Silahkan Baca Novel Arus Balik Bab 1 Disini
Novel Arus Balik bab 1 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Arus Balik menceritakan tentang kisah Kedatangan Portugis di Bumi Nusantara dengan latar awal Abad XVI, yaitu ketika surutnya pengaruh Majapahit dan naiknya pamor Kesultanan Demak.
Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Arus Balikk Bab 1 Bahasa Indonesia Sekarang ini.
1. Abad ke enambelas Masehi
Bahkan juga laut Jawa di bawah bulan purnama sidhi itu
gelisah. Ombak-ombak besar bergulung-gulung memanjang
terputus, menggunung, melandai, mengejajari pesisir pulau
Jawa. Setiap puncak ombak dan riak, bahkan juga busanya
yang bertebaran seperti serakan mutiara – semua –
dikuningi oleh cahaya bulan.
Angin meniup tenang. Ombak-ombak makin menggila.
Sebuah kapal peronda pantai meluncur dengan
kecepatan tinggi dalam cuaca angin damai itu. Badannya
yang panjang langsing, dengan haluan dan buritan
meruncing, timbul-tenggelam di antara ombak-ombak
purnama yang menggila. Layar kemudi di haluan
menggelembung membikin lunas menerjang serong gununggunung air itu – serong ke baratlaut. Barisan dayung pada
dinding kapal berkayuh berirama seperti kaki-kaki pada ular
naga. Layarnya yang terbuat dari pilinan kapas dan benang
sutra, mengkilat seperti emas, kuning dan menyilaukan.
Pada puncak tiang utama, di bawah lentera, berkibar
bendera panjang merah dan putih – bendera kadipaten
Tuban. Di bawahnya lagi, duduk di atas tali-temali, seperti
titik kelam, adalah jurutinjau.
Tepat di bawah layar utama berdiri nakhoda yang
sebentar-sebentar meninjau pada jurutinjau di atas. Di
sampingnya berdiri Patragading, bertolak pinggang.
“Tetap tak ada yang mengejar, Tuanku!” seru juru tinjau.
“Kita akan selamat sampai di tempat,” bisik nakhoda
pada Patragading sambil menyembah dada. “Tak ada yang
mengejar kita.”
Patragading mengangkat kain dan diikatkannya pada
pinggang sehingga seluarnya dari sutera itu mengerjapngerjap terkena cahaya bulan. Kerisnya tertutup oleh
kainnya – suatu gaya pembesar yang kehilangan kesabaran.
“Silakan mengaso. Sebentar lagi Tuban akan nampak.”
“Lihat yang baik, barangkali ada iring-iringan
perompak.”
“Tak pernah ada perompak berani mendekati kapal
sahaya.”
“Lihat yang baik,” gertak Patragading. Tangannya
membetulkan kain penutup dadanya.
“Ahoo! Bagaimana dengan depan dan samping?”
“Tiada sesuatu. Tuanku,” nakhoda itu meneruskan
laporan jurutinjau sambil menyembah dada. “Sebaiknya
Tuanku mengaso sebelum mendarat tengah malam ini.”
Patragading melepas kain lagi sehingga seluar sutranya
tertutup kembali. Ia tinggalkan tiang utama dan berjalan
mondar-mandir di geladak, kemudian pergi ke haluan,
memeriksa sendiri senjata cetbang. Sebentar. Ia menjenguk
ke bawah, memandangi lunas yang menerjang ombak. Juga
tak lama. Dengan tinju ia memukul-mukul dinding kapal,
kemudian berjalan lagi mondar-mandir tanpa tujuan.
Akhirnya ia menuruni tangga geladak dan hilang dari
pemandangan.
“Ahoi! Turun!” perintah nakhoda pada jurutinjau.
Begitu kakinya sampai ke geladak, jurutinjau itu
menghembuskan nafas besar.
“Mati semua awak kapal kalau orang darat ikut campur
begini,” sambut nakhoda.
“Ya, begitulah bila Tuanku majikan ada di kapal.”
“Pada putra Gusti Adipati tak ada nakhoda berani
membantah, biarpun putra ke dua ratus empat puluh satu!”
“Uh, bulan pun tersenyum melihat kita, Tuanku.”
“Lebih gampang menumpas perompak.”
‘Tengah malam ini tugas keparat ini akan selesai.”
“Boleh jadi ada perintah kembali.”
“Dewa Batara!” sebut nakhoda. “Itu berarti akan
terkapar ditelan hiu.”
“Ts-te-ts.”
“Coba lihat jurumudi, apakah dia masih ada di tempat.”
“Tapi sahaya jurutinjau, Tuanku.”
“Apa lagi yang hendak kau tinjau? Angin?”
Jurutinjau pergi. Nakhoda itu naik ke atas tiang utama,
hanya agar tidak berada di dekat Patragading, putra ke dua
ratus empat puluh satu.
Juga di bawah bulan purnama sidhi itu pula, di sebuah
botakan hutan seekor anjing hutan merenungi langit.
Lehernya memanjang, kemudian menunduk pelan sambil
mengeluarkan suara tenggorokan, pelahan. Kaki depannya
berdiri, kaki belakangnya bersimpuh. Kepala itu diangkat
lagi. Matanya semakin sayu. Dari mulutnya keluar suara
keras, membaung, melolong. Kepalanya terangkat-angkat,
kupingnya berdiri dan buntutnya berkibas-kibas pelahan ke
kiri dan kanan. Ia memanggil bulan dan yang dipanggilnya
tak mau datang. Yang datang justru berpuluh-puluh yang
lain, jantan betina dan anak-anaknya. Semua itu
memandang ke atas, memanggil-manggil sang bulan,
meraung, melolong, membaung.
Hutan yang senyap itu berubah jadi hiruk. Suaranya
melayang, mengambang dalam cahaya bulan mencapai
desa perbatasan kadipaten Tuban: Awis Krambil. Menusuk
lebih dalam ke tengah-tengah desa, memasuki balai-desa.
“Dengar anjing-anjing membaung!” orang tua itu
menuding ke arah atap. Alisnya yang putih terangkat.
Badannya tetap tenang duduk di atas tikar menghadapi para
pendengarnya.
“Tak pernah anjing hutan membaung seperti itu.”
Sunyi-senyap di ruangan balai-desa. Semua
memanjangkan leher mendengarkan baung ratusan anjing
di tengah hutan. Ratusan sumbu damarsewu yang menyala
di sepanjang dan seputar rumah umum itu bergoyanggoyang terkena angin silir.
“Apakah gerangan yang akan terjadi, Rama?” kepala
desa yang duduk agak di belakang orang tua itu bertanya.
“Bulan purnama begini. Semua indah. Hanya anjinganjing pada menangis. Bulan itu takkan menanggapi
mereka. Sejak dahulu pun tidak. Tapi bulan penuh, menua
dan hilang. Bulan purnama sekarang, tapi bukan purnama
untuk kalian. Untuk kita. Kita sedang tenggelam.”
