Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 13 Disini
Novel Arus Balik bab 13 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Arus Balik menceritakan tentang kisah Kedatangan Portugis di Bumi Nusantara dengan latar awal Abad XVI, yaitu ketika surutnya pengaruh Majapahit dan naiknya pamor Kesultanan Demak.
Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Arus Balikk Bab 13 Bahasa Indonesia Sekarang ini.
13. Meningkatnya Kericuhan
Kuda itu berjalan pelan-pelan memasuki Pecinan.
Bulunya putih berbelang hitam di sana-sini. Langkahnya
berirama. Kaki-nya yang pancal hitam berjatuhan seperti
menari di atas jalanan batu, dari kejauhan nampak seperti
serangkaian tongkat putih berdasar hitam sedang
menderamkan genderang. Dan di atasnya duduk
Wiranggaleng mengenakan seluar panjang dari kaliko.
Bagian atas seluar tertutup dengan kain batik yang dipasang
miring dan bersibak pada belahan tengahnya.
Pada pinggangnya terbelit sabuk kulit bersulam benang
perak di mana terselit sebilah keris bersarong perak berhulu
kayu hitam. Hulu itu sendiri berukir kepala katak, dilibati
tali sutra yang berujungkan serangkaian pendek batu mirah.
Dadanya tertutup oleh kutang berlengan pendek seperti
baju antakesuma, dan pada dadanya tergantung kalung
berbandul perhiasan perak ukiran bergambar pohon
kehidupan diapit oleh lima buah roda, seperti bandul yang
biasa dikenakan oleh pangeran-pangeran Majapahit.
Seluruh Tuban mengetahui, biarpun perhiasan itu hanya
terbuat dari perak namun pertanda karunia tertinggi dari
Sang Adipati untuk seorang pejabat dari desa. Dan bentuk
bandul itu menyerupai ikan, sebagai lambang punggawa
yang punya hubungan pekerjaan dengan laut. Perhiasan itu
berukir timbul, sedang batu mirah sebesar kemiri dikelilingi
kalimaya kecil-kecil putih keruh mengkilat merupakan mata
dari ikan perak itu.
Pada lengannya terhias dua lembar gelang baja bersalut
kulit di dalamnya sebagai tanda punggawa menengah.
Dua orang berkuda mengikuti di belakang, bersenjatakan
tombak dan perisai. Pedang tergantung pada pinggang
masing-masing.
Di sepanjang jalan tak henti-hentinya Syahbandar-muda
membalas hormat orang lalulalang dengan sembah dada.
“Tuan Syahbandar-muda!” seseorang memanggilnya
dalam Melayu. “Berhenti dulu, Wira.”
Ia menghentikan kudanya menengok ke arah datangnya
suara. Dilihatnya seorang Tionghoa berkuncir tanpa topi
sedang siap hendak menghampirinya sambil menutup pintu
gerbang rumah. Ia bercelana dan berbaju kain katun dan
berbuah baju kain pula.
Wiranggaleng turun dari kudanya. Sudah beberapa kali
ia melihat orang ini, tetapi tak pernah tahu nama dan tak
tahu rumahnya. Ia berdiri tegak di samping kudanya
menunggu orang ilu meneruskan kata-katanya.
Dan orang itu memberikan hormat dengan caranya
sendiri, tersenyum ramah. Juga matanya yang sipit ikut
tersenyum.
“Ada pada sahaya sepucuk surat untuk Tuan
Syahbandar-muda,” katanya sambil menyerahkan. “Kalau
Wira berkenan barang sebentar di warung Yakub….”
Wiranggaleng memperhatikan orang yang fasih Melayu
itu dan sekaligus menduga, orang itu seorang pedagang
yang sudah lama tinggal di Malaka dan sudah
berpengalaman di bandar-bandar Nusantara.
“Ada sesuatu yang sahaya hendak sampaikan.”
Rupa-rupanya orang itu merasa sedang dikaji oleh mata
punggawa itu. Ia pertahankan senyum pada bibir dan
matanya. Dengan tangannya ia memberi isyarat
mengajaknya sebagaimana ia kehendaki, asal tidak di
rumahnya sendiri. Maka senyumnya tetap terumbar minta
perhatian khusus.
Syahbandar-muda menyapukan pandang pada
kuncirnya, hitam agak kemerahan. Dan ia terima surat itu
dengan diam-diam dengan mata tetap memperhatikannya.
“Tuan akan tahu tentunya dari siapa surat itu.”
“Dari siapa?” tanya Wiranggaleng.
“Dari Mohammad Firman.”
“Tak ada aku kenal orang Islam bernama begitu.”
“Sahaya hanya sekedar menyampaikan.”
“Islam baru atau lama?”
“Tak ada Islam lama, Wira, semua baru.”
“Di mana tinggalnya?”
“Tidak menentu, Tuan Syahbandar-muda. Dia seorang
musyafir Demak, mengembara ke mana-mana.”
“Apa itu musyafir Demak?”
“Semacam pekerjaan, Wira.”
Dan teringat olehnya akan Anggoro alias Hayatullah di
Jepara dulu. Ia mengangguk. Surat itu belum juga
dibacanya. Ia lebih tertarik pada pengirimnya – seorang
Islam baru dan musafir Demak. Bertanya: “Di mana kau
bertemu dengannya?”
“Dulu, Wira, di Lao Sam. Dia pernah tinggal bersama
sahaya. Sudah sahaya anggap sebagai anak sendiri. Artinya,
sebelum dia masuk Islam,” dan ia tetap tak memperlihatkan
tanda-tanda menyilakan masuk ke rumahnya. Malah ia
mencari tempat teduh di bawah sebatang pohon asam.
“Apakah balasan diharapkan dengan segera?”
“Tidak, Wira, tidak.” Kemudian ia berkata dengan nada
lain, “Maafkan, tidak sahaya antarkan surat ini ke
kesyahbandaran. Susah bisa masuk ke sana.”
“Ya,” dan Wiranggaleng mulai membacanya.
Dua orang pengiringnya masih tetap duduk di atas kuda,
memperhatikan. Tombak mereka terpanggul pada bahu
masing-masing. Tiba-tiba mereka melihat perubahan pada
wajah Wiranggaleng dan memajukan binatang mereka
beberapa langkah serta menyiapkan tombak.
Juara-gulat itu memang sedang tertegun melihat
lengkung-lengkung huruf pada tulisan Jawa itu serta
pasangan yang selalu kebesaran. Ia mengenal tulisan itu –
sama dengan yang pernah diperlihatkan padanya oleh Sang
Adipati. Surat itu telah diambil oleh penguasa Tuban itu
dari cepuk subang Nyi Ayu Sekar Pinjung, dahulu selir
kesayangan.
Ia angkat pandangnya pada dua orang pengiringnya,
melambaikan tangan dengan surat kertas pada tangannya,
dan pergilah mereka mendahului ke pelabuhan.
“Pengirim ini bernama Mohammad Firman?”
“Benar, Wira.”
“Sebelum masuk Islam apakah namanya? Bukankah
Pada?”
“Benar, Tuan Syahbandar-muda.”
Berdua mereka berjalan ke warung Yakub. Wiranggaleng
sambil menuntun kuda. Mereka diam-diam tak bicara.
Warung itu menghadap ke suatu ceruk di mana berlabuh
perahu-perahu nelayan. Dan bila pandang mata orang telah
melewati deretan perahu-perahu kecil itu, laut pun
terbentang luas tanpa batas sampai ke kakilangit
Sambil duduk di atas bangku menghadapi cawan-cawan
arak juara gulat itu mulai membaca lagi:
“Dari Mohammad Firman kepada Syahbandar-muda Tuban,
Wiranggaleng. Ketahuilah, Kang Galeng, kakangku sendiri,
dalam keadaan sehat telah aku tinggalkan Lao Sam. Ingin hati
datang menyembahmu, ingin hati menengok Mbokayu Idayu.
Bagaimana mungkin? Tuban telah membunuh aku dan
melemparkan aku ke laut. Tuban itu juga yang tetap
menginginkan nyawaku, sekiranya diketahui aku masih hidup.
Pasti engkau mengerti, Kang Galeng, kakangku sendiri, betapa
besar harapanku diperkenankan menggendong dan memomong
kemenakanku. Betapa akan menarik kemenakan itu. Ayahnya
seorang pegulat gagah-berani tanpa tandingan. Ibunya seorang
penari rupawan, impian dan pujaan setiap pria….”
Wiranggaleng berhenti membaca. Ia merasa seakan
disengat lebah. Sindirankah ini terhadap kemalangannya,
kemalangan suami-istri? Atau dia tidak tahu? Ia pandangi
orang Tionghoa yang duduk di sampingya dan masih juga
tersenyum dengan bibir dan matanya.
