Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 14 Disini
Novel Arus Balik bab 14 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Arus Balik menceritakan tentang kisah Kedatangan Portugis di Bumi Nusantara dengan latar awal Abad XVI, yaitu ketika surutnya pengaruh Majapahit dan naiknya pamor Kesultanan Demak.
Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Arus Balikk Bab 14 Bahasa Indonesia Sekarang ini.
14. Syahbandar, Idayu dan Gelar
Ia terkejut. Dilihatnya Syahbandar tiba-tiba saja sudah
ada di depannya. Tongkatnya tergantung pada bahu dan
tangannya bertepuktepuk riang. Bongkoknya kelihatan
semakin menjadi-jadi dan matanya menyala-nyala
menerkam.
“Selamat bagimu, Idayu!” katanya lunak, memikat dan
membujuk sekaligus.
Cepat cepat Idayu menepiskan Gelar pada dada, begitu
keras sehingga anak itu terpekik terkejut dan pengap.
Melihat Idayu terkejut, Tholib Sungkar tertawa
menghibur dengan gerak tangan ramai. Kemudian: “Masa
begitu saja terkejut, Idayu!”
Dengan takut bercampur waspada wanita itu dengan
merangkul anaknya mendepis pada tiang pintu.
“Mengapa kau begitu aneh, Idayu?”
“Apa Tuan kehendaki di sini?” tanyanya megap-megap.
“Biar sahaya pergi ke dapur, memasak bersama Nyi Gede.”
“Buat apa, Cantik? Guna apa? Nyi Gede masih tidur.”
“Biarlah sahaya ikut membersihkan taman dengan
Paman Marta.”
“Buat apa, Idayu? Bukan pekerjaanmu membersihkan
taman. Lagi pula Paman Marta sedang mengurus mayat
anaknya.”
“Kalau begitu, jangan masuki rumah sahaya ini”
“Idayu, Permata Tuban, pujaan setiap pria. Betapa
murung kau ditinggalkan suami. Tiadakah kau suka
bersenang dalam kesepian yang begini mencekik? Idayu!” Ia
bertepuk-tepuk dan menegakkan bongkoknya.
“Ampuni sahaya, Tuan Sayid. Jangan dekati sahaya, dan
jangan masuki rumah sahaya.”
Syahbandar itu tertawa senang dan maju selangkah.
“Apa lagi yang kau tunggu-tunggu, Permata?”
“Suami sahaya, Tuan Sayid. Tidak lain dari suami
sahaya.”
“Apa kau harapkan dari suamimu?”
“Tiada sesuatu, kecuali kasih dan sayangnya.”
“Kasihan. Kasih-sayang saja dia tak mampu berikan
pada tubuh yang semolek ini….”
“Kalau dia tidak mampu, tentu doanya saja pun
memadai, Tuan ” jawab Idayu mulai berani setelah terbebas
dari kejut.
Gelar dalam pelukan meronta minta kembali bebas.
Kepalanya menggeleng-geleng dan kaki dan tangannya
bergerak binal.
“Mengapa tak kau lepaskan anak itu? Biar dia bermainmain sendiri seperti biasanya.”
“Biarlah dia temani ibunya dalam menghadapi
ayahnya.”
“Menghadapi ayahnya? Mengapa mesti dihadapi? Lagi
pula dia belum lagi pulang.”
“Ayah tidak pergi, bukan, Gelar? Ayahmu tidak pergi,
bukan? Dia sedang di depanmu sekarang. Itulah macam
ayahmu. Dia sedang merayu ibumu.”
“Ayahmu sedang ke pedalaman, Gelar.”
“Ingat-ingat kejadian ini, Gelar, selama hidupmu.”
Gelar berhenti meronta, memandangi Syahbandar
dengan mata ter-heran-heran.
“Mak!” serunya kemudian.
“Ya. Itulah ayahmu, Nak, kenali dia baik-baik dari
dekat.”
Idayu memasang Gelar demikian rupa sehingga si bocah
itu berhadap-hadapan dengan Syahbandar. Anak itu sebagai
besi berani menarik mata lelaki itu. Dua pasang mata itu
bertatapan, yang satu bocah, yang lain setengah baya.
