Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 10 Disini

Novel Arus Balik bab 10 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Arus Balik menceritakan tentang kisah Kedatangan Portugis di Bumi Nusantara dengan latar awal Abad XVI, yaitu ketika surutnya pengaruh Majapahit dan naiknya pamor Kesultanan Demak.

Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Arus Balikk Bab 10 Bahasa Indonesia Sekarang ini.

10. Idayu, Kamaratih Tuban

Kumbang-kumbang itu berputar-putar mengigal dalam

tingkahan gamelan yang ria, seakan tak ada sesuatu pun

yang mengancam kehidupan ini. Pakaian mereka

gemerlapan mengeijap-ngeijap berkilauan ungu dan me rah

dan kuning dan hijau be rma in-main dengan sinar lampulampu yang menyala dari semua penjuru. Warna-warna

yang mengikat pandang dan gerak-gerik yang memukau

perasaan.

Seakan langsung dari langit melawan serombongan

kumbang jantan, dan buyarlah sekelompok betina yang

berbahagia mengigal-ngigal dalam kedamaian itu. Mereka

kemudian berkitar-kitar, berkelompok dan pecah.

Sekelompok lagi dan pecah, berkelompok lagi dan pecah

lagi, akhirnya jadi pasangan-pasangan asyik-masyuk yang

berkobar-kobar. Sepasang demi sepasang terbang

menghilang dibawa oleh impian untuk mereguk hidup

sampai ke dasar cawan.

Yang tertinggal hanya sepasang saja, berputar mengigal

bercumbuan. dan gamelan mulai menderu, memuntahkan

gelora dan gairah mahluk untuk menunggalkan dua

menjadi satu, dan satu untuk membanyak dan membiak

mengisi seluruh buana dengan titik-titik kasihnya. 

Mendadak gamelan jatuh menghiba-hiba dan pasangan

kumbang itu kehabisan cumbu, kekeringan rayu.

Seekor kumbang jantan lain datang seakan dari alam

lain, lebih besar, lebih gesit, lebih perkasa. Diceraiberaikannya pasangan itu. Gamelan mengendap-endap ragu

dan kumbang betina itu merana melihat sang kekasih

tercampak. Berdegup-degup gamelan meningkahi si betina

yang lari terbang berputar-putar dalam kejaran jantan

perkasa.

Betina itu mengendap, hinggap bersembunyi di balik

sekuntum bunga. Si jantan perkasa terbang menghilang

kehilangan arah. Tinggal si betina sepi sendiri, meratapi

sepotong dari sayap kekasih yang sudah compang-camping,

tersangsang pada selembar daun bunga.

Dan kumbang betina yang tertinggal sepi sendiri itu

adalah Idayu. Kamaratih Tuban.

Di tempat yang ketinggian, di atas kursi kayu cendana

berukir, duduk Sang Adipati. Pandangnya gelap menembusi

ruang dan waktu. Pemusatan seluruh birahinya

membisukan seluruh bunyi dan menghilangkan semua

gerak. Yang tertangkap oleh batinnya hanya tubuh yang

memancarkan daya tarik tiada terlawankan itu: Idayu!

Idayu!

Bila pemusatarinya terputus oleh kenyataan, ia seorang

adipati, seorang penguasa di antara para kawula, kendorlah

semua ketegangan. la menghela nafas dan menyandarkan

punggung pada kursi, diremas-remasnya jari-jarinya sambil

menebarkan pandang pada semua orang yang duduk

melingkari kalangan di atas lantai di hadapannya sama dan

mendesiskan keluh kesakitan.

Sebelum Idayu turun menari di kalangan, satu barisan

gadis para pembesar telah menari bersama memperagakan 

keindahan tubuh dan keluwesan gerak dan kecantikan

wajah. Tapi Sang Adipati kehilangan gairah untuk memilih

salah seorang di antaranya.

Idayu! Idayu! Hanya Idayu! Mengapa anak desa

perbatasan ini mampu menaklukkan aku? Sekali-dua ia

menghembuskan nafas keluh dan ratap yang

ditenggelamkan oleh bunyi gamelan. Seakan aku bukan seorang tua, tapi seorang perjaka belasan tahun!

Di belakang Sang Adipati, berdiri di pinggiran, adalah

Tholib Sungkar Az-Zubaid, berjubah genggang, bertarbus

merah. Matanya menyala-nyala penuh nafsu berahi,

menjamah dan menelan tubuh yang sedang berlengganglenggok menari itu. Ia tak terbiasa mendengarkan gamelan,

tak terbiasa melihat tarian Jawa. Namun semua itu terasa

jadi satu kepaduan yang indah pekat, suatu keindahan yang

membersit dari pedalaman jiwa manusia, tak pernah ia

dapatkan pada tarian Spanyol dan Portugis.

Idayu nampak seakan terbang, menggeleng-gelengkan

kepala dan mengipas-ngipaskan sampur pada mukanya,

seperti kumbang betina sesungguhnya yang sedang

kehilangan akal dan berputus asa.

Ah, tubuh yang langsing berisi dan gerak-gerik yang

memanggil-manggil untuk bercumbu itu. Kerjap mata dan

geletar jari-jari yang mengundang bercengkerama dan

bercinta itu….

Tangan Tholib Sungkar Az-Zubaid mengepal-ngepal,

seakan seluruh tubuh yang indah itu telah berada dalam

genggamannya. Bahkan kulit penari di hadapannya itu pun

utuh bersinar-sinar dalam kemudaannya!

Dalam meratapi sayap kekasihnya yang compangcamping, mata kumbang itu terayunkan ke atas, pada

langit, menunggu datangnya kekasih baru. Dan Tholib 

Sungkar Az-Zubaid merasa dalam harapannya, kekasih

baru itu tidak lain dari dirinya.