Melihat sedang ditatap ia mengangguk seakan
membenarkan bacaannya. Dan perbuatan itu
menghilangkan kecurigaan Galeng. Ia meneruskan
bacaannya:
“Adikmu yang nakal ini tiada kan melupakan kakangnya,
kakangnya sendiri, yang telah berikan hidupnya kembali. Biarpun
adik ini senakal setannya Tuhan Allah, Kang, dan biarpun
kakangnya bukan atau belum seagama dengannya, dia tetap
kakangnya yang harus dibalas budinya.
Mungkin juga suatu balas budi padamu, Kang, kalau dalam
surat ini aku dapat manawarkan padamu seorang yang dapat
membantumu dalam pekerjaan yang engkau tak bisa lakukan.
Semua orang pesisir tahu apa yang dibutuhkan Tuban. Bicaralah
sendiri dengan ayah-pungutku ini, orang yang bukan seagama
denganku, dan tiadalah kau bakal menyesali aku lagi.”
Sementara itu orang Tionghoa itu telah mengatur cawancawan arak di atas meja di depan mereka. Ia menyodorkan
sebuah cawan sambil berbisik: “Sahaya bersedia membantu
Tuan Syahbandar-muda,” ia masih juga tersenyum. “Liem
Mo Han nama sahaya,” suaranya jelas walaupun warung
itu ramai dengan gelak-tawa dan obrolan para peminum.
Yakub memperhatikan keduanya dengan selintas.
Menyedari akan pandang mata pewarung itu Liem Mo
Han mengajaknya minum, untuk kemudian keluar
dengannya berjalan-jalan disepanjang dermaga. Senyumnya
yang menarik dan mencurigakan sekaligus, untuk ke sekian
kalinya memaksa ia menerima ajakannya.
Dan mereka berjalan beriringan diikuti oleh pandang
mata semua yang tertinggal.
Beberapa buah jung Tiongkok sedang berlabuh di sana.
Kedua orang itu tidak menaruh perhatian dan terus juga
berjalan.
“Memang sahaya sedia membantu,” Liem Mo Han
mengulangi katakatanya dalam surat itu, sekarang dalam
Jawa halus. “Mohammad Firman telah membicarakan
kemungkinan ini dengan sahaya, lama dan berkali-kali.
Sahaya yakin, tenaga sahaya memang Tuan perlukan,
Wira.”
Wiranggaleng masih jua belum mengerti maksudnya dan
diam mendengarkan.
“Mohammad Firman dan sahaya tahu, ada satu
kesulitan pada Tuan yang Tuan tidak bisa atasi, yaitu basa
Peranggi. Kalau hanya Syahbandar Tuban Sayid
Habibullah Almasawa saja yang bisa, tak adalah orang yang
dapat mengawasi pekerjaannya. Sahaya bisa bahasa itu,
Tuan. Tiga tahun lamanya sahaya bergaul dengan orangorang Peranggi.”
“Babah dan Pada sungguh tidak keliru.”
“Kalau ada surat-surat Peranggi, sahaya akan bacakan
untuk Wira.”
“Sayang, sekiranya Babah datang lebih dulu,”
Syahbandar-muda itu berkecap-kecap menyesali.
“Sahaya datang setelah dapat mengalahkan keraguraguan. Adakah kiranya surat-surat yang harus sahaya
bacakan?”
“Nanti pada waktunya, Babah.”
“Di samping itu, Tuan Syahbandar-muda, masih ada
satu perkara lagi. Sahaya sedang memburu dua orang
Peranggi, Esteban dan Rodriguez namanya. Mereka lari
dari Lao Sam melalu jalan darat. Mereka lari ke mari.
Entah di mana mereka bersembunyi tadinya sahaya tidak
tahu. Baru setelah kapal Peranggi itu berangkat, nampak
mereka oleh sahaya ada di gubuk pelacuran di daerah
pelabuhan.
“Tak ada larangan selama mereka tidak meninggalkan
pelabuhan atau memasuki kota atau pedalaman.”
“Benar, Tuan Syahbandar-muda. Tetapi Peranggi adalah
Peranggi, di mana-mana kejahatannya sama saja, dan
hanya kejahatan itu juga yang bisa diperbuatnya.”
“Bukankah mereka itu yang dulu dikejar-kejar di
Jepara?”
‘Tidak keliru, Wira, itulah mereka.”
“Mata-mata.”
“Sahaya belum dapat memastikan. Nampaknya memang
demikian.”
“Aku sudah lihat orang-orang itu di bandar Jepara.
Bagaimana Babah bisa tahu mereka ada di sini?”
“Lama sahaya memburu mereka. Tahukah, Tuan,
mereka adalah kanonir, penembak meriam Peranggi?
Penembak meriam!”
“Penembak meriam!”
“Dan sekarang mereka bersembunyi di bawah
perlindungan Tuan Sayid sendiri? Hampir-hampir satu atap
dengan Wira?”
“Ha?” seru Wiranggaleng, ia mencoba menembusi mata
Liem Mo Han untuk dapat membaca pedalamannya.
“Bukankah Tuan sahabat Mohammad Firman?”
Wiranggaleng mengangguk membenarkan. “Mohammad
Firman adalah anak-pungut sahaya. Patutkah sahaya
mengatakan yang tidak benar pada Tuan?”
Wiranggaleng meletakkan kedua belah tangannya yang
kukuh itu pada bahu Liem Mo Han. Dan orang
meyakinkannya dengan senyum pada bibir dan matanya.
“Mereka tidak melanggar ketentuan, Peranggi-peranggi
itu. Syahbandar Tuban pun tidak,” kata Sang Patih. “Tak
ada alasan untuk melarang atau bertindak. Mencurigakan?
Ya. Siapa tidak mencurigai Peranggi? Awas-awaslah selalu,
tak boleh ada satu kejadian di daerah bandar yang
menyalahi ketentuan.”
“Mereka melakukan kejahatan di mana-mana, Gusti.”
“Di sini tidak atau belum. Babah boleh membantumu,
bukan untuk dapat menangkap orang-orang Peranggi itu,
tapi untuk mengawasi mereka. Dan jangan kau sampai
lena, boleh jadi orang itu bekerja untuk Semarang. Selama
soalnya Semarang, persangkutannya selamanya Demak.
Jangan kau sampai lupa. Beruntunglah Demak sudah
memboroskan hampir seluruh tenaganya di Malaka.”
“Mereka tinggal di kesyahbandaran, Gusti,”
Wiranggaleng memotong.
“Lebih baik lagi, dan memang sudah jadi hak orang
asing di sini. Selidiki dulu benar-tidaknya.”
“Mereka pelarian dari kapal Peranggi, Gusti, penembakpenembak meriam.”
“Penembak meriam! Kalau itu benar justru semakin
menarik, Wira. Cetbang kita tak bisa tandingi meriam
mereka. Dan kalau benar mereka pelarian, dan penembak
meriam pula, Gusti Adipati tentu akan menaruh perhatian.
Meriam, Wira, bukan cetbang. Meriam adalah meriam, dan
kita belum bisa bikin. Kau mungkin sudah pernah
melihatnya di Malaka atau di kapal Peranggi kemarin. Aku
belum. Meriam, Wira! Setelah kekalahan Pati Unus di
Malaka, semua tahu: meriam saja kunci kemenangan.
Tuban akan bikin ini jadi pekerjaan, Wira. Siapa tahu
mereka bisa membikin untuk Tuban? Biarkan mereka
tinggal di kesyahbandaran. Pergi!”
Setelah menerima Sang Patih dan setelah bercengkerama
di taman kesayangan, Sang Adipati Tuban masuk ke dalam
harem.
Pintu-pintu telah tertutup pada malam berangin itu. Pada
pengurus baru ia berbisik memperingatkan: “Jangan sampai
terulang lagi peristiwa Nyi Ayu Sekar Pinjung. Dan jangan
kau ulangi perbuatan Nyi Gede Kati. Hukuman yang akan
dijatuhkan kemudian akan lebih berat.”
Ia diam mendengar-dengarkan.
Dan memang ada didengamya suara-suara beberapa
orang selir sedang bicara-bicara dalam salah sebuah bilik
yang terkunci dari dalam.
“Siapa itu?” bisiknya bertanya.
“Ampun, Gusti Adipati sesembahan patik, tiada lain dari
kawula Gusti Nyi Ayu Ruti dan Nyi Ayu Utami.”
“Nyi Gede Daludarmi, biasakah mereka berkunci pintu
sebelum waktunya?”
“Tidak, Gusti, patik tidak tahu mengapa sekarang
begitu.”
Sang Adipati meninggalkan Daludarmi bersimpuh di
tanah dan pelan-pelan mendekati pintu untuk
mendengarkan.
“… siapa tidak tahu tidak kuatir? Sapi-sapi kita bisa
punah. Panen kita bisa musnah,” penguasa Tuban itu
mendengar.
“Apa belum juga ada yang mempersembahkan?” suara
yang lain.