“Kita belum pernah tenggelam, Rama,” protes seorang
gadis di tengah-tengah hadirin.
“Kau belum pernah tenggelam, gadis. Kau pun belum
pernah terbit. Kita – kita pernah terbit, dan sekarang sedang
tenggelam. Lihat, sebagai bayi aku dilahirkan di sini. Kalian
semua belum lagi lahir. Hutan dan alang-alang masih
berjabat-jabatan. Sawah belum ada. Hanya huma, gadis.
Dulu desa ini dinamai Sumber Raja…” Tiba-tiba suaranya
terangkat naik, melengking. “Kalian biarkan desa ini di hina
oleh orang kota, dan kalian sendiri setuju dengan nama
Awis Krambil.” Ia tertawa sengit.
“Bukan begitu Rama Guru,” bantah kepala desa gopohgapah dan menebarkan pandang minta sokongan hadirin.
“Nama itu diberikan sebagai ucapan ikut prihatin terhadap
sulitnya kelapa di sini. Lama-lama jadi sebutan resmi di
Tuban. Kami hanya mengikuti, Rama.”
“Apa saja kalian kerjakan dalam tujuh tahun ini maka
sebuah desa bisa kekurangan kelapa?” orang tua itu tak
menoleh pada kepala desa. “Apakah di mandala kalian
sudah tak pernah diajarkan tentang kelapa dan tentang
desa, bahwa kesejahteraan desa nampak dari puncakpuncak pohon kelapanya?”
Para hadirin berhenti mengunyah sirih mendengar
perselisihan sudah dimulai itu. “Dengarkan kata-kata Rama
Cluring ini,” orang tua itu meneruskan dengan tubuh tetap
tidak bergerak dalam silanya. “Desa yang kekurangan
kelapa…. adalah karena ada apa-apa kecuali kelapa di
dalam kepala-kepala desanya. Ingat-ingat itu! Ada apa-apa
kecuali kelapa.”
“Apakah apa-apa dalam kepalaku. Rama Guru?” tanya
kepala desa tersiksa.
“Bukankah kau tahu juga dari orangtuamu, desa ini
dahulu mencukupi buat semua? Memang lain. Dahulu
penduduk desa masih punya harga diri. Namanya tetap
Sumber Raja sebagaimana diberikan oleh leluhur para
pendiri. Sekarang, bukan karena kelapa itu tidak tumbuh,
cipta kalian yang merosot sampai ke telapak kaki. Maka
kelapa pun tak kunjung berbiak, tinggal hanya peninggalan
nenek-moyang.”
Tak ada yang menyanggah. Dengan lunak ia mulai
bercerita tentang kelapa di desa-desa lain yang lebih tandus.
Para hadirin, tua dan muda, laki dan perempuan, gadis
dan perjaka memperhatikan tubuh pembicara yang pendekkecil, berkain dan berkalung kain batik pula, berdestar
putih, berjanggut dan bermisai putih, seperti kepala
Anoman dalam Ramayana.
Mereka mendengarkan dengan diam-diam sambil
mengunyah sirih. Tak seorang pun mentertawakan
keputihannya. Mereka menghormati orang tua yang
terkenal sebagai pemuja Ken Arok Sri Ranggah Rajasa
Sang Amurwabhumi, berlidah pedang dan berludah api itu.
“Dengar, barangkali anjing-anjing itu akan membaung
sepanjang malam.”
Kembali orang mendengarkan baung yang sayup-sayup
dari tengah hutan.
“Nenek-moyang kalian tidak sebebal kalian sekarang,”
tiba-tiba orang tua itu menetak kejam.
“Aku dan kami mungkin memang bebal,” seseorang di
tengah-tengah hadirin membantah. ‘Tapi para dewa, Rama
Guru, pada kami tak diberikan tanah yang cukup baik
untuk kelapa.”
“Puah!” seru Rama Cluring. “Sewaktu kecilku takkan
ada orang menyalahkan para dewa. Tak ada penghujatan
semacam itu. Mandala masih berwibawa dan guru-guru
dihormati, maka bocah yang belum terpanggil oleh Sang
Buddha pun tahu, bumi ini diberikan oleh Hyang Tunggal
pada manusia dalam keadaan sebaik-baiknya. Tak ada
seorang pun menghinakan keadaannya, karena manusia
diciptakan dalam keadaan sempurna. Lupakah kau pada
ajaran, hewan takkan mengubah apalagi alamnya? Tetapi
manusia tanpa cipta merosot, terus merosot sampai ke
telapaknya sendiri, merangkak, melata, sampai jadi hewan
yang tak mengubah sesuatu pun. Untuk mempunyai ekor
pun manusia demikian tidak berdaya.”
Sebentar ia diam. Tubuhnya tetap tak bergerak. Dagunya
tertarik ke depan seperti sedang menunggu tantangan. Yang
ditunggu tiada kunjung datang. Dan ia meneruskan,
mengulangi ajaran Buddha dan Syiwa tentang manusia dan
kebajikannya sebagai makhluk dewa, tentang alam dan
kemungkinan-kemungkinannya. Kemudian menutup
dengan nada tinggi meledak: “Guru-gurumu takkan lupa
menyampaikan: yang buruk datang pada manusia yang
salah menggunakan nalar, sehingga nalar yang buruk
memanggil keburukan untuk dirinya. Semua kalian melewatkan masa kanak-kanak dan remaja di bawah petunjuk
dan ajaran Sang Guru. Padaku ada wewenang menamai
kalian bebal.”
“Kata-kata itu menyakitkan hati, Rama,” seseorang
nenek memprotes.
“Berbahagialah kau yang bisa bersakit hati, pertanda
masih ada hati, dan ada cinta di dalamnya. Tapi macam
cinta apa kau kandung dalam hatimu? Cinta pada
kebebalan adalah juga kebebalan. Nah, sekarang coba ikuti
kata-kataku: telah kalian ubah nama ini dari Sumber Raja
jadi Awis Krambil, hanya karena desa ini tak mampu
membayar upeti kelapa untuk pasukan gajah Tuban. Upeti
demi upeti. Apa sudah kalian terima dari Sang Adipati?
Siapa di antara anak-anak desa ini mendapat kesempatan
merajai lautan seperti di jaman Majapahit dulu?
Menyaksikan dunia besar? Dihormati dan disegani di manamana? Di Tumasik, di Benggal, Ngabesi, Malagasi, sampai
di Tanjung Selatan Wulungga sana? Tak pernahkah
orangtua kalian bercerita semacam itu maka hatimu jadi sakit karena kebebalan sendiri?”
Rama Cluring berhenti bicara. Kembali baung beraturan
anjing mengisi suasana.
