan musuh-musuhnya,
menaklukkan dan menjajah negeri.
Cetbang dan kapal unggul Majapahit pada suatu kali
telah menghancurkan dirinya sendiri dalam Perang
Paregreg. Juga Spanyol dan Portugis akan musnah
karenanya sekiranya Tahta Sua tidak segera turun tangan
meleraikan dua negeri ini dengan Jus Patronatus atau
Padroado, yang membelah dunia non-Kristen jadi dua
bagian, sebagian untuk Portugis dan yang lain untuk
Spanyol. Dan mulailah kapal-kapal mereka tanpa ragu-ragu
menjelajahi dunia dengan salib sebagai panji-panjinya,
menaklukkan dan menguasai bangsa dan negeri-negeri yang
dianggapnya dalam belah dunia bagiannya….
Dalam perjalanan Sang Adipati memerlukan menengok
ke belakang. Diberinya Sang Patih isyarat agar mendekat
Suaranya sayup-sayup di antara gemerincing giring-giring
dan derap kuda, terdengar ragu-ragu: “Kakang Patih,
bukankah telah Kakang ketahui sendiri bagaimana telah
kami petaruhkan hari depan pada kejayaan Islam?
Bukankah banyak di antara putra-putra kami telah
menggunakan nama Islam yang diberikan oleh gurugurunya? Kami biarkan putra kami Raden Said mendalami
agama Atas Angin ini, dan sekarang jadi pemuka Islam
yang dihormati, hidup sebagai pandita dan pertapa,
berpakaian seperti orang tidak ber bangsa. Berapa sudah di
antara putra-putra kami, kami sengajakan mengabdi pada
raja Islam Demak, karena percaya Islamlah yang jaya kelak.
Apa sekarang? Kapal-kapal Islam takut pada kafir-kafir
Peranggi dan Ispanya….”
“Patik, Gusti,” Sang Patih menunduk dan mengangkat
sembah.
“Bagaimana kira-kira jadinya semua ini nanti?”
“Allah Dewa Batara!” sebut Sang Patih tak bisa
menjawab.
“Kakang Patih, bagaimana warta putra mahkota Demak
setelah merampas Jepara, wilayah kami?”
“Belum banyak yang dapat dipersembahkan. Gusti.”
“Kerajaan pedalaman. Tanahnya lebih tandus dari Tuban.
Tak punya laut. Selmrang membutuhkan bandar sendiri.
Adakah kota Semarang sudah menolak memunggah
barang-barangnya maka ia memberandali wilayah kami?
Apakah Demak sudah bercekeok dengan Semarang?”
“Rupa-rupanya perlu dikirimkan telik, Gusti.”
Sang Adipati tidak menanggapi, meneruskan dengan
suara lebih keras: “Apakah ada dugaanmu putra mahkota
Demak merampas wilayah kami, Jepara, untuk
membangun sebuah Angkatan Laut?”
“Demikian konon wartanya, ya Gusti. Sudah sejak lama,
sejak kecil Adipati Unus, putra mahkota Demak, ditimangtimang oleh Ibundanya jadi Laksamana, merajai kepulauan
dan lautan. Gusti.”
Sang Adipati tak meneruskan pertanyaannya. Sang Patih
melambatkan kudanya sehingga kembali tercecer di
belakang.
Sesampainya di alun-alun tiba-tiba Sang Adipati
menengok lagi ke belakang, bertanya waktu menghentikan
kudanya: “Apakah putra mahkota Demak, Adipati Unus,
sudah memerintahkan pembikinan kapal perang?”
“Baru pendirian galangan-galangan, Gusti,” sembah
Sang Patih.
“Boleh jadi sudah terjadi perpecahan antara Semarang
dan Demak, sekiranya tak ada lagi tenaga Cina membantu
di Jepara. Kakang Patih, keterangan itu harus didapatkan.”
“Patik, Gusti.”
“Dan lebih berhati-hati terhadap Lao Sam. Setiap ada
sesuatu yang mencurigakan, hancurkan saja bandar itu.”
“Patik Gusti. Lao Sam nampaknya tetap tenang, tidak
membentuk kekuatan seperti Semarang. Jaraknya pun
sangat dekat dengan Tuban. Dalam tiga hari pasukan Gusti
Adipati sudah dapat mencapainya melewati pesisir.
Hancurlah dia! Yang agak mencurigakan justru Jepara,
Gusti. Konon putra mahkota Demak, Adipati Unus, mulai
mendatangkan pandai cor dari Pasuruan.”
“Pandai-pandai itu tentunya Hindu.”
“Tidak bisa lain, Gusti.”
“Jadi Islam bisa kerjasama dengan Hindu?”