“Kerusuhan sudah meruyak ke mana-mana,” suara yang
ketiga.
“Katanya pagardesa sudah tak mampu. Nampaknya Ki
Aji Benggala sudah tak mengirimkan ke Tuban. Bagaimana
desamu?”
“Belum sampai ke perbatasan desa kami,” jawab yang ke
empat.
“Tapi siapa tahu? Barangkali mereka sudah sampai juga
ke sana sekarang?”
“Kalau Gusti Adipati belum menggerakkan balatentara,
tentu belum ada yang mempersembahkan,” suara pertama
menyimpulkan.
Sang Adipati kembali mendekati Nyi Gede Daludarmi
yang masih juga bersimpuh di tanah.
“Berapa umurmu, Daludarmi?” bisiknya bertanya.
“Tiga puluh lima, Gusti, menurut perhitungan surya.”
“Apakah kau Islam?”
“Patik, Gusti.”
“Mengapa menurut perhitungan bulan?”
“Patik tak tahu menghitungnya, Gusti.”
“Gila, bulan dipergunakan sebagai hitungan. Daludarmi!
Hidup di tengah-tengah selir begini, tidakkah kau ingin juga
jadi selir?”
“Semua Gusti Adipati sesembahan patik yang
menentukan, Gusti.”
“Tiga puluh lima tahun masih muda, Daludarmi,” bisik
Sang Adipati. “Dan kau belum pernah beranak.” Sang
Adipati mulai merabai tubuh pengurus harem itu. “Kau
masih lebih kukuh dari si Kati.” Ia sejenak tak bicara.
Kemudian, “Coba, mana mukamu?” dan ia pandangi
wanita itu dalam kegelapan malam.
Ia tak teruskan dengan membikin cinta.
“Bagaimana Sekar Pinjung sekarang?”
“Ampun, Gusti, sepanjang pengetahuan patik, ia jarang
keluar dari kamar, sering kedapatan menangis dan pucat.
Patik pohonkan ampun untuknya, Gusti, wanita semuda
itu, belum panjang pikir, belum lagi delapan belas.”
Sang Adipati berdiri termangu-mangu Ditariknya
Daludarmi berdiri dan diciumnya pada pipinya, kemudian
ditinggalkan berdiri. berjalan melewati bilik-bilik selir dan
melewati kamar terkunci di mana beberapa selir masih
sibuk membicarakan Ki Aji Benggala. Ia langsung menuju
ke bilik paling ujung. Pintu itu terbuka dan ia pun masuk ke
dalam.
Dua jam kemudian ia keluar lagi dan menuju ke bilik
ujung yang lain, Ia mendeham pelan di depan pintu, tetapi
tiada berjawab. Ia mendehani sekali lagi. Juga tak berjawab.
Nyi Gede Daludarmi berjalan menghampiri Sang
Adipati, berjongkok di bawah dan menyembah, kemudian
memanggil-manggil pelan pada pintu: “Nyi Ayu, Nyi Ayu
Sekar Pinjung! Nyi Ayu!”
“Nyi Gedekah itu?” terdengar suara sayu menjawab dari
dalam.
“Nyi?”
“Bukalah pintu, rang manis,” kata Daludarmi lemah.
Pintu itu terbuka ragu-ragu, hanya terkirai sedikit. Dan
Sang Adipati masuk ke dalam.
Sekar Pinjung, yang tidak sempurna pakaiannya dan
riasnya, langsung menjatuhkan diri pada kaki penguasanya,
tersedan-sedan tanpa bisa bicara. Pintu ditutup oleh
Daludarmi dari luar.
Lelaki tua itu berdiam diri ragu-ragu. Ada sesuatu yang
bergolak di dalam hatinya.
Setelah mendengar pembicaraan para selir dari balik
pintu, ia mengerti, ada kepala-kepala desa yang tak berani
mempersembahkan keadaan di desanya pada atasannya,
maka dipergunakan selir-selir. Mereka selalu mendapat
kiriman dari desa, dan tidak jarang juga pesan untuk
diteruskan pada Sang Adipati. Demikian mereka dapat
melewati atasannya dengan gaya dan cara yang khusus.
Memang perbuatan kepala desa semacam itu tak dapat
dikatakan melanggar aturan. Tak ada suapan ataupun
sogokan menjadi dasar perbuatannya. Dan selamanya cara
itu didasarkan atas kepentingan desanya sendiri.
Sekarang ia tahu adanya Ki Aji Benggala.
Mungkin percakapan itu tidak seluruhnya benar, namun
ada sesuatu yang terjadi di desa-desa pedalaman.
Sekar Pinjung ini lain lagi. Ia mempersembahkan sesuatu
berdasarkan suapan. Benar atau palsukah persembahannya?
Tidak seluruhnya benar, juga tidak seluruhnya salah.
Kepala desanya telah mempersembahkan upeti dua kali
lipat. Hampir selama dua tahun ini! Tetapi ia masih juga
belum menggubrisnya. Dan sekarang ia baru mulai berpikir
tentang kebenaran atau kepalsuan persembahan Sekar
Pinjung
Pandangnya jatuh ke bawah pada tubuh gading yang
mencium kakinya. Kemudian tangan gading itu memeluk
kakinya, seperti seekor cacing yang menunggu diinjak.
Hukuman pada Sekar Pinjung dirasainya terlalu berat.
Apalagi sekarang sudah jelas siapa sumber ketakutan
terhadap Peranggi. Ditambah lagi dengan pengetahuan,
Peranggi hanyalah manusia biasa yang juga membutuhkan
makan dan minum, hanya kulitnya saja putih dan bahasa
dan adatnya lain.
Hukuman itu telah lebih dari dua tahun dijalani oleh
Sekar Pinjung, selir kesayangan. Dan seorang satria tidak
mencabut kembali kata-katanya.
Wanita berkulit gading itu tak mengindahkan keadaan
dirinya. tak dirasainya lagi dingin malam yang menyerbu
kulitnya yang tiada tertutup Dingin hati Sang Adipati lebih
membekukan.
Ia lihat punggung wanita itu tersengal-sengal kecil karena
sedu-sedan permohonan ampun, nampak olehnya begitu
hina dan tidak berarti. Hanya seorang satria bisa
membikinnya jadi berarti kembali pikimya. Barangkali aku
telah berbuat kurang adil terhadapnya. Leluhur
mengajarkan agar berhati-hati terhadap isi keputrian, sarang
hasutan dan fitnah. Betul. Sarang dengki dan kelobaan.
Betul. Tempat raja-raja tumbang karena gosokan. Betul.
Tempat si kerdil memasang perangkap untuk menangkap
bulan. Betul. Sarang labah-labah yang tak kenal malu.
Benar perempuan hina ini hanya memperingatkan. Hanya
memperingatkan. Dan aku sudah berbuat kurang adil
terhadapnya. Bukankah keadilan semestinya mampu
mencabut kata-kata satria yang keliru?
Sebelum Sang Adipati dapat memutuskan pergolakan di
dalam dirinya telah keluar kata-kata dari mulutnya, pelahan
dan berbisik: “Telah dicabut hukuman bagimu, Sekar
Pinjung. Berdiri!”
Wanita muda itu berdiri gemetar. Seluruh pakaiannya
luruh ke lantai. Mukanya pucat. Rambutnya kacau.
Kepalanya masih juga terangguk-angguk kecil karena sedusedannya. Tetap ia tiada dapat berkata sepatah pun.
Sang Adipati meraih dua belah tangannya. Didekapkan
dia pada dirinya, kemudian dipangkunya.
Sekarang barulah terdengar wanita itu menangis
terampuni. Dan luluhlah sudah amarah Sang Adipati, luluh
pula duka-cita sang selir, cair ke dalam arus berahi.
“Daludarmi!” panggil Sang Adipati dari dalam bilik.
Wanita pengurus harem itu masuk ke dalam, membawa
nampan berisi cawan-cawan tembikar. Pandangnya tertuju
pada lantai, untuk tidak melihat pemandangan di
hadapannya. Ia berjongkok di bawah kaki Sang Adipati.
Penguasa Tuban itu mengambil cawan jamu dan
meminumnya habis
Daludarmi mundur beringsut-ingsut keluar dari kamar.
“Jangan keluar! Tinggal kau di sini. Letakkan nampan
itu di meja.”
Tengah hari pada keesokan harinya terjadi kesibukan
dalam tubuh pasukan kuda. Puluhan prajurit telah
meninggalkan Tuban Kota menuiu ke berbagai jurusan
negeri. Yang demikian hampir-hampir tak penuh terjadi
selama ini.
Segera orang-orang menghubung-hubungkan gerakan
tentara dengan terjadinya kerincuhan di pedalaman, yang
selama ini dibiar berlarut jadi desas-desus umum.