“Tak ada seorang pun di antara pemuda desa ini pernah
menginjakkan kaki di bumi Atas Angin. Di sana pun
dahulu kalian akan dengar gamelan kalian sendiri. Orang
sana juga menggemari cerita-cerita Panji dari Jenggala
seperti kalian. Mereka juga mencintai Panji Semirang, juga
seperti kalian di desa ini. Sang Adipati tidak memberikan
kesempatan pada kalian. Tapi kalian terus juga membayar
upeti, barang jadi dan barang gubal. Tak seorang di antara
kalian menyaksikan jauh-jauh di seberang sana bagaimana
Dewa Ruci dan Arjuna Wiwaha didengarkan orang.”
Orangtua itu mulai bercerita tentang negeri-negeri jauh
yang pernah dikunjunginya. Ia bercerita tentang kebesarankebesaran Majapahit. Para pendengarnya mulai terbuai.
Dan ia menyentakkan mereka dengan lidah parangnya:
“Ha! Mengantuk kalian terayun oleh keenakan-keenakan
masa-la lu. Kalian, orang-orang yang telah kehilangan
harga diri dan tak punya cipta. Segala keenakan dan
kebanggaan itu bukan hak kalian. Bahkan membiakkan
pohon kelapa pun kalian tak mampu!”
Malam itu dingin. Semua mengenakan kain menutup
dada, laki dan perempuan. Namun ada juga perawanperawan yang membiarkan buah dadanya terbuka,
dipermain-mainkan sinar damar sewu dan angin silir yang
mengentalkan darah.
“Dulu, waktu Sang Adipati masih muda, jadi pembesar
berkuasa di Wilwatikta, tak ada sesuatu yang berharga telah
dipersembahkannya pada Majapahit. Di tangannya juga
Majapahit padam sinarnya. Sekarang dalam usia tuanya,
apakah yang bisa diperbuatnya? Untuk desa pinggiran ini
pun tidak sesuatu! Kalian ini kawula Sang Adipati ataukah
budaknya yang ditangkap di medan perang?”
“Kawula!” seseorang memberikan jawaban.
“Mengapa raja kalian tak berbuat sesuatu untuk kalian?”
“Rama!” seorang lagi berseru tegang,
“Rama telah….”
“Rama!” tegur kepala desa di belakangnya. Matanya
berbeliak menyemburkan api kemarahan. “Itu
pemberontakan!” ia menuduh. “Paling tidak menghasut
pembangkangan. Tidak lain dari Rama sendiri yang lebih
mengerti aturan darmaraja.”
Orangtua itu menoleh ke belakang dan tertawa.
“Benar, pemberontakan, hasutan,” dua-tiga orang mulai
berseru-seru. Para hadirin mulai gelisah, berselisih satu
dengan yang lain. Suasana tak terkendali. Orang tua itu
sendiri tetap tenang bersila di atas tikarnya.
“Katakan itu di Tuban!” seseorang meraung.
Orang tua itu mengangkat telunjuknya, dan semua
terdiam. “Kalau aku tidak bicara di Tuban, semua tahu
sebabnya kecuali binatang dan tumbuh-tumbuhan, semua,
juga Hyang Widhi, juga para dewa: sekali diucapkan,
kebenaran meluncur turun dari ketinggian, menjalar ke
mana-mana, berkembang biak dalam hati manusia waras,
karena kebenaran selalu datang dari Hyang Widhi sendiri.
Juga kata-kataku akan sampai ke Tuban, ke bandar-bandar
seberang….”
Juga di bawah bulan purnama itu beratus-ratus sampan
membawa penduduk dewasa pesisir sedang menyisiri
seluruh pantai Jepara, menyisiri Teluk Awur, pulau Kelor
dan pulau Panjang.
Empat ratus sampan telah mendarat di pulau Panjang,
membawa pedang dan tombak meneliti setiap sudut dan
lapangan. Seorang prajurit bertombak meraung: “Semua
penduduk nelayan pulau Panjang supaya menghadap!”
Di tempat-tempat lain suara itu diteruskan, sambung
menyambut berkait-kaitan. Dan tak ada seorang nelayan
pun datang menghadap. Tak ada yang tahu ke mana
mereka melarikan diri.
Dalam sebuah rumpun bakau yang lebat orang
menemukan sebuah arca Ganesya yang belum lagi selesai.
Empat buah besi pahat dan dua penohok tergeletak pada
alas kaki arca. Rombongan penduduk pesiar Jepara itu
terkesima oleh pemandangan itu.
Seorang prajurit berpedang menghardik: “Mengapa raguragu menangkap?” ia lari menghampiri.
Ia sendiri terkejut melihat arca belum jadi itu.
Seorang prajurit lain datang, memekik: “Mengaku sudah
Islam. Mengapa pada batu takut? Ayoh, gulingkan.
Ceburkan ke laut.”
Tapi penduduk pesisir Jepara dan prajurit pertama itu
ragu-ragu. Prajurit ke dua itu mendekati arca itu dan
meludahinya.
“Lihat, dia diam saja aku ludahi,” kemudian ia
menggoyang-goyang kepala gajah yang belum jadi itu,
“lihatlah, dia sama sekali tak ada kekuatan untuk melawan.
Ayoh, gulingkan!” perintahnya kemudian.
Prajurit pertama itu nampak malu dalam cahaya bulan.
Dengan langkah goyah ia mendekati Ganesya belum selesai
itu dan dengan takut-takut menyentuh belalainya dengan
tulunjuknya. Dan belalai Ganesya itu tidak hangat, juga
tidak membuktikan diri punya sakti.
“Ludahi dia!” perintah prajurit kedua.
Prajurit pertama melengos. Ia tak berani.
“Barangsiapa masih mengaku Islam, ayoh bantu aku
gulingkan batu ini!” pekik prajurit kedua.
Hanya sepuluh orang maju. Mereka mendorong kepala
arca itu sampai terguling ke tanah. Prajurit kedua bersorak,
pengikutnya juga bersorak.
“Guling-gulingkan sampai ke teluk!”
Makin lama makin banyak orang yang ikut serta. Tak
lama kemudian terdengar batu itu tercebur ke laut dan
hilang dari pandangan bulan dan manusia.
Di Tegalsambi, di pesisir selatan Jepara, penduduk kota
yang dikerahkan hanya menemukan sebuah gubuk. Di
depannya berdiri tunggul kayu setinggi sepuluh depa. Pada
puncaknya terpahat sebuah arca yang telah rusak, pecahpecah kepalanya terkena panas dan hujan. Tak dapat
dikenali lagi arca apa. Di dalam gubuk itu sendiri hanya
dapat ditemukan sebuah tempayan kecil berisi abu jenazah,
terletak di atas para-para. Pada sebuah dinding tergantung
papan kayu nangka dengan lukisan seorang wanita cantik
dengan dua jari tangan membelai dagunya sendiri dan
dengan tangan kiri memegangi pergelangan tangan kanan.
Seorang prajurit menghancurkan tempayan itu dengan
punggung pedangnya sehingga abu itu buyar berhamburan.