Di tempat duduknya, di samping Sang Adipati, agak di

belakang dan di atas tikar di lantai, Sang Patih hampirhampir tak bergerak, takut kalau-kalau kehilangan mata

rantai keindahan yang bertaut-tautan antara bunyi gamelan

dan gerak si penari. Serasi yang padu itu membawanya

terayun-ayun ke dalam pukauan alam mistik yang tak

tertafsirkan. Lenyap terdesak segala kesulitan dan

kepayahannya mengurus pemborongan rempah-rempah

dari Maluku dan pengaturan kapal-kapal dan awaknya.

Tiba-tiba kumbang yang tertinggal sepi sendiri itu

mengepakkan sayap dengan kejang, jatuh di bumi dan

menggelepar. Gamelan mendadak berhenti. Idayu menata

diri, bersimpuh dan menyembah Sang Adipati, hilang

mengundurkan diri dari kalangan.

Dari-sana sini terdengar terbatuk-batuk dan mendeham.

Pertunjukan selesai.

Sang Adipati meninggalkan pendopo dan langsung

masuk ke peraduan. Dikebaskannya semua gambaran dan

bayangan tentang Idayu. Sebuah pintu rahasia telah

membawanya ke sebuah ruangan sempit. Dinyalakannya

sebuah pelita gantung dan dengan itu membuka sebuah

pintu lagi. Ruangan sempit itu menurun dua-tiga depa ke

dalam tanah, dan makin lama makin dalam. Ia sedang

memasuki ruangan rahasia.

Hanya seorang dalam satu generasi mengetahui adanya

ruangan rahasia ini. Pengganti Sang Ranggalawe yang

membangunkannya. Jalan yang bersambung dengan rongga

bawah tanah ini memanjang hampir dua ribu depa, dan

dikerjakan oleh bajak-bajak yang telah tertangkap.

Pengganti Sang Ranggalawe tak sudi mengulangi nasib 

adipati yang digantikannya – tertumpas punah oleh

ekspedisi hukuman Majapahit. Maka dibikinnya

terowongan panjang ini untuk melarikan diri dari

kepungan. Setelah bajak-bajak ini menyelesaikan

pekerjaannya, mereka di-sekap dalam salah sebuah ruangan

dan dibunuh dengan asap belerang. Ruangan itu tak pernah

dibuka lagi.

Ujung terakhir dari rongga ini adalah sebuah bukit

rendah yang di-rimbuni oleh semak-belukar dalam hutan

larangan.

Setiap Adipati Tuban digantikan oleh anaknya, ia

mendapat petunjuk memasuki rongga ini dan mendapat

kewajiban untuk setiap bulan memeriksa dan memperbaiki

dengan tangannya sendiri pada bagian-bagian yang rusak.

Balok dan papan kayu jati tua merupakan dinding yang

menolak gugurnya tanah. Tak ada tanda-tanda kayu itu

melapuk selama lebih dari dua ratus tahun ini. Udara yang

basah pengap pun tak kuasa merusakkannya: Sebentar Sang

Adipati berpegangan pada salah sebuah balok. Dengan

tangan lain ia menanting pelita gantung.

Gambar Idayu kembali mengunjungi pikirannya, dan

dibawanya masuk ke dalam salah sebuah rongga. Ia masih

tak rela sebelum mati tidak menyentuh hasil Awis Krambil

yang terindah itu. Tetapi Idayu telah jadi milik seseorang,

telah disaksikan oleh seluruh penduduk Tuban Kota. Ia

tidak boleh meletakkan tangan di tengah-tengahnya. Ia

harus mati tanpa menjamahnya. Ya, biar pun ia telah

kirimkan Wiranggaleng jauh ke barat. Tidak, ia tak boleh

lakukan itu.

Dari sebuah lemari batu berlapis kayu di dalamnya ia

keluarkan selembar kulit yang telah bercendawan.

Disekanya lapisan putih cendawan dengan pangkal lengan 

dan muncul sebuah peta laut peninggalan Majapahit, yang

telah lebih seabad tak pernah diperbaiki. Peta itu sudah

hampir hancur. Bahkan kulit itu sendiri sudah mulai

melumut di sana sini.

Tak lama ia mempelajarinya. Dikembalikan barang itu di

tempatnya semula dan bersiap-siap hendak melakukan

pengawasan terhadap dinding dan penyangga. Udara yang

lembab dan mencekik itu membatalkan niatnya. Memang ia

tak pernah berjalan sampai ke ujung sana. Dahulu pernah ia

tutup dengan papan di dekat ujung, karena ia takut kalaukalau ular memasuki dan menjadikan sarangnya.

Sambil berjalan balik ke bilik peraduan gambar peta dan

gambaran Idayu silih-berganti mengisi pikirannya. Setiap

kali ia hendak melukiskan tempat-tempat di mana Peranggi

berada untuk mendapatkan kesimpulan gerak mana lagi

yang akan diambilnya, gambaran Idayu juga yang muncul.

Sesampainya dalam peraduan ia tidak juga mengantuk.

Ia keluar dan menuju ke keputrian.

Sepulangnya dari pendopo kadipaten Sang Patih

membuat satu garis pada sebilah papan di mana tertulis

nama Wiranggaleng dengan huruf Jawa. Pada papan-papan

yang lain tercantum nama petugas laut dan darat yang

bertugas di luar negeri. Dan coretan pada papan juara gulat

itu semakin banyak juga, namun belum juga utusan itu

pulang dari Jepara.

Tholib Sungkar Az-Zubaid berjalan cepat-cepat pulang.