Beberapa hari setelah keberangkatan kesatuan-kesatuan
kecil pasukan kuda, pendopo kepatihan penuh-sesak dengan
kepala-kepala desa, para wedana, demang dan kuwu
seluruh negeri. Yang tak hadir hanya wakil dari desa-desa
di bawah kekuasaan Rangga Iskak. Mereka semua duduk
bersila di atas lantai.
Tanpa sesuatu upacara Sang Patih memulai: “Betapa
sangat menyesal kami mengetahui, kalian diam-diam tiada
mempersembahkan sesuatu yang sedang terjadi di desa-desa
kalian. Ketahuilah, Gusti Adipati Tuban sangat murka
mendengar adanya huru-hara tidak dari persembahan
kalian. Gusti Adipati Tuban mendengar, bahwa pagardesa
kalian sudah kewalahan menghadapi para perusuh. Jawab
sekarang juga. Benar-tidak?”
“Ampun, Gusti Patih,” seorang kuwu mengangkat
sembah. “Adanya huru-hara itu memang betul, karena
terjadinya di daerah kekuasaan patik. Ada pun patik belum
juga mempersembahkan adalah karena patik masih
berusaha, belum lagi putus-asa.”
“Pernahkah kalian menang terhadap mereka?”
“Ampun, Gusti, belum pernah, tapi kalah pun belum.”
“Jangan persembahkan teka-teki.”
“Begitulah adanya, Gusti, kalau mereka datang,
pagardesa lari. Kalau pagardesa datang, mereka yang lari.”
“Apa kalian sedang main petak?”
Sunyi seluruh pendopo. Wajah Sang Patih merah
menyala-nyala. Suasana tegang. Semua penghadap
menunduk.
“Mengapa membisu? Hilangkah sudah lidah kalian?”
“Ampun, Gusti, di tempat patik agak lain keadaannya.
Telah patik persembahkan ini ke hadapan Gusti Patih,
bahwa pagardesa patik selalu masuk ke dalam jebakan dan
satu kali pun tidak pernah menjebak.”
“Apa maksudmu dengan jebak-menjebak?”
“Maksud patik, Gusti, rajakaya desa hilang kalau tidak
dijaga dan tinggal utuh kalau dijaga.”
“Bicara yang jelas. Kami tidak mengerti maksudmu.”
“Ampun, Gusti. Kalau pagardesa yang menjaga rajakaya
itu mengejar mereka, hilanglah yang tidak terjaga itu.”
“Hei, bantulah dia bicara, kami tidak mengerti.”
“Ampun, patik pun tidak mengerti, Gusti. Hei, kepala
desa, bersembah kau yang benar dan patut.”
“Apakah maksudmu perampok rajakaya itu hidup di
dalam desamu sendiri?”
“Kira-kira begitu, Gusti, tetapi patik tidak berani
mempersembahkan dengan pasti.”
“Hei, yang bersangkutan, kau sudah dengar sendiri
persembahan bawahanmu. Perhatikan warga dari desa-desa
kalian. Nah, dengar ekalian yang menghadap pada hari ini!
Kami takkan mengulangi un-tuk kedua kalinya,” Sang
Patih menebarkan pandang ke seluruh penghadap.
Meneruskan, “Kami beri waktu untuk kalian satu bulan
penuh untuk mengatasi kerusuhan. Aturlah antara kalian
sendiri bagaimana mendatangkan bantuan pagardesa dari
desa-desa lain yang aman. Kalau gagal, tahu kalian
akibatnya?”
“Tahu, Gusti.”
“Ya, tahu. Biar begitu kami sampaikan juga: Kalau
kalian gagal, balatentara Tuban akan bergerak mengambilalih tugas pagardesa. Mengerti kalian artinya?”
“Mengerti, Gusti.”
“Ya, mengerti. Biar begitu kami sampaikan juga: kalau
balatentara bergerak, menjadilah tanggungan pada desadesa yang didatangi bala-tentaranya. Cukup sebulan itu?”
“Lebih dari cukup, Gusti,” mereka menjawab berbareng.
Kemudian Sang Patih mengendorkan ketegangan dengan
cerita: Ki Aji Benggala dahulu adalah punggawa Gusti
Adipati Tuban menjabat Syahbandar Tuban Kota. Nama
sebutannya adalah Rangga Iskak. Nama kelahirannya
adalah Iskak Indrajit.
Semua penghadap gelak tertawa mendengar nama
raksasa dalam Ramayana itu, nama yang tidak populer bagi
negeri Tuban. Juga Sang Patih ikut tertawa menyertai. Dan
ketegangan lenyap.
Cerita pun diteruskan: Iskak Indrajit adalah cucu dari
Syahbandar Malaka, seorang Benggala Malabar. Dari
kakeknya Rangga Iskak merasa dirinya orang Benggala,
maka menamai diri Ki Aji Benggala. Ayahnya, yang
berumur pendek, beristrikan seorang Malabar pula. Tetapi
bekas Syahbandar itu dilahirkan oleh seorang ibu Melayu,
dan dari ibunya ia mendapat nama Indrajit.
Sekali lagi penghadap gelak tertawa.
Ibunya memang bijaksana menamainya demikian. Ruparupanya ia telah mendapat firasat, anak yang dikandungnya
nanti akan jadi seorang raksasa dengan gigi taring.
Sesungguhnya, Rangga Iskak mempunyai gigi taring yang
agak mencolok.
“Tetapi keadaan sudah berubah,” Sang Patih
meneruskan. “Jabatannya sebagai Syahbandar tak dapat
dipertahankan. la harus diganti. Tetapi ia tidak rela diganti,
ia merasa bandar Tuban adalah miliknya pribadi. Segala
apa pun yang dikaruniakan Gusti Adipati dung gapnya
kurang dan makin kurang. Memang dasar raksasa bergygi
tanng Karunia lima buah desa sudah selayaknya ia merasa
jadi seorang bupati Tetapi tidak, dengan desa itu ia semakin
bertingkah. Ia anggap desa-desa itu didapatnya dari
berperang, dan sekarang dipergunakannya jadi modal untuk
melawan….
Seperti kebiasaan baru di sebelah timur dan barat negeri
Tuban sekarang ini, kalau seorang ningrat, apalagi bukan
ningrat telah menamakan diri Ki Aji dan mendapatkan,
banyak pengikut, dia merasa sudah setingkat dengan
seorang adipati, belagak sebagai raja tanpa pencgasan hak.
Seakan-akan kedudukan raja bukan lagi urusan para dewa,
seakan-akan sudah boleh ditempati oleh setiap orang.
Ajaran leluhur mulai dilupakan, sedangkan ajaran baru
belum ada isinya. Itulah kebiasaan baru sekarang ini dari
beberapa orang yang bakal bikin celaka semua orang di
seluruh pulau Jawa.”
Suaranya meningkat dan jadi berkobar-kobar, sarat dan
gemas: “Kalian harus ingat, Indrajit alias Ki Aji Benggala
bukan berdarah ningrat, jangankan berdarah Majapahit,
berdarah bupati pun dia tidak. Malahan orang Jawa dia pun
tidak. Dia peranakan Keling biasa, yang kebetulan pandai
berbagai bahasa. Memang banyak kepandaiannya, terlalu
banyak. Hanya dia punya satu kebodohan, satu saja: dia
tidak mengerti bagaimana berterimakasih. Dengarkan:
tumpaslah dia sebelum menjadi-jadi. Jangan ragu-ragu.
Kalian sendiri, sebagaimana diajarkan oleh leluhur, tentu
takkan percaya pada orang yang tidak tahu berterimakasih,
karena dia sesungguhnya tidak tahu tentang karunia para
dewa. Nah, pergi kalian.”
Dengan menghadapnya para punggawa orang mendapat
gambaran sebenamya tentang gentingnya keadaan
pedalaman. Hampir-hampir dapat dipastikan: balatentara
Tuban akan bergerak dalam sebulan mendatang.
Di Tuban Kota sendiri telah dirasai adanya perubahan
itu. Pertukaran barang dengan pedalaman merosot sejadijadinya. Pasar Kota semakin sunyi. Orang-orang kota
banyak yang meninggalkan kampung-halaman dan pindah
ke pedalaman. Perdagangan antar-pelabuhan, apalagi antarpulau, beku.
Dan di bandar sendiri, kecuali pemeliharaan dan
pembersihan, hampir tak ada pekerjaan lagi….
0o-dw-o0
Wiranggaleng tak pernah lagi kelihatan seorang diri
dalam menjalankan tugasnya. Ia pun mendapat tugas baru:
menjaga keamanan bandar Kota dan Glondong.
Pekerjaannya semakin banyak, pengetahuannya semakin
banyak, dan persahabatannya lebih-lebih lagi.
Hubungannya dengan Liem Mo Han membawanya pada
suatu pengetahuan, bahwa benar Portugis dan kapalnya
telah belayar ke Panarukan, dan bahwa raja Blambangan,
Girindra Wardhana bukan hanya tidak menolaknya,
bahkan menitahkan Patih Udara untuk menjemput
Martinique Lamaya di pelabuhan dengan segala kebesaran.