Dengan mata pedangnya ia hancurkan lukisan itu
berkeping-keping, kemudian menyepaknya berantakan.
Sebuah kotak kayu tempat alat-lukis yang didapatkan di
atas para-para dilemparkan keluar gubuk. Alat-alat yang
telah berjamur itu bergelatakan dalam cahaya bulan, diam,
tidak bergerak lagi.
Di Jepara sendiri, di muara kali Wiso serombongan
pembesar sedang turun dari sebuah kapal Tuban yang kena
sergap. Begitu turun ke darat seorang di antaranya
menengok ke belakang pada tiang utama kapal. Seorang
pembawa payung berlari-lari mendekati dan
memayunginya. Payung kuning dari sutera itu mengkilat
bermain-main dengan cahaya bulan. Tapi orang itu tidak
mengindahkan. Ia bergumam: “Lebih bagus dengan
bendera kita.”
“Semua ikut memandangi bendera putih yang berkibar
malas dalam angin silir lemah itu. Gambar kupu-tarung di
tengah-tengahnya kelihatan hanya sebagai setumpukan
garis sambung-putus. Juga bendera itu dari sutera.
“Kupu-tarung lebih bagus daripada merah-putih,”
seseorang memberikan tanggapan.
“Seluruh merah-putih majapahitan itu akan tumpas dari
muka bumi.”
‘Tentu.”
Dengan sendirinya rombongan itu mengalihkan pandang
pada sang bulan. Nampak semakin besar dan semakin
kuning….
Juga di bawah bulan purnama itu beberapa puluh anakanak, laki dan perempuan, sedang bernyanyi bersama di
tanah lapang Wilwatikta, bekas ibukota Majapahit. Mereka
sedang menyampaikan puji-pujian kepada sang bulan
sebelum memulai dengan permainan malam. Mereka
bergandengan satu dengan yang lain, merupakan lingkaran.
Di tengah-tengahnya berdiri seorang anak yang memimpin
permainan.
Malam purnama ini jumlah mereka semakin sedikit.
Setiap minggu ada saja yang meninggalkan Wilwatikta
untuk selama-lamanya, pindah ke Gresik atau kota-kota
bandar lainnya.
Juga di bawah bulan purnama itu di tanah lapang di
ibukota kerajaan Blambangan ribuan bocah sedang
bernyanyi bersama seperti di Wilwatikta. Hanya bukan
seorang nenek memimpin mereka, tapi seorang pedanda
pria setengah baya. Perawan dan perjaka, beratus-ratus melingkari bocah-bocah yang sedang menyampaikan pujibulan. Antara sebentar semua bertepuk-tepuk dan bersoraksorai. Seluruh dunia seakan dalam keadaan tenang dan
damai, seakan tak ada lagi setetes darah memerahi medan
perang.
Juga seluruh Dahanapura, ibukota kerajaan
Blambangan, mengelu-elukan bulan yang memerangi langit
tanpa noda itu, karena cuaca seindah itu menjanjikan
kemakmuran dan perdamaian. Pasuruan, kedudukan
Dahanapura, semakin lama semakin besar setelah Sri
Baginda Ranawijaya Girindrawardhana, raja Blambangan
membariskan pasukannya memasuki Majapahit yang telah
runtuh, untuk membuktikan pada dunia, bahwa tak ada
kekuatan lain berhak menjamah bekas kerajaan Majapahit
dan ibukotanya selama darah Sri Baginda Kretarajasa, yang
sekarang masih berdiri di Blambangan. Tiga tahun setelah
menduduki Wilwatikta, 1489 M., pasukannya ditarik
kembali ke Blambangan. untuk mengalihkan perhatian
orang dari Majapahit ke Blambangan. Ia berhasil dan
Pasuruan menjadi bandar besar. Kalau ada yang masih
dirusuhkan oleh Sri Baginda Ranawijaya Girindra
wardhana dan Patih Udara, hanya karena bandar
Majapahit, Gresik, tak dapat dipindahkannya ke Pasuruan.
Namun orang tak meneteskan darah di wilayah
Blambangan karena perang. Aman, damai dan
kemakmuran melimpah.
Di balai-desa Awis Krambil antara Rama Cluring dan
para hadirin ketegangan semakin menjadi-jadi. Hal itu tidak
pernah terjadi dengan guru pembicara lain yang pernah
datang ke desa ini.
“Betul!” orang memekik di tengah-tengah hadirin, “tidak
lain dari Rama Guru sendiri yang lebih tahu tentang
darmaraja. Dari Tuban datang pengayoman. Pengayoman
itu yang membuat Rama tidak tahu, setiap jengkal tanah
yang kita pacul adalah milik Gusti Adipati, dirampas
dengan parang dan tombak dari tangan musuh-musuhnya
dan dibenarkan oleh para dewa. Keringat kita, kita teteskan
di atasnya dan panen pun jadi. Itulah harga dari semua
upeti kita. Pengayoman, Rama, sehingga tak ada musuh
datang menyerbu kami. Anak-anak dapat bermain-main
damai setiap hari. Hujan jatuh membawa kesuburan. Dan
keringat jatuh membawa kesejahteraan.”
Rama Cluring tak pernah memotong kata-kata orang. Ia
mendengarkan tanpa menggerakkan badan. Kemudian:
“Indah sekali kata-kata itu. Aku dapat lihat, kau tidak
pernah ikut meneteskan keringat, tidak pernah ikut
mencangkul. Petani tidak seperti itu kata-katanya. Putra ke
berapa ratus kau dari Sang Adipati? Coba sini, perlihatkan
mukamu.”
Pembicara itu tidak menampakkan mukanya.
“Sayang kau tak berani muncul. Kau, orangmuda, sama
halnya dengan perempuan pemalas yang merasa lebih
beruntung jadi selir atau gundik di bandar-bandar daripada
mendampingi seorang suami di sawah dan ladang.
Berbahagialah suami-istri yang sama-sama bekerja, maka
haknya pun sama di hadapan para dewa dan manusia.
Rama Cluring berkomat-kamit dan mengocok mata.
Kemudian ia tegakkan dada, nampak menarik nafas
panjang, menghimpun kekuatan dari seluruh alam ke dalam
paru-paru untuk disalurkan ke dalam sikapnya.
“Dari mana datangnya pengayoman kalau bukan dari
upeti?” seseorang bertanya ragu-ragu.
“Dari mana?” Rama Cluring menjawab. “Kalau upeti
tak muncul, bukan pengayoman yang datang, tapi
balatentara Tuban akan menumpas dan menghancurkan
kalian dan desa kalian. Kalau perang datang, tak seorang
pun di antara kalian mendapat pengayoman. Balatentara
Tuban tidak. Sebaliknya kalianlah yang diwajibkan
mengayomi dia!” ia tertawa menunggu tantangan.