“Nampaknya demikian. Nampaknya pula sedang ada
persiapan membikin cetbang di sana.”
“Kalau itu benar, raja Islam itu sedang punya persiapan
membikin yang berbahaya. Segera kirimkan telik.”
“Patik, Gusti sesembahan.”
“Apakah menurut dugaanmu Unus berani mengeluari
Peranggi dan Ispanya?”
“Kuda-kuda itu berhenti. Juga para pengawal di depan
dan belakang.
“Konon kabarnya, Gusti, putra mahkota itu telah
bersumpah akan membentengi Islam di belah bumi sini,
bumi selatan.”
Sang Adipati mengangguk-angguk. Kudanya digerakkan
lagi dan berjalan melewati gapura.
“Brandal-brandal itu hendak beramin jadi satria.”
Para pengawal gerbang pada bersimpuh dan mengangkat
sembah. Tombak dan perisai mereka bergeletakan damai di
atas bumi. Sang Adipati tak memperhatikan, langsung
berkendara menuju ke pendopo.
Seorang pengawal menerima kuda dan seorang lain
menyediakan punggung untuk jadi anak tangga. Ia turun
tapi tak langsung masuk ke dalam.
Sang Patih mengerti masih diperlukan. Setelah turun dari
kuda ia datang menghadap dan langsung mendapat
teguran: “Banyak nian yang tak Kakang persembahkan
selama ini.”
“Ampun, Gusti. Patik telah persembahkan semua, ya
Gusti. Nampaknya Gusti kurang mengkaruniakan
perhatian. Ampun, Gusti, tentulah karena banyak hal lain
sedang jadi pikiran Gusti.”
“Tentu Kakang Patih benar. Apakah menurut dugaan
Kakang, Unus dapat mengalahkan mereka? Tanpa meriam
dan hanya dengan cetbang bikinan pandai cor
Blambangan?”
“Ya, Gusti, bagaimana patik harus persembahkan?
Waktu patik masih kecil, nenek patik pernah bercerita
tentang kapal-kapal Majapahit, dan menurut katanya pula
Mahapatih Gajah Mada pernah bersembah pada Sri
Baginda Kaisar Hayam Wuruk: hanya kapal-kapal yang
bisa melalui Ujung Selatan Wulungga tertitahkan untuk
menguasai buana, Peranggi dan Ispanya bukan hanya
melalui, mereka telah datang dari balik Ujung Selatan.”
“Nyata Majapahit tak pernah berhasil melaluinya.”
“Tidak pernah, Gusti. Ujung Selatan selama ini selalu
dianggap jadi batas dunia. Tak ada daratan dan lautan lagi
di sebaliknya, jatuh curam langsung ke neraka.”
“Dan kapal-kapal mereka telah melewatinya. Datang
langsung dari neraka itu! Kapal-kapal Unus barangkali
masih dalam angan-angan, jauh dari ujian Ujung Selatan
Wulungga.”
Sang Adipati berbalik meninggalkan Sang Patih dan
masuk ke dalam kadipaten.
Sang Patih, juga semua yang tertinggal, mengangkat
sembah. Ia mengambil kudanya dari tangan seorang prajurit
pengawal dan keluar meninggalkan kadipaten. Belum lagi
sampai ke kepatihan, seorang penunggang kuda telah
menyusulnya. Sang Adipati sedang menunggunya di dalam
kadipaten. Ia berbalik menuju ke kadipaten.
Ia dapati Sang Adipati sedang duduk berfikir dengan
wajah menekuri lantai. Dan duduklah ia di bawah
mengangkat sembah.
“Mereka sudah lewati Ujung Selatan Wulungga, Kakang
Patih. Tentu mereka telah kalahkan kapal-kapal Parsi,
Mesir, Turki, Arabia, Benggali dan Langka. Mereka akan
kalahkan juga kapal-kapal Aceh, dan Melayu, Jawa dan
Tuban sendiri.”
“Gusti.”
“Mengapa musti mengalahkan, Kakang Patih? Bukankah
kapal-kapal asing datang kemari bukan untuk mengalahkan
kita? Tak pernah yang demikian terjadi sejak nenekmoyang, kecuali orang-orang Tartar yang dibinasakan itu.”
“Nampaknya Peranggi dan Ispanya lain daripada yang
lain, Gusti. Mereka bukan sekedar mencari dagangan dan
rempah-rempah. Mereka datang ke mana-mana untuk
mencari negeri asal rempah-rempah. Mereka hendak
merampas semua untuk dirinya sendiri.”
“Kerakusan tiada tara. Mengapa tidak mau berbagi?”
“Konon wartanya, Gusti, mereka tadinya bangsa miskin.