“Ya, Gelar,” Idayu meneruskan, “itu ayahmu sendiri.
Kenali dia, tampangnya, wataknya, tingkah-lakunya….”
Muka Tholib Sungkar Az-Zubaid merah-padam.
Diturunkan tongkat dari bahu dan dihentakkan di lantai.
Waktu ia memperdengarkan suaranya, tak ada perempuan
berkata begitu. “Coba, kalau benar, bagaimana hukumnya
maka dia anakku?”
“Kau dengar sendiri suaranya, Gelar. Memang tidak
menyanyi lagi bunyinya seperti tadi. Itulah suaranya yang
asli.”
“Jangan bercericau seperti nuri!” sambarnya bengkeng.
“Dengarkan kata-katanya. Begitulah macam ayahmu,
Gelar. Syukur kau hidup sehari-harian serumah dengannya.
Makin hari kau akan makin kenal….”
“Jangan teruskan, Idayu,” Syahbandar sekarang
merajuk.
“… Dan tahulah kau siapa dia. Kau akan semakin jijik.”
“Idayu, kau ajari anak itu kurangajar.”
“Dengar, kau, Gelar, dia tak mau dikurangajari.”
“Idayu diam!”
“Dia belum bisa bicara, Tuan Sayid, biarlah dia
meminjam dulu kata-kata ibunya’
“Jadi kau ajari dia kurangajar terhadapku.”
“Inilah anak Tuan, Tuan Sayid. Bukankah Tuan tahu
sejarah kelahirannya?”
“Bagaimana sejarah kelahirannya? Aku tak tahu. Jangan
sebut sekali lagi dia anakku. Tuan Sayid Habibullah
Almasawa tak pernah beranak-kan dia!” matanya
membeliak memperingatkan.
“Tak ada yang dengar, Tuan, hanya sahaya, Tuan dan
anak Tuan sendiri.”
“Aku tak beranakkan dia!” Tholib Sungkar hampir
membentak.
“Itu, itulah ayahmu, Gelar, kasihan kau, ayahmu untuk
di dunia dan untuk di kemudian hari.”
Seakan mengerti maksud ibunya bocah itu tetap menatap
Syahbandar seperti lelaki setengah baya itu baru sekali ini
dilihatnya. Tetapi melihat wajah orang itu berubah jadi
galak, ia menjerit ketakutan.
Idayu kembali mendekapnya pada dada. Dengan suara
seperti meratap ia meneruskan: “Nasibmu, Nak, punya
ayah tiada mengakui. Tapi kau harus akui dia. Dasar sudah
nasibmu, punya ayah semacam itu kelakuannya….”
“Idayu!”
“… Takut pada ayah sendiri, seperti takut pada
gandarwa.”
“Sudah, hentikan igauanmu. Jangan ulangi. Mari
berbaik, Idayu,” katanya lagi membujuk. “Dengarkan dulu
aku, jangan ditentang juga. Kau ini, Idayu, belum lagi
mengenal dunia.”
“Kau, Nak, anak seorang Syahbandar yang mengenal
dunia. Nasibmu, betapa buruk. Menggendong saja dia tak
mau. Nasib.”
“Diamlah, Idayu. Apa kataku tadi? Kau belum lagi
mengenal dunia.”
“Apalah gunanya dunia sahaya kenal, kalau hanya
seperti yang Tuan lihat?”
“Haiyaaa.”
Mereka masih juga berdiri berhadap-hadapan di depan
pintu kamar di serambi. Mereka berhadap-hadapan,
masing-masing berusaha tunduk-menundukkan tanpa
kekerasan.
“Itulah, Idayu, itulah, justru karena tak kenal dunia, kau
anggap semua sudah mencukupi.”
“Hidup sahaya telah mencukupi, Tuan Sayid, dengan
kasih-sayang suami sahaya, si Galeng anak desa yang
bodoh itu.”
“Husy. Dengarkan dulu aku. Kau biarkan suamimu yang
seorang itu selalu meninggalkan kau. Kau belum lagi…
jangan sela dulu aku, kau belum lagi tahu negeri-negeri
orang lain.”