Di sebelah pinggir di antara para hadirin, gadis Idayu
menyikut pacarnya, Galeng, berbisik: “Jadi, apa maunya?”
“Dengarkan saja,” kata Galeng.
Pacarnya mencubit sengit, tapi pemuda itu tak peduli.
“Dengarkan kalian semua punggawa desa yang hidup
dari keringat orang lain, yang hidup dari penyisihan upeti.
Kalian, apalagi kalian, sama sekali tak bisa berbuat apa-apa
kalau perang datang. Mangayomi diri sendiri pun tak bisa,
apalagi mengayomi rakyatmu. Di waktu damai kalian
bersorak-sorai tentang pengayoman demi sang sisa upeti.
Kalau kalian sudah seperti itu, bagaimana pula macam
rajamu?”
Ketegangan sekaligus berubah jadi ketakutan.
“Apa kalian takuti? Akan datang masanya kalian akan
lebih, lebih ketakutan. Bukan karena kata-kataku. Mari aku
ceritai: jaman ini adalah jaman kemerosotan. Raja-raja kecil
bermunculan pada berdiri sendiri, karena rajadiraja tiada.
Kekacauan dan perang akan memburu kalian silih-berganti.
Lelaki akan pada mati di medan perang. Perempuan akan
dijarah-rayah dan kanak-kanak akan terlantar. Kalian
takkan ditumpas karena kata-kataku. Kemerosotan jaman
dan kemerosotan kalian sendiri yang akan menumpas
kalian selama kalian tak mampu menahan kemerosotan
besar ini.”
Ia diam.
Para pendengar terdiam. Mereka telah terbiasa
terpengaruh oleh ramalan orang tua-tua pengembara yang
telah jauh langkah. Kakek-kakek mereka telah lama
meramalkan akan datangnya perang yang tiada kan habishabisnya bila dewa-dewa telah berganti dan bila berbagai
bangsa dengan berbagai warna kulit telah mulai
berdatangan menjamah bumi Jawa.
“Rama Guru,” seorang wanita dengan suara mendayudayu memohon, “bila kekacauan dan perang akan
memburu-buru kami silih berganti, bukankah akan sia-sia
semua yang sudah kami kerjakan dan usahakan?”
“Jelas. Apalagi upeti-upeti ke Tuban itu. Sama sekali
tanpa guna. Sekarang dengarkan: di jaman Majapahit tak
ada perang yang tidak selesai, tak ada kekacauan tak
diatasi,” ia mulai mengubah nada suaranya menjadi lunak
dan ramah. “Di masa itu semua orang boleh membikin
bata. Setiap orang boleh mendirikan candi keluarga, tempat
menyimpan abu para mendiang. Setiap orang boleh belajar
mengecor besi dan mencetaknya. Tidak seperti sekarang.
Menempa besi dan baja pun tidak diperkenankan, kecuali
atas perintah. Dahulu perawan-perawan pada menenun
sutra. Di mana-mana nampak pakaian gemerlapan bermain
dengan sinar matari. Sekarang ulat sutra pun tumpas. Orang
hanya menenun kapas. Ulat sutra yang tinggal hanya
ditenun untuk layar perahu dan kapal besar dan untuk
pengantin. Saluran yang dulu dibikin di mana-mana
sekarang sudah pada mendangkal. Kapal besar tak lagi
dapat masuk ke pedalaman. Tak lagi riam dan sangkrah
dibersihkan oleh pasukan-pasukan laut. Tak lagi sungaisungai dipelihara. Di jaman Majapahit para punggawa
disebarkan ke seluruh negeri bukan untuk memata-matai
kawula. Mereka bicara dengan bocah-bocah. Bila anak-anak
itu tak dapat menjawab pertanyaan mereka, baik kepala
desa mau pun bapa-bapa mandala kena teguran. Dengan
demikian setiap bocah dapat membaca dan menulis, tahu
akan dewa-dewa dan hafal akan banyak lontar.”
“Berapa umurmu. Rama Guru, maka tahu banyak
tentang jaman kejayaan Majapahit?” seorang gadis
bertanya. “Dua ratus?”
Rama Cluring mendeham dan membersihkan
kerongkongan.
“Tak ada orang hidup sampai dua ratus. Lebih beberapa
puluh tahun dari seratus. Menurut perhitungan surya.”
“Mengapa menurut perhitungan surya?” seorang lain
bertanya.
“Di bandar-bandar ada orang yang mulai menggunakan
perhitungan rembulan – orang-orang gila itu. Mereka
mempunyai dewa lain dari kita. Mereka hidup hanya dari
berdagang, tidak menginjakkan kaki di sawah ataupun
ladang. Mereka hanya hidup dari pantai dan dari laut.
Mereka tak memerlukan gunung. Mereka tak memerlukan
surya. Mereka hanya memerlukan harta dan kekayaan.”
“Mereka penyembah rembulan. Rama Guru?”
“Aku belum lagi tahu. Barangkali. Mereka itu yang
membikin para bupati dan adipati pesisir hanya mengingat
pada harta-kekayaan, lupa pada Baginda Kaisar di
Majapahit. Mereka pengaruhi bupati dan adipati pesisir
supaya tak membikin kapal-kapal lagi. Mereka menyuap
dengan mas, tembikar, sutra, kain khasa, permadani….
Mereka petualang-petualang dari Atas Angin. Di pesisir
Atas Angin sana mereka sama saja tingkahnya. Perhitungan
rembulan menjalar seperti wabah. Kemerosotan jaman,
jaman gila. Orang mulai tak dapat memilih apa yang baik
untuk dirinya. Tak heran, di mana mandala tidak berdaya,
orangtua tak tahu sesuatu kecuali kesenangan sendiri….
Yang paling tidak hormat pada para dewa juga yang paling
mula jadi korban wabah dari Atas Angin ini. Bahkan tulisan
kita, tulisan kita yang sempurna sandang dan sukunya….
boleh jadi…. sudah mulai muncul tulisan yang sama sekali
tidak berbunyi…”
“Adakah Rama Cluring pernah lihat tulisan itu?” Orang
tua pendek kecil itu tiba-tiba mengangkat telunjuk.
“Dengar!” perintahnya.
Semua terdiam. Baung dan salak dan lolong anjing,
ratusan di tengah hutan, kembali menggelombang.
‘Tak pernah binatang itu membaung selama itu, seramai
itu. Boleh jadi akan datang banjir – banjir air, banjir
bencana, malapetaka yang membikin semua lebih merosot
tersedot lumpur.”
Ia menoleh kepada kepala desa. Bertanya: “Darmaraja?
Pengayoman? Apakah yang sudah diperbuat oleh Sang
Adipati Tuban Tumenggung Wilwatikta waktu para bupati
pesisir mulai membangkang mempersembahkan upeti?