Dan setelah kapal itu mancal lagi dapat diketahui ada
barang sepuluh orang Portugis mengantarkan kapal itu
berangkat. Mereka tinggal di Blambangan.
Liem Mo Han pula yang memberitakan padanya: di
antara sepuluh orang Portugis itu ada yang masuk lebih ke
dalam daratan Blambangan dan membangunkan sebuah
rumah. Boleh jadi, kata Liem Mo Han selanjutnya, dengan
bantuan kerajaan Hindu itu orang-orang Peranggi akan
berhubungan dengan perusuh-perusuh di pedalaman negeri
Tuban dan dengan persekutuan itu akan mengancam Tuban
dari laut dan darat.
“Wira, hanya kekuatan Islam yang menentang Peranggi.
Semua kerajaan Hindu serba sebaliknya. Mereka merasa
terus-menerus terdesak oleh Islam, mengambil sikap
bertahan terhadap arus agama baru itu. Maka begitu
Peranggi datang mereka segera mengulurkan tangan
penyambutan. Mereka justru mengharapkan perlindungan
dari musuh seluruh dunia itu.”
Lama ia renungkan kebenaran kata-kata Liem Mo Han.
Perbandingan ia tak punya. dari renungannya ia
mengetahui adanya tiga kekuatan pokok: Hindu, Islam dan
Portugis. Baik Hindu mau pun Islam, dua-duanya menari
karena adanya Portugis.
“Ya, Peranggi tetap pokok,” ia memutuskan.
Dan sekarang, berdasarkan renungan itu, ia mengetahui:
Tuban berada di antara Hindu dan Islam, tidak punya sikap
yang pasti terhadap Peranggi.
“Tuban harus menentang Peranggi, tanpa menjadi Islam,
juga tidak karena Hindu.”
Ia tak persembahkan hasil renungannya pada Sang Patih.
Namun kata-kata Liem Mo Han tentang tiga kekuatan itu
menjadilah dasar pandangan resmi praja Tuban dalam
memahami dunia yang sedang berubah.
Tetapi sahabatnya itu tak pernah bicara tentang
Tiongkok, tidak tentang jung-jungnya, tidak tentang
perdagangannya, tidak tentang musuh-musuhnya, bahkan
tentang kependudukannya di Jawa ia pun tidak pernah
membuka mulut. Dan Wiranggaleng merasa tak ada
kebutuhan untuk mengetahui.
Telah beberapa kali ia mengundangnya untuk
menghadap Sang Patih. Liem Mo Han selalu menolak. Dan
dalihnya terakhir adalah: “Hanya kerajaan yang sudah
sepenuhnya Islam mau melawan Peranggi. Maka yang
setengah Islam cuma akan setengah melawan. Biarlah
sahaya membantu dari jauh saja, Wira.”
Penolakan itu bergema dalam hati Syahbandar-muda.
Aku belum pernah jadi Islam. Aku tak kenal dewadewanya. Tapi aku pernah melawan Peranggi, biar pun
sudah kalah sebelum bertarung. Dan aku akan tetap
melawan. Ia merasa tersinggung karena Liem Mo Han
menganggap Tuban setengah Islam. Seperempat pun
belum! Tapi aku akan melawan Peranggi. Hanya
kesempatan saja belum aku peroleh.
Liem Mo Han tetap tidak mau bicara tentang pribadinya.
Ia selalu bicara tentang praja.
Setiap ia mendapat kesempatan dan bertemu dengan
sahabatnya, selalu saja ada soal baru yang jadi tambahan
pengetahuannya. Dan datangnya pengetahuan itu tidak
binal menjompak-jompak sebagaimana diterimanya dari
Rama during, tapi tenang-tenang, seakan tidak terjadi
sesuatu, dan masuklah dalam hatinya.
Suatu peristiwa telah menyebabkan mereka berdua
berpisah. Dan kejadian itu datang begitu mendadak.
Pagi waktu itu.
Dengan dua orang pengiringnya ia pulang dari
memeriksa seluruh bandar. Baru saja ia turun dari kuda
telah terdengar: “Wira! Wira!” Tholib Sungkar Az-Zubaid
memanggilnya.
Sudah lama rasanya ia telah hindari Syahbandar yang
dibencinya. Sebaliknya yang terbenci nampaknya merasa
juga sedang dihindari. Dan sekarang ia menghadapi
permainan hindar-menghindar ini.
Ia naik ke gedung utama dan didapatinya Syahbandar
sedang minum kopi di kamar-kerjanya.
“Selamat untukmu, Wira,” ia berdiri. Wajahnya berseriseri dan nampak seakan bongkoknya sudah hilang sama
sekali.
“Tuan Syahbandar, inilah sahaya,” jawab Wiranggaleng.
Dan setiap kali ia melihat bongkok itu hilang dari
punggung orang Moro itu – telah sering ia perhatikan –
pasti sedang terjadi galangan kejahatan di dalam hatinya.
“Aku baru ingat, Wira, bukankah kau anak pedalaman?”
tanyanya dan menyilakan duduk. “Nah, semestinya kau
tahu di mana desa Rajeg”
Ia menjadi waspada. Setiap orang tahu, Rajeg adalah
sebuah desa pedalaman tempat pemusatan kekuatan Ki Aji
Benggala.
“Yang sedang banyak dipercakapkan orang itu?”
“Apa yang mereka percakapkan?” mata Tholib kelapkelip menyelidik.
Dan waktu nampak olehnya Wiranggaleng tersenyum
mengolok-olok ia jadi ragu-ragu. Ia tak meneruskan katakatanya. Dengan mengambil nada lain ia bergumam:
“Orang-orang bodoh itu. Mana mungkin Rangga Iskak
memberontak? Dengan takzim, tawakal dan sabar ia terima
semua titah Gusti Adipati.” Nada suaranya meningkat lagi,
“Begini, Wira, kau juga tahu Rangga Iskak ada di Rajeg.
Aku mengetahui dari Gusti Patih. Wira, baru saja ketahuan
ada barang kesyahbandaran, barang penting, yang terbawa
olehnya. Mungkin dia lupa dan tak mengingatnya lagi. Dan
itu bisa membikin bahaya terhadap bandar. Barang itu
harus di kembalikan pada Syahbandar.”
“Rupanya penting benar barang itu, Tuan Syahbandar,”
Wiranggaleng menyembunyikan keheranannya.
“Bagaimana bisa dikatakan tidak penting? Cap tera
untuk mas, perak dan tembaga! Syahbandar harus
mendapatkan barang tersebut sebelum berlarut. Bentuknya
memang sama dengan yang sudah kita pakai sekarang,
hanya tak ada tulisan Arab tambahan di dalamnya.”
Wiranggaleng sibuk menerka maksud orang Moro ini,
tetapi belum dapat.
“Kau tak perhatikan aku, Wira.”
“Teruskan Tuan Syahbandar.”
“Aku akan siapkan surat buat dia, dan cobalah nanti
sampaikan padanya dengan lisan: Syahbandar Tuban Sayid
Habibullah Almasawa dalam keadaan selamat. Cukup itu
saja. Aku senang punya pembantu seperti kau. Berani,
pandai, cekatan, kuat. Hanya orang seperti kau mampu
selesaikan pekerjaan ini.”
Terbayang oleh Syahbandar-muda itu akan adanya
hubungan antara kerusuhan di pedalaman dengan
Syahbandar ini, dan antara Syahbandar dengan Peranggi.
Aku harus buktikan! Aku harus dapat menyampaikan ini
pada Sang Patih: orang satu ini memang pengkhianat yang
tak patut mendapatkan perlindungan dari Sang Adipati,
tidak boleh lebih lama lagi. Dia sepatutnya dienyahkan dari
bumi Tuban.
Sebelum berangkat ke Rajeg ia telah temui sahabatnya
Liem Mo Han dan berpesan agar membuang waktu untuk
terus mengawasi dua orang Peranggi yang mendapat
perlindungan resmi dari Syahbandar dan perlindungan tidak
resmi dari praja itu.
Dari Sang Patih ia mendapat empat orang prajurit dari
pasukan kaki sebagai pengawal dan teman seperjalanan,
dan perintah untuk mengetahui sebaik dan sebenarbenamya tentang desa Rajeg, kekuasaan dan pengaruh Ki
Aji Benggala, desa-desa sekitar, berapa banyak
sesungguhnya desa yang mulai dan sudah berada dalam
pengaruhnya, hubungan yang mentautkan Rangga Iskak
dengan Sayid Habibullah Almasawa yang bermusuhan
pada lahimya itu, dan apa saja yang telah diperbuat dan
direncanakan oleh perusuh.
“Kerjakan tugasmu dengan baik,” pesan Sang Patih.