“Apalah gunanya?”
Tholib Sungkar Az-Zubaid tertawa ramah. Ia tegakkan
bongkoknya dan menyangkutkan tongkat kembali ke atas
bahu, kemudian bertepuk-tepuk: “Kalau di negeri lain sana,
Idayu, pastilah kau akan jadi ratu.”
“Huh!” Idayu berpaling melecehkan.
“… Tidak jadi istri seorang Galeng yang selalu pergi,
membiarkan kau merana dalam menunggu.”
“Sahaya perempuan Tuban, Tuan Sayid, yang
berbahagia menunggu suami pulang.”
“Jangan kau jadi bodoh seperti perempuan Tuban lain.
Cerdiklah sedikit,” ia maju setengah langkah.
“Dalam menunggu suami pulang sahaya berbahagia.”
“Mak, turun, Mak,” pinta Gelar.
“Jangan, Nak, temani dulu emakmu.”
Gelar meronta lagi minta turun dan Idayu
membiarkannya turun. Dan bocah itu lari girang ke
pelataran memanggil-manggil Nyi Gede Kati. Ia langsung
menuju ke dapur.
Tholib Sungkar berseri-seri dan maju lagi seperempat
langkah: “Jangan bohongi aku. Tak ada orang berbahagia
karena menunggu. Tak ada kesengsaraan lebih mencekik
daripada menunggu. Malah, Idayu, kau tak tahu pula apa
yang dikerjakan suamimu. Apalagi sekarang.” Melihat
penari itu mendengarkan ia semakin berani, “Pekerjaannya
berat. Bukan hanya berat, berbahaya. Setiap waktu bisa
mati. Apalagi sekarang ini. Mungkin ia takkan kembali lagi
untuk selama-lamanya….”
“Apalah yang sahaya herani bila suami mati?”
“Jadi kau mengharapkan dia mati?”
“Apakah hebatnya kematian, Tuan Sayid? Tiadakah
pernah terdengar oleh Tuan betapa di pedalaman sana
wanita melompat ke dalam api untuk dapat mengikuti
suami yang mendahului mati? Tidakkah pernah Tuan
dengar? Di Tuban Kota memang sudah tidak kejadian lagi.
Pergilah ke pedalaman.”
“Jangan, Idayu. Semua orang tahu. Tapi jangan lakukan.
Betapa bodoh orang membiarkan kecantikan dan
kemolekan seperti ini punah dimakan api,” larangan sambil
mendekat lagi.
“Jangan lebih dekat, Tuan Sayid, dan jangan coba-coba
masuki rumahku,” Idayu memperingatkan. “Sahaya sedang
jaga, tidak mimpi dalam tidur.”
“Apakah keberatanmu selama tempat ini jadi bagian dari
kesyahbandaran? Dan isinya pun dalam kekuasaanku?”
“Sahaya bilang: jangan.”
“Layani aku, Idayu, lupakan suamimu.”
Syahbandar melangkah menerjang hadangan Idayu
sambil menarik wanita itu masuk ke dalam kamar.
Idayu meronta melepaskan diri. Tak terdengar olehnya
Gelar memanggil-manggil dari sesuatu jarak.
Syahbandar berusaha menangkapnya lagi. “Bodoh!”
gumam Syahbandar.
“Kurang hormat apakah perempuan bodoh ini?” kata
Idayu cepat-cepat dan terengah-engah. “Tuan Sayid, keluar
dari sini!” dengan cundrik telanjang di tangan wanita itu
mengancam. Syahbandar itu terkejut dan undur keluar dari
kamar. Naluri beladiri menyebabkan dengan sendirinya ia
mengangkat tongkat dan mengamangkan, mengancam: “Di
mana pun begitu mesti bisa ditundukkan,” ia tertawa
melecehkan, “apa lagi, kau, Idayu. Sampai di mana
kekuatanmu? Kalau kupukul kau, keris-kecilmu takkan
berdaya, kecantikanmu akan rusak untuk selama-lamanya.