Bukankah Sang Adipati itu rajamu sekarang? Bukankah
sebagai Tumenggung Wilwatikta, penguasa tertinggi atas
keamanan dan kesejahteraan ibukota Majapahit,
Wilwatikta, justru ia bergabung dengan yang lain-lain,
membangkang mempersembahkan upeti, malah tetap
mengukuhi wilayah kekuasaan yang didapatnya dari
darmaraja, membentang dari Tuban sampai Jepara –
sebuah kadipaten dengan tidak kurang dari lima buah
bandar?”
‘Tak pernah ada yang menggugat seorang raja!” bantah
kepala desa, “karena hanya dengan karunia Hyang Widhi
saja seseorang bisa bertahta! Bukankah Rama Guru dengan
demikian menghujat Hyang Widhi?”
“Uah! Seperti kau tidak mengenal anak tani bernama
Ken Arok. Ditumbangkannya akuwu dan raja, dan sendiri
marak jadi raja, memerintahkan menjawakan kitab-kitab
suci, memerintahkan dilaksanakannya gaya baru dalam
bangunan-bangunan suci.”
“Maka juga Ken Arok Rajasanagara ditumbangkan.”
“Ditumbangkan. Tapi darahnya telah bangunkan
kekaisaran Majapahit yang tiada tara.”
“Dan Majapahit pun tumbang.”
“Tumbangnya gajah yang meninggalkan gading. Hyang
Widhi tidak pernah salah memilih wakilnya di atas bumi.
Hanya kaki yang kuat, bahu yang kukuh, mampu memikul
pilihan Hyang Widhi.”
“Negarakertagama dan Pararaton tak bilang begitu.”
“Dan apa katanya tentang Adipati pembangkang yang
bersekutu dengan pedagang-pedagang Atas Angin yang
berdewa lain?”
“Waktu itu belum ada Sang Adipati.”
“Maka akulah yang mengatakan, demi Hyang Widhi,
karena tugasku hanya mengatakan tentang kebenaran.
Tulikah kau? Tiada kau dengar baung, lolong dan gonggong
anjing-anjing hutan itu? Tak tahukah kau itu pesta untuk
haridepanku yang bakal cepat tiba, lebih cepat daripada
yang kau sangka?”
Untuk menghindari pertengkaran kepala desa terdiam.
Matanya berpendar-pendar dari wajah ke wajah di antara
hadirin. Ia meminta pengertian, bantuan dan simpati.
Hadirin sendiri sedang tercengkam. Mereka tahu Rama
CIuring sedang menggugat Sang Adipati, manusia pertama
yang berani lakukan itu. Dan ketegangan menarik otot-otot
muka mereka sehingga seperti terbuat daripada kayu jati.
Dan keseraman mewarnai wajah-wajah itu oleh berpuluh
mata sumbu damar-sewu yang selalu berayun tak pernah
tenang dan menggeletarkan semua bayang-bayang.
Di luar, di langit, bulan purnama bertahta tanpa
tandingan dalam kebeningan. Ia hanya tersenyum melihat
ratusan anjing yapg menggonggonginya dalam kebotakan
hutan.
‘Tak lain dari Hyang Widhi juga yang menggulingkan
raja-rajanya sendiri yang kaki dan bahunya lemah, tak
mampu memikul kebesaran-Nya, tak mampu
menyumambrahkan dengan jari-jarinya yang kaku – karena
jari-jari itu hanya pandai mengambil untuk dirinya sendiri
dan tidak bisa memberikan sesuatu untuk kawulanya.”
“Kata-kata itu tidak terdapat dalam lontar, Rama Guru,”
seorang di antara hadirin angkat bicara.
“Apa kau akan bilang kalau aku membubuhkannya pada
lontar? Ambilkan lontar, besi penggurit dan jelaga, biar
yang terpandai di antara kalian menuliskannya.”
“Belum perlu, Rama Guru,” kepala desa itu menegah.
“Memang belum perlu,” pembicara itu meneruskan.
“Rama, kami nampak memang kurang harga diri, kurang
kehormatan, mungkin juga memang bebal. Tapi kami hidup
dalam kesejahteraan, keamanan dan perdamaian.
Sebaliknya, Rama Guru, kata-kata Rama sendiri yang menempatkan kami semua dalam bahaya kemusnahan. Rama,
tidak lain dari Rama!”
Rama CIuring mendengus meremehkan. Suaranya
enteng mengambang di udara malam yang hangat itu.
“Untuk mencapai desa ini, balatentara Tuban paling
tidak membutuhkan satu-dua hari. Kalian tidak akan
ditumpas. Setiap saat setiap orang di antara kalian yang
tidak dungu bisa tinggalkan desa ini, menyeberang
perbatasan, memohon perlindungan Sang Bupati
Bojonegara.
Aku tidak menjerumuskan kalian. Lembah kebinasaan
itu kalian galang sendiri di atas kedunguan. Masih juga kau
tidak mengerti, kepala desa? Penduduk desa ini terusmenerus membayar upeti dan memikulnya sendiri ke Tuban
Kota. Masih belum mengerti? Tak ada keadilan mengikat
antara sang Adipati dengan kawulanya di sini. Kalau ikatan
keadilan tidak ada, yang ada hanya ikatannya saja, ikatan
perbudakan. Kalian semua ini bukan kawula, tapi budak!
Budak Tuban, budak Sang Adipati sama dengan musuhmusuhnya yang telah ditaklukkannya. Ditaklukkan tanpa
perang!”
“Baiklah kami ini budak tanpa dikalahkan dengan
perang. Katakan pada kami. Rama Guru, bagaimana agar
kami tidak jadi budak?”
“Rama Cluring yang bijaksana,” seorang lain lagi
menyerondol, “bukankah Rama Guru lebih dari tahu,
setiap saat datang pengawal perbatasan berkuda?”
“Dia juga perlu mendengarkan kata-kataku ini.”
“Tidakkah Rama Guru akan dibawanya ke Tuban dan
diadili?”
“Bukan pertama terjadi kebenaran diadili. Bukankah
mandala kalian pernah mengajarkan: kebenaran tak dapat
diadili, karena dialah pengadilan tertinggi di bawah Hyang
Widhi. Kalian tahu kelanjutannya: Barangsiapa mengadili
kebenaran, dia memanggil Sang Hyang Kala, dia akan
dilupakan orang kecuali kedunguannya.”
Ia tersenyum dan mengangguk-angguk.
“Juga Sang Adipati Tuban Arya Teja Tumenggung
Wilwatikta tidak bebas dari ketentuan Maha Dewa. Sang
Hyang Widhi merestui barangsiapa punya kebenaran dalam
hatinya. Jangan kuatir. Kepala desa! Kurang tepat
jawabanku, kiranya? Ketakutan selalu jadi bagian mereka
yang tak berani mendirikan keadilan. Kejahatan selalu jadi
bagian mereka yang mengingkari kebenaran maka
melanggar keadilan. Dua-duanya busuk, dua-duanya
sumber keonaran di atas bumi ini…,” dan ia teruskan
wejangannya tentang kebenaran dan keadilan dan
kedudukannya di tengah-tengah kehidupan manusia dan
para dewa.