“Peranggi semakin mendekati kita. Pedalaman bergolak.
Pedagang-pedagang Islam meninggalkan Tuban Kota,
pindah ke kota-kota bandar di barat. Sedang pedagangpedagang Islam yang kecil-mengecil masuk ke pedalaman ”
“Patik akan kerjakan sebaik-baiknya, Gusti.”
“Benar kata Syahbandar. Nampaknya hanya kau yang
bisa lakukan tugas ini,” katanya lagi seakan mengulangi
Sayid Habibullah. “Kau tahu apa artinya semua ini.”
“Belum, Gusti.”
“Artinya, memang Tuban diancam oleh kerusakan dari
luar dan dari dalam. Kau rela Tuban, negerimu, Gustimu,
kebesaran Tuban. rusak?”
“Dewa Batara! Sama sekali tidak, Gusti.”
“Berangkatlah dengan sejahtera.”
Dan ia pun berangkat.
la berangkat dengan membawa pengertian: surat dan cap
itu hanya sekedar dalih untuk menghubungi Ki Aji
Benggala. Sang Patih boleh jadi hanya tersenyum dalam
hati. Sedang surat yang telah dibongkar oleh Sang Patih
lebih mencurigakan lagi: hanya sebaris tulisan Arab. Itu pun
pendek sekali. Jelas hanya isyarat belaka. Dia sungguh
cerdik, pikirnya. Dipilihnya aku untuk melakukan
pekerjaan ini. Dan dia tak memohon ijin dari Sang Patih.
Dia berbuat dengan pilihan dan kemauan sendiri. Tak bisa
lain, karena dia pun punya kepentingan dengan kematianku
pribadi. Hendak dicapainya dua maksud dengan satu jalan:
menghubungi perusuh dan sekaligus menyingkirkan aku. Ki
Aji Benggala jelas akan membunuh aku.
Ia benarkan kata orang tua-tua: kesalahan orang-orang
pandai ialah menganggap yang Iain bodoh, dan kesalahan
orang-orang bodoh ialah menganggap orang-orang lain
pandai. Sayid Habibullah Az-Zubaid juga menganggap
diriku bodoh. Aku tidak buta, aku selalu dapat menangkap
matamu yang menyala-nyala bila terpandang olehmu
Idayu. Bukankah Nyi Gede Kati sendiri tak segan-segan
membicarakan ini dengan istrinya, dan istrinya dengannya?
Liem Mo Han pernah memperingatkan: Tuan
Syahbandar Tuban sungguh-sungguh dibenci oleh setiap
dan semua orang, sampai jauh-jauh di Jepara dan Lao Sam.
Dia meremehkan para saudagar Islam dan Tionghoa,
sebagaimana ia lakukan di Malaka dulu. Dialah
pengkhianat Malaka. Tak urung ia akan jadi pengkhianat
Tuban juga. Tingkah-lakunya menjijikkan, seperti dia
sendiri Sang Adipati. Di Malaka dulu dia bertingkah
sebagai raja muda.
“Sebaliknya, Wira,” ia meneruskan, “Wira dan istri
merupakan pasangan yang dicintai dan dihormati. Tak ada
satu kebahagiaan yang lebih besar daripada dicintai dan
dihormatri semua orang. Itu adalah modal yang membikin
orang dapat mencapai segala-galanya. Sahaya harap Wira
mengerti perbandingan ini.”
Dan ia menganggap dirinya mengerti: Syahbandar
Tuban menghalaunya dengan meminjam tangan Rangga
Iskak alias Ishak Indrajit alias Ki Aji Benggala, kemudian ia
akan menghadap Sang Adipati dan memohon agar Idayu
dikaruniakan kepadanya, maka bukan saja ia akan memiliki
apa yang diberahikannya selama ini, juga akan dapat
meredakan kebencian orang terhadap dirinya. Malalui
Idayu sebagai milik pribadi ia akan lebih dapat
mempengaruhi Sang Adipati.
Tetapi mengapa Syahbandar Tuban itu begitu dingin
terhadap Gelar, anaknya sendiri? Mengapa? Mungkinkah
ada seorang yang acuh-tak-acuh terhadap anak sendiri? Ah,
mengapa tidak mungkin? bantahnya sendiri. Setiap ningrat
yang punya harem adalah juga orang yang tak acuh
terhadap anak sendiri, hanya tahu nafsu-nafsu pribadi,
memburu dan memuaskannya. Mengapa kau heran?
Kasihan kau, Gelar. Seperti seekor anak burung… ia
teringat pada kata-kata Rama Cluring tentang burungburung.
Dengan bekal itu di dalam hati ia berjalan kaki sebagai
petani memasuki pedalaman.
Makin mendekati desa Rajeg, desa-desa yang dilaluinya
nampak suram. Pada mata penduduknya nampak terpancar
ketakutan dan kegelisahan. Pertanyaan-pertanyaan pada
mereka dijawab seperlunya tanpa keramahan dan tiada di
antara mereka mengundang singgah, apalagi makan dan
menginap.
Hutan, padang ilalang, padang rumput pendek, sawah
dan ladang dilaluinya, dan pada suatu hari sampailah ia di
tepi sebuah rimba-belantara. Teman-temannya, juga
berpakaian tani, berjalan agak jauh di belakangnya.
Gubuk panggung di depannya sana masih seperti dulu
juga. Nampaknya tiang bambu dan atap ilalang itu belum
juga rusak. Gubuk itu agak besar; khusus didirikan jauh dari
desa mana pun untuk tempat berteduh dan menginap para
pemikul upeti atau musafir. Ia sendiri pernah menginap di
situ bersama tiga orang temannya untuk dapat
mendengarkan seorang guru-pembicara dari seberang, yang
mengajarkan, bahwa tidak ada sesuatu yang lebih tinggi,
lebih berkuasa, maha kuasa, kecuali Allah, dan bahwa
semua makhluk gaib takluk padanya. Orang itu bicara
dalam Jawa yang begitu anehnya sehingga pendengarpendengar lebih banyak tertawa dan orang tak mengerti
betul maksudnya. Orang-orang memberi komentar: guru itu
membawakan soal-soal baru yang aneh, itu sebabnya
bahasanya juga aneh.
Ia memerlukan singgah dan naik ke atas panggung. Di
kejauhan dilihatnya empat orang temannya berjalan aman
mengikutinya. Belum lagi ia rebahkan diri didengamya
suara-suara pelahan di bawah. la turun untuk melihat apa
yang sedang terjadi. Empat orang berbaju dan bersarong
putih dan berkopiah putih telah mengepungnya dengan
mengacungkan tombak. Sekilas ia lihat senjata-senjata
mereka tidak sejenis dengan yang biasa dipergunakan oleh
para prajurit – tombak-tombak berburu.
Seorang di antara para pengepung itu sudah tua. Yang
tiga lainnya masih bocah dan kira-kira saja abang-beradik.
Yang termuda sekira dua belas tahun.
Wiranggaleng melirik untuk dapat melihat rambut
mereka. Pendek, hampir-hampir dan juga mungkin gundul
Kalau bukan dalam keadaan genting mungkin ia takkan
dapat mengendalikan tawanya: orang berpakaian serba
putih – seperti bangau.
“Hei, kau!” tegur yang tertua, “tidak berbaju tidak
berkopiah, biadab! Berambut panjang seperti kuda betina!
Sebutkan namamu sebelum nyawamu melayang ke
neraka.”
“Betapa galak,” pikir Wiranggaleng. sebelum kena tegur
lagi ia berkata sopan dan pelan, dengan senyum damai pada
bibir: “Ampun, Bapa, tersasar.”
“Tak pernah ada orang tersasar kemari. Siapa kau!”
“Galeng, Bapa.”
Orang itu tertawa melecehkan. dan mata Wiranggaleng
tetap waspada. Pada bibirnya senyum itu masih juga
menghias.
“Galeng? Siapa tidak kenal Galeng? Biar pun kau juara
gulat tiga-lima kali berturut, tak ada guna. Kau datang dari
kota untuk memata-matai. Kau, kafir sialan, kafir laknat!”
“Apa yang dimata-matai, Bapa? Nanti dulu, siapa yang
aku hadapi ini?”
“Kurangajar, belum menjawab sudah ganti bertanya.
Siapa hendak kau mata-matai?”
“Tidak ada, Bapa. aku datang untuk menghadap Ki Aji
Benggala. Lain tidak.”
“Penipu! Ki Aji tak menunggu siapa pun di antara orang
berambut panjang. Apalagi kau datang dari kota! Begundal
Adipati Tuban.”
“Mengapa Sang Adipati, Bapa, nampaknya Bapak
memusuhinya?”
“Puh, Adipati, satria tidak tahu menepati janji. Apakah
orang kota tidak tahu pengkhianatan Tuban terhadap
Jepara? Terhadap Aceh, Riau, jambi dan Banten? Malaka
tidak jatuh, kemelaratan merajalela di Tuban! Kapal-kapal
tak lagi berani belayar. Begundal pengkhianat!”