Sekarang baru keluar dari kemiskinan, baru melihat dunia,
mulai merabai dan merampasi semua barang apa yang baru
dilihatnya, apa saja yang indah, yang mahal, seperti si lapar
melihat sajian, ya Gusti.”
Sang Adipati tersenyum.
“Si lapar melihat sajian. Perbandingan yang indah. Ya
barangkali benar begitu. Dan mereka akan datang ke sini
juga akhir-akhir kelaknya. Semoga mereka telah kenyang
dalam perjalanan.”
“Kerakusan tidak mengenal kenyang, Gusti.”
“Kakang Patih benar. Kadang-kadang memang
memusingkan untuk memahami hal-hal baru. Kapal
unggul, kelaparan unggul. Sebaliknya, Kakang Patih,
mereka yang justru memiliki negeri yang menghasilkan
rempah-rempah, sepanjang sejarahnya selalu hidup dalam
kemiskinan dan perbudakan. Mereka yang datang mencari
rempah-rempah yang jaya dan kaya. Bagaimana harus
memahami ini, Kakang?”
”Itulah suratan tangan bangsa-bangsa. Gusti, hanya para
pendita bijaksana dapat menerangkan.”
“Sekarang rempah-rempah juga yang memanggil
kerakusan yang tak mau berbagi. Kerakusan yang mau
berkuasa dan memiliki untuk diri sendiri semata,
membunuh dan menenggelamkan. Mereka makin
mendekati Tuban. Rasa-rasanya telah dapat kami dengar
bunyi meriamnya, memekakkan dan melumpuhkan burungburung di cakrawala.” Suaranya menjadi pelahan
mendekati bisikan: “Tapi Adipati Tuban tidak gentar,
Kakang. Hanya awas-awas pada yang di barat sana:
Semarang, Demak, Jepara, Lao Sam.”
Sebentar ia berhenti bicara, tersenyum menimbangnimbang, matanya berkilau, wajahnya berseri: “Ya,
padasuatu kali mereka, manusia berkulit putih lucu itu,
seperti bawang, anak bangsa unggul itu, akan datang
kemari. Kapal-kapal mereka akan terikat pada patok
dermaga Tuban.” Sekarang ia tertawa, semakin riang,
“untuk Tuban, Kakang Patih, mereka tidak akan
mendatangkan kebinasaan atau kehancuran….”
“Allah Dewa Batara membimbing Gusti Adipati
Sesembahan.” “… mereka akan datang membawa
kekayaan, kemakmuran melimpah, mas, perak, tembaga,
sutra, intan, permata, akan berjatuhan, berhamburan di
Tuban, dari kapal-kapal mereka. Sudah kudengar mereka
bersorak-sorai. Bukan sorak kemenangan, bukan sorak-sorai
minta beli lebih banyak! Rempah-rempah! Rempah-rempah!
Kerahkan semua armada niaga, Kakang Patih. Semua. Ke
Mamuluk. Angkut semua yang ada. Ke Tuban. Itu perintah
kami.” 1
Sang Adipati masuk ke peraduan dan memusatkan
seluruh pikirannya untuk mendapatkan keuntungan dari
perubahan baru tanpa harus mengurangi keuntungan yang
bisa didapatkan dari kapal-kapal Islam, Nusantara dan
Tiongkok.
0o-dw-o0
Pada waktu ia tenggelam dalam pikirannya, jauh, jauh
dari Tuban, kejadian-kejadian besar telah datang silihberganti, baik di negeri Portugis maupun Ispanya. Pada
1492 Kristoforus Colombo telah menyeberangi samudra
Atlantik, menemukan benua baru Amerika. Tak lama
kemudian Ispanya dan Portugis merajai benua baru itu.
Enam tahun kemudian, pada 1498 pelaut Portugis Yasco
da Gama mulai menjelajah dunia Timur, dengan panjipanji Jus Patronatus yang dikeluarkan oleh Tahta Suci pada
4 Mei 1493. Kapalnya memasuki Malabar dan Goa dan
ikut serta pula kekuasaannya.
Jalan laut kapal-kapal Islam mulai terdekat. Pangkalanpangkalan diambil-alih dengan meriam….
0o-dw-o0
Turunan kuda Korea di Jawa kemudian disebut kuda
Kore.
Senjata ini didasarkan atas prinsip roket, yang
dilemparkan dan diarahkan dengan laras dengan tolakan
ledakan.
Novel Arus Balikk Bab 2 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.
Bagaimana alur cerita dari novel Arus Balik Bab 2 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua.
Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.
Untuk membaca Novel Arus Balik bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.
Komentar
Posting Komentar