Kapal peronda pantai dengan layarnya yang berkilat-kilat
itu menyeberangi malam dan menyeberangi Laut Jawa
dengan cepat. Dari kejauhan nampak seperti naga laut yang
tak kelihatan buntutnya. Puluhan pendayung yang seirama
membelah permukaan memercikkan air dan semburannya
menari dengan cahaya bulan. Layar kemudi yang
menggembung di atas haluan, bahkan lebih depan dari
haluan itu sendiri, melengkung seperti busur yang sedang
ditarik.
Waktu lampu menara bandar Tuban mulai hilangmuncul di atas kepala ombak terdengar pekikan aba-aba.
Tak lama kemudian menyusul ledakan di belakang layar
kemudi. Peluru cetbang meluncur ke udara dengan buntut
api yang kuning merah meninggalkan asap yang segera
lenyap.
Beberapa bagian dari detik, dan peluru itu meledak di
langit. Api menyemburat melontarkan bunga api yang
membuat lonjakan ke atas, kemudian ke bawah, ke tiadaan.
Ledakan itu menyebabkan permukaan laut gemerlapan
beberapa detik, kemudian kembali jadi manis bermain-main
dengan cahaya bulan kembali. Ledakan di langit yang
sebentar tadi menandingi bulan kini lenyap tanpa bekas.
Kapal itu terus melaju. Layar-layar mulai diturunkan.
Dengan cepat membelok ke kanan, bergerak hanya dengan
kekuatan dayung. Juga layar kemudi tidak nampak lagi.
Lunas itu menerjang alun dan ombak pada sudut lebih
besar daripada semula. Dan semua alun dan ombak terus
juga berkejar-kejaran, berebut dulu untuk menghantam
pesisir utara pulau Jawa.
0o-dw-o0
Rama Cluring segera mengambil cawan tanah yang
diletakkan oleh anak gadis Kepala desa. Ia angkat tinggi,
memperlihatkan pada semua hadirin, ia hendak
meminumnya. Ia baru habis menceritakan tentang kebesaran Majapahit dengan angkatan lautnya, dengan ilmu
dan ketrampilan membikin kapal-kapal samudra, dengan
wilayah kekuasaannya.
“Sekarang aku hendak teguk lagi tuak desa ini.
Sebelumnya, dengarkan: jangan bandingkan Majapahit
dengan Tuban ini. Kalian sendiri yang mengatakan: hanya
sembilan hari dibutuhkan untuk mengedari seluruh wilayah
Tuban – itu pun hasil pengkhianatannya terhadap
Majapahit. Pahami pergantian jaman, biar kalian tidak
didera oleh perang. Tinggalkan kebebalan. Dengarkan
kebijaksanaan. Kalau perang sudah pecah, tak selembar
daun dapat kalian jadikan pengayoman. Ingat kata-kataku:
Kalau kemerosotan ini tak dapat dicegah, takkan lama lagi,
dan perang akan pecah di mana-mana. Dari desa dan kota
petani-petani akan digiring, mati untuk raja-raja kecil yang
tak pernah berbuat apa-apa untuk kalian.”
Ia rendahkan cawan, menaruhnya pada bibir dan
meneguknya sekali habis.
“Dewa Batara!” sebutnya keras, berpaling cepat pada
kepala desa, kemudian menudingnya: “Lihatlah ini
tampang kepala desamu, takut pada kebenaran, pada
keadilan, agar dia tetap jadi kepala desa, dia telah racun
aku!” Cepat ia tarik mukanya dan berseru pada para
hadirin: “Dia telah racun aku! Dan kalian kenal siapa aku,
hanya seorang pembicara yang menggaungkan kebenaran
milik Maha Dewa.”
Cawan itu dibantingnya pecah di hadapannya. Dengan
kedua bolah tangan ia menekan perutnya. Bibirnya ia gigit.
Mukanya pucat.
“Rama!” seseorang berteriak dan lari ke depan hendak
menolongnya.
Rama Cluring bangkit berdiri dengan susah-payah.
Kepala desa menolongnya dari belakang, berseru lantang:
“Tak ada seorang pun meracun Rama. Kami semua
menghormati Rama.”
“Dengar si mulut palsu ini! Dengarkan, kalian, semua
penduduk Awis Krambil!”
Ia lepaskan diri dari pegangan kepala desa, melompat
keluar dari balai desa.
Setiap guru-pembicara punya gaya dan cara sendiri
dalam usaha mempengaruhi dan mengetahui sampai di
mana pengaruhnya bekerja. Setengah hadirin menganggap
tingkahnya juga bagian dari gaya dan cara. Mereka masih
terpaku pada tempatnya bersila.
Yang menganggap benar-benar Rama Cluring terkena
racun cepat-cepat bangkit dan lari memburu. Tak pernah
terjadi seorang guru-pembicara mengalami penganiayaan di
desa mana pun.
Orang tua itu terus juga berjalan sambil menekan
perutnya dengan kedua belah tangan. Ia tak menoleh. Ia
menolak tuntunan orang.
Galeng dan Idayu ikut lari memburu. Tanpa
mengindahkan protes Rama Cluring mereka berdua
menunjangnya pada bahu dan pinggangnya. Diam-diam
mereka bertiga berjalan cepat. Di belakang mereka serombongan orang berseru-seru memohon ampunnya sambil
berlari-lari kecil. Galeng dan Idayu merasai gigilan pada
tubuh tua itu.
Idayu melepas kain dada dari bahu dan menyelimutkan
pada dada Rama setelah menyembah meminta ampun. Dan
Rama tidak menolak.
Tiba-tiba guru berhenti, membungkuk dan muntah.
“Rama! Rama!” bisik Galeng.
“Beri aku minyak kelapa!” pinta Rama Cluring. Ia
muntah lagi. “Cepat!”
“Memang terkena racun!” di belakang orang memberi
komentar.
Galeng menyembahnya, cepatnya mengangkatnya dan
membawanya ke rumah Idayu, membaringkannya di atas
ambin bambu. Idayu lari ke dapur, kembali lagi dan
menuangkan minyak kelapa ke mulut orang tua itu.
Guru-pembicara itu meliuk-liuk gelisah pada
pinggangnya.
Ruangan sempit rumah Idayu segera jadi penuh. Orang
duduk berdesak-desak di lantai untuk menyatakan prihatin.
Dan setiap orang menyembah sambil mengucapkan
permohonan ampun.
“Diam! Diam semua. Rama sedang sakit,” Galeng
memperingatkan. Ia tekan-tekan perut orang tua itu agar
muntah.
“Air kelapa muda, kelapa hijau,” seru seseorang.
Tak ada pohon kelapa hijau di seluruh Awis Krambil.