Langkahnya panjang-panjang dan jubahnya diangkatnya

tinggi-tinggi seakan sedang berjalan di atas becekan.

Didapatinya Nyi Gede Kati telah nyenyak dalam

tidurnya. Sekilas ia pandangi mulut wanita yang ternganga,

melelakan giginya yang mulai kurang hitam. Ia 

mengangguk-angguk membenarkan. Dalam kotak-sirihnya

sekarang tak pernah terdapat jahawe.

Ia nyalakan sebatang lilin baru dan berjalan menuju ke

dapur. Di atas sebuah meja kayu kasar di ruangan dapur

terdapat sebuah nampan, di atasnya berdiri gendi berisi air

dan sesisir pisang susu. Ia keluarkan sebuah bungkusan dari

saku di balik jubah. Dituangnya sedikit serbuk ke dalam

gendi itu, diusap-usapnya gendi itu sambil tersenyum dan

mengangguk.

Suatu suara yang mencurigakan terdengar dari kejauhan.

Buru-buru lilin ia padamkan. Ia tinggalkan dapur dengan

tangan menggerayang.

Tak lebih dari setengah jam kemudian muncul Idayu

membawa pelita gantung ke ruangan dapur. Diambilnya

nampan berisi gendi dan sesisir pisang susu dan bersiap-siap

hendak pergi lagi. Ia mulai melangkah balik. Terhenti.

Sesuatu telah menyentuh kakinya. Ia letakkan kembali

nampan dan menyuluhi lantai. Sebatang lilin tergolek di

bawah. Ia pungut benda itu, memperhatikannya sebentar

dan meletakkannya di atas meja. Kemudian ia

meninggalkan ruangan dapur. Betapa keras desau an gin

dan deburan laut malam ini.

Ia selalu berusaha untuk tidak mendengar. Justru

karenanya terdengar lebih keras dan menggelisahkan

pikirannya. Sekiranya suaminya ada di rumah, sekalipun

tidak selalu di dekatnya, ia taklcan sesunyi itu, sewas-was

ini, dan sekeras itu deburan laut dan desau an gin terdengar.

Sesampainya di dalam kamarnya sendiri ia letakkan

nampan di atas meja, juga pelita itu. Kemudian sambil

berdiri ia membuat sembah meng-ucapkan syukur pada

Hyang Widhi karena tarian telah ia lakukan dengan baik

tanpa kesalahan. Ia tak tahu ciptaan siapa tarian itu. Ia 

tidak suka menarikannya. Isinya tak mempunyai sangkutpaut dengan kebesaran alam dan para dewa. Ia merasa

rusuh sekarang ini setelah menarikannya.

Ia lepas cundrik dari sanggul dan jatuhlah rambutnya

terurai menutupi seluruh bahunya yang tertutup kain bahu

itu.

Ia telah melangkah hendak keluar untuk menggosok

gigmya dengan tepung arang. Tak jadi. Ia merasa lapar dan

menangguhkan niatnya. Dipilihnya sebuah pisang terbaik.

Seekor kecuak temyata bertengger tanpa curiga pada

ujung buah itu, mengatasinya dengan kumis panjangnya

berayun-ayun seperti sedang menegur bagaimana tarianmu

semalam ini?

Dengan cundriknya Idayu menepak binatang ramah itu

sampai jatuh ke lantai dengan kumis dan beberapa di antara

kakinya terpenggal.

Dan angin meniup kencang di luar, bersuling-suling di

sela-sela genteng. Api pelita itu agak bergoyang. Idayu

melihat ke atas. Tak ada sesuatu yang nampak kecuali

langit-langit dari jajaran papan.

Dengan diam-diam ia kupas pisang dan memakannya

kemudian menaruh kulitnya di atas nampan di atas meja.

Setelah itu ia pun minum dari gendi.

Sekarang ia bergerak hendak keluar untuk menggosok

gigi. Setelah itu, sebelum tidur, ia akan membacakan

mantera untuk keselamatan suaminya. Tiba-tiba dirasainya

kepalanya menjadi berat. Kekuatan dengan ccpat seakan

tersedot keluar dari tubuhnya. Penglihatannya mulai

berayun dan suram. Dengan langkah goyah ia berjalan

menuju ke ambin. Ia rasai kepalanya menekan berat pada

tubuhnya. Ia limbung. Cepat-cepat diraihnya ambin agar 

tidak terjatuh. Kakinya dirasainya tak kurang beratnya. Dan

lidahnya terasa tebal dan kaku, menolak untuk bergerak

atau digerakkan.

Dengan tangan satu ia telah berpegangan pada ambin. Ia

masih sempat mendengar cundriknya jatuh di lantai. Ia

ingat pada pintu yang belum dipasak, dan ia tahu harus

memasaknya dulu. Ia tahu bagaimana pegangannya pada

tepi ambin lepas tanpa semaunya sendiri. Ia merasa

tubuhnya jatuh di lantai dan perasaannya berayun-ayun di

awang-awang. Ia heran dan gugup, tetapi tak dapat berbuat

sesuatu. Tubuhnya serasa bukan tubuhnya sendiri. Dan ia

terkapar di lantai. Seluruh kesedaran tersedot keluar dari

badan. Yang tersisa hanya suatu kesuraman.

Pada waktu itulah masuk Tholib Sungkar Az-Zubaid ke

dalam kamar. Ia telah tidak berjubah lagj, tetapi bersarong

dan berbaju kalong. Tarbus pun tiada pada kepala dan

tongkat tiada di tangan. Ditutupnya pintu dan dipasaknya

dari dalam. Diambilnya pelita gantung dari atas meja dan

disinarinya wajah Idayu yang terkapar di lantai, tertidur.