Mengertilah Wiranggaleng, benar Ki Aji Benggala telah
menggunakan kemerosotan Tuban untuk menaikkan
dirinya sendiri. Berkata pura-pura tak tahu sesuatu: “Benar,
Bapa, aku tak tahu apa-apa tentang semua itu Aku mencaricari Ki Aji Benggala – tak tahu tempatnya, – membawa
surat untuk beliau – surat berbasa dan bertulisan Arab.”
“Pembohong! Adipatimu tak perlu tulisan dan basa Arab
– munafik itu.”
“Aku tak tahu artinya itu, Bapa. Sesungguhnya surat itu
bukan dari Gusti Adipati – dari Tuan Syahbandar Tuban,
dari Sayid Habibullah Almasawa, seorang Arab tulen.”
“Ki Aji tidak menunggu surat dari kota, kataku. Apa lagi
dari Syahbandar keparat itu.”
“Mengapa keparat, Bapa?”
“Mengapa? Dengan mulutmu yang kotor, najis, kau
bertanya mengapa? Coba, bukankah dia juga yang mengaku
Arab tulen dan keturunan Nabi besar sekaligus?” ia
meludah ke tanah. “Dia hanya budak kafir Peranggi.
Jangan pura-pura tidak tahu, rangkota! Semua rangdesa di
sini tahu duduk perkaranya. Kau ini, bukankah budak dari
budak kafir Peranggi? Kau, si rambut panjang?”
Wiranggaleng berusaha terus bicara dengan harapan
pengawal-pengawalnya akan tiba pada waktunya.
sementara itu ia mengagumi pengetahuan rangdesa tentang
seluk-beluk praja yang sudah sejauh itu. Tentu pengetahuan
itu disebarkan oleh Ki Aji untuk membenarkan dirinya
sendiri.
“Budak dari budak kafir Peranggi,” ia bergumam.
“Sungguh aku tidak tahu barang sesuatu. siapa bisa
salahkan orang yang tidak tahu?”
Setelah tertawa melecehkan orang itu mengejek:
“Memang jaman sekarang rangkota lebih dungu, lebih tak
tahu diri, lebih tak tahu dari rangdesa. Dungu atau tidak,
apa bedanya? Tak urung kau mati juga di sini. Mati tanpa
tempat yang dijanjikan.”
“Aku semakin tidak mengerti, Bapa.”
“Apa tahumu? Rangdesa tahu, biar kau berpakaian tani,
sesungguhnya kau bukan. Kau memang tidak tahu rangdesa
sekarang, yang sudah tahu segala-galanya. Huh, mati tanpa
tempat yang dijanjikan.”
“Bagaimana tempat yang sudah dijanjikan itu, Bapa?”
“Nasib kafir sudah ditentukan. Waktu hidup diburu-buru
nafsu dan kejahilan, waktu mati diburu-buru api neraka. Itu
yang patut kau dengar sebelum mati.”
Dan Wiranggaleng harus bicara terus.
“Bapa, Bapa bilang aku budak dari budak Peranggi. Tak
tahukah, Bapa, rangdesa Galeng ini pernah menyerang
Peranggi di Malaka?
“Bohong! Penipu! Tak ada Ki Aji pernah katakan itu.”
“Maka aku yang mengatakan.”
“Karenanya makin jelas kebohonganmu.”
Wiranggaleng kini dapat menjajagi betapa pengaruh
Rangga Iskak telah mulai mendalam. Ia harus berhati-hati.
“Bagaimana, Paman?” salah seorang di antara tiga bocah
itu bettarn a di belakangnya. “Masih juga dia dibiarkan
begini?”
“Nanti dulu, jangan keliru,” tegah juara gulat itu sambil
menengok sekilas ke belakang. “Lihat dulu surat yang aku
bawa ini. Tulisan dan bahasa Arab tulen.”
“Jih!” orang yang tertua meludahi tangan Syahbandar
muda yang mengulurkan surat. “Semua yang keluar dari
pokal kafir hanyalah najis”.
“Hweeee!” terdengar bentakan berbareng di belakang
mereka.
Orang-orang bertombak itu kaget dan menoleh ke
belakang dari tangan mereka dengan bantuan pengawalpengawalnya. Tanpa pengalaman menggunakan senjata
menyebabkan mereka segera teringkus tanpa daya. Panjang
tombak mereka menjadi penghalang utama untuk membela
diri.
“Jangan sentuh aku, kafir!” pekik orang tertua tak
berdaya itu. Matanya menyala-nyala menyemburkan
kebencian, kejijikan dan penyesalan.
Bocah-bocah yang juga terikat itu kini berpandangpandangan satu sama lain dengan ketakutan.
“Disentuh pun Bapa tidak suka, sedang aku hendak Bapa
tombak,” gumam Syahbandar-muda. “Perdamaian yang
sungguh tidak jujur, Bapa.”
“Mata-mata! Telik!” pekik orang itu seperti gila.
Suaranya menggaung di tepian rimba. “Allah mengutuk
kau, dunia dan akhirat!”
“Siapa yang mengutuk aku, Bapa atau Allah? Ataukah
Bapa sama dengan Allah?” balas Syahbandar-muda.
“Sudah, Bapa diam saja. Pinjami aku anak yang terkecil ini.
Dan Bapa sendiri, pinjami aku pakaian itu, biar pun terlalu
sempit. Dan kalian,” ia perintahkan pada para
pengawalnya. “bawa sisanya ke dalam rimba, terikat!
Tunggu sampai aku datang. Sini, Buyung,” perintahnya
pada tawanannya yang terkecil, “biar aku lepas talipengikatmu, dan mari aku diantarkan. Jangan
menyasarkan, karena paman dan saudara-saudaramu bisa
binasa. Lagipula takkan dapat kau lari dari tanganku.”
Ia berjalan dengan pakaian putih serba kekecilan
bersama si buyung. tujuan: desa Rajeg, pusat kekuatan Ki
Aji Benggala. Ia beruluk salam dengan tangannya pada
orang-orang yang dipapasinya di jalanan sebagaimana adat
baru itu diajarkan. Ia tarik senyum pada pasang-pasang
mata yang nampak heran memandanginya: seorang
berbadan besar, berpakaian serba putih dan serba sempit
dengan rambut kafir panjang terurai, langkahnya mantap
tanpa ragu-ragu, dan mengiringkan seorang bocah.
Di sawah dan ladang orang memerlukan berhenti bekerja
untuk da-pat melihat pemandangan aneh itu.
Dan si buyung tak berusaha menerbitkan kesulitan.
Beberapa desa telah dilewati. Kemudian sampailah
mereka di Rajeg.
Wiranggaleng heran melihat wajah-wajah yang sudah
dikenalnya dan sudah mengenalnya. Mereka adalah
penduduk Tuban Kota yang biasanya belayar atau
berdagang. Dan mereka tidak menegurnya, hanya
menyapukan pandang padanya, bahkan membalas senyum
dan salamnya pun tidak.
Orang-orang yang sedang bercakap-cakap di pinggir jalan
juga memerlukan berhenti bicara, meminggir, memberinya
jalan, dan mengawasinya dengan mata bertanya-tanya. Dan
Wiranggaleng menyadari betapa sulit keadaannya.
Sampailah keduanya kini di depan sebuah rumah kayu
berbentuk joglo. Pendoponya juga sebuah rumah joglo
beratap sirap. Tiang-tiang guru terbuat daripada balok-balok
kayu bulat berjumlah empat, tanpa ukiran. Lantainya
terbuat daripada tanah liat dikeraskan bercampur pasir. Di
tengah-tengahnya tergelar tikar lampit dengan sebuah meja
rendah di atasnya.
Tak ada orang terdapat di sekitar rumah itu.
Ia berdiri saja dan tak ada nampak kehidupan di
pendopo yang kosong melompong itu. Ia heran mengapa
tak ada penjagaan di rumah dan sekitarnya. Waktu ia
angkat pandangnya untuk melihat susunan kasau, nampak
olehnya sepotong kulit kambing terpakukan pada blandar
depan. Dan pada kulit itu tertulis tulisan Arab. Barangkali
itu mantra penjaga dan pekarangan, pikirnya.
Pelataran depan dan samping-menyamping terbuka luas
tiada tertanami, nampaknya memang sengaja akan dibuat
men jadi taman. Dan jauh di belakang, melalui atap rumah,
nampak tajuk pohon-pohon nyiur dari berbagai umur, terusmenerus bergoyang gelisah.
“Nuwun… hasalamu halaikoooom!” sebutnya.
Si buyung pergi ke belakang melalui samping rumah.