Takkan lagi yang bakal mengagumi kau.
“Pukullah, Tuan.”
Tetapi lelaki itu meneruskan gerutunya tanpa
mengharapkan jawaban: “Apa yang kau andalkan?
Wiranggaleng? Kesetiaannya padamu? Hah! Mungkin dia
sekarang sudah terkapar dimakan cacing tanah, tinggal
tulang-tulang berantakan termakan anjing.”
“Memang itulah yang Tuan kehendaki.”
“… Dan bila dia toh balik lagi ke mari, dengarkan kau,
perempuan bodoh, bila dia toh balik, segar dan selamat…
kau, tidak lain dari kau yang bakal celaka. Kerisnya akan
tembusi dadamu. Akan diminumnya darahmu seperti dia
minum tuak. Dibuangnya mayatmu tanpa upacara.”
“Jadi apa sesungguhnya yang Tuan Sayid harapkan dari
sahaya?” Idayu bertanya bodoh.
“Singkirkan cundrik itu. Buang jauh-jauh di pelataran
sana! Bagaimana kau tak tahu apa yang ku kehendaki?”
“Kalau soalnya cuma itu, Tuan Sayid, betapa sederhana
keinginan Tuan.”
“Masih juga kau bercericau!”
“Mari sahaya ceritai, Tuan,” Idayu bermanis-manis.
“Barangkali Tuan mau mendengarkan.”
Tholib Sungkar mengendorkan pegangannya pada
tongkatnya. Matanya tetap waspada memperhatikan tangan
Idayu yang masih juga mengamangkan senjatanya.
“Apa ceritamu, Idayu?”
“Cerita sahaya, Tuan, betapa sederhana memilih
bagaimana cara berlawan atau mati.”
“Kau tetap melawan aku, Idayu?”
“Sahaya sedang melawan, Tuan.”
“Keris Wira akan menembusi dadamu!”
“Apalah salahnya. Tapi sebelum itu dari mulut Tuan
sendiri ingin sahaya dengar, dengan mata sahaya sendiri
ingin melihat, Tuan sudi mengakui Gelar sebagai anak
Tuan sendiri, karena memang dia anak Tuan.”
“Tiada aku beranakkan dia!” lelaki itu membentak.
“Keluar!” pekik Idayu. “Takkan ada orang datang
menolong aku, pun tak ada orang bakal menolong Tuan.
Keluar! Sahaya tak mengulangi kata-kata sahaya.”
Idayu melangkah dan lelaki itu dengan sendirinya
bersiaga dengan tongkatnya.
Tholib Sungkar tak juga beranjak dari tempatnya.
Idayu melompat maju sambil menyerang dengan
cundriknya. Syahbandar melompat ke samping, mengelak.
Wanita itu menikam dari samping. Syahbandar melompat
lagi dan mengayunkan pukulan pada tangan lawannya yang
bercundrik. Idayu menarik tangan dan berputar menikam
punggung. Lelaki itu melompat ke depan dan lari
meninggalkan kamar, meninggalkan serambi. Lengan
bajunya sobek dan darah memerahi sekitar sobekan.
Panggilan Gelar semakin terdengar mendekat. Idayu
keluar ke serambi, melihat ke sana-sini mencari-cari
anaknya. Tak ada dilihatnya lelaki bongkok itu. Yang
muncul adalah Gelar yang masih juga memanggil-manggil.
Ia masukkan kembali senjata itu ke dalam sarung dan ia
selit-kan pada sanggul. Kemudian ia berjongkok
menyambut anaknya.
Dengan sekali renggut Gelar telah berada dalam
gendongan, dalam pelukan. Ia menciuminya berkali-kali.
“Nasibmu, Nak, nasibmu. Seorang ayah pun tiada
mengakuimu.”
Gelar memeluk leher ibunya.
“Sayang kau pada emak?”
Gelar mengencangkan pelukannya.
Novel Arus Balikk Bab 14 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.
Bagaimana alur cerita dari novel Arus Balik Bab 14 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua.
Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.
Untuk membaca Novel Arus Balik bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.
Komentar
Posting Komentar