Diusap-usapnya pipi wanita itu. Pelita kemudian

dijatuhkannya. Diangkatnya tubuh wanita itu dengan hatihati dan dengan hati-hati pula digolekkannya di atas

ambin….

Keesokannya matari telah tinggi di langit setelah dengan

susah-payah menerobosi dasar laut Pintu kamar gandok kiri

itu masih juga belum terbuka. Di gandok kanan para

nakhoda dan saudagar telah meninggalkan tempatnya

masing-masing untuk pergi ke kota atau mancal berpesiar.

EM dapur kesyahbandaran Nyi Gede Kati sudah sibuk

memasak.

Idayu belum juga muncul. 

Waktu menara pelabuhan mengirimkan taluan canang ke

semua mataangin, Idayu baru membukakan mata.

Tubuhnya belum juga bergerak. Ia terbangun dari suatu

impian aneh. Dan ia mulai mengingat-ingat impian itu. Ia

menggeleng tak mempercayai. Matanya dikocoknya.

Menengok ke arah pintu. Ia ragu-ragu, tersentak duduk.

Dilihatnya pasak pintu tidak terpasang. Juga tidak berdiri di

tempatnya. Siapa gerangan telah memindahkan dari

tempatnya yang biasa?

Ia terkejut waktu pikirannya menduga-duga barangkali

ada orang masuk ke kamamya ataukah Galeng sudah

pulang?

Ia hendak melompat turun. Tapi tubuhnya dirasainya

sangat lemah. Pelan-pelan ia turun dari ambin. Kakinya

tersentuh pada cundrik yang tergeletak di kolong.

Dipungutnya senjata tajam itu dan dimasukkan ke dalam

sarongnya yang juga tergeletak di lantai.

Ingatannya dikerahkan untuk meraih waktu semalam

sebelum tidur.

Ia yakin semalam belum lagi naik ke atas ambin.

Matanya terbeliak mendadak. Di tepian langit-langit

dilihatnya serombongan semut berpawai menggotong kaki

kecuak. Pelita gantung itu masih menyala tetapi tidak di

tempat yang semestinya. Dan ia masih dapat mengingat

dalam impian: seseorang mengangkatnya ke atas ambin dan

hembusan nafasnya meniup pada mukanya. Sayup-sayup ia

dengar suara yang dikenalnya itu merayukan kata-kata

cumbu pada kupingnya.

Ia memekik, tetapi tak ada suara keluar dari mulutnya.

Kekacauan merangsang pikirannya. Ia melompat ke

ambin. Selimutnya masih terlipat rapi di atas bantal. Tapi 

bantal itu sendiri tidak berada di tempat. Ia termangumangu. Apakah benar impin itu? Tuan Syahbandar Tuban

Sayid Habibullah Almasawa?

Ia terkejut, tersedar sedang dalam keadaan telanjang

bulat. Tak mungkin! teriaknya dengan suara menggigil

dalam hati. Pastilah mungkin semalam telah kulepas.

Ia periksa tubuhnya, dan dirasainya ada bekas-bekas dari

impian semalam.

Ia terduduk lemas. Bersimpuh ia dan menelungkup pada

tepian ambin dan terhisak-hisak: “Dewa Batara! Impian

apakah yang kau berikan padaku ini?”

Mendung bergulung berpusing-pusing dalam hatinya.

“Mengapa kau jadi begini, Nak?” Nyi Gede Kati

menolongnya berdiri. “Kau sakit?”

Ia berdiri sambil memungut kainnya yang terkapar di

lantai dan mengenakannya. Dengan langkah lunglai ia pergi

ke tempat mandi.

Sehari itu ia tak makan. Juga tak bicara. Dan sejak hari

itu ia nampak murung. Tetapi impian itu memburunya

terus. Ia menggigil, menyebut, menangis, memohon,

membaca mantera….

Tiga hari kemudian, tengah malam, ia menghadap pada

Hyang Widhi, memohon: “Kalau impian itu benar, duh

Gusti, apalah gunanya hidup yang kau berikan padaku ini?

Ambillah dia kembali, Gusti.”

Dan Hyang Widhi tidak mencabut hidup yang diberikan

kepadanya.

Pada hari yang ke sembilan ia ulangi menghadap. Juga

Hyang Widhi tidak mencabutnya. Dan impian itu bukan

sekali saja terjadi. Setiap Sang Adipati memanggilnya untuk 

menari, hampir selalu impian terkutuk itu datang

melengkapi. Dan tak ada seorang pun yang dapat diajaknya

bicara tentang itu.

Pernah ia menduga: di dalam kamar tinggal ini

barangkali ada juga gandarwa terkutuk. Ia telah taburkan

tepung garam pada pojokan-pojokan dan telah ia pasang

sesaji, ia pun telah bakar dupa dan setanggi. Tanpa hasil.

Tetap juga Syahbandar Tuban Sayid Habibullah Almasawa

datang berkunjung di dalam impiannya, dan membujuk,

dan merayu, dan memeluknya, tindakan demi tindakan

sampai seluruh percintaan selesai. Ia masih saja dapat rasai

sentuhan jenggot, kumis dan cambang-bauknya.

Dalam alam jaga pasti aku akan melawan, pikirnya.

Mengapa dalam alam impian tak dapat?

Ia pun ucapkan mantra-mantra penolak gandarwa

sebagaimana pernah dipelajari dan dihafalnya. Juga tanpa

daya.

Pernah juga ia berpikir: mungkin semua ini pekerjaan

Tuan Syahbandar yang mempunyai daya sihir unggul. Dan

pikiran itu saja sudah membikin ia bergidik, merasa diri tak

ada kemampuan melawannya kecuali bersandar pada

perlindungan Hyang Widhi.