Idayu pergi keluar rumah dan datang lagi membawa
cawan tanah besar, menguaki punggung orang banyak.
Dalam cawan itu bukan air kelapa hijau, tapi air kelapa
biasa. Dituangkan seluruhnya ke mulut sang guru.
Mengetahui bukan kelapa hijau, Rama bergumam:
“Semua air adalah air kehidupan. Mati aku, Dewa Batara.”
Matanya terbuka dan disapukan pandangnya pada mereka
yang duduk berdesak di atas lantai. “Pulang, pulang kalian
semua.”
“Mereka mencintai dan menghormati Rama. Ampuni
mereka yang jahil,” bisik Idayu.
“Terlambat, gadis.”
“Mereka masih haus akan kata-katamu.”
“Tak ada guna cinta dan hormat,” Rama meliuk-liuk dan
meringis kesakitan. “Kalau kata-kataku bisa hidup dalam
hati mereka, cukup sudah.” Ia muntah.
Air kelapa campur minyak keluar dari mulut berjalurkan
dengan benang darah hidup.
Idayu menyeka mulut, leher dan bahunya yang basah
dengan selembar kain.
“Batara!” sahut Idayu. “Mengapa jadi begini, Rama?”
Galeng menghampiri orang banyak, bergumam
mengancam: “Kalau tidak suka pada kata-katanya,
mengapa tak mengusirnya saja? Atau memberinya
kecubung? Mengapa mesti diracun?”
“Rama Guru juga salah,” seseorang membantah.
“Diam kau!” bentaknya.
“Bagaimana bisa diam? Dia telah membahayakan kita
semua: balatentara Tuban itu….”
“Siapa kiramu yang meracun?” seseorang bertanya.
“Siapa lagi?”
“Meracun seorang guru…. hanya orang keparat
melakukannya. Gandarwa pun lebih baik.”
Rama muntah lagi. Warnanya merah seluruhnya.
Minyak dan air kelapa tidak mempan. Orang berlarian
mencari lagi di rumah-rumah. Waktu telah didapatkan
Rama Cluring telah tergolek pingsan.
“Terlalu, terlalu,” orang menyesali.
Dan pelita di tengah-tengah ruangan itu, berdiri di atas
jagang bambu berkaki, berayun-ayun cepat. Baung anjing
dari botakan hutan telah berkurang, kemudian padam sama
sekali.
“Rama, Rama,” panggil Idayu, “jangan kutuki kami,
jangan sumpahi kami, jangan tulah kami, demi Hyang
Widhi, demi desa Rama sendiri, demi kesejahteraan kami
semua, ya Rama, Rama…”
0o-dw-o0
Begitu kapal peronda pantai itu merapat pada dermaga
bandar Tuban kota, bulan sudah mulai menggeser ke titik
tertinggi dan kini mulai agak condong.
Seorang dengan menuntun kuda menghampiri kapal.
Patragading melompat turun. Penuntun kuda itu bersimpuh
kemudian menyembah.
“Dirgahayu,” katanya sambil menurunkan sembahnya.
Patragading melompat ke punggung kuda, berpacu,
menempuh jalanan yang diterangi bulan purnama.
Beberapa bentar hanya dan sampai ia di hadapan prajuritprajurit pengawal yang menahannya. Ia tak jadi memasuki
halaman rumah itu, turun, berseru: “Butakah kalian tak melihat siapa aku?”
“Tuanku Patragading Jepara. Ampuni kami.”
Patragading melompat lagi ke atas kudanya, memasuki
halaman luas tertutup rumput pendek dengan pinggiran
ditanami bunga-bungaan. Sampai di pendopo seseorang
berlarian datang padanya dan menyembah, kemudian
mengambil-alih kuda tunggangannya. Seorang prajurit lain
datang, bersimpuh dan menyembah: “Menunggu titah,
Tuanku.”
“Bangunkan Sang Patih, sekarang juga.”
Patragading berdiri bertolak pinggang tanpa
mempedulikan prajurit yang diperintahnya lari menjauh
darinya, melalui samping gedung besar itu dan hilang dari
pemandangan.
Pendopo yang gelap itu kini diterangi dengan damarsewu
pada tengah-tengahnya. Mata-mata sumbu itu menyala
berkibar-kibar dalam barisan seperti prajurit baris.
Patragading segera menghadap ke pendopo, bersimpuh di
atas lantai tanah. Kumisnya yang tebal berkilat-kilat, juga
cambang dan jenggot. Jelas benar telah diminyaki dengan
minyak katel! Kain batiknya terbeber di selingkaran kaki.
Kalung dan gelang masnya berkilat-kilat. Ia menunduk
dalam.
“Anakanda Patragading!” Sang Patih memasuki
pendopo. Ia berpakaian kain batik, berdestar batik dan
berkerudung kain batik pula pada dadanya.
Patragading mengangkat sembah. Kemudian
membetulkan letak kerisnya.
Sang Patih berhenti di tengah-tengah pendopo, dekat
pada damarsewu, menegur “Dingin-dingin begini anakanda
datang. Pasti ada sesuatu keluarbiasaan. Mendekat sini,
anakanda.”
Dan Patragading berjalan mendekat dengan lututnya
sambil mengangkat sembah, merebahkan diri pada kaki
Sang Patih.
“Ampuni patik, membangunkan Paduka pada malam
buta begini Kabar duka, Paduka. Balatentara Demak di
bawah Adipati Kudu^ memasuki Jepara tanpa diduga-duga,
menyalahi aturan perang.”
“Allah Dewa Batara!” sahut Sang Patih. “Itu bukan
aturan raja-raja! Itu aturan brandal!”
“Balatentara Tuban tak sempat dikerahkan, Paduka.”
“Bagaimana Bupati Jepara?”
“Tewas enggan menyerah Paduka,” Patragading
mengangkat sembah. “Sisa balatentara Tuban mundur ke
timur kota. Jepara penuh dengan balatentara Demak. Lebih
dari tiga ribu orang.”
“Dari mana Demak dapat mengumpulkan brandal
sebanyak itu?”
“Patik tidak tahu, Paduka.”
“Apa saja kau kerjakan sampai tidak tahu? Bukankah
Demak dukuh tidak berarti selama ini?”1
“Inilah patik menyerahkan hidup dan mati patik.”
Sang Patih bertepuk tangan tigakali. Satu regu prajurit
berlarian datang, bersenjata tombak dan perisai.
[1] Minyak kelapa direbus dengan laba-laba tanah jenis
besar berwarna dan berbulu hitam untuk penghitam rambut.
2. Setelah itu biasa disebut adipati Unus; setelah
meninggal disebut Pangeran Sabrang Lor.
Novel Arus Balikk Bab 1 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.
Bagaimana alur cerita dari novel Arus Balik Bab 1 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua.
Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.
Untuk membaca Novel Arus Balik bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.
Komentar
Posting Komentar