Cukup lama ia menunggu. Baru muncul yang diharapharapkannya: Ki Aji Benggala. Ia berpakaian serba putih
tenunan desa. Dan ia tak menyilakannya naik. Dengan
langkah ragu ia mendekati Wiranggaleng. berhenti di
depannya, menatapnya dengan pandang ke bawah. Kedua
belah tangannya bertolak pinggang, dan mata itu menyalanyala gusar: “Wiranggaleng!” raungnya.
“Sahaya, Ki Aji,” ia bersimpuh di tanah dan
menyembah. Dan ia tak mengerti mengapa tuanrumah itu
mesti meraung.
“Berpakaian putih berambut panjang, datang untuk
serahkan nyawa.”
“Sahaya, Ki Aji.”
“Syahbandar-muda, juara gulat….”
“Sahaya, Ki Aji.”
Dari suara-suara di belakangnya Wiranggaleng tahu,
beberapa orang sudah berdiri dengan tombak untuk
sewaktu-waktu akan menjojoh punggungnya.
“Kau sudah ringkus penjaga-penjaga perbatasan, Ki Aji
tak menerima apa pun dari siapa pun, apalagi hanya orang
sebagai kau?”
“Sahaya, Ki Aji,” dan sekilas dalam tunduknya ia dapat
menangkap sosok tubuh seorang wanita gemuk sedang
menghampiri Rangga Iskak dari belakang. Dialah
penolongku, pintanya dalam hati. “Sahaya menghadap
hanya sebagai utusan. Tidak lebih dan tidak kurang.”
“Utusan siapa? Hhh! Kafir-kufur yang terkantuk-kantuk
menunggu datangnya iblis-iblis Peranggi terkutuk pula itu?”
ia diam dan menolak ke belakang.
Wiranggaleng mengangkat pandang dan melihat waktu
itu menyembah pada Rangga Iskak sambil tetap berdiri,
bicara lantang dalam bahasa yang ia tak mengerti. Dan ia
Iihat Rangga Iskak alias Ki Aji Benggala mengawasi wanita
itu tajam-tajam, kepalanya menggeleng atau mengangguk.
Kemudian ia melambaikan tangan menyuruh wanita itu
pergi. Tetapi yang disuruhnya manda saja.
“Ya,” kata Ki Aji tiba-tiba lunak pada Wiranggaleng,
“hanya orang pemberani seperti kau bisa dan berani datang
kemari,” ia mengangguk-angguk.
“Sahaya datang bukan sebagai utusan Gusti Adipati, Ki
Aji, tetapi Tuan Syahbandar Habibullah Almasawa.”
“Anjing Ispanya itu! Begundal Peranggi! Bekas
Syahbandar Malaka keparat! Terlalu lambat orang
mengetahuinya.”
Wanita di depannya itu menyembah Ki Aji dari
belakang, kemudian menepuk bahunya. Kembali suara Ki
Aji menjadi lunak.
“Munafik keparat!” makinya pelan. “Tak ada ampun lagi
bagi iblis laknat itu. Datang di Goa, dijualnya Goa pada
Peranggi. Datang di Malabar, dijualnya Malabar pada
Peranggi. Betapa terlambat orang mengetahui. Datang ke
Malaka begitu juga. Datang di Tuban… apalagi yang
sedang diperbuatnya sekarang? Dan adipatimu, si goblok
yang cuma tahu selir-selirnya itu, tak tahu ujung dan
pangkal keadaan….”
“Sahaya hanya seorang utusan, Ki Aji Benggala.”
Lagi-lagi wanita itu bicara berbisik pada Ki Aji. Dan
kesempatan itu dipergunakannya untuk mengeluarkan surat
dari Sayid Habibullah. Ia lakukan itu dengan sengaja untuk
dilihat oleh Ki Aji. Tetapi orang di depannya itu tak
menggubrisnya.
“Perkenankan sahaya mempersembahkan surat ini,” ia
terpaksa mengatakan. Ki Aji melihat surat itu dengan raguragu. Wanita di belakangnya nampak memberikan isyarat
dan berbisik lagi untuk memberanikan agar menerimanya.
“.Ya,” gumamnya kemudian, “Nabi pun berkirim surat
pada umat kafir Romawi dan kaisar kafir yang lain. Betul
juga kau, Khaidar.” Suaranya sekarang meninggi, “Sini
surat itu.”
Wiranggaleng memanjangkan badan dan
menyampaikan.
“Bedebah!” raung Ki Aji. “Ini bukan surat. Ini hanya
alasan. Alasan agar kau dapat datang kemari dan mematamatai daerahku. Terkutuk! Laknat! Begundal Peranggi
keparat! ia remas-remas surat kertas itu dan
melemparkannya pada muka utusan itu. “Jangan kalian
kira Peranggi bisa raba bumi ini dengan keteranganmu. Apa
lagi Tuban, Tuban yang mau untungnya saja dari Islam,
tapi tak kerja sesuatu pun untuknya.”
“Sahaya hanya seorang utusan, Ki Aji,” sembah utusan
itu. Dan ia telah menyiapkan diri untuk lari bila keadaan
semakin genting.
Wanita itu bicara lagi. Ki Aji Benggala mendengarkan,
kemudian memberikan isyarat pada Wiranggaleng agar
menyerahkan kembali surat teremas yang telah terkapar di
tanah itu. Begitu telah diterimanya, wanita itu mengambil
dari tangannya dan membacanya, tersenyum, mengangguk
dan memandangi Ki Aji sambil bergeleng-geleng. Kata
assalamualaikum berkali-kali keluar dari mulut wanita itu.
Ki Aji Benggala kembali menatap Wiranggaleng.
“Surat,” katanya menggerutu, “hanya berisi assalamu
alaikum. Lebih tidak,” kekerasan yang hampir meledak lagi
tiba-tiba mereda dari wajahnya. “Wajiblah bagimu,”
katanya lebih pada diri sendiri, “membalasnya. Ya, wajib,
di mana pun dan kapan pun dan dari siapa pun datangnya.”
la diam dan nampak berpikir. Kemudian tersenyum dan
memperhatikan si penghadap di depannya tanpa berkedip.
“Baik,” katanya. “Bedebah Moro itu berhasil. Dia telah
menyampaikan salam damai, begundal Peranggi itu.”
“Sahaya hanya seorang utusan, Ki Aji. Sekarang sahaya
sedang menunggu balasan untuk sahaya bawa pulang.”
“Kau sedang menyelamatkan tengkukmu sendiri
rupanya, Galeng. Kau memang pandai, licik.”
“Sahaya hanya seorang utusan, apalah yang sahaya bisa
perbuat selain menjalankan perintah?”
“Baik. Kau boleh miliki tengkukmu sendiri. Aku akan
balas surat ini.” ia merengut. “Tunggu kau di situ. Jangan
tinggalkan tempatmu. Tombak akan merajang kau. Jangan
sentuhkan jari-jari najismu pada tangga dan haram jika
mengenainya.”
Ia masuk. Wanita itu masih berdiri memandangi utusan
itu tapi tiada berkata sesuatu pun.
Dan lama ia harus menunggu.
Terik matari telah memeras keringat dari tubuhnya. Di
samping menyampingnya mulai berdatangan bocah-bocah
menontonnya. Ia tetap menekuri tanah.
Ki Aji Benggala keluar lagi membawa kertas surat.
“Hei, kau, Wiranggaleng, sampaikan oleh mulutmu
sendiri pada tuanmu begundal Peranggi itu, aku, Ki Aji
Benggala, Rangga Iskak, Ishak Indrajit, telah menerima
suratnya. Sampaikan: dia harus laksanakan apa yang aku
perintahkan sebagaimana termaktub dalam surat ini. Dia
akan tahu apa bakal menimpa dirinya kalau tidak.”
“Sahaya, Ki Aji.”
“Jangan coba-coba menganiaya penjaga perbatasan.”
“Sahaya, Ki Aji.”
“Lepaskan mereka, kembalikan baju mereka.”
“Sahaya, Ki Aji.”
“Pergi!” bentaknya keras. “Tinggalkan bumi ini dan
jangan balik kalau tak bosan hidup.”
Wiranggaleng mengangkat sembah. Setelah Ki Aji pergi
dalam iringan Khaidar baru ia bangkit berdiri, balik kanan
jalan, dan… pengawal-pengawal berbaju serba putih itu
menarik mata tombak mereka dari tubuhnya dan
membiarkannya pergi.
“Hasalamu alaikoooom!” ia mendahului beruluk salam.
Tak seorang pun membalasnya. Berlapis-lapis mata
tombak memenuhi jalanan yang dilewatinya. Ia terus juga
beruluk salam tanpa jawaban.
Mereka membiarkannya lewat tanpa gangguan.
Novel Arus Balikk Bab 13 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.
Bagaimana alur cerita dari novel Arus Balik Bab 13 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua.
Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.
Untuk membaca Novel Arus Balik bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.
Komentar
Posting Komentar