Pernah juga ia bertekad untuk meninggalkan

kesyahbandaran dan pulang ke desa. Tetapi sang Adipati

tidak pernah mengijinkannya dan ia tak berani

mempersembahkan alasan.

Rupanya belum lagi cukup tersiksa batinnya selama ini:

ia rasai tubuhnya sendiri mulai berubah. Ia mengandung.

Sekali lagi diberanikannya hatinya menghadap Sang

Adipati. Dan ini terjadi pada suatu sore di beranda

belakang. Ia duduk bersimpuh di lantai. Sang Adipati di

ambin kayu berukir. 

“Kau pucat dan kurus, Idayu, Kamaratih Tuban. Ada

apa gerangan, pujaan Tuban?”

”Ampun, Gusti sesembahan patik, justru itulah sebabnya

patik datang menghadap. Limpahkan kiranya ampun Gusti

Adipati pada patik, karena patik berhalangan untuk menari

dalam beberapa bulan ini.”

”Ah-ya, Idayu, agaknya kami mengerti. Barangkali kau

mengandung.”

“Demikianlah adanya, Gusti sesembahan patik.”

“Berbahagialah kau. Kata orang tua-tua, anak-anak

berbahagia akan dilahirkan dari percintaan yang sejati.

Berbahagialah anakmu itu kelak, Kamaratih Tuban.”

Dalam duduk menekuri lantai ia teringat pada suaminya

yang belum juga pulang. Dan ia ingat pada pesannya untuk

membela diri. Ia bersedia membela diri dan temyata dalam

impian tidak punya kemampuan. “Adakah lagi yang

hendak kau persembahkan?”

“Ampun, Gusti, bila diperkenankan, patik memohon

diperkenankan pulang ke desa Gusti.”

Sang Adipati tertawa ramah dan tulus.

‘Tidak senangkah kau jadi istri punggawa maka minta

pulang ke desa?” Ia bangkit mendekati penari kenamaan

itu. Waktu tangannya telah sampai pada kepala Idayu dan

hendak membelai rambutnya, segera ia menariknya

kembali.

“Jangan,” larangnya setelah duduk kembali di ambin.

“Suamimu belum juga pulang. Kalau kau perlukan

seseorang untuk membantu atau menemanimu di

rumah….” 

Pada waktu itu menteri-dalam Kadipaten datang

bersembah, bahwa segala telah dipersiapkan untuk Idayu.

“Dengar, Idayu, seluruh Tuban dan kami sendiri sangat

menghargai segala yang telah kau pertunjukkan di hadapan

kawula Tuban dan kami selama ini. Kau sekarang

mengandung. Lama takkan menari. Biar pun begitu kami

tak berkenan membiarkan kau pulang ke desa. Inilah

hiburan untukmu, majulah Idayu, dan terimalah.” Idayu

mengesot maju dan menerima bungkusan dari tangan Sang

Adipati.

“Dan sejak hari ini. Idayu, kami berkenan mengangkat

kau dengan gelar Nyi Gede,” kemudian pada menteridalam, “hendaknya dimasyhurkan anugerah gelar ini pada

sore hari ini juga,” dan kembali pada Idayu, “pulanglah

kau, Nyi Gede, sejahtera untukmu!”

Seseorang wanita muda mengantarkannya pulang. Dan

sejak itu ia menjadi pembantu dan teman sekamamya.

Anugerah gelar itu dibenarkan oleh seluruh Tuban. Dan

berita tidak resmi tidak kurang menariknya: Kamaratih

Tuban mulai mengandung. Para wanita tua mulai sibuk

menunggu kedatangan sang bayi hasil percintaan berpribadi

semacam itu yang kelak akan jadi cerlang-cemerlang

dengan kasih para dewa, akan menjadi kebanggaan seluruh

negeri di kemudian hari.

Orang tua-tua pun pada berbondong-bondong

mengerumuni pintu gerbang kesyahbandaran. Dan Paman

Marta, tukang kebon itu, meneruskan pesan dan

sumbangan kepada Idayu.

Sebaliknya Idayu semakin berkecil hati. Semakin hari ia

semakin kurus dan merana. Wajahnya pucat kehijauan

sehingga pembuluh darahnya seakan hendak keluar dari

balik kulitnya. 

Ia jarang keluar rumah, lebih banyak menggeletak di

ambin, dengan tempolong menunggu di bawahnya untuk

setiap waktu menerima segala apa yang dimuntahkannya

dari mulutnya. Dan pembantunya dengan sabar memijiti

tengkuk dan punggungnya tanpa mengucapkan sesuatu

kata.

Dan bila malam telah larut dan wanita muda dari

kadipaten itu telah terlelap di pojokan, mulai teriakanteriakan itu meraung dalam sanubarinya: Anak siapakah

kau yang berada di bawah jantungku ini? Anak Kang

Galeng. Bukan, dia anak tuan dalam impian itu. Bukan, dia

anak Kang Galeng.

Telah beratus, mungkin beribu kali ia mencoba

meyakinkan diri sendiri: ”Kau anak Kang Galeng, Nak,

anak Kang Galeng, tidak bisa lain.” Sambil membelai

perutnya yang semakin besar juga. “Tak ada gandarwa atau

drubiksa bisa buntingkan manusia. Nak, kau dengar aku?

Kau anak Kang Galeng.”

Namun tetap ada suara lain melengking dengan nada

tinggi memancar dari pedalaman hati. Dan suara itu

mengatasi yang lain-lain: Itu anak tuan Sayid, tuan

Syahbandar. Jangan coba-coba bohongi diri sendiri. Anak

Sayid! Sayid yang sakti mantraguna, Idayu! Tetap tak ada

seorang pun dapat diajaknya bicara. Maka ia pun membisu

tentangnya.

Nyi Gede Kati pernah menegumya: “Banyak wanita tak

bosan-bosannya memohon untuk dikaruniai anak. Kau,

Idayu, mengapa murung seperti tak rela mendapatkan

karunia?”

Ia semakin kurus juga dan ketenteraman batinnya tak

juga pulih. Kadang-kadang ia rasai tangan-tangan maut

menggerayangi kakinya. Dan dikeraskan hatinya dengan 

mantra buatan sendiri: Tidak, ya Batara, jangan biarkan aku

mati sebelum bertemu dengan suamiku. Hidupi aku, ya

Batara, dan berikan pada kami impian dulu dan selalu kami

pohonkan dulu kepada-Mu.

Tak pernah ia merasa sedekat sekarang dengan Hyang

Widhi. Batas antara hidup dan mati itu kini sungguhsungguh telah kehilangan keseraman dan kesungguhan.

Dan: Ya, Batara, biarlah Kang Galeng tahu lebih dahulu

anak ini anaknya atau bukan. Bila tidak, biarlah dia

puaskan kerisnya pada dadaku sebagaimana telah jadi

haknya, karena hidup tanpa kasih-sayang tiada kan ada

gunanya..

0o-dw-o0

Tengah hari kala itu. Terdengar Paman Marta berseruseru riang: ‘Tuan Syahbandar-muda datang, Nyi Gede!”

Idayu merasai adanya kekuatan segar tiba-tiba merasuki

seluruh otot dan hatinya. Ia melompat dari ambin, lupa

pada kandungannya, berjalan cepat ke belakang, mandi,

kembali lagi ke kamar dan bersolek secantik mungkin.

Disenyum-senyumkannya bibir yang pasi itu pada cermin

perunggu. Disisimya rambutnya cepat-cepat, diminyakinya

dan disisirinya lagi. Diambilnya pakaian terbaik tenunan

sendiri. Kemudian dengan terburu-buru menggosok gigi

dengan tepung arang.

Kang Galeng datang, hatinya ia paksa menyanyi keras

untuk menindas lengking yang selalu menuduh pada tiap

kesempatan itu.

Duduklah ia kini di bangku serambi kamar, menunggu

suaminya memasuki pelataran depan. Taman bunga di

depan kesyahbandaran itu kehilangan keindahannya. 

Warna-warni bunga-bungaan tiada berarti lagi baginya.

Dan yang ditimggunya belum juga kunjung muncul.

“Benar, Nyi Gede,” jawab Paman Marta. “Sahaya

sendiri sudah melihatnya. Biar sahaya tengok lagi di

bandar.”

Lelaki itu bergegas meninggalkan pelataran

kesyahbandaran dan turun ke jalan besar. Mukanya berseriseri berbahagia telah mendapat pertanyaan dari Dewi Cinta

yang sedang merana itu. Tak lama kemudian ia muncul lagi

dan berdiri menekur di hadapan Idayu; “Orang bilang, Nyi

Gede, Bandara Syahbandar-muda langsung naik ke kota.”

Nyi Gede Kati datang dan menegurnya: “Kau kelihatan

berdarah, Idayu. Mengapa tak kau kenakan perhiasanmu?

Kau belum tahu bagaimana rindu suamimu terhadapmu?”

“Bolehkah sahaya pergi, Nyi Gede?” Paman Marta

minta diri.

Idayu mengangguk dan tukang kebun itu pergi untuk

meneruskan pekerjaannya.

“Sejak kecil kami bergaul tanpa perhiasan, Nyi Gede.”

“Sebaiknya kau kenakan, Nak.”

“Mengapa dia tak langsung pulang?” Idayu bertanya

dengan nada protes.

“Dia pergi bukan untuk berpesiar, Nak. Dia harus

menghadap dulu. Itu kewajibannya.”

Idayu masuk ke dalam kamar. Memang ada niat untuk

mengenakan perhiasan dan berganti dengan pakaian

karunia Sang Adipati, salah satu dari sekian banyak karunia

yang telah diterimanya setelah kepergian suaminya. Suatu

kekuatan mencegahnya. Dan ia tetap dalam pakaian

tenunan sendiri. 

Sebelum matari tenggelam suami yang dirindukan itu

nampak memasuki pelataran depan. Idayu berdiri

menyambutnya di beranda. Kedua belah tangannya telah

merasa hangat untuk segera dapat meraih seperti dulu

sebelum lelaki itu jadi suaminya, dan membisikkan katakata cumbu.

Darahnya mendadak mendidih dan semua kerinduannya

buyar.

Tholib Sungkar Az-Zubaid lari-lari kecil menuruni

tangga kesyahbandaran dan memanggil suaminya yang

sedang berjalan menuju padanya.

Galeng berhenti, balik kanan jalan dan membungkuk

pada Syahbandar, majikannya.

Syahbandar Tuban mengangguk sambil tertawa. Ia

tegakkan bongkok, melambai kemudian bertepuk-tepuk:

“Wira, Ah, Wira!”

Dan Wiranggaleng mengiringkannya masuk ke gedung

utama.

“Semua orang memilikinya, kecuali aku,” Idayu

memprotes.

“Mari ke gedung utama, Idayu,” Nyi Gede Kati

mengajak.

Untuk petama kali ia bicara sengit pada wanita itu:

“Tempat suamiku ada di sini, Ibu. Kalau dia tak mau

pulang, biarlah tak muncul lagi.”

“Cemburu kau, Idayu?”

Idayu tersedan-sedan tercekik oleh kekecewaannya,

tersedan-sedan untuk ke sekian kalinya selama ini. Sia-sia

Nyi Gede Kati menghibumya. 

“Biar aku suruh pulang dia,” katanya, kemudian

melangkah cepat-cepat ke gedung utama. Idayu masuk ke

dalam kamar, merebahkan diri ke ambin. Ia menyesal telah

mengasari Nyi Gede Kati yang selama itu begitu baik

terhadapnya. Tak lama kemudian diketahuinya suaminya

masuk. Terdengar olehnya suaranya.

“Dewiku! Dewiku! Kakangmu datang.”

Semua penderitaannya ia rasai luluh cair. Tetapi ia purapura tak dengar. Maka ia rasai tangan-tangan kuat

suaminya mengangkat tubuhnya dari ambin, mendekapkan

pada dadanya yang bidang. Ia menangis untuk ke sekian

kalinya, tapi yang sekarang bukan tangis derita – tangis

bahagia tanpa ukuran.

“Kau kurus, Idayu, Kau terlalu banyak menari.”

“Ah, kau, Kang Galeng, berapa bulan aku harus tunggu

kau. Semestinya kau sudah merasa, bukan hanya aku

seorang yang merindukan, juga Kang, juga anak yang

sudah mengintip di bawah jantung ini.”

“Mengandung! Kau mengandung, Idayu?” ia letakkan

kembali istrinya ke atas ambin. Ia buka kain Idayu. Ia ciumi

anak yang bersembunyi di balik kulit perut. Dan suaranya

mendesis gugup: “Aih, anakku! Anakku! Tiada aku

sangka!” ia kagumi istrinya. “Mereka memuji-muji kau

belaka, Idayu, mereka semua memohon untuk

kesejahteraan dan keselamatanmu. Dan anak ini juga.

Mereka bilang, kau sedang mengandung. Dan mereka

bilang, kau sudah mendapat karunia gelar….”

Dan malam datang dengan cepatnya.

Dunia menjadi tenang. Hanya desau dan deburan ombak

meningkahi suasana. Sebentar burung tuwuk melintasi

malam, menyebarkan seruannya yang keras dan tunggal itu. 

Idayu tergolek di ambin. Matanya terpejam menikmati

kedamaian dan kebahagiaan di samping suaminya yang

sedang tergolek juga.

Juara gulat itu sedang mengawasi sotoh dengan pandang

menembusi masa silam dan masa yang baru saja

dilewatinya. Oleh Sang Patih ia dipuji-puji sebagai seorang

punggawa berbakat dan pasti akan mendapatkan tugastugas yang lebih berarti. Semua pekerjaannya dianggap

berhasil. Ia sendiri tidak tahu di mana dan bagaimana hasil

pekerjaannya itu. Sang Patih telah membawanya

menghadap Sang Adipati. Penguasa itu menitahkan pada

Sang Patih untuk mengundurkan diri, kemudian sendiri

berkata padanya: ‘Tidak salah pilihanku, kau,

Wiranggaleng, kau, anak desa…. cepat atau lambat kaulah

orang yang akan memanggil kembali kejayaan dan

kebesaran masa silam untuk Tuban. Mungkin kau sendiri

belum mengerti di mana pentingnya hasil pekerjaanmu

sekali ini. Kelak kau akan mengerti juga. Kau tahu apa yang

seharusnya kau ketahui. Itulah rahasia kekuatanmu. Kau

ada kemampuan, hanya barangkali belum pernah terlalu

rindu padamu. Dan perlu kau ketahui, selama ini ia sering

menari di sini.’

Ia berbesar hati karena semua pujian itu. Pujian dari

Sang Patih dan Sang Adipati sendiri! Orang-orang yang

begitu berkuasa! Dan ia berjanji pada diri sendiri untuk

menyediakan waktu guna memahami di mana hasil

pekerjaannya di Jepara dan Demak selama ini.

“Kau tak juga bercerita, Kang,” tegur istrinya.

“Terlampau lama kutinggalkan kau, Idayu. Tak bisa

lain.”

“Sekarang kau sudah begini dekat, Kang, dan kau belum

juga menceritakan sesuatu.” 

“Aku rindu, Idayu. Kau rindu juga?” dan Idayu tak

menjawab. “Mengapa kau diam saja? Marah?”

“Aku selalu ketakutan, Kang.”

“Aku tahu apa yang kau takutkan,” Wiranggaleng

membayangkan Sang Adipati dan Syahbandar Tuban.

“Tetapi aku tahu juga kau akan membela diri dan pandai

melakukan itu.”

Idayu merangkulnya. Suaranya gemetar: “Di tanganku

ada cundrik, Kang,” ia menguatkan rangkulannya. “Tangan

ini tiada kuasa, layu-lesu tanpa daya. Karena, Kang, dia

datang dalam impian.”

“Dan kata orang tua-tua,” Wiranggaleng meneruskan,

”jangan berbuat dosa, sekalipun dalam impian’ Kau masih

ingat itu, Idayu?”

“Dia justru datang dalam impian, Kang, dan tak ada

cundrik di tanganku.”

“Kau sedang bercericau, Idayu! Bicaramu begini aneh,”

dan digoyang-goyangkannya tubuh istrinya. “Apa

maksudmu?”

Berceritalah Idayu tentang pengalaman mimpi yang

berulang terjadi hampir pada setiap ia pulang dari menari.

Dan Wiranggaleng mendengarkan cermat-cermat

sebagaimana biasa ia dengarkan setiap kata dari

kekasihnya.

Penutup cerita adalah pertanyaan: “Bagaimana, Kang,

sekiranya impian itu benar?”

“Impian tinggallah impian.”

“Dan anak di bawah jantung ini. Kang, kan bukan

anakmu?”

“Husy. Orang bunting memang suka mengada-ada.” 

“Maka, Kang, maka akan kau hunus keris, kelak. bila si

anak lahir, dan akan kau tikam kekasihmu ini. Kau akan

tarik sebilah pedang dan kau cincang si bayi yang tertidur di

samping bangkai ibunya. Kemudian kau akan lari, lari, lari

entah ke mana, membawa dendam dan kesakitan di dalam

hati. Tetapi tak ada tempat di mana kau akan pernah

sampai. karena ingatanmu selahi akan kembali pada

kekasih yang lelah kauhatra dengan keris sendiri….”

“Kau semakin aneh, Idayu. Diam, diamlah. Impian

tinggal impian, kenyataan tetap kenyataan. Tidurlah. Atau

haruskah kunyanyikan lagi kau ini seperti dahulu di

ladang?”

Idayu terdiam tak bicara lagi. Kembali ia mengukuhkan:

rangkulannya pada dada suaminya. Dan dada yang bidang

itu melindunginya dari kegelisahan dan ketakutan.

Dan Wiranggaleng membiarkannya. Angan Syahbandarmuda itu kini sibuk menggalang gambaran hari depan yang

penuh dengan kebesaran, kejayaan dan kemegahan. Semua

dimulai dengan cipta, kata Rama during. Semua itu tak

bakal ada tanpa cita. Dan puji-pujian sebentar tadi mungkin

pertanda ada dayacipta di dalam jiwanya. Apakah cipta?

Guru-gurunya dulu belum pernah ada yang mengajarkan.

Ia tak tahu. Ia berusaha meyakinkan diri, ia mengerti apa

yang dikehendaki Sang Adipati dan Sang Patih atas dirinya:

kepatuhan pada perintah dan menjalankan dengan sebaikbaiknya tanpa mengindahkan soal-soal selebihnya. Dan

inilah rupa-rupa jalan untuk memanggil kembali kebesaran

dan kejayaan masa silam. Bukankah tidak lain dari Sang

Adipati sendiri yang mengatakan: tak ada kebesaran dan

kejayaan dapat dipanggil pada guagarba haridepan tanpa

restu seorang raja? Benar. Semua benar. Dan terpampang di

hadapannya kini haridepan yang gilang-gemilang itu:

Tuban yang tiada tara, dengan Angkatan Lautnya yang 

menjelajahi semua samudra dan menguasai pulau-pulau….

Semua akan terjadi karena jasa-nya, jasa Wiranggaleng.

Demak dan Jepara tidak bakal bisa menandingi Tuban.

Mereka di barat sana tak tahu apa makna memanggil

kembali kebesaran dan kejayaan Majapahit pada guagarba

haridepan. Mereka tak tahu!

Dalam suasana hati yang naik semangat itu ia

mengucapkan terimakasih pada mendiang Rama Cluring

dan semua guru-pembicaraan yang pernah didengamya.

Seakan mengerti apa yang sedang menggelegak dalam

hati suaminya, Idayu berbisik lembut: “Nampaknya desa

kita makin lama makin jauh dari langkahmu, Kang. Rasarasanya kita takkan sampai-sampai juga ke sana.”

“Sampai,” bisik juara gulat itu.

“Gubuk kita tak juga kan berdiri di pinggir hutan itu,

Kang. Ayam jantan yang seekor itu terasa bisu tiada kan

berkeruyuk untuk selama-lamanya. Dan anjing-anjing kita

takkan bisa jadi cerdik, juga untuk selama-lamanya.”

“Bisa.”

“Atap ilalang itu tak juga kau ganti dengan injuk. Kau

tak juga bermaksud ke hutan menyadap enau dan

membawa pulang injuknya yang hi tarn kelam pilihan itu.”

Wiranggaleng tertawa dan ditariknya kuping is trinya:

“Makin tua kau makin cerewet.”

Dan Idayu tetap memeluk suaminya, menekankan

kuping pada dadanya agar tak mendengar desau angin dan

deburan laut.

Melihat istrinya telah tidur dalam kedamaian dan

kenyenyakan, ia membiarkan angannya lepas bebas tanpa

batas. 

Apa kata Rama Cluring? ‘Aku bicara tidak tentang

kematian, tetapi tentang kehidupan yang bercipta dan

mencipta. Aku tak bicara tentang kematian, karena tanpa

dibicarakan pun dia akan datang tepat pada waktunya’.

Mengapa Idayu lebih suka bicara tentang kematian? Tidak

betul. Keliru! Yang benar adalah hidup, kehidupan dan

geloranya, dipimpin oleh cipta dan dimeriahkan oleh kerya

mencipta.

Pagi-pagi benar Idayu sudah memulai dengan katakatanya yang aneh. Ia tudingkan dagunya ke arah jendela

rumah utama. Suaminya mengikuti arah tudingannya, dan

dilihatnya pada jendela itu sebagian dari muka Syahbandar

Tuban.

“Kau lihat sendiri sekarang bagaimana dia selalu

mengintip kesini disiang hari. Kadang-kadang beberapa

kali. Dan dia datang kemari dalam impian di waktu

malam.”

“Diam, Idayu. Kau terganggu karena kandunganmu.”

Wiranggaleng dapat menangkap kilat pada mata Thotib

Sungkai Az-Zubaid. Ia tercenung. Barangkali keluhan dan

cerita istrinya bukan tidak punya dasar.

Namun ia tetap tidak menanggapi. 

Novel Arus Balikk Bab 10 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.

Bagaimana alur cerita dari novel Arus Balik Bab 10 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua. 

Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.

Untuk membaca Novel Arus Balik bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 8 Disini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 28 Disini

Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 26